Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR BIOKLIMATIK PADA BANGUNAN EXPO ICE BSD, TANGERANG Sulistiowati Sulistiowati; Anggana Fitri Satwikasari
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 7 No. 1 (2023): Purwarupa Vol 7 No 1 Maret 2023
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/purwarupa.7.1.35-42

Abstract

ABSTRAK. Tingginya kenaikan laju pemanasan global tidak bisa dipungkiri dari fakta bahwa bumi dan manusia dalam bahaya karna efek dari pemanasan global. Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, suhu di muka bumi mengalami kenaikan yang sangat ekstrem sehingga membuat manusia memikirkan segala cara seperti menciptakan berbagai macam teknologi dan pengetahuan untuk mengurangi kenaikan laju pemanasan global seperti mengurangi penggunaan gas emisi atau gas karbon dioksida, mengurangi penggunaan efek rumah kaca serta memperbanyak RTH (Ruang Terbuka Hijau) sehingga peran arsitek sangat penting dalam mengurangi efek dari pemanasan global. Telah ditemukan prinsip arsitektur yang dapat mengurangi kelajuan pemanasan global yaitu arsitektur bioklimatik yang mengusung mengadaptasikan bangunan pada lingkungan sekitarnya sehingga mengurangi pemakaian energi listrik. Tujuan dari penelitian ini ialah mengkaji dan menganalisis prinsip arsitektur bioklimatik pada bangunan expo, di mana bangunan expo yang merupakan tempat berkumpulnya sekelompok manusia sehingga sangat penting mengutamakan kenyamanan pengguna bangunan tersebut. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dikumpulkan dari data sekunder dan primer seperti literatur serta data survei menuju lokasi studi kasus ICE BSD, Tangerang. Menerapkan analisis dari 6 prinsip arsitektur bioklimatik menurut Ken Yeang dengan menyertakan keterangan dan penjelasan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ICE BSD menerapkan 75% dari prinsip arsitektur bioklimatik menurut Ken Yeang sehingga dapat dikatakan bahwa bangunan ICE BSD telah menerapkan konsep arsitektur bioklimatik dan berpartisipasi dalam mengurangi kenaikan laju pemanasan global di dunia. Kata Kunci: Arsitektur, Bioklimatik, Perubahan Iklim, ExpoABSTRACT. The high increase in the rate of global warming cannot be denied by the fact that the earth and humans are in danger because of the effects of global warming. In the last 50 years, the temperature on earth has risen so extremely that it has made people think of all kinds of ways, such as creating various kinds of technology and knowledge to reduce the increase in the rate of global warming, such as reducing the use of emission gases or carbon dioxide gas, reducing the use of the greenhouse effect. as well as increasing GOP (Green Open Space) so that the role of architects is very important in reducing the effects of global warming. An architectural principle has been found that can reduce the rate of global warming, namely bioclimatic architecture which carries out adapting buildings to their surrounding environment to reduce the use of electrical energy. The purpose of this research is to examine and analyze the principles of bioclimatic architecture in the expo building, where the expo building is a gathering place for a group of people so it is very important to prioritize the comfort of the building users. By using a qualitative descriptive method collected from secondary and primary data such as literature and survey data to the ICE BSD case study location, Tangerang. Applying an analysis of the 6 principles of bioclimatic architecture according to Ken Yeang by including descriptions and explanations. The results of the study show that ICE BSD applies 75% of the principles of bioclimatic architecture according to Ken Yeang so it can be said that the ICE BSD building has implemented the concept of bioclimatic architecture and participated in reducing the increase in the rate of global warming in the world. Keywords: Architecture, Bioclimatic, Climate Change, Expo
KAJIAN KENYAMANAN TERMAL PADA PASAR BABELAN BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA Andiani Imantaka; Anggana Fitri Satwikasari
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol 4 No 1 (2023): JAD
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v4i1.7419

