Claim Missing Document
Check
Articles

Perbedaan Pengembangan Kegiatan Profesi Konselor: Ditinjau Dari “Belum Dan Sudah” Memperoleh Sertifikat Pendidik Anies Lusiana; Endang Poerwanti
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2016): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jkpp.v4i2.11587

Abstract

Abstract: The purpose of this study to describe and analyze the differences in professional development. The purpose of this study to describe and analyze the differences in professional development activities and the counselors that have not been certified in junior derby Pasuruan. This research used a descriptive research comparative quantitative approach. The population in this study is junior counselors of Pasuruan many as 35 people. Data collection techniques by distributing questionnaires to the respondents. Data analysis was performed using descriptive analysis and comparative analysis. The analysis showed that the pedagogical counselor who has been certified by 83% with a performance score of 15 and counselors are not certified as much as 67% with a performance score of 12 out of a maximum score is 18. The personal competence counselor has been certified as much as 85% with a score of 24 and performance counselors are not certified as much as 64% with a performance score of 18 out of a maximum score is 28. social competence counselor who has been certified as much as 86% with a performance score of 19 and counselors that have not been certified as much as 64% with a performance score of 14 out of a maximum score is 22. the professional competence of counselor who has been certified by 32% with a performance score of 23 and counselors are not certified as much as 15% with a performance score of 11 out of the maximum score is 72.Keywords: Counselor profession, Competence counselor, Educator certification Abstrak: Tujuan dari penelitian ini mendeskripsikan dan menganalisis perbedaan kegiatan pengembangan profesi konselor yang belum dan yang sudah sertifikasi di SMP sekota Pasuruan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif komparatif pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah konselor SMP SekotaPasuruan sebanyak 35 orang. Teknik pengumpulan data dengan cara membagikan angket kepada responden. Analisis data dilaksanakan menggunakan analisis deskriptif dan analisis komparatif. Hasil analisis menunjukkan menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik Guru BK/Konselor yang sudah sertifikasi sebanyak 83% dengan skor capaian 15 dan Guru BK/Konselor yang belum sertifikasi sebanyak 67% dengan skor capaian 12 dari skor maksimal yaitu 18. Sedangkan kompetensi kepribadian Guru BK/Konselor yang sudah sertifikasi sebanyak 85% dengan skor capaian 24 dan Guru BK/Konselor yang belum sertifikasi sebanyak 64% dengan skor capaian 18 dari skor maksimal yaitu 28. Kompetensi sosial Guru BK/Konselor yang sudah sertifikasi sebanyak 86% dengan skor capaian 19 dan Guru BK/Konselor yang belum sertifikasi sebanyak 64% dengan skor capaian 14 dari skor maksimal yaitu 22. Sedangkan kompetensi professional Guru BK/Konselor yang sudah sertifikasi sebanyak 32% dengan skor capaian 23 dan Guru BK/Konselor yang belum sertifikasi sebanyak 15% dengan skor capaian 11 dari skor maksimal yaitu 72.Kata kunci: Profesi konselor, Kompetensi konselor, Sertifikasi pendidik
Analisis Implementasi Kebijakan Wajib Belajar 12 Tahun Di Kabupaten Nunukan Carlos Boby Janerio Lamar; Endang Poerwanti; Ichsan Anshory
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2017): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jkpp.v5i1.11589

