Claim Missing Document
Check
Articles

Found 82 Documents
Search
Journal : e-GIGI

Hubungan Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Dengan Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Penyandang Tunanetra Dewasa Tandra, Noviana F.; Mintjelungan, Christy N.; Zuliari, Kustina
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20855

Abstract

Abstract: Limitations in vision of people with visual impairment affect their ability to gain knowledge, including oral and dental knowledge. Therefore, they are not able to keep their oral and dental health properly. This study was aimed to determine the correlation between oral and dental health knowledge and oral hygiene status among adult people with blindness. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Data were obtained by using questionnaire and examination of oral hygiene status using the oral hygiene index-simplified (OHI-S). Data were analyzed by using the Pearson correlation test. Subjects were 35 adult people with blindness aged 18-45 years. The results showed that 24 subjects (68.57%) had poor level of knowledge and 11 subjects (31.43%) had good level of knowledge. There were 10 subjects (28.57%) with poor oral hygiene status, 24 subjects (68,57 %) with moderate oral hygiene status, and 1 subjects (2.86%) with good oral hygiene status. The Pearson correlation test showed a P value of 0.009. Conclusion: There was a significant correlation between oral and dental health knowledge and oral hygiene status among adult people with blindness.Keywords: oral and dental health knowledge, oral hygiene status, blindness Abstrak: Keterbatasan dalam penglihatan yang dimiliki oleh penyandang tunanetra meme-ngaruhi kemampuan mereka dalam memperoleh pengetahuan, tepenyandangrmasuk pengetahuan kesehatan gigi dan mulut. Hal ini mengakibatkan penyandang tunanetra kurang optimal menjaga kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan gigi dan mulut pada penyandang tunanetra usia dewasa. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan dessain potong lintang. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan kuisioner serta pemeriksaan status kebersihan gigi dan mulut menggunakan oral hygiene index-simplified (OHI-S). Subyek penelitian berjumlah 35 penyandang tunanetra berusia 18-45 tahun diperoleh dengan menggunakan teknik total sampling. Data dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian mendapatkan dari 35 subyek, terdapat 24 penyandang (68,57%) dengan tingkat pengetahuan rendah, 11 penyandang (31,43%) dengan tingkat pengetahuan tinggi. Terdapat 10 penyandang (28,57%) dengan status kebersihan gigi dan mulut buruk, 24 penyandang (68,57%) dengan status kebersihan sedang, dan 1 penyandang (2,86%) dengan status kebersihan gigi dan mulut baik. Uji korelasi Pearson mendapatkan nilai P = 0,009. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan gigi dan mulut pada penyandang tunanetra dewasa.Kata kunci: pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, status kebersihan gigi dan mulut, tunanetra
UJI EFEKTIFITAS ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI SEREH DAPUR SEBAGAI BAHAN MEDIKAMEN SALURAN AKAR TERHADAP BAKTERI ENTEROCOCCUS FAECALIS Howarto, Mario S.; Wowor, Pemsi M.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9835

