Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Analisis Rhodamin B Pada Perona Mata (Eye Shadow) Yang Beredar Di Wilayah Kota Palangka Raya Dengan Metode KLT Dan Spektrofotometri Uv-Vis Agenia Rahman; Rahmadani Rahmadani; Ali Rakhman Hakim
Sains Medisina Vol 1 No 6 (2023): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan observasi secara langsung dilakukan oleh peneliti di 3 pasar tradisional, 3 pasar malam, 9 toko kosmetik, 7 lapak di Kecamatan Jekan Raya dan Kecamatan Pahandut ditemukan sebagian perona mata (eye shadow) tidak memiliki izin edar dari Badan POM. Setiap harinya tempat tersebut dikunjungi pembeli untuk membeli kosmetik. Khusus kosmetik perona mata (eye shadow), terjual sebanyak 1 sampai 3 buah perona mata (eye shadow) dalam 1 minggunya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui kadar Rhodamin B pada perona mata (eye shadow). Metode penelitian kualitatif dengan menggunakan KLT dan kuantitatif menggunakan Spektrofotometri UV-Vis. Hasil uji kualitatif menggunakan KLT sampel perona mata (eye shadow) menunjukkan sampel positif mengandung Rhodamin B, kemudian dilakukan uji kuantitatif untuk mengetahui kadar Rhodamin B pada sampel, dari hasil uji ditemukan Rhodamin B dengan kadar keempat sampel berturut-turut 3,757 mg/kg; 3,523 mg/kg; 3,784 mg/kg, dan 7,875 mg/kg. Simpulan dari penelitian pada sampel perona mata (eye shadow) yang beredar di wilayah kota Palangka Raya teregistrasi BPOM maupun tidak teregistrasi BPOM positif mengandung Rhodamin B.
Pengaruh Waktu Pemanasan Bayam Merah dan Bayam Hijau Terhadap Kadar Oksalat dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis Sheila Nabila Afri; Rahmadani Rahmadani; Mia Audina
Sains Medisina Vol 1 No 6 (2023): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT. Spinach is a vegetable that is often consumed by Indonesian people with various preparations. Spinach has a high nutritional content, but spinach also has anti-nutrients, one of which is oxalate. How to cook spinach can affect the oxalate content in it. Too high oxalate content in spinach can interfere with kidney function. The purpose of this study was to see the effect of heating time for red spinach and green spinach on oxalate levels. This study uses an experimental type with a cross-sectional research design. The results of the quantitative analysis obtained were a decrease in oxalate levels in both red and green spinach. Oxalate levels in green spinach at minute 0 was 7.589 ppm, minute 3 was 7.234 ppm, minute 5 was 6.693 ppm, minute 8 was 6.255 ppm, minute 10 was 5.505 ppm. For red spinach, 0 minutes was 12.068 ppm, 3 minutes was 11.672 ppm, 5 minutes was 9.776 ppm, 8 minutes was 7.901 ppm, and 10 minutes was 6.464 ppm. Based on the results of the study, it can be concluded that heating with different time intervals (minutes) showed a significant effect on oxalate levels in red and green spinach, namely a decrease in oxalate levels.
Evaluasi Dan Uji Aktivitas Formulasi Sediaan Serum Gel Anti Jerawat Ekstrak Batang Brotowali (Tinospora crispa L.) Saidatun Nisa; Siti Malahayati; Rahmadani Rahmadani
Sains Medisina Vol 1 No 6 (2023): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang masalah pada penelitian ini Serum memiliki viskositas yang rendah namun memiliki konsentrasi zat aktif yang tinggi, serum memiliki kemampuan penyerapan pada kulit yang cukup baik. Brotowali (Tinospora crispa L.) banyak dimanfaatkan untuk pengobatan Jerawat karena mempunyai aktivitas anti bakteri. Tujuan penelitian Menganalisis formulasi dari sediaan serum gel anti jerawat ekstrak batang brotowali (Tinospora crispa L.). Metode penelitian dengan metode True Experimental dengan tujuan untuk melihat aktivitas antibakteri formulasi sediaan serum gel ekstrak batang brotowali (Tinospora crispa L). Hasil pengamatan uji organoleptis semua formulasi memiliki bentuk cair kental, uji homogenitas semua formulasi homogen, uji daya sebar didapakan nilai P-value 0.678, daya lekat didapakan nilai P-value 0.000, waktu kering didapakan nilai P-value 0.073, viskositas didapakan nilai P-value 0.131, pH didapakan nilai P-value 0.011 dan uji aktivitas antibakteri didapakan nilai P-value 0.014. Kesimpulan Evaluasi pH dan daya lekat pengaruh dari variasi konsentrasi esktrak batang brotowali (Tinospora crispa L.), sedangkan evaluasi daya sebar, waktu kering dan viskositas tidak terdapat pengaruh. Didapatkan formulasi yang optimal yaitu pada formulasi 3 dengan konsentrasi ekstrak 30% yang paling optimal berdasarkan pH, daya lekat dan uji aktivitas antibakteri. Hasil uji aktivitas antibakteri sediaan serum gel terdapat pengaruh dari variasi konsentrasi ekstrak batang brotowali (Tinospora crispa L.).
Uji Keseragaman Bobot dan Kadar Racikan Puyer Paracetamol di Apotek Kota Banjarmasin Tengah Hernaldi Jihan Alfiyandi; Tuti Alawiyah; Rohama Rohama; Rahmadani Rahmadani
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 6 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i6.6486

