Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Pharmacy

Penelusuran Pustaka Potensi Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) terhadap Bakteri Gram Negatif Penyebab Diare pada Saluran Pencernaan Sri Puan Hanum; Livia Syafnir; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.223 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3348

Abstract

Abstract. Diarrhea is an infection that is included in the top 10 diseases with high mortality rate. It is generally infected by bacteria. Anti-bacteria are used to treat the infection caused by it, but an improper use of anti-bacteria causes it to become resistant. Therefore, a potential anti-bacteria alternative is needed, and one of them comes from natural ingredients. Binahong plant (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) is one of the plants which has been scientifically proven to carry an anti-bacterial activity, specifically on its leaf. To determine the content of compounds that act as anti-bacteria and the potential of binahong leaf extract on gram-negative antibacterial activity that causes diarrhea in the digestive tract, a research is conducted by carrying-out literature searches from online journals. From this research, it is concluded that binahong leaf extract contains a secondary metabolite content and able to hinder Salmonella typhi, Escherichia coli, and Shigella flexneri bacterial activity which are gram-negative bacteria and the cause of diarrhea in the digestive tract. Abstrak. Diare merupakan suatu penyakit infeksi yang masuk kedalam 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian terbesar di dunia. Penyakit diare umumnya diinfeksi oleh bakteri. Untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri tersebut maka digunakan antibakteri, akan tetapi penggunaan antibakteri yang tidak tepat menyebabkan antibakteri menjadi resistensi. Untuk itu dicari alternatif yang memiliki potensi sebagai antibakteri, salah satunya melalui bahan alam. Tanaman Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) merupakan salah satu tanaman yang secara ilmiah sudah dibuktikan memiliki aktivitas antibakteri, khususnya pada bagian daun. Untuk mengetahui kandungan senyawa yang berperan sebagai antibakteri dan bagaimana potensi ekstrak daun binahong terhadap aktivitas antibakteri gram negatif penyebab diare pada saluran pencernaan, maka dilakukan penelitian ini dengan melakukan penulusuran pustaka dari jurnal yang terdapat media online. Dari hasil penelitian ini didapat bahwa ekstrak daun binahong memiliki kandungan metabolit sekunder dan dapat menghambat aktivitas bakteri Salmonella typhi, Escherichia coli, dan Shigella flexneri, yang merupakan bakteri Gram negatif penyebab penyakit diare pada saluran pencernaan.
Penelusuran Pustaka Pengaruh Kombinasi Minyak Atsiri Herba Marga Thymus dengan Antibiotik terhadap Aktivitas Antibakteri Ainun Navisah; Yani Lukmayani; Indra Topik Maulana
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.625 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3576

Abstract

Abstract. Infection is a disease caused by pathogenic microbes and without clinical symptoms. Infection can lead to complications if not treated immediately. Infectious diseases can be treated with antibiotics. About 40-62% of antibiotics are used in an inappropriate way, namely for diseases that do not actually require the use of antibiotics. The use of antibiotics in Indonesia is quite high and inappropriate can cause resistance. The combination of antibiotics with herbal plants can overcome bacterial resistance and can kill bacteria that are already resistant to antibiotics. A plant when combined with antibiotics can provide a synergistic effect. The purpose of this study was to determine the effectiveness combination of thymus herbaceous essential oil with antibiotics against antibacterial. The data used is the result of a search through the official website in the form of National and International journals totaling 8 journals. The results of this study indicate that the thymus genus has very high antibacterial properties so that it can increase the working effect of antibiotics, this can be observed in the results of the MIC values obtained. The smaller the MIC value, the better the antibacterial activity, thus providing a synergistic effect. Abstrak. Infeksi adalah suatu penyakit yang diakibatkan oleh bakteri patogen dan tanpa ditimbulkan oleh gejala klinik. Infeksi dapat menyebabkan komplikasi jika tidak segera ditangani. Penyakit infeksi dapat ditangani dengan menggunakan obat antibiotik. Kebanyakan 40% hingga 62% antibiotik digunakan dengan cara yang tidak tepat salah satunya yaitu pada penyakit yang tidak memerlukan penggunaan antibiotik. Antibiotik di Indonesia penggunaannya cukup tinggi dan kurang tepat dapat menyebabkan resistensi. Kombinasi antibiotik dengan tanaman herbal dapat mengatasi resistensi bakteri dan dapat membunuh bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Suatu tanaman jika dikombinasikan dengan antibiotik maka dapat memberikan efek sinergis. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui keefektifan kombinasi minyak atsiri herba marga thymus dengan antibiotik terhadap antibakteri. Data yang digunakan adalah data hasil dari pencarian melalui website resmi berupa jurnal Nasional dan Internasional berjumlah 8 jurnal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa herba marga thymus memiliki sifat antibakteri yang sangat tinggi sehingga dapat meningkatkan efek kerja pada antibiotik, hal ini dapat diamati pada hasil nilai MIC yang didapatkan. Semakin kecil nilai MIC maka semakin baik aktivitas antibakterinya, sehingga memberikan efek sinergis.
Penelusuran Pustaka Ekstrak Bonggol dan Kulit Buah Nanas (Ananas comosus L. Merr.) sebagai Antibakteri Fatia Asy-Syahidah Al-Haq; Kiki Mulkiya Yuliawati; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.757 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3626

