Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : SPASIAL

PEMETAAN ZONA RESAPAN AIR TAHURA H. V. WORANG GUNUNG TUMPA SEBAGAI INPUT PERENCANAAN DESAIN TAPAK KAWASAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOSPASIAL Ratag, Andreas; Kindangen, Jefrey I.; Moniaga, Ingerid L.
SPASIAL Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahura H. V. Worang Gunung Tumpa merupakan salah satu infrastruktur hijau yang harus dilestarikan fungsinya guna meredam suhu panas perkotaan (urban heat island) akibat berkurangnya fungsi vegetasi dan konservasi air. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi zona resapan air, menganalisis tingkat kekritisan zona - zona resapan air dan menghasilkan rekomendasi sebagai input pada dokumen perencanaan desain tapak Tahura H. V. Worang Gunung Tumpa . Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan spasial (spatial approach). Analisis spasial menggunakan metode tumpangsusun (overlay) pada perangkat lunak sistem informasi geografis. Penelitian ini menghasilkan distribusi kelas kekritisan resapan air yang baik dan tersebar pada blok – blok pengelolaan. Blok perlindungan memiliki luasan kelas kekritisan resapan air baik sebesar 27,60 Ha, blok pemanfaatan dengan luasan 113,22 Ha, blok koleksi dengan luasan 6,76 Ha, blok rehabilitasi dengan luasan 47,22 Ha, blok religi, budaya dan sejarah dengan luasan sebesar 0.30 Ha dan blok tradisional dengan luasan 11,40 Ha.Kata Kunci: Resapan Air, Desain Tapak, Tahura H.V. Worang, Gunung Tumpa
STRATEGI KEPARIWISATAAN DI KECAMATAN KEMA MINAHASA UTARA Kiolol, Pingkan Abigail; Moniaga, Ingerid L.; Rompas, Leidy M.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan RTRW Kabupaten Minahasa Utara tentang Kawasan Peruntukan Pariwisata menyebutkan bahwa Kecamatan Kema masuk dalam kawasan peruntukan pariwisata. Kecamatan Kema sendiri memiliki 10 desa namun hanya 5 desa yang memiliki destinasi pariwisata, yaitu yang pertama desa Tontalete dengan wisata alam yaitu Air Terjun Tontalete, kedua Desa Kema 3 dengan wisata alam yaitu Pantai Batu Nona dan wisata sejarah yaitu Penjara Tua Kema, yang ke tiga Desa Kema 2 dengan wisata alam yaitu Pantai Firdaus dan wisata sejarah yaitu Waruga dan Kuburan Tua Kelder, yang ke empat Desa Waleo dengan wisata alamnya yaitu Air Terjun Masongsor, dan desa terakhir yaitu desa Makalisung dengan wisata alamnya yaitu pantai Makalisung Berbagai potensi pariwisata di Kecamatan Kema teridentifikasi memiliki peluang kepariwisataan yang dapat menunjang pengembangan wilayah Kabupaten Minahasa Utara, namun permasalahan yang ditemukan ditiap desa yakni pengelolaan wisata yang kurang baik, pemberdayaan masyarakat yang masih kurang inovatif dan kreatif menciptakan produk-produk wisata yang menunjang kesejahteraan ekonomi masyarakat, kurangnya partisipasi masyarakat dan pemerintah dalam mengembangkan pariwisata. Analisis yang pertama yaitu dengan mengidentifikasi SWOT tiap destinasi wisata di Kecamatan Kema., dan dilanjutkan oleh analisis EFAS dan IFAS melalui pembobotan menurut Rangkuti, 1997, dilanjutkan dengan Isu Strategi yang menggunakan Matriks TOWS atau SWOT yang mengeluarkan indikator program lalu implementasi program-program tersebut pada tiap destinasi wisata di Kecamatan Kema yang dapat menghasilkan Strategi perencanaan pengembangan kepariwisataan di Kecamatan Kema Minahasa Utara. Kata kunci: Kepariwisataan, strategi, indikator program, Kecamatan Kema
SISTEM DISTRIBUSI HASIL PRODUKSI KAWASAN MINAPOLITAN DI KOTA BITUNG Suak, Virgy R.A.; Lakat, Ricky M.S.; Moniaga, Ingerid L.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Bitung merupakan salah satu kota di Provinsi Sulawesi Utara yang ditetapkan sebagai salah satu kawasan minapolitan dengan kategori kawasan minapolitan perikanan tangkap. Berdasarkan RTRW Kota Bitung, kawasan minapolitan berada di kecamatan Aertembaga, Lembeh Utara, dan Lembeh Selatan. Hasil perikanan dari tiap lokasi kawasan minapolitan menempuh jalur distribusi yang berbeda satu sama lain untuk sampai pada konsumen. Berbagai hambatan bisa saja terjadi dalam proses penyaluran hasil produksi. Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola distribusi hasil produksi perikanan dari ketiga kawasan minapolitan, sistem distribusi hasil produksi perikanan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan sistem pendistribusian hasil produksi kawasan minapolitan Kota Bitung serta pengaruhnya. Penelitian sistem distribusi kawasan minapolitan telah banyak diteliti. Namun, yang menggunakan metode campuran (mix methods) belum banyak. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mix methods) untuk menjawab rumusan masalah yang ada, rumusan masalah yang pertama dapat dijawab melalui pendekatan kuantitatif, dan rumusan masalah kedua dapat dijawab melalui pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, terdapat 3 (tiga) pola distribusi, yaitu pola distribusi hasil produksi kawasan minapolitan dalam kota, pola distribusi hasil produksi kawasan minapolitan antar kota dalam provinsi, dan pola distribusi hasil produksi kawasan minapolitan antar provinsi. Pola distribusi hasil produksi kawasan minapolitan dalam kota terdapat 4 (empat) jalur, yaitu jalur 1 (satu) yang dimulai dari pelabuhan perikanan dan berakhir di pasar-pasar tradisional yang berada di mainland Kota Bitung, jalur 2 (dua) yang dimulai dari pelabuhan perikanan dan berakhir di pasar-pasar tradisional yang ada di Pulau Lembeh, jalur 3 (tiga) dari pelabuhan perikanan dibawa ke Pelabuhan Samudera Bitung untuk kebutuhan ekspor, dan jalur 4 (empat) dari pelabuhan perikanan dibawa ke perusahaan-perusahaan pengolahan hasil perikanan. Terdapat 4 faktor yang mempengaruhi sistem distribusi hasil produki kawasan minapolitan di Kota Bitung, yaitu faktor geographical, time, quantity, dan communication and information. Dari keempat faktor ini, faktor quantity yang dominan mempengaruhi sistem distribusi hasil produksi kawasan minapolitan di Kota Bitung.Kata Kunci: Sistem Distribusi, Kawasan Minapolitan, Kota Bitung
