Claim Missing Document
Check
Articles

PEMAHAMAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS SCL PADA MATAKULIAH STRUKTUR& KONSTRUKSI Prianto, Eddy; Hermanto, Eddy; Trilistyo, Hendro
MODUL Vol 16, No 2 (2016): MODUL Volume 16 Nomer 2 Tahun 2016 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.438 KB) | DOI: 10.14710/mdl.16.2.2016.101-109

Abstract

Sejauh ini, pola pembelajaran utama pada jurusan arsitektur adalah system pembelajaran kelas dan tugaslapangan/kasus yang mewarnai setiap matakuliah di kurikulum prodi S1-Arsitektur. Ketranpilan yang dilandasi polapiker/konsep akademis adalah modal yang diberikan bagi calon arsitek setelah lulus dari pendidikan ini. Denganadanya pola perubahan pembelajaran TCL ke SCL,salah satunya memberikan porsi dosen bukan lagi memeiliki peranutama dalam menyampaikan ilmunya, namun kini berposisi sebagai fasilitator. Bagaimana dengan penerapannya yangada di matakuliah Struktur dan Konstruksi di Jurusan Arsitektur Undip ini ? Terdapat 10 model pembelajaran berbasis SCL ini, model mana yang telah diterapkan pada perkulian ini dan adakahada peluang alternative lain dalam pengaplikasian di matakuliah ini? Sebenarnya pola atau model yang dilakukansecara paker bertema evaluasi dan pengembangan pembelajaran model SCL ini sudah saatnya untuk dikaji pada semuamatakuliah inti di jurusan arsitektur FT undip ini. Obyek matakuliah yang kami amati tentunya akan lebih mudah pada matakuliah yang kami ampu atau kami sebagai timteaching didalamnya, yaitu matakuliah Struktur dan Konstruksi, terlebih fokos pada tahapan ini, diawali pada Strukturdan Konstruksi SEMESTER IV. Peminat pendidikan arsitektur Undip dari tahun ke tahun selalu meningkat, salah satunya adalah peminat dasiaspek gender perempuan yang mencapai peningkatan dari 20% ke 60%, namun tidak signifikan terhadappemahamannya pada model pembelajaran SCL di matakuliah struktur dan konstruksi semester 4. Tingkat pemahamanmetode SCL dalam penelitian ini terbukti dipengaruhi oleh lama studi peserta yang mengambil matakuliah, artinyaangkatan lama lebih paham model ini dibanding dengan angkatan baru pada matakuliah yang sama-sama diambilnya.Namun setelah dilakukan penjelasan / sosialisasi metode pembelajaran SCL ini secara singkat pada salah satu sesionpembelajaran di matakuliah Strukon 4 ini, pada rekapitulasi tahap berikutnya memberikan dampak positif bahwasebanyak 86% persen dari seluruh responden menyatakan menyukai pembelajran SCL ini. Dan secara urutan dari 10(sepuluh) model pembelajaran SCL yang di sukai adalah Model Simulasi, Project-Based Learning (PjBL) dan Problem-Based Learning/Inquiry (PBL/I).
KAJIAN ASPEK KENYAMANAN VISUAL PADA RUMAH TINGGAL BERDASARKAN PENCAHAYAAN ALAMI Furqoni, Ashim; Prianto, Eddy
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ Vol 8 No 2 (2021): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/ppkm.v8i2.1532

