Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Freedom of Religion and Belief in Higher Education: Between Policy and Practices Zainurohmah Zainurohmah; Rizqiya Lailatul Izza; Indriana Firdaus; Fitria Damayanti; Baidhowi Baidhowi
The Indonesian Journal of International Clinical Legal Education Vol. 5 No. 2 (2023): Legal Education in Current Development: Problems and Challenges
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/iccle.v5i2.36607

Abstract

Regulation is a set of rules formed to regulate the order of social life. Regulations also regulate various lines of life including religion. Religion is defined as man's belief in the existence of God including the ordinances of worship. Freedom of religion also needs to be applied in universities as evidence of Freedom of Religion and Belief. This study aims to find out how the regulation of religious freedom in Higher Education (Semarang State University Campus Study) from the point of view of Freedom Of religion And Belief. This study used normative juridical methods. In this study, it can be concluded that the procurement of houses of worship in universities is still very rare. This is because there are no regulations or policies that regulate this matter. However, there are also several universities that already have multi-religious houses of worship, one of which is Semarang State University. The construction of the house of worship aims to strengthen religious moderation through tolerance.
ANALISIS KONSEPTUAL NIAT SEBAGAI DASAR PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA: STUDI ATAS KAIDAH AL-UMÛRU BIMÂQÂSHIDIHÂ DAN MENS REA Muhammad Sabil Oktaviano; Ahmad Munawar Nuril Ibtisan; Rafka Raditya Kurniawan; Satrio Bagus Mukti Wibowo; Noor Hamzah Syihabuddin; Baidhowi Baidhowi
JURNAL MULTIDISIPLIN ILMU AKADEMIK Vol. 2 No. 6 (2025): Desember
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jmia.v2i6.7331

Abstract

Abstract. The legal maxim al-umūru bimā maqāṣidihā (“acts are judged by their intents”) is a foundational principle with a broad scope that encompasses all human behavior, both speech and action. It affirms that every deed is evaluated in light of the purpose or intention behind it. In criminal law, mens rea refers to the mental state or intent of an offender at the time a criminal act is committed and constitutes a crucial element in determining criminal liability. This study aims to build a conceptual understanding of the relationship between intention and criminal fault while highlighting the relevance of Islamic ethical values to the formulation of principles of criminal responsibility within Indonesia’s legal system. The findings are organized systematically to provide both theoretical and practical contributions to the development of criminal law scholarship grounded in moral values and the principle of substantive justice. Employing a library-research method, the study reviews relevant literature and references to analyze the concept of intention as the basis for criminal responsibility from the perspectives of Islamic law and positive criminal law. The study concludes that the correlation between intention in Islamic law and the doctrine of criminal responsibility is not merely conceptual, but also normative and philosophical in nature. Keywords: Intention; Al-Umūru Bimā Maqāṣidihā; Criminal Responsibility; Mens Rea; Criminal Law; Islamic Law Abstrak. Kaidah Al-Umûru Bimâqâshidihâ merupakan salah satu kaidah pokok yang memiliki cakupan makna yang sangat luas. Kaidah ini mencakup seluruh perilaku manusia, baik dalam bentuk ucapan maupun tindakan. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap perbuatan dinilai berdasarkan tujuan atau niat yang melatarbelakanginya. Selanjutnya, dalam hukum pidana, mens rea merupakan unsur yang mengacu pada keadaan mental atau niat pelaku ketika melakukan suatu tindak pidana dan menjadi salah satu elemen penting dalam menentukan pertanggungjawaban pidana seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk membangun pemahaman konseptual mengenai keterkaitan antara niat dan kesalahan pidana, serta menegaskan relevansi nilai-nilai etika dalam hukum Islam terhadap pembentukan asas pertanggungjawaban pidana dalam sistem hukum Indonesia. Temuan yang dihasilkan disusun secara terstruktur guna memberikan sumbangan teoritis dan praktis bagi pengembangan studi hukum pidana yang berlandaskan pada nilai moral dan prinsip keadilan substantif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan cara menelaah berbagai literatur dan sumber referensi yang relevan guna menganalisis konsep niat sebagai landasan pertanggungjawaban pidana dalam perspektif hukum Islam dan hukum pidana positif. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukan bahwa korelasi antara niat dalam hukum Islam dan asas pertanggungjawaban pidana bukan hanya bersifat konseptual, tetapi juga normatif dan filosofis. Kata kunci: Niat; Al-Umuru Bimaqasidiha; pertanggungjawaban; mens rea; hukum pidana; hukum Islam
Pengaruh Etika dan Moral Dalam Kasus Suap Kepada Jaksa Zora Rafi, Berlian Daliani; Nita Amalia Zaidan; Lady Swytty Olivia Br Panjaitan; Aulia Nur Faizah; Arif Afruloh; Anggun Gadiza Rahma; Baidhowi Baidhowi
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 2 No. 6 (2025): Jurnal Ilmiah Nusantara
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v2i6.7220

