Claim Missing Document
Check
Articles

Pembentukan Bintil Akar Tanaman Kedelai (Glycine max (L) Merrill) dengan Perlakuan Jerami pada Masa Inkubasi yang Berbeda Kumalasari, Ika Dyah; Astuti, Endah Dwi; Prihastanti, Erma
JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA Volume 21 Issue 4 Year 2013
Publisher : JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3497.454 KB)

Abstract

Tanaman kedelai (Glycine max (L) Merrill) merupakan tanaman yang sudah dikenal masyarakat dan memilik potensi besar untuk dikembangkan. Tanaman kedelai termasuk tanaman legum yang pada akarnya terdapat bintil akar yang merupakan simbiosis antara akar dengan bakteri Rhizobium japonicum. Bintil akar berfungsi untuk mengikat unsur nitrogen bebas. Selain itu juga dapat menyuburkan tanah karena dapat menghemat penggunaan Nh3 yang tersedia ditanah dan penyediaan unsur nitrogen ke tanah. Tanaman kedelai agar tumbuh subur dan kaya bahan organik. Bahan organik yang digunakan dalam penelitian ini adalah jeramipadi yang merupakan limbah organik yang mempunyai rasio C/N tinggi. Jerami padi mengandung gula, pati, selulose, hemiselulose, pektin, lignin, lemak dan protein. Jerami padi jumlahnya melimpah dan biasanya dibakar dan dibenamkan kedalam sawahdan terjadi dekomposisi. Selama proses dekomposisi terjadi aminasi, amonifikasi, dan nitrifikasi. Petani biasanya menanam kedelai setelah ditanami padi sebelum kemudian ditanami padi lagi tapi belum diketahui berapa lama inkubasi jerami padi berpengaruh menguntungkan dalam pembentukan bintil akar tanaman kedelai. Diharapkan dengan masa inkubasi yang berbeda dapat diketahui tingkat dekomposisi jerami padi yang berpengaruh terhadap pembentukan bintil akar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian jerami padi pada masa inkubasi yang berbeda pada pembentukan bintil akar tanaman kedelai (Glycine max (L) Merrill)  dan masa inkubasi jeramiyang berpengaruh paling baik terhadap pembentukan bintil akar tanaman kedelai. Rancangan yang digunakan adalah RAL dengan faktor tunggal dengan perlakuan P1=jerami padi masa inkubasi 15hari, P2=jerami padi pada masa inkubasi 30 hari, P3=jerami padi pada masa inkubasi 45 hari, P0=jerami padi masa inkubasi 15hari (sebagai kontrol). Masing-masing perlakuan dengan 4 ulangan. Parameter yang diamati adalah jumlah bintil akar, persentase bintil akar, berat basah bintil akar dan berat kering bintil akar. Data yang diperoleh dianalisi dengan ANOVA pada taraf uji 5% dan bila terdapat beda nyata dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf uji 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jerami padi tanpa inkubasi (kontrol) dapat meningkatkan pembentukan bintil akar. Semakin lama masa inkubasi maka semakin menurunkan pembentukan bintil akar tanaman kedelai.   Keywords: Glycine max (L) Merrill, bintil akar, dekomposisi, jerami padi
Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Root-Up dan Super-GA Terhadap Pertumbuhan Akar Stek Tanaman Jabon (Anthocephalus cadamba Miq) Jinus, Jinus; Prihastanti, Erma; Haryanti, Sri
JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA Volume 20 Issue 2 Year 2012
Publisher : JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4144.063 KB)

Abstract

Pengembangan tanaman jabon (A. cadamba Miq) dapat dilakukan secara vegetatif, salah satunya adalah melalui stek yang diinduksi dengan memberikan zat pengatur tumbuh (ZPT) tanaman. IBA adalah Jenis hormon yang terkandung dalam zat pengatur tumbuh tanaman Root-Up dan Super-GA, yang berperan dalam merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar sehingga mampu mendukung pertumbuhan tanaman. Pemberian Zat penatur tumbuh (ZPT) tanaman dapat meningkatkan panjang dan jumlah akar stek tanaman, begitu pula dengan kemampuan bertunas tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis zat pengatur tumbuh (ZPT) yang paling baik dalam merangsang pembentukan akar dari stek tanaman jabon (A. cadamba Miq). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan yaitu kontrol, Root-Up Cair, Super-GA, dan 8 pengulangan. Berdasarkan uji DMRT dengan taraf signifikasi 95% menunjukkan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) berpengaruh terhadap panjang akar stek, diameter stek dan tinggi tunas. Zat pengatur tumbuh (ZPT) yang paling baik dalam merangsang pertambahan jumlah akar adalah jenis Super-GA, sedangkan untuk diameter dan pertumbuhan tunas zat pengatur tumbuh (ZPT) yang paling baik adalah Root-Up cair dan Super-Ga.   Keywords: Stek, Jabon (Anthocephalus cadamba Miq), Zat Pengatur Tumbuh (ZPT).
ARTIKEL KAJIAN PERANAN DAN POLA AKUMULASI PROLINE TANAMAN PADA ADAPTASI CEKAMAN KEKERINGAN Prihastanti, Erma
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.244 KB)