Abstract

Manusia secara alami membutuhkan pencahayaan yang cukup untuk melakukan aktifitas. Sedangkan rumah tinggal sebagai wadah manusia untuk melakukan aktifitas sehari-hari tersebut seharusnya dapat memberikan kenyamanan yang optimal secara visual agar manusia di dalamnya dapat beraktifitas dengan baik. Kenyamanan visual tersebut dapat dicapai apabila intensitas cahaya matahari yang masuk kedalam rumah telah mencukupi standar-standar yang telah ditentukan. Berdasarkan SNI 03-6197-2000, masing-masing ruangan maupun aktifitas memiliki standar kenyamanan visual yang berbeda. Ruang tidur tentunya memiliki standar pencahayaan yang berbeda dengan ruang belajar, dan sebagainya. Oleh sebab itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kenyamanan visual pada rumah tinggal. Metode yang digunakan adalah melakukan simulasi pencahayaan pada rumah tinggal mulai pukul 06.00 sampai 18.00 dengan menggunakan program Sketchup. Kemudian mengukur intensitas cahaya yang masuk kedalam masing-masing ruang menggunakan program lux light meter dari android. Hasil dari penelitian ini adalah bahwasanya 3 dari 5 ruang yang diteliti sudah memenuhi standar pencahayaan pada rumah tinggal. Sedangkan 2 ruangan yang tidak memenuhi standar adalah ruang tamu (114 lux) dan dapur (102 lux).
Trees Configuration Model for Hot Humid Tropic Urban Parks Jono Wardoyo; Eko Budihardjo; Eddy Prianto; Muh Nur
RUAS (Review of Urbanism and Architectural Studies) Vol 9, No 2 (2011)
Publisher : RUAS (Review of Urbanism and Architectural Studies)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.244 KB) | DOI: 10.21776/ub.ruas.2011.009.02.2

Abstract

Main climatic thermal problems in urban park in hot humid tropic area are how to minimize high solar radiation and to optimize the wind. Trees have potentials in ameliorating urban park microclimate. Trees configuration is one of determining factors to get benefit of vegetation potential in hot humid urban park.Microclimate simulation of 3 (three) different tree configurations in selected urban park model is carried out with three-dimensional numerical model, ENVI-Met V.3.1 which simulates the microclimatic changes within urban environments in a high spatial and temporal resolution. The simulation results show that an east – west orientation tree line configuration model has a higher temperature reduction compared with the base case model.Keywords: Urban park, hot humid tropic, tree configuration model
KARAKTER KENYAMANAN THERMAL PADA BANGUNAN IBADAH DI KAWASAN KOTA LAMA, SEMARANG Adela Carera; Eddy Prianto
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2016): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 7 2016
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.379 KB)

Abstract

Salah satu bangunan peninggalan Kolonial Belanda yang terdapat dikawasan Kota Lama yang juga menjadi ikon Kota Semarang adalah Gereja Blendug. Arsitektur bangunan ini mengadopsi Arsitektur Belanda pada masa lalu, yang berhasil merespon kondisi iklim setempat ( tropis ). Kenyamanan thermal jemaat bagi jemaat tentu saja terkait dengan faktor iklim tropis. Seperti : desain awal yang menerapkan sistem penghawaan alami, penerangan alami, hingga pada pertimbangan orientasi bangunan. 6 (enam) faktor pencipta kenyamanan thermal PMV (Predicted Mean Vote) adalah aspek suhu, kecepatan udara, kelembapan, suhu radiasi matahari rata-rata, jenis aktivitas, jenis pakaian. Dalam perkembangan saat ini kenyataannya sistem penghawaan yang diaplikasikan adalah sistem penghawaan gabungan, yaitu penghawaan alami ( lubang ventilasi ) dan penghawaan buatan (AC). Sejauh mana karakter kenyamanan thermal bagi penghuni bangunan ini menjadi tujuan dari penelitian. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif, dengan melakukan pengukuran langsung insitu. Sedangkan pengolahan datanya mengunakan software dari Ingvar Holmer yg mengacu pada teori PMV. Hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah; pertama karakter kenyamanan termal untuk jemaat mencapai kondisi nyaman (indeks PMV mendekati 0) pada aktivitas ibadah pagi hari dibandingkan dengan aktivitas ibadah pada siang hari. Kedua kenyamanan didapatkan pada zona tempat duduk yang mendekati perlubangan ventilasi. Dan ketiga, zona yang jauh dari lubang ventilasi direkomendasikan agar jemaat tidak mengenakan baju yang berlengan panjang. Kata kunci: Bangunan Ibadah , Kenyamanan thermal, Kota Lama , PMV, Semarang
KAJIAN PILIHAN & PENERAPAN KACA PADA GEDUNG SUARA MERDEKA-SEMARANG DALAM MEWUJUDKAN GREEN BUILDING Siti Zahra Arafah; Eddy Prianto
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2018): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 9 2018
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.029 KB)

