Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : WACANA

Hubungan antara Kualitas Kelekatan Orang Tua dan Kontrol Diri dengan Perilaku Agresif pada Siswa Sekolah Dasar Negeri Kendalrejo Surakarta Yolanda, Gita; Murti Karini, Suci; Supratiwi, Mahardika
Wacana Vol 10, No 2 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.014 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v10i2.129

Abstract

ABSTRAK   Perilaku agresif merupakan perilaku yang menyimpang pada anak. Hal ini menjadi persoalan penting karena perilaku agresif dapat merugikan lingkungan maupun orang lain, baik secara fisik maupun psikis. Hal yang mungkin turut menentukan munculnya perilaku agresif pada anak adalah kualitas kelekatan orang tua dan kontrol diri. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui hubungan antara kualitas kelekatan orang tua dan kontrol diri dengan perilaku agresif, (2) mengetahui hubungan antara kualitas kelekatan orang tua dengan perilaku agresif, (3) mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan perilaku agresif pada siswa SDN Kendalrejo Surakarta. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV, V, dan VI SDN Kendalrejo Surakarta yang  berjumlah  55  siswa.  Teknik  yang  digunakan  dalam  pengambilan  sampel  adalah teknik sampling jenuh. Alat ukur yang digunakan adalah skala perilaku agresif (reliabilitas 0,809),  skala  kualitas  kelekatan  orang  tua  (reliabilitas  0,854),  dan  skala  kontrol  diri (reliabilitas 0,852). Hasil penelitian menunjukkan nilai Fhitung = 59,378 >Ftabel= 2,77 (p = 0,000 < 0,05); R = 0,834, artinya terdapat hubungan signifikan yang sangat kuat antara kualitas kelekatan orang  tua  dan  kontrol  diri  dengan  perilaku  agresif.  Secara  parsial,  tidak  terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas kelekatan orang tua dengan perilaku agresif (p = 0,541 > 0,05), namun terdapat hubungan negatif signifikan yang kuat antara kontrol diri dengan perilaku agresif (R = -0,746; p = 0,000 < 0,05), artinya semakin tinggi kontrol diri maka  semakin  rendah  perilaku  agresif.  Kualitas  kelekatan  orang  tua  dan  kontrol  diri secara memberi sumbangan efektif sebesar 69,5% (R2 = 0,695) terhadap perilaku agresif, namun sumbangan kualitas kelekatan orang tua terhadap perilaku agresif hanya sebesar 3,39% dan 66,15% sisanya merupakan sumbangan dari variabel kontrol diri. Simpulan dari penelitian ini yaitu, terdapat hubungan signifikan yang sangat kuat antara kualitas kelekatan orang tua dan kontrol diri dengan perilaku agresif, tidak terdapat hubungan signifikan antara kualitas kelekatan orang tua dengan perilaku agresif, dan terdapat hubungan negatif signifikan yang kuat antara kontrol diri dengan perilaku agresif pada siswa SDN Kendalrejo Surakarta.   Kata kunci: Perilaku agresif, kualitas kelekatan orang tua, kontrol diri, siswa sekolah dasar
Gambaran Seksualitas Pada Remaja Down Syndrome Di SLB PGRI Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulonprogo (Studi Kasus) Dzikrina Istighfaroh, Asri; Murti Karini, Suci; Tri Setyanto, Arif
Wacana Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1137.791 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v10i1.120

