Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : JURNAL PANGAN

Peluang Aplikasi Mikroenkapsulat Vitamin A Dan Zat Besi Sebagai Fortifikan (The Chance of Aplication Microencapsulat Vitamin A and Iron as Fortificants) Sugiyono, Sugiyono; Asterini, Windi; Prangdimurti, Endang
JURNAL PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1392.839 KB) | DOI: 10.33964/jp.v25i1.306

Abstract

Vitamin A dan zat besi termasuk salah satu zat gizi mikro yang dibutuhkan oleh tubuh. Kekurangan asupan dan absorbsi zat gizi mikro dapat mengakibatkan gangguan pada kesehatan, pertumbuhan, dan fungsi lainnya di dalam tubuh. Program fortifikasi merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah defisiensi vitamin A dan zat besi. Kedua mikronutrien ini sering digunakan menjadi fortifikan akan tetapi masing-masing senyawa ini memiliki reaksi negatif di dalam bahan pangan. Vitamin A merupakan senyawa yang rentan terhadap suhu tinggi, cahaya dan udara (oksigen), sedangkan zat besi dapat menghasilkan efek negatif pada sensori (bau dan warna) pangan fortifikasi. Perlindungan fortifikan dari pengaruh lingkungan sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan program fortifikasi. Salah satu caranya ialah dengan menggunakan teknologi enkapsulasi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa fortifikasi dengan menggunakan teknik mikroenkapsulasi menghasilkan fortifikasi yang lebih stabil, tidak merubah bahan pangan pembawa fortifikan secara fisik dan kimia. Oleh karena itu pembuatan mikroenkapsulasi fortifikan dinilai lebih efisien dan efektif dalam mengatasi masalah defisiensi zat gizi mikro.Vitamin A and iron are essential micronutrients needed by the body. Deficiency of intake and absorption of micronutrients can lead to disturbances in health, growth and other functions in the body. Fortification is one of the government programs to cope with the deficiency of vitamin A and iron. Both compounds are often used as fortificants, but their present promotes undesirable reaction in foodstuffs. Vitamin A is susceptible to high temperature, light and air (oxygen), while iron can result in detrimental effects on the color and smell. Therefore, the protection of fortificants against environmental effect in food system is highly required, and encapsulation is a promising technique. Previous studies showed that microencapsulation technique produced more stable compounds and unchanged chemical and physical characteristics of fortified food. For this reason, microencapsulation in fortified food is considered as efficient and effective way in addressing micronutrient deficiencies. 
Diet Berbasis Sorgum (Sorghum bicolor L Moench) Memperbaiki Proliferasi Limfosit Limfa dan Kapasitas Antioksidan Hati Tikus Zakaria, Fransiska R.; Prangdimurti, Endang; Puspawati, G. A. Kadek Diah; Thahir, Ridwan; Suismono, Suismono
JURNAL PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1933.278 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i3.155

