Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Wartawan dalam Reportase Berita Kriminal Fidryansyah, Revi Ryan; Muhaemin, Enjang; Dulwahab, Encep
Annaba: Jurnal Ilmu Jurnalistik Vol. 8 No. 3 (2023): ANNABA: Jurnal Ilmu Jurnalistik
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/annaba.v8i3.44235

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui reportase berita kriminal wartawan media online Harapan Rakyat. Metode penelitian menggunakan metode Fenomenologi dengan pendekaran kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa wartawan Harapan Rakyat dalam memberikan pemahaman terkait reportase berita kriminal merupakan peliputan peristiwa tindakan yang melawan hukum. Untuk itu, dalam reportase berita kriminal wartawan diharuskan untuk berhati-hati dan tetap menaati kode etik jurnalistik. Wartawan media online Harapan Rakyat dalam memaknai sebagai metode berpikir kritis dalam mengumpulkan setiap data dan melakukan analisis terhadap sebuah peristiwa kriminal yang nantinya akan menajadi informasi untuk masyarakat sebagai bentuk kewaspadaan terhadap tindak kriminal di lingkungan sekitar. Pada saat melakukan reportase berita kriminal wartawan Harapan Rakyat terlebih dahulu mempersiapkan mentalnya karena sering menemukan kasus-kasus yang mencengangkan. Wartawan Harapan Rakyat juga harus mempertaruhkan nyawanya. Dimana intimidasi dan ancaman tidak akan terhindarkan pada saat reportase berita kriminal.
Analisis Semiotika Foto Cerita Berjudul Anggit Arutala Karya Tantri Setiawati pada Media Online Photo’s Speak Rahmah, Neja Nazula; Suherdiana, Dadan; Muhaemin, Enjang
Annaba: Jurnal Ilmu Jurnalistik Vol. 10 No. 1 (2025): ANNABA: Jurnal Ilmu Jurnalistik
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/annaba.v10i1.44378

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pesan moral melalui makna denotasi, konotasi dan mitos yang terdapat pada foto cerita berjudul “Anggit Arutala” karya Tantri Setiawati yang dipublikasikan pada media online Photo’s Speak. Penelitian ini menggunakan metode analisis semiotika dengan teori semiotika Roland Barthes melalui tiga tahapan yaitu denotasi, konotasi dan mitos. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa foto cerita berjudul “Anggit Arutala” ini memliki makna denotasi, konontasi dan mitos. Secara denotasi menyajikan deskripsi literal dari elemen-elemen visual yang terlihat secara langsung, yang menjadi dasar bagi interpretasi yang lebih kompleks.Sedangkan secara konotasi menggambarkan perjalanan emosional dan transformasi diri akibat pola asuh otoriter. Secara mitos Elemen alam seperti pohon, bunga, atau kabut sering diasosiasikan dengan makna mitos yang kuat.
Is print dying? A critical analysis of the digital convergence of West Java media from a postmodern perspective Astuti, Dyah Rahmi; Muchtar, Khoiruddin; Muhaemin, Enjang Muhaemin; Maarif, Abdul Azis; Wahab, Encep Dul
Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi Vol 11, No 2 (2025): Vol 11, No 2 (2025): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No.152/E/KPT/2023
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/bricolage.v11i2.8382

Abstract

This study aims to explore how local print media in West Java maintain their business existence amidst the competition in the media industry and the development of the digital era. This study uses a case study method with data collection techniques of interviews with local media editors-in-chief, observations of print media activities, and documentation studies of documents related to print media activities in maintaining their business. The influence of the digital era on print media business patterns has forced mass media to transform in order to continue to exist. This study found several important points related to local print media in West Java, namely: having closeness to the regional and city or provincial governments of West Java so that when there is a grant from the government, they always receive it; print media has long been a government partner for advertising and publication of government activities; Advertising costs in print media are more affordable compared to national print media, plus the closeness of local print media to the people of West Java and social media facilities that local print media already have that can be utilized by the government for additional advertising and publication, and there are still loyal readers of local print media. Local print media leaders have additional tasks to develop media businesses. 
Zillennials, Social Media and Artificial Intelligence: A Survey on West Java’s Digital Natives Sukmayadi, Vidi; Fadhila, Sarah Annisa; Mirawati, Ira; Purwaningwulan, Melly Maulin; Muhaemin, Enjang
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2024): June 2024 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v9i1.958

