Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PENTINGNYA PERAN GURU TERHADAP KETERLIBATAN SISWA SD X KELAS 5 PADA PELAJARAN BAHASA MANDARIN DI JAKARTA BARAT Grace Anafree Randa; Sri Tiatri; Heni Mularsih
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3601.2019

Abstract

Fenomena yang terjadi pada siswa kelas 5 SD X bahwa hasil akademik siswa, khususnya pada Pelajaran Bahasa Mandarin, tidak memuaskan. Salah satu penyumbang utama dalam kesuksesan akademik di lintas tingkat pendidikan adalah keterlibatan. Keterlibatan sangat menarik diteliti karena terbukti bahwa hal itu mudah dibentuk dan responsif terhadap perubahan praktik sekolah dan guru. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa keterlibatan guru berperan terhadap keterlibatan siswa. Penelitian lain juga menyatakan bahwa kompetensi budaya guru juga berperan terhadap keterlibatan siswa. Namun, belum ada penelitian yang menyatakan bahwa keterlibatan dan kompetensi budaya guru secara bersama-sama berperan terhadap keterlibatan siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat peran keterlibatan dan kompetensi budaya guru bahasa mandarin terhadap keterlibatan siswa pada Pelajaran Bahasa Mandarin kelas 5 SD X di Jakarta Barat. Penelitian ini melibatkan 97 siswa kelas 5 sekolah dasar. Uji asumsi sebagai persyaratan analisis regresi untuk membuktikan hipotesis dilakukan terlebih dahulu. Hasil uji regresi keterlibatan guru terhadap keterlibatan siswa adalah R2= .344 (p < .05) atau sebesar 34%. Hasil uji regresi kompetensi budaya guru terhadap keterlibatan siswa adalah R2= .139 (p > .05) atau tidak berperan. Hasil uji regresi berganda keterlibatan guru dan kompetensi budaya guru terhadap keterlibatan siswa adalah R2= .344 (p < .05) atau sebesar 34%. The phenomenon happening among 5th grade students of X elementary school is that the academic results of students, especially in Mandarin Language, are not satisfactory. One of the main contributors to academic success across educational levels is involvement. Involvement is a very interesting study because it is proven to be easily formed and is responsive to changes in school and teacher practices. Previous research shows that teacher involvement plays a role in student involvement. Other research also states that the teacher's cultural competence also plays a role in student involvement. However, there is no research stating that the involvement and cultural competence of teachers together contribute to student involvement. The purpose of this study is to examine the role of the involvement and cultural competence of mandarin language teachers in student involvement in 5th grade Mandarin Language Lesson at X elementary school in West Jakarta. This research involved 97 5th grade elementary school students. Assumption test as a requirement of regression analysis to prove the hypothesis was conducted before anything else. The result of regression test, the role of teacher involvement toward student involvement was R2 = .344 (p <.05) or 34%. The result of the regression test, the role of teacher cultural competence toward student involvement was R2 = .139 (p> .05) or no role. The result of the multiple regression test, the role of teacher involvement and teacher cultural competence toward student involvement was R2 = .344 (p <. 05) or 34%.
GAMBARAN PERILAKU DAN PENGATURAN PENGGUNAAN TELEPON GENGGAM CERDAS (TGC) PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Tji Beng Jap; Hartinah Dinata; Vivien H. Wangi; Sri Tiatri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.10086.2021