Abstract

Latar Belakang: Puyer adalah sediaan serbuk yang dibagi dalam bobot yang kurang lebih sama, dibungkus menggunakan kertas perkamen atau pengemas lainnya. Puyer yang baik harus homogen, kering, memenuhi syarat keseragaman bobot dan kadar. Berdasarkan hasil penelitian di Kecamatan Ciputat Timur menunjukkan bahwa uji keseragaman bobot dan kadar dari 8 apotek belum ada yang memenuhi persyaratan. Keseragaman bobot dapat mencerminkan dosis obat puyer yang menjadi penentu keberhasilan suatu terapi yaitu ketepatan dosis obat. Tujuan: Mengetahui keseragaman bobot dan kadar puyer paracetamol yang diracik oleh apotek kota Banjarmasin Tengah. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional. Metode uji dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan timbangan analitik dan spektrofotomerter visible. Validasi metode menggunakan LOD & LOQ, Akurasi dan Presisi. Hasil: Berdasarkan hasil uji keseragaman bobot diperoleh nilai penerimaan sebesar apotek 1 = 186,061%, apotek 2 = 172,324%, dan apotek 3 = 186,224%. Hasil uji keseragaman kadar diperoleh nilai penerimaan sebesar 233,042%. Hasil uji keseragaman bobot dan kadar dinyatakan memnuhi syarat apabila nilai penerimaan (NP) yaitu L1% ≤ 15%. Simpulan: Keseragaman bobot dan kadar racikan puyer paracetamol terhadap 3 apotek di Kecamatan Banjarmasin Tengah tidak ada satupun yang memenuhi persyaratan menurut Farmakope Indonesia V.
Investigasi Kandungan Parasetamol Pada Jamu Pegal Linu di Kawasan Pasar Malam Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan Rahmadani Rahmadani; Tuti Alawiyah
Jurnal Farmasi & Sains Indonesia Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Nusaputera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52216/jfsi.vol4no2p26-30

Abstract

Herbal products are very well known by the people of Indonesian since ancient times in an effort to prevent disease, treat and restore fitness. Medicinal Chemicals (MCs) are often added to herbal preparations to increase the efficacy of herbal medicine and provide a more instant herbal effect. With an uncertain dose will cause very serious side effects for health. This research was conducted with 5 samples of herbal aches and pains in the night market area of Banjarmasin. The test was carried out by qualitative analysis using Thin Layer Chromatography (TLC) and quantitative analysis using UV-Vis Spectrophotometer. The results of the qualitative test showed the presence of paracetamol BKO in sample C and sample D and the results of the quantitative test resulted in sample C of 8.13 mg/Kg and sample D of 6.28 mg/Kg
ACTIVATED CARBON OF GELAM WOOD LOWERS THE METAL CONTENT OF PAPUYU FISH IN THE ALALAK RIVER Tuti Alawiyah; Ika Avrilina Haryono; Rahmadani
JURNAL KATALISATOR Vol. 8 No. 2 (2023): Jurnal Katalisator Volume 8 No. 2, Oktober 2023
Publisher : LLDIKTI X Sumbar, Riau, Jambi, Kepri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62769/katalisator.v8i2.1974