Abstract

Abstract: Endodontics is the a type of treatment that aims to keep the teeth in function. Disinfection of the root canal is very important in endodontic treatment. Root canal disinfection can be done by giving the material a root canal medication. One of the bacteria that causes the failure of root canal treatment is the bacterium Enterococcus faecalis. The lemongrass essential oil contains geranial, neral, and mirsen which have antimicrobial activity against Gram-positive and Gram-negative. This study aimed to determine whether the lemongrass essential oil was effective against bacteria Enterococcus faecalis. This was an experimental study using post test only control group design with agar plate diffusion method. Samples consisted of a group of lemongrass essential oil with several concentrations: 25%, 50%, 75%, 100%, each consisted of 4 samples. The 16 control groups consisted of positive and negative groups. Diameter of inhibition was determined by the ability to inhibit Enterococcus faecalis cultured on MHA agar. The results showed that the average inhibitory diameter of 25% lemongrass essential oil was 2.60 mm; of 50% was 4.73 mm; of 75% was 4.50 mm; and of 100% was 5.34 mm. Conclusion: Lemongrass essential oil showed an antibacterial effect to inhibit the growth of bacteria Enterococcus faecalis.Keywords: enterococcus faecalis, lemongrass oil, antibacerialAbstrak: Endodontik merupakan salah satu jenis perawatan yang bertujuan mempertahankan gigi agar tetap dapat berfungsi. Disinfeksi saluran akar sangat penting dalam perawatan endodontik. Disinfeksi saluran akar dapat dilakukan dengan memberi bahan medikamen saluran akar. Salah satu bakteri yang menyebabkan kegagalan perawatan saluran akar ialah bakteri Enterococcus faecalis. Minyak atsiri sereh dapur mengandung geranial, neral dan mirsen yang memiliki aktifitas antimikrobapada gram positif dan gram negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah minyak atsiri sereh dapur memiliki efek terhadap bakteri Enterococcus faecalis. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan desain post test only control group design dan metode difusi lempeng agar. Sampel penelitian terdiri dari kelompok minyak atsiri sereh dapur dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% yang masing-masing terdiri dari 4 sampel; 16 kelompok kontrol terdiri atas kelompok positif dan negatif. Diameter hambat ditentukan berdasarkan kemampuan menghambat Enterococcus faecalis yang dibiakkan pada media agar MHA. Hasil penelitian memperlihatkan rata-rata diameter hambat minyak atsiri sereh dapur dengan konsentrasi 25% sebesar 2,60 mm, 50% sebesar 4,73 mm, 75% sebesar 4,50 mm, dan 100% sebesar 5,34 mm. Simpulan: Minyak atsiri sereh dapur memiliki efek antibakteri untuk menghambat pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis.Kata kunci: enterococcus faecalis, sereh dapur, antibakteri
Xerostomia pada Usia Lanjut di Kelurahan Malalayang Satu Timur Tawas, Stevany A.D.; Mintjelungan, Christy N.; Pangemanan, Damajanty H.C.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19556

Abstract

Abstract: Generally, in elderly there is a change in saliva composition due to the decreased production of saliva which leads to dry mouth or xersotomia. Clinically, a patient with dry mouth will feel dry on his/her lips and the mouth corners become irritated. This study was aimed to obtain the profile of xerostomia in the elderly at Kelurahan Malalayang Satu Timur. This was a descriptive study using a cross sectional design. This study was conducted in Kelurahan Malalayang Satu Timur. Samples of this study were obtained by using total sampling method. The study was performed on 35 peoples aged 60 to 75 years (according to WHO standard) as subjects. Salivary flow rate was measured with a measuring cup. The results showed that xerostomia was found in 87.5% of the subjects, more dominant in females (96.7%), and more frequent in the age group 65-69 years (66.7%). Conclusion: At Kelurahan Malalayang Satu Timur, xerostomia was more common in female elderly and age group 65-69 yearsKeywords: xerostomia, elderly Abstrak: Umumnya seseorang yang sudah memasuki usia lanjut akan mengalami perubahan dalam komposisi saliva akibat produksi saliva berkurang yang bermanifestasi sebagai xerostomia. Secara klinis pasien dengan xerostomia akan merasa kering pada bibir dan bagian sudut mulut mengalami iritasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran xerostomia pada kelompok usia lanjut di Kelurahan Malalayang Satu Timur. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Penelitian dilakukan di Kelurahan Malalayang Satu Timur. Terdapat 35 subyek usia lanjut dengan usia 60-75 tahun (menurut standar WHO). Pengukuran laju aliran saliva dilakukan dengan menggunakan metode spitting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa xerostomia ditemukan pada 85,7% dari subyek. Jenis kelamin perempuan lebih dominan (96,7%) dan tersering pada rentang usia 65-69 tahun (66,7%). Simpulan: Pada kelompok usia lanjut di Kelurahan Malalayang Satu Timur xerostomia lebih sering terjadi pada yang berjenis kelamin perempuan dan usia 65-69 tahun.Kata kunci: xerostomia, usia lanjut
PREVALENSI KARIES GIGI MOLAR SATU PERMANEN PADA ANAK UMUR 6-9 TAHUN DI SEKOLAH DASAR KECAMATAN TOMOHON SELATAN Liwe, Marsela; Mintjelungan, Christy N.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9833