Abstract

  ABSTRAK   Down syndrome  merupakan suatu gangguan kesehatan fisik atau cacat fisik bawaan dan  disertai dengan retardasi  mental  yang  disebabkan  karena kelainan  pada   kromosom ke-21.  Banyak  anggapan bahwa pengetahuan seksualitas bagi down syndrome  tidaklah penting. Pembahasan mengenai seksualitas bagi  penderita  down  syndrome  masih  dianggap  tabu, menyeramkan, dan  masih  diabaikan  oleh  banyak orang.  Mitos yang mengatakan bahwa anak berkebutuhan khusus,  termasuk juga down syndrome,  adalah aseksual  atau tidak  mengalami  perkembangan  seksual   tidaklah  benar. Remaja  down  syndrome   juga mengalami perkembangan seksual, namun terdapat beberapa perbedaan dengan remaja pada umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran seksualitas yang  terjadi pada  remaja down syndrome.   Penelitian ini  menggunakan metode  kualitatif dengan desain studi  kasus  dengan harapan dapat menggali fokus penelitian secara lebih mendalam. Responden penelitian ini adalah  satu remaja laki- laki down syndrome dan dua remaja perempuan down syndrome  yang berusia 15-20 tahun yang bersekolah di SLB PGRI Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulonprogo. Metode pengambilan data yang  digunakan adalah  wawancara, observasi, riwayat hidup, tes psikologi, dan  dokumentasi. Tes  psikologi dilakukan dengan tes CPM (Coloured  Progressive  Matrices), dengan hasil  tiap responden berada pada   grade  V (intellectually defective). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara biologis ketiga responden mengalami perkembangan seksualitas yang  sama  dengan remaja lain, ditandai dengan mimpi basah pada  responden laki-laki, dan menstruasi  pada   responden  perempuan.  Secara   umum   responden  belum   memiliki  pengetahuan mengenai seksualitas, seperti reproduksi manusia dan perilaku-perilaku seksual  (ciuman, masturbasi, dan seks).  Hal ini disebabkan karena orang  tua dan  guru  merasa tidak nyaman  dan  takut untuk memberikan penjelasan serta arahan mengenai seksualitas. Orang tua dan guru belum  memiliki cara yang tepat untuk memberikan  penjelasan  tentang  seksualitas  kepada  responden  agar   mudah  memahaminya.  Meski demikian  ketiga  responden  sudah   dapat  merawat  diri  dengan  mandiri,  seperti  dapat  mandi  dan berpakaian sendiri, dapat mencuci piring, dan  dapat mengganti pembalut sendiri saat menstruasi bagi responden perempuan. Pemahaman tentang  gender  juga  sudah   dimiliki  oleh  responden. Responden dapat membedakan gender  melalui penampilan fisik yang  nampak dari luar.  Ketiga responden mulai melihat  lawan   jenisnya  atraktif  dan   menarik  secara fisik,  dua  responden menunjukkan  ketertarikan terhadap lawan  jenis sedangkan satu responden belum  menunjukkan ketertarikan kepada lawan  jenis. Namun,  ketiga responden belum  menunjukkan  adanya   gairah seksual   yang  mengarah pada  perilaku seksual  seperti masturbasi atau seks. Dua responden mulai memiliki body image negatif pada  dirinya yang membuat responden  memandang dirinya  berbeda  dengan remaja  lainnya  dan   perbedaan ini  dapat berakibat pada  kehidupan seksual  responden. Dua dari tiga responden juga memiliki keinginan untuk bekerja dimasa depan. Pengetahuan mengenai bentuk hubungan antara lawan  jenis seperti pacaran dan pernikahan sudah  diketahui  oleh  responden, namun responden belum  memahami  adanya  rasa  sayang, rasa  cinta,  komitmen,  tanggung jawab,  serta aturan-aturan  dalam   hubungan tersebut.  Pemahaman responden terhadap hubungan antara lawan  jenis sebatas pada  sepasang laki-laki dan  perempuan yang saling berdekatan.   Kata kunci:  Down Syndrome, Sindrom Down, Seksualitas, Remaja
HUBUNGAN ANTARA RESILIENCY DAN PENGETAHUAN TENTANG PENGOBATAN KANKER PAYUDARA DENGAN KEPATUHAN PASIEN DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA Melati Putri Pertiwi; Suci Murti Karini; Rin widya Agustin
Wacana Vol 4, No 1 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.575 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i1.29