Abstract

Smartphone are tools that help life, even become daily needs for adolescents in Vocational High School (Sekolah Menengah Kejuruan or SMK) who live in urban areas. Unfortunately, not a few teenagers experience problems due to excessive smartphone use. These can include physical problems such as problems with the eyes, movement, and body position; as well as psychological problems such as unharmonious relationships with the people around them, or feeling dependent on devices. There are not many studies that describe the behavior and regulation of smartphone use in adolescents, especially vocational high school students in Indonesia. This study aims to obtain a description of the behavior of smartphone use among vocational high school students, as well as the settings up of regulations by the home and school environment. Participants are 1.921 high school students in 5 cities in 5 provinces in Indonesia (West Kalimantan, Yogyakarta Special Region (DIY), Bangka Belitung Islands, North Sulawesi, and Central Java). Data collection was carried out through a survey with a questionnaire specially designed by the researcher. Data collection was carried out before the COVID-19 Pandemic occurred. The results showed that in the period before the COVID-19 Pandemic, most students used smartphones for about 4-8 hours per day, for communication purposes. In addition, parents and schools make regulations regarding the use of smartphones. The results of this study can provide an overview, as well as a comparison for the description of the behavior of device use after the outbreak of the COVID-19 outbreak. Telepon Genggam Cerdas (TGC) merupakan alat yang membantu kehidupan, bahkan menjadi kebutuhan sehari-hari bagi remaja di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang tinggal di daerah perkotaan. Sayangnya, tidak sedikit remaja yang mengalami masalah akibat penggunaan TGC yang berlebihan. Masalah itu dapat berupa masalah fisik seperti masalah pada mata, pergerakan, dan posisi tubuh; maupun masalah psikologis seperti hubungan yang kurang harmonis dengan orang-orang disekitarnya, atau merasakan ketergantungan terhadap gawai. Belum banyak studi yang menggambarkan perilaku dan pengaturan penggunaan TGC pada remaja khususnya siswa SMK. Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran perilaku penggunaan gawai pada siswa SMK, serta pengaturan yang ditetapkan oleh lingkungan rumah dan sekolah. Partisipan adalah 1921 siswa SMK di 5 kota yang ada di 5 provinsi di Indonesia (Kalimantan Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Utara, dan Jawa Tengah). Pengumpulan data dilaksanakan melalui survei dengan kuesioner yang dirancang khusus oleh peneliti. Pengambilan data dilaksanakan sebelum terjadinya Pandemi COVID-19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masa sebelum Pandemi COVID-19, kebanyakan siswa menggunakan TGC selama sekitar 4-8 jam per-hari, untuk keperluan berkomunikasi. Selain itu, orang tua dan sekolah membuat aturan mengenai penggunaan TGC. Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran, sekaligus pembanding bagi gambaran perilaku penggunaan gawai sesudah merebaknya wabah COVID-19. 
PENERAPAN METODE TUNJUKKAN DAN CERITAKAN TERHADAP KESIAPAN MEMBACA PADA ANAK TK Christina Christina; Sri Tiatri; Pamela Hendra Heng
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.10085.2021

Abstract

Reading readiness is one of the skills given to early childhood through playing while learning. Kindergarten children are given assignments in the form of worksheets and the teacher will ask those children to read and then mention the words back on their worksheet. If the learning system to read like this were practiced repeatedly, the child will get bored. Reading readiness can be done through telling stories and using flash cards. One of the behaviors that show the child is in the reading readiness stage is when a child who is able to use spoken language to express an object. This can be realized through the show and tell method, which is a method that provides opportunities for children to learn new things through storytelling and listening to stories from their friends. This study aims to see the application of the show and tell method on reading readiness of kindergarten children. Participants in this study were 16 TK B students in PAUD FL which were divided into two groups, namely EG (Experiment Group) and CG (Control Group). Participants will be provided with an adapted Reading Readiness Assessment test kit and an Expressive Vocabulary Test as additional analysis given at the beginning and end of the study. The data analysis used an independent sample t-test which resulted that the method show and tell was ineffective for the reading readiness of kindergarten children (t = 1,678; p = 0.114) but the method show and tell was effective in increasing the number of children’s word to describe something (t = 4.961; p = 0.001) and children's vocabulary (t = 4,797; p = 0.002). Kesiapan membaca merupakan salah satu keterampilan yang diberikan kepada anak usia dini melalui kegiatan bermain sambil belajar. Anak TK diberikan tugas dalam bentuk lembar kerja dan meminta anak untuk membaca lalu menuliskan kembali kata yang ada pada lembar kerja tersebut. Apabila sistem belajar membaca seperti ini dilakukan berulang, maka anak akan merasa jenuh. Kesiapan membaca dapat dilakukan dengan cara bercerita, mendongeng dan penggunaan media flash card. Salah satu perilaku yang menunjukkan anak berada dalam tahap kesiapan membaca adalah anak mampu menggunakan bahasa lisan untuk menceritakan suatu objek. Hal ini dapat diwujudkan dalam metode tunjukkan dan ceritakan, yaitu metode yang memberikan peluang bagi anak untuk belajar hal baru melalui kegiatan bercerita dan mendengarkan cerita teman sekelompoknya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas penerapan metode tunjukkan dan ceritakan terhadap kesiapan membaca anak TK. Partisipan pada penelitian ini adalah 16 murid TK B di PAUD FL yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu KE (Kelompok Eksperimen) dan KK (Kelompok Kontrol). Partisipan akan diberikan alat tes Reading Readiness Assessment yang telah diadaptasi serta Expressive Vocabulary Test sebagai analisis tambahan yang diberikan pada awal dan akhir penelitian. Analisis data menggunakan uji beda yang menunjukkan hasil bahwa metode tunjukkan dan ceritakan tidak efektif terhadap kesiapan membaca anak TK (t = 1.678; p = 0.114) namun metode tunjukkan dan ceritakan efektif untuk meningkatkan jumlah kata anak (t = 4.961; p = 0.001) dan jumlah kosakata anak (t = 4.797; p = 0.002).
PERAN MEMBACA AWAL TERHADAP PEMAHAMAN BACAAN PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR Amalia Novita Retaminingrum; Sri Tiatri; Soemiarti Patmonodewo
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.6017

