Claim Missing Document
Check
Articles

Kadar Air dan Sifat Organoleptik Teh Daun Sirsak dan Daun Stevia dengan Lama Pengeringan Berbeda Bistyari, Ayunda Intan; Pramono, Yoyok Budi; Dwiloka, Bambang
Jurnal Teknologi Pangan Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2023.35345

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar air dan sifat organoleptik berupa warna dan rasa pada teh daun sirsak dan daun stevia dengan lama pengeringan yang berbeda serta mengetahui pengaruh lama pengeringan yang berbeda pada teh daun sirsak dan daun stevia. Materi yang digunakan adalah daun sirsak, daun stevia, air, kantong teh celup, cup kecil, cawan, loyang, oven, desikator, timbangan, dan kertas quisioner. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 kali ulangan. Penelitian ini terdiri dari formulasi yang dibagi menjadi 5 perlakuan berupa lama pengeringan menit ke 30; 60; 90; 120 dan 150. Analisis data yang digunakan yaitu Analysis of Varian (ANOVA) untuk kadar air dan uji Kruskal-Wallis untuk sifat organoleptik dengan taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil menunjukkan bahwa teh daun sirsak dan daun stevia dengan lama pengeringan yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata (p≥0,05) terhadap kadar air, dan memberikan pengaruh nyata (p<0,05) pada sifat organoleptik warna dan rasa. Perlakuan dengan lama pengeringan 150 menit merupakan perlakuan terbaik secara kimia, dan 90 menit secara sensori.AbstractThis study aims to determine the water content and organoleptic properties of color and taste in soursop leaf tea and stevia leaf with different drying times and to determine the effect of different drying times on soursop leaf tea and stevia leaf. The materials used were soursop leaves, stevia leaves, water, tea bags, small cups, saucers, baking sheets, oven, desiccator, scales, and questionnaire paper. The experimental design used was a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 4 replications. This study consisted of a formulation which was divided into 5 treatments in the form of drying time to 30; 60; 90; 120 and 150 minutes. The data analysis used was Analysis of Variance (ANOVA) for moisture content and Kruskal-Wallis test for organoleptic properties with a level of confidence. 95% and followed by the Mann-Whitney test. The results showed that soursop leaf tea and stevia leaf with different drying times did not have a significant effect (p≥0.05) on the moisture content, and had a significant effect (p<0.05) on the organoleptic properties of color and taste. Treatment with a drying time of 150 minutes was the best chemically and 90 minutes sensory.
Pengaruh Berbagai Metode Thawing Terhadap Nilai pH dan Daya Ikat Air Daging Ayam Petelur Afkir Nurussyifa, Salsabila Yasinta; Setiani, Bhakti Etza; Pramono, Yoyok Budi
Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2024.26688