Abstract

Abstract: This study aims to describe: 1) Implementation of 12 years of compulsory education in Nunukan District, 2) obstacles faced and efforts made on the implementation of the compulsory 12-year study. The study was conducted in Nunukan District. Data collection techniques are interview, observation, and documentation. Analytical techniques used are data reduction, data exposure, and conclusions. To check the validity of data using technique triangulation and source. Research result; 1) Implementation of the 12 years compulsory education in Nunukan District proved to be done without the charge for the SPP at the level of elementary School, Junior School, high school / vocational school. APM fluctuates, the rate of continuing school reaches 92% upward, the passing rate reaches 99% and the dropout rate reaches 0.36%. 2) 12-year fair implementation constraints in Nunukan District are (a) individual mindset: (b) economic condition (c) lack of parental attention; (d) lack of facilities and infrastructure; (e) geographical location as transmigration area; (f) school distance; (g) lack of equity and teacher training; (h) early marriage. 3) Efforts made on the fair implementation of 12 years: (a) The government conducts persuasive socialization to the community for going to school; (b) School dropouts are advised to take non-formal education; (c) The government seeks to make equal distribution of teachers throughout the Nunukan Regency; (d) The procurement of facilities and infrastructure in the 3T area.Keywords: Implementation of policy, Compulsory Education, 12 years Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan: 1) Implementasi wajib belajar 12 tahun di Kabupaten Nunukan, 2) kendala yang dihadapi dan upaya yang dilakukan pada implementasi wajib belajar 12 tahun. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan yaitu reduksi data, paparan data dan kesimpulan. Untuk mengecek keabsahan data menggunakan triangulasi teknik dan sumber. Hasil penelitian; 1) Implementasi wajib belajar 12 tahun di Kabupaten Nunukan terbukti terlaksana tanpa punggutan untuk SPP pada jenjang SD, SMP, SMA/SMK. APM mengalami fluktuatif, angka melanjutkan sekolah mencapai 92% ke atas, angka kelulusan mencapai 99% dan angka putus sekolah mencapai 0,36%. 2) Kendala implementasi wajar 12 tahun di Kabupaten Nunukan yaitu (a) mindset individu: (b) keadaan ekonomi (c) kurangnya perhatian orangtua; (d) kekurangan sarana dan prasarana; (e) letak geografis sebagai daerah transmigrasi; (f) jarak sekolah; (g) kurangnya pemerataan dan pelatihan guru; (h) nikah muda. 3) Upaya yang dilakukan pada implementasi wajar 12 tahun: (a) Pemerintah melakukan sosialisasi persuasif kepada masyarakat agar mau bersekolah; (b) Masyarakat yang putus sekolah disarankan untuk mengambil pendidikan non formal; (c) Pemerintah berupaya melakukan pemerataan guru ke seluruh wilayah Kabupaten Nunukan; (d) Pengadaan sarana dan prasarana di wilayah 3T.Kata Kunci: Implementasi kebijakan, Wajib belajar, 12 Tahun
Analisis Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi Di Sekolah Dasar Kabupaten Lomok Tengah Baiq Sriwulan Suantari; Endang Poerwanti; Ichsan Anshory
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2017): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jkpp.v5i2.11605

Abstract

Abstract: This study aims to find out: 1) the conduct of inclusive education at elementary school level in Central Lombok regency, 2) the management of inclusive education at elementary school level of Central Lombok regency, 3) obstacle and effort conducted by schools that administer the inclusive education. This study is a descriptive qualitative study which applied qualitative method. Its sample was inclusive schools that are located in the rural area as well as downtown and the district capital of Central Lombok regency. The data collection technique was my interview with the Head of Education Board, Local Government of Central Lombok regency, observation related to inclusive education conduct in Central Lombok regency and in the form of photos to support the analysis result. The data analysis technique used the data reduction technique, data presentation, and verification. The result of the study showed that 1) inclusive education implementation in the learning process was done in classical form, there was no service provided by the school toward the children with a special need. The three schools which were taken as a sample of the study were not ready to establish inclusive education due to lack of understanding from the teachers’ side on inclusive education itself. 2) the uneven management system in terms of curriculum implementation, schools A and B applied KTSP while school C used K13 by government regulation. 3) the obstacles faced by the teachers were the lack of understanding from the teachers’ side, the unavailability of expert staff for the special needs, the lack of facility and utility, lack of training provided by the institution whose school administers the inclusive education. The effort should be done by teachers from respective schools is to proceed with the learning process for their students at their best, proceed with the inclusive education program in their respective schools.Keywords: Education, Inclusive, Elementary school Abstrak: Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui: 1) Pelaksanaan pendidikan inklusi di sekolah dasar Kabupaten Lombok Tengah; 2) Manajemen pendidikan inklusi disekolah dasar Kabupaten Lombok Tengah; 3) Kendala dan upaya dan yang di alami sekolah dasar penyelenggara pendidikan inklusi. Desain yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif, dengan sample penelitian yaitu sekolah inklusi yang terletak di Daerah pelosok, di tengah-tengah Kota, dan terletak di Kota Kabupaten Lombok Tengah. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara dengan Dinas Pendidikan, Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Tengan, observasi terkait pelaksanaan Pendidikan Inklusi di Kabupaten Lombok Tengah dan Dokumentasi yang berupa foto-foto untuk memperkuat hasil analisis. Teknik Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik reduksi data, penyajian data dantahap Verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) pelaksanaan pendidikan inklusi dalam proses pembelajaran dilakukan secara klasikal, belum terlihat pelayanan yang diberikan sekolah terhadap anak berkebutuhan khusus. Ketiga sekolah yang menjadi sample dalam penelitian ini tidak siap untuk menyelenggarakan pendidikan inklusi karena pemahaman guru terhadap konsep dari inklusi itu sendiri yang masihkurang. 2) manajemen sekolah dalam kurikulum masih menggunakan KTSP untuksekolah A dan B, sedangkan untuk sekolah C menggunakan kurikulum K13 sesuai ketetapan pemerintah. 3) kendala yang dihadapi guru berupapemahaman guru yang kurang, tidaktersedianya guru pembimbingkhusus, saranadanprasarana, pelatihan yang kurang yang disediakanolehlembagauntuk guru yang sekolahnya menyelenggarakan pendidikan inklusi. Upaya yang dilakukan oleh sekolah yaitu melaksanakan pembelajaran sebaik mungkin untuk para siswa, menlajutkan pendidikan inklusi di sekolah masing-masingKata kunci: Pendidikan, Inklusi, Sekolah dasar
Implementasi Pendidikan Inklusif Di SMKN 2 Malang Desy Rismayanti; Endang Poerwanti
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jkpp.v7i1.12044

