Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

GAMBARAN PENGALAMAN REVERSE CULTURE SHOCK: STUDI PADA MAHASISWA PERTUKARAN PELAJAR Sheila Stefanie Soewita; Joan Andriona; Pamela Hendra Heng; Debora Basaria
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 03 (2025): Volume 11 No. 03 September 2025 In Build
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v10i3.7725

Abstract

Reverse Culture Shock adalah sebuah fenomena yang dialami individu ketika kembali ke budaya setelah menjalani pengalaman hidup di budaya lain. Fenomena tersebut seringkali mendatangkan tantangan emosional, sosial, dan adaptasi. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman Reverse Culture Shock pada mahasiswa yang mengikuti program pertukaran pelajar, khususnya melalui program IISMA (Indonesian Internaltional Student Mobility Award). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis, empat partisipan dipilih melalui teknik purposive sampling dan diwawancarai secara semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengalaman reverse culture shock bersifat individual dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti adaptasi personal, dukungan sosial, kompetensi budaya, dan pengalaman akademik. Sebagian besar partisipan tidak mengalami kesulitan signifikan setelah kembali ke Indonesia. Dukungan sosial, baik dari keluarga maupun teman, memainkan peran penting dalam proses readaptasi. Penelitian ini menyoroti pentingnya perhatian terhadap fase pasca-program pertukaran agar mahasiswa dapat mengelola perubahan dengan baik serta memaksimalkan manfaat jangka panjang dari pengalaman yang didapatkan selama program pertukaran berlangsung.
Peranan Dukungan Sosial Terhadap Self-Efficacy Akademik pada Remaja Akhir Korban Bullying Kezia; Debora Basaria
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2025): Volume 11 No. 04 Desember 2025 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.9628

Abstract

Perundungan pada remaja akhir di perguruan tinggi telah menjadi permasalahan yang mengkhawatirkan dengan dampak signifikan terhadap aspek psikologis dan akademik mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh dukungan sosial terhadap efikasi diri akademik pada remaja akhir yang mengalami perundungan. Pendekatan kuantitatif dengan desain kausal komparatif diterapkan, melibatkan 405 mahasiswa aktif berusia 18-21 tahun di wilayah DKI Jakarta yang teridentifikasi sebagai korban perundungan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) dan Academic Self-Efficacy Scale (ASES) yang disebarkan secara online. Analisis data menggunakan uji Rank Spearman dan regresi linear sederhana menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap efikasi diri akademik dengan koefisien korelasi sebesar 0,718 (p<0,001) dan koefisien determinasi sebesar 65%. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa mayoritas partisipan memiliki tingkat dukungan sosial (81%) dan efikasi diri akademik (97,5%) yang tinggi. Analisis tambahan mengungkapkan perbedaan signifikan berdasarkan jenis kelamin, usia, semester perkuliahan, dan waktu terakhir mengalami perundungan. Temuan ini mengkonfirmasi bahwa dukungan sosial berfungsi sebagai faktor protektif yang membantu mempertahankan keyakinan akademik pada remaja akhir korban perundungan. Implikasi praktis mencakup pengembangan program intervensi berbasis dukungan sosial yang disesuaikan dengan karakteristik demografis mahasiswa serta penguatan sistem dukungan institusional di perguruan tinggi untuk menciptakan lingkungan akademik yang kondusif bagi mahasiswa korban perundungan.
HUBUNGAN ANTARA LONELINESS DAN INTERAKSI PARASOSIAL PADA PENGGEMAR K-DRAMA Maulidina Nabila Putri; Debora Basaria
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2025): Volume 11 No. 04 Desember 2025 In Process
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.10712