Abstract

Alalak River is a river that has high industrial activity, so that the lead metal content due to industry in this Alalak river is very high, which is 0.405 mg/Kg in papuyu fish that live in the river. There needs to be an effort in reducing metals, one of which is with compounds that have adsorption properties such as gelam wood plants. Gelam wood is a plant that is widely found, especially in the South Kalimantan area, this wood has a cellulose value of 76.8% and the ability to absorb iodine of 791.59 mg/g. The purpose of this study was to test the characteristics of the ability of gelam wood activated carbon in reducing lead (pb) levels in papuyu fish in the Barito river and see the effect of time variance in reducing lead (pb) levels. This research method is a true experiment to determine the effect of lead (pb) reduction activity in different exposure times. This study used a control group and a test group with exposure in several variations of contact time with gelam wood activated carbon.The results showed that the characteristics of gelam wood activated carbon were in accordance with the provisions of the Indonesian National Standard (SNI). While the significance value of the decrease in lead (pb) levels with exposure to activated carbon in gelam wood is <0.05 so it can be concluded that there is a significant effect on the decrease in pb levels.
Evaluasi Sifat Fisik Pada Sediaan Body Scrub Karbon Aktif Dari Kulit Buah Pisang ( Musa Sp ) Sebagai Detoksifikasi Tuti Alawiyah; Mia Audina; Rahmadani
JURNAL KATALISATOR Vol. 8 No. 2 (2023): Jurnal Katalisator Volume 8 No. 2, Oktober 2023
Publisher : LLDIKTI X Sumbar, Riau, Jambi, Kepri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62769/katalisator.v8i2.2493

Abstract

Buah pisang (Musa sp) merupakan buah yang populer di Indonesia, dan kulit buah pisang juga berkontribusi pada masalah limbah. Pada penelitian Alawiyah et al., tahun 2022 menunjukkan bahwa karbon aktif kulit pisang memiliki kemampuan penyerapan amonia mencapai 96,68%. Karbon aktif kulit pisang memiliki kemampuan detoksifikasi, namun tidak dapat langsung digunakan untuk kulit sehingga dibuat formulasi body scrub untuk meningkatkan estetika dan efektivitasnya. Tujuan penelitian  untuk mengevaluasi fisik dan uji detoksifikasi pada formulasi body scrub karbon aktif kulit buah pisang dengan konsentrasi 5%, 10% dan 15%. Jenis penelitian ini menggunakan eksperimental dengan rancangan penelitian quasi eksperimental time series design. Formulasi body scrub di buat dengan tiga konsentrasi karbon aktif dari kulit buah pisang (Musa sp) 5 %, 10 %, dan 15 %. Formulasi body scrub akan evaluasi sifat fisik (organoleptis, pH, homogenitas, daya lekat, daya sebar dan tipe emulsi) dan uji detoksifikasi, sesuai dengan spesifikasi. Hasil evaluasi fisik (organoleptis, pH, homogenitas, daya lekat, daya sebar dan tipe emulsi) pada formulasi body scrub karbon aktif kulit buah pisang dengan variasi konsentrasi 5 %, 10 % dan 15 % memenuhi spesifikasi sediaan body scrub dan hasil uji detoksifikasi paling optimal yaitu pada formulasi 15% sebesar 2.084,494 mg/g
Edukasi Terapi Herbal Pemberian Jus Seledri Untuk Penderita Tekanan Darah Tinggi Di Kelurahan Sungai Baru Kota Banjarmasin: Herbal Therapy Education with Celery Juice Administration for Hypertension Patients in Sungai Baru Subdistrict, Banjarmasin City Ali Rakhman Hakim; Rahmadani Rahmadani; Aulia Rahma Syari; Ina Yunita Sihotang; Siti Jubaidah; Maulida Johanda; Rahmad Ismiadi
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261344

Abstract

Abstract. Hypertension is a significant health problem contributing to increased morbidity and mortality due to cardiovascular diseases. Low adherence to long-term therapy and limited public understanding of hypertension management highlight the need for an herbal-based educational approach that is more easily accepted by the community. This study aims to improve the knowledge of posyandu cadres regarding herbal therapy through education and practical administration of celery juice. The method employed was a community education activity conducted in Desa Sungai Baru with 11 participants. Data were collected using pre-test and post-test assessments, along with blood pressure measurements before and after the intervention. Results showed an increase in participants’ knowledge scores from 10–30 to 90–100, with an average improvement of 79.1%. Additionally, all participants experienced a reduction in systolic blood pressure by 13–20 mmHg and diastolic blood pressure by 8–15 mmHg. These findings indicate that education about celery juice is effective in enhancing cadre knowledge and has a positive impact on blood pressure control. The conclusion is that herbal education using celery juice can be an applicable and relevant non-pharmacological alternative in promotive and preventive efforts against hypertension at the community level. Abstrak. Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang signifikan serta berkontribusi pada peningkatan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular. Rendahnya kepatuhan terhadap terapi jangka panjang dan terbatasnya pemahaman masyarakat tentang penanganan hipertensi menyoroti perlunya pendekatan edukasi berbasis herbal yang lebih mudah diterima oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader posyandu mengenai terapi herbal melalui edukasi dan praktik pemberian jus seledri. Metode yang digunakan adalah kegiatan edukasi masyarakat yang dilaksanakan di Desa Sungai Baru dengan 11 peserta. Data dikumpulkan menggunakan penilaian pre-test dan post-test, serta pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi. Hasil menunjukkan peningkatan skor pengetahuan peserta dari 10–30 menjadi 90–100, dengan rata-rata peningkatan sebesar 79,1%. Selain itu, seluruh peserta mengalami penurunan tekanan darah sistolik sebesar 13–20 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 8–15 mmHg. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi tentang jus seledri efektif dalam meningkatkan pengetahuan kader dan memberikan dampak positif terhadap pengendalian tekanan darah. Kesimpulannya, edukasi herbal menggunakan jus seledri dapat menjadi alternatif non-farmakologis yang aplikatif dan relevan dalam upaya promotif dan preventif terhadap hipertensi di tingkat masyarakat.
Tingkat Pengetahuan Terhadap Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Di RT. 02/RW.01 Di Desa Tumbang Mahuroi Proditus Arif; Rahmadani Rahmadani; Rohama Rohama; Saftia Aryzki
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 4 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i4.1046