Abstract

Fenomena kanker payudara, baik di dunia maupun di Indonesia, meningkat semakin tajam dari tahun ke tahun. Walaupun jumlah kematian akibat kanker payudara sangat tinggi, yaitu sekitar 410.000 pasien pada tahun 2004, sesungguhnya penyakit kanker payudara dapat disembuhkan apabila pasien mau menjalani serangkaian pengobatan medis yang direkomendasikan oleh dokter. Kemampuan pasien untuk tetap bertahan dalam menghadapi stresor yang muncul dari proses pengobatan kanker dan kemampuan kognitif pasien dalam memahami resimen pengobatan, merupakan dua faktor yang memengaruhi tingkat kepatuhan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan simultan antara resiliency dan pengetahuan tentang pengobatan kanker payudara dengan kepatuhan pasien, serta hubungan parsial masing-masing variabel prediktor (resiliency dan pengetahuan tentang pengobatan kanker payudara) dengan kepatuhan pasien. Populasi penelitian adalah pasien kanker payudara yang sedang menjalani pengobatan/terapi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dengan sampel penelitian sebanyak 60 responden yang diambil menggunakan purposive quota incidental sampling. Pengumpulan data penelitian menggunakan Skala Kepatuhan Pasien (daya beda item = 0,317-0,648; reliabilitas = 0,858), Skala Resiliency (daya beda item = 0,338-0,701;  reliabilitas = 0,886), dan Tes Pengetahuan tentang Pengobatan Kanker Payudara (daya beda item = 0,306-0,689; reliabilitas = 0,728). Peneliti menggunakan teknik analisis multivariate non-paramterik Regresi Logistik Ordinal untuk menguji hipotesis 1, 2, dan 3 sekaligus. Hasil uji simultan dengan menggunakan statistik Likelihood Ratio (LR) menunjukkan nilai X2=14,131( X2hitung>X2tabel) dan p = 0,001(p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara resiliency dan pengetahuan tentang pengobatan kanker payudara dengan kepatuhan pasien. Kontribusi resiliency dan pengetahuan tentang pengobatan kanker payudara terhadap kepatuhan pasien berdasakan análisis Cox and Snell’s R Square adalah sebesar 22,4%. Uji parsial dalam Regresi Logistik Ordinal adalah dengan Uji Wald. Hasil Uji Wald antara resiliency dan kepatuhan pasien menunjukkan p = 0,998(>0,05). Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara resiliency dengan kepatuhan pasien. Uji Wald antara pengetahuan tentang pengobatan kanker payudara dengan kepatuhan pasien menunjukkan p = 0,001(<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang pengobatan kanker payudara dengan kepatuhan pasien. Kata kunci: kanker payudara, pengobatan kanker payudara, kepatuhan pasien, resiliency, pengetahuan tentang pengobatan kanker payudara
Pengaruh Terapi Tertawa terhadap Penurunan Stres Pengasuhan pada Ibu dengan Anak Autis Grace Selly DT; Suci Murti Karini; Nugraha Arif Karyanta
Wacana Vol 10, No 2 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.359 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v10i2.127

Abstract

ABSTRAK   Memiliki anak dengan autisme dapat menjadi tekanan bagi ibu yang dapat menyebabkan stres pengasuhan. Orang tua yang memiliki anak autis mengalami stres pengasuhan yang tinggi dibandingkan dengan orang tua yang memiliki anak normal. Stres pengasuhan tidak hanya berpengaruh buruk pada orang tua, tetapi juga perkembangan anak. Terapi tertawa adalah salah satu upaya untuk menurunkan stres pengasuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh terapi tertawa terhadap penurunan stres pengasuhan pada ibu dengan anak autis. Subjek dalam penelitian ini adalah ibu dengan anak autis yang memiliki tingkat stres pengasuhan tinggi pada SLB Mitra Ananda dan SLB Anugerah. Desain penelitian kuasi eksperimen ini adalah pretest-posttest control group design dengan kelompok eksperimen dan kontrol masing-masing terdiri dari 6 orang. Kelompok eksperimen diberikan terapi tertawa sebanyak 4 pertemuan dalam 2 minggu. Metode pengumpulan data dilakukan menggunakan Skala Stres Pengasuhan yang telah diuji validitasnya melalui professional judgement dengan nilai uji daya beda aitem 0,066-0,784 dan memiliki koefisien reliabilitas (α) 0,913. Hasil analisis menggunakan analisis statistik nonparametrik Mann-Whitney menunjukkan nilai uji signifikansi (p) sebesar 0,009 (<0,05). Hal tersebut menunjukkan adanya perbedaan signifikan skor stres pengasuhan pada kelompok eksperimen dan kontrol. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah terapi tertawa terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan stres pengasuhan pada ibu dengan anak autis.   Kata kunci: stres pengasuhan, terapi tertawa, ibu dengan anak autis.  
Studi Kasus Proses Pencapaian Kebahagiaan pada Ibu yang Memiliki Anak Kandung Penyandang Asperger’s Syndrome Kiki Dwi Maharani; Suci Murti Karini; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.022 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v7i1.75