Abstract

Daging ayam petelur afkir memiliki kandungan nutrisi yang tidak jauh berbeda dengan daging ayam kampung, namun dikarenakan umur yang tua, ayam petelur afkir memiliki kelemahan yaitu dagingnya keras dan liat. Meskipun memiliki karakteristik daging yang alot, ayam petelur afkir memiliki kelebihan diantaranya adalah mengandung protein yang tinggi dan lemak yang rendah. Guna mempertahankan kualitas dan karakteristiknya, daging perlu disimpan dalam keadaan beku. Thawing merupakan cara yang untuk mencairkan atau menyegarkan kembali bahan pangan yang telah disimpan beku sebelum dilakukan pengolahan lebih lanjut. Apabila proses thawing dilakukan dengan cara yang kurang tepat maka dapat menyebabkan penurunan kualitas daging salah satunya kualitas fisik daging. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas fisik berupa nilai pH dan daya ikat air daging ayam petelur afkir terhadap berbagai metode thawing yang diberikan. Bahan yang digunakan dalam  penelitian ini adalah daging ayam petelur afkir beku bagian dada dan akuades. Penelitian menggunakan uji rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan yaitu (T0) tanpa pembekuan dan thawing, (T1) thawing dengan air suhu ±20oC, (T2) thawing dengan air suhu ±30oC, dan (T3) thawing dengan air suhu ±40oC. Sampel yang telah diberi perlakuan thawing dilakukan pengujian nilai pH dengan pH meter dan pengujian daya ikat air dagng, Sedangkan data hasil pengujian nilai pH dan daya ikat air dianalisis dengan menggunakan uji Analysis of Variance (ANOVA). Analisis data dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS 22.0 pada taraf signifikansi P≤0,05. Apabila terdapat pengaruh perlakuan, maka dilakukan uji lanjutan Wilayah Ganda Duncan. Perlakuan thawing dengan berbagai metode dengan kisaran suhu 20-40oC memberikan hasil bahwa thawing dapat menurunkan kualitas fisik daging ayam petelur afkir. Metode thawing yang menggunakan suhu semakin tinggi akan semakin menurunkan nilai pH dan daya ikat air daging ayam petelur afkir. Post-laying hens have a nutrient content that is not much different from native chicken meat (ayam kampung), but due to old age, they have a hard and tough meat. Despite their drawback, laying hens have the advantage that the meat contains high in protein and low in fat. In order to maintain its quality and characteristics, meat needs to be frozen. Thawing is a way to thaw or refresh food that has been stored frozen before further processing. If the thawing process is done in an inappropriate way, it can cause a decrease in the quality of meat, especially the pHysical quality of meat. This study aims to determine the pHysical quality in the form of the pH value and the water holding capacity of post-laying hens against various thawing methods. The material used in this research is frozen post-laying hen meat (chest) and distilled water. The study used a complete randomized design test with 4 treatments namely (T0) without freezing and thawing, (T1) thawing with water temperature ± 20°C, (T2) thawing with water temperature ± 30°C, and (T3) thawing with water temperature ± 40°C (waterbath). Samples that have been given a thawing treatment were tested for pH values with a pH meter and testing for water holding capacity, while the results of pH values and water holding capacity were analyzed using the Analysis of Variance (ANOVA) test. Data analysis was performed using the SPSS 22.0 application at a significance level of P≤0.05. If there is a treatment effect, then the Duncan Double Region continued test. Thawing treatment with various methods with a temperature range of 20-40°C gives the result that thawing can reduce the pHysical quality of post-laying hens. The thawing method that uses the higher temperature will further reduce the pH value and water holding capacity of post-laying hens.
Analisis Kadar Protein dan Mutu Hedonik Salami Daging Kalkun (Meleagris gallopavo) Berdasarkan Potongan Komersial Karkas Tomya, Stella Putri; Pramono, Yoyok Budi; Al-baarri, Ahmad Ni-matullah
Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2024.30015

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas olahan daging kalkun dalam produk salami berdasarkan potongan komersial karkas. Materi yang digunakan meliputi daging kalkun, lemak sapi, isolated soy protein, starter bakteri asam laktat (L. bulgaricus, S. thermophilus, L.achidophilus), garam NPS (Nitrit Pokeln Salt), gula, bumbu dan air es. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan variasi perlakuan yang diberikan (T1) salami yang dibuat dari potongan komersial dada dan (T2) salami yang dibuat dari potongan komersial paha. Parameter yang diuji meliputi kadar protein dan mutu hedonik dan dianalisis dengan Independent T-Test dengan taraf signifikansi 5 %. Hasil menunjukkan bahwa salami daging kalkun dengan berbagai potongan komersial karkas yang berbeda memberikan pengaruh nyata (p<0.05)  terhadap kadar protein dan mutu hedonik. Perlakuan dari potongan komersial karkas bagian dada merupakan perlakuan terbaik dari seluruh parameter yang di uji. Keyword : daging kalkun, karkas, salami.
Aktivitas Antioksidan, Total Asam, Kadar Protein, dan Tingkat Kesukaan Yoghurt Jagung dengan Penambahan Sari Parijoto (Medinilla speciosa B.) Wijayanti, Ana Rohana Nuranggraeni; Khusania, Mina; Safitri, Zevira Aldilata; Rizqiati, Heni; Pramono, Yoyok Budi
Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2024.28225