Abstract

Sorgum merupakan tanaman serealia yang sangat berguna sebagai sumber karbohidrat alternatif dalam program diversifikasi pangan. Sorgum memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan beras dan berprospek baik untuk dikembangkan di Indonesia. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa sorgum sangat baik untuk kesehatan, antara lain untuk mengurangi resiko penyakit degeneratif. Penelitian secara in vitro sebelumnya, menunjukkan bahwa serealia ini mampu meningkatkan proliferasi limfosit manusia, yang menunjukkan perbaikan sistem imun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari efek sorgum terhadap sistem imun dan kapasitas antioksidan secara in vivo pada tikus. Tiga kelompok tikus diberi pakan kontrol, pakan mengandung 50 persen atau 100 persen sorgum sebagai sumber karbohidrat selama 7 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tikus yang diberi pakan mengandung 50 persen atau 100 persen sorgum mengalami peningkatan aktivitas proliferasi mencapai berturut-turut 70 persen dan 63 persen, aktivitas antioksidan hati (DPPH) mencapai 38 persen dan 29 persen, aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD) mencapai 98 persen dan 91 persen, aktivitas enzim katalase (CAT) mencapai 28 persen dan 21 persen, dan aktivitas glutation peroksida (GPx) mencapai 57 persen dan 33 persen, akan tetapi mengalami penurunan kandungan malondialdehid (MDA) hingga 22 persen dan 16 persen. Penelitian ini menunjukkan bahwa sorgum mempunyai aktifitas imunostimulani dan aktivitas perbaikan antioksidan sehingga baik bagi kesehatan.Sorghum is a cereal that would be useful as alternative carbohydrate source in food diversification program. It has higher protein content than rice and good prospect to be developed in Indonesia. Researches have shown that sorghum has functions in health, such as to decrease degenerative disease risk. Previous in vitro study of sorghum showed that this cereal could increase human lymphocyte cell proliferation in vitro, indicating immune system improvement. The objectives of this research were to study the effects of sorghum on the in vivo immune system and liver antioxidant capacity in rats. Three groups of rats were fed control diet, diet containing 50 percent or 100 percent sorghum as sources of carbohydrate. The results showed that the rats fed with 50 percent or 100 percent sorghum displayed increase in, respectively, proliferation activity by 70 percent and 63 percent; liver antioxidant activity (DPPH) by 38 percent and 29 percent, super dioxide dismutase enzyme activity (SOD) by 98 percent and 91, catalyst enzyme activity (CAT) by 28 percent and 21 percent, and glutathione peroxides enzyme activity (GPx) by 57 percent and 33 percent; but decreased in malondialdehyde (MDA) by 22 percent and 16 percent. This research showed that sorghum has immunostimulation and antioxidant improvement activities and will be very good as source of carbohydrate diet. 
Diet Berbasis Sorgum (Sorghum bicolor L Moench) Memperbaiki Proliferasi Limfosit Limfa dan Kapasitas Antioksidan Hati Tikus Fransiska R. Zakaria; Endang Prangdimurti; G. A. Kadek Diah Puspawati; Ridwan Thahir; Suismono Suismono
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i3.155

Abstract

Sorgum merupakan tanaman serealia yang sangat berguna sebagai sumber karbohidrat alternatif dalam program diversifikasi pangan. Sorgum memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan beras dan berprospek baik untuk dikembangkan di Indonesia. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa sorgum sangat baik untuk kesehatan, antara lain untuk mengurangi resiko penyakit degeneratif. Penelitian secara in vitro sebelumnya, menunjukkan bahwa serealia ini mampu meningkatkan proliferasi limfosit manusia, yang menunjukkan perbaikan sistem imun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari efek sorgum terhadap sistem imun dan kapasitas antioksidan secara in vivo pada tikus. Tiga kelompok tikus diberi pakan kontrol, pakan mengandung 50 persen atau 100 persen sorgum sebagai sumber karbohidrat selama 7 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tikus yang diberi pakan mengandung 50 persen atau 100 persen sorgum mengalami peningkatan aktivitas proliferasi mencapai berturut-turut 70 persen dan 63 persen, aktivitas antioksidan hati (DPPH) mencapai 38 persen dan 29 persen, aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD) mencapai 98 persen dan 91 persen, aktivitas enzim katalase (CAT) mencapai 28 persen dan 21 persen, dan aktivitas glutation peroksida (GPx) mencapai 57 persen dan 33 persen, akan tetapi mengalami penurunan kandungan malondialdehid (MDA) hingga 22 persen dan 16 persen. Penelitian ini menunjukkan bahwa sorgum mempunyai aktifitas imunostimulani dan aktivitas perbaikan antioksidan sehingga baik bagi kesehatan.Sorghum is a cereal that would be useful as alternative carbohydrate source in food diversification program. It has higher protein content than rice and good prospect to be developed in Indonesia. Researches have shown that sorghum has functions in health, such as to decrease degenerative disease risk. Previous in vitro study of sorghum showed that this cereal could increase human lymphocyte cell proliferation in vitro, indicating immune system improvement. The objectives of this research were to study the effects of sorghum on the in vivo immune system and liver antioxidant capacity in rats. Three groups of rats were fed control diet, diet containing 50 percent or 100 percent sorghum as sources of carbohydrate. The results showed that the rats fed with 50 percent or 100 percent sorghum displayed increase in, respectively, proliferation activity by 70 percent and 63 percent; liver antioxidant activity (DPPH) by 38 percent and 29 percent, super dioxide dismutase enzyme activity (SOD) by 98 percent and 91, catalyst enzyme activity (CAT) by 28 percent and 21 percent, and glutathione peroxides enzyme activity (GPx) by 57 percent and 33 percent; but decreased in malondialdehyde (MDA) by 22 percent and 16 percent. This research showed that sorghum has immunostimulation and antioxidant improvement activities and will be very good as source of carbohydrate diet. 
Peluang Aplikasi Mikroenkapsulat Vitamin A Dan Zat Besi Sebagai Fortifikan (The Chance of Aplication Microencapsulat Vitamin A and Iron as Fortificants) Sugiyono Sugiyono; Windi Asterini; Endang Prangdimurti
JURNAL PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v25i1.306