Abstract

Abstract: The development of 21st-century education has provided opportunities for persons with disabilities to obtain the same education as students in general. The study aims to find out 1) the implementation of inclusive education which includes the acceptance, planning, implementation, and evaluation of students; 2) supporting and inhibiting factors for the implementation of inclusive schools, and 3) positive and negative impacts of the implementation of inclusive schools in Vocational High School 2 Malang. This research uses qualitative research. The results showed that 1) the implementation was good in terms of acceptance, planning, implementation, and evaluation, which was followed by students with special needs with autism, mentally disabled, ADHD, slow learner, deaf, and dual disability (more disability). 2) Internal and external supporting factors are the collaboration of various inclusive education actors, the government, parents or guardians of students, communities around the school, as well as special assistant teachers. Internal and external inhibiting factors, the lack of infrastructure assistance from the government. 3) The positive impact of the implementation of inclusive education in Vocational High School 2 Malang is the support of all parties to inclusive education, for the negative impact of this study in the inhibiting factor, namely the lack of infrastructure assistance from the government. Researchers suggest that schools should always send letters to the government regarding infrastructure facilities so that the government can be responsive in helping with this. It can also find sponsors through CSR (Corporate Social Responsibility), self-funding from parents of parents, and raising public funds.Keywords: Implementation, Inclusive Education, The Child with Special Needed Abstrak: Perkembangan pendidikan abad 21 ini telah memberikan kesempatan kepada para penyandang difabel untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan siswa pada umumnya.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui a) implementasi pendidikan inklusif berjalan yang meliputi penerimaan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi bagi peserta didik; b) faktor pendukung dan penghambat implementasi sekolah inklusif; serta c) dampak positif dan negatif dari implementasi sekolah inklusif di SMKN 2 Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitiankualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) pelaksanaan sudah baik dalam hal penerimaan, perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi, yang diikuti oleh peserta didik berkebutuhan khusus dengan ketunaanautis, tuna grahita, ADHD, slow learner, tuna rungu, serta ketunaan ganda (lebih ketunaannya). 2) Faktor pendukung internal dan eksternal adanya kolaborasi dari berbagai pelaku pendidikan inklusif, pemerintah, orang tua wali murid, masyarakat sekitar sekolah, serta para guru pendamping khusus. Faktor penghambat internal dan eksternal, minimnya bantuan sarana prasarana dari pemerintah. 3) Dampak positif dari implementasi pendidikan inklusif di SMK Negeri 2 Malang adanya dukungan dari semua pihak pelaku pendidikan inklusif, untuk dampak negatif penelitian ini dalam faktor penghambat yaitu minimnya bantuan sarana prasarana dari pemerintah. Saran peneliti, sebaiknya sekolah selalu mengirim surat untuk pemerintah dalam hal bantuan sarana prasarana agar pemerintah bisa cepat tanggap dalam membantu dalam hal ini. Bisa juga mencari sponsor melalui CSR (Corporate Social Responsibility), swadana dari orang tua wali murid, dan penggalangan dari dana masyarakat.Kata kunci: Implementasi, Pendidikan Inklusif, Anak Berkebutuhan Khusus
Analisis Pelaksanaan Kurikulum 2013 Pada Pembelajaran Peminatan Di SMA Negeri Kota Ternate Widyasari Usman; Endang Poerwanti; Atok Miftachul Hudha
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 7 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jkpp.v7i2.12050

