Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

PREVALENSI PENYAKIT PADA KOLONI KARANG SCLERACTINIA DI PERAIRAN KESSILAMPE KENDARI SULAWESI TENGGARA Cilly, .; Palupi, Ratna Diyah; Rahmadani, .
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 3, No 1: Februari 2018
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v3i1.6505

Abstract

Terumbu karang telah banyak memberi manfaat bagi manusia. Namun disisi lain ekosistem terumbu karang mendapat banyak ancaman baik secara alami maupun antropogenik seperti penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dan penyakit.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung persentase prevalensi dan    identifikasi jenis-jenis penyakit karang yang ada di Perairan Kessilampe khususnya wisata Pantai Mayaria, Kendari. Metode yang digunakan dalam perhitungan prevalensi adalah transek sabuk berukuran 25x2 m, sedangkan identifikasi karang berdasarkan Buku Identifikasi Penyakit Karang. Hasil yang diperoleh dari nilai prevalesi penyakit karang di lokasi penelitian rata-rata sebesar 13,85%, dengan prevalensi tertinggi terdapat pada stasiun II (16,67%) dan prevalensi terendah terdapat pada stasiun I (8,47%). Jenis penyakit karang yang ditemukan diketiga titik lokasi penelitian berjumlah 6 jenis, yaitu White Syndromes (WS), Bleaching, Ulcerative  White  Spot  (UWS), Skeleton Eroding Band (SEB), White Plague (WP) dan Sediment Damage (SD). Penyakit yang mendominasi  di lokasi  penelitian  adalah  Penyakit  White Syndromes (WS) dan Bleaching yang banyak menginfeksi karang jenis massive dan submasive.Kata Kunci : Karang, Penyakit Karang, Prevalensi
POTENSI KARANG LUNAK DI PERAIRAN DESA BUTON KABUPATEN MOROWALI Nurhayati, .; Yasir Haya, La Ode Muhammad; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 5, No 1: Februari 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v5i1.10956

Abstract

Karang lunak merupakan salah satu jenis biota laut yang menjanjikan di bidang farmakologis.  Selain itu, bentuknya yang menarik dan warnanya yang indah dapat dijadikan sebagai karang hias aquarium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman, kepadatan, dan potensi karang lunak. Pengambilan data karang lunak dilakukan pada Bulan Maret 2019 di Perairan Desa Buton. Metode pengambilan data karang lunak dilakukan pada 3 stasiun yang berlokasi di zona reef flat dan reef slope. Data karang lunak diperoleh dengan metode belt transect dengan luas area pengamatan 120 m2. Potensi karang lunak dianalisis secara deskriptif dengan mencocokkan jenis soft coral yang ditemukan dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman karang lunak yang ditemukan terdiri dari 6 famili, 10 genera, 14 jenis, dan 192 individu. Genera yang dominan ditemukan meliputi Sarcophyton, Sinularia, Isis, dan Klyxum. Kepadatan karang lunak yang diperoleh berkisar 0,342-0,683 ind./m2 dengan kepadatan tertinggi terdapat di zona reef slope Semua jenis karang lunak yang ditemukan di lokasi penelitian berpotensi di bidang farmakologis dan karang hias. Potensi terbesar adalah sebagai anti tumor, anti bakteri, dan karang hias aquarium. Diperlukan penelitian lebih lanjut potensi karang lunak khususnya dari aspek mikrobiologi untuk melihat senyawa bioaktifnya.Kata Kunci: karang lunak, keanekaragaman, kepadatan, potensi, Perairan Desa Buton
KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN KARANG JENIS FAMILI FUNGIIDAE DI PERAIRAN DESA ATOWATU KABUPATEN KONAWE Syam, Sahril; Sadarun, Baru; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 4, No 3: Agustus 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v4i3.8777

