Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PENYUSUNAN BUKU PANDUAN PRAKTIK WISATA YANG BERTANGGUNG JAWAB DALAM PENDAKIAN GUNUNG Masjhoer, Jussac Maulana; Wibowo, Dwi; Sadida, Bijak Qoulan; Ogista, Inosensius Tito
Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah Vol 11, No 3 (2017): Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47256/kji.v11i3.490

Abstract

The lack of information related to the best practices in responsible tourism is one of the causes to tourist behavior problems. This study aims to determine the behavior of tourists in hiking, the adoption of responsible tourism practices, and to compile a responsible tourism practices guidebook. The research method used is survey research by spreading the questionnaire. Based on Likert analysis, at the pre-ascending stage, the classification of attitudes indicated by the respondents for cost and transportation is quite agreeable, while for equipment, guide, and simaksi is agreed. The ascent stage, the indicator when going up the mountain is quite agree, camping is not agree, the cook is agree, and when down the mountain is strongly agree. The post-ascent stage shows quite agreeable attitude. The public test of the guidebook, for the aspect of size and language of submission shows an agreeable attitude, while for the design, thickness, and content of the book shows an agreeable attitude. The conclusion is that (1) Still found the behavior of tourists in mountain climbing that is not environmentally friendly, (2) The responsible tourism practices of mountaineering that includes pre-ascending, ascent, and post-ascent, not well implemented by tourists, and (3) The responsible tourism practices guidebook still lack both technical and substance.
Optimalisasi Tata Kelola Desa Wisata di Kabupaten Malang Setyanto, Tri Joko; Susanto, Dwiyono Rudi; Masjhoer, Jussac Maulana
Journal of Tourism and Creativity Vol. 8 No. 2 (2024): Creative Tourism
Publisher : Rumah Jurnal UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jtc.v8i2.47801

Abstract

Pengelolaan pariwisata di Kabupaten Malang, menemui sejumlah tantangan dalam meningkatkan kategori desa wisata. Meskipun memiliki potensi alam, budaya, dan buatan yang kaya, beberapa desa wisata masih mengalami rendahnya kunjungan wisatawan, minimnya fasilitas pariwisata, dan kurangnya keterampilan SDM pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi tata kelola yang efektif dalam meningkatkan kategori desa wisata di Kabupaten Malang. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini mempertimbangkan aspek kebijakan, struktur organisasi, proses pengambilan keputusan, dan mekanisme pengawasan dalam tata kelola pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk meningkatkan kategori desa wisata, diperlukan langkah-langkah seperti pengembangan kapasitas SDM melalui pelatihan, peningkatan infrastruktur pariwisata, inovasi produk pariwisata, dan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Pentingnya penguatan regulasi pariwisata di tingkat desa serta penerapan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berkelanjutan juga ditekankan.
PENERAPAN TEKNOLOGI MESIN PENGIRIS, MESIN PENGERING, DAN MESIN PENGEMAS DALAM MENDUKUNG INOVASI SERTA PEMASARAN PRODUK KELOMPOK WANITA TANI NGENTAK BANTUL Prakoso, Aditha Agung; Masjhoer, Jussac Maulana; Priyanto, Sabda Elisa; Sembada, Andhika Djalu
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.59447

Abstract

The processed agricultural products of the Ngentak Farmer Women Group (KWT) have yet to become souvenirs and culinary products in the Japanese Cave tourist area, Seloharjo, Bantul. This is due to insufficient production capacity, limited innovation, and conventional product marketing. This community service aims to describe the implementation of the Kosabangsa 2024 Program, namely training and the application of Appropriate Technology. The implementation method of Kosabangsa 2024 generally consists of five stages: socialization, training, application of Appropriate Technology, monitoring and evaluation, and sustainability. Regarding training, the methods used are lectures and group discussions in the classroom. Based on the implementation of the training, participants understand that processed agricultural products need innovation so that new market segments—namely tourists—can accept them. In addition, marketing strategies through social media are necessary nowadays so that products can be widely recognized. The application of slicing machines, drying machines, and packaging machines can increase the efficiency and production capacity of KWT Ngentak's processed products. Digital marketing through Instagram and TikTok can increase the engagement rate and coverage of the marketed products, and reduce the promotional costs incurred by KWT Ngentak. Hasil olahan pertanian Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngentak belum mampu menjadi oleh-oleh dan produk kuliner di kawasan wisata Goa Jepang, Seloharjo, Bantul. Hal ini dikarenakan masih minimnya kapasitas produksi, tidak adanya inovasi, dan pemasaran produk yang masih konvensional. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan dalam Program Kosabangsa 2024 yaitu pelatihan dan penerapan Teknologi Tepat Guna. Secara umum metode pelaksanaan Kosabangsa 2024 terdiri dari lima tahapan yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan Teknologi Tepat Guna, monitoring dan evaluasi, dan keberlanjutan. Terkait pelatihan, metode yang digunakan yaitu metode ceramah dan diskusi kelompok di dalam kelas. Berdasarkan pelaksanaan pelatihan, peserta dapat memahami bahwa produk hasil olahan pertanian perlu dilakukan inovasi agar dapat diterima oleh segmen pasar baru yaitu wisatawan. Di samping itu, strategi pemasaran melalui media sosial menjadi keniscayaan di masa kini agar produk dapat dikenal secara luas. Penerapan teknologi mesin pengiris, mesin pengering, dan mesin pengemas mampu meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi hasil olahan KWT Ngentak. Pemasaran digital melalui Instagram dan TikTok mampu meningkatkan engagement rate dan coverage rate dari produk yang dipasarkan, sekaligus menurunkan biaya promosi yang harus dikeluarkan oleh KWT Ngentak.
Pola Perjalanan Wisatawan di Pantai Kesirat Gunungkidul Masjhoer, Jussac Maulana; A.R., Rukmini
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif) Vol. 2 No. 4 (2025): PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Publisher : CV. Kurnia Grup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61476/x3d11b47

