Claim Missing Document
Check
Articles

Found 95 Documents
Search
Journal : Jurnal Geodesi Undip

APLIKASI PENGINDERAAN JAUH UNTUK MEMETAKAN KEKERINGAN LAHAN PERTANIAN DENGAN METODE THERMAL VEGETATION INDEX (STUDI KASUS : KABUPATEN KUDUS, JAWA TENGAH) Nilasari, Monica; Sasmito, Bandi; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1691.842 KB)

Abstract

ABSTRAK Indonesia sebagai negara yang terletak di kawasan tropis. Posisi Indonesia yang berada pada belahan bumi dengan iklim monsoon tropis sangat sensitif terhadap anomali iklim El-Nino Southern Oscillation (ENSO). ENSO menyebabkan terjadinya kekeringan. iklim ENSO ini juga menjadi salah satu penyebab Kabupaten Kudus terkena dampak kekeringan karena kemarau panjang. Ancaman kekeringan akibat pengaruh iklim tidak dapat dihindari, tetapi dapat diminimalkan dampaknya jika mengetahui pola kekeringan di suatu daerah tersebut.Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan aplikasi penginderaan jauh yaitu melalui pengolahan dan analisis menggunakan algoritma Thermal Vegetation Index (TVI) yang merupakan rasio antara Land Surface Temperature (LST) dan Index Vegetation untuk mengkaji sebaran dan pola kekeringan pertanian Kabupaten Kudus tahun 2015 dan 2016 yang kemudian akan dihubungkan dengan karakteristik wilayahnya untuk diketahui keterkaitannya dengan kekeringan Kabupaten Kudus.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kejadian kekeringan sangat luas terjadi pada bulan September 2015 dengan luas 20165,579 ha , sedangkan yang terendah terjadi pada bulan September 2016 dengan luas 4874,504 ha. Hasil uji statistik menunjukan bahwa parameter suhu permukaan, indeks vegetasi, kelerengan dan jenis tanah berpengaruh terhadap kejadian kekeringan lahan pertanian di Kabupaten Kudus.Kata Kunci : EVI, Kekeringan lahan pertanian, TVI, LST, EVI, Landsat ABSTRACT Indonesia is a country locate in tropical region. Position of Indonesia which is in the hemisphere with tropical monsoon climate is very sensitive to El-Nino Southern Oscillation (ENSO) climate anomaly.ENSO causes drought. ENSO climate also one of the causes Kudus regency affected with drought due to long dry season.                 Drought threats due to climate influence can’t be avoided,  but the impact can be minimized if known the pattern of drought in a particular area. One method can be used using remote sensing application trough processing and analysis using Thermal Vegetation Index (TVI) algoritm which is ratio between Land Surface Temperature (LST) and Vegetation Index to study distribution and pattern of agricultural drought at Kudus Regency in year 2015 and 2016 which will be linked with teritory characteristics to be associated with the drought of Kudus Regency.                The very wide drought occurred in September 2015 with an area of 20165.579 hectare, while the lowest drought occured in September 2016 with an area of 4874,504 hectare. The result of statistical test showed parameters of surface temperature, vegetation index, slope and soil type have an effect on the occurence of agricultural drought in Kudus RegencyKeywords: Agricultural drought, TVI, LST, EVI, Landsat
KAJIAN KERAPATAN SUNGAI DAN INDEKS PENUTUPAN LAHAN SUNGAI MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH (Studi Kasus : DAS Juana) Utama, Alfian Galih; Wijaya, Arwan Putra; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.013 KB)