Abstract

Studi Kasus Proses Pencapaian Kebahagiaan pada Ibu yang Memiliki Anak Kandung Penyandang Asperger’s Syndrome Case Study of Happiness Achievement Process on Mother whose Children with Asperger’s Syndrome Kiki Dwi Maharani, Suci Murti Karini, Rin Widya Agustin Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret ABSTRAK Kebahagiaan menjadi salah satu tujuan hidup bagi mayoritas individu yang bisa dicapai dengan membentuk persepsi positif terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan. Kebahagiaan harus diperjuangkan pencapaiannya, sekalipun kenyataan yang terjadi seringkali diluar harapan individu. Memiliki anak penyandang gangguan perkembangan seperti Asperger’s Syndrome dapat menjadi sebuah tragic event bagi individu, khususnya ibu. Ibu sebagai seorang individu berhak untuk merasakan kebahagiaan di dalam diri dan hidupnya sekalipun memiliki anak penyandang Asperger’s Syndrome. Ada serangkaian proses yang dilalui seorang ibu sejak menerima diagnosis gangguan Asperger’s Syndrome pada anak hingga akhirnya mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pencapaian kebahagiaan pada ibu yang memiliki anak kandung penyandang Asperger’s Syndrome. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus yang diharapkan dapat menggali fokus penelitian secara mendalam. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang wanita berusia 18-40 tahun yang memiliki anak terdiagnosis Asperger’s Syndrome. Metode penelitian yang digunakan adalah riwayat hidup, wawancara, observasi, The Childhood Autism Rating Scale (CARS), dan Australian Scale for Asperger’s Syndrome (ASAP). Hasil penelitian menggambarkan adanya serangkaian proses pencapaian kebahagiaan yang dilalui ibu dari anak Asperger’s Syndrome. Diagnosis gangguan Asperger’s Syndrome yang terjadi pada anak pertama menjadi sebuah peristiwa tragis dalam kehidupan subjek. Subjek merasa tidak siap menerima kenyataan tentang diagnosis gangguan tersebut dan membuatnya sangat menyesali keadaan, banyak menuntut anak untuk tumbuh seperti anak lain, hingga akhirnya subjek kehilangan makna hidupnya. Kelahiran anak kedua subjek, menjadi sebuah momentum yang menyadarkan subjek ditengah keterpurukannya bahwa anak pertamanya memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik sekalipun memiliki gangguan perkembangan. Momentum ini memacu subjek untuk segera bangkit dari kondisi terpuruk. Subjek berusaha memahami gangguan anak lebih dalam untuk membekali diri dalam upaya memfasilitasi dan membantu anak untuk berkembang optimal Subjek memiliki komitmen kuat dalam diri untuk terus berjuang mengasuh anak. Aktivitas yang dilakukan subjek saat ini selalu berorientasi pada kesembuhan anak. Subjek menilai kenyataan gangguan Asperger’s Syndrome pada anak sebagai ujian sekaligus berkah. Makna kebahagiaan menurut subjek adalah mensyukuri segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya, termasuk memiliki anak penyandang Asperger’s Syndrome. Kata kunci: proses mencapai kebahagiaan, ibu, anak Asperger’s Syndrome Kata kunci: proses mencapai kebahagiaan, ibu, anak Asperger’s Syndrome
GAMBARAN KASUS PSIKOLOGI ANAK DI KLINIK TUMBUH KEMBANG ANAK RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA Suci Murti Karini; Sri Wahyu Herlinawati; Annang Giri Moelyo
Wacana Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.892 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v1i1.66