Abstract

Menurut Peraturan Presiden No. 112 tahun 2007, pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, BUMD dan pihak swasta yang tempat usahanya berupa kios, toko, tenda, dan los yang dimiliki atau dikelola oleh pedagang kecil, menengah, koperasi, swadaya masyarakat yang proses jual belinya dilakukan lewat proses tawar menawar. Karena adanya kegiatan jual dan beli tentunya banyak pengguna bangunan pada bangunan ini, hal ini akan mempengaruhi kenyamanan termal pada bangunan pasar tradisional. Pada penelitian ini kenyamanan termal diukur berdasarkan persepsi pengguna bangunan yaitu pedagang dan pembeli. Variabel pada penelitian ini adalah faktor yang mempengaruhi kenyamanan termal pada bangunan yaitu parameter suhu udara, radiasi matahari, kecepatan udara dan kelembaban udara berdasarkan persepsi pengguna. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan pengambilan data yaitu menyebarkan kuesioner, wawancara dan observasi pada bangunan. Kajian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kenyamanan termal pada bangunan Pasar Babelan sebagai studi kasus berdasarkan persepsi pengguna bangunan.
KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR BIOKLIMATIK PADA BANGUNAN PUNGGOL WATERWAY TERRACE, SINGAPURA Muhammad Fahri; Anggana Fitri Satwikasari
Agora : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 20 No. 2 (2022): RUANG PUBLIK, ELEMEN BANGUNAN DAN KONTEKSTUAL
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/agora.v20i2.13681

Abstract

Penurunan kualitas lingkungan hidup dan perubahan iklim global, salah satunya diakibatkandari percepatan kemajuan peradaban manusia. Bertambahnya manusia dan bangunanmengakibatkan konsumsi energi berlebihan. Aspek lingkungan hidup harus menjadipertimbangan dalam konsep pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Hal ini kemudianmelahirkan kesadaran tentang pentingnya desain arsitektur yang dapat menciptakan sebuahbangunan yang mampu menekan konsumsi energi berlebih dan merespons iklim. Penelitianini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menganalisis penerapan konseparsitektur bioklimatik pada bangunan Punggol Waterway Terrace. Arsitektur bioklimatikmerupakan konsep arsitektural yang mengangkat keselarasan antara bentuk arsitektur denganiklim lingkungan di sekitarnya. Prinsip desain arsitektur bioklimatik tidak lain adalahmemperhatikan kondisi iklim, hemat energi, dan peduli lingkungan. Prinsip-prinsip desainbioklimatik harus memperhatikan 5 aspek, diantaranya adalah penentuan orientasi bangunan,membuat ruang transisi, desain pada dinding, hubungan dengan lanskap, dan penggunaan alatbayang pasif. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa Punggol Waterway Terrace telahmemenuhi standar hunian vertikal bioklimatik yang di tinjau dari ke lima prinsip arsitekturbioklimatik berdasarkan indikator yang ditinjau dari hunian vertikal, yakni bentuk massa,arah bukaan, teras/balkon, jenis ventilasi, jumlah ventilasi, arah ventilasi, taman, jenis danmaterial secondary skin. Untuk penggunaan alat pembayangan pasif berupa secondary skinpada bangunan tidak ditemukan, karena ke-4 prinsip lainnya sudah memenuhi kebutuhanbangunan dari pemanfaatan pencahayaan dan penghawaan alami.Kata kunci : arsitektur bioklimatik, respons terhadap iklim, kualitas lingkungan, punggolwaterway terrace
PREFERENSI WARNA DINDING RUANG DALAM PADA HUNIAN UNTUK MENGURANGI GEJALA GANGGUAN MENTAL BAGI PARA WANITA PASCABERSALIN Yeptadian Sari; Anggana Fitri Satwikasari; Yana Adharani
NALARs Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.22.2.161-168

