Anak Agung Ngurah Subawa
Bagian Patologi Klinik RSUP Sanglah Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar

Published : 45 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PROFIL PEMBERIAN ANTIBIOTIK DAN PERBAIKAN KLINIS DEMAM PADA PASIEN ANAK DENGAN DEMAM TIFOID DI RSUP SANGLAH DENPASAR Putu Bihan Surya Kinanta; Desak Gde Diah Dharma Santhi; Anak Agung Ngurah Subawa
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 3 (2020): Vol 9 No 03(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.383 KB) | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i3.P03

Abstract

Demam tifoid merupakan masalah kesehatan di Indonesia karena insiden demam tifoid yang tinggi dan terus meningkat. Diperkirakan 1,08 juta kasus demam tifoid baru terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Terapi antibiotika merupakan terapi utama pada demam tifoid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil antibiotik pada pasien anak dengan demam tifoid yang diberi antibiotik dan mengetahui perbaikan gambaran klinis demam tifoid anak pada pemberian berbagai antibiotik di RSUP Sanglah Denpasar. Jenis penelitian yang digunakan adalah cross-sectional analitik dengan pengambilan data secara retrospektif. Sampel diambil dari rekam medis pasien demam tifoid anak yang dirawat di RSUP Sanglah Denpasar. Teknik pemilihan subjek menggunakan total sampling. Subjek merupakan pasien demam tifoid anak yang dirawat di RSUP Sanglah Denpasar. Total sampel diperoleh sebanyak 25 pasien demam tifoid anak. Golongan antibiotik yang digunakan di RSUP Sanglah adalah kloramfenikol, seftriakson, ampisilin, sefiksim, dan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah seftriakson (60%) dengan rute pemberian secara intravena (80%) dengan dosis 2gr/hari (40%) selama 5 hari (24%). Rerata lama perbaikan klinis demam menggunakan antibiotik kloramfenikol adalah 6 + 1 hari, seftriakson 5 + 1 hari, ampisilin 6 + 1 hari dan sefiksim 5 + 2 hari. Dapat disimpulkan bahwa hasil analisis statistik dengan uji One Way Anova menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antar penggunaan jenis antibiotik dengan lama perbaikan klinis demam. Diharapkan parameter ini dapat digunakan untuk meningkatkan efektifitas waktu dalam pengobatan demam tifoid anak. Kata kunci: Demam tifoid, Jenis antibiotik, Anak
PREVALENSI BAYI BERAT LAHIR RENDAH PADA IBU ANEMIA DEFISIENSI BESI DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015 Indira Pratiwi; Ngurah Subawa
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 12 (2019): Vol 8 No 12 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.929 KB)

Abstract

Anemia pada kehamilan merupakan masalah yang sering terjadi dan 50% dari wanita hamil di negara berkembang mengalami anemia. BBLR menjadi penentu utama kematian, kesakitan dan kecacatan pada bayi dan anak-anak serta memberi dampak jangka panjang pada kehidupan. Penyumbang terbesar angka kejadian BBLR di Indonesia ialah anemia pada ibu hamil yang berkisar 50,9% dengan penyebab terbanyak adalah anemia defisiensi besi (ADB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi BBLR pada ibu anemia defisiensi besi, gambaran umum BBLR pada ibu anemia defisiensi besi berdasarkan umur dan derajat anemia ibu.Rancangan penelitian ini adalah cross-sectional deskriptif. Data penelitian diambil dari Rekam medis RSUP Sanglah Denpasar tahun 2015. Subjek penelitian adalah wanita dengan riwayat bersalin di RSUP Sanglah dari tanggal 1 Januari 2015 hingga 31 Desember 2015, berumur 12-50 tahun, Hb <11g/dl, MCV <80fl, MCHC <31% dengan Ferritin Serum <20µg/dl, <50mg/dl dan TIBC >350 mg/dl serta kehamilan tunggal.Hasil penelitian menunjukkan prevalensi BBLR pada ibu ADB adalah sebesar 23,5%. Berdasarkan umur ibu pada saat melahirkan, didapatkan kejadian BBLR pada ibu dengan umur <20 tahun sebesar 50,0%, 23,1% pada ibu dengan umur 20-35 tahun, dan 0% pada ibu dengan umur >35 tahun dan angka BBLR berdasarkan derajat anemia ibu antara lain: (1) pada ibu dengan anemia ringan sekali didapatkan kelahiran BBLR sebesar 0%, (2) pada ibu dengan anemia ringan sebesar 28,6%, (3) pada ibu dengan anemia sedang sebesar 0%, (4) pada ibu dengan anemia berat sebesar 0%. Kata kunci: Prevalensi, Anemia defisiensi besi, bayi berat lahir rendah
GAMBARAN HbA1c PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN KOMPLIKASI ULKUS KAKI DIABETIK DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE APRIL-SEPTEMBER 2014 I Made Dwikayana; A A Ngurah Subawa; I W P Sutirta Yasa
E-Jurnal Medika Udayana Vol 5 No 7 (2016): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.032 KB)