Abstract

Salah satu aspek tumbuh kembang anak adalah perkembangan psikologis. Telah dilakukan penelitian di Klinik Tumbuh Kembang Anak RSUD Dr. Moewardi terhadap kasus-kasus psikologi pada anak. Disain penelitian adalah deskriptif retrospektif terhadap catatan medik kasus-kasus psikologi anak yang datang di Unit Rawat Jalan pada Klinik Tumbuh Kembang Anak RSUD Dr. Moewardi Surakarta dari April 2002 hingga Maret 2006, kemudian dibandingkan dengan kasus serupa pada tahun 2001. Hasil penelitian pada sebanyak 212 anak menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak (63,7%), lebih banyak pada anak berusia lebih dari 5 tahun (56,5%), dan kasus dari luar kota Surakarta (56,6%). Sebanyak 99 subjek datang atas keinginan sendiri, berbeda dengan data tahun 2001 di mana kasus terbanyak adalah rujukan dari dokter anak. Jenis gangguan berupa gangguan intelektual (24,5%), gangguan perkembangan (47,2%), gangguan psikologis disertai manifestasi fisik (6,1%), dan gangguan tingkah laku 22,2%). Gambaran status perkembangan mental menunjukkan sebanyak 85 subjek normal dan 15 subjek abnormal, berbeda dengan data tahun 2001 di mana 64,5% perkembangan mentalnya abnormal. Kata kunci : tumbuh kembang anak
PERBEDAAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA ANAK YANG MENJALANI SISTEM PEMBELAJARAN TAMAN KANAK-KANAK FULL DAYS DAN REGULER Yuninta Ayu Brianti; Suci Murti Karini; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 2, No 2 (2010)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.17 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v2i2.48

Abstract

Kindergarten full days is a full days learning concept, which educates children in the school environment from morning till evening. Unlike regular kindergarten which organizes activities until 10:00. The phenomenon of the learning system has an effect also produce different abilities including social adjustment. Social adjustment was instrumental in the development of children so that they can establish good relationships with others. Both these learning systems have made possible a different effect in child development including social adjustment. This study aimed to find out the difference of social adjustment in children who undergo a learning system kindergarten full days and regular. This study uses the entire population as a sample because the number of kindergarten children in KB TKI Mulia Hati Klaten and TK Aisyiyah Bustanul Athfal Kalikotes 1 Klaten too little, so this research is the study population. This study uses a quantitative approach with cross sectional method. Data collection tool used is the scale of social adjustment. Data analysis using analytical techniques independent sample t-test. Categorization results showed that the general subject in the learning system a full kindergarten days and regular has a high level of social adjustment, but there are differences in the mean 1.30 which shows the differences in social adjustment in children who undergo the learning system is a full kindergarten days and regular, although the differences were less learning system can be used as a predictor of social adjustment. It was not statistically significant due to test independent sample t-test resulted t-count = 0.934 and t-table = 1.980, with probability p-value = 0.352 > α = 0.005. This means that the hypothesis is rejected, there is no difference of social adjustment in children who undergo a learning system kindergarten full days and regular. Results of data analysis to produce an average value of regular kindergarten 78.38 and kindergarten full days 77.08. This means that learning the system a regular kindergarten have higher social adjustment rather than a kindergarten full days.     Keywords: social adjustment, kindergarten full days, the regular kindergarten
PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP PENURUNAN TINGKAT DEPRESI PADA ORANG LANJUT USIA Luh Mea Tegawati; Suci Murti Karini; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 1, No 2 (2009)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.684 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v1i2.62