Abstract

ABSTRAK DAS Juana merupakan DAS yang mencangkup dua kabupaten yang sedang berkembang pesat di Jawa Tengah antara lain Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati. Dalam sebuah Daerah Aliran Sungai keberadaan vegetasi merupakan hal yang sangat penting. Indeks Penutupan Lahan Daerah Aliran Sungai adalah suatu nilai yang menyatakan kualitas tutupan lahan pada Daerah Aliran Sungai. Berdasarkan keputusan Keputusan Menteri Kehutanan No52/Kpts-II/2001 nilai indeks penutupan lahan dikatakan buruk apabila kurang dari 30%. Dalam aliran air yang deras, kondisi penahan aliran air berupa vegetasi seharusnya lebih diperhatikan untuk menghindari bencana yang mungkin terjadi dan untuk meminimalisir kekeringan.Pada penelitian ini, analisis menggunakan citra satelit Landsat 7 tahun 2000, 2005 dan tahun 2011 serta Landsat 8 tahun 2015. Pengklasifikasian terbimbing digunakan untuk mencari nilai indeks penutupan lahan sungai (IPL), sedangkan kajian mengenai sifat aliran sungai menggunakan data ASTER GDEM melalui proses analisis watershed.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak tahun 2000 nilai IPL DAS Juana tidak pernah dalam kondisi baik. Nilai IPL DAS Juana secara keseluruhan menurun, pada tahun 2000 nilai IPL sebesar 38,298% namun pada tahun 2005  mengalami kenaikan menjadi 43,125%. Kemudian hingga tahun 2015 nilai tersebut terus turun menjadi 23,462% atau dalam kondisi buruk. Sedangkan nilai kerapatan sungai DAS Juana didapatkan sebesar 0,500 km/km2 dalam kelas sedang dimana erosi berpotensi cenderung besar dengan arus yang kuat. Kata Kunci: Penginderaan Jauh, Indeks Penutupan Lahan, Kerapatan Sungai, Daerah Aliran Sungai.  ABSTRACT Juana Watershed is a watershed covered two counties that are growing rapidly in Central Java, there is Kudus and Pati. In a watershed existenced of vegetation was very important. River Land Cover Indes is a value that showing the quality of land cover in the watershed. Based on the decision of Ministerial Decree No52 / Kpts-II / 2001 Land Cover Index of Watershed was classified poor if that value was less than 30%. Under conditions of heavy water, the condition of retaining the water flow in the form of vegetation should be taken to avoid disasters that may occur and to minimize dryness.In this study, the analysis using Landsat 7 satellite images in 2000, 2005 and 2011 as well as 2015. The classification of Landsat 8 guided used to search the index value of land cover indeks, while the study of the watersheds using ASTER GDEM through the analysis watershed.The results showed that since 2000 the value of Land Cover Indeks from DAS Juana was never in a good condition. IPL value DAS Juana overall decreased, in 2000 the value of the Land Cover Indeks are 38.298% but increased in 2005 to 43.125%. And then until 2015, the value of Land Cover Index continues to dropped to 23.462% or in bad condition. While the value of the density of the river watershed Juana obtained by 0.500 km / km2 or in classed where erosion has potential and with strong streams. Keywords: Remote Sensing, Land Cover Index, The density of the river, Watershed.  *) Penulis, PenanggungJawab 
POTENSI TAMBANG BATUBARA BERDASARKAN ANALISIS KELIMPAHAN MINERAL BATUBARA MENGGUNAKAN CITRA HYPERION EO-1 DAN CITRA LANDSAT DI KOTA SAWAHLUNTO Jamilah, Mutiara; Prasetyo, Yudo; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi Undip Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.496 KB)

Abstract

Kota Sawahlunto merupakan salah satu kota di provinsi Sumatera Barat yang memiliki topografi bervariasi seperti dataran landai, danau, dataran tinggi dan pegunungan. Kota Sawahlunto terletak di atas Formasi Sawahlunto, batuan yang terbentuk pada zaman yang diberi istilah kala (epoch) Eocen sekitar 40 – 60 juta tahun yang lalu. Kondisi tersebut menjadikan Kota Sawahlunto memiliki potensi mineral dan hasil tambang. Salah satu tambang terbesar yang berpotensi di Sawahlunto adalah tambang batubara. Penentuan wilayah yang memiliki potensi batubara pada penelitian ini menggunakan metode Spectral Angle Mapper (SAM) dengan citra Hyperion EO-1 untuk mengetahui kelimpahan mineral guna mendapatkan delineasi mineral batubara. Penggunaan citra Landsat bertujuan untuk mengklasifikasikan perubahan kerapatan vegetasi pada area pertambangan  dengan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan mengklasifikasikan serta menghitung perubahan luas tutupan lahan dengan metode Supervised Classification serta penggunaan data SRTM resolusi 90m untuk perhitungan volume galian dan timbunan batubara dengan metode cut and fill  pada area yang berpotensi. Hasil penelitian membuktikan bahwa daerah yang berpotensi dijadikan tambang batubara adalah desa Salak, Sijantang, Batu Tanjung dan Ratih Kecamatan Talawi serta desa Lubang Panjang dan Saringan Kecamatan Lembah Segar. Hasil analisis kerapatan vegetasi pada area wilayah kerja pertambangan di area penelitian pada tahun 2008 didominasi oleh kerapatn vegetasi tinggi seluas 1414,68 Ha, sedangkan pada tahun 2018 didominasi oleh kerapatan vegetasi jarang seluas 1055,71 Ha. Hasil perubahan tutupan lahan kota Sawahlunto pada area penelitian dari tahun 2008 hingga tahun 2018 yang mengalami penambahan luas area tertinggi adalah kelas permukiman seluas 3823,40 Ha sedangkan yang mengalami penurunan luas area adalah kelas semak belukar seluas 2690,92 Ha. Hasil volume galian  menggunakan metode cut and fill pada tahun 2008 hingga 2013 adalah adalah 1898,96 Ha dan timbunan 3925,77 Ha di area wilayah kerja pertambangan pada area penelitian.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN KOMODITAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN DI WILAYAH KABUPATEN BANJARNEGARA DENGAN METODE MATCHING Qomaruddin, Qomaruddin; Sukmono, Abdi; Nugraha, Arief Laila
Jurnal Geodesi Undip Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.936 KB)