Abstract

Karang famili Fungiidae merupakan karang yang masuk ordo Scleractinia yang hidup soliter dan bebas tidak melekat pada substrat dasar perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan jenis karang famili Fungiidae di perairan Desa Atowatu. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada bulan    Januari 2019. Stasiun pengambilan data terdiri dari 3 stasiun penelitian. Penentuan stasiun menggunakan metode purposive sampling yaitu dengan memilih stasiun berdasarkan keberadaan karang famili Fungiidae di daerah reef flat dan reef slope. Pengambilan data kelimpahan karang Fungiidae menggunakan metode Belt transect, dengan panjang transect 70 x 2 m. Hasil penelitian keanekaragaman famili Fungiidae di perairan Desa Atowatu terdiri dari 8 genus, 22 spesies, dan 1300 individu dengan genus fungia yang medominasi hasil penelitian. Kelimpahan yang didapatkan pada daerah reef flat tertinggi pada stasiun I (2.39 individu/m2) kemudian disusul stasiun III (2.25 individu/m2) dan yang terendah stasiun II  (1.83 individu/m2). Daerah reef slope tertinggi didapatkan pada stasiun II (1.70 individu/m2) kemudian disusul stasiun I (1.67 individu/m2) dan terendah stasiun III (1.00 individu/m2). Rata-rata kelimpahan famili Fungiidae sebesar 2,16 individu/m2 pada daerah reef flat dan reef slope sebesar 1,45 individu/m2. Keanekaragaman dan kelimpahan famili Fungiidae dominan di zona reef flat dibandingkan reef slope.Kata kunci : Keanekaragaman, Kelimpahan, Karang Fungiidae, Reef flat, Reef slope
HUBUNGAN KELIMPAHAN RELATIF KARANG HIDUP DENGAN KEPADATAN MEGABENTOS DI PERAIRAN WAWORAHA SULAWESI TENGGARA Wulandari, Asri Triyani; Sadarun, Baru; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 5, No 2: Mei 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v5i2.12167

Abstract

Terumbu karang merupakan ekosistem yang subur dan kaya akan makanan. Megabentos merupakan salah satu komunitas hewan bentik yang berasosiasi dengan terumbu karang. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kepadatan megabentos (bulu babi, bintang laut, teripang, lola, kima, lobster, siput drupella, dan bintang laut berduri), mengetahui kelimpahan relatif karang hidup serta hubungan kelimpahan relatif karang hidup dengan kepadatan megabentos di Perairan Waworaha Provinsi Sulawesi Tenggara. Pengambilan data kondisi karang dan fauna megabentos dilakukan dengan menggunakan metode  Belt Transect yang ditarik sejajar garis pantai dengan luasan 350 m².  Hasil penelitian yang didapatkan pada tiap stasiun adalah persentase kelimpahan relatif karang hidup di perairan waworaha termasuk tinggi dengan rata-rata persentase kelimpahan relatif karang hidup sebesar 70,28%. Nilai rata-rata kepadatan megabentos adalah 0,070 ind/m² dengan kepadatan tertinggi terdapat pada stasiun 3 yaitu 0,096 ind/m², dan kepadatan megabentos terendah terdapat pada stasiun 1 yaitu 0,030 ind/m². Perhitungan nilai hubungan kelimpahan relatif karang hidup dengan kepadatan megabentos didapatkan nilai r sebesar 0.929 bernilai positif yang artinya kelimpahan relatif karang hidup dan kepadatan megabentos memiliki hubungan yang sangat kuat.Kata kunci: Karang, Kepadatan, Megabentos, Waworaha
TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP KARANG Acropora formosa HASIL TRANSPLANTASI DI PERAIRAN SAWAPUDO KECAMATAN SOROPIA Nurman, Febry Hisbullah; Sadarun, Baru; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 2, No 4: November 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v2i4.3820

Abstract

Pengambilan dalam penelitian ini pada bulan September sampai Oktober 2013 di Perairan Sawapudo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup karang hasil transplantasi mengetahui dan faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kelangsungan hidup karang. Metode penentuan titik stasiun penelitian secara purposif yaitu dibagi dalam 2 stasiun (kedalaman 3 dan 7 m). Hasil dari penelitian ini persentase tingkat kelangsungan hidup karang A. formosa yang ditransplantasi di kedalaman 3 dan 7 m tidak menunjukkan adanya perbedaan yaitu sebesar 70,83%. Sedangkan persentase tingkat kelangsungan hidup karang transplan pada meja kontrol menunjukkan hasil sedikit lebih rendah (66,67%). Faktor yang dominan memengaruhi tingkat kelangsungan hidup karang yang ditransplantasi adalah penutupan algae, sedimentasi, dan ukuran fragmen karang dengan cabang yang berbeda. Kedalaman 7 m merupakan kedalaman yang baik bagi karang transplan untuk melakukan adaptasi fragmen karang terhadap lingkungan.Kata kunci : Acropora Formosa, Perairan Sawapudo, Tingkat Kelangsungan Hidup,  Transplantasi Karang
KELIMPAHAN DAN PREVALENSI PENYAKIT KARANG DI PERAIRAN LANGARA, KONAWA KEPULAUAN, SULAWESI TENGGARA Hasma, Siti; Sadarun, Baru; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 4, No 2: Mei 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v4i2.8328