Abstract

Today’s rapid digital and artificial intelligence development has a significant impact on the lives of generation Z, also known as Zillennials. This study is part of the research initiative taken by the Indonesian Association of Communications Scholars of West Java Region (ISKI Jabar) ,  and  aims to identify and map trends in the usage of social media and artificial intelligence among the region's Zillennials. The survey was conducted on 515 respondents aged 12-27 years, covering aspects of device utilization, intensity of internet and social media use, and perceptions of AI. Based on the study's findings, West Java Zillennials had a high level of device ownership and internet usage intensity, reaching 93% with an average daily duration of 5-6 hours. Instagram, TikTok, and Twitter have emerged as the primary social media platforms for Generation Z, substituting Facebook's previous supremacy. The integration of AI, particularly Google Assistant and ChatGPT, is increasingly becoming prevalent in everyday life, mostly employed to assist with work and academic assignments, as well as for information retrieval. Although most Zillennials display excitement towards the utilization of AI, their technical comprehension of AI classifications and functionalities remains restricted. The findings have significant implications for understanding the influence of technology on the lives of Zillennials. They also emphasize the importance of enhancing media literacy skills to properly embrace the digital and artificial intelligence era.
Intoleransi Keagamaan dalam Framing Surat Kabar Kompas Muhaemin, Enjang; Sanusi, Irfan
Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi Vol. 3 No. 1. June (2019): Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/cjik.v3i1.5034

Abstract

Indonesia is known as a multi-religious country in which there are various religions. United in diversity, and harmony in diversity becomes a key word that can no longer be contested. The intolerant attitude of any religious group can be a trigger for conflict which endangerthe integrity of the NKRI. This study aims to determine the framing of the Kompas newspaper in discussing and packaging the discourse of religious intolerance and religiosity in Indonesia. This research method uses Robert N. Entman's framing analysis, which focuses the study on the prominence of the framework of thought, perspective, concepts, and claims of media interpretation in interpreting the object of discourse. Research is expected to be able to stimulate the public to be more critical in understanding the various news constructed by journalists. The results showed that Kompas defined the problem of religious intolerance and diversity in Indonesia as a matter of religion, social, political, educational, and nationalism. However, Kompas generally defines it as a matter of understanding religion and weakening the attitude of nationalism. Kompas news considers the source of the cause to be more dominant because of superficial, partial, and little religious understanding. Kompas concludes that intolerance is a serious threat that could endanger the NKRI. The recommendations offered include the government being demanded to be assertive, fast, and not political. Religious leaders are recommended to build dialogical communication in an intense and continuous manner, and educate the public to always raise awareness of deep, moderate, and not extreme religiosity.Indonesia dikenal sebagai negara multiagama yang di dalamnya terdapat beragam agama. Bersatu dalam keragaman, dan harmoni dalam perbedaan menjadi kata kunci yang tak bisa lagi diganggu gugat. Sikap intoleran dari kelompok penganut agama manapun bisa menjadi pemicu konflik yang membahayakan keutuhan NKRI. Penelitian ini tujuan mengetahui pembingkaian surat kabar Kompas dalam mengupas dan mengemas wacana intoleransi keagamaan dan keberagamaan di Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan analisis framing Robert N. Entman, yang memokuskan kajian pada penonjolam kerangka pemikiran, perspektif, konsep, dan klaim penafsiran media dalam memaknai objek wacana. Penelitian diharapkan mampu menstimuli masyarakat untuk kian kritis dalam memahami beragam berita yang dikonstruksi wartawan. Hasil penelitian menunjukkan, Kompas mendefinikan masalah intoleransi keagamaan dan keberagamaan di Indonesia sebagai masalah agama, sosial, politik, pendidikan, dan nasionalisme.  Namun Kompas umumnya lebih mendefinisikan sebagai masalah pemahaman agama dan melemahnya sikap nasionalisme.  Berita-berita Kompas menganggap sumber penyebabnya lebih dominan karena pemahaman agama yang dangkal, parsial, dan tidak mendalam. Kompas menyimpulkan intoleransi merupakan ancaman serius yang bisa membahayakan NKRI. Rekomendasi yang ditawarkan  di antaranya pemerintah dituntut tegas, cepat, dan tidak berbau politis.  Para tokoh agama direkomendasikan membangun komunikasi dialogis secara intens dan kontinyu, dan mendidik masyarakat untuk selalu meningkatkan kesadaran keberagamaan yang mendalam, moderat, dan tidak ekstrem.
Motif dan Makna Berjilbab Mahasiswi Komunikasi Universitas Tadulako Palu Kaddi, Sitti Murni; Muhaemin, Enjang
Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi Vol. 4 No. 1. June (2020): Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/cjik.v4i1.8652