Abstract

Abstract: In children, caries occurs mostly at the age of 6 to 9 years. At the age of 6 years permanent molar teeth begin to erupt, therefore, they are more susceptible to caries. Moreover, at the age of 9 years, a period of mingled teeth where the number of permanent teeth and of the milk teeth are nearly the same. This study aimed to obtain the prevalence of dental caries of the first permanent molar among students of elementary schools in South Tomohon. This was a descriptive study with a cross-sectional design. The population of this study was 72 students aged 6-9 years old. Samples were obtained by using total sampling method. Primary data were obtained by examination of the teeth and mouth. The results showed that the prevalence of caries among students of elementary schools in South Tomohon was 68.1% (49 students). Based on gender, caries were most frequent among males (68.4%). Based on age, caries were most frequent among students of 8 years old (79.2%). Based on tooth element, tooth 36 had the highest incidence of caries (37.2%). Based on the severity of caries, dentine caries was the most frequent (46.51%).Keywords: dental caries, the first permanent molarAbstrak: Karies merupakan penyakit yang banyak menyerang anak-anak terutama umur 6 sampai 9 tahun. Pada umur 6 tahun gigi molar permanen sudah mulai tumbuh sehingga lebih rentan terkena karies dan umur 9 tahun merupakan periode gigi bercampur dimana jumlah gigi permanen dan gigi sulung dalam rongga mulut hampir sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi karies gigi molar satu permanen pada anak di SD kecamatan Tomohon Selatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang. Populasi penelitian yaitu anak umur 6 - 9 tahun di SD kecamatan Tomohon Selatan dengan jumlah 72 orang. Sampel penelitian digunakan total sampling. Metode pengambilan data secara primer yaitu dengan pemeriksaan gigi dan mulut. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi karies pada anak-anak di SD kecamatan Tomohon Selatan mencapai 68,1% dengan jumlah 49 anak. Berdasarkan jenis kelamin angka kejadian karies tertinggi didapatkan pada anak laki-laki mencapai 26 anak (68,4%). Berdasarkan usia angka kejadian karies tertinggi didapatkan pada usia 8 tahun mencapai 19 anak (79,2%). Berdasarkan elemen gigi, gigi 36 merupakan yang paling tinggi angka kejadian kariesnya yaitu 32 gigi (37,2%) dan berdasarkan tingkat keparahan karies kejadian karies dentin yang paling tinggi yaitu mencapai 40 gigi (46,51%).Kata kunci: karies gigi, molar satu permanen
Gambaran Status Gingiva Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado Monoarfa, Olyvia Octaviany; Pandelaki, Karel; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6400