Abstract

Inetrior merupakan bagian penting dari sebuah ruang yang dapat mempengaruhi pengguna ruangnya, dapat bermanfaat maupun merugikan penghuninya. Penghuni sebuah ruang bisa memiliki kondisi kesehatan yang bermacam-macam, salah satunya adalah keadaan penghuni wanita yang baru saja melahirkan yang memiliki kondisi khusus yang dapat mengakibatkan gangguan mental, yaitu keadaan yang biasa disebut sebagai baby blues, depresi pascapersalinan, dan atau psikosis pascabersalin. Banyak usaha penyembuhan di sekitar lingkungan wanita pascabersalin untuk mengurangi gejala gangguan mental tersebut, salah satunya dengan memperhatikan arsitektur di lingkungan wanita tersebut, termasuk diantaranya adalah dengan mengetahui warna-warna pada ruang dalam yang digunakan oleh para wanita pascapartum untuk mencegah terjadinya gangguan mental. Penelitian ini bermaksud untuk mencari tahu warna-warna yang dapat mempengaruhi suasana hati dan mencegah terjadinya gangguan mental pada wanita pascabersalin. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif statistik deskriptif. Penelitian ini menemukan bahwa di antara warna primer, sekunder dan perpaduan antara keduanya, warna yang disepakati dapat memperbaiki suasana hati dan mencegah gangguan mental pada penghuninya adalah warna kuning, biru dan hijau. Berdasarkan roda gradasi warna, ditemukan pula bahwa selain warna primer, sekunder dan perpaduannya, warna-warna tersier seperti warna krem yang merupakan perpaduan antara kuning dan putih, merah muda yang merupakan perpaduan antara merah dan putih dan hijau muda yang merupakan perpaduan antara warna biru, kuning dan putih, juga merupakan warna yang dianggap mampu mengurangi gejala gangguan mental pascapersalinan.
Penanggulangan Gejala Stres Pasca Melahirkan Melalui Desain Arsitektural Untuk Komunitas Ibu Hebat Jabodetabek Anggana Fitri Satwikasari; Yeptadian Sari; Nur Romdhona; Karlina Rohadatul Aisy
Jurnal Abdi Masyarakat (JAM) Vol 9, No 1 (2023): JAM (Jurnal Abdi Masyarakat)-September 2023
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/jam.v9i1.18775

Abstract

Post-partum Depression atau PPD adalah depresi yang terjadi setelah melahirkan disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia di otak dan dialami oleh 10% ibu yang melahirkan. Ibu pasca melahirkan dapat mengalami stres dikarenakan beberapa penyebab, salah satunya adalah kualitas tempat tinggal yang kurang nyaman. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan bagi para ibu yang sedang hamil maupun baru saja melahirkan mengenai upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi stres dan meningkatkan mood mereka. Upaya-upaya ini difokuskan pada penyuluhan dan konsultasi ide-ide penataan ulang ruang dalam dan ruang luar hunian yang sekiranya dapat dilakukan oleh masing-masing ibu. Dari sekitar 15-25 anggota Komunitas Ibu Hebat yang berlokasi di Perumahan Bumi Cimanggis Indah 2 Kota Depok, sebagian besar mengeluhkan beberapa permasalahan di hunian mereka seperti buruknya kualitas pencahayaan dan penghawaan alami, keberadaan vegetasi/penghijauan yang kurang, dan sulitnya aksesibilitas ruang tidur ke fasilitas lain di dalam rumah seperti kamar mandi dan dapur. Tim pengabdian kepada masyarakat kemudian mengusulkan 2 opsi perubahan tata ruang dalam dan luar yang dapat diupayakan para ibu dengan harapan jika hunian mereka lebih sesuai dengan kebutuhan kenyamanan para ibu, maka kualitas kebahagiaan keluarga mereka juga dapat meningkat.
KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR BIOKLIMATIK PADA BANGUNAN PUNGGOL WATERWAY TERRACE, SINGAPURA Muhammad Fahri; Anggana Fitri Satwikasari
Agora : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 20 No. 2 (2022): RUANG PUBLIK, ELEMEN BANGUNAN DAN KONTEKSTUAL
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/agora.v20i2.13681