Abstract

Bribery of prosecutors is a form of professional misconduct and corruption that threatens the integrity of law enforcement in Indonesia. This study discusses the factors that cause bribery in the legal profession and strategies to prevent it. It uses a normative legal research method through a literature review of existing literature, regulations, and previous research results. The results of the study show that the factors causing bribery can originate from internal individual aspects, family pressure, education, low compensation, weak laws, and lack of supervision. According to GONE Theory, bribery behavior is influenced by greed, opportunity, need, and low risk of disclosure. Prevention strategies include preventive, detective, and repressive approaches, accompanied by strengthening morality, transparency, strict law enforcement, optimization of supervisory institutions, and the application of ethical values. The implications of this study emphasize the need for institutional reform and moral integrity to realize clean, objective, and fair law enforcement. Keywords: Ethics, Morality, Prosecutors, Bribery, GONE Theory.   Abstrak. Penyuapan terhadap jaksa merupakan salah satu bentuk tindakan pelanggaran etika profesi dan tindak korupsi yang mengancam integritas penegak hukum di Indonesia. Penelitian ini membahas faktor-faktor yang menyebabkan praktik suap dalam profesi jaksa serta upaya strategi pencegahannya. Menggunakan metode penelitian hukum normatif melalui studi kepustakaan terhadap literatur, regulasi, dan hasil penelitian terdahulu. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor penyebab penyuapan dapat bersumber dari aspek internal individu, tekanan keluarga, pendidikan, kompensasi yang rendah, lemahnya hukum, serta kurangnya pengawasan. Melalui Teori GONE, perilaku suap dipengaruhi oleh keserakahan, kesempatan, kebutuhan, dan rendahnya risiko pengungkapan. Strategi pencegahan mencakup pendekatan preventif, detektif, dan represif, disertai penguatan moralitas, transparansi, penegakan hukum yang tegas, optimalisasi lembaga pengawas, serta penerapan nilai-nilai etika. Implikasi penelitian ini menegaskan perlunya reformasi kelembagaan dan integritas moral untuk mewujudkan penegakan hukum yang bersih, objektif, dan berkeadilan.    
PENERAPAN KAIDAH FIQHIYAH DALAM PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI SYARIAH DI INDONESIA Nisrina Zahrani Zahirah; Cantika Aqilla Ghani; Mashwa Elfa; Davina Fathiya Wulandari Putri Martono; Baidhowi Baidhowi
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Ilmu Vol. 2 No. 6 (2025): Desember : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Ilmu (JIMI)
Publisher : CV. Denasya Smart Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69714/2hha0z76