Abstract

Abstract: Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disease group with the characteristic blood glucose levels than normal (hyperglycemia) that occurs because abnormalities in insulin secretion, insulin recognized when payable disorders, or combination of both. Regular blood glucose levels cause patients uncontrolled type 2 diabetes are at greater risk for experiencing problems of oral health, including gingivitis. Purpose of this research was to know the description of gingival status in patients of type 2 diabetes at RSU GMIM Pancaran Kasih Manado. This research is an observational descriptive with cross sectional study approach. The research population is all patients of type 2 diabetes outpatient clinic Interna RSU GMIM Pancaran Kasih Manado in September 2014. The research method is by using a Consecutive sampling with a sample of 100 people. The result of this research showed that the gingival status in patients of type 2 diabetes calculated based gingival index that most occur severe gingivitis was 45 respondents (45%). The gingival status that showed the severe gingivitis in patients of type 2 diabetes based on age 17 respondents (48,6%) in the age range of 51-60 years old, based on gender that most occur in women 27 respondents (49,1%), based on duration of suffering 25 respondents (55,6%) in the age range >10 years, and based on blood glucose control (HbA1c) that most numerous in patients with poor blood glucose 30 respondents (60%). Conclusion: The gingival status in patients of type 2 diabetes most occur severe gingivitis, and recommended in patients of type 2 diabetes to improve their healthy lifestyle in order to normalize blood glucose levels so as to reduce the occurrence of diabetes, more attention and maintain oral hygiene, especially the gingival health.Keywords: gingival status, patients of type 2 diabetes.Abstrak: Diabetes Melitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik kadar glukosa darah yang melebihi normal (hiperglikemia) yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, gangguan kerja insulin, ataupun kombinasi dari keduanya. Kadar gula darah yang tidak terkontrol menyebabkan penderita DM tipe 2 beresiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mulut, termasuk gingivitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gingiva pada penderita Diabetes Melitus tipe 2 di Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional study. Populasi penelitian yaitu seluruh pasien DM tipe 2 rawat jalan di Poliklinik Interna Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado pada bulan September 2014. Metode penelitian yaitu Consecutive sampling dengan sampel penelitian berjumlah 100 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gingiva yang dihitung berdasarkan indeks gingiva paling banyak menunjukkan gingivitis berat 45 subjek penelitian (45%). Status Gingiva berdasarkan umur paling banyak 17 subjek penelitian (48,6%) pada rentang umur 51–60 tahun, berdasarkan jenis kelamin paling banyak pada perempuan 27 subjek penelitian (49,1%), berdasarkan lamanya menderita paling banyak selama >10 tahun 25 subjek penelitian (55,6%), dan berdasarkan kontrol gula darah (HbA1c) paling banyak pada pasien dengan kontrol gula darah buruk (>9%) 30 subjek penelitian (60%). Simpulan: Penderita DM tipe 2 di Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado paling banyak mengalami gingivitis berat, serta disarankan bagi penderita agar lebih meningkatkan pola hidup sehat guna menormalkan kadar glukosa darah sehingga dapat mengurangi terjadinya diabetes, lebih memperhatikan dan menjaga kebersihan gigi dan mulut, terutama kesehatan gingivanya.Kata kunci: status gingiva, penderita diabetes melitus tipe 2
Status periodontal pelajar umur 12 – 14 tahun di SMP Negeri 2 Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan Sompie, Grace M. M.; Mintjelungan, Christy N.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13767

Abstract

Abstract: The growth and developmemental process of adolescence to the adult stage is marked by the presence of physiological and hormonal changes as well as mental and mindset maturity. Adolescents should aware of the needs of dental and oral hygiene in order to prevent the occurence of periodontal diseases. This study aimed to obtain the periodontal status of students aged 12-14 years at SMP Negeri 2 Ranoyapo South Minahasa. This was a descriptive study with a cross sectional design. There were 64 students obtained by using total sampling method. Community Periodontal Index of Treatment Needs (CPITN) was evaluated on them. The results showed that of 64 students aged 12-14 years, 8 had (12.5%) healthy periodontal tissue (Score 0); 3 (4.6%) had gingival bleeding without calculus (score 1); 44 (68.7%) had gingival bleeding associated calculus (Score 2); 9 (14.0%) had periodontal pockets sized 3.5-5.5 mm; and no one had periodontal pocket sized >5.5 mm. Conclusion: Based on CPITN evaluation, most of the students at SMP Negeri 2 Ranoyapo South Minahasa showed gingival bleeding associated with calculus.Keywords: periodontal status, youth, CPITNAbstrak: Proses tumbuh kembang dari masa remaja sampai ke tahap dewasa ditandai dengan adanya perubahan fisiologis dan hormonal serta kematangan mental dan pola pikir. Anak remaja seharusnya memiliki kesadaran terhadap kebutuhan kebersihan gigi dan mulut guna untuk mencengah terjadinya penyakit periodontal, karena itu jika anak remaja kurang kesadaran terhadap kebersihan gigi dan mulut akan memiliki resiko terhadap penyakit periodontal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status periodontal pelajar umur 12-14 tahun di SMP Negeri 2 Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan. Jenis penelitian ini ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan dengan subjek penelitian sebanyak 64 orang yang diperoleh dengan metode total sampling. Community Periodontal Index Treatment Needs (CPITN) dievaluasi pada setiap subyek. Hasil penelitian menunjukkan dari 64 subyek penelitian, skor CPITN tertinggi sebanyak 43 orang (67,2%) yang mengalami perdarahan gingiva disertai kalkulus dan skor CPITN terendah yaitu 4 orang (6,2%) yang mengalami perdarahan gingiva tidak disertai kalkulus. Simpulan: Penilaian status periodontal dengan CPITN mendapatkan sebagian besar pelajar mengalami perdarahan gingival disertai kalkulus.Kata kunci: status periodontal, remaja, CPITN
STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK AUTIS DI KOTA MANADO Sengkey, Monica M.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8760