Abstract

The development of marine tourism destinations with numerous beaches along a single coastline, such as those in Gunungkidul, must consider tourists' spatial movement patterns. Now, tourists are shifting from crowded destinations, such as Baron Beach, to hidden gems that offer privacy and new visual experiences. This creates a significant shift in spatial movement patterns in the southern coastal region. Uncertainty in travel patterns hinders efforts to manage visitor flows and design efficient connections between destinations. This study aims to identify tourists' travel patterns to Kesirat Beach in Gunungkidul, which is becoming increasingly popular despite not offering white-sand beaches like those in other parts of Gunungkidul. A total of 97 people who encountered the researchers were given a questionnaire with closed-ended questions. The data were processed in SPSS and analyzed using a descriptive, quantitative approach. The results showed that tourist movement patterns were dominated by stopovers (78%), with short visit durations (57% for one whole day and 43% for less than one day). These results suggest that Kesirat Beach serves as a stopover point or as part of a longer travel route rather than as a final destination. Highlighting the high use of private vehicles (90%) and the preference for traveling in groups of friends (56%) underscores the importance of improving accessibility. This can help the audience feel responsible for creating inclusive and convenient access, encouraging better management of tourist flows.
Cruising Comfortably? A Qualitative Insight Into Liveaboard Tourism In Labuan Bajo, Indonesia Jussac Maulana Masjhoer; Aditha Agung Prakoso
Jurnal Kepariwisataan Indonesia: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kepariwisataan Indonesia Vol. 20 No. 1 (2026): JKI Edisi Juni 2026
Publisher : Ministry of Tourism Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47608/jki.v20i12026.159-178

Abstract

Labuan Bajo, the primary gateway to Indonesian marine tourism, faces significant safety challenges due to the rapid growth of its liveaboard industry. This study examines a two-day, one-night liveaboard experience on open-deck boats, focusing on regulatory compliance and the gap between comfort amenities and safety procedures. Employing a descriptive qualitative methodology, data were collected through interviews with operators, regulators, and tourists, as well as participant observation. The findings reveal a pronounced safety-comfort paradox: operators consistently meet tourist expectations regarding tangible aspects such as deck aesthetics, cleanliness, and food presentation, yet systematically fail to comply with mandatory maritime safety standards. These failures include the absence of fire extinguishers, safety information boards, and consistent pre-departure safety briefings. Cognitive biases in risk appraisal among both operators and tourists, combined with inadequate regulatory enforcement by port authorities, further exacerbate this issue. This study contributes to the maritime risk management literature by demonstrating that perceived comfort can overshadow risk perception in emerging tourism destinations. It is recommended that operators integrate safety protocols into the voyage's experiential narrative and that maritime authorities conduct random onboard inspections to strengthen safety culture in Indonesia's mid-range liveaboard industry.
Pengembangan Atraksi Wisata Religi Taman Bintang Samudra, Bangka Belitung Trisagia Mokodongan; Jussac Maulana Masjhoer
Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah Vol 19, No 3 (2025): Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47256/kji.v19i3.869