Abstract

Pertumbuhan Pembangunan Bangunan Bertingkat di Indonesia semakin pesat, hal ini menjadikan salah satu karakter wajah kota metropolitan tidak terkecuali Kota Semarang. Beberapa studi telah membuktikan bahwa peningkatan jumlah bangunan tinggi suatu kota berdampak pada pemanasan global. Salah satu pendekatan dari segi arsitektur untuk meminimalisir dampak negatif tersebut adalah dengan merancang bangunan ramah lingkungan. Konsep Green Building yang difocuskan dalam penelitian ini adalah aspek efisiensi energi terkait dengan pemilihan material untuk  fasad bangunan. Material selubung bangunan berupa kaca mempunyai tujuan untuk mendapatkan cahaya alami pada ruangan dalamnya dan mengurangi penggunaan cahaya buatan pada siang hari, sehingga hal itu akan dapat meminimalisir penggunaan listrik bangunan gedung. Pemakaian kaca reflektif pada gedung Suara Merdeka di kota Semarang ini, dikaji secara kuantitatif - deskriptif komparatif terhadap pengukuran suhu permukaan kaca dilapangan dengan teori dan standar acuan sertya spesifikasi bahan dari fabrikan yang ada. Hasil dari kajian ini memberikan informasi bahwa pertama, menggunakan kaca reflektif pada fasad gedung ini memang memberikan konsntribusi yang signifikan dalam mewujudkan bangunan Green Building. Kedua profil penurunan suhu permukaan kaca pada pemakaiankaca reflektif dapat mencapai 242% dibanding kaca biasa. Dan Ketiga, spesifikasi tingkatan serapan kaca Reflektif yang terpasang pada gedung Suara Merdeka, jauh lebih tinggi sebesar 12% daripada spesifikasi fabrikan. Kata kunci : Fasad, Kaca Reflektif, Green Building, Suara Merdeka.
PENERAPAN PRINSIP BIOKLIMATIK PADA BANGUNAN RUMAH TINGGAL Maria Rosita Maharani; Eddy Prianto
Jurnal Arsitektur Kolaborasi Vol 1 No 2 (2021): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.993 KB) | DOI: 10.54325/kolaborasi.v1i2.10

Abstract

Penerapan Prinsip Bioklimatik pada bangunan sangat penting, karena bioklimatik memperhatikan kenyamanan dan kesejahteraan pengguna, serta memberikan respon positif terhadap lingkungan sekitar bangunan. Oleh karena itu, prinsip-prinsip bioklimatik harus diterapkan pada lingkup bangunan yang paling dekat dengan setiap manusia. Studi ini mengambil kasus pada sebuah bangunan tempat tinggal yang terletak di kawasan padat penduduk di pusat kota Semarang yang juga berada di kawasan pesisir pantai. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis objek berdasarkan prinsip bioklimatik, dengan harapan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi bangunan objek pada khususnya dan bangunan tempat tinggal lainnya pada umumnya untuk memperoleh rumah yang memberikan kenyamanan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah sebagai objek penelitian ini mampu memenuhi 6 prinsip bioklimatik, yaitu dengan cara yang sederhana dan mudah diterapkan. Penelitian ini menunjukkan bahwa prinsip bioklimatik sangat adaptif, dapat diterapkan pada lingkup bangunan terkecil dengan cara yang sederhana dan mudah bagi masyarakat.
KAJIAN PENCAHAYAAN ALAMI RUANG BACA PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS INDONESIA Fajar Dewantoro; Wahyu Setia Budi; Eddy Prianto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v3i1.162