Abstract

Abstract: The most common tooth and mouth health problems in autisic children are dental caries, periodontal diseases, oral cavity disorders, tooth eruption disorder, and trauma. This study aimed to obtain the tooth and mouth hygienic status of autistic children in Manado. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. Population was all autistic students registered in AGCA Manado dan Sekolah Khusus Anak Autis Permata Hati. There were 94 students aged 6-21 years. Samples were 51 students obtained by using total sampling and fulfilled the inclusion criteria. The results showed that the tooth and mouth hygienic status of autistic children was mostly categorized as moderate and poor, each of 39.21%. Based on gender, poor category of OHI-S status was the most frequent in males (42.5%) meanwhile in females good and moderate categories, each of 36.36%. Based on age, the moderate category of OHI-S status was in age group 6-10 years (42.31%), meanwhile poor category was found in age group 11-15 years (47.62%) and 16-21 years (75%). The average OHI-S index of autistic children in Manado was 2,77, categorized as moderate. Conclusion: In general, OHI-S status of autistic children in Manado was in moderate category, with an average OHI-S index of 2,77.Keywords: OHI-S, autistic childrenAbstrak: Masalah-masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering dijumpai pada anak autis yaitu karies gigi, penyakit periodontal, kerusakan lingkungan rongga mulut, kelainan erupsi gigi, dan trauma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kebersihan gigi dan mulut anak autis di kota Manado. Jenis penelitian yaitu deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang.. Populasi penelitian yaitu seluruh anak autis yang terdaftar sebagai siswa sekolah AGCA Manado dan Sekolah Khusus Anak Autis Permata Hati berjumlah 94 anak berusia 6-21 tahun. Sampel sejumlah 51 anak dilakukan dengan teknik total sampling dan memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kebersihan gigi dan mulut pada anak autis di kota Manado tertinggi yaitu berada pada kategori sedang dan buruk masing-masing 39,21%. Berdasarkan jenis kelamin, status OHI-S terbanyak pada laki-laki yaitu kategori buruk 42,5%, sedangkan pada perempuan yaitu kategori baik dan sedang masing-masing 36,36%. Berdasarkan kelompok umur, status OHI-S terbanyak pada kelompok umur 6-10 tahun yaitu sedang (42,31%), pada kelompok umur 11-15 (47,62%) dan 16-21 tahun yaitu buruk (75%). Rata-rata indeks OHI-S pada anak autis di kota Manado yaitu 2,77 dengan kategori sedang. Simpulan: Umumnya status OHI-S anak autis di Kota Manado berada pada kategori sedang dengan indeks OHI-S rata-rata yaitu 2,77.Kata kunci: OHI-S, anak autis
EFEKTIVITAS LENDIR BEKICOT (ACHATINA FULICA) TERHADAP JUMLAH SEL FIBROBLAS PADA LUKA PASCA PENCABUTAN GIGI TIKUS WISTAR Oroh, Christal G.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10325