Abstract

The development of Islamic economics in Indonesia has shown significant growth, in line with the increasing demand for a financial system based on sharia principles. However, this growth has also led to more complex disputes among business actors and Islamic financial institutions. In this context, the application of fiqhiyyah principles (legal maxims) plays a crucial role as a normative and methodological foundation in resolving Islamic economic disputes. This article aims to analyze how fiqhiyyah principles are applied in dispute resolution practices within both religious courts and alternative institutions such as sharia arbitration. The research employs a normative juridical method with conceptual and statutory approaches, supported by a review of relevant decisions from religious courts. The findings indicate that the application of fiqhiyyah principles—such as al-yaqīn lā yazūlu bi al-syak (certainty is not removed by doubt), al-‘ādah muhakkamah (custom is an authoritative source of law), and al-masyaqqah tajlib al-taysīr (hardship brings about ease)—serves as a key judicial consideration in realizing substantive justice aligned with maqāṣid al-syarī‘ah (the objectives of Islamic law). Therefore, the implementation of fiqhiyyah principles not only strengthens the legitimacy of Islamic law within the national legal system but also becomes an essential instrument for achieving equitable, beneficial, and socially just resolutions in Islamic economic disputes.
STRATEGI BERTAHAN HIDUP DAN HUKUM ISLAM: ANALISIS TERHADAP NIAT ANTARA IBADAH PUASA DAN KETERPAKSAAN KARENA KEMISKINAN Nabila Nur Aini; Citra Azra Amalia; Shelomitha Azalia Widyaningrum; Arie Sukanti Siagian; Baidhowi Baidhowi
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Ilmu Vol. 2 No. 6 (2025): Desember : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Ilmu (JIMI)
Publisher : CV. Denasya Smart Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69714/hqph7b37

Abstract

Poverty, which arises as a result of unequal development, has become a serious issue for many communities. Economic hardship often compels individuals to justify any means necessary to achieve their goals, even at the cost of violating moral values. This condition not only triggers criminal behavior but also contributes to the decline of morality, as people may neglect social and religious norms in order to survive. As a multidimensional problem, poverty generates various social issues. Under economic pressure, individuals working as laborers, small traders, or low-income employees are sometimes driven to deviant acts such as theft, robbery, or even prostitution. Such circumstances also influence the practice of religious duties, as some people tend to neglect religious and moral obligations in order to fulfill their basic needs. This study aims to examine the relationship between fasting as a religious obligation and the sense of compulsion brought about by economic difficulties. Miles & Huberman identify the main causes of poverty as low levels of education, weak work ethic, and limited employment opportunities. Consequently, religious practices such as prayer, fasting, and other Islamic activities are often performed inconsistently. From the perspective of Islamic law, this phenomenon reflects a shift in intention: acts of worship that should be based on sincerity may instead be carried out under compulsion due to economic pressure. Thus, poverty fosters survival strategies that weaken the quality of religious observance and create a dilemma between genuine devotion and compulsion in performing fasting
Peran Otoritas Jasa Keuangan dalam Pengawasan dan Penindakan Pelanggaran Hukum Perbankan di Indonesia Nugroho, Abyasa Abrar; Aryasatya Yusuf Wiryawan; Maglyn Angel Stefanny; Nurfadilla Risa Aulia; Ayu Maharsuci Nindya Mahyudi; Baidhowi Baidhowi
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 01 (2026): Februari - Maret 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The banking sector plays a vital role in maintaining national economic stability, necessitating a robust and integrated supervisory framework. This study examines the supervisory authority and enforcement mechanisms of the Financial Services Authority (Otoritas Jasa Keuangan/OJK) in addressing violations of banking law in Indonesia using a normative juridical method with statutory and conceptual approaches based on primary and secondary legal materials. The findings reveal that OJK holds comprehensive supervisory powers through compliance-based and risk-based supervision, implemented via on-site and off-site mechanisms, and supported by coordination with Bank Indonesia and the Indonesia Deposit Insurance Corporation (LPS). In enforcing regulations, OJK may impose graduated administrative sanctions, ranging from written warnings and fines to restrictions on business activities and revocation of banking licenses, while criminal violations are handled in coordination with law enforcement agencies. Despite an adequate regulatory framework, supervisory implementation faces challenges such as increasingly complex financial products, rapid technological innovation, and global economic dynamics, making strengthened inter-agency coordination and enhanced supervisory capacity essential to ensure compliance and sustain public confidence in the national banking system.
Perlindungan Hukum Bagi Korban Skimming Pada Transaksi ATM Dan E-Banking Nur Rofi Dwianti; Kayla Achri Salsabila; Amelia Vega; Sann Satriatama; Delon Arthur Wijaya; Baidhowi Baidhowi
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 01 (2026): Februari - Maret 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bank adalah badan usaha resmi yang memiliki tanggung jawab untuk menghimpun dana masyarakat, proses bekerjanya bank bentuk berupa simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau dalam bentuk lainnya. Semakin pesatnya perkembangan teknologi dalam sektor perbankan yang dapat mempermudah masyarakat dalam melakukan transaksi tanpa perlu jauh-jauh untuk datang ke teller bank. Perkembangan teknologi dalam perbankan memberikan dampak positif yang cukup banyak. Namun, terdapat dampak negatif yang tidak bisa dihindarkan seperti kejahatan di dunia maya atau biasa disebut dengan cybercrime. Kejahatan pada ATM semakin banyak dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah skimming yaitu proses kejahatan dengan cara penyaringan data pada kartu ATM nasabah. Apabila nasabah kehilangan uang dikarenakan skimming oleh orang yang tidak dikenal maka berdasarkan pasal 4 huruf (H) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, maka nasabah berhak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, dan/atau penggantian atas uangnya yang hilang tersebut.
Imunitas Advokat dan Kemanfaatan Hukum: Studi Kasus Potensi Kriminalisasi Profesi dalam Perkara Hendra Sianipar Citra Azra Amalia; Rafif Gadi Maulana; Shelomita Azalia Widiyaningrum; Arie Sukanti Siagian; Baidhowi Baidhowi
Desentralisasi : Jurnal Hukum, Kebijakan Publik, dan Pemerintahan Vol. 3 No. 2 (2026): Mei: Desentralisasi : Jurnal Hukum, Kebijakan Publik, dan Pemerintahan
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/desentralisasi.v3i2.1640