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji peran kelancaran membaca awal terhadap pemahaman bacaan. Partisipan adalah 150 siswa kelas empat. Partisipan diberi satu set asesmen yang mencakup beberapa komponen kelancaran membaca awal dan pengukuran atas pemahaman bacaan  fiksi dan non fiksi. Kelancaran membaca awal diukur dengan Early Grade Reading Assessment yang mengukur letter name identification, segmentation (phoneme or syllables), non word reading, oral reading fluency, reading comprehension, listening comprehension, vocabulary, dan dictation.  Pemahaman bacaan fiksi dan non fiksi diukur melalui tes yang dikembangkan berdasarkan Curriculum Based Assessment dari Kurikulum 2013 Indonesia. Analisis regresi dilakukan pada penelitian ini, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua komponen kelancaran membaca awal yang berhubungan dengan pemahaman bacaan. The goal of this study was to examine the role of early reading fluency in reading comprehension. Participants were 150 fourth-grade children. They were given an assessment that included multiple components of early reading fluency, and a fiction and non fiction text to measure their reading comprehension. For early reading fluency, this study used Early Grade Reading Assessment which measures of letter name identification, segmentation (phoneme or syllables), non word reading, oral reading fluency, reading comprehension, listening comprehension, vocabulary, and dictation. For fiction and non-fiction reading comprehension, this study use Curriculum Based Assessment from 2013 Indonesian Curriculum. Regression analyses were undertaken, the results showed that there are two component of early reading fluency which related to reading comprehension. 
PERAN DUKUNGAN TEMAN SEBAYA DAN REGULASI DIRI BELAJAR TERHADAP PENYESUAIAN AKADEMIS MAHASISWA PERGURUAN TINGGI KEDINASAN BERASRAMA XYZ Khairun Nisa; Sri Tiatri; Heni Mularsih
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.1641

Abstract

Penyesuaian diri dalam masa transisi dari sekolah menengah ke universitas merupakan hal penting. Salah satu bentuk penyesuaian diri di universitas yaitu penyesuaian akademis. Fenomena yang terjadi pada mahasiswa baru di Sekolah Tinggi XYZ sangat relevan dengan penyesuaian akademis. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu oleh Cazan (2012), Kornell & Metcalfe (2006), Zimmerman & Schunk (2008), Zakiyah, et.al (2010) serta fenomena yang terjadi di Sekolah Tinggi XYZ, penulis ingin mengetahui bagaimana peran dukungan teman sebaya dan regulasi diri belajar terhadap penyesuaian akademis pada mahasiswa sekolah tinggi XYZ. Mahasiswa merupakan remaja yang sangat memerlukan dukungan teman sebaya. Siswa yang ditolak oleh teman sebaya memiliki masalah penyesuaian yang lebih serius dari pada siswa yang tidak diperdulikan oleh teman sebaya (Santrock, 2011). Selain itu, regulasi diri belajar diketahui sebagai prediktor utama penyesuaian akademis namun belum diteliti apakah dukungan teman sebaya dapat bersama-sama berperan dalam menentukan tingkat penyesuaian akademis mahasiswa. Tujuan penelitian untuk mengetahui peran dukungan teman sebaya dan regulasi diri belajar terhadap penyesuaian akademis mahasiswa. Fenomena terkait penyesuaian akademis di Sekolah Tinggi XYZ menjadi masalah berulang-ulang dan penting untuk diselesaikan, dalam ruang lingkup yang lebih luas, karakteristik partisipan belum banyak diteliti yakni mahasiswa Pendidikan Tinggi Kedinasan. Partisipan 97 mahasiswa tingkat awal. Pengambilan sampel menggunakan teknik non-probability. Teknik analisis data menggunakan uji regresi berganda. Hasil penelitian membuktikan bahwa dukungan teman sebaya dan regulasi diri belajar berperan secara bersama-sama terhadap penyesuaian akademis mahasiswa Sekolah Tinggi Kedinasan Berasrama XYZ, dukungan teman sebaya memiliki peran lebih besar dari pada variabel regulasi diri belajar.
PEMBENTUKAN INVENTIVITAS MAHASISWA MELALUI MBKM PENELITIAN Sri Tiatri; Claudia Fiscarina; Mirabella; Nina Perlita; Mei Ie; Jap Tji Beng
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i2.20514.2022