Abstract

ABSTRAK   Banjarnegara dilihat dari kondisi lahannya memiliki potensi komoditas perkebunan dan komoditas kehutan yang sangat variatif sehingga perlu diadakannya penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan hasil komoditas yang memiliki manfaat ekonomis yang cukup tinggi. Untuk memaksimalkan potensi pengembangan Komoditas perkebunan dan komoditas kehutanan perlu diadakan analisis kesesuaian lahan agar dalam pengambilan kebijakan bisa disesuaikan dengan potensi daerah dan bisa lebih tepat sasaran. Komoditas perkebunan yang dianalisi pada penelitian ini adalah kopi arabika, kopi robusta, teh dan tebu. Sedangkan komoditas kehutanan yang dianalisis kesesuaian lahannya pada penelitian ini adalah kayu sengon, kayu mahoni dan kayu eucalyptus. Metode kesesuaian lahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode matching atau pencocokan kriteria tananman dengan keadaan wilayah penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan Kecamatan Batur, Kecamatan Pejawaran, Kecamatan Wanayasa, Kecamatan Kalibening, Kecamatan Karangkobar, Kecamatan Pandanarum, Kecamatan Pangentan, Kecamatan Punggelan, Kecamatan Karangkobar dan Kecamatan Banjarmangu memiliki potensi dalam pengembangan komoditas kopi arabika dengan kelas terbaik yaitu kelas S3 (sesuai marjinal) dengan luas 9.364,758 Ha atau 64,3%, kopi robusta dengan kelas terbaik S1 (sangat sesuai) seluas 3,951 Ha atau 0,02% dan teh dengan kelas terbaik S1 (sangat sesuai) seluas 235 Ha atau 1,6%. Komoditas tebu paling cocok ditanam di Kecamatan Bawang, Kecamatan Rakit, Kecamatan Purwonegoro dan Kecamatan Susukan dengan kelas terbaik S1 (sangat sesuai) seluas 1.547,745 Ha atau 10,6%. Komoditas kehutanan hampir semua daerah cocok untuk tanaman eucalyptus dengan kelas terbaik yaitu S2 (sesuai) seluas 15556,19 Ha atau 27,8%, mohoni dengan kelas terbaik yaitu S1 (sangat sesuai) seluas 448,71 Ha atau 0,8% dan sengon dengan kelas terbaik yaitu S3 (sesuai marjinal) seluas 31.340,19 Ha atau 56%. Kata Kunci: Kesesuaian Lahan, Komoditas Kehutanan, Komoditas Perkebunan, Metode Matching. ABSTRACT                    Banjarnegara seen from the condition of the land has the potential of plantation commodities and forest commodities are very varied so that the need for further research to develop commodity products that have high economic benefits. To maximize the development potential of forest plantation commodities and commodities, it is necessary to conduct land suitability analysis so that the policy can be adjusted to the potential of the region and can be more targeted. Plantation commodities analyzed in this study were arabica coffee, robusta coffee, tea and sugar cane. While the forestry commodities analyzed for land suitability in this study are sengon wood, mahogany wood and eucalyptus wood. The land suitability method used in this research is using matching method or matching of tananman criteria with the condition of research area. The results of this study show that Batur District, Pejawaran Subdistrict, Wanayasa Subdistrict, Kalibening District, Karangkobar Subdistrict, Pandanarum Subdistrict, Pangentan Sub-District, Punggelan Sub-District, Karangkobar Sub-District and Banjarmangu Sub District have potential in developing arabica coffee commodity with best grade of S3 (marginal) with an area of 9,364.758 Ha or 64.3%, robusta coffee with the best grade S1 (very suitable) of 3.951 Ha or 0.02% and tea with the best S1 (very suitable) class of 235 Ha or 1.6%. The most suitable sugarcane commodity is grown in Bawang District, Rakit District, Purwonegoro and Susukan Subdistricts with the best S1 (very suitable) class of 1,547,745 Ha or 10.6%. Forestry commodities of almost all areas suitable for eucalyptus plants with the best grade of S2 (appropriate) of 15556.19 Ha or 27.8%, mohoni with the best class of S1 (very appropriate) area of 448.71 Ha or 0.8% and sengon with the best grade of S3 (marginal fit) of 31,340.19 Ha or 56%. Keywords: Land Suitability, Forestry Commodity, Plantation Commodity, Matching Method.
STUDI PENGARUH KERAMBA JARING APUNG (KJA) TERHADAP KUALITAS AIR DI WADUK KEDUNG OMBO DENGAN CITRA LANDSAT-8 MULTITEMPORAL SILALAHI, ERTHA; Suprayogi, Andri; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi Undip Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.675 KB)