Abstract

Vitamin A dan zat besi termasuk salah satu zat gizi mikro yang dibutuhkan oleh tubuh. Kekurangan asupan dan absorbsi zat gizi mikro dapat mengakibatkan gangguan pada kesehatan, pertumbuhan, dan fungsi lainnya di dalam tubuh. Program fortifikasi merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah defisiensi vitamin A dan zat besi. Kedua mikronutrien ini sering digunakan menjadi fortifikan akan tetapi masing-masing senyawa ini memiliki reaksi negatif di dalam bahan pangan. Vitamin A merupakan senyawa yang rentan terhadap suhu tinggi, cahaya dan udara (oksigen), sedangkan zat besi dapat menghasilkan efek negatif pada sensori (bau dan warna) pangan fortifikasi. Perlindungan fortifikan dari pengaruh lingkungan sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan program fortifikasi. Salah satu caranya ialah dengan menggunakan teknologi enkapsulasi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa fortifikasi dengan menggunakan teknik mikroenkapsulasi menghasilkan fortifikasi yang lebih stabil, tidak merubah bahan pangan pembawa fortifikan secara fisik dan kimia. Oleh karena itu pembuatan mikroenkapsulasi fortifikan dinilai lebih efisien dan efektif dalam mengatasi masalah defisiensi zat gizi mikro.Vitamin A and iron are essential micronutrients needed by the body. Deficiency of intake and absorption of micronutrients can lead to disturbances in health, growth and other functions in the body. Fortification is one of the government programs to cope with the deficiency of vitamin A and iron. Both compounds are often used as fortificants, but their present promotes undesirable reaction in foodstuffs. Vitamin A is susceptible to high temperature, light and air (oxygen), while iron can result in detrimental effects on the color and smell. Therefore, the protection of fortificants against environmental effect in food system is highly required, and encapsulation is a promising technique. Previous studies showed that microencapsulation technique produced more stable compounds and unchanged chemical and physical characteristics of fortified food. For this reason, microencapsulation in fortified food is considered as efficient and effective way in addressing micronutrient deficiencies. 
Efisiensi Proses Produksi dan Karakteristik Tempe dari Kedelai Pecah Kulit (Production Process Efficiency and Characteristic of Tempe from Dehulled Soybean) Intan Kusumawati; Made Astawan; Endang Prangdimurti
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i2.492

