Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

IDENTIFIKASI SPONS BERDASARKAN TUTUPAN KARANG DI PERAIRAN SOMBU TAMAN NASIONAL WAKATOBI Husmayani, Wa Ode; Sadarun, Baru; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Sapa Laut Vol 6, No 4: November 2021
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v6i4.21856

Abstract

Spons merupakan hewan multiseluler paling primitif yang hidup diberbagai tipe perairan mulai dari tawar, payau, dan laut. Biota ini hidup di dasar perairan dan biasanya menempel pada substrat keras seperti batu atau karang dan berkompetisi dengan organisme penempel lainnya untuk memperoleh ruang dan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan kepadatan spons berdasarkan tutupan karang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2020 – Juli 2021, di Perairan Sombu Taman Nasional Wakatobi. Pengambilan data spons dilakukan dengan menggunakan metode belt transect dengan panjang line transect 50 m dengan lebar 4 m pada kedalaman 3 m (reef flat) dan 7 m (reef slope) pada masing-masing stasiun. Data diambil bersama dengan tutupan karang menggunakan metode line intercept transect (LIT) dengan panjang line transect 50 m pada kedalaman yang sama dengan data spons. Hasil penelitian didapatkan bahwa keanekagaraman hayati spons yang ditemukan dilokasi penelitian yaitu sebanyak 2 kelas, 19 famili dan 23 genus. Yakni  keanekaragaman jenis spons tertinggi yaitu pada stasiun I sebesar 20 genus, serta kepadatan spons tertinggi sebesar 0,18 individu/m2 terdapat pada genus   Spheciospongia sp., kepadatan spons tertinggi berdasarkan stasiun terdapat pada stasiun I zona reef slope yaitu dengan nilai 0,32 individu/m². Persentase tutupan karang pada stasiun I dan II masuk dalam kondisi baik, sedangkan pada stasiun III masuk dalam kondisi sedang. Keanekaragaman dan kepadatan spons dipengaruhi adanya keberadaan terumbu karang, sehingga keberadaan tutupan karang yang tinggi menyebabkan melimpahnya pertumbuhan spons.Kata Kunci : Keanekaragaman, Kepadatan, Spons, Terumbu Karang 
STATUS KEBERADAAN KIMA (Tridacnidae) DI KAWASAN TAMAN LAUT KIMA TOLI-TOLI, SULAWESI TENGGARA Fitriani, Sri Nunung; Sadarun, Baru; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 7, No 1: Februari 2022
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v7i1.24335

Abstract

Taman Laut Kima Toli-Toli merupakan kawasan taman laut yang dibentuk sejak awal tahun 2010 atas kepedulian masyarakat Desa Toli-Toli akan rusaknya kondisi perairan di desa tersebut. Masyarakat Desa Toli-Toli mentranslokasi beberapa jenis kima dari Perairan Labengki dan sekitarnya, sampai ke Kepulauan Menui hingga Kepulauan Banggai. Tujuan dari penelitian ini yaitu, untuk mengetahui status keberadaan kima berdasarkan keanekaragaman dan kepadatannya. Sebagai data pendukung, dilakukan perhitungan persentase penutupan terumbu karang di kawasan Taman Laut Kima Toli-Toli. Pengambilan data lapangan dilakukan pada bulan Oktober 2020, dengan 2 titik stasiun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu belt transect seluas 100 m2 untuk pengambilan data keanekaragaman dan kepadatan kima, dan Line Intercept Transect (LIT) sepanjang 50 m untuk pengambilan data tutupan terumbu karang. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu keanekaragaman hayati kima yang ditemukan sebanyak 7 jenis, yaitu Tridacna derasa, T. maxima, T. crocea, T. squamosa, T. tevoroa, Hippopus hippopus dan H. porcellanus. Rata-rata kepadatan kima di lokasi pnelitian sebesar 0,33 ind/m2, dengan kepadatan tertinggi terdapat pada Stasiun I sebesar 0,41 ind/m2, dan kepadatan terendah terdapat pada Stasiun II sebesar 0,24 ind/m2. Data kepadatan jenis kima tertinggi ditemukan pada T. squamosa sebesar 0,16 ind/m2, dan kepadatan jenis kima terendah pada T. tevoroa sebesar 0,002 ind/m2. Rata-rata kondisi terumbu karang di kawasan Taman Laut Kima Toli-Toli tergolong sedang (45,20%), dimana persentase tutupan terumbu karang hidup pada Stasiun I sebesar 39,33% (kategori sedang) dan Stasiun II sebesar 51,06% (kategori baik). Data kepadatan kima dengan persentase tutupan terumbu karang pada penelitian ini tidak dapat dihubungkan, karena kima yang terdapat pada lokasi penelitian merupakan kima hasil translokasi.Kata Kunci: Desa Toli-Toli, Biodiversitas, Kepadatan, Kima, Terumbu Karang
Strategi Pengembangan Wisata Bahari Desa Namu Guna Mendukung Perekonomian Masyarakat Sadar Wisata Palupi, Ratna Diyah; Ira, -; Risfandi, -
MANAJEMEN IKM: Jurnal Manajemen Pengembangan Industri Kecil Menengah Vol. 14 No. 1 (2019): Manajemen IKM
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.466 KB) | DOI: 10.29244/mikm.14.1.8-14

