Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Komponen Kimia dan Ikatan Pembuluh terhadap Kekuatan Tarik Bambu Effendi Tri Bahtiar; Naresworo Nugroho; Surjono Suryokusumo; Dwi Premadha Lestari; Lina Karlinasari; Deded Sarip Nawawi
Jurnal Teknik Sipil Vol 23 No 1 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2016.23.1.4

Abstract

Abstrak. Bambu merupakan salah satu contoh material komposit alami yang tersusun atas beraneka ragam sel. Sel-sel fiber yang tersusun menjadi ikatan pembuluh diyakini merupakan sel yang paling bertanggung jawab terhadap kekuatan bilah bambu. Selain jumlah ikatan pembuluh, kekuatan tarik bambu juga dipengaruhi oleh kandungan komponen kimia dan bagian ruas/buku. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah ikatan pembuluh, maka kekuatan tarik bambu semakin besar. Kandungan lignin meningkatkan kekuatan tarik pada bagian ruas secara proporsional (linier), bahkan kuadratik pada bagian buku. Peningkatan kandungan lignin dalam selang yang ditemukan dalam penelitian ini (33%) selalu meningkatkan kekuatan tarik bilah bambu sehingga titik balik maksimum tidak dapat ditemukan. Tingginya nilai korelasi kekuatan tarik dengan proporsi alpha selulosa terhadap holoselulosa pada bagian ruas memperlihatkan pentingnya peranan proporsi alpha selulosa tersebut, meskipun prosedur best subset regression tidak membacanya akibat terjadinya autokorelasi. Abstract. Bamboo is natural composite material which is built from many types of cells. Fibers cells which are bundled become vascular bundles have highest contribution toward the strength of bamboo split among others. Besides the amount of vascular bundles, the bamboo split strength is also determined by chemical component of cell walls and its position (internodes/node). This research reported that the tensile strength has positive correlation with the amount of vascular bundles. If the amount vascular bundles increase, then the tensile strength also increases. The increasing of lignin contents in cell wall proportionally and quadratically increases the tensile stress of internodes and node of bamboo split, respectively. This research did not found the maximum stationer  point of quadratic equation for lignin content effect toward bamboo split tensile strength, thus the tensile strength always increase along with the lignin content in this research range (<33%). Correlation value between tensile strength and ratio of alpha cellulose to holocellulose is high which prove that alpha cellulose highly contribute to the tensile strength even though best subset regression procedure could not identified this phenomenon because of its autocorrelation occurrence.
Karakteristik Kekuatan Leleh Lentur Baut Besi dengan Beberapa Variasi Diameter Baut Evalina Herawati; Sucahyo Sadiyo; Naresworo Nugroho; Lina Karlinasari; Fengky Satria Yoresta
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.4

Abstract

AbstrakBaut merupakan salah satu jenis alat sambung mekanis atau pengencang yang banyak digunakan dalam sambungan kayu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kekuatan leleh lentur (Fyb) dari tiga ukuran diameter baut besi yang umum digunakan untuk sambungan kayu dan satu ukuran diameter baut baja sebagai pembanding. Spesifikasi baut yang digunakan dilihat dari dimensi dan komposisi penyusunnya. Nilai Fyb baut diperoleh dari pengujian momen leleh lentur dengan mengacu pada standar ASTM F1575. Hasil pengujian menunjukkan baut besi yang digunakan berasal dari bahan baja karbon rendah sedangkan baut baja berasal dari bahan baja karbon sedang. Nilai Fyb baut baja lebih tinggi dibandingkan baut besi. Nilai Fyb baut besi diameter 1/2 inci berbeda nyata dengan nilai baut diameter 5/8 dan 3/4 inci. Nilai Fyb ketiga diamater baut berada di atas nilai Fyb baut yang tercantum dalam SNI 7973:2013 tentang Spesifikasi desain untuk konstruksi kayu.AbstractBolt is one of the mechanical fasteners that are widely used in wood connections. This study aims to determine the bending yield strength (Fyb) of three measures of bolt diameter made from iron which commonly used for the connection of wood and one measure of bolt diameter made from steel as a comparison. Specifications of bolts used can be seen from the dimensions and composition of the constituent. Testing of the bending yield strength was conducted according to ASTM F1575. The results showed that iron bolts used comes from low carbon steel, while steel bolts derived from medium carbon steel materials. Fyb value of steel bolts was higher than iron bolt. Fyb value of 1/2 inch diameter iron bolts was significantly different from the value of the bolts 5/8 and 3/4 inch in diameter. The Fyb value of three bolt diameter were above the Fyb value listed in SNI 7973:2013 concerning design specification for wood constructions.
Desain Kekuatan Sambungan Geser Tunggal Menggunakan Paku pada Lima Jenis Kayu Indonesia Riezky Rakamuliawan Sutanto; Sucahyo Sadiyo; Naresworo Nugroho
Jurnal Teknik Sipil Vol 25 No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2018.25.1.4