Abstract

The advancement of technology and the acceleration of global cultural flow have made K-Dramas increasingly accessible and widely consumed. As a result, some individuals particularly those experiencing loneliness turn to K-Drama viewing as an emotional escape. This study aims to examine the relationship between lonelinessand parasocial interaction among K-Drama fans using a quantitative method with a correlational design, involving 413 participants selected through purposive sampling. The instruments utilized were the De Jong Gierveld Loneliness Scale by Gierveld and Tilburg (2006), adapted into Indonesian by Ningrum, E. P. (2020), and the Parasocial Interaction Scale derived from the Celebrity Attitude Scale (CAS) by Maltby et al. (2002), adapted into Indonesian by Zhafira, N. I. (2021). Pearson correlation analysis indicated a positive and significant relationship between loneliness and parasocial interaction among K-Drama fans in Indonesia. These findings suggest that parasocial interaction may serve as a coping mechanism that helps alleviate feelings of loneliness; however, excessive engagement may pose risks, including emotional dependence and avoidance of real social relationships.
Pengaruh Subjective Well-Being Terhadap Kinerja Karyawan Di PT. X Di Jakarta Aurelia Adeline; Debora Basaria; Reza Fahlevi
Psikologi Prima Vol. 7 No. 1 (2024): Psikologi Prima
Publisher : unprimdn.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/psychoprima.v7i1.5072

Abstract

This study explores subjective well-being's influence on employee performance at PT X, a company in the building chemical industry sector in Jakarta. This research is based on the importance of employee well-being in achieving optimal performance and how subjective well-being can be a determining factor, as supported by several studies that show a positive influence between subjective well-being and performance. Initial observations showed high employee performance results, with most employees able to complete work quickly and precisely, as well as a work atmosphere full of happiness and positive emotions based on the results of an initial survey of 30 employees. This study used a quantitative approach with data collected through an online questionnaire distributed to 165 employees of PT X. The instruments used included the Satisfaction With Life Scale (SWLS) and Scale of Positive and Negative Experience (SPANE) to measure subjective well-being, as well as the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ) to measure employee performance. Using a simple regression test, the analysis results obtained an R square value of 9.7% and a significance level of p < 0.05, indicating that subjective well-being significantly affects the employee performance of PT X in Jakarta.
Pengaruh Growth Mindset Terhadap Employee Resilience di Unit Foods PT X Patricia Aurellia; Debora Basaria; Reza Fahlevi
Psikologi Prima Vol. 7 No. 1 (2024): Psikologi Prima
Publisher : unprimdn.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/psychoprima.v7i1.5097

Abstract

PT X is one of the companies engaged in Fast Moving Customer Goods (FMCG) in Indonesia, located in Jakarta. The achievement of PT X certainly must maintain the role of qualified employees so that the company can increase its productivity, efficiency, and competitiveness to excel in competition in the era of globalization. The intense competition in the FMCG industry encourages PT X's Foods unit employees to withstand pressure and rise from failure to continue to grow. To encourage employee performance, PT X applies several values to support the effectiveness of employee performance in achieving targets, one of which is a growth mindset. Some previous research results show ambiguity in the relationship between a growth mindset and employee resilience. Therefore, this study aims to determine the effect of a growth mindset on employee resilience in the PT X Foods unit. Research data were obtained through the distribution of Google Forms to 87 employees who met the criteria for research characteristics. The results of this study's data analysis indicate an effect of a growth mindset on employee resilience in the Foods unit of PT X with a Sig value. 0,000 < 0,05. In addition, the coefficient of determination shows that the effect of growth mindset on employee resilience is 15%, while other variables influence the remaining 85%.
Gambaran Work Engagement Pada Karyawan PT X (Perusahaan Manufaktur) Di Tangerang Dhanisa Khaira; Reza Fahlevi; Debora Basaria
Psikologi Prima Vol. 7 No. 1 (2024): Psikologi Prima
Publisher : unprimdn.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/psychoprima.v7i1.5101