Abstract

Waduk Kedung Ombo merupakan sebuah bendungan raksasa terletak di Provinsi Jawa Tengah dimana dikelilingi oleh tiga kabupaten yaitu Kapupaten Grobogan, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Boyolali tepatnya di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan. Keberadaan Waduk Kedung Ombo dengan area yang begitu luas menjadikannya memiliki peranan yang sangat penting bagi masyarakat sekitar yaitu sebagai penyedia sumber air utama. Selain sebagai sumber air utama, Waduk Kedung Ombo juga memiliki peranan penting dalam sektor perikanan yaitu kegiatan budidaya ikan dengan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) yang dimana jika berkembang pesat akan menimbulkan dampak negatif yaitu penurunkan kualitas perairan waduk. Pada penelitian ini pengambilan titik sampel dilakukan pada bulan April 2018 yang diambil secara acak pada perairan Waduk Kedung Ombo. Hasil sampling akan diuji di laboratorium dimana hasilnya akan digunakan dalam pengolahan algoritma masing-masing pada citra Landsat-8 dan pada KJA diperoleh perubahan jumlah untuk setiap tahunnya. Konsentrasi TSS dan kandungan klorofil-a yang diperoleh digunakan untuk mengetahui distribusi pencemaran dan kesuburan air yang nantinya dikaitkan dengan perubahan jumlah KJA. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan luas KJA dari tahun 2013, 2014, 2016 dan 2018 mengalami kenaikan setiap tahunnya. Kualitas air waduk untuk tahun 2013, 2014, 2016 dan 2018, berada dalam keadaan memenuhi baku mutu dan berstatus trofik oligotrof. Berdasarkan rentang nilai klasifikasi pencemaran air, konsentrasi TSS tertinggi tahun 2013 berada pada rentang 0 – 100 mg/l, untuk tahun 2014 dengan rentang 100 – 500 mg/l, untuk tahun 2016 dan 2018 memiliki rentang sebesar  >1000 mg/l . Sedangkan berdasarkan rentang nilai klasifikasi kesuburan air, kandungan klorofil-a tertinggi dari tahun 2013, 2014, 2016 tetap berada pada rentang 2,6 – 7,3 mg/l dan pada tahun 2018 naik hingga berada pada rentang 7,3 – 56 mg/l. Dengan demikian konsentrasi TSS lebih menunjukkan kenaikan lebih signifikan dari pada kandungan klorofil-a yang artinya KJA lebih mempengaruhi secara signifikan terhadap konsentrasi TSS.
ANALISIS PENGARUH KOREKSI ATMOSFER TERHADAP DETEKSI LAND SURFACE TEMPERATURE MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 DI KOTA SEMARANG Kalinda, Icha Oktaviana Putri; Sasmito, Bandi; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi Undip Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.764 KB)

