Abstrak: Kawasan peri urban Kota Mataram mengalami tekanan perkembangan permukiman yang semakin intensif seiring dengan pertumbuhan penduduk dan dinamika penetapan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Mataram Raya berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi NTB Nomor 5 Tahun 2024. Penelitian ini bertujuan menganalisis arah dan pola perkembangan kawasan terbangun di Kota Mataram dan enam kecamatan peri urbannya di Kabupaten Lombok Barat dalam konteks KSP Mataram Raya. Metode yang digunakan meliputi analisis perubahan penggunaan lahan multitemporal (2015, 2020, 2025) berbasis citra satelit, analisis Shannon Entropy untuk mengukur tingkat kekompakan (sprawl index), Standard Deviational Ellipse (SDE) untuk mengidentifikasi arah dominan perkembangan kawasan terbangun, serta model gravitasi untuk mengukur interaksi spasial antara Kota Mataram dengan wilayah peri urbannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total kawasan terbangun di enam kecamatan peri urban meningkat dari 8.742 ha (2015) menjadi 13.168 ha (2025), atau tumbuh 50,6% dalam satu dekade. Analisis SDE mengungkap bahwa sumbu perkembangan kawasan terbangun berorientasi dominan ke arah Barat Laut–Tenggara (rotation angle ±42°), dengan pusat massa (mean center) yang bergeser sekitar 2,3 km ke arah Barat Laut antara 2015 dan 2025, mengindikasikan arah ekspansi dominan menuju Kecamatan Gunungsari dan Batulayar. Analisis Shannon Entropy mengonfirmasi kecenderungan urban sprawl dengan nilai entropy yang meningkat dari 0,87 (2015) menjadi 1,24 (2025) pada seluruh zona peri urban. Model gravitasi mengonfirmasi persentase indeks interaksi relative spasial tertinggi terjadi antara Kota Mataram dengan Kecamatan Gunungsari (40,78 %) dan Kecamatan Labuapi (23,72 %). Temuan ini memberikan kontribusi baru berupa integrasi tiga metode analisis spasial SDE, Shannon Entropy, dan Model Gravitasi dalam satu kerangka analitik terpadu untuk diagnosis arah dan pola perkembangan kawasan terbangun peri urban, serta implikasinya bagi kebijakan tata ruang KSP Mataram Raya.  Abstract: The peri-urban areas surrounding Mataram City are experiencing increasingly intensive urban development pressures driven by population growth and the designation of the Greater Mataram Provincial Strategic Area (Kawasan Strategis Provinsi, KSP) under West Nusa Tenggara Provincial Regulation No. 5 of 2024. This study aims to analyze the direction and patterns of regional development in Mataram City and its six peri-urban sub-districts in West Lombok Regency within the context of the Greater Mataram KSP. The research employs a combination of multi-temporal land use change analysis (2015, 2020, and 2025) based on satellite imagery, Shannon Entropy analysis to assess the degree of urban compactness (urban sprawl index), the Standard Deviational Ellipse (SDE) to identify the dominant direction of built-up area expansion, and a gravity model to measure the spatial interactions between Mataram City and its peri-urban areas. The results indicate that the total built-up area within the six peri-urban sub-districts increased from 8,742 ha in 2015 to 13,168 ha in 2025, representing a growth of 50.6% over one decade. The SDE analysis revealed that urban expansion was predominantly oriented along the northwest–southeast axis (rotation angle of approximately 42°), with the mean center shifting approximately 2.3 km toward the northwest between 2015 and 2025, indicating a dominant expansion trend toward Gunungsari and Batulayar Districts. The Shannon Entropy analysis further confirmed an increasing urban sprawl trend, with entropy values rising from 0.87 in 2015 to 1.24 in 2025 across the peri-urban zone. The gravity model identified the strongest spatial interactions between Mataram City and Gunungsari District (40.78%), followed by Labuapi District (23.72%). These findings contribute to the existing literature by integrating the Standard Deviational Ellipse, Shannon Entropy, and Gravity Model within a unified spatial analytical framework to diagnose the direction and patterns of peri-urban built-up area development. Furthermore, the proposed framework provides a robust analytical basis for supporting spatial planning and policy formulation within the Greater Mataram Provincial Strategic Area (KSP).Â