Abstract

Penyakit karang adalah gangguan terhadap kesehatan karang yang menyebabkan hilang atau rusaknya jaringan karang. Biota karang yang terinfeksi penyakit telah diidentifikasikan sebagai salah satu faktor utama yang memperburuk tutupan terumbu karang secara global. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kelimpahan dan prevalensi penyakit karang di Perairan Langara, Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara. Pengambilan data dilakukan di bulan April 2018 pada tiga stasiun penelitian. Metode pengambilan data kelimpahan dan prevalensi penyakit karang menggunakan metode belt transect (transek sabuk) dengan luas area transek 350 m2, yang ditarik sejajar garis pantai. Hasil penelitian menyebutkan bahwa penyakit karang yang ditemukan di lokasi penelitian sebanyak 8 jenis [Black Band Disease (BBD), Dark Spots Disease (DSD), Ulcerative White Spots (UWS), White Band Disease (WBD), Explained Growth Anomalies (EGA), White Syndrom (WS), Bleacing (BL) dan Yellow Band Disease (YBD)]. Kelimpahan dan prevalensi penyakit karang yang tertinggi terdapat di stasiun II, dimana nilai kelimpahan yaitu 0.063 koloni/m2 dan nilai prevalensi yaitu 92.187%. Jenis penyakit karang yang mendominasi di lokasi penelitian secara berturut-turut adalah UWS, BBD dan WS.Kata Kunci: Kelimpahan; Penyakit Karang; Perairan Langara; Prevalensi
KANDUNGAN SENYAWA METABOLIT SEKUNDER PADA IKAN BUNTAL (AROTHRON MANILENSIS) Layuk, Tresia Sanda; Palupi, Ratna Diyah; Rahmadani, .
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 6, No 2: Mei 2021
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v6i2.19433

Abstract

Kekayaan biota laut Indonesia sudah lama dikenal dan banyak yang berpotensi sebagai sumber bahan bioaktif. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa biota laut memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang tinggi untuk mempertahankan kelangsungan hidup baik sebagai upaya untuk mempertahankan diri dari predator maupun perbaikan genetiknya. Salah satu organisme laut yang berpotensi menghasilkan metabolit sekunder adalah ikan buntal. Penelitian ini dilakukan untuk melihat kandungan ekstrak senyawa metabolit sekunder ikan buntal jenis Arothron manilensis. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder apa saja yang terkandung dalam hati, kulit, daging, dan organ pencernaan. Metode penelitian dilakukan menggunakan metode Skrining Fitokimia dan Kromatografi lapis Tipis (KLT) untuk mendeteksi senyawa metabolit sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan senyawa metabolit sekunder pada ikan buntal (Arothron manilensis) mengandung komponen senyawa fenol, alkaloid, terpenoid, steroid, dan flavonoid. Kandungan senyawa metabolit sekunder pada ikan buntal A. manilensis ditemukan paling banyak terkandung pada organ pencernaan dan disusul daging, kulit, dan hati. Diperlukan kembali pengujian Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), lebih lanjut mengenai tinggi dan kuatnya senyawa metabolit sekunder yang diteliti.Kata Kunci: Arothron manilensis, KLT, Metabolit sekunder, Skrining Fitokimia.
PREVALENSI DAN KELIMPAHAN PENYAKIT KARANG DI PERAIRAN DESA BUTON KABUPATEN MOROWALI SULAWESI TENGAH Safitri, Ayu; Palupi, Ratna Diyah; Rahmadani, .
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 6, No 1: Maret 2021
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v6i1.17542

Abstract

Penyakit karang sekarang ini sudah menjadi perhatian utama para peneliti karang. Banyak kasus dilaporkan penyakit karang menjadi penyumbang terbesar kematian karang di sebuah perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan kelimpahan penyakit karang di Perairan Desa Buton, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Metode pengambilan data prevalensi dan kelimpahan penyakit karang menggunkan belt transect (transek sabuk) dengan luas 180m2 yang ditarik sejajar garis pantai pada 3 (tiga) titik stasiun. Hasil penelitian menunjukan ditemukan sebanyak 5 (lima) jenis penyakit karang (White Band Disease, Brown Band Disease, Ulcerative White Spot, Bleaching, dan Black Band Disease dan 3 (tiga) jenis gangguan kesehatan karang (Fish bites, Crown-of-Thorn-Starfish (COTS), dan Tube formers). Secara umum total prevalensi penyakit karang di lokasi penelitian sebesar 78,7% (52,3% penyakit karang dan 26,4% berupa gangguan kesehatan karang) dengan kasus tertinggi terdapat di stasiun 1 (satu). lebih lanjut kelimpahan rata-rata penyakit karang sebesar 0,65 koloni/m2. Kelimpahan penyakit karang tertinggi ditemukan pada stasiun I yaitu sebesar 0,32 koloni/m2.Kata Kunci: Penyakit Karang, Prevalensi, Kelimpahan, Perairan Desa Buton
IDENTIFIKASI ANEMON DI DAERAH TERUMBU KARANG PERAIRAN KASWARI, TAMAN NASIONAL WAKATOBI Amirudin, .; Palupi, Ratna Diyah; Subhan, .
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 6, No 2: Mei 2021
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v6i2.19435