Abstract

Atmosfer mampu mempengaruhi perjalanan gelombang elektromagnetik baik dari matahari ke objek maupun dari objek ke sensor yang menyebabkan adanya perbedaan pada nilai radian citra. Radian citra digunakan untuk pengolahan untuk mendapatkan nilai suhu permukaan tanah. Untuk band thermal level koreksi hanya pada konversi nilai piksel menjadi radian spektral. Radian ToA (Top of Atmosphere) merupakan radian yang tertangkap oleh sensor dan diperoleh dari kalibrasi radiometrik sedangkan radian BoA (Bottom of Atmosphere) dilakukan proses koreksi atmosfer. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kedua radian tersebut guna mengetahui pengaruh penggunaan koreksi atmosfer dalam deteksi nilai LST (Land Surface Temperature). Kota Semarang dipilih sebagai wilayah penelitian karena merupakan salah satu kota dengan fenomena Pula Bahang.Metode koreksi atmosfer untuk koreksi BoA yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode koreksi atmosfer menurut Coll dkk pada tahun 2010 dan metode Single-Channel (SC) menurut Jiménez-Muñoz dan Sobrino,untuk mendapatkan sebaran nilai LST. Membandingkan LST hasil pengolahan dari citra terkoreksi ToA serta BoA terhadap data LST in situ ,berupa data sampel LST dari hasil survei lapangan.Hasil uji hipotesis dan validasi menunjukkan bahwa koreksi atmosfer berpengaruh signifikan terhadap deteksi LST di Kota Semarang. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penggunaan citra radian BoA (terkoreksi atmosfer) memiliki nilai deteksi LST lebih mendekati nilai LST in situ, dengan metode koreksi atmosfer terbaik adalah metode Single-Channel (SC) menurut Jiménez-Muñoz dan Sobrino. Hal ini diketahui dari nilai RMSE (Root Mean Squared Error) berturut-turut pada pengolahan 1 dan 2 untuk radian ToA yaitu 10,4◦C; 9,07◦C, radian BoA metode koreksi atmosfer Coll dkk berturut-turut yaitu 3,82◦C; 4,86◦C dan radian BoA metode SC berturut-turut yaitu 3,25◦C dan 4,50◦C. Hasil pengolahan 1 dan 2 LST metode SC diketahui bahwa sebaran nilai deteksi LST Kota Semarang didominasi oleh kelas suhu 30.1◦C-35◦C.
ANALISIS POLA SEBARAN AREA UPWELLING MENGGUNAKAN PARAMETER SUHU PERMUKAAN LAUT, KLOROFIL-A, ANGIN DAN ARUS SECARA TEMPORAL TAHUN 2003-2016 (Studi Kasus : Laut Banda) Putra, Ikhlas Ika; Sukmono, Abdi; Wijaya, Arwan Putra
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.065 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan salah satu negara yang memiliki wilayah laut terluas di dunia, dengan luas laut mencapai 5,8 juta km2 . Laut Indonesia memiliki banyak potensi dan sumber daya alam laut yang sangat beragam. Laut Banda merupakan salah satu perairan yang memiliki kekayaan tersebut yang memiliki muatan unsur hara yang melimpah. Sebaran unsur hara tersebut dapat diketahui dengan adanya fenomena upwelling di laut Banda. Salah satu cara untuk menganalisis upwelling tersebut menggunakan citra Aqua MODIS (klorofil-a dan suhu permukaan laut) sebagai parameter upwelling, citra Quickscatt untuk arah dan kecepatan angin, serta data permodelan Aviso untuk pola arus.Metode pengolahan pada penelitian ini menggunakan bahasa pemograman ENVI-IDL untuk mengolah data dari citra Aqua MODIS dan citra Quicscatt dari tahun 2003-2016, serta pengolahan untuk data arus menggunakan SeaDAS dari tahun 2010-2015. Hasil dari pengolahan tersebut nantinya akan didapatkan nilai sebaran dari klorofil-a, suhu permukaan laut, dan angin serta pola arah arus untuk mengidentifikasi upwelling dan kriteria upwelling yang terjadi setiap musim dalam 14 tahun maupun setiap tahunnya dari tahun 2003-2016. Kemudian dilakukan uji korelasi terhadap parameter klorofil-a, suhu permukaan laut, dan angin untuk mengetahui kekuatan hubungan parameter upwelling.Fenomena upwelling yang terjadi di laut Banda terjadi pada musim timur, dimana puncak tertinggi terjadi pada bulan Agustus. Kandungan klorofil-a pada bulan ini mencapai 0,446 mg/ 15m3">  seiring dengan meningkatnya kecepatan angin mencapai 6,626 m/s dan suhu permukaan laut menurun sampai nilai 26,818 15℃">  dan fenomena upwelling di laut Banda ini terjadi setiap tahun dengan pola yang sama. Fenomena upwelling yang terjadi di laut Banda dapat diketahui dengan adanya arus eddy di sekitar area tempat terjadinya fenomena ini. Berdasarkan hasil uji korelasi diketahui parameter upwelling klorofil-a, suhu permukaan laut, dan angin memiliki hubungan yang kuat dengan nilai korelasi klorofil-a dengan suhu permukaan laut sebesar -0,993 dan klorofil-a dengan angin sebesar 0,951