Abstract

Abstract. Infectious diseases are diseases caused by microorganisms, in this case bacteria. Alternative treatment of infections that come from natural ingredients, namely hump and pineapple peel which has the potential as an antibacterial agent. Pineapple hump and peel contain compounds that act as antibacterial, one of which is flavonoids, tannins, saponins, alkaloids and bromelain enzymes. The purpose of this literature search is to examine the potential of pineapple hump and peel extract as antibacterial and to determine the content of chemical compounds in pineapple waste that act as antibacterial. The research method used is the Systematic Literature Review (SLR). The results of this literature search showed that pineapple hump extract was more effective on Gram-positive bacteria with a concentration of 50% producing an inhibition zone of 17.67 mm against Enterococcus faecalis bacteria. While the pineapple peel extract was more effective on Gram-negative bacteria with a concentration of 25% producing an inhibition zone of 42.83 mm against Escherichia coli bacteria. The presence of antibacterial activity is suspected because it contains flavonoid compounds, saponins, tannins, alkaloids, steroids and bromelain enzymes in the weevil extract and pineapple peel. Abstrak. Penyakit infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme dalam hal ini bakteri. Alternatif pengobatan infeksi yang berasal dari bahan alam yaitu bonggol dan kulit buah nanas yang berpotensi sebagai zat antibakteri. Bonggol dan kulit buah nanas mengandung senyawa yang berperan sebagai antibakteri salah satunya yaitu flavonoid, tannin, saponin, alkaloid dan enzim bromelin. Tujuan dari penelusuran pustaka ini yaitu untuk menelaah potensi ekstrak bonggol dan kulit buah nanas sebagai antibakteri serta mengetahui kandungan senyawa kimia dalam limbah nanas yang berperan sebagai antibakteri. Metode penelitian yang dilakukan yaitu dengan menggunakan Systematic Literature Review (SLR). Hasil penelusuran pustaka ini menunjukan bahwa ekstrak bonggol buah nanas lebih efektif pada bakteri Gram positif dengan konsentrasi 50% menghasilkan zona hambat sebesar 17,67 mm terhadap bakteri Enterococcus faecalis. Sedangkan pada ekstrak kulit buah nanas lebih efektif pada bakteri Gram negatif dengan konsentrasi 25% menghasilkan zona hambat sebesar 42,83 mm terhadap bakteri Escherichia coli. Adanya aktivitas antibakteri diduga karena mengandung senyawa flavonoid, saponin, tannin, alkaloid, steroid dan enzim bromelin pada ekstrak bonggol dan kulit buah nanas.
Penelusuran Pustaka Potensi Akitivitas Faramakologi dari Rambut Jagung (Corn Silk) Devinur Rahmawati; Indra Topik Maulana; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4186