Abstract

Inventivitas atau kemampuan untuk berinvensi dan berinovasi merupakan salah satu kemampuan yang perlu dimiliki lulusan Prodi Sarjana. MBKM pada Prodi Sarjana adalah Program yang ditetapkan Kemendikbudristek tahun 2020. Program yang relatif baru ini masih terus mencari bentuk untuk menjadi perbendaharaan kegiatan yang kaya dan efektif efisien dalam memperoleh capaian pembelajaran. Salah satu program yang telah dilaksanakan di Univ. X adalah MBKM Penelitian. Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas MBKM Penelitian di Univ. X dalam meningkatkan inventivitas mahasiswa. Partisipan penelitian adalah 12 mahasiswa. Metode penelitian adalah eksperimen kuasi, dengan menerapkan Program MBKM Penelitian yang Terintegrasi. Program meliputi 5 tahap pembentukan inventivitas, dirancang oleh Tim Peneliti. Kelima tahap yaitu: tahap pemikiran terhadap persiapan penelitian, tahap pemikiran terhadap kegiatan yang diikuti, tahap focus group discussion terhadap temuan penelitian, tahap perancangan metode lanjutan, tahap evaluasi berkelanjutan. Metode pengumpulan data adalah campuran, kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui kuesioner pengalaman mengikuti MBKM Penelitian, dan data kualitatif diperoleh melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta MBKM Penelitian memiliki kemampuan mempelajari berbagai hal yang ditemui selama penelitian. Inventivitas yang terbangun juga tampak dari karya-karya yang dihasilkan. Hasil ini menunjukkan bahwa MBKM Penelitian yang dijalankan di Univ. X efektif dalam mencapai kompetensi inventivitas mahasiswa. Penyempurnaan masih perlu dilakukan terkait keterampilan mewujudkan invensi mereka dalam bentuk gambar/skema yang mudah dipahami banyak pihak.
DAMPAK IMPLEMENTASI MBKM PADA KOGNITIF MAHASISWA UNIVERSITAS X: REKOMENDASI PENINGKATAN MBKM DI PTS Jap Tji Beng; Keni Keni; Nafiah Solikhah; Rita Markus Idulfilastri; Fransisca Iriani Roesmala Dewi; Mira Bella; Nina Perlita; Sri Tiatri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i1.16077.2022

Abstract

Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) adalah suatu program yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI) sejak tahun 2020. Universitas Tarumanagara telah berkomitmen dalam menerapkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebagai bagian dari kurikulum sejak tahun 2020. Sejalan dengan kebijakan MBKM, upaya Kemendikbudristek menjaga mutu Perguruan Tinggi adalah dengan menggunakan Indikator Kinerja Utama (IKU). Salah satu sub indikator yang keberhasilan terdapat pada IKU-7, yaitu mahasiswa terlibat dalam kelas yang kolaboratif dan partisipatif. Penelitian ini bertujuan melihat dampak implementasi kelas kolaboratif dan partisipatif pada mahasiswa yang teribat dalam MBKM, khususnya dalam bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Kabupaten Belitung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu qualitative descriptive dengan pendekatan participatory ethnography. Peneliti terdiri atas 7 dosen dan 6 mahasiswa pelaksana 3 PKM di Kabupaten Belitung. Partisipan yang menjadi sasaran  penelitian ini adalah  6 Mahasiswa MBKM yang terlibat dalam Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui metode observasi dan wawancara sebelum, selama, dan sesudah pelaksanaan acara PKM di Kabupaten Belitung. Penelitian menghasilkan tiga temuan dalam aspek kognitif yaitu: (a) kegiatan pembelajaran kolaboratif dan partisipatif meningkatkan pengetahuan mahasiswa MKBM mengenai pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat; (b) meningkatkan kemampuan analisis pada mahasiswa; dan (c) meningkatkan kemampuan dalam hal problem solving pada mahasiswa. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai gambaran dampak pelaksanaan MBKM, dan selanjutnya dapat menjadi rekomendasi untuk peningkatan MBKM di perguruan tinggi swasta.
Hubungan antara Empati dan Kualitas Hubungan Interpersonal pada Mahasiswa Anakita Pertama Henerges; Sri Tiatri
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 12 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v4i12.2353