ANALISIS KONTRIBUTOR DOMINAN TERHADAP FENOMENA URBAN HEAT ISLAND (UHI) DI KOTA MEDAN Nainggolan, Yohana Christie; Sasmito, Bandi; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi Undip Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.946 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkembangan suatu kota dalam berbagai aspek akan meningkatkan produktifitas kota tersebut. Namun perkembangan tersebut menimbulkan konsekuensi  seperti meningkatnya laju pertumbuhan lahan terbangun, angka kepadatan penduduk, urbanisasi, kemacetan, ketidaknyamanan dan sebagainya. Faktor-faktor konsekuensi tersebut juga akan memicu terjadinya fenomena Urban Heat Island (UHI) atau pemanasan pulau perkotaan. Oleh karena itu, penelitian ini akan membahas seberapa  besar nilai pengaruh setiap faktor  dalam memicu fenomena UHI. Penelitian ini berfokus pada faktor ruang terbangun (RTB), kerapatan vegetasi, kepadatan penduduk serta keberadaan kawasan industri. Penelitian dilakukan secara multitemporal, yaitu tahun 2009, 2014 dan 2019 menggunakan citra Landsat 5 dan Landsat 8. Pemilihan citra berdasarkan kemiripan waktu  akuisisi citra dan kesamaan musim di lapangan. Pengolahan  ruang terbangun dilakukan dengan klasifikasi supervised dan kerapatan vegetasi dengan algoritma NDVI. Penelitian juga akan menghasilkan nilai suhu permukaan di tiap tahun.  Hasil pengamatan citra Landsat tahun 2009 hingga 2019 menunjukkan bahwa hampir semua faktor berkembang secara fluktuatif, begitu juga dengan suhu permukaan (Land Surface Temperature). Pada tahun 2009 LST rata-rata  adalah 24,96oC, tahun 2014 LST rata-rata meningkat menjadi 33,32oC dan mengalami penurunan menjadi 30,18oC di tahun 2019. Adapun UHI sangat erat kaitannya dengan LST, dan berdasarkan hasil uji regresi faktor yang memiliki kontribusi paling dominan terhadap UHI adalah RTB dengan kontribusi sebesar 68,83%. Kata Kunci : Citra Satelit Landsat, NDVI, Ruang Terbangun, Suhu Permukaan, Urban heat island ABSTRACTThe development of a city in various aspects will increase the productivity of the city. However, these developments have consequences such as increased growth rates of built space, population density, urbanization, congestion, discomfort and other. These consequences factors will also trigger the phenomenon of Urban Heat Island (UHI) or urban island warming. Therefore, this study will discuss how the value influence each factor in triggering the UHI phenomenon. This research focuses on the built space, vegetation density, population density and industrial estates. The research was conducted multitemporally in 2009, 2014 and 2019 using Landsat 5 and Landsat 8 imagery. Image selection based on the similarity of image acquisition time and seasonality in the field. The processing of built space is done by supervised classification and vegetation density using the NDVI algorithm. The research will also produce surface temperature values each year. Observation of Landsat imagery from 2009 to 2019 shows that almost of all factors develop fluently, as well as surface temperature (Land Surface Temperature). In 2009 the average LST was 24,96oC, in 2014 the average LST increased to 33,3 oC and decreased to 30,18oC in 2019. UHI phenomenon is very closely related to the LST, and based on the results of the regression test the factor that have the most dominant contribution to UHI is built space with a contribution of 68,83%.
STUDI CLOUD MASKING MENGGUNAKAN BAND QUALITY ASSESSMENT, FUNCTION OF MASK DAN MULTI-TEMPORAL CLOUD MASKING PADA CITRA LANDSAT 8 Sinabutar, Julio Jeremia; Sasmito, Bandi; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi Undip Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.97 KB)