Abstract

The legal profession plays a vital role in the judicial system to ensure the principle of equality before the law as well as fair and accountable legal proceedings. In accordance with Law No. 18 of 2003 on Advocates, an advocate is an autonomous, independent, and accountable legal professional who is granted immunity as stipulated in Articles 14, 15, and 16, which provide protection from civil and criminal claims when acting in good faith while performing their duties. However, in practice, the scope of this immunity often leads to differing interpretations, particularly regarding the parameters of “good faith” and the scope of “professional duties,” which can result in the criminalization of lawyers. This is evident in the case of Hendra Sianipar, where a lawyer’s actions in exercising legal authority were instead subject to criminal prosecution. This study aims to examine the limits of attorney immunity and explore the potential for criminalization of this profession using a normative legal approach combined with a legal utility analysis. The findings of this study indicate that attorney immunity is not absolute but is limited by good faith, compliance with the law, and professional ethics, thus requiring clearer and more balanced clarification of these limits.
Perlindungan Konsumen dalam Layanan Perbankan Digital di Era Financial Teknologi Baidhowi Baidhowi; Edo Munawwar; Muhammad Fadli Dwi Anugrah; Wanda Hamidah; Aldina Rachmadian; Revalina Dewi Roshinta
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 05 (2026): MEI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi digital di sektor perbankan telah mendorong lahirnya berbagai inovasi layanan keuangan, seperti mobile banking, internet banking, serta integrasi dengan teknologi finansial (financial technology). Perkembangan tersebut memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses layanan keuangan secara lebih cepat, efisien, dan tanpa batasan ruang dan waktu. Namun demikian, di balik berbagai kemudahan tersebut, digitalisasi perbankan juga menimbulkan konsekuensi berupa meningkatnya risiko kejahatan siber dan kebocoran data pribadi yang berpotensi merugikan nasabah sebagai pengguna layanan perbankan. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan akan perlindungan hukum yang memadai untuk menjamin keamanan data dan transaksi nasabah dalam ekosistem perbankan digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas regulasi perlindungan data pribadi dalam menjamin keamanan transaksi nasabah pada layanan perbankan digital serta mengkaji tanggung jawab hukum bank terhadap kerugian yang dialami nasabah akibat kegagalan sistem keamanan digital. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Sumber data penelitian terdiri dari bahan hukum primer berupa peraturan perundang-undangan, seperti Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi, serta regulasi di sektor jasa keuangan. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan bahan hukum sekunder yang diperoleh dari buku, artikel jurnal ilmiah, dan hasil penelitian sebelumnya yang relevan. Data dianalisis secara kualitatif dengan menelaah ketentuan hukum yang berlaku serta implementasinya dalam praktik perlindungan nasabah pada layanan perbankan digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif regulasi perlindungan data pribadi di Indonesia telah memberikan dasar hukum yang cukup kuat dalam melindungi kepentingan nasabah