Abstract

Abstract: An architectural work can be seen in terms of benefits for the community where it can provide something to support life and advance the development of the surrounding environment. In this case the case study raised was at the University of Indonesia Library, where the library was very supportive of students on campus and outside the campus.The problem discussed in this study is reviewing a tropical architectural work applied to the library, and want to know how the concept affects natural lighting in the University of Indonesia's library reading room. The study also aims to evaluate how much light intensity is in the reading room of the University of Indonesia library. In this study the method used describes and reviews all other data and information, from direct or indirect observation. This analysis uses quantative analysis by comparing the existing conditions in the field with the study and information obtained from the literature. Based on the research, it was found that in some reading room areas that had natural enlightenment, there were recommendations that were in accordance with the standards and were not yet appropriate. Therefore some additional studies are needed in designing lighting. This research is expected to provide input on natural lighting of a building that is calculated using assisted software or measuring instruments in the field.Keyword: UI Library, Reading Room, Natural Lighting.Abstrak: Suatu karya arsitektur itu dapat dilihat dari segi manfaat bagi masyarakat dimana dapat memberikan sesuatu untuk menunjang kehidupan dan memajukan pembangunan lingkungan sekitar. Dalam hal ini studi kasus yang diangkat adalah pada Perpustakaan Universitas Indonesia, dimana perpustakaan ini sangat menunjang mahasiswa dalam kampus maupun luar kampus.Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu mengkaji sebuah karya arsitektur tropis diterapkan pada perpustakaan, serta ingin diketahui bagaimana pengaruhnya konsep tersebut terhadap pencahayaan alami di ruang baca perpustakaan Universitas Indonesia tersebut. Penelitian ini juga bertujuan mengevaluasi seberapa besar intensitas cahaya pada ruang baca perpustakaan Universitas Indonesia. Pada penelitian ini metode yang digunakan menguraikan dan mengkaji semua data dan informasi lain, dari observasi langsung maupun tidak langsung. Analisa ini menggunakan analisa kuantatif dengan membandingkan antara keadaan yang ada dilapangan dengan kajian dan informasi yang didapat dari literatur. Berdasarkan penelitian didapatkan hasil bahwa pada beberapa area ruang baca yang mendapatkan pencahyaan alami, terdapat penchayaan yang sudah sesuai dengan standar dan belum sesuai. Oleh sebab itu diperlukan beberapa pengkajian tambahan dalam mendesain pencahayaan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan mengenai pencahayaan alami sebuah bangunan yang dihitung menggunakan software berbantu atau alat ukur di lapangan.Kata Kunci: Perpustakaan UI, Ruang Baca, Pencahayaan Alami.
ANALISIS DESAIN BIOKLIMATIK PADA BANGUNAN RUMAH TINGGAL TROPIS (STUDI KASUS: RUMAH HEINZ FRICK SEMARANG) Hari Utama; Eddy Prianto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i2.991