Abstract

ABSTRAKSalah satu masalah yang paling sering timbul dalam pengolahan citra pasif adalah awan dan bayangan awan. Awan dan bayangannya menjadi kendala utama dalam pengolahan citra pasif karena awan akan menutupi area yang berada dibawahnya dan bayangan awan akan mempengaruhi dari kualitas citra itu sendiri. Citra Landsat 8 adalah salah satu citra pasif yang paling sering digunakan untuk observasi sumber daya alam. Citra Landsat 8 pasti mengandung tutupan awan karena termasuk salah satu citra pasif. Awan dan bayangan pada citra Landsat 8 perlu dilakukan proses cloud masking. Cloud masking adalah proses pendeteksian awan dan bayangannya yang pada tahap selanjutnya akan dilakukan masking. Beberapa algoritma yang digunakan dalam cloud masking pada citra Landsat 8 antara lain band QA (Quality Assessment), Fmask (Function of Mask) dan MCM (Multi-Temporal Cloud Masking). Penelitian ini melakukan perbandingan ketiga metode tersebut pada citra dengan luasan awan < 10% (10 Agustus 2019), 10% < awan < 20% (9 Juli 2019) dan 20% < awan < 30% (27 September 2019) untuk menentukan akurasi awan dan bayangannya setiap metode pada setiap citra yang dipakai. Hasil pada penelitian ini adalah akurasi awan dan bayangannya pada citra dengan awan < 10% dengan metode Band QA, Fmask dan MCM berturut – turut adalah 98%, 98,67% dan 99,33% dan untuk bayangannya berturut – turut adalah 92%, 91% dan 60%. Hasil akurasi awan dan bayangannya pada citra dengan 10% < awan < 20% dengan metode Band QA, Fmask dan MCM berturut – turut adalah 92,67%, 90% dan 100% dan untuk bayangannya berturut – turut adalah 92%, 81% dan 65%. Hasil akurasi awan dan bayangannya pada citra dengan 20% < awan < 30% dengan metode Band QA, Fmask dan MCM berturut – turut adalah 78,67%, 95,33% dan 100% dan untuk bayangannya berturut – turut adalah 60%, 62% dan 59%. Kata Kunci : Band QA, Cloud Masking, Fmask, Landsat 8, Multi-Temporal Cloud Masking ABSTRACTOne of the most common problems in passive image processing is clouds and cloud shadow. Clouds and shadows become the main obstacle in passive image processing because the cloud will cover the area underneath and cloud shadow will affect the quality of the image itself. Landsat 8 Imagery is one of the most commonly used passive images for natural resource observation. Landsat 8 imagery must contain cloud cover because it is one of the passive images. Clouds and shadows in the Landsat 8 image need to be done the cloud masking process. Cloud Masking is a cloud and the shadow detection process which will be masked at a later stage. Some algorithms used in cloud masking on Landsat 8 images include QA (Quality Assessment) band, Fmask (Function of Mask) and MCM (Multi-Temporal Cloud Masking). This study compares these three methods to images with cloud cover <10% (10th August 2019), 10% <cloud <20% (9th July 2019) and 20% <cloud <30% (27th September 2019) to determine cloud accuracy and the shadow of each method in each image used. The results in this study are the accuracy of clouds and shadows on images with clouds <10% with the band QA, Fmask and MCM methods respectively are 98%, 98.67% and 99.33% and for shadows respectively are 92%, 91% and 60%. The results of the accuracy of clouds and shadows on the image with 10% <cloud <20% with the band QA, Fmask and MCM methods are 92.67%, 90% and 100% and for the shadows respectively are 92%, 81% and 65%. The results of the cloud and shadow accuracy in the image with 20% <cloud <30% with the Band QA, Fmask and MCM methods are 78.67%, 95.33% and 100% and for the shadows respectively are 60%, 62 % and 59%.
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAERAH ALIRAN SUNGAI BODRI TERHADAP DEBIT PUNCAK MENGGUNAKAN METODE SOIL CONSERVATION SERVICE (SCS) Tisnasuci, Ilya Dewanti; Sukmono, Abdi; Hadi, firman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPertambahan penduduk yang terus melaju pesat seiring dengan berjalannya waktu mengakibatkan suatu daerah semakin berkembang. Perkembangan ini mengakibatkan kebutuhan lahan untuk industri dan kebutuhan perumahan meningkat pesat sehingga mengakibatkan berkurangnya persediaan lahan, air dan sumber daya lainnya. Perubahan tutupan lahan yang terjadi di suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai akibat dari perkembangan kota merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi air larian, di mana perubahan besar air larian ini mempengaruhi besarnya debit puncak. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Fercher (2017) mengenai pemodelan dampak perubahan penggunaan lahan terhadap debit puncak di Lembah Urseren Pegunungan Alpen Swiss berkurangnya tutupan lahan vegetasi dapat menyebabkan meningkatnya debit puncak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap perubahan debit puncak di DAS Bodri. DAS Bodri merupakan DAS Prioritas berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI No. 328/Menhut-II/2009 Tentang Penetapan DAS Prioritas. Metode yang digunakan adalah klasifikasi supervised untuk klasifikasi tutupan lahan dan overlay untuk pengetahui perubahan tutupan lahan yang terjadi dan metode Soil Conservation Services (SCS) untuk mengetahui besar debit puncak dengan mempertimbangkan parameter tutupan lahan, jenis tanah, curah hujan, dan kemiringan