Abstract

Abstract: The subject of specialization can help the development of abilities possessed by students. Specifically, specialization subjects can be followed according to students' talents and interests. This study aims to describe (1) the implementation of the 2013 curriculum policy in specialization learning in Senior High School 1 Ternate. (2) differences in specialization management models are applied in Senior High School 1 Ternate. And (3) constraints and solutions in the implementation of specialization learning in Senior High School 1 Ternate. This research was conducted with a descriptive qualitative approach. Sources of data and information from three curriculum subjects and nine specialization subject teachers from each of the three schools. The results showed that (1) the implementation of the 2013 curriculum in specialization learning in Senior High School 1 Ternate was by Minister of Education and Culture Regulations number 69 of 2013 and schools only make policies based on the central government and adjust teaching hours and based on specialization manuals and cross-interests from the Ministry of Education and Culture in 2016 and 2017. (2) There are some differences from specialization management models such as specialization mechanisms/procedures in each school have different stages. (3) Obstacles in the implementation of specialization learning in Senior High School 1 Ternate include (a) constraints from teachers; (b) constraints in choosing teaching methods; (c) constraints from students; (d) the constraints of using learning resources; (e) facilities and infrastructure. The solution is that the teacher chooses the right teaching method and can improve the competency of the studentsKeywords: Learning, Specialization Subjects, 2013 Curriculum Abstrak: Diberlakukan mata pelajaran peminatan dapat membantu pengembangan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Secara khusus mata pelajaran peminatan dapat diikuti sesuai bakat dan minat siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang (1) pelaksanaan kebijakan kurikulum 2013 pada pembelajaran peminatan di SMA Negeri Kota Ternate. (2) perbedaan model manajemen peminatan diterapkan di SMA Negeri Kota Ternate. Dan (3) kendala dan solusi dalam pelaksanaan pembelajaran peminatan di SMA Negeri Kota Ternate.Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data dan informasi dari tiga masing-masing wakasek kurikulum dan sembilan guru mata pelajaran peminatan dari tiga masing-masing sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pelaksanaan kurikulum 2013 pada pembelajaran peminatan di SMA Negeri Kota Ternate sudah sesuai dengan Permendikbud No. 69 Tahun 2013 dan sekolah hanya membuat kebijakan berdasarkan dari pemerintah pusat dan menyesuaikan jam mengajar serta berdasarkan buku pedoman peminatan dan lintas minat dari Kemendikbud tahun 2016 dan 2017. (2) Terdapat beberapa perbedaan dari model-model manajemen peminatan seperti mekanisme/prosedur peminatan di setiap sekolah memiliki tahapan-tahapan berbeda. (3) Kendala dalam pelaksanaan pembelajaran peminatan di SMA Negeri Kota Ternate meliputi (a) kendala dari guru; (b) kendala memilih metode mengajar; (c) kendala dari siswa; (d) kendala menggunakan sumber belajar; (e) sarana dan prasarana. Solusi yang dilakukan yaitu guru memilih metode mengajar tepat dan dapat meningkatkan kompetensi peserta didikKata kunci: Pembelajaran, Mata Pelajaran Peminatan, Kurikulum 2013
PENGEMBANGAN MODEL PEMBINAAN SD MUHAMMADIYAH DI MALANG RAYA UNTUK MENJADI SEKOLAH PPL BAGI MAHASISWA PGSD-UMM Endang Poerwanti
Jurnal Pemikiran dan Pengembangan Sekolah Dasar (JP2SD) Vol. 1 No. 1 (2013): April 2013
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.735 KB) | DOI: 10.22219/jp2sd.v1i1.1526