Abstract

AbstrakStandar Nasional Indonesia (SNI) 7973 (2013) adalah standar yang umum digunakan dalam penentuan konstruksi kayu di Indonesia. Dalam SNI-7973 terdapat cara penentuan nilai desain sambungan kayu secara teoritis yang saat ini masih mengadopsi nilai-nilai yang diperoleh dari National Desain Specification (NDS) (2012). NDS sendiri disusun berdasarkan sifat-sifat kayu berdaun jarum yang umum digunakan di Amerika. Nilai-nilai yang diadopsi tersebut tentunya meningkatkan resiko ketidaksesuaian jika digunakan langsung di Indonesia, hal ini karena Indonesia sebagai negara tropis memilki kayu dengan rentang berat jenis yang lebih besar dan didominasi oleh kayu berdaun lebar dengan struktur anatomi yang berbeda. Penelitian ini membandingkan nilai desain sambungan kayu yang diperoleh dari pengujian secara empiris dengan nilai desain sambungan yang dihasilkan secara teoritis berdasarkan SNI-7973 dan Eurocode 5 (EC-5) (2004). Hasil penelitian menunjukan nilai desain sambungan kayu terendah diperoleh pada sambungan kayu Paraserienthes falcataria menggunakan paku 10 cm sebesar 53.66 kgf dan nilai tertinggi diperoleh pada sambungan kayu Shorea laevifolia menggunakan paku 15 cm sebesar 149.89 kgf. Penentuan nilai desain teoritis SNI-7973 menghasilkan nilai lebih rendah sebesar 13.65% sedangkan EC-5 menghasilkan nilai lebih tinggi 8.87% dibandingkan nilai yang diperoleh pada pengujian empiris.AbstractStandar Nasional Indonesia (SNI) 7973 (2013) is a standard that commonly used in the determination of wood construction in Indonesia. In SNI-7973 there is a theoretical method to determining the design value of wood connection that currently still adopt the values derived from National Design Specification (NDS) (2012). NDS itself is structured based on the properties of softwood that commonly used in America. The values adopted are certainly increase the risk of incompatibility if used directly in Indonesia, this is because Indonesia as a tropical country has wood with wider range of specific gravity and dominated by hardwood with different anatomical structures. This study compares the value of single shear wooden connection design obtained from empirical testing with theoretically generated connection values based on SNI-7973 and Eurocode 5 (EC-5) (2004). The results showed the lowest design value of wood connections obtained on Paraserienthes falcataria wood connection using 10 cm nail by53.66 kgf and the highest value obtained on Shorea laevifolia wood connection using 15 cm nail by 149.89 kgf. The determination of the theoretical design value based on SNI-7973 yielded a lower value of 13.65% while EC-5 yielded a higher value of 8.87% than the value obtained from empirical testing. 
Teknik Rekayasa Pemadatan Kayu II : Sifat Fisik dan Mekanik Kayu Agatis (Agathis lorantifolia Salisb.) Terpadatkan dalam Konstruksi Bangunan Kayu Sulistyono .; Naresworo Nugroho; Surjono Surjokusumo
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 17 No. 1 (2003): Buletin Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.017.1.%p