Abstract

Kehidupan mahasiswa pada era globalisasi melibatkan teknologi sebagai alat bantu dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, penurunan interaksi langsung antar individu menjadi masalah penting yang perlu dianalisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara empati dan kualitas hubungan interpersonal pada mahasiswa, dengan fokus pada empat dimensi: Dukungan, Konflik, Komunikasi, dan Interaksi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif, dengan populasi mahasiswa di Universitas Tarumanagara. Sampel terdiri dari 260 mahasiswa yang diambil secara acak menggunakan teknik probability random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur tingkat empati dengan skala Interpersonal Reactivity Index (IRI) dan kualitas hubungan interpersonal melalui skala Quality of Relationship Inventory (QRI). Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,150 dengan nilai signifikansi 0,015, yang mengindikasikan adanya hubungan negatif yang signifikan antara empati dan kualitas hubungan interpersonal, meskipun dengan tingkat kekuatan hubungan yang lemah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi empati yang dimiliki mahasiswa, semakin rendah kualitas hubungan interpersonal yang mereka miliki. Temuan ini bertentangan dengan teori yang menyatakan adanya hubungan positif antara kedua variabel tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk studi lebih lanjut mengenai hubungan antara empati dan kualitas hubungan interpersonal di kalangan mahasiswa.
Persepsi Mahasiswa Terhadap Penguatan Identitas Budaya dan Nilai Pancasila Melalui Kuliner Tradisional di Universitas X Tania Talitha Harsoyo; Hody Denilson; Chitta Anugrah; Adilatun Nisa; Adelia Yulindasari; Sri Tiatri
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i1.6324

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi mahasiswa terhadap penguatan identitas budaya dan nilai-nilai Pancasila melalui kuliner tradisional. Fokus penelitian berada pada mahasiswa Universitas X dengan rentang usia 18–25 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam terhadap tujuh partisipan yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menyadari pentingnya kuliner tradisional tidak hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol budaya yang mencerminkan nilai gotong royong, musyawarah, dan persatuan sesuai dengan sila ke-3 Pancasila (Persatuan Indonesia). Partisipan memahami bahwa kuliner tradisional memegang peranan signifikan dalam menjaga warisan budaya dan sebagai media efektif dalam memperkuat nilai-nilai Pancasila di tengah arus globalisasi. Kuliner tradisional, seperti tumpeng dan rendang, diyakini mampu menciptakan rasa kebersamaan, memperkuat identitas budaya, dan meningkatkan rasa kebanggaan terhadap warisan lokal. Harapan bagi generasi muda adalah turut melestarikan kuliner tradisional agar tidak punah dan terus dikenal sebagai ciri khas budaya Indonesia. Dukungan dari masyarakat dan pemerintah dinilai penting dalam mempromosikan kuliner tradisional di skala nasional maupun internasional.
Eksplorasi Growth Mindset dan Self-Regulated Learning pada Kalangan Mahasiswa Magang: Perspektif Penelitian dan Implikasi untuk Pengembangan Mahasiswa Sweet Lovely Panelewen; Sri Tiatri
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i1.6366

Abstract

Program magang merupakan salah satu strategi penting yang bertujuan memperkuat keterampilan praktis dan meningkatkan kompetensi profesional mahasiswa dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan di dunia kerja nyata. Penelitian ini menganalisis hubungan growth mindset dan self-regulated learning pada mahasiswa magang. Penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa terdapat hubungan antara growth mindset dan self-regulated learning pada mahasiswa. Namun penelitian yang membahas secara khusus hubungan growth mindset dan self-regulated learning pada mahasiswa magang masih cukup terbatas. Penelitian ini melibatkan 416 mahasiswa sarjana yang aktif melakukan program magang. Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa kedua item alat ukur tersebut valid dan reliabel dengan reliabilitas variabel growth mindset yaitu α = .973 dan variabel self-regulated learning α = .990. Hasil uji normalitas yang dilakukan menggunakan One Sample-Kolmogorov, menunjukkan nilai p < .001. Hasil penelitian menunjukkan hipotesis diterima yang menghasilkan hubungan positif pada tingkat sedang antara growth mindset dan self-regulated learning r(414) = .591, p > .001. Penelitian ini merekomendasikan agar penelitian selanjutnya mempertimbangkan untuk menambahkan variabel lain seperti goal orientation, academic resilience atau academic achievement.