Abstract

Keberadaan lansia yang semakin meningkat menimbulkan berbagai polemik dewasa ini. Hal ini disebabkan oleh timbulnya berbagai masalah fisik, psikologis, dan sosial akibat proses degeneratif yang dialami lansia. Kondisi permasalahan tersebut seringkali memunculkan gangguan mental pada lansia seperti depresi. Dalam rangka upaya menurunkan depresi salah satu alternatif penanganan adalah dengan olahraga yang dirancang dengan gerakan khusus bagi lansia yaitu senam lansia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat depresi pada kedua kelompok subjek penelitian yaitu kelompok eksperimen dan kontrol serta mengetahui pengaruh senam lansia terhadap penurunan tingkat depresi pada kelompok orang lanjut usia. Penelitian ini mengambil sampel lansia di dua dusun Kelurahan Brosot Kecamatan Galur Kabupaten Kulon Progo DIY. Adapun subjek kelompok eksperimen adalah lansia di Dusun 1 Brosot dan subjek kelompok kontrol adalah lansia Dusun 2 Brosot. Sampel diambil secara purposive sampling. Penelitian ini merupakan quasi experimental dengan desain nonrandomized pretest-postest control group design. Alat pengumpul data depresi adalah adaptasi GDS (Gerriatric Depression Scale) dari Brink and Yessavage yang memiliki nilai alpha cronbach 0,909 dan nilai product moment r = 0,82. Metode analisis data dengan menggunakan paired sample t-test dan independent sample t-test dengan program SPSS 14. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan mean pretest dan posttest pada masing masing kelompok eksperimen dan control akan tetapi secara statistic tidak signifikan p value > 0,05. Kelompok eksperimen mean pretest 8,867 menurun menjadi 8,333 perhitungan t sebesar 0,440 dengan p value 0,663 > 0,05 sehingga perbedaan tidak signifikan. Kelompok eksperimen mean pretest 12,033 menurun menjadi 11,967 perhitungan t sebesar 0,051 dengan p value 0,960 > 0,05 sehingga perbedaan tidak signifikan. Penurunan terjadi pada mean kelompok eksperimen sebesar 5,133 dibanding kelompok kontrol sebesar 5,20 memiliki nilai t sebesar 0,057 dengan p value 0,954 > 0,05 sehingga penurunan tersebut tidak signifikan. Kata kunci : depresi, senam lansia
Terapi Melukis untuk Meningkatkan Konsep Diri Remaja Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta Astri Fatwasari; Suci Murti Karini; Nugraha Arif Karyanta
Wacana Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.388 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i2.113

Abstract

Terapi Melukis untuk Meningkatkan Konsep Diri Remaja Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta     Painting Therapy to Increase Self-Concept of Orphan Adolescent at Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta     Astri Fatwasari, Suci Murti Karini, Nugraha Arif Karyanta Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebalasMaret       ABSTRAK   Konsep diri ialah penilaian dan perasaan terhadap diri yang menjadi skema dasar individu. Remaja memiliki kondisi konsep diri yang cenderung tidak stabil, terlebih lagi remaja yang bertempat tinggal di panti asuhan tentu memiliki tantangan yang berbeda. Melukis sebagai bagian dari art therapy membantu individu untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan diri untuk menemukan konsep diri. Terapi melukis sebagai proses kreatif yang terlibat dalam pembuatan karya lukis dengan melibatkan kapasitas mengolah potensi indra untuk menghasilkan sebuah citra melalui medium lukisan sebagai proses terapeutik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi melukis terhadap peningkatan konsep diri remaja panti asuhan.   Penelitian ini menggunakan metode eksperimen pretest-posttest control group design. Terapi melukis dilakukan dalam 3 sesi yakni warm-up, melukis, dan refleksi yang dilakukan dalam 6 kali pertemuan dengan tema-tema melukis yakni Scribble Painting, Spektrum Warna, Potret Diri, Aku dan Mereka, Pengalamanku, Diriku Di Masa Depan, dan Favoritku. Pengumpulan data menggunakan skala konsep diri Tennessee Self Concept Scale (TSCS) dengan indeks korelasi 0,300-0,686 dan reliabilitas 0,890. Subjek dalam penelitian ini ialah yatim piatu di Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta yang berusia 13-18 tahun, diperoleh 7 orang dalam kelompok eksperimen yang mendapatkan perlakuan berupa terapi melukis secara penuh dan 7 orang dalam kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan terapi melukis.   Berdasarkan hasil uji 2 sampel independen Mann-Whitney diperoleh hasil berupa nilai z sebesar -2,505 dan nilai uji signifikansi (p) sebesar 0,012 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat perubahan skor konsep diri secara signifikan antara kelompok eksperimen yang medapatkan perlakuan berupa terapi melukis dengan kelompok kontrol yang tidak mendapat perlakuan, sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi melukis memengaruhi konsep diri secara signifikan pada remaja panti asuhan di Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta. Berdasarkan uji kualitatif pada subjek kelompok eksperimen menunjukkan bahwa terdapat perubahan konsep diri yang ditunjukkan dengan mengenal dirinya dengan baik melalui terapi melukis.   Kata kunci: art therapy, terapi melukis, konsep diri, remaja panti asuhan
Kompetensi Emosi dan Kompetensi Sosial pada Anak Kembar Identik Laki-Laki dengan Gangguan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) Sebuah Studi Kasus Akwila Adwin Falenttino; Suci Murti Karini; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.322 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.105