Abstract

Produksi jagung di Indonesia berlimpah ruah namun untuk produk olahan jagung belum begitu banyak yang memanfaatkannya sehingga dapat diolah menjadi yoghurt. Untuk memperkaya kandungan antioksidan yoghurt maka dapat dilakukan penambahan sari buah yang mengandung aktivitas antioksidan yang tinggi. Salah satunya adalah parijoto. Buah parijoto merupakan buah yang sering dijumpai di Kudus tepatnya di Pegunungan Muria dan memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi dan belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sari parijoto terhadap aktivitas antioksidan, total asam, kadar protein, dan tingkat kesukaan pada yoghurt jagung. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jagung, buah parijoto, susu UHT, susu skim, CMC, starter yoghurt, sukrosa, dan reagen 2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazyl (DPPH). Penelitian dilakukan dengan uji rancangan acak lengkap dengan variasi perlakuan yaitu T0 tanpa penambahan sari parijoto (kontrol), T1 dengan penambahan sari parijoto 5%, T2 dengan penambahan sari parijoto 10%, dan T3 dengan penambahan sari parijoto 15%. Data kadar aktivitas antioksidan dan kadar protein dilakukan analisis secara deskriptif kuantitatif. Data hasil pengujian total asam dianalisis dengan menggunakan uji Analysis of Variance (ANOVA) dengan taraf signifikansi 5%, jika terdapat pengaruh maka dilakukan uji lanjutan dengan uji wilayah Duncan. Tingkat kesukaan (organoleptik) dianalisis dengan menggunakan uji Kruskal Wallis dengan taraf signifikansi 5%. Jika terdapat pengaruh maka dilakukan uji lanjutan dengan uji Mann Whitney untuk mengetahui perbedaan antarperlakuan. Penambahan konsentrasi sari parijoto yang semakin tinggi akan meningkatkan aktivitas antioksidan dan kadar proteinnya. Total asam yoghurt jagung juga berpengaruh, dimana total asam akan semakin turun seiring dengan meningkatnya penambahan konsentrasi sari parijoto. Tingkat kesukaan yoghurt jagung secara umum disukai oleh panelis pada semua perlakuan.Corn production in Indonesia is abundant but for the processed corn products not so much that use it so it can be processed into yogurt. To enrich the antioxidant content of yogurt, the addition of fruit juices containing high antioxidant activity. One of them is parijoto. Parijoto fruit is a fruit that is often found in Kudus precisely in the Muria mountains and has a fairly high antioxidant content and has not been utilized optimally. This research aims to determine the effect of adding parijoto juice to antioxidant activities, total acids, protein levels, and the favorite levels on corn yogurt. The materials used in this study are corn, parijoto fruit, UHT milk, skim milk, CMC, starter yogurt, sucrose, PP reagent (rejection) 1%, reagent 2.2-diphenyl-1-Picrylhydrazyl (DPPH), a mixture of selenium catalysts, sulfuric acid technical (concentrated), H3BO3 4%, methylene indicator red (MR) and methylene blue (MB), NaOH 45%, NaOH 0.1 N, and HCl 0.1 N. The research used RAL test with variation of treatment is T0 without the addition of a parijoto juice (control), T1 with the addition of a 5% parijoto juice, T2 with the addition of a 10% parijoto juice, and T3 with the addition of 15% parijoto juice. Data on antioxidant activity and protein levels are performed in a quantitative descriptive analysis. The total acid test data is analyzed by using the Analysis of Variance test (ANOVA) with a significance of 5%, if there is an influence then the follow-up test with Duncan's test area. The level of preference (organoleptic) was analyzed using Kruskal Wallis's test with a significance of 5%. If there is an influence there is a follow-up test with Mann Whitney test to determine the difference between treatment. The addition of higher concentrations of parijoto sari increases the antioxidant activity and its protein levels. Total acid yogurt corn is also influential, where the total acid will be decreased as the increase of the concentration of parijoto juice. The favorite level of corn yogurt is generally liked by panelists on all treatments.
Overrun, Uji Mutu Hedonik Kekentalan dan Rasa Asam Velva Sirsak (Annona muricata L.) dengan Berbagai Tingkat Konsentrasi Karagenan Putri, Sayyidah Ghaisani; Pramono, Yoyok Budi; Hintono, Antonius
Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2024.28379