Abstract

Pendahuluan : Pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan antibiotik merupakan faktor penting dalam mencegah penyalahgunaan obat dan resistensi bakteri. Tujuan : Untuk menganalisis tingkat pengetahuan masyarakat tentang antibiotik dan hubungannya dengan perilaku penggunaan antibiotik di Desa Tumbang Mahuroi RT.2, Kabupaten Gunung Mas. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian sebanyak 39 responden dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur karakteristik demografis, tingkat pengetahuan, dan perilaku penggunaan antibiotik. Hasil : Analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang penggunaan antibiotik, yaitu sebanyak 33 orang (84,62%), sedangkan 6 orang (15,38%) memiliki tingkat pengetahuan tidak baik. Meskipun demikian, masih ditemukan kekeliruan pada aspek penting seperti indikasi penggunaan, aturan konsumsi, penyimpanan sisa obat, dan risiko resistensi antibiotik, sehingga edukasi berkelanjutan tetap diperlukan, mayoritas berada pada kelompok usia 16–28 tahun (51,28%), dengan distribusi jenis kelamin yang relatif seimbang antara perempuan (51,28%) dan laki-laki (48,72%). Sebagian besar responden berpendidikan SMA (48,72%) dan bekerja sebagai petani serta pelajar/mahasiswa (masing-masing 28,21%). Faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan turut memengaruhi akses informasi serta pemahaman terkait penggunaan antibiotik. Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi Square menunjukkan nilai p = 0,003 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku penggunaan antibiotik. Kesimpulan : Semakin baik tingkat pengetahuan seseorang, semakin rasional penggunaan antibiotik yang dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan strategi edukasi kesehatan yang berkelanjutan dan sesuai dengan karakteristik masyarakat untuk meningkatkan penggunaan antibiotik yang tepat dan mencegah resistensi.
Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Jalan Terhadap Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas Kandangan Zulfa Putri Salsabila; Rahmadani Rahmadani; Putri Vidiasari Darsono; Melviani Melviani
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1049

Abstract

Latar Belakang: Pelayanan kefarmasian merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang berperan dalam menjamin penggunaan obat yang aman, efektif, dan rasional. Tingkat kepuasan pasien menjadi indikator penting dalam menilai mutu pelayanan kefarmasian di fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk puskesmas. Puskesmas Kandangan mengalami peningkatan jumlah kunjungan pasien serta penambahan tenaga kefarmasian, namun masih ditemukan keluhan terkait ketanggapan dan kecepatan pelayanan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menggambarkan tingkat kepuasan pasien rawat jalan terhadap pelayanan kefarmasian di Puskesmas Kandangan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non-eksperimental dengan desain deskriptif dan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 301 responden dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner berbasis lima dimensi ServQual, yaitu reliability, responsiveness, assurance, empathy, dan tangible, kemudian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk persentase. Hasil: Hasil dari pengukuran tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian Puskesmas Kandangan menunjukkan hasil bahwa dimensi tangible berada pada kategori sangat puas (90,29%), dimensi reliability berada pada kategori sangat puas (92,46%), dimensi responsiveness berada pada kategori sangat puas (91,49%), dimensi assurance berada pada kategori sangat puas (91,83%), dan dimensi emphaty berada pada kategori sangat puas (92,39%). Simpulan: Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pasien rawat jalan di Puskesmas Kandangan merasa sangat puas terhadap pelayanan kefarmasian.