Abstract

Tempe merupakan salah satu pangan fermentasi yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Proses produksinya diperoleh secara turun-temurun, sehingga sangat beragam antar wilayah dan antar perajin.  Salah satu keragaman pada pembuatan tempe adalah penggunaan kedelai pecah kulit sebagai bahan bakunya. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan efisiensi proses produksi dan karakteristik tempe yang terbuat dari kedelai pecah kulit dan kedelai utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses produksi tempe dari kedelai pecah kulit cenderung lebih efisien dibandingkan tempe dari kedelai utuh, yaitu masing-masing dengan B/C 1,89 dan 1,88. Produksi tempe dari kedelai pecah kulit secara nyata mengurangi komponen biaya untuk penggunaan tenaga kerja dan air per batch produksi. Uji T menunjukkan tempe yang terbuat dari kedelai utuh mempunyai kadar air, abu, protein, aroma, daya iris dan kekerasan yang nyata lebih tinggi (p<0,05) dibandingkan tempe dari kedelai pecah kulit. Akan tetapi, tidak terdapat perbedaan yang nyata antar kedua tempe pada kadar lemak, karbohidrat, isoflavon (daidzein dan genistein), dan atribut warna.Tempe is a popular fermented food in Indonesia which the production process is obtained by generations, so it is very varies between regions and producers. One of the variations is use dehulled soybean as raw material. The purpose of this study was to compare the production process efficiency and characteristics of tempe from dehulled soybean and whole soybean. The results of study showed that production process of tempe from dehulled soybean was tends more efficient than tempe from whole soybean, with B/C ratio were 1,89 and 1,88. Production process of tempe from dehulled soybean significantly reduced the cost for labor and water per bacth production. Based on the T-test, tempe from whole soybean more higher (p<0,05) in moisture, ash, and protein contents, aroma and texture than tempe from dehulled soybean. Besides that, tempe from dehulled soybean had fat and isoflavone (daidzein and genistein) contents, and color as high as whole soybean tempe.
Co-Authors . Hana Afriyanti , Ani Akyla, Clarissa Anggrei Viona Seulalae Anita Roserlina Annisa Nazifa Salman Antung Sima Firlieyanti Apriliana W. Hartanti Asterini, Windi Azis Boing Sitanggang Bambang Pontjo Bambang Pontjo Priosoeryanto Briantoto, R. Dani C Hanny Wijaya Citta, Eleonora Pradnya Nirmala Clarissa Akyla Claudia Gadizza Perdani, Claudia Gadizza Dase Hunaefi Deddy Muchtadi Dede Robiatul Adawiyah Dian Herawati Dias Indrasti Djumali Mangunwidjaja Erliza Noor Erniati Erniati Erniati, Erniati Florensia Irena R. Napitupulu Fransiska R Zakaria Fransiska R Zakaria Fransiska R Zakaria Fransiska R. Zakaria Fransiska R. Zakaria Fransiska R. Zakaria Fransiska Rungkat Zakaria FRANSISKA RUNGKAT ZAKARIA Fransiska Rungkat Zakaria Fransiska Zakaria Rungkat Gusti Ayu Kadek Diah Puspawati Hana - - Hendra Wijaya Hendra Wijaya Hoerudin Hoerudin Hunaefi, Dase I Kadek Putra Yudha Prawira IB Ketut Widnyana Yoga Indria Mahgfirah Indriyani, Susi Intan Kusumawati Irmanida Batubara Lilis Nuraida Lisa Amanda Yakhin Lusiana Lusiana MADE ASTAWAN Medina Alia Rahmawati Muhammad Iqbal Fanani Gunawan N. Nurjanah Nancy Dewi Yuliana Nanda Triandita Nanda Triandita, Nanda Napitupulu, Florensia Irena R. Nawasari Indah Putri S. Nela Eska Putri, Nela Eska Nesya Nova Febriane Ni'mawati Sakinah Ning Ima Arie Wardayanie, Ning Ima Arie Nouverra Nadya Putri Nur Richana Nuri Andarwulan Nurjanah Nurjanah Nurwijayanti Palupi, Nurheni Sri Patricia, Kezia Puspo Edi Giriwono Puspo Edi Giriwono R. Dani Briantoto Rahayu Suseno Ramlan, H. Reni Koja Rialdi, Azzahra Putri Ridwan Thahir Ridwan Thahir Rina Dias Agustin Ririn Anggraeni Rohani Islami Rosalina, Dian Roserlina, Anita Rumaisho S. Sulistiyani SARASWATI SARASWATI Sari, Dwi Indah Permata Sirly Eka Nur Intan Siti - Winarti Slamet Budijanto Sri Usmiati Sugiyono . Sugiyono Sugiyono Suismono Suismono Suismono, Suismono Sulistiyani, S. Susi Indriyani Sutrisno Koswara Tika Pratiwi Khumairoh Tjahja Muhandri Tunnisa , Fitra Ummul Khayrah Windi Asterini Windi Asterini Yakhin, Lisa Amanda