Abstract

Abstract. Corn silk is a waste from corn plants. This part of the plant is widely used empirically for medication. This study aims to determine the pharmacological activity of corn silk extract. The research method used is a systematic literature review with literature searches on pharmacological activities that have been carried out in the laboratory. The results of a literature search show that it has pharmacological activities such as gout, hypertension, diabetic, and photoaging. Polysaccharides in corn silk can inhibit xanthine oxidase. Flavonoids in corn silk can reduce uric acid production by inhibiting xanthine oxidase activity, stimulating insulin activation so that it can reduce blood sugar levels and inhibit Angiotensin Converting Enzym (ACE) activity. Phyto Peptides in corn silk can lower systolic blood pressure by inhibiting Angiotensin Converting Enzym (ACE). Polyphenols in corn silk are able to inhibit the occurrence of oxidation in cells thereby reducing the occurrence of cell damage so that it can slow down the premature aging process which is characterized by a reduction in the formation of wrinkles. Abstrak. Rambut jagung merupakan limbah dari tanaman jagung. Bagian tanaman ini banyak digunakan secara empiris untuk pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas farmakologi ekstrak rambut jagung. Metode penelitian yang digunakan yaitu Systematic literature review dengan penelusuran pustaka terhadap aktivitas farmakologi yang telah dilakukan di laboratorium. Hasil penelusuran pustaka menunjukan memiliki aktivitas farmakologi sebagai asam urat, hipertensi, diabetes, dan photoaging. Polisakarida dalam rambut jagung mampu menghambat xantin oksidase. Flavonoid dalam rambut jagung mampu menurunkan produksi asam urat dengan menghambat aktivitas xantin oksidase, merangrangsang pengaktifan insulin sehingga dapat menurunkan kadar gula darah dan menghambat aktivitas Angiotensin Converting Enzym (ACE). Phytopeptida pada rambut jagung mampu menurunkan tekanan darah sistolik dengan menghambat Angiotensin Converting Enzym (ACE). Polifenol pada rambut jagung mampumenghambat terjadinya oksidasi pada sel sehingga mengurangi terjadinya kerusakan sel sehingga dapat memperlambat proses penuaan dini yang ditandai dengan adanya pengurangan pembentukan kerutan.
Studi Literatur Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Pisang (Musa paradisiaca L.) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Sherly Aeldha Anuzar; Yani Lukmayani; Reza Abdul Kodir
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.356 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4298

Abstract

Abstract. Infectious diseases are disorders caused by microorganisms or microbes that cannot be seen with the naked eye and can multiply in the body Based on Gram staining bacteria can be divided into Gram-positive bacteria and Gram-negative bacteria. Treatment of infection can be carried out by the administration of antibacterial substances. One of the plants that has antibacterial potential is banana peel. Compounds contained in banana peels that have the potential to be antibacterial are phenolics, flavonoids, saponins and tannins. The purpose of this study is to analyze banana peel extract as an antibacterial against Staphylococcus aureus and Escherichia coli and the content of active compounds in it. The research method carried out is by using a Systematic Literature Review (SLR). The results obtained in this study banana peel have the potential to be antibacterial against Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacteria. Abstrak. Penyakit infeksi merupakan gangguan yang disebabkan oleh mikroorganisme atau mikroba yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata dan dapat perkembang biak pada tubuh Berdasarkan pewarnaan Gram bakteri dapat dibagi menjadi bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif. Pengobatan infeksi dapat dilakukan dengan pemberian zat antibakteri. Salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai antibakteri yaitu kulit pisang. Senyawa yang terkandung pada kulit pisang yang berpotensi sebagai antibakteri yaitu fenolat, flavonoid, saponin dan tannin. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis ekstrak kulit pisang sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli serta kandungan senyawa aktif yang ada di dalamnya. Metode penelitian yang dilakukan yaitu dengan menggunakan Systematic Literature Review (SLR). Hasil yang didapat pada penelitian ini kulit pisang berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Selenicereus monacanthus (Lem.) D.R. Hunt) Menggunakan Metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) Yuliani Ika Pratiwi; Yani Lukmayani; Vinda Maharani Patricia
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.997 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4355

Abstract

Abstract. Free radicals are molecules that have an unpaired electron in their outer orbital, so they are highly reactive. Free radicals can come from cigarette smoke, fast food, burning, excessive sun exposure, and air pollution which can cause chronic and degenerative diseases such as damage to cell wall membranes in all tissues. Free radicals can be fought with antioxidants. One of the natural antioxidants is dragon fruit peel (Selenicereus monacanthus) which contains secondary metabolites, one of which is phenol compounds which are thought to be antioxidants. This study aims to determine the percentage of antioxidant activity, namely the IC50 value of the red dragon fruit peel extract using 96% ethanol: citric acid and aquadest: citric acid as a solvent. Measurement of antioxidant activity was carried out using the DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) method. The results of the antioxidant activity test of red dragon fruit peel extract in 96% ethanol: citric acid and aquades: citric acid solvents were 171.785 ppm and 174.381 ppm, respectively. Abstrak. Radikal bebas merupakan suatu molekul yang mempunyai elektron yang tidak berpasangan pada orbital luarnya sehingga, bersifat sangat reaktif. Radikal bebas dapat berasal dari asap rokok, makanan siap saji, pembakaran, paparan sinar matahari berlebih, serta polusi udara yang dapat timbulnya penyakit kronis dan degeneratif seperti kerusakan pada membran dinding sel hinnga semua jaringan. Radikal bebas dapat ditangkal oleh antioksidan. Salah satu antioksidan alami yaitu kulit buah naga merah (Selenicereus monacanthus) yang mengandung metabolit sekunder salah satunya adalah senyawa fenol yang diduga sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan yaitu nilai IC50 dari ekstrak kulit buah naga merah menggunakan pelarut etanol 96%:asam sitrat dan aquadest:asam sitrat. Pengukuran aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak kulit buah naga merah pada pelarut etanol 96%:asam sitrat dan aquadest:asam sitrat berturut-turut yaitu 171,785 ppm dan 174,381 ppm.
Studi Literatur Potensi Aktivitas Antibakteri Ekstrak Bunga dan Daun Kecombrang (Etlingera Elatior (Jack) R. M. Sm.) terhadap Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif Mahda Nur Nahjatun Naajiyah; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.6 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4363