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan karagenan dengan tingkat konsentrasi yang berbeda terhadap overrun, uji mutu hedonik kekentalan dan rasa asam velva sirsak. Bahan baku yang digunakan yaitu buah sirsak, karagenan, gula dan asam sitrat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 Perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah penggunaan karagenan dengan konsentrasi yang berbeda yaitu: T0 = 0%, T1 = 0,25%, T2 = 0,5%, T3 = 0,75% dan T4 = 1%. Data hasil uji overrun dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf signifikansi 5% apabila terdapat perbedaan dilanjukan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dan data hasil uji mutu hedonik dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan apabila terdapat pengaruh diuji lanjut dengan Mann-Whitney U Test. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan karagenan pada velva sirsak memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap overrun dan kekentalan velva sirsak, namun tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap rasa asam velva sirsak. Penggunaan karagenan pada velva sirsak yang optimal yaitu konsentrasi karagenan sebanyak 0,25% karena menghasilkan velva sirsak mengembang dengan baik dan memiliki tekstur lembut dan kekentalan yang disukai.
Kadar Lemak dan Organoleptik Daging Analog Jamur Shitake dengan Perbandingan Tepung Terigu dan Tepung Biji Kecipir Berbeda Septiawati, Tria; Nurwantoro, Nurwantoro; Pramono, Yoyok Budi
Jurnal Teknologi Pangan Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2023.35146

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan perbandingan tepung terigu dan tepung biji kecipir terhadap kandungan lemak dan organoleptik daging analog jamur shitake. Materi yang digunakan adalah jamur shitake, biji kecipir, tepung terigu dan bahan tambahan lain untuk membuat daging analog dengan formulasi yang berbeda tiap perlakuan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 replikasi. Penelitian ini terdiri dari formulasi yang dibagi menjadi 4 perlakuan perbedaan perbandingan tepung biji kecipir, jamur shitake dan tepung terigu dengan perbandingan 0:3:7; 1:3:6; 2:3:5; dan 3:3:4. Analisis data yang digunakan yaitu Analysis of Variance (ANOVA) untuk data parametrik dan Uji Kruskal-Wallis untuk data non-parametrik pada taraf signifikansi 5%. Hasil menunjukkan bahwa daging analog jamur shitake dengan perbedaan perbandingan tepung terigu dan tepung biji kecipir memberi pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar kadar lemak dan organoleptik daging analog jamur shitake. Semakin banyak penggunaan tepung biji kecipir dapat meningkatkan kadar lemak dan meningkatkan kesukaan warna dan tekstur daging analog jamur shitake. Perlakuan dengan perbandingan antara tepung biji kecipir, jamur shitake dan tepung terigu berturut-turut yaitu 2:3:5 (P2) merupakan perlakuan terbaik.The aim of this research was to find out the effect of differences ratio of wheat flour and winged bean seeds flour on fat content, and organoleptic shitake mushroom meat analog. The material used were shitake mushrooms, winged bean, wheat flour, and other additives to make analog meat with different formulations for each treatment. The experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 5 replication. The research consisted by a formulation which was divided into 4 treatments with the different ratio of winged bean seeds flour, shiitake mushroom and wheat flour with ratio of 0:3:7; 1:3:6; 2:3:5; and 3:3:4.  Data analysis used was Analysis of Variance (ANOVA) for parametric data and Kruskal-Wallis test for non-parametric data at 5% significance level. The result showed that shiitake mushroom analog meat with different ratio of wheat flour dan winged bean seeds flour had a real effect (P<0,05) to fat content and organoleptic.The more use of winged bean seeds flour can increase fat content and preferences color and texture of shiitake mushroom analog meat. The treatment with different ratio of winged bean seeds flour, shiitake mushroom and wheat floor in a row 2:3:5 is the best treatment.
Analisis Persyaratan Laik Jalan Kendaraan Bermotor (Efisiensi Rem Utama) pada Alat Uji Brake Tester BM 14200 di Balai Uji Prasarana Teknis Perhubungan di Kota Tangerang Sulistiono, Fajar Budi; Sulardjaka, Sulardjaka; Pramono, Yoyok Budi
Jurnal Profesi Insinyur Indonesia Vol 1, No 8 (2023): JPII: Nopember -Desember 2023
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpii.2023.23909