Abstract

Penurunan kualitas lingkungan hidup dan perubahan iklim global, salah satunya diakibatkandari percepatan kemajuan peradaban manusia. Bertambahnya manusia dan bangunanmengakibatkan konsumsi energi berlebihan. Aspek lingkungan hidup harus menjadipertimbangan dalam konsep pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Hal ini kemudianmelahirkan kesadaran tentang pentingnya desain arsitektur yang dapat menciptakan sebuahbangunan yang mampu menekan konsumsi energi berlebih dan merespons iklim. Penelitianini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menganalisis penerapan konseparsitektur bioklimatik pada bangunan Punggol Waterway Terrace. Arsitektur bioklimatikmerupakan konsep arsitektural yang mengangkat keselarasan antara bentuk arsitektur denganiklim lingkungan di sekitarnya. Prinsip desain arsitektur bioklimatik tidak lain adalahmemperhatikan kondisi iklim, hemat energi, dan peduli lingkungan. Prinsip-prinsip desainbioklimatik harus memperhatikan 5 aspek, diantaranya adalah penentuan orientasi bangunan,membuat ruang transisi, desain pada dinding, hubungan dengan lanskap, dan penggunaan alatbayang pasif. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa Punggol Waterway Terrace telahmemenuhi standar hunian vertikal bioklimatik yang di tinjau dari ke lima prinsip arsitekturbioklimatik berdasarkan indikator yang ditinjau dari hunian vertikal, yakni bentuk massa,arah bukaan, teras/balkon, jenis ventilasi, jumlah ventilasi, arah ventilasi, taman, jenis danmaterial secondary skin. Untuk penggunaan alat pembayangan pasif berupa secondary skinpada bangunan tidak ditemukan, karena ke-4 prinsip lainnya sudah memenuhi kebutuhanbangunan dari pemanfaatan pencahayaan dan penghawaan alami.Kata kunci : arsitektur bioklimatik, respons terhadap iklim, kualitas lingkungan, punggolwaterway terrace
A STUDY OF ECOLOGICAL ARCHITECTURE CONCEPTS IN THE RESIDENCE OF GLINTUNG VILLAGE, MALANG CITY Larasati, Rezka Ajeng; Satwikasari, Anggana Fitri
Jurnal Koridor Vol. 13 No. 1 (2022): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/koridor.v13i1.6283

Abstract

Settlement is one of the urban development variables which has an important role in urban development. Urban development will always face various problems, especially those caused by settlements. These problems are related to the construction of settlements that are not in harmony with their environmental ecosystem. Based on these issues, ecological architecture is one of the architectural sciences that can be applied in planning and designing residential areas. This research was conducted with the aim of understanding and identifying the application of the principles of ecological architecture in a settlement. The research method used is descriptive qualitative method with primary data in the form of interview-related interviewees and secondary data in the form of literature studies. The analysis was carried out based on the ecological architectural variables which were arranged systematically. The study of the concept of ecological architecture was carried out in a settlement that has attempted to apply several principles of ecological architecture. The residential area is Kampung Glintung, a city known as Kampung Kultur or Kampung 3G (Glintung Go Green). The preparation of this research is expected to provide an understanding of the concept of ecological architecture and provide an overview of the importance of planning and designing environmental-based residential areas to support urban survival and the people who live in it. Keywords: settlement, ecology, ecological architecture, urban development, environmental ecosystem
Kajian Konsep Pekan Budaya (Culturally-Sensitive Design) pada Rumah Sakit Angkatan Laut dr.Azhar Azhari Manokwari, Papua Barat Lissimia, Finta; Jumastan, Jumastan; Satwikasari, Anggana Fitri; Nugrahaini, Fadhilla Tri; Riadi, Agustinus Rizki Wirawan
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Desain Arsitektur peka budaya adalah rancangan bangunan yang sensitif terhadap makna atau konteks budaya di suatu daerah. Pengaplikasiannya pada rancangan bangunan dapat dari berbagai aspek dari fasad, konfigurasi ruang, dan aspek lain agar kebudayaan setempat hidup Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi konsep desain peka budaya dan penerapannya pada fasilitas kesehatan khususnya rumah sakit. Rumah sakit yang menjadi studi kasus adalah Rumah Sakit Angkatan Laut dr.Azhar Azhari yang berlokasi di Manokwari, Papua Barat. Rumah Sakit ini dianggap tepat sebagai studi kasus karena berlokasi di provinsi di Indonesia yang masih kental dengan budayanya terutama dari suku-suku setempat. Metodologi penelitian adalah kualitatif dengan analisis deskriptif berdasarkan data yang didapat dari pengamatan obyek dan wawancara dengan pihak terkait. Konsep desain peka budaya berdasarkan enam aspek. Aspek peka budaya (cultural awareness) melalui penyediaan fasilitas yang mewadahi aktivitas masyarakat lokal. Aspek adaptasi kebudayaan (cultural adaptation) difasilitasi dengan membuat perencanaan pola tata ruang yang mendukung aktivitas kebudayaan. Keterlibatan Komunitas (community involvement) diterapkan dengan memberikan dukungan pada kegiatan komunitas di sekitar bangunan. Ruang inlusif adalah hasil dari respek terhadap keberagaman (respect for diversity). Aspek integrasi nilai-nilai budaya (integration of cultural values) diterapkan pada atap dan warna bangunan. Pertimbangan estetika budaya (consideration of cultural values) yang terlihat pada eksterior maupun interior bangunan.Kata kunci: Desain Peka Budaya, Fasilitas Kesehatan, Rumah Sakit.
Kajian Konsep Arsitektur Zero Carbon pada Bangunan Menara BCA Fadil, Muhammad Rizky; Satwikasari, Anggana Fitri
Journal of Comprehensive Science Vol. 3 No. 8 (2024): Journal of Comprehensive Science (JCS)
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v3i8.802