Pertanggungjawaban Yuridis Bank dalam Kegagalan Sistem Deteksi Dini pada Perbankan Digital M Faiz Fauzi; Eva Nurlita Widanti; Adinda Aulia; Dewi Zahra Setyawati; Qlarissa Melinda; Baidhowi Baidhowi
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 02 (2026): APRIL - MEI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi digital dalam sektor perbankan telah mengubah secara fundamental pola operasional lembaga keuangan dari sistem berbasis interaksi manusia menuju sistem otomatis berbasis algoritma. Meskipun meningkatkan efisiensi, perubahan ini menimbulkan ketegangan normatif terhadap penerapan prinsip kehati-hatian (prudential principle), khususnya dalam mendeteksi teknik structuring pada transaksi digital yang bertujuan menghindari sistem pelaporan. Penelitian ini menganalisis bagaimana digitalisasi membuka celah bagi pelaku kejahatan keuangan untuk memanfaatkan mekanisme transaksi otomatis, yang diperparah dengan berkurangnya peran pengawasan manusia (human oversight). Penulis berargumen bahwa doktrin pertanggungjawaban berbasis kesalahan manusia (fault based liability) perlu direkonstruksi agar selaras dengan karakteristik teknologi perbankan modern. Penelitian ini menyimpulkan perlunya penguatan kerangka hukum melalui kewajiban audit algoritma, penerapan enhanced duty of care pada pengawasan digital, serta perluasan tanggung jawab korporasi untuk mencakup kegagalan sistem otomatis guna menjaga stabilitas dan integritas sistem keuangan nasional.
Co-Authors Adelia Dara Sasra Adinda Aulia Adinda Zahra Ristiana Ahmad Munawar Nuril Ibtisan Aldina Rachmadian Aldira Safa Salsabela Amelia Vega Anggun Gadiza Rahma Anna Yuliana, Anna Arie Sukanti Siagian Arif Afruloh Aryasatya Yusuf Wiryawan Ashilah, Nyimas Anindya Raisa Aulia Nur Faizah Aura Nur Halizah Ayu Maharsuci Nindya Mahyudi Ayu Nabila Kusuma Bunga Pamela Anugraheni Cantika Aqilla Ghani Cantika Reika Viana Cica Vadilla Citra Azra Amalia David Frans Rafael Simorangkir Davina Fathiya Wulandari Putri Martono Dekmayudha Ananda Nursyams Delon Arthur Wijaya Dewi Zahra Setyawati Diva Sabrina Edo Munawwar Eva Maya Sari Eva Nurlita Widanti Faiq Fatih Alwan Fajar Galih Mangku Samudra Fannya Vidi Arsya Fathurrohman Nur Hidayat Fitria Damayanti Friska Adyla Naura Hana Reswara Ardiana Indriana Firdaus Kayla Achri Salsabila Kurnia Fitri Rahma Dani Lady Swytty Olivia Br Panjaitan M Faiz Fauzi Maglyn Angel Stefanny Mashwa Elfa Muhammad Arya Yalhan Muhammad Fadli Dwi Anugrah Muhammad Rizieq Muhammad Sabil Oktaviano Nabila Nur Aini Nabilla Alya Rahmah Nafoura Maharani Arl Nala Sofil Mubbarod Nazla Arliva Rahman Ni Ketut Rindu Saraswati Nisrina Zahrani Zahirah Nita Amalia Zaidan Noor Hamzah Syihabuddin Nugroho, Abyasa Abrar Nur Rofi Dwianti Nurfadilla Risa Aulia Qlarissa Melinda Rafif Gadi Maulana Rafka Raditya Kurniawan Rendy Aprilio Sulaiman Revalina Dewi Roshinta Rimarshanda Anugrahita Rizqiya Lailatul Izza Rois Faisal Amin Salsa Nabilani Salsabila Putri Tsarwah Sann Satriatama Satrio Bagus Mukti Wibowo Sheila Aida Fitriani Shelomita Azalia Widiyaningrum Shelomitha Azalia Widyaningrum Syakira Edriamarsha Firdaus Wanda Hamidah Widia Oktavia Ramdhani Zainurohmah Zainurohmah Zora Rafi, Berlian Daliani