Abstract

Isu kendaraan bermotor dengan barang melampaui batas (overloading) menjadi perhatian banyak kalangan di Negara Indonesia. Istilah “rem blong” atau kegagalan sistem pengereman menjadi sebab beberapa kasus kecelakaan yang terjadi di jalan akibat overloading.Contoh permasalahan yang terjadi di Indonesia adalah mobil truk pengangkut batu dengan nomor kendaraan AB 8242 ZU yang terjadi pada 3 September 2021 jam 18. 00 WIB di Candi Ijo, Gunung Sari, Sambirejo Sleman disebabkan karena kegagalan rem di jalur menurun yang menyebabkan 6 orang tewas. Sementara pemerintah melaksanakan pemeriksaan periodik pada kendaraan bermotor guna memenuhi persyaratan laik jalan. Salah satu persyaratan laik jalur yaitu pengujian kemampuan rem utama. Tujuan penelitian yaitu mengetahui dampak barang berlebih terhadap kemampuan rem utama. Metode yang dipakai yaitu pengujian regresi linier berganda guna mengetahui dampak dari berat kendaraan dan gaya pengereman pada kemampuan rem utama. Hasil yang diperoleh adalah berat kendaraan (X1) dan gaya pengereman (X2) berpengaruh terhadap nilai efisiensi rem (Y) berdasarkan hasil signifikan pada alpha 5% dan nilai F hitung 386.361 > F tabel yaitu sebesar 4.242. Berdasarkan 25 sampel kendaraan yang diuji terdapat 16% kendaraan yang tidak laik jalan dikarenakan hasil nilai pengujian efisiensi rem utama kurang dari 50%. Kata kunci: muatan berlebih,berat kendaraan, gaya pengereman, efisiensi rem utama, regresi linier berganda
PENERAPAN CRITICAL CONTROL POINT DAGING RENDANG DI RUMAH MAKAN PADANG TERHADAP NILAI pH DAN MUTU RASA ORGANOLEPTIK Narastyawan, Anggoro Rizky; Pramono, Yoyok Budi; Dwiloka, Bambang
Journal of Agritechnology and Food Processing Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.298 KB) | DOI: 10.31764/jafp.v1i1.5961