Abstract

Wisata religi adalah jenis wisata yang tidak akan pernah surut karena setiap umat beragama membutuhkan ruang untuk memperkaya pengalaman spiritual mereka. Indonesia adalah negara yang religius. Indonesia memiliki enam agama yang diakui dengan berbagai bangunan dan situs bersejarah yang memiliki makna khusus bagi suatu agama. Taman Bintang Samudra (TBS) telah resmi dibuka sebagai daya tarik wisata religi di Bangka Belitung. Kerangka kerja produk pariwisata harus dianalisis untuk menentukan konsep wisata religi yang ditawarkan oleh TBS. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini meneliti komponen produk pariwisata, yang terdiri dari sesuatu untuk dilihat, sesuatu untuk dilakukan, dan sesuatu untuk dibeli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TBS memiliki lanskap perbukitan dengan arsitektur yang unik, empat belas patung jalan salib Yesus karya seniman, petilasan, dan kolam Bunda Maria, dan berbagai infrastruktur dengan desain yang modern. Wisatawan Katolik dapat melakukan kegiatan spiritual keagamaan untuk merayakan hari raya Katolik. Wisatawan non-Katolik dapat memperkaya pengalaman perjalanan berwisata melalui estetika patung-patung unik dan desain lanskap area ini, serta keindahan bukit-bukitnya, baik saat mereka mengikuti kegiatan tamasya maupun berswafoto. TBS tidak menawarkan produk khas yang dapat digunakan wisatawan sebagai oleh-oleh. Namun demikian, TBS menjual makanan dan minuman di kafe untuk memenuhi kebutuhan pengunjung. Konsep pengembangan wisata religi di TBS menggunakan pendekatan berbasis produk dan mendefinisikan dengan jelas pangsa pasarnya: Umat Katolik. Penelitian di masa depan harus mengukur kinerja manajemen, strategi pemasaran, karakteristik wisatawan, dan dampak pengembangan wisata religi.
PENGUATAN KAPASITAS MASYARAKAT DALAM MITIGASI BENCANA DI KAWASAN WISATA GOA JEPANG, SELOHARJO, BANTUL Aditha Agung Prakoso; Edhy Sutanta; Jussac Maulana Masjhoer; Sri Mulyaningsih; Samuel Kristiyana; Sabda Elisa Priyanto; Andhika Djalu Sembada
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.34172

Abstract

ABSTRAK Kawasan wisata Goa Jepang di Kalurahan Seloharjo, Bantul merupakan kawasan yang sarat akan nilai sejarah, budaya dan keindahan alam. Namun demikian, kawasan ini juga memiliki beberapa tantangan signifikan terkait kebencanaan dalam pengembangan pariwisata. Pengelola serta masyarakat di sekitar kawasan wisata perlu membekali diri dengan pengetahuan kebencanaan agar dapat meminimalisir kerugian ketika terjadi bencana di masa mendatang. Pelatihan mitigasi bencana menjadi salah satu upaya preventif untuk membekali kelompok masyarakat terdampak dengan pengetahuan terkait kebencanaan. Pelatihan ini bertujuan untuk membentuk kelompok masyarakat yang tangguh bencana dan memiliki kemampuan mandiri dalam penanggulangan bencana. Metode yang digunakan dalam mencapai tujuan dari pelatihan ini yaitu metode ceramah dan diskusi kelompok di dalam kelas. Tahapan dalam kegiatan ini yaitu identifikasi kebutuhan, desain program, pelaksanaan, dan evaluasi penilaian pelatihan. Hasil dari pelatihan adalah pemahaman Pokdarwis Seloharjo dan Kelompok Wanita Tani Ngentak terkait pengelolaan wisata ramah bencana melalui upaya mitigasi bencana. Pelatihan ini perlu ditindaklanjuti dengan fasilitasi teknologi tepat guna berupa sistem peringatan dini (early warning system) bencana yang dipasang di kawasan wisata Goa Jepang. Kata kunci: Mitigasi bencana; Pengembangan pariwisata; Pelatihan kebencanaan; Sistem peringatan dini; Wisata ramah bencana.ABSTRACT The Goa Jepang tourism area in Seloharjo sub-district, Bantul, consists of historical values, culture, and natural beauty. However, this area also faces some significant challenges related to disasters in tourism development. Managers and communities around the tourist area need to equip themselves with disaster knowledge to minimize losses when disasters occur in the future. Disaster mitigation training is one of the preventive efforts to equip affected community groups with disaster-related knowledge. This training aims to form disaster-resilient community groups and develop independent abilities in disaster management. The methods used in achieving the objectives of this training are lecture methods and group discussions in the classroom. The stages in this activity are needs identification, program design, implementation, and training assessment evaluation. The result of the training is the understanding of Pokdarwis Seloharjo and Ngentak Women Farmers Group regarding disasterfriendly tourism management through disaster mitigation efforts. This training needs to be followed up with the facilitation of appropriate technology in the form of a disaster early warning system installed in the Goa Jepang tourist area. Keywords: Disaster mitigation; Tourism development; Disaster training; Early warning system; Disasterfriendly tourism.