Abstract

Uncontrolled diabetes mellitus type 2 causes complication of diabetic foot ulcers. HbA1c can be used as a parameter DM because of a strong correlation with blood glucose. This study determines the characteristic HbA1c in type 2 diabetes mellitus patient with complications of diabetic foot ulcer at Internal Medicine Policlinic Sanglah Hospital from April to September 2014 based on age, sex, body weight, blood glucose level 2 hours post prandial, and the degree of foot ulcers. This study was an observational with cross sectional descriptive study and sample were taken by total sampling. The data obtained from secondary data from medical record of patients. The results showed 32 samples from most of the patients are between 55-59 years of age with bad HbA1c status as many as 6 people. Based on sex, men with bad HbA1c status as many as 12 people. Patients with normal weight with bad HbA1c status as many as 10 people. Patients with blood glucose control 2 hours post prandial bad with bad HbA1c status as many as 18 people. Patient with stage I of diabetic foot ulcers with bad HbA1c status as many as 9 people and stage IV with bad HbA1c status as many as 8 people. It can be concluded that the control of diabetes based on HbA1c overview of each variable tends to lead to bad control of diabetes mellitus. This results are expected to be the basis for further research to seek treatment and prevention of complications diabetes mellitus more effectively.
HUBUNGAN ANTARA KADAR GULA DARAH PUASA DENGAN KADAR TRIGLISERIDA PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH BALI Kadek Pipin Rahina Soethama; Sianny Herawati; Ngurah Subawa
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 5 (2020): Vol 9 No 05(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i5.P10

Abstract

Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit metabolik dengan hiperglikemi sebagai penanda khasnya dan dapat terjadi resistensi insulin pada DM Tipe 2 yang dikaitkan dengan kenaikan kadar Trigliserida (TG). Menjaga kadar gula darah menjadi dasar dari pengobatan DM Tipe 2. Menormalkan kadar gula darah biasanya disertai pula dengan turunnya kadar TG. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adakah hubungan kadar Gula Darah Puasa (GDP) dengan kadar TG pada penderita DM Tipe 2 di RSUP Sanglah Bali. Penelitian ini dilakukan pada 1 Maret-30 Juni 2016 menggunakan studi analitik cross-sectional terhadap 100 penderita DM Tipe 2 dengan menggunakan data sekunder. Sampel merupakan penderita DM Tipe 2 yang pada rekam medisnya menerangkan hasil pemeriksaan GDP dan TG pada hari yang sama dan berobat di RSUP Sanglah Bali pada periode 1 Januari-31 Desember 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara kadar GDP dengan kadar TG (r= 0,772; p= 0,000).Melihat hasil yang ada, penderita DM Tipe 2 harus menjaga kadar gula darahnya dengan baik. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Gula Darah Puasa, Trigliserida
UMUR DAN JENIS KELAMIN SEBAGAI FAKTOR RISIKO PENINGKATAN KADAR SERUM GLUTAMIK-PIRUVIC TRANSAMINASE (SGPT) PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH Made Yuliantari Dwi Astiti; Sianny Herawati; A.A. Ngurah Subawa
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 9 (2021): Vol 10 No 09(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i9.P13