Abstract

Abstract. Infection is one of the most common diseases in humans caused by pathogenic microorganisms. Microorganisms that can cause infection are Gram-positive and Gram-negative bacteria. Antibacterial is a compound that can inhibit and kill the growth of bacteria. Kecombrang plant is one of the Zingiberaceae tribe which is useful as an ingredient in Indonesian cuisine, wound healing, increasing breast milk, antioxidant and antibacterial. Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R. M. Sm.) plant contains secondary metabolites that have potential for antibacterial activity. The content of secondary metabolites that have the potential as antibacterial are polyphenols, flavonoids, saponins, tannins, and terpenoids. This literature search aims to analyze and collect research data related to the potential antibacterial activity of kecombrang leaf and flower extracts against Gram-positive and Gram-negative bacteria and the content of their active compounds. The results showed that kecombrang leaf and flower extract had better potency on Gram-positive bacteria than Gram-negative bacteria. Abstrak. Infeksi merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada manusia yang disebabkan oleh mikroorganisme yang bersifat patogen. Salah satu mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif. Antibakteri merupakan suatu senyawa yang dapat menghambat dan membunuh pertumbuhan bakteri. Tanaman kecombrang merupakan salah satu suku Zingiberaceae yang bermanfaat sebagai bahan masakan nusantara, penyembuh luka, memperbanyak air susu ibu, antioksidan dan antibakteri. Tanaman kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R. M. Sm.) memiliki kandungan metabolit sekunder yang dapat berpotensi sebagai aktivitas antibakteri. Kandungan metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri yaitu polifenol, flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid. Penelusuran pustaka ini bertujuan untuk menganalisis serta mengumpulkan data hasil penelitian terkait potensi aktivitas antibakteri ekstrak daun dan bunga kecombrang terhadap bakteri Gram positif dan negatif serta kandungan senyawa aktifnya. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun dan bunga kecombrang berpotensi lebih baik pada bakteri Gram positif dibandingkan dengan bakteri Gram negatif.
Kajian Pustaka Potensi Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Daun Nilam (Pogostemon cablin Benth.) terhadap Bakteri Patogen pada Kulit Nisa Rahma Aniyati; Yani Lukmayani; Esti Rachmawati Sadiyah
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.237 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4406

Abstract

Abstract. Skin infection becomes one of the most common skin problems in Indonesia. It is usually caused by bacterial infections, fungi, and viruses Antibacterial is a compound used to inhibit and kill pathogenic bacteria, one of the examples is patchouli (Pogostemon cablin Benth.) with one of the ingredients called essential oil. The study examined the antibacterial activity of patchouli leaf essential oil against pathogenic bacteria, namely Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus pyogenes, and Pseudomonas aeruginosa, using literature review method. Analysis performed based on inhibition zone diameter and Minimum Inhibition Concentration (MIC) value resulted from selected papers. The results of this literature study indicate that the better diameter of the inhibitor is to inhibit Staphylococcus aureus bacteria by 22.5 mm at a concentration of 2%. So that patchouli essential oil as an antibacterial is more likely to be against Gram positive bacteria than Gram negative bacteria, with the MIC value of Gram positive bacteria (Staphylococcus aureus) ranging from 250-2000 g/mL, while Gram negative bacteria (Pseudomonas aeruginosa) are in the range of 1200 – > 4000 g/mL. Abstrak. Permasalahan kulit yang sering terjadi di Indonesia salah satunya adalah infeksi kulit, biasanya disebabkan karena infeksi bakteri, jamur dan virus. Antibakteri adalah suatu senyawa yang digunakan untuk menghambat dan membunuh bakteri patogen. Salah satu tanaman yang berkhasiat sebagai antibakteri yaitu daun nilam (Pogostemon cablin Benth.) dengan salah satu kandungannya yaitu minyak atsiri. Penelitian ini mengkaji aktivitas antibakteri minyak atsiri daun nilam terhadap bakteri patogen yaitu Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus pyogenes dan Pseudomonas aeruginosa yang dilakukan dengan metode studi literatur menggunakan data sekunder. Kemudian dilakukan pengamatan berdasarkan hasil pengukuran diameter zona hambat dan nilai KHM. Hasil studi literatur ini menunjukkan bahwa diameter hambat yang lebih baik yaitu menghambat bakteri Staphylococcus aureus sebesar 22,5 mm pada konsentrasi 2%. Sehingga minyak atsiri daun nilam sebagai antibakteri lebih berpotensi terhadap bakteri Gram positif dibandingkan dengan bakteri Gram negatif, dengan nilai KHM bakteri Gram positif (Staphylococcus aureus) berada pada rentang 250-2000 μg/mL, sedangkan bakteri Gram negatif (Pseudomonas aeruginosa) berada pada rentang 1200 - >4000 μg/mL.
Studi Literatur Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.) Fazreen Dwi Putri Anggia Fazreen; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.694 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4694