Abstract

Anemon merupakan salah satu hewan laut dari filum Cnidaria atau Coelenterata yang sering dimanfaatkan sebagai penghias akuarium dan sumber makanan bagi masyarakat pesisir Wakatobi. Berdasarkan literature, anemon telah berhasil di identifikasi sebanyak 12 jenis tersebar di seluruh dunia, 10 jenis diantaranya terdapat di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan anemon pada daerah terumbu karang di perairan Desa Kasuari, Wakatobi. Pengumpulan data dilaksanakan selama 2 bulan yaitu Februari – Maret 2020. Metode pengumpulan data menggunakan metode belt transect yaitu dengan luas 200m² dengan 3 kali ulangan untuk mewakili area reef flat dan reef slope. Jenis anemon yang ditemukan di perairan Desa Kaswari yaitu Heteractis crispa dan Heteractis malu. Kelimpahan anemon di perairan Desa Kaswari pada stasiun Reef Flat adalah 0,045 individu/m² sedangkan pada stasiun Reef Slope adalah 0,065 individu/m². Hasil Uji-T diperoleh nilai t-hitung (-2.000) ≤ t-tabel (2.776). Artinya bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara nilai rata-rata individu anemon pada daerah reef flat dan reef slope meskipun berada pada zona terumbu karang yang berbeda.Kata Kunci: Kelimpahan anemon, Terumbu karang, Kaswari.
DISTRIBUSI DAN KEANEKARAGAMAN ASCIDIACEA DI PULAU HOGA BAGIAN BARAT PERAIRAN TAMAN NASIONAL WAKATOBI SULAWESI TENGGARA Junawir, .; Palupi, Ratna Diyah; Rahmadani, .
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 6, No 3: Agustus 2021
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v6i3.20991

Abstract

Ascidiacea diketahui memiliki berbagai manfaat, secara ekologi maupun ekonomis, Ascidiacea berperan dalam pengendalian fitoplankton dan dapat mengurangi eutrofikasi dan konsentrasi kontaminan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan bahan obat-obatan. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman hayati Ascidiacea, kepadatan, distribusi jenis dan preferensi substrat yang ditempati Ascidiacea di Pulau Hoga. Metode pengambilan data yang digunakan adalah line intercept transect untuk pengambilan data tutupan terumbu karang dan pengamatan langsung sepanjang transek sabuk dengan luas 100 m² untuk pangamatan Ascidiacea. Transek dipasang sejajar dengan garis pantai dan pada setiap zona terumbu karang dan dilakukan 2 ulangan sebanyak 3 stasiun penelitian. Hasil dari penelitian keanekaragaman Ascidiacea ditemukan 4 famili terdiri dari 9 jenis yaitu Atriolum robustum, Clavelina sp., Didemnum molle, Lissoclinum patella, Polycarpa aurata, Polycarpa sp 1, Polycarpa sp 2, Rhopaleae sp., dan Siginella signifera. Kepadatan Ascidiacea berdasarkan stasiun tertinggi pada stasiun I dan berdasarkan jenis tertinggi dari jenis Didemnum molle sebesar 54,67 individu/m² dengan nilai kepadatan rata-rata Ascidiacea yaitu 6,73 individu/m². Sementra itu substrat yang paling banyak ditempati Ascidiacea yaitu jenis death coral with alga (DCA). Kondisi terumbu karang pada lokasi penelitian dengan persentase karang hidup rata-rata 34,36 % pada slope dan 46,71 % pada flat berdasarkan satasiun tertinggi pada stasiun 3 dengan persentase 38,6 % pada slope dan 55,32 %  pada flat.Kata Kunci : Tunikata, Chordata, Terumbu Karang, Wakatobi.