Abstract

Pemadatan kayu dapat dilakukan dengan dua langkah utama, yaitu perlakuan perendaman, perebusan dan pengukusan agar kayu bersifat plastis dan perlakuan pemadatan pada arah tegak lurus serat. Proses plastisasi dan pemadatan kayu yang sesuai dapat meningkatkan sifat fisik dan sifat mekanik kayu terpadatkan dan berkualitas tinggi. Kualitas yang dimaksud adalah kemudahan proses pemadatan, stabilitas dimensi, keseragaman dan peningkatan kekuatan papan kayu, kehalusan corak permukaan papan dan fiksasi permanen.
KEKUATAN BAMBU BETUNG (Dendrocalamus asper Backer ex K.Heyne) MENAHAN GAYA NORMAL TEKANAN DAN TARIKAN Naresworo Nugroho; Effendi Tri Bahtiar; Arya Budhijatmiko Lelono
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 40, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2022.40.1.37-48

Abstract

Bambu merupakan salah satu hasil hutan multiguna yaitu sebagai bahan baku mebel, kerajinan, alat musik, dan konstruksi. Besarnya kekuatan tekan dan tarik bambu sudah dimanfaatkan dalam desain konstruksi, namun masih terbatas, seperti untuk kolom atau penguat beton. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sifat mekanis bambu betung (Dendrocalamus asper Backer ex K.Heyne,) umur empat tahun, yaitu kekuatan tekan sejajar serat, tarik sejajar serat, dan tarik tegak lurus serat, serta nilai 5% batas bawah. Ukuran contoh uji dan pengujian sifat mekanis bambu betung mengacu pada ISO 22157-2019. Pengujian tekan sejajar serat dan tarik tegak lurus serat menggunakan UTM SATEC/Baldwin, sedangkan pengujian tarik sejajar serat menggunakan UTM Chun Yen. Analisis data menggunakan aplikasi Easyfit 5,5 untuk mendapatkan nilai 5% batas bawah tiap pengujian. Rata-rata kuat tekan sejajar serat yang diperoleh yaitu sebesar 52,97 N/mm², sedangkan nilai rata-rata kuat tarik sejajar serat sebesar 109,03 N/mm². Rata-rata kuat tarik tegak lurus serat dengan ukuran lubang uji 25 dan 40 mm sebesar 2,53 dan 1,19 N/mm², sedangkan nilai rata-rata MOE tekan dan MOE tarik sejajar serat sebesar 2.674 dan 9.542 N/mm². Nilai 5% batas bawah untuk kuat tekan sejajar serat sebesar 38,10 N/mm², tarik sejajar serat sebesar 61,78 N/mm², sedangkan untuk kuat tarik tegak lurus serat sebesar 0,60 N/mm². Nilai MOE tekan dan MOE tarik sejajar serat yang diperoleh sebesar 1.105 dan 6.076 N/mm².
The Effect of Jabon Veneer Quality on Laminated Veneer Lumber Glue Bond and Bending Strength Istie Rahayu; Wayan Darmawan; Naresworo Nugroho; Remy Marchal
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.873 KB) | DOI: 10.51850/jitkt.v13i2.27

Abstract

Jabon (Anthocephalus cadamba) is a fast  growing wood species widely planted by community in Indonesia. Jabon has large percentage of juvenile wood which affect its veneer quality. This research objective were to determine the effects of wood juvenility and pretreatment on lathe checks, surface roughness and contact angle of the 3.00 mm rotary-cut jabon veneer and to analyze the impact of lathe checks frequency on the LVL glue bond and bending strength.  Jabon logs were subjected to boiling in 75 °C water for4 h. Then they were peeled to produce 3.00 mm veneers in thickness. Frequency, length and depth of lathe checks were measured per 10 cm veneer length by using optical microscope.  Laminated  veneer lumber  (20x20x500) mm3   were made from  7-ply of jabon veneers by using Poly Vinyl Acetate (PVAc) as adhesive.  Glue bond strength and bending strength were measured by UTM Instron.   The results showed lathe check (frequency, length and depth), surface roughness and contact angle were influenced by juvenility. Glue bond strength, Modulus of Elasticity (MOE) and Modulus of Rupture (MOR) of jabon LVL decreased as frequency of lathe check increased.
Penampilan Kayu Kelapa (Cocos nucifera Linn) Bagian Dalam yang Dimampatkan Performance of Densified Inner-Part of Coconut Wood (Cocos nucifera Linn) Isna Yuniar Wardhani; Surjono Surjokusumo; Yusuf Sudo Hadi; Naresworo Nugroho
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 4, No 2 (2006): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.01 KB) | DOI: 10.51850/jitkt.v4i2.277