Abstract

Abstract: Global warming is one of the main causes of environmental quality deterioration. This phenomenon is closely related to the acceleration of industrialism and the increased of uncontrolled energy consumption. The building sector donates for 40% of global energy use and is responsible for 30% of the global greenhouse effect. This study discusses the implementation of bioclimatic design criteria in small buildings with Heinz Frick House in Semarang as the object of study. The research was conducted using a qualitative descriptive method. The data were analyzed using bioclimatic design theory in the book “Bioclimatic Housing – Innovative Design for Warm Climates” by Hyde (2012). The results showed that Heinz Frick House building has implemented the bioclimatic design criteria. This residential building applies 6 of 6 principles, 5 of 6 elements, and 2 of 3 bioclimatic design engineering strategies. The building concept “in harmony with the environment and able to support itself” is well realized through adaptive passive design and maximizing environmental conditions, as well as the fulfillment and independent resources processing.Abstrak: Pemanasan global merupakan salah satu penyebab utama penurunan kualitas lingkungan. Fenomena ini erat kaitannya dengan percepatan industrialisme dan konsumsi energi yang semakin tidak terkendali. Sektor bangunan menyumbang 40% dari penggunaan energi global dan bertanggung jawab atas 30% efek rumah kaca global. Penelitian ini membahas penerapan kriteria desain bioklimatik pada bangunan skala rendah dengan objek penelitian adalah Rumah Heinz Frick di Semarang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teori desain bioklimatik dalam buku “Bioclimatic Housing – Innovative Design for Warm Climates” karya Hyde (2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan Heinz Frick House telah memenuhi kriteria desain bioklimatik. Bangunan hunian ini menerapkan 6 dari 6 prinsip, 5 dari 6 elemen, dan 2 dari 3 strategi rekayasa desain bioklimatik. Konsep bangunan “selaras dengan lingkungan dan mampu menopang dirinya sendiri” diwujudkan dengan baik melalui desain pasif adaptif dan memaksimalkan kondisi lingkungan, serta pemenuhan dan pengolahan sumber daya secara mandiri. 
SISTEM PENGHAWAAN PADA KAMAR HOTEL Maria Carizza Pandora Raharjo; Wahyu Setia Budi; Eddy Prianto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i2.1010

Abstract

Abstract: Nowadays, development in urban areas is progressing very rapidly, accompanied by an increase in the number of residents and various kinds of activities carried out. Seeing this phenomenon, many developers are competing to build multi-layered high buildings. Air conditioning systems in high-rise buildings are generally carried out with artificial air arrangements. The Grand Edge Hotel Semarang building is one of the multi-layered high-rise buildings that will be the case study. This hotel building is located in Semarang on an area of 2860 m2, 7 floors above ground and 3 basement floors as deep as 9 meters from ground level, total floor area is 15,958 m2. The electricity used from PLN is 700 KVA, equipped with 1 generator unit with a capacity of 650 KVA. The ventilation system used in this building is in the form of an artificial air system, including: Direct Air Conditioning (AC) Fan Coil Unit with Split Ducting system, as many as 117 units, with capacities of 1.5 PK, 2 PK, 3.5 PK and 10 PK. The ventilation system used in terms of the specifications of the AC unit used is able to produce conditions according to the PERMENKES No. 1077/MENKES/PER/V/2011, especially in hotel rooms. The information obtained at this time is a prelude to obtaining quantitative-qualitative data about the existing problems, as well as the form of the solution, it is necessary to deepen and add cases in the project.Abstrak: Dewasa ini pembangunan di perkotaan melaju sangat pesat yang disertai dengan jumlah peningkatan penduduk dan berbagai macam aktivitas yang dilakukan nya. Melihat fenomena tersebut maka banyak dari para developer berlomba-lomba untuk membangun bangunan tinggi berlapis. Sistem penghawaan pada bangunan tinggi umum nya dilakukan dengan tatanan udara buatan. Bangunan Hotel Grand Edge Semarang adalah salah satu bangunan tinggi berlapis yang akan menjadi studi kasus ini. Bangunan hotel ini terletak di Semarang diatas lahan 2860 m2, berlantai 7 lapis diatas tanah dan 3 lantai basement sedalam 9 meter dari permukaan tanah, luas lantai total 15.958 m2. Tenaga listrik yang digunakan dari PLN sebesar 700 KVA, dilengkapi 1 unit genset dengan kapasitas 650 KVA. Sistem penghawaan yang digunakan bangunan ini berupa tatanan udara buatan, meliputi : Air Conditioning (AC) langsung Fan Coil Unit dengan sistem Split Ducting, sebanyak 119 buah, dengan kapasitas 1,5 PK, 2 PK, 3,5 PK dan 10 PK. Sistem penghawaan yang digunakan dari sisi spesifikasi unit AC yang dipakai mampu menghasilkan kondisi yang sesuai standar PERMENKES No. 1077/MENKES/PER/V/2011, khususnya pada kamar hotel.  Info yang didapatkan saat ini adalah sebuah awalan untuk mendapatkan data kuantitatif-kualitatif tentang permasalahan yang ada, serta bentuk solusinya perlu diadakan pendalaman dan penambahan kasus di proyek.
Thermal Comfort Study of Outdoor Space for Face-to-Face Learning System Maria Rosita Maharani; Eddy Prianto
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 4, No 2 (2022): Vol 4 No 2, 2022
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jadu.v4i2.13721