Abstract

PT X is one of the largest companies in Indonesia engaged in manufacturing and is located in Tangerang. The development of PT X does not escape the role of its human resources in being able to continue to compete with other similar companies. For this reason, human resources are an asset for the Company and play an important role because they will affect the development and productivity of the organization. At PT X, some employees show that they enjoy their work, and some of them feel very proud and attached, but others look less excited when working. Work engagement is one of the things that influence it. Work engagement is defined as the extent to which employees psychologically feel bound and connected to their work. Work engagement is characterized by vigor, dedication, and absorption. This study uses quantitative methods to look at work engagement in employees at PT X. Participant data was obtained through the Utrecht Work Engagement Scales questionnaire consisting of 17 items (UWES-17). Participants in this study amounted to 106 employees at PT X aged 21-55 years. The results showed that PT X employees were classified as high (M = 4.83) and had high scores in each dimension, with the highest scores in the dimensions of dedication (M = 5.21), vigor (M = 4.84), and absorption (M = 4.43). These results show that some PT X employees have high work engagement. Thus, it can have a positive impact on the success of the Company.
Hubungan Self-Compassion dan Persepsi Cyber-Ostracism pada Mahasiswa Yang Aktif Menggunakan Media Sosial Instagram dan WhatsApp Rafly Anugrah M Tasrief; Debora Basaria
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 1: Februari (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i1.1913

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dan persepsi cyber-ostracism pada mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial Instagram dan WhatsApp. Penelitian menggunakan desain kuantitatif non eksperimental  dengan metode purposive sampling. Penelitian ini melibatkan 248 mahasiswa berusia 18–24 tahun. Pengukuran self-compassion dilakukan menggunakan Self-Compassion Scale versi bahasa Indonesia, dan persepsi cyber-ostracism diukur menggunakan Cyber-Ostracism Scale. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman karena data tidak terdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-compassion dan persepsi cyber-ostracism (rs = -0.664, p= 0.000 < 0.05), yang menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat self-compassion lebih tinggi cenderung memiliki persepsi cyber-ostracism lebih rendah. Hasil uji beda mengindikasikan beberapa pola yang konsisten. Mahasiswa yang mulai menggunakan smartphone pada usia ≤ 10 tahun cenderung memiliki persepsi cyber-ostracism yang lebih tinggi. Selain itu, penggunaan media sosial dengan durasi kurang dari 2 jam per hari berkaitan dengan tingkat self-compassion yang lebih tinggi, sementara durasi penggunaan ≥ 5 jam per hari berkaitan dengan persepsi cyber-ostracism yang lebih tinggi. Temuan lainnya menunjukkan bahwa mahasiswa yang telah memiliki akun media sosial selama lebih dari 3 tahun cenderung memiliki tingkat self-compassion yang lebih rendah, sekaligus menunjukkan persepsi cyber-ostracism yang lebih tinggi. Selanjutnya, hasil uji beda juga memperlihatkan bahwa mahasiswa semester 7 memiliki tingkat self-compassion yang lebih rendah, serta mahasiswa yang tinggal bersama orang tua menunjukkan persepsi cyber-ostracism yang lebih tinggi.
Pengaruh Fungsi Keluarga terhadap Adiksi Game Online pada Generasi Z Fredrick Yappy Setiadi; Debora Basaria
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 1: Februari (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i1.1918

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fungsi keluarga terhadap adiksi game online pada Generasi Z di Jabodetabek. Meningkatnya fenomena penggunaan game online yang berlebihan di kalangan generasi Z memunculkan kekhawatiran mengenai dampak psikologis dan sosial yang ditimbulkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif regresional. Partisipan penelitian berjumlah 357 individu Generasi Z (usia 13-28 tahun) yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan alat ukur Family Assessment Device (FAD) untuk mengukur keberfungsian keluarga dan Indonesian Online Game Addiction Questionnaire (IOGAQ) untuk mengukur tingkat adiksi game online. Hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa terdapat peranan negatif yang signifikan antara fungsi keluarga terhadap adiksi game online (R2 = 0.560, p < 0.001). Temuan ini mengindikasikan bahwa fungsi keluarga memberikan sumbangan pengaruh sebesar 56% terhadap adiksi game online, di mana semakin efektif fungsi keluarga, semakin rendah tingkat adiksi game online pada individu. Penelitian ini menekankan pentingnya peran fungsi keluarga, terutama dimensi keberfungsian umum dan penyelesaian masalah, sebagai faktor protektif dalam mencegah perilaku adiksi pada Generasi Z.
HUBUNGAN ANTARA DISTRAKSI DIGITAL DAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENYUSUN SKRIPSI Earline Clarissa Syamkemal; Debora Basaria
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8378