Abstract

The inner-part of coconut wood has low to medium density, which have not been utilized yet optimally as construction material. The purpose of this study was to improve the properties of inner-part of coconut wood by densification, such as it can be considered as a substitute of wood. Pre-treatments were steaming (a1) and boiling (a2) at 120°C for 15 minutes, and pressing temperature were 150°C (b1) and 175°C (b2). Deformation targets were 10% (c1), 20% (c2) and 30% (c3) from the initial thickness. The results indicated that the treatments did not affect to some of the densified wood properties. The appearance of panel surface was smooth and shine, but darker than that of solid. The increasing of density was 4.43 ~ 27.21% with strain recovery of 0.17 ~ 0.52 after soaking in water for 24 hours at room temperature.
Bond Ability of Oil Palm Xylem with Isocyanate Adhesive Atmawi Darwis; Muhammad Y Massijaya; Naresworo Nugroho; Eka M Alamsyah; Dodik R Nurrochmat
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.796 KB) | DOI: 10.51850/jitkt.v12i1.81

Abstract

Oil palm xylem composed of vascular bundles and parenchyma tissue and directly related to its properties. Utilization of oil palm xylem into the wood laminate products requires information on its bond ability to adhesive used. Isocyanate adhesive is a prospective adhesive due to its various advantages compared to other adhesives. This study aimed to obtain information about the bond ability of the oil palm xylem with isocyanate adhesive. The results showed that isocyanate adhesive has good wettability on oil palm xylem indicated by its contact angle of below 90°. Isocyanate adhesive also showed good performance by looking at the value of wood failure and delamination. However, the shear strength of laminated oil palm xylem was low. Wood failure occurred in the parenchymal tissues region.Key words: bond ability, isocyanates, laminated board, oil palm xylem
Modifikasi Faktor Konversi Format dan Faktor Normalisasi Reliabilitas dalam Standar ASTM D 5457 untuk Penyempurnaan Standar SNI 7973:2013 (Modification of Format Conversion Factor and Reliability Normalization Factor in the ASTM D 5457 Standard Applicable for SNI 7973:2013 Standard) Leonard D D Liliefna; Naresworo Nugroho; Lina Karlinasari; Sucahyo Sadiyo
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 17, No 1 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.616 KB) | DOI: 10.51850/jitkt.v17i1.458

Abstract

The Indonesian SNI 7973:2013 standard for wood design specification was an adopted standard from the USA national design specification (NDS) 2012. However, due to the climate differences between USA and Indonesia, the SNI 7973:2013 standard should be further modified in order to meet the climate condition in Indonesia. Format conversion factor (KF) and reliability normalization factor (KR) specified in the ASTM D 5457 standard contained the snow load for the duration of load factor. Therefore, the objectives of this study were (1) to replace snow load with occupancy live load to revise KF, (2) to use the revised KF and safety factors for softwood and hardwood to perform the reliability analysis on calculated resistance factors (fc), (3) calculate the new KR values using the revised fc. The result of FORM reliability analysis showed that there were, on the average, 15 and 26% increases of the calculated KR values, respectively, for softwood and hardwood, over the calculated KR values according to the ASTM D 5457 standard for each given coefficient of variation of material resistance distribution.
Evaluasi Kondisi Komponen Pengaku pada Menara Pendingin dan Perkiraan Sisa Masa Pakainya Effendi T. Bahtiar; Wilis Wiryawan; Kholiyah Kholiyah; Rita K. Sari; Arinana Arinana; Naresworo Nugroho
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (943.749 KB) | DOI: 10.51850/jitkt.v14i1.11