Abstract

This study aims to compare the production process of rendang at Padang restaurants and the production of rendang itself, namely by observing CCP management in the running production process or not. Observation of the implementation of CCP management was carried out on the pH value and organoleptic values. This study conducted observations on the implementation of CCP management in the rendang production process in Padang restaurants then carried out the production of rendang itself by implementing CCP management and made improvements in the production process so that rendang was analyzed for pH value and organoleptic. The research data were analyzed using the Independent Sample T Test. Data analysis on the organoleptic test used the non-parametric Kruskal Wallis test and continued with the Mann Whitney test. The results of this study indicate that the rendang that is produced by CCP management is better than the rendang produced in Padang restaurants because it does not apply CCP management and has a significant effect (P <0.05) so it has poor test results. The results showed that padang restaurants needed to take corrective action on their tighter production processes so that their food products would be better.
Determination of The Optimum pH and Enzyme Ratio for Starch Hydrolysis Test and Characterization of Steamed, Baked, and Fried Wheat Doughs Abduh, Setya Budi Muhammad; Bintoro, V. Priyo; Nurwantoro, Nurwantoro; Yunianto, Vitus Dwi; Pramono, Yoyok Budi
Journal of Applied Food Technology Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Dept. Food Technology, Faculty of Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17728/jaft.18727

Abstract

Digestibility is the most important nutritional functionality of starchy foods. Unfortunately, in Indonesia, this functionality has not been extensively studied due to the relatively challenging methods involving enzymes. This research aims to determine the optimal pH and enzyme ratio of α-amylase (AA) and glucoamylase (GA) for starch hydrolysis tests and apply them to characterize steamed, baked, and fried wheat doughs. For optimization, hydrolysis was carried out at 37 °C with an enzyme-to-substrate ratio (E/S) of 100 mL/g for 120 min. Samples of wheat dough obtained from three major dough producers in Banyumanik, Semarang, Indonesia was then tested for starch hydrolysis, texture, chemical analyses, sensory, and hedonic test. The collected data were analysed using principal component analysis (PCA). Under the determined conditions, the optimal pH and AA/GA ratio were found to be 6.6 and 0.5. Regarding quality of processed doughs, the steamed dough exhibited a cohesive texture, a soft sensory profile with a pleasant aroma, sweet taste, and was most preferred by the panellists. The baked dough was hard in texture, high in ash content, and brown in colour. The fried dough poses high starch hydrolysis, chewy texture, adhesion, solid particles, protein content, and relatively high lipid. The sensory evaluation indicated that the fried dough poses an oily, rancid, foreign aroma, and bitter and salty taste. It can be concluded that at a temperature of 37 °C, an enzyme-to-substrate ratio of 100 mL/g, and a reaction time of 120 min, the optimal starch hydrolysis of processed wheat dough can be achieved at a pH of 6.6 and an AA/GA ratio of 0.5. Furthermore, steaming resulted in a unique property of dough compared to the baked and fried, while the latter two yielded products with similar properties.
Perbedaan Karakteristik Fisik dan Hedonik Daging Sapi dengan Metode Perebusan yang Berbeda Daeli, Yohana Feynendra; Pramono, Yoyok Budi; Mulyani, Sri
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 9, No 1 (2022): JITRO, January
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v9i1.18428