Abstract

The development of digital technology has made it easier for students to carry out academic activities, but it has also increased the potential for digital distractions that may disrupt concentration and encourage academic procrastination. This study aimed to examine the relationship between digital distraction and academic procrastination among final-year students who were writing their undergraduate thesis. This study employed a quantitative correlational approach involving 193 students from universities in the Greater Jakarta area aged 19–25 years. The sample was selected purposively, and data were collected through an online questionnaire using Google Form. The instruments used were the Smartphone Distraction Scale and the Academic Procrastination Scale. Data were analyzed using Pearson correlation and simple linear regression with the assistance of IBM SPSS Statistics. The results showed that digital distraction was positively and significantly associated with academic procrastination (r = 0.417; p < 0.01). The regression analysis also indicated that digital distraction was a significant predictor of academic procrastination (b = 0.910; p < 0.001). These findings indicate that the higher the level of digital distraction experienced by students, the higher their tendency to procrastinate in completing their thesis. This study highlights the importance of managing digital distractions to support more effective completion of final academic tasks. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital memudahkan mahasiswa dalam menjalankan aktivitas akademik, tetapi juga meningkatkan potensi distraksi yang dapat mengganggu konsentrasi dan mendorong prokrastinasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara distraksi digital dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 193 mahasiswa dari perguruan tinggi di wilayah Jabodetabek yang berusia 19–25 tahun. Sampel diambil secara purposive, dan data dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan Google Form. Instrumen yang digunakan adalah Smartphone Distraction Scale dan Academic Procrastination Scale. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan regresi linear sederhana dengan bantuan IBM SPSS Statistics. Hasil analisis menunjukkan bahwa distraksi digital berhubungan positif dan signifikan dengan prokrastinasi akademik (r = 0,417; p < 0,01). Hasil regresi juga menunjukkan bahwa distraksi digital merupakan prediktor yang signifikan terhadap prokrastinasi akademik (b = 0,910; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi distraksi digital yang dialami mahasiswa, semakin tinggi kecenderungan mereka untuk menunda pengerjaan skripsi. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan distraksi digital untuk mendukung penyelesaian tugas akhir secara lebih efektif.
Hubungan Interaksi Sosial Dalam Kelompok dan Tingkat Stress Akademik Siswa SMA: Studi Kasus SMA X Marsella Effendie; Debora Basaria; Astri Anggraini H.W
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 1 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v5i1.2430

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara interaksi sosial dalam kelompok dan tingkat stres akademik siswa SMA, khususnya di SMA X. Interaksi sosial dalam kelompok dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi kondisi psikologis siswa, terutama dalam menghadapi tekanan akademik yang sering kali muncul akibat tuntutan prestasi, hubungan antar teman, dan lingkungan belajar yang kompetitif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei, melibatkan populasi siswa SMA X, dan sampel sebanyak 209 siswa yang dipilih secara acak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang mengukur tingkat interaksi sosial dan stres akademik, sementara analisis data dilakukan menggunakan regresi linier melalui software JASP untuk menguji hubungan antara variabel independen (interaksi sosial) dan variabel dependen (tingkat stres akademik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial dalam kelompok tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat stres akademik siswa, yang mengindikasikan bahwa faktor-faktor lain mungkin lebih berpengaruh, seperti manajemen waktu atau dukungan keluarga. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa interaksi sosial dalam kelompok tidak berkontribusi pada tingkat stres akademik siswa, sehingga implikasinya menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi stres akademik dan pentingnya pengembangan strategi dukungan yang lebih komprehensif bagi siswa dalam menghadapi tekanan akademik.