Abstract

The consequence of tourist village is the community's psychology and environmental carrying capacity. Good strategy will be able to realize the welfare of the village community. The purpose of this study is to make a tourism development strategy in the Namu Village. Methods of data collection using sampling techniques through interviews and questionnaires with a total samples of 70 respondents. Characteristics of tourism conditions and potential are analyzed by supply-demand. While demand analysis is used to recognize the pattern of visitor demand. Both of these analyzes are used as reference materials for development strategies by strengths, weaknesses, opportunities, and threats SWOT analyzed. Furthermore, based on the Internal Factor Analysis Summary (IFAS), the beauty of Namu and the waterfall become the main attraction for tourist destination. On the other side the disadvantage is the unpreparedness of the Namu village community make them not enough in economically. External Factor Analysis Summary (EFAS), partisanship of the government enable for Namu to be developing in marine tourism. However the threats was come from outside investor which can reduce the role of the community to improve their economy. Based on the analysis of IFAS and EFAS, the Namu Village's tourism development strategy is to improve the quality of tourism objects, increasing the role of the government, looking for investors especially in the transportation sector, improve community capacity. For instance manufacture of fishery products, souvenirs, and culinary. Finally safeguard ecosystems through waste management
Pelatihan Peningkatan Keterampilan Perempuan Pesisir Sebagai Penggerak Ekonomi Keluarga di Desa Batu Jaya Sulawesi Tenggara Ira, Ira; Palupi, Ratna Diyah; Haslianti, Haslianti
MANAJEMEN IKM: Jurnal Manajemen Pengembangan Industri Kecil Menengah Vol. 14 No. 2 (2019): Manajemen IKM
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/mikm.14.2.102-108

Abstract

Desa Batu Jaya adalah salah satu desa pesisir di Kecamatan Laonti. Sumber daya ikan yang masih menjanjikan tidak diimbangi dengan hasil produksi perikanan yang besar di desa tersebut. Hal ini diduga akibat beralihnya ketertarikan nelayan Batu Jaya dari perikanan ke sektor tambang. Hal tersebut secara sosial ekonomi memberi dampak kepada perempuan pesisir Desa Batu Jaya dalam menghadapi kerasnya kehidupan ditinggal merantau oleh para suaminya. Tujuan penelitian ini meningkatkan kapasitas perempuan pesisir melalui pembelajaran dan pemberdayaan pengolahan limbah sampah plastik dan olahan makanan berbahan dasar ikan. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner, wawancara terstruktur, wawancara mendalam, dan observasi partisipatif. Hasil pengolahan limbah sampah plastik berhasil dibuat dalam bentuk lima produk lampion dan 10 produk bunga. Program olahan makanan berbahan dasar ikan berhasil dibuat melalui pembuatan bakso ikan, nugget ikan, dan abon ikan. Semua produk tersebut akan dijual oleh ibu-ibu nelayan Batu Jaya untuk menambah pendapatan keluarga
KANDUNGAN LOGAM BERAT NIKEL (Ni) PADA AIR LAUT DI PERAIRAN DESA SANGI-SANGI Nurfadilah, Nurfadilah; Emiyarti, Emiyarti; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Sapa Laut Vol 9, No 2: Mei 2024
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v9i2.49069