Abstract

Arsitektur adalah ilmu yang mempelajari tentang dasar dan perancangan pada bangunan. Konsep yang digunakan pada arsitektur menjadi sebuah tumpuan atau landasan awal yang digunakan untuk mengarahkan akan seperti apa bentuk dari desain bangunan yang dirancang kedepannya. Maka dari itu penetapan atau pemilihan konsep sangatlah penting ketika tahap awal perancangan pembangunan. Arsitektur zero carbon merupakan salah satu dari sekian banyaknya konsep yang digunakan pada dunia arsitektur. Kelebihan yang ada pada konsep arsitektur islami adalah mengutamakan ciri dari nilai-nilai islam yang kemudian diaplikasikan ke dalam perancangan arsitektur pada bangunan yang akan dirancang nantinya. Penerapan arsitektur zero carbon bisa diterapkan ke berbagai macam perancangan bangunan salah satunya adalah bangunan kantor. Pekerjaan didalam kantor yang sering orang-orang pusingkan ketika mengerjakanya juga membutuhkan tempat yang nyaman, aman dan bersih dengan itu adanya keseimbangan dalam kebutuhan yang pengguna bangunan butuhkan untuk melakukan pekerjaan. Kajian ini bertujuan untuk memahami penerapan konsep arsitektur zero carbon khususnya pada bangunan kantor. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif pada studi kasus arsitektur zero carbon. Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukan bahwa penerapan konsep arsitektur zero carbon memiliki beberapa macam prinsip yang dapat mempengaruhi baik atau buruknya bentuk dari hasil penelitian ini terhadap studi kasus. Kajian ini diharapkan bisa menjadi gambaran atau referensi dalam merancang bangunan menggunakan konsep arsitektur zero carbon khususnya pada bangunan kantor.
Kajian Konsep Arsitektur Hibrid pada Bangunan Gedung Sarbonne, Pondok Pesantren Tazkia, Malang Rafly, Ramadhan Fawwaz; Satwikasari, Anggana Fitri
ARCHIHUMANUM Vol 3 No 2 (2025): October
Publisher : CV. Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/archimane.v3i2.138

Abstract

Hybrid architecture represents the integration of two distinct design elements, harmonizing functionality and strength in both form and style. This concept has the potential to enhance building quality based on indicators such as durability, flexibility, energy efficiency, and cost-effectiveness. In the context of higher education, educational buildings not only serve as spaces for learning but also as hubs for interaction, knowledge exchange, and intellectual development. However, the disparity in educational facilities, particularly in underdeveloped, remote, and outermost areas (3T regions), remains a significant challenge in Indonesia. According to data from the Ministry of Education and Culture of Indonesia, approximately 25% of schools are located in isolated regions with limited access. This study aims to explore how the application of hybrid architectural principles in the design of higher education buildings can enhance comfort and foster public interest in educational activities. Additionally, it seeks to demonstrate the advantages of hybrid architecture in creating high-quality designs that provide innovative solutions to address disparities in educational facilities in 3T areas. Through this approach, the research aspires to contribute to equitable education infrastructure across Indonesia.