Abstract

ABSTRAKKandungan gizi yang tinggi pada daging sapi menyebabkan daging sapi mudah rusak apabila tidak ditangani dengan tepat, salah satu cara pengolahan daging sapi adalah dengan moist heat cooking atau perebusan. Perebusan konvensional dengan suhu tinggi dan waktu yang lama menyebabkan denaturasi nutrisi daging sapi semakin tinggi, sehingga ditemukan metode perebusan termodifikasi yang lebih efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik fisik yaitu Water Holding Capacity (WHC) dan mutu hedonik pada daging sapi topside dengan metode perebusan yang berbeda. Pengujian WHC dianalisis dengan uji independent t-test dan mutu hedonik dianalisis dengan uji non-parametrik Kruskal Wallis, kemudian apabila terdapat perbedaan nyata maka dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan (p<0,05) metode perebusan terhadap nilai WHC dan hedonik aroma, tetapi tidak terdapat perbedaan (p>0,05) terhadap aspek tekstur, rasa, juiciness dan overall.Kata Kunci: daging sapi, hedonik, perebusan, WHCDifferences in Physical Characteristics and Hedonic Properties of Beef with Different Boiling MethodsABSTRACTThe high nutritional value in beef causes beef to be perishable if handled unproperly, beef can be processed by boiling. Boiling with high temperature for long time causes the denaturation of beef’s nutrition, so modified boiling method was found that claims could improve beef quality efficiently. This study aims to determine the differences in physical characteristics Water Holding Capacity (WHC) and hedonic quality of topside beef with different boiling methods. Parametric data (WHC) was analyzed by independent t-test and non-parametric data was analyzed by Kruskal Wallis and advanced Mann-Whitney test. The results showed that the different boiling method shows difference (p<0,05) in the WHC value and aroma, but has no difference (p>0,05) on texture, flavor, juiciness and overall quality.Keywords: beef, boiling, hedonic, WHC
Co-Authors Abduh, Setya Budi M Adinur Chrismanuel Aghnia Ulul Azmi Putri Ahmad Ni’matullah Al–Baarri Al-Baarri, Ahmad Ni'matullah Al-baarri, Ahmad Ni-matullah Albaari, Ahmad N Anang M Legowo Anggun Novita Sari Antonius Hintono Antonius Hintono Argandhina Purbasari Arganis, Lusida Mulia Arini, Annisa Shafa Putri Arissaputra, Hermawan Astuti, Ayu Tri Ayu Anesakirani Ayu Ning Jagat Bambang Dwiloka Bhakti Etza Setiani Bintoro, V Priyo Bintoro, V. Priyo Bistyari, Ayunda Intan Clory Agustin Pienarso Daeli, Yohana Feynendra Dea Erik Bahtiar Dwi Agustina Wijayanti Gilang Ade Perdana Handoko, Nisfa Rama Kamila Hendri Hermawan Adinugraha Heni Rizqiati Hermawan Arissaputra Hermin Werdiningsih Hifni Sofyan Arief Irene Raras Nawangsasi Irene Raras Nawangsasi Ita Puspitasari ITA PUSPITASARI Kamil, Rafli Zulfa Khusania, Mina Lestari, Tiara Yunistha Listya, Angelique Gangsar Maharani, Arnetta D Masykuri Masykuri Melinda Erdya Krismaputri Muhammad Alwan Mahbub Muhammad As&#039;ad Wibisono Muhammad Zulfahmi Nabila, Aulia Zalfa Narastyawan, Anggoro Rizky Nietha Yuliana Novia Tri Damayanti Nur Azizah Nur Hanifah Nurussyifa, Salsabila Yasinta Nurwantoro . Nurwantoro Nurwantoro Perdana, Gilang Ade Puspita Ayu Octaviani Puspita, Diyan Ayu Putri, Deshinta Ramadhani Bastian Putri, Sayyidah Ghaisani Putri, Yuni Maharani Rahim Fajar Pangestu Rakita Dewi Mega Ramadhaningrum, Ilma Muliasari Risa Fazriyati Siregar Robby Rusdiansyah Robby Rusdiansyah Safitri, Zevira Aldilata Selma Noor Permadi Septiawati, Tria Setya Budi M Abduh Setya Budi Muhammad Abduh, Setya Budi Muhammad Sigit Sulistiarto Sjafani, Nur Sri Mulyani Sudjono, Elisabeth Febriane Lovita Sulardjaka Sulardjaka Sulistiarto, Sigit Sulistiono, Fajar Budi Tomya, Stella Putri V Priyo Bintoro Valentinus Priyo Bintoro Vita Paramita Vitus Dwi Yunianto Budi Ismadi Wihardi Wihardi Wijayanti, Ana Rohana Nuranggraeni Yoga Pratama Yos Johan Utama Yulianto, Vitus Dwi Yusri Sapsuha Zanuarizky Oryza Ramadhani