Abstract

Nikel merupakan salah satu jenis logam berat yang berwarna putih keperakan, yang dapat masuk ke badan perairan melalui sumber alami dan antropogenik yang terkait dengan aktivitas manusia seperti pelayaran, pertambangan dan limbah perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat nikel pada air laut dan mengetahui pengaruh parameter oseanografi terhadap kandungan logam berat nikel pada air laut. Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Sangi-Sangi pada bulan November 2022 dengan tujuh titik stasiun penelitian. Metode pengambilan sampel air laut dan pengukuran parameter oseanografi dilakukan secara in situ dan analisis kandungan logam berat nikel menggunakan instrumen Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Hasil dari penelitian ini menunjukkan konsentrasi logam berat nikel dengan nilai rata-rata 0,0128 mg/L dengan konsentrasi terendah berada pada stasiun 5 dengan nilai 0,009 mg/L, dan konsentrasi tertinggi berada pada stasiun 7 dengan nilai 0,018 mg/L. Hasil pengukuran parameter oseanografi perairan diperoleh kisaran yaitu kecepatan arus 0,05-0,20 m/s, suhu 30-31oC, Salinitas 23-25 ppt, dan pH 6-7. Kandungan logam berat nikel pada air laut masih dibawah ambang batas baku mutu logam berat nikel pada air laut peruntukan biota laut berdasarkan keputusan menteri lingkungan hidup no 51 tahun 2004. Parameter oseanografi yang paling berpengaruh terhadap konsentrasi logam berat nikel di perairan Desa Sangi-Sangi yaitu salinitas. Kata kunci: Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), Desa Sangi-Sangi, Logam Berat, Nikel (Ni).
POLA TINGGI GELOMBANG LAUT DI PERAIRAN KENDARI DAN SEKITARNYA Ansa, Asria Agustina; Palupi, Ratna Diyah; Pratikino, A. Ginong
Jurnal Sapa Laut Vol 7, No 2: Mei 2022
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v7i2.27288

Abstract

Gelombang laut merupakan salah satu parameter oseanografi. Gelombang yang dibangkitkan oleh angin merupakan gelombang yang paling dominan terjadi di permukaan laut. Keberadaan gelombang laut di permukaan memengaruhi hampir semua kegiatan di laut misalnya alur pelayaran, operasi pelabuhan, pengeboran minyak, sarana olahraga, penangkapan ikan, desain bangunan pelabuhan serta menentukan transport sedimen yang terjadi di pantai dan perubahan garis pantai. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik gelombang laut (tinggi gelombang signifikan dan maksimum). Penelitian ini menggunakan data berupa arah dan kecepatan angin selama 5 tahun (2015-2019) yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maritim Kelas II Kendari. Data angin dianalisis menggunakan software Wrplot versi 8.0.2 dan disajikan dalam bentuk mawar angin. Selanjutnya data angin dikonversi (peramalan) menjadi data gelombang menggunakan metode Sverdrup Munk Bretschneider (SMB). Hasil penelitian di Perairan Kendari dan sekitarnya angin bertiup dominan berasal dari Timur Laut dan Tenggara yaitu Perairan Menui dan Wawonii, yang terjadi pada musim Barat, musim Peralihan I, musim Timur dan musim Peralihan II dengan kecepatan angin dominan 6,10 m/s (12 knot). Hasil peramalan gelombang laut signifikan di Perairan Kendari dan sekitarnya berada pada rentang 0,73-0,96 m dan tinggi gelombang maksimum yaitu 2,73 m. Gelombang ekstrim terjadi pada musim Timur yaitu bulan Juni-Juli dari arah tenggara yakni perairan Wawonii.Kata Kunci: Angin, Gelombang lau, Perairan Kendari, SMB
KELIMPAHAN ZOOXANTHELLA PADA KARANG SCLERACTINIA BERDASARKAN KEDALAMAN DI PERAIRAN BUNGKUTOKO SULAWESI TENGGARA Ilmy, Nurul; Palupi, Ratna Diyah; Rahmadani, Rahmadani
Jurnal Sapa Laut Vol 8, No 2: Mei 2023
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v8i2.43190