Abstract

PENGEMBANGAN MODEL PEMBINAANSD MUHAMMADIYAH DI MALANG RAYAUNTUK MENJADI SEKOLAH PPL BAGI MAHASISWAPGSD-UMMEndang Poerwantie-mail : endangpoer@yahoo.comAbstract:To be able to equip students to be professional teacher candidates required completionof curriculum, effective and giving lectures free experience teaching in elementary schools, so thattakes SD Partners namely SD Muhammadiyah Malang. The purpose of research is the analysis ofSD Partner readiness to be able to build a school PPL PGSD students. Planned two-year study, thefindings of the first year of completion map SD SD Mitra to be training and training needs analysis/ mentoring required. The second is the result of the completion of training programs andmaterials. First year potential mapping methodology SD Partners, using instruments effectiveschools and school inkator air MBS, and education Inclusion map gap between the ideal and theconditions and factual circumstances, be used as a material representation of FGD with KS andteachers to develop models appropriate training and mentoring leisure needs.Abstrak:Untuk dapat membekali mahasiswa menjadi calon guru profesional diperlukanpenyiapan kurikulum, perkuliahan yang efektif dan pemberian pengalaman lapang mengajar diSD, sehingga diperlukan SD Mitra yaitu SD Muhammadiyah di kota Malang. Tujuan penelitianadalah analisis kesiapan SD Mitra untuk menjadi sekolah PPL yang dapat membina mahasiswaPGSD. Penelitian dirancang dua tahun, temuan tahun pertama adalah peta kesiapan SD Mitrauntuk menjadi SD latihan dan analisis kebutuhan pelatihan / pendampingan yang diperlukan. Hasiltahun kedua adalah penyiapan program dan materi pelatihan. Metodologi tahun pertama pemetaanpotensi SD Mitra, dengan menggunakan instrumen inkator sekolah efektif dan sekolah ber MBS,dan pendidikan Inklusi peta kesenjangan antara kondisi ideal dan dan kondisi faktual, akandigunakan sebagai materi FGD dengan KS dan perwakilan guru untuk mengembangkan modelpelatihan dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan lapang.Kata Kunci: kesiapan SD mitra PGSD
PENGEMBANGAN MEDIA PERDASAWA (PERMAINAN DAKON AKSARA JAWA) MATA PELAJARAN BAHASA JAWA PADA KELAS V SEKOLAH DASAR Yeni Dwi Wulandari; Endang Poerwanti; Nafi Isbadrianingtyas
Jurnal Pemikiran dan Pengembangan Sekolah Dasar (JP2SD) Vol. 6 No. 1 (2018): April 2018
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jp2sd.v6i1.5905

Abstract

Penelitian ini bertujuan menghasilkan produk media PERDASAWA yang memiliki tingkat kevalidan sebagai kriteria media untuk membantu siswa membaca aksara Jawa pada siswa kelas V SD. Penelitian ini menggunakan penelitian R&D (Research and Development) dan jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian pengembangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media dapat membantu siswa dalam belajar membaca aksara Jawa. Hal ini dibuktikan oleh hasil validasi beberapa ahli antara lain, validasi ahli media sebesar 100%, validasi ahli materi sebesar 95.71%, dan validasi ahli pembelajaran bahasa Jawa Sekolah Dasar sebesar 93.07%. Sementara hasil uji coba kelompok kecil menunjukkan bahwa 88.75% pembelajaran bahasa Jawa menggunakan media KANCIL mendapat respon positif dari siswa dan layak digunakan untuk pembelajaran. Hasil uji coba kelompok besar menunjukkan bahwa 94.37% pembelajaran bahasa Jawa menggunakan media mendapat respon positif dari siswa dan sangat layak dan efektif digunakan sebagai media pembelajaran. Media KANCIL ini perlu perbaikan dalam segi ukuran font dan spasi penulisan aksara Jawa yang benar
ANALISIS PELAKSANAAN SOP PEMBELAJARAN TEMATIK BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI SD SUMBERSARI 1 KOTA MALANG Dyah Worowirastri Ekowati; Endang Poerwanti; Ima Wahyu Putri Utami
Jurnal Pemikiran dan Pengembangan Sekolah Dasar (JP2SD) Vol. 6 No. 2 (2018): September 2018
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jp2sd.v6i2.7154