Abstract

Abstract: Tooth extraction is a common procedure in dentistry and can produce an injury. The main cells involved in wound healing are the fibroblasts. Snails are animals that were encountered in Indonesia. Snail slime contains beta agglutinins (antibodies) in the plasma (serum), protein achasin, glikokonjugat and acharan sulphate plays a role in wound healing process by helping the blood clotting process and proliferation of fibroblasts. The purpose of this study was to examine the effectiveness of snail slime on the number of fibroblasts in the wound after tooth extraction Wistar rats. This study is a laboratory experimental design with posttest only control group design using 10 rats Wistar male were divided into 2 groups: the treatment group were extracted incisor left underneath and given the snail slime, and the control group were not given the snail slime after extraction of teeth bottom left incisor. Number of fibroblast cells was observed at day 5 after tooth extraction. Snails were taken from plantations in the area Kalasey. This research was conducted in the Laboratory of Pathology of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi. The results showed the average number of fibroblasts in the control group less, with a value of 34.4 compared with the group treated with the value of 70.2. Data from each group were analyzed using normality test, homogeneity and continued Independent t-test. Conclusion: Snail slime was effective to increase the number of fibroblasts after tooth extraction of Wistar rats.Keywords: snail slime (achatina fulica), fibroblasts, tooth extraction, male wistar rats.Abstrak: Pencabutan gigi merupakan prosedur umum dalam kedokteran gigi dan dapat menghasilkan suatu perlukaan. Sel utama yang terlibat dalam proses penyembuhan luka ialah fibroblas. Bekicot merupakan hewan yang banyak ditemui di Indonesia. Lendir Bekicot mengandung zat beta aglutinin (antibodi) di dalam plasma (serum), protein achasin, glikokonjugat dan acharan sulfat yang berperan dalam proses penyembuhan luka dengan membantu proses pembekuan darah dan proliferasi sel fibroblas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas lendir bekicot terhadap jumlah sel fibroblas pada luka pasca pencabutan gigi tikus wistar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan desain post test only control group design dengan menggunakan 10 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan yang diekstrasi gigi insisivus kiri bawahnya dan diberikan lendir bekicot, dan kelompok kontrol yang tidak diberikan lendir bekicot setelah ekstrasi gigi insisivus kiri bawahnya. Jumlah sel fibroblas diamati pada hari ke-5 setelah pencabutan gigi. Bekicot diambil dari perkebunan di daerah Kalasey. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil penelitian menunjukkan jumlah rata-rata sel 515Oroh, Pangemanan, Mintjelungan: Aktivitas lendir bekicot...fibroblas pada kelompok kontrol lebih sedikit, dengan nilai 34,4 dibandingkan dengan kelompok perlakuan dengan nilai 70,2. Data dari masing-masing kelompok dianalisa menggunakan uji normalitas, uji homogenitas dan dilanjutkan Independent t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lendir bekicot memiliki efektifitas terhadap peningkatan jumlah sel fibroblas pasca pencabutan gigi tikus wistar.Kata kunci: lendir bekicot (achatina fulica), fibroblas, pencabutan gigi, tikus wistar jantan
Gambaran status kebersihan gigi dan mulut di Panti Asuhan Nazaret Tomohon Mangowal, Maya P.; Pangemanan, Damajanty H.C; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17021