PERSEBARAN SUHU PERMUKAAN DAN PEMANFAATAN LAHAN DI KOTA MANADO Rumengan, Stevianus H.; Kumurur, Veronica A.; Moniaga, Ingerid L.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Urban heat island (UHI) atau pulau panas perkotaan merupakan sebuah fenomena yang terjadi akibat adanya peningkatan suhu pada wilayah tertentu sehingga membentuk pulau-pulau panas. Dalam perencanaan kota, urban heat island atau pulau panas perkotaan di pengaruhi oleh geometri perkotaan, pola penggunaan lahan, dan property perkotaan. Penggunaan lahan Kota Manado terus mengalami perubahan dari kawasan tidak terbangun menjadi kawasan terbangun sehingga menyebabkan peningkatan suhu permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran suhu panas perkotaan di Kota Manado dan mengetahui pemanfaatan lahan di Kota Manado. Penelitan ini mengunakan metode analisis spasial. Analisis Spasial dilakukan untuk melakukukan pengolahan citra lansat 8 untuk menentukan suhu permukaan, menetukan pola sebaran suhu permukaan dan pemanfaatan lahan pada suhu permukaan. Hasil pengloahan suhu permukaan dari citra satelit lansat 8 mendapatkan suhu permukaan tertinggi adalah 48°C dan suhu permukaan terendah adalah 25°C dengan rata-rata suhu 33,43°C. suhu tertinggi berada pada lahan yang digunakan untuk transportasi. Sedangkan suhu terendah, berada pada lahan yang digunakan untuk hutan.Kata Kunci: Persebaran suhu permukaan, Pemanfaatan lahan
KAJIAN SEBARAN & KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI PERKOTAAN TONDANO Karouw, Claryta Jeanette V.; Moniaga, Ingerid L.; Karongkong, Hendriek H.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan amanat UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, di dalam wilayah kabupaten atau perkotaan harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH) sebesar 30% dari luas wilayah. RTH yang dimaksud adalah RTH publik dan RTH privat dengan proporsi masing-masing 20% dan 10%. Baik RTH publik maupun privat memiliki fungsi utama sebagai fungsi ekologis dan fungsi tambahan diantaranya sosial & budaya, ekonomi, dan estetika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi eksisting sebaran ruang terbuka hijau dan menganalisis ketersediaan ruang terbuka hijau di Perkotaan Tondano. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis spasial. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada Peraturan Menteri PU No: 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH perkotaan yaitu RTH Publik dan RTH Privat. Tahapan analisis data dilakukan secara bertahap yaitu 1) memetakan sebaran RTH dengan menggunakan ArcGIS 10.3, 2) menghitung persentase luas RTH menggunakan rumus persamaan RTH 30%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting sebaran RTH di Perkotaan Tondano, terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu RTH Publik yang terdiri atas, Taman Kota, Hutan Kota, Jalur Hijau Jalan, Sabuk Hijau, Sempadan Sungai, Sempadan Danau, Pemakaman, Pertanian, dan RTH Privat berupa, Pekarangan. Ketersediaan RTH Perkotaan Tondano sudah melebihi amanat Undang-Undang yaitu seluas 1787,17 ha atau sebesar 79,2% (>30%) dari keseluruhan luas wilayah perkotaan. Perkotaan Tondano memiliki luas RTH Publik sebesar 1321,92 ha atau 58% (>20%) dan RTH Privat yaitu 465,25 ha atau 20% (>10%).Kata Kunci: Ruang Terbuka Hijau, Ketersediaan, Sebaran
EVALUASI SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN DI KOTA SORONG Baru, Desi Natalia; Poluan, Roosje J.; Moniaga, Ingerid L.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengelolaan sampah adalah usaha untuk mengatur atau mengelola sampah dan proses pengumpulan, pemisahan, pemindahan, pengangkutan sampai pengelolaan dan pembuangan akhir. Implementasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah telah ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Sorong melalui regulasi atau Peraturan Daerah (Perda) Nomor 15 Tahun 2013 Tentang Pengelolaan Sampah. Tetapi permasalahan pengelolaan persampahan di Kota Sorong belum optimal sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 dan Peraturan Daerah Kota Sorong. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi sistem pengelolaan persampahan di Kota Sorong dengan mengunakan penelitian kualitatif. Metode pendekatan kualitatif dilakukan dengan mengunakan analisis skala likert. Hasil hitungan skala likert untuk mengetahui tingkat kamuan dan kemampuan masyarakat melakukan penanganan sampah dengan cara pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengelolaan, pemrosesan akhir.Kata Kunci: Pengelolaan, Sampah, Kota Sorong