lahan. Regresi linier sederhana untuk mengetahui pengaruh perubahan lahan terhadap perubahan debit puncak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan lahan paling besar terjadi pada tutupan lahan hutan yaitu berkurang sebesar 38,039 km2 dan tutupan lahan kelas lahan terbuka meningkat sebesar 28.442 km2. Perubahan debit puncak pada tahun 2016 dan 2020 sebesar 19,4m3/s. Pengaruh perubahan lahan terhadap perubahan debit puncak yaitu 54,9% sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan tutupan lahan berpengaruh terhadap perubahan debit puncak. Kata Kunci: DAS Bodri, Tutupan Lahan, Debit Puncak, Supervised, Soil Conservation Services (SCS). ABSTRACTThe population growth that goes rapidly over the time causing a growing area. This population development resulted in increase the need for land that used for industry and housing needs. It resulting in reduced supplies of land, water and other resources. Changes in land cover that occur in a watershed that caused by urban development are one of the factors that affect to the run-off water, where changes in the size of runoff water can affect the amount of peak discharge. Based on research conducted by Fercher (2017) on modeling the impact of land use change on peak discharge in the Urseren Valley of the Swiss Alps, reduced vegetation land cover can cause an increase in peak discharge. This research was conducted to determine the effect of land cover changes on peak discharge canges in the Bodri watershed. The Bodri Watershed is one of the priority watersheds based on the Keputusan Menteri Kehutanan RI No. 328 / Menhut-II / 2009 concerning Determination of Priority Watershed..The method used is supervised classification for land cover classification and overlay to determine land cover changes and the Soil Conservation Services (SCS) method to determine the size of the peak discharge by considering some  parameters like land cover, soil type, rainfall, and land slope. Simple linear regression to determine the effect of land cover changes on peak discharge changes. The results showed that the largest land cover change occurred in forest land cover, which was reduced by 38.039 km2 and land cover for open land classes increased by 28,442 km2. The change in peak discharge in 2016 and 2020 was 19.4 m3/s. The effect of land cover changes in peak discharge is 54.9%, so it can be concluded that changes in land cover affect in peak discharge changes.
Co-Authors Aditya Hafidh Baktiar Aji, Sentanu Alfian Galih Utama, Alfian Galih Alfreud, Carl Dylan Andri Suprayogi Anggi Karismawati Ardiansyah Ardiansyah Ardyan Satria Pratama Ardyan Satria Putra Pratama Arfina Kusuma Putra Arief Laila Nugraha Ariella Arima Aniendra Arsyad Nur Ariwahid Arwan Putra Wijaya Aryatama, Muhammad Ghani Avi Yudhanto Aziz Anjar Santoso Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bashit, Nurhadi BASKORO AGUM GUMELAR Baskoro Agum Gumelar Bella Riskyta Arinda Benning Hafidah Kadina Besar Tirto Husodo Cartenz Noviantri Handayani Chandra Satria Ajie Wicaksono Damara Santi, Anggit Lejar Dedigun Bintang Fajeri Demi Stevany Dewi Previansari Dewinta Heriza Dhuha Ginanjar Bayuaji DIKA NUZUL RACHMAWATI Dini Ramanda Putri Dini Tiara Dita Rizki Amliana Dyah Wijaningsih Ertha Silalahi Fadli Rahman Fadli Rahman, Fadli Fajriah Lita Pamungkasari Faradina Sekar Melati Farhan Ardianzaf Putra Farouki Dinda Rassarandi Farras Nabilah Fatimah Putri Utami Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Firman Hadi Fitra S Pandia Franstein Kevin J.B Gabriel Yedaya Immanuel Ryadi Galuh Puteri Saraswati Ghinaa Rahda Kurnila Gilang Diva Pradana Grivina Yuliantika Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Haniah Haniah IFAN ADI PRATAMA Ikhtifari, Muh. Nurshauma Ilmawan Muhammad Hida Indah Prasasti Innong Pratikina Akbaruddin Jamilah, Mutiara Jiyah Jiyah Jolangga Agung Budiman Kalinda, Icha Oktaviana Putri Kurnia Wisnu Aziz Kusuma, Hafiizh Mega Laode M Sabri Lia Novianti Ni’amah Lilik Kristianingsih Lingga Hascarya Prabandaru LM Sabri LM Sabri LM Sabri Maharani, Hanindya Zahra MIRTA INDRIASTUTI Moehammad Awaluddin Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Fathan Muhammad Ibnu Munadi Nainggolan, Yohana Christie Nandia Meitayusni Nabila Naufal Farras Naufal Ilyas Abdul Hakim Nella Wakhidatus Nida Shabrina Nilasari, Monica Novitasari Novitasari Nugra Putra Pembayun Nur Itsnaini Nurfika Maulina Larasati Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nurhandini Maghda Maghda Prajamandana, Andyan Putra Prambudhianto Putro Pamungkas Putra, Ikhlas Ika Putri, Novita Qoaruddin Qomaruddin Rajagukguk, Trevi Austin RAJAGUKGUK, TREVY AUSTIN Rampu, Jelly Resky Kelana Ridwan Aminullah Rihadatul Aisy Risqi Fadly Robby Rista Omega Septiofani Riyadi, Elnatan Vieno s Subiyanto Salma, Channana Nadiya Sawitri Subiyanto Sendi Akhmad Al Mukmin Septiyana, Diah Setyo Adhi Nugroho SILALAHI, ERTHA Sinabutar, Julio Jeremia Sindy Pariamanda Siska Wahyu Andini Siti Rahayuningsih Sondang Artania Sidauruk Supriadi Sanjaya Purba Suwirdah Pebriyanah Tisnasuci, Ilya Dewanti Trevi Austin Rajagukguk TREVY AUSTIN RAJAGUKGUK Trevy Austin Rajagukguk Tristianti, Nova Veri Pramesto Vidya Velisa Taufik Wakhidatus, Nella Welman Manuel Sitorus Widayanti, Eko Yudo Prasetyo Yudo Prasetyo