Abstract

Terumbu karang merupakan ekosistem laut yang memiliki produktivitas tinggi. Dalam proses pembentukan terumbu karang tidak terlepas dari peran alga simbionnya zooxanthella. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang berdasarkan persentase tutupan karang dan kelimpahan zooxanthella pada karang sclarectinia berdasarkan kedalaman di Perairan Bungkutoko. Pengambilan data kondisi terumbu karang dilakukan dengan menggunakan metode Line Intersect Transek (LIT) dan pengambilan sampel karang Acropora sp. dan Porites sp. dengan menggunakan metode koleksi bebas dengan menggunakan alat SCUBA sedangkan analisis kelimpahan zooxanthella dilakukan metode homogenesasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang pada Perairan Bungkutoko termasuk dalam kategori baik dengan nilai tutupan karang sebesar 50,5% dan kelimpahan zooxanthella berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh kelimpahan zooxanthella yang tertinggi berada pada kedalaman 10 meter yaitu pada Acropora sp. sebanyak 2,46 x 106 sel/cm2 dan pada Porites sp. sebanyak 4,67 x 106 sel/cm2. Adanya perbedaan kelimpahan zooxanthella pada masing-masing kedalaman dipengaruhi oleh perbedaan kondisi terumbu karang dan faktor lingkungannya. Kata Kunci : Perairan Bungkutoko, Terumbu karang, Zooxanthella.
Pemodelan Sebaran Larva Karang (Acropora) di Perairan Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi Nusantara, Garda; Takwir, Amadhan; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Laut Pulau: Hasil Penelitian Kelautan Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Laut Pulau
Publisher : Prodi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jlpvol3iss1pp28-37

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tutupan karang dan pola arus permukaan serta sebaran larva karang Acropora di perairan Pulau Wangi-Wangi dengan menggunakan pendekatan pemodelan. Pengambilan data tutupan terumbu karang menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) dan dianalisis menggunakan perangkat lunak Coral Point Count with Excel Extensions (CPCe). Pemodelan sebaran larva Acropora dilakukan dengan memanfaatkan modul Partickel Tracking (PT) pada perangkat pemodelan MIKE 21. Simulasi dilakukan selama 15 hari pada periode purnama, dari tanggal 8-23 Maret 2023. Hasil pengamatan terumbu karang di Pulau Wangi-Wangi menunjukkan persentase tutupan karang Acropora dan non Acropora rata-rata berkisar pada kategori sedang dengan persentase terendah 13,47% di stasiun 1, Pulau Sumanga sedangkan persentase tertinggi di Pulau Matahora dengan persentase sebesar 61,77%. Hasil simulasi model Hidrodinamika menunjukkan bahwa rata-rata kecepatan arus di lokasi penelitian sekitar 0,1 m/s. Hasil simulasi model PT menunjukkan bahwa pergerakan larva karang Acropora mengikuti pola arus. Prediksi wilayah yang potensial untuk wilayah rekrutmen karang adalah Pulau Kapota, Pulau Matahora, Pesisir Desa Pongo dan Desa Liya Togo.
Pengukuran Data Pasang Surut Menggunakan Kearifan Lokal Etno-Oseanografi (Suku Sama) dan Metode Admiralty di Mola Raya, Wakatobi Khalifah, Nur; Asmadin, Asmadin; Palupi, Ratna Diyah
Jurnal Laut Pulau: Hasil Penelitian Kelautan Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Laut Pulau
Publisher : Prodi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jlpvol3iss2pp21-28

Abstract

Pengetahuan etno-oseanografi Suku Sama di Indonesia sangat banyak dan beragam tergantung pada wilayah dan masyarakatnya, salah satunya adalah mengetahui pasut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui etno-oseanografi Suku Sama di Mola Raya dan analisis pasang surut dengan metode admiralty. Metode penelitian ini adalah metode eksplorasi kuantitatif. Pengumpulan data etno-oseanografi menggunakan teknik wawancara, kuesioner dan observasi langsung. Metode Admiralty menggunakan data pasang-surut (data sekunder) selama 15 hari yang diperoleh dari Stasiun BMKG Kendari. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Suku Sama memiliki pengetahuan lokal tentang faktor-faktor yang memengaruhi pasang-surut (Likkas Boe) termasuk pengamatan langsung, pola bulan, pola cuaca, pengalaman turun-temurun, dan hubungan dengan faktor eksternal seperti angin laut. Suku Sama mengamati pasang surut disetiap hari selama 4 waktu yaitu, saat pagi (lagisangan), siang (tinga bangi’), sore (kimowok), dan malam (sangan’). Suku Sama di Mola Raya menyimpulkan bahwa ketinggian air laut saat pasang (Pasolon) mencapai >1,5 m dan surut (Panggiri) < 1,5 m. Bilangan Formzahl yang dihasilkan adalah 1,8420 berdasarkan hasil perhitungan tersebut, tipe pasang surut di lokasi penelitian adalah tipe pasang surut campuran condong ke harian ganda (Mixed Tide, Prevailing Semidiurnal).
Bakteri yang Berasosiasi dengan Karang Keras yang Terinfeksi Penyakit White Syndrome di Perairan Sawopudo, Sulawesi Tenggara, Indonesia Palupi, Ratna Diyah; Sabdaningsih, Aninditia; Ayuningrum, Diah; Sabdono, Agus
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 1 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.%v.%i.%Y.%p

