Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Faktor Risiko dan Klaster Spasial Kejadian Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas Aisyah Apriliciciliana Aryani; Jajang Dede Mulyani; Vina Dinata Kamila Aryani
Journal of Applied Science for Pharmaceuticals and Health Vol 2 No 2 (2025): Journal of Applied Science for Pharmaceuticals and Health (December)
Publisher : Centre of Applied Science for Pharmaceutical Science Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jasph.2025.2.2.18170

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang paru-paru maupun organ lain. Kasus tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungbanteng mengalami peningkatan pada tahun 2023 dengan jumlah kasus tertinggi di Desa Beji sebanyak 27 kasus dan Desa Karangnangka sebanyak 11 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko dan pola sebaran spasial kejadian tuberkulosis di wilayah tersebut. Penelitian menggunakan metode kuantitatif analitik dengan desain kasus kontrol. Populasi kasus adalah seluruh penderita tuberkulosis di Desa Beji dan Desa Karangnangka tahun 2023, sedangkan populasi kontrol adalah masyarakat yang tidak menderita tuberkulosis. Sampel terdiri atas 35 kasus yang diambil secara total sampling dan 35 kontrol dengan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, pengukuran lingkungan fisik kamar tidur, dan pengambilan titik koordinat rumah penderita. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS, ArcGIS, dan SaTScan melalui analisis univariat, bivariat, multivariat, serta analisis spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan signifikan dengan kejadian tuberkulosis adalah kontak erat (p=0,032; OR=4,423). Analisis spasial menunjukkan pola sebaran kasus tuberkulosis yang berkelompok dengan dua klaster sekunder. Kesimpulannya, kontak erat menjadi faktor dominan yang meningkatkan risiko kejadian tuberkulosis dan pola sebaran kasus menunjukkan distribusi berkelompok.
Implications of Low Student Enrollment for Physical Education Practices in Rural Elementary Schools Jajang dede Mulyani; Aisyah Apriliciciliana Aryani; Kuat Leksono
Physical Activity Journal (PAJU) Vol 8 No 1 (2026): Physical Activity Journal (PAJU)
Publisher : Department of Physical Education, Faculty of Health Sciences, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.paju.2026.8.1.18566

Abstract

This study analyzes how low student numbers in rural elementary schools affect the implementation of physical education (PE). The research aims to identify the pedagogical, organizational, and contextual challenges faced when class sizes fall far below the national standard. Using a qualitative descriptive design, data were collected through semi-structured interviews with principals, physical education teachers, classroom teachers, and selected students, as well as classroom observations and document analysis in six rural elementary schools in Banyumas Regency, Central Java. The findings indicate three main implications. First, although smaller classes allow more individualized instruction, teachers struggle to create dynamic learning environments due to limited peer interaction, reduced group activities, and low competitive engagement. Second, minimal enrollment leads to structural constraints such as limited facilities, inadequate equipment, and reduced institutional support, which directly affect instructional quality. Third, demographic decline and community attitudes toward rural schooling further reduce student participation and threaten program sustainability. The study concludes that rural schools require targeted policy support, adequate resource allocation, and adaptive instructional strategies to sustain meaningful PE learning. Strengthening community involvement and adopting flexible activity-based models are recommended to support holistic student development in rural contexts.
Perbedaan Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Kabupaten Banyumas tentang Diabetes Melitus Tipe 2 Sebelum dan Setelah Edukasi Damairia Hayu Parmasari; Muhammad Salman Fareza; Lita Heni Kusumawardani; Pramesti Widya Hapsari; Nur Amalia Choironi; Aisyah Apriliciciliana Aryani
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 15 No 4 (2023): JIKM Vol. 15, Edisi 4, November 2023
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v15i4.475

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus (DM) perlu dicegah karena tergolong penyakit silent killer. Sebagian kasus adalah DM Tipe 2. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya menunjukkan masyarakat di Banyumas sudah mempunyai tingkat pengetahuan cukup baik, tetapi belum mempunyai sikap yang cukup baik terhadap pencegahan DM Tipe 2. Perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat serta deteksi dini DM melalui pemeriksaan gula darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap masyarakat di Desa X, Kabupaten Banyumas terhadap DM Tipe 2 sebelum dan sesudah edukasi. Metode: Desain penelitian menggunakan quasi experiment dilakukan selama bulan Agustus 2023. Kuesioner digunakan untuk menilai pengetahuan dan sikap. Responden menjawab pertanyaan kuesioner pre-test, kemudian diberikan edukasi dan menjawab kuesioner post-test. Edukasi DM Tipe 2 dilakukan melalui penyampaian materi secara lisan dan tulisan melalui paparan menggunakan media slide Power Point dan modul. Sampel adalah masyarakat Desa X, Kabupaten Banyumas sebanyak 30 orang. Analisis perbedaan pengetahuan dan sikap menggunakan uji Wilcoxon.Hasil: Hasil uji Wilcoxon memperlihatkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan pengetahuan dan sikap masyarakat Desa X tentang DM Tipe 2 sebelum dan sesudah edukasi dengan nilai p=0,07 dan p=0,948. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan signifikan pengetahuan dan sikap masyarakat Desa X, Kabupaten Banyumas sebelum dan sesudah edukasi DM Tipe 2. Kata Kunci: Edukasi, Intervensi, Masyarakat, Pengetahuan, Sikap Introduction: Diabetes mellitus (DM) needs to be prevented because it is a silent killer disease. Some cases are Type 2 DM. Based on the results of previous research, it shows that the people in Banyumas already have a fairly good level of knowledge, but do not yet have a good enough attitude towards preventing Type 2 DM. Necessary to provide education to the community and early detection of DM through blood sugar checks. The study aimed to determine the differences in knowledge and attitudes of Village X community, Banyumas Regency towards Type 2 DM before and after education. Method: The research design used a quasi-experiment during August 2023. A questionnaire was used to measured knowledge and attitude. Respondents answered the pre-test, then were given education and answered the post-test. Type 2 DM education was carried out through the delivery of material orally and in writing through presentations using PowerPoint slides and modules. The sample were 30 people from Village X, Banyumas Regency. Analysis of differences in knowledge and attitudes using the Wilcoxon test. Results: The Wilcoxon test results show that there is no significant difference in the knowledge and attitudes of the people of Village X regarding Type 2 DM before and after education with a p-value of 0.07 and 0.948.Conclusion: There were no significant difference in the knowledge and attitudes of the people of Village X, Banyumas Regency pre and post Type 2 DM education.Keywords: Education, Intervention, Society, Knowledge, Attitude