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) adalah suatu merupakan penyakit kronis yang membutuhkan perawatan medis serta manajemen pasien untuk mencegah adanya komplikasi yang bersifat akut dan mengurangi risiko komplikasi jangka panjang. Hiperglikemia kronis yang terjadi berhubungan dengan kerusakan, disfungsi, dan kegagalan berbagai organ, salah satunya organ hepar. Peningkatan aktivitas enzimserum glutamik-piruvik transaminase (SGPT) sering terjadi pada penderita DM. Tujuan: Mengetahui umur dan jenis kelamin sebagai faktor resiko peningkatan kadar SGPT pada pasien DM Tipe 2 di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Periode Juni 2015-Desember 2015. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Data menggunakan seluruh penderita DM tipe 2 yang dirawat inap di RSUP Sanglah Denpasar pada Juni 2015 – Desember 2015 yang melakukan pemeriksaan SGPT. Metode total sampling digunakkan untuk menentukan jumlah sampel. Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS. Hasil: Terdapat 60 subyek DM. Mayoritas pasien berumur >55 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Hasil Penelitian didapatkan kadar SGPT mayoritas <33 IU/L. Berdasarkan analisis bivariat, kadar SGPT berdasarkan jenis kelamin menunjukkan hasil RR 2,864 (1,066-7,691) dan berdasarkan umur menunjukkan hasil 1,733 (0,710-4,233). Simpulan: Jenis kelamin sebagai faktor risiko peningkatan kadar SGPT dan umur belum tentu sebagai faktor risiko peningkatan kadar SGPT pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUP Sanglah Kata Kunci:DM Tipe 2, Kadar SGPT, Umur, Jenis Kelamin
PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN SEBELUM DAN SESUDAH HEMODIALISIS PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR BALI Ni Made Evitasari Dwitarini; Sianny Herawati; A.A. Ngurah Subawa
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 4 (2017): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.652 KB)

Abstract

Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan penyakit penurunan fungsi ginjal untuk ekskresi sisa metabolisme dan menyeimbangkan cairan tubuh. Anemia sering ditemukan pada pasien PGK dengan prevalensi dan keparahan sebanding dengan keparahan PGK. Anemia pada PGK berkaitan dengan peningkatan morbiditas dan penurunan kualitas hidup. Hemodialisis rutin dilakukan sebagai terapi pengganti fungsi ginjal pada penderita gagal ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar hemoglobin sebelum dan sesudah hemodialisis pada pasien PGK di RSUP Sanglah Bali. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik cross-sectional dengan menggunakan data sekunder dan teknik consecutive sampling. Sampel yang digunakan berjumlah 76 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data diambil dan dicatat dari rekam medis pasien PGK di RSUP Sanglah Bali periode 1 Januari 2014-31 Desember 2016. Uji statistik dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov didapatkan data berdistribusi normal, dimana nilai p sebelum hemodialisis adalah 0,752 dan nilai p sesudah hemodialisis adalah 0,498. Uji t berpasangan didapatkan nilai p=0,018 (p<0,05), dengan rerata sebelum hemodialisis adalah 9,0195 sedangkan rerata sesudah hemodialisis adalah 9,4141. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna kadar hemoglobin sebelum dan sesudah hemodialisis pada pasien PGK, dimana kadar hemoglobin sesudah hemodialisis lebih tinggi daripada kadar hemoglobin sebelum hemodialisis.
KARAKTERISTIK PENDERITA KETOASIDOSIS DIABETIK PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WANGAYA PERIODE?1 JANUARI 2017 – 31 DESEMBER 2019 Komang Vika Nariswari Ratna Kinasih; Anak Agung Ngurah Subawa; Sianny Herawati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 5 (2021): Vol 10 No 05(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i5.P05