Abstract

Abstract: Dental and oral health is important for every individual. It plays an important role in the prevention of caries. During growth and development periods, adolescents often have health problems; one of them is oral and dental hygiene. This study was aimed to obtain the profile of oral and dental hygiene status among adolescents at Panti Asuhan Nazaret (an orphanage) Tomohon. This was a descriptive study with a cross sectional design using total sampling method. There were 37 adolescents as respondents. The results showed that 59.5% of them belonged to good category, 32.4% to moderate category, and 8.1% to poor category. Conclusion: The oral and dental hygiene status of most adolescents at Panti Asuhan Nazaret Tomohon was in good category. However, education and counseling about the importance of oral and dental hygiene are still needed.Keywords: dental and mouth hygiene, adolescents Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut penting diketahui tiap individu. Hal tersebut sangat berperan dalam upaya pencegahan terjadinya karies. Dalam pertumbuhan dan perkembangan, remaja sering mengalami masalah kesehatan, salah satunya masalah kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status kebersihan gigi dan mulut pada anak remaja di Panti Asuhan Nazaret Tomohon. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Metode pengambilan sampel ialah total sampling. Jumlah responden dalam penelitian ini ialah 37 anak remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kebersihan gigi dan mulut dari 59,5% responden termasuk kategori baik, 32,4% kategori sedang, dan 8,1% kategori buruk. Simpulan: Gambaran status kebersihan gigi dan mulut sebagian besar anak remaja di Panti Asuhan Nazaret Tomohon termasuk dalam kategori baik. Disarankan untuk diberikan pendidikan dan penyuluhan tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut.Kata kunci: kebersihan gigi dan mulut, remaja
GAMBARAN STATUS GINGIVA PADA PENDERITA LEUKEMIA DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Tangka’a, Roy R. B.; Suling, Pieter L.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6456

