Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Penerapan Art Therapy Untuk Meningkatkan Harga Diri Pada Remaja Dengan Learning Disabilities Yohannes Wijaya; Soemiarti Patmonodewo; Sri Tiatri
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i1.6720

Abstract

Harga diri merupakan evaluasi individu tentang dirinya sendiri secara positif atau negatif. Individu dengan harga diri yang tinggi mengharapkan kesuksesan, sedangkan harga diri yang rendah menduga kegagalan. Harga diri remaja cenderung menurun pada masa remaja. Normal jika anak mengalami kesulitan membaca, menulis, mengeja, dan berhitung pada tahun pertama atau tahun kedua masuk sekolah, tetapi setelah periode ini, anak seharusnya menguasai kompetensi pada tingkatan yang dasar. Jika terus berlangsung hingga remaja, maka remaja tersebut mungkin memiliki learning disabilities. Remaja tersebut nampak lebih pandai dari pada hasil akademisnya. Terapi yang dapat meningkatkan harga diri adalah art therapy karena dapat meningkapkan pemecahan masalah, kemandirian dan harga diri. Harga diri meningkat ketika berhasil menyelesaikan sebuah karya. Menggambar mempengaruhi emosi, pola pikir, dan kesejahteraan. Otak dan tubuh merespon melalui menggambar, melukis, atau aktivitas seni sehingga mengklarifikasi art therapy efektif pada berbagai populasi. Akhirnya art therapy diberikan pada tujuh remaja dengan learning disabilitas untuk meningkatkan harga diri remaja. Semua partisipan menunjukkan harga diri rendah. Penelitian ini menggunakan quasi experimental one group pre-test post-test design di mana Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) dan tes grafis dianalisa untuk mengetahui hasil sebelum dan sesudah dijalankan intervensi. Hasil akhir dari intervensi menyatakan bahwa art therapy dapat meningkatkan harga diri pada remaja dengan learning disabilities dengan hasil uji perbedaan menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok skor pretest dan posttest, z = -2.371, p = .018, two-tailed
Hubungan Kebermaknaan Kerja dengan Tingkat Motivasi Kerja Individu Pada Gen-Z Ruth Stevani Natalia M; Chelsea Indriani; Shanon Jieling Kurniawan; Nazwa Rahma Aulia; Sri Tiatri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1000

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kebermaknaan kerja dan tingkat motivasi kerja pada individu Gen Z, serta menganalisis perbedaan kebermaknaan kerja berdasarkan jenis kelamin dan lama bekerja. Metode penelitian yang digunakan adalah korelasional prediktif dengan pendekatan kuantitatif. Partisipan berjumlah 109 karyawan Gen Z (usia 18-27 tahun), berstatus karyawan aktif dengan masa kerja minimal 1 tahun, dan berdomisili di Jabodetabek, yang direkrut dari PT X dan PT Y. Alat ukur yang digunakan adalah Work as Meaning Inventory (WAMI) dan Multidimensional Work Motivation Scale (MWMS). Analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji reliabilitas Cronbach's Alpha, dan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal. Ditemukan adanya hubungan positif yang signifikan antara kebermaknaan kerja dan motivasi kerja (ρ=0.665,p<0.000). Mayoritas partisipan memiliki tingkat kebermaknaan kerja (98.2%) dan motivasi kerja (90.8%) yang tinggi. Selain itu, terdapat perbedaan signifikan pada tingkat kebermaknaan kerja berdasarkan jenis kelamin (p=0.003), di mana laki-laki memiliki tingkat kebermaknaan kerja yang lebih tinggi, dan berdasarkan lama bekerja (p=0.036), di mana individu dengan masa kerja lebih dari 1 tahun menunjukkan kebermaknaan kerja yang lebih tinggi. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya kebermaknaan kerja sebagai pendorong motivasi pada Gen Z dan implikasinya bagi praktik manajemen sumber daya manusia.