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu untuk 1) mendeskripsikan pelaksanaan SOP pembelajaran tematik berbasis kearifan lokal di SD Sumbersari 1 Kota Malang, 2) kelebihan dan kekurangan pelaksanaan SOP pembelajaran tematik berbasis kearifan lokal di SD Sumbersari 1 Kota Malang, dan 3) mendeskripsikan solusi dari kekurangan pelaksanaan SOP pembelajaran tematik berbasis kearifan lokal di SD Sumbersari 1 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, dokumentasi, dan wawancara. Kearifan lokal Kota Malang yang digunakan dalam pembelajaran ini yaitu terkait keberagaman makanan tradisional kota Malang, permainan tradisional engklek, keanekaragaman candi di kota Malang, dan keanekaragaman tari kota Malang. Kelebihan dari pelaksanaan SOP ini yaitu a) siswa lebih tertarik dalam mempelajari materi, b) materi lebih mudah diterima oleh siswa, c) materi lebih lama diingat siswa. Sedangkan kekurangan dari pelaksanaan SOP ini yaitu 1) guru harus memahami kearifan lokal yang ada di daerahnya, 2) guru lebih ekstra dalam menyiapkan bahan pembelajaran, dan 3) guru harus mampu melaksanakan kearifan lokal yang diajarkan ke siswa. Solusi dari kekurangan pelaksanaan SOP pembelajaran tematik berbasis kearifan lokal yaitu 1) guru harus banyak menambah wawasan terkait kearifan lokal daerah, guru harus banyak berlatih keterampilan terkait kearifan lokal di daerahnya
Pemetaan Nilai Keunggulan Sekolah Dasar di Kota Malang Endang Poerwanti
Jurnal Pemikiran dan Pengembangan Sekolah Dasar (JP2SD) Vol. 9 No. 1 (2021): April 2021
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jp2sd.v9i1.18392

Abstract

Sekolah unggul atau yang diunggulkan oleh masyarakat adalah sekolah bermutu yang menjadi rujukan sekolah lain. Sekolah Unggul atau sering pula disebut sebagai sekolah  efektif. Sekolah Unggul sering disamakan artinya dengan tingginya kualitas sekolah,  namun dalam dunia  pendidikan, sekolah unggul mewadahi harapan-harapan pemangku kepentingan tentang kompetensi yang dimiliki oleh lulusannya, baik harapan siswa, orang tua, maupun masyarakat. Penelitian bertujuan untuk memetakan nilai keunggulan Sekolah Dasar di kota Malang dari konsep sekolah efektif,  berdasar peraturan formal dan sekolah unggul menurut persepsi stakeholder Pendidikan. Penelitian dilakukan pada tahun ajaran 2018-2019 di 10 SD unggulan di kota Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode angket, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Sekolah unggul secara teoritis adalah ketercapaian SNP dan disamakan dengan konsep sekolah efektif, 10 sekolah yang menjadi sampel sudah memenuhinya dengan kualitas sangat baik dan sangat baik sekali, (2) Kualitas sekolah  secara formal adalah tingkat ketercapaian SNP. Hasil evaluasi diri akan dibandingkan dengan kondisi ideal SNP.  Program sekolah disusun dan dikembangkan dari kesenjangan antara hasil evaluasi diri dengan kondisi ideal dalam Standar Nasional, (3) Guru adalan kunci utama peningkatan kualitas pembelajaran dan berpengaruh yang besar terhadap budaya mutu di sekolah, Kepala sekolah sebagai sentral power sekaligus merupakan sumber semangat bagi warga sekolah. Budaya mutu terwujud dalam tindakan-tindakan manajemen  dalam satu keutuhan kompleksitas sistem
Dinamika Psiko-sosial Remaja dalam Belajar: Analisis Masalah Psiko-sosial Siswa SMU Endang Poerwanti
Ilmu Pendidikan: Jurnal Kajian Teori dan Praktik Kependidikan Vol 28, No 1 (2001)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Psychosocial Dynamics of Adolescent in Learning: An Analysis to the Psychosocial Problems of Senior High School (SMU) Students. This study analyse the psychosocial problems of SMU students in learning. The sample consisted of students and teachers of public and private SMUs in Malang. A questionnaire was used to collect data, which were then analyzed qualitatively. It could be concluded that the adolescents were facing serious problems relating to need for affiliation, self actualization, gender role, and continuing education. The public school students were experiencing more serious problems in competition, need for achievement, and social adjustment. The serious problems faced by private students were motivation and concentration, discipline, resposibility, self-confidence, and perception on reality.