Abstract

Menara pendingin merupakan sistem pendinginan yang melepaskan panas ke udara untuk menurunkan suhu air melalui mekanisme penguapan. Air panas ditumpahkan dari puncak ke dasar menara, melewati sirip-sirip sehingga air terpencar dan kontak dengan angin dingin.  Penelitian ini ditujukan untuk mengukur degradasi komponen pengaku pada bangunan menara pendingin yang telah berumur 15 tahun, serta menduga sisa umur pakainya. Beberapa pengujian dilakukan antara lain identifikasi jenis kayu, uji sisaan bahan pengawet, pengukuran degradasi kerapatan, uji mekanis statis, dan uji rangkak. Kayu diidentifikasi sebagai Douglas fir (Pseudotsuga menziesii). Hasil pengujian menunjukkan bahwa dinding sel kayu telah terdegradasi,  kerapatan kayu di lapisan luar telah menurun di banding kontrol, dan sifat-sifat mekanis kayu telah terdegradasi sehingga nilainya menjadi lebih rendah daripada spesifikasi NDS 2005. Uji creep juga menunjukkan bahwa kekuatan kayu terus menurun seiring dengan semakin lamanya jangka waktu pembebanan. Berdasarkan laju deteriorasi kayu dan penurunan kekuatan selama jangka waktu pembebanan, sebuah model matematika dibangun untuk menduga sisa masa pakai kayu. Model yang dibangun menghasilkan dugaan sisa masa pakai komponen pengaku yaitu 7 tahun lagi.
Co-Authors . Febriyani A.A. Ketut Agung Cahyawan W Adi Satriawan Adik Bahanawan Adzkia, Ulfa Agustina Hayatunnufus Agustina Hayatunnufus Agustina Hayatunnufus Akrom, Akrom Alamsyah, Eka M Arinana Arinana Arya Budhijatmiko Lelono Arya Budhijatmiko Lelono Asep Denih Atmawi Darwis Atmawi DARWIS Azhar Anas Bahanawan, Adik Budi Indra Setiawan Christiawan, Nikolaus Adven Dalhar Susanto Danang S. Adi Dede Hermawan Deded Sarip Nawawi Dina SETYAWATI Dodik R Nurrochmat Dwi J Priyono Dwi Joko Priyono Dwi Premadha Lestari Effendi Tri Bahtiar Eka M Alamsyah Erizal , Evalina Herawati Fengky Satria Yoresta Gina Bachtiar Gina Gina Bachtiar Gustian Rama Putra Gustian Rama Putra Hady Ikhsan Han Roliadi Han Roliandi Hartanto, Rachmat Pudjo Hasanuddin Hasanuddin Hayatunnufus, Agustina I Wayan Darmawan Ignasia Maria Sulastiningsih Indah Sulistyawati Indah Sulistyawati, Indah Isna Yuniar Wardhani Istie Rahayu Jajang Suryana Karlinasarie, Lina Khairun Hidayat Khairun Hidayat Kholiyah Kholiyah Larasatie, Pipiet Leonard D D Liliefna Leopold O. Nelwan Lestari, Dwi Premadha Lina Karlinasari Lusita WARDANI Massijaya, Muhammad Y Muh Yusram Massijaya Muh. Sakti Muhammadiah Muh. Yusram Massijaya Muhammad Y Massijaya Nurhaida, . Remy Marchal Rentry Augusti Rentry Augusti N Riezky Rakamuliawan Sutanto Rita Kartika Sari S. Adi, Danang Sucahyo Sadiyo Sulistyono Sulistyono . Sulistyono Sulistyono Surjono Surjokusumo Surjono Surjokusumo Surjono Surjokusumo Surjono Surjokusumo Surjono Suryokusumo Surjono Suryokusumo Surjono Suryokusumo, Surjono Suryokusumo, Surjono Sutanto, Riezky Rakamuliawan Teguh Darmawan Teguh DARMAWAN Wahyu Dwianto Wahyu DWIANTO Widyarko Widyarko Wilis Wiryawan Yusuf S Hadi Yusuf S. Hadi Yusuf Sudo Hadi