Abstract

The transmission covid-19 virus is through droplets  are splashed by people who have the virus. Therefore, activities that make crowding especially in closed rooms with poor air circulation are very avoided, because the rate of transmission in the inner room with poor air circulation has a higher presentation compared to transmission in the outside room. With new protocol to use maximum room capacity limit of 50%, using outdoor space can be good alternative solution to increase space for face to face learning system. But there is needed a study of thermal comfort for outdoor space. The object taken as a sample in this study was sitting area of the Undip Architect campus. This paper present measurements of dry temperature, humidity, and air movement with quntitative method. From the examine of effective temperture show that the object research have cozy thermal comfort according by Mom dan Wiesebron standards. So using this outdoor sitting area to teaching and learning activities should be a good solution to increase the capacity of face-to-face learning system.
Co-Authors Abd. Rasyid Syamsuri Abdi kusuma, Abdi Abdul Malik Adela Carera Agung Budi Sardjono Agung Dwiyanto Almesa Yuli Hasyyati, Almesa Yuli Amalia Alifiani, Amalia Amalia, Alifiani, Amalia, Amat Rahmat Anisa Anisa Ansari, Vira Arman Susilo Arta Okta listiani, Arta Okta ashim furqoni Astuti, Margaretnaning Dyah Atiek Suprapti Bagus Wicaksono Baharrudin Purbahanggita Bakhtiar Bakhtiar Bambang Irawanto Bambang Setioko Bambang Sujono Bambang Supriyadi bambang suyono Bharoto Bharoto Carera, Adela desy ratna Dewantoro, Fajar Dewantoro, Fajar Dewi Murti Sari, Dewi Eddy Hermanto Eddy Indarto Edy Darmawan Eko Budihardjo Eko Budihardjo Erni Setyowati Furqoni, Ashim Gagoek Hardiman Gagoek Hardiman Gunawan, I Gusti Ngurah Anom Hardiman, Gagok Hari Utama Harianja, Bernard Hendro Trilistyo Henry Soleman Raubaba, Henry Soleman HERMAWAN Hermawan Hermawan Hidayatullah, Muhammad Irsyad Hilda, Syarifa ichsan ahmadi Ikhwanul Ahfadz, Ikhwanul Jono Wardoyo Jono Wardoyo jumratul akbar, jumratul Kusuma, Aditya Arya Margaretnaning Dyah Astuti Maria Carizza Pandora Raharjo MARIA ROSITA MAHARANI Mitsalina Ghoisanie Muh Nur Muh Nur Muhammad Sahid Indraswara Muhammad, Huda Pandora Raharjo, Maria Carizza Pratama, Riza Adi Putri, Paskalia Utari Raharja, Maria Carizza Pandora Rahmadhani, Arisca Dian Rahmat, Amat Ruliyanto Ruliyanto, Ruliyanto Rusmaharani, Diyah Sahid, M salsabella, Syeril Satrio Nugroho Septana Bagus Pribadi Septana, Septana Septana, Septana Setia Budi Sasongko Setyowati , Erni Shofie, Athia Shofie, Athia Maulida Tsania Sigit Ashar Setyoaji, Sigit Ashar Sinaga, Gabriela Maibana Siti Zahra Arafah sukawi sukawi Titien Woro Murtini Totok Roesmanto Tsani, Nauvaldy Amru Utama, Hari Vira Ansari Wahyu Setia Budi Widiastuti, Ratih Windarta, Jaka Yoga Pratama, Syndu Muhammad Young, Hepi Duchovny Zafira, Salma Hafni