Abstract

menjadi target untuk ditangani dengan segera. Ketoasidosis Diabetik adalah komplikasi dari Diabetes Mellitus tipe 2 akibat penurunan kadar insulin dalam darah karena meningkatnya kadar glukosa. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita Ketoasidosis Diabetik pada Pasien dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya periode 1 Januari 2017 – 31 Desember 2019. Metode : Metoda deskriptif studi potong lintang digunakan pada penelitian ini. Sampel dikumpulkan dengan menggunakan data sekunder dari rekam medik RSUD Wangaya dengan sampel penelitian sebanyak 33 orang dengan teknik total sampling dan mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil : Sebagian besar kejadian kasus ditemukan pada perempuan dan pada kelompok usia 46 – 55 tahun. Pada sebagian besar kasus kadar gula darah sewaktu berkisar antara 451 mg/dL hingga 550 mg/dL. Kadar keton urin 1+, 2+, dan 3+ memiliki frekuensi yang sama. Kadar pH darah pada kasus sebagian besar berkisar antara 7 hingga 7,24 dan kadar serum bikarbonat (HCO3) pada kasus sebagian besar adalah kurang dari 10 mEq/L. Sebagian besar kasus memiliki derajat berat Ketoasidosis Diabetik. Kesimpulan : Sebagian besar kasus Diabetes Mellitus tipe 2 dengan Ketoasidosis Diabetik mengalami Ketoasidosis Diabetik derajat berat. Kata kunci : Ketoasidosis Diabetik, Diabetes Mellitus Tipe 2, Karakteristik
HUBUNGAN KADAR ASAM URAT TERHADAP KEJADIAN STROKE ISKEMIK DI RSUP SANGLAH TAHUN 2016 Claudia Anastasia; AA Ngurah Subawa
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i7.P04

Abstract

ABSTRAK Stroke adalah kelainan neurologis yang merupakan salah satu penyebab utama kecacatanjangka panjang dan kematian di seluruh dunia. Menurut WHO, pada tahun 2012 diperkirakan terdapat6,7 juta orang meninggal akibat penyakit stroke sehingga penyakit ini menjadi salah satu dari 3penyebab utama hilangnya tahun-tahun kehidupan akibat mortalitas atau kematian dini. Asam uratyang merupakan hasil dari metabolisme putin dalam tubuh manusia ditemukan memiliki hubunganerat dengan beberapa faktor risiko penyakit kardiovaskuler yang juga menjadi faktor risiko penyakitstroke. Namun, hubungan antara keduanya masih kontroversial. Penelitian ini dilakukan denganmetode penelitian potong-lintang analitik menggunakan data sekunder untuk mengetahui hubunganantara kadar asam urat terhadap kejadian stroke iskemik di RSUP Sanglah. Sampel pada penelitian inidiambil dengan menggunakan cara consecutive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusihingga tercapai jumlah sampel yang diperlukan. Penelitian ini menggunakan data rekam medis daritahun 2016, dengan jumlah sampel sebanyak 25 orang untuk pasien kelompok kasus dan 25 oranguntuk pasien kelompok kontrol. Pada penelitian ini didapatkan bahwa rerata kadar asam uratkelompok kasus adalah 6,12±1,88 mg/dl dan lebih tinggi dibandingkan dengan kadar asam urat padakelompok kontrol (5,23±1,36 mg/dl). Rerata kadar asam urat pada pasien laki-laki (5,98±1,54 mg/dl)lebih tinggi dibandingkan dengan pasien perempuan (5,27±1,84 mg/dl). Namun pada uji chi-square,didapatkan bahwa tidak ada asosiasi yang signifikan antara kadar asam urat dengan kejadian strokeiskemik. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kadar asam urat tidak memilikihubungan yang signifikan terhadap kejadian stroke iskemik. Kata kunci: Stroke iskemik, kadar asam urat, RSUP Sanglah ABSTRACT Stroke is a neurological deficit that is one of the major causes of long-term disability andmortality all over the world. According to WHO, in 2012 approximately 6.7 million people diedbecause stroke, making this disease as one of the threee major causes of losing years of life because ofmortality and premature death. Uric acid, which is a result from purin metabolism in human’s body, isfound to have a correlation with some of cardiovascular diseases’ risk factors which is also risk factorsof stroke. But, the association between uric acid and stroke itself is remain controversial. This studywas an analytical cross-sectional study, using secondary data to find out the association betweenserum uric acid levels with ischemic stroke events in patients at RSUP Sanglah. Samples that wereused in this study was taken with consecutive sampling method for all the samples that were matchedto the inclusion and exclusion criterias until the minimal amount of the samples needed was reached.This study used medical records data in 2016 with 25 cases of ischemic stroke and 25 controls. In thisstudy, it was found that the mean serum uric acid in cases group was 6.12±1.88 mg/dl and was higherthan controls’ mean serum uric acid (5.23±1.36 mg/dl). Mean serum uric acid in men (5.98±1.54mg/dl) was higher in women (5.27±1.84 mg/dl). However, from Chi-square test, it was found thatthere was no significant association between serum uric acid level and ischemic stroke events. Basedon this study, we can conclude that serum uric acid has no significant association with ischemic strokeevents. Keywords: ischemic stroke, serum uric acid level, RSUP Sanglah
Perbedaan kadar kolesterol low density lipoprotein (LDL) pada diabetes mellitus tipe 2 dengan hipertensi serta tanpa hipertensi di RSUP Sanglah Denpasar, Bali Stephanie Inge Wijanarko; Sianny Herawati; Anak Agung Ngurah Subawa
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 3 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.216 KB)