Abstract

Kompetensi Emosi dan Kompetensi Sosial pada Anak Kembar Identik Laki-Laki dengan Gangguan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) Sebuah Studi Kasus   Emotional Competence and Social Competence in Identical Tiwn Boys with Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) A Case Study   Akwila Adwin Falenttino, Suci Murti Karini, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret   ABSTRAK Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah sebuah gangguan yang secara konsisten memperlihatkan beberapa dari sejumlah karakteristik selama periode waktu tertentu: gangguan pemusatan perhatian, hiperaktif dan impulsif. Pada akhir masa kanak-kanak, anak pada umumnya mengalami periode meningginya emosi, keadaan yang demikian membuat anak harus menyesuaikan diri, sehingga anak cenderung cepat marah dan sulit untuk dihadapi. Hal ini menjadi suatu permasalahan tersendiri bagi anak dengan gangguan ADHD, karena fase memuncaknya emosi ini akan diperparah dengan sikap anak yang impulsif yang disertai dengan hiperaktivitas. Aspek emosi tersebut tidak dapat terlepas dari aspek sosialnya, dimana perkembangan emosi anak akan berdampak langsung pada kehidupan sosialnya. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai kompetensi emosi dan kompetensi sosial yang dimiliki oleh anak kembar identik dengan gangguan ADHD. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan desain studi kasusyang diharapkan dapat menggali fokus penelitian secara mendalam. Subjek dalam penelitian ini adalah sepasang anak kembar identik laki-laki yang keduanya mengalami gangguan ADHD. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan riwayat hidup. Hasil penelitian ini menggambarkan kompetensi emosi dan kompetensi sosial yang dimiliki oleh anak kembar identik dengan gangguan ADHD. Kondisi keluarga menjadi faktor utama yang berpengaruh terhadap kompetensi emosi dan sosial pada anak kembar identik dengan gangguan ADHD. Sikap yang diberikan oleh ibu subjek yang cenderung terlalu melindungi ketika berurusan dengan kehidupan sosial anak dan juga sikap yang cenderung membiarkan anak berperilaku sesuka mereka di dalam rumah, berakibat pada pembentukan sikap agresif pada anak kembar identik tersebut. Sikap agresif tersebut dimunculkan oleh kedua subjek ketika mereka berada dalam kondisi emosi marah atau sedih, dan kondisi ini memerlukan waktu yang cukup lama agar kembali ke keadaan yang stabil. Keadaan emosi yang demikian berdampak pada kompetensi sosial kedua subjek, terutama kompetensi yang berhubungan dengan interaksi subjek dengan kelompok tertentu. Kedua subjek masih belum dapat bekerja sama dalam sebuah kelompok tertentu dan cenderung belum dapat memahami isyarat sosial dari orang lain.   Kata kunci: anak kembar identik, ADHD, kompetensi emosi, kompetensi sosial