Abstract

This research-based paper aims to find out the motives and meanings of wearing headscarves by the students of Communication Studies at the Faculty of Social and Political Sciences, Tadulako University, Palu. The study uses qualitative research methods, with in-depth interview techniques, and observation, to explore the motives and veiled meanings of the female students. The research uses a phenomenological approach. The results of the study concluded two things. First, the causes of female students wearing headscarves are divided into two, namely the motives of the past and the motives of the future. Purposes of the past are encouraged because of encouragement and advice from parents and family, as well as shar' i motifs based on obligations established by Islam. The future motives underlying the female students to wear the veil are divided into the motivation of wanting to avoid bad things, wanting to control behavior, and wanting to be appreciated. Second, related to self-meaning, the students who wear the hijab interpret it as proof of love for God, and as a service to both parents.Tulisan berbasis penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif dan makna pemakaian jilbab yang dilakukan para mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Tadulako Palu. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik wawancara mendalam, dan observasi,  dengan tujuan menggali motif, dan makna berjilbab para mahasiswi. Penelitian menggunakan pendekatan fenomenologis. Hasil penelitian menyimpulkan dua hal. Pertama, motif mahasiswi memakai jilbab  terbagi menjadi dua, yaitu motif masa lalu dan motif masa depan. Motif masa lalu didorong karena dorongan dan nasehat dari orang tua dan keluarga, serta motif syar’i yang didasarkan pada kewajiban yang ditetapkan Islam. Adapun motif masa depan yang mendasari mahasiswi menggunakan jilbab terpilah pada motif ingin menghindari hal-hal buruk, ingin mengontrol tingkah laku, dan ingin dihargai. Kedua, berkaitan dengan makna diri,  para mahasiswi pemakai jilbab memaknainya sebagai bukti sayang kepada Allah, dan sebagai bakti kepada kedua orang tua.
Komunikasi Wartawan dalam Reportase konflik Agama Muhaemin, Enjang; Darsono, Dono
Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi Vol. 5 No. 2. December (2021): Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/cjik.v5i2.15026

Abstract

This study aims to explore the meaning and motives of journalists in reporting on religious conflicts and explore journalists' views on the root causes and solutions of religious disputes. This study uses a qualitative approach; the considerations are expected to produce descriptive data, both written, oral, and the behavior of journalists in reporting. The results show that journalists generally interpret religious conflicts as enjoyable, meaningful, and sensitive events. The motives of journalists to report on religious conflicts are more in the interest of documenting newsworthy events, placing problems in a balanced way, and straightening out information confusion in the community. The causes of conflict occur due to differences in perspectives, misunderstandings, intolerance, excessive fanaticism, weak legal umbrella, government indecision, immature religious understanding, the inability of religious leaders to suppress mass emotions, and the presence of certain interested parties. The conflict solution that must be carried out is the existence of a clear and firm legal settlement umbrella and the importance of dialogue in policy formulation..