Abstract

Coral disease is one of the most significant factors contributing to coral mortality, leading to a reduction in coral cover. The direct causes of coral disease remain a subject of ongoing investigation by researchers at both national and international levels. There is a relationship between corals and microbes that form the coral holobiont, which can be beneficial, harmful, or neutral. This study aims to isolate, purify, and identify bacteria associated with corals infected with white syndrome (WS) at the molecular level through 16S rRNA gene amplification. Coral samples infected with WS were collected from the Sawopudo Waters in Southeast Sulawesi using purposive sampling through snorkeling. The coral life forms sampled included massive, sub-massive, and branching types, collected from approximately three different colonies. Bacterial analysis associated with WS coral disease was conducted in the laboratory, initially with isolation using the spread plate method and purification through quadrant streaking on peptone, yeast, and agar media. Once pure bacterial colonies were obtained, the bacterial isolates associated with WS-infected corals were injected into healthy corals using laboratory-scale Koch's postulates. The results showed 8 (eight) bacterial isolates associated with WS-infected corals (SWS01, SWS02, SWS03, SWS04, SWS05, SWS06, SWS07, and SWS08). Based on Koch's postulates, isolates SWS01 and SWS07 exhibited visual signs of WS disease. Further isolation and purification were only conducted on isolate SWS01. Molecular identification using 16S rRNA gene amplification revealed that isolate SWS01 is closely related to Priestia flexa (99.72% similarity), isolate SWS07 is closely related to Bacillus velezensis (99.68% similarity), and the re-cultured isolate from Koch's postulates is closely related to Alteromonas macleodii (99.64% similarity).Penyakit karang adalah salah satu faktor terpenting penyebab kematian karang dan dapat menurunkan tutupan karang. Penyebab langsung penyakit karang hingga saat ini masih terus dicari oleh para peneliti baik skala nasional maupun internasional. Terdapat hubungan antara karang dengan mikrobia yang membentuk coral holobiont yang dapat bersifat menguntungkan, merugikan, dan netral. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, mempurifikasi, dan mengidentifikasi bakteri yang berasosiasi dengan karang terinfeksi white syndrome (WS) secara molekuler dengan amplifikasi gen 16S rRNA. Sampel karang terinfeksi WS diambil di Perairan Sawopudo-Sulawesi Tenggara dengan metode purposive sampling melalui snorkeling. Bentuk pertumbuhan karang yang diambil sebagai sampel adalah massive, sub massive, dan branching yang diambil dari 3 koloni yang berbeda. Analisis bakteri asosiasi karang terinfeksi WS dilakukan di laboratorium dimulai dengan isolasi dengan metode sebar dan purifikasi dengan metode gores kuadran pada media pepton, yeast, dan agar. Setelah diperoleh koloni murni, isolat bakteri yang berasosiasi dengan karang WS diinjeksikan ke karang sehat menggunakan uji Postulat Koch skala laboratorium. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya 8 (delapan) isolat bakteri yang berasosiasi dengan karang terinfeksi WS dengan kode isolat S.WS.01, S.WS.02, S.WS.03, S.WS.04, S.WS.05, S.WS.06, S.WS.07, dan S.WS.08. Uji Postulat Koch tidak berhasil dalam penelitian ini, akan tetapi isolat bakteri S.WS.01 dan S.WS.07 menunjukkan tanda-tanda penyakit WS secara visual pada saat uji Postulat Koch. Setelah dilakukan identifikasi molekuler menggunakan amplifikasi gen 16S rRNA, isolat S.WS.01 berkerabat dekat dengan Priestia flexa (99,72% kemiripan), isolat S.WS.07 berkerabat dekat dengan Bacillus velezensis (99,68% kemiripan), dan untuk isolat hasil kultur kembali dari Postulat Koch berkerabat dekat dengan Alteromonas macleodii (99,64% kemiripan).