Abstract

Abstract. Diabetes mellitus (DM) is a chronic condition that occurs when there is an increase in blood glucose levels from normal values. Plants that have activity in lowering blood glucose levels are cherry leaves (Muntingia calabura L.) which come from the Muntingia genus and the Muntingiaceae tribe. The purpose of this literature study is to find out how the potential of cherry leaf extract to reduce blood glucose levels as well as the active compounds that play a role and its mechanism. The method used is to search for literature from articles that have been published in National Journals and International Journals. The results of the literature study showed that cherry leaf extract had antidiabetic activity. Cherry leaves contain flavonoid compounds, tannins, terpenoids, saponins, and alkaloids with the mechanism of increasing tissue glucose absorption that works through the insulin signaling pathway. Abstrak. Diabetes mellitus (DM) adalah kondisi kronis yang terjadi bila ada peningkatan kadar glukosa dalam darah dari nilai normal. Tanaman yang memiliki aktivitas menurunkan kadar glukosa darah yaitu daun kersen (Muntingia calabura L.) yang berasal dari marga Muntingia dan suku Muntingiaceae. Tujuan dari studi literatur ini untuk mengetahui bagaimana potensi ekstrak daun kersen terhadap penurunakan kadar glukosa darah serta senyawa aktif yang berperan dan mekanismenya. Metode yang digunakan yaitu dengan mencari pustaka dari artikel yang telah dipublikasikan dalam Jurnal Nasional dan Jurnal Internasional. Hasil dari studi literatur menunjukkan bahwa ekstrak daun kersen memiliki aktivitas antidiabetes. Pada daun kersen memiliki kandungan senyawa flavonoid, tanin, terpenoid, saponin, dan alkaloid dengan mekanisme meningkatkan penyerapan glukosa jaringan yang bekerja melalui jalur pensinyalan insulin.
Penelusuran Pustaka Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Cincau Hijau (Cyclea barbata Miers) dan Daun Cincau Hitam (Mesona palustris Blume) Abdurrasyid Fadhlurrahim; Livia Syafnir; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4711

Abstract

Abstract. Free radicals are reactive molecules containing unpaired electrons that can trigger degenerative diseases. Antioxidants are needed as neutralizers of oxidation reactions caused by free radicals. Grass jelly is one of the plants known for its use as a food ingredient that has antioxidant activity. This study uses a literature review by reviewing several references with the aim of knowing the antioxidant activity of the two grass jelly, namely Cyclea barbata and Mesona palustris. Several studies have shown the antioxidant activity of both types of grass jelly, namely green grass jelly (Cyclea barbata Miers) and black grass jelly (Mesona palustris Blume). Judging from the extraction method and different types of solvents will produce various IC50 values. Both grass jelly has a class of compounds such as flavonoids, saponins, tannins, alkaloids and steroids. Abstrak. Radikal bebas merupakan molekul yang bersifat reaktif mengandung elektron tidak berpasangan yang dapat memicu penyakit degeneratif. Antioksidan diperlukan sebagai penetralisir dari reaksi oksidasi akibat radikal bebas. Cincau merupakan salah satu tanaman yang dikenal pemanfaatannya sebagai bahan pangan yang memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini menggunakan literature review dengan mengkajian beberapa referensi dengan tujuan mengetahui aktivitas antioksidan kedua cincau yakni Cyclea barbata dan Mesona palustris. Beberapa penelitian menunjukkan adanya aktivitas antioksidan dari kedua macam jenis cincau yaitu cincau hijau (Cyclea barbata Miers) dan cincau hitam (Mesona palustris Blume). Dilihat dari metode ekstraksi dan jenis pelarut yang berbeda beda akan menghasilkan nilai IC50 yang beragam. Kedua cincau tersebut memiliki golongan senyawa seperti flavonoid, saponin, tanin, alkaloid dan steroid.