Abstract

Diabetes Mellitus was a disease with high blood sugar levels that allows the patient to an increase in blood pressure. Increased blood pressure itself is suspected because of the increased levels of LDL. This study aims to prove whether there is a difference between the levels of LDL in patients of DM type 2 with hypertension and without hypertension. The study was cross sectional analytic to determine differences in levels of LDL cholesterol in DM type 2 with or without hypertension. . The mean levels of LDL in patients with DM type 2 with hypertension (n=28) is 127.72 ± 73.7 (41-435) while the mean LDL levels in patients with DM type 2 without hypertension (n=25) was 73.70 ± 27.47 (6.46 - 120) with p = 0.0001. From these results it can be concluded that, there were significant differences for average levels of LDL patients of DM type 2 with hypertension and patients with DM type 2 without hypertension. Keywords: Diabetes Mellitus, Hypertension, LDL, Sanglah Hospital
PERBEDAAN KADAR HBA1C PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN DAN TANPA KEJADIAN KAKI DIABETIK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR Ni Nyoman Yuliantini; Sianny Herawati; A.A. Ngurah Subawa
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.832 KB) | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i4.P11

Abstract

ABSTRAKDiabetes melitus (DM) tipe 2 yang tidak terkontrol dapat menimbulkan berbagai komplikasi, salah satunya kaki diabetik. HbA1c merupakan uji biokimia untuk mengetahuirerata glukosa darah dalam periode dua sampai tiga bulan. Pemantauan kadar glukosa darahmerupakan hal penting dalam pencegahan dan penatalaksanaan komplikasi DM tipe 2.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan bermakna dari kadarHbA1c pasien DM tipe 2 dengan dan tanpa kejadian kaki diabetik di RSUP Sanglah Denpasar.Rancangan penelitian menggunakan observasional analitik cross-sectional pada 100 penderitaDM tipe 2. Sampel dipilih dengan metode consecutive sampling. Sampel merupakan penderitaDM tipe 2 dengan dan tanpa kaki diabetik yang pada rekam medisnya mencantumkan hasilpemeriksaan HbA1c dan berobat di RSUP Sanglah Denpasar periode Maret 2015-Februari2016. Penelitian ini menggunakan SPSS 23 sebagai alat bantu analisis pada 44 pasien kakidiabetik dan 56 pasien tanpa kaki diabetik. Uji yang digunakan adalah uji Kolmogorov Smirnovyang menunjukkan data berdistribusi normal dengan nilai p untuk masing-masing kelompokadalah 0,200 (p>0,05), uji Lavene menunjukkan data mempunyai varian sama (homogen)dengan signifikansi 0,051 (sig>0,05), dan Independent t-test menunjukkan nilai p=0,000(p<0,05) dengan perbedaan rerata kadar HbA1c pada kedua kelompok adalah 1,084.Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermaknakadar HbA1c pasien DM tipe 2 dengan dan tanpa kaki diabetik di RSUP Sanglah Denpasar,dimana rerata kadar HbA1c pasien kaki diabetik lebih tinggi dibandingkan tanpa kaki diabetik,sehingga perlu dilakukan pengontrolan dan pemantauan glukosa darah yang teraturmenggunakan uji HbA1c agar komplikasi kaki diabetik dapat dihindari. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Kaki Diabetik, HbA1c