Abstract

Abstract: Periodontal disease is a disease tooth and mouth the most common suffered. Bacterial plaque buildup on the surface of the tooth is the main cause of periodontal disease. Periodontal disease started from gingivitis, when untreated can develop into periodontitis where periodontal tissue damage occurs in the form damage of fibre, periodontal ligament, and alveolar bone. Leukemia is a malignancy disease characterized by the presence of bleeding. Location of bleeding most often found on the skin, eyes, nose mucous membrane, gingiva and gastrointestinal tract. The purpose of this research is to know the description of the status of gingiva in sufferers of leukemia in was Prof. Dr. r. d. Kandou Manado.This was descriptive study with cross sectional approach. Samples was collected using total sampling by examination the status of gingiva based on index gingiva Loe and Silness. The results showed that most of the patients experiencing mild inflammation (68,75%) and the rest suffered medium inflammation (31,25%). Based on age, puberty is largely experiencing mild inflammation (56,25%) and adolescents medium inflammation (18,75%). Based on the gender, men mostly experiencing mild inflammation (31,25%) and most women experience mild inflammation (37,50%). Based on the type of disease, LLA mostly suffered inflammation lightweight (68,75%), LMA all experiencing inflammation medium (6,25%) and LMK all experiencing inflammation medium (12,50%). Conclusion: Leukemia patients treated at Prof. Dr. R. D. Kandou had the awareness to maintain oral hygiene, however, socialization about the importance of oral hygiene is still needed.Keywords: leukemia, periodontal disease, gingival statusAbstrak: Penyakit periodontal merupakan penyakit gigi dan mulut yang paling umum diderita. Penumpukan bakteri plak pada permukaan gigi merupakan penyebab utama penyakit periodontal. Penyakit periodontal dimulai dari gingivitis, bila tidak terawat bisa berkembang menjadi periodontitis dimana terjadi kerusakan jaringan periodontal berupa kerusakan fiber, ligamen periodontal dan tulang alveolar. Leukemia merupakan penyakit keganasan yang ditandai dengan adanya perdarahan. Lokasi perdarahan yang paling sering ditemukan pada bagian kulit, mata, membrane mukosa hidung, gingiva dan saluran cerna. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran status gingiva pada penderita leukemia di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dengan cara melakukan pemeriksaan status gingiva berdasarkan indeks gingiva Loe dan Silness. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pesien mengalami inflamasi ringan (68,75%) dan sisanya mengalami inflamasi sedang (31,25%). Berdasarkan umur, pubertas sebagian besar mengalami inflamasi ringan (56,25%) dan remaja mengalami inflamasi sedang (18,75%). Berdasarkan jenis kelamin, laki - laki sebagian besar mengalami inflamasi ringan (31,25%) dan perempuan sebagian besar mengalami inflamasi ringan (37,50%). Berdasarkan jenis penyakit, LLA sebagian besar mengalami inflamasi ringan (68,75%), LMA semuanya mengalami inflamasi sedang (6,25%) dan LMK semuanya mengalami inflamasi sedang (12,50%). Simpulan: Pasien leukemia yang berada di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan mulut, tetapi sosialisasi tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut masih dibutuhkan.Kata kunci: leukemia, penyakit periodontal, status gingiva.
Co-Authors . Juliatri, . Angelia Langkir Anggow, Ollivia R. Aruperes, Geraldo Y. Aurelia S. R. Supit Bawenti, Suryani Bayahu, Cintia Billy J. Kepel Billy O. S. Mayusip, Billy O. S. Christal G. Oroh, Christal G. Citra Ilery D. H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pengemanan Dewi Y. Anang, Dewi Y. Dinar A. Wicaksono Ekarisma, Verena M. Elita Tambunan, Elita Ezra G. R. Tambunan, Ezra G. R. Felisa E. K. Bagaray, Felisa E. K. Freddy Wagey Gabrielle Warongan Galongi, Junistika P. Gary S. J. Nayoan, Gary S. J. Gerung, Ayumi Y. Hassan, Ewithya H. Herwanto, Adine V. K. Hontong, Cheny Indry Worotitjan Inoi, Archi G. P. Jane Wuisan Jefrianto Wololy Jemima L. Waworuntu, Jemima L. Jimmy Posangi Joan Christiany, Joan Joenda Soewantoro Johanna A. Khoman Julian G. Komansilan, Julian G. Juliatri . Juliatri Juliatri Kaida, Dita C. Karamoy, Deborah Karamoy, Keysha A. Karel Pandelaki Keloay, Princess Khoman, Johanna Kindangen, Miranda L. Kinontoa, Fitrisya C. Koagouw, Marco S. Kojongian, Gloria M. P. Kolonio, Fanessa E. Krista V. Siagian Kustina Zuliari, Kustina Kusumawardani, Chendrakasih Lidia Iswanto, Lidia Lolongan, Raymond A. Lumempouw, Novany Lydia E. N. Tendean, Lydia E. N. Mangindaan, Rocky J. Mangowal, Maya P. Mangundap, Gledis C. M. Mantiri, Amanda N. P. Mararu, Wahyu P. Marimbun, Betrix E. Mario S. Howarto, Mario S. Marsela Liwe, Marsela Mega S. J. Warongan, Mega S. J. Meilan M. Suleh, Meilan M. Michael A. Leman Mo'o, Billie A. F. P. Mokodompit, Moh. Fahmi M. Mongi, Pebrian B. Monica M. Sengkey, Monica M. Motto, Christavia J. Nadhira Thereza Manoy, Nadhira Thereza Ni Made Windrawati, Ni Made Ni Wayan Mariati Nonutu, Stevia E. Octavian, David Olivia Waworuntu Olyvia Octaviany Monoarfa P. S. Anindita Pardanus, Darlene G. Paulina Gunawan Paulina N. Gunawan Pemsi M. Wowor, Pemsi M. Pieter L. Suling Priscilia G. J. Tambuwun, Priscilia G. J. Pritartha S. Anindita Putra, Febrian S. Putrawan, I Putu G.E. Rahayu, Mayangsari P. Rambitan, Wulan K. D. Ratulangi, Marly H.R. Rengkuan, Raissa Y.E. Reyna Agnes Nastassia Lumentut Rizka Wahyuni Rizkika, Lilies Rompas, Irene F. Rompis, Kezia R. Sagemba, Pascal G. Sagrang, Patricia S. Shane H.R. Ticoalu Shirley E. S. Kawengian Sompie, Grace M. M. Stefani M. Karamoy, Stefani M. Sundah, Michael J. Syukri, Dwi M. Tambunan, Miranda A. Tandra, Noviana F. Tangka’a, Roy R. B. Tato, Enjelin M. Tawas, Stevany A.D. Ticoalu, Jolanda P. Utomo, Hestia E. Vania, Marella T. Vonny N. S. Wowor Vonny N.S. Wowor, Vonny N.S. Wanti, Melyana Woran, Yobel R. Wowor, Stephanie G. Wulan G. Parengkuan, Wulan G. Wulandari, Fitri K.