Abstract

ABSTRAK Para ahli klimatologi memperkirakan dampak pemanasan global akan menyebabkan terjadinya periode kekeringan yang lama. Periode kekeringan sering berasosiasi dengan peristiwa ENSO (El Nino Southern Oscillation). Dibanding dekade sebelumnya, peristiwa ENSO diramalkan akan lebih sering terjadi di masa datang.  Saat musim kering panjang dan berasosiasi dengan peristiwa ENSO sering diiringi oleh penurunan pertumbuhan bahkan kematian tanaman. Tanaman yang mengalami cekaman kekeringan akan berusaha untuk melakukan perubahan-perubahan fisiologi sebagai bentuk adaptasinya. Salah satu bentuk adaptasi tersebut adalah kemampuan tanaman untuk mempertahankan tekanan osmotik dengan mengakumulasi senyawa osmolit  sel sebagai respon terhadap perubahan potensial air dari lingkungan sel. Sebagai konsekuensi dari akumulasi ini, potensial osmotik sel lebih rendah dan cenderung untuk menjaga tekanan turgor. Proline bebas sering terakumulasi selama tanaman mengalami kekeringan yang disebabkan oleh aktivasi biosintesa  dan inaktivasi  degradasi proline. Seringkali peningkatan jumlah proline  dianggap merupakan indikasi toleransi terhadap  kekeringan. Namun demikian masih terjadi kontrovesi tentang fungsi proteksi dari akumulasi proline karena beberapa kasus menunjukkan jika terjadi  over produksi proline justru dapat berakibat buruk saat tanaman menghadapi kondisi cekaman kekeringan. Tulisan ini bertujuan mengkaji peranan dan pola akumulasi proline pada tanaman dalam menghadapi cekaman kekeringan.   Kata Kunci : Proline, pola akumulasi prolin, cekaman kekeringan
PENGARUH RADIASI PLASMA DAN PUPUK KANDANG KAMBING TERHADAP PERTUMBUHAN BAWANG MERAH VARIETAS BIMA BREBES Anitasari, Emi; Prihastanti, Erma; Arianto, Fajar
BIOLINK : Jurnal Biologi Lingkungan Industri Kesehatan Vol 6, No 2 (2020): Februari
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/biolink.v6i2.2639

Abstract

Shallot variety of Bima Brebes is a shallot variety that is widely cultivated by farmers in Indonesia because it is easy to grow and adapt to the local environment. However, in reality many farmers use the previous harvest for the next planting seed so that the yields obtained will be of poor quality. This study aims to determine the effect of giving nitrogen through corona incandescent plasma discharge and goat fertilizer on the growth of shallots so that it can improve the quality of onion seedlings. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with a factorial pattern using a corona incandescent plasma discharge factor and goat manure. The results showed an interaction between the two factors that can be seen from the plant height parameters which showed significant results in the treatment of plant seeds that were plasma radiation for 30 minutes and the planting media were given goat manure 65 g. Based on the results of the study it can be concluded that the administration of corona incandescent plasma discharge and goat manure on the cultivation of shallots varieties of Bima Brebes was able to accelerate the time of sprouting by 200.3% and increase the growth of onion plants.
RADIASI PLASMA PIJAR KORONA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN NITROGEN TOTAL BAWANG MERAH DAN BAWANG BOMBAY Ariyanti, Ariyanti; Prihastanti, Erma; Azam, Much
BIOLINK : Jurnal Biologi Lingkungan Industri Kesehatan Vol 6, No 2 (2020): Februari
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.547 KB) | DOI: 10.31289/biolink.v6i2.2693

Abstract

Shallots and onions are one of the leading vegetable commodities consumed by the public. The supply of these two onion varieties in Indonesia is not available at all times because is done seasonally. Therefore it is necessary to increase the cultivation, one of which is through the addition of nitrogen through plasma technology. This study to determine the effect of giving plasma nitrogen through plasma technology to the growth of bima onion brebes and grano onions. The study used a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 6 treatments with 5 replications. Plasma radiation is carried out on onion seeds and onions with a radiation interval of 15 and 30 minutes. The growth parameters observed were shoot growth time, growth percentage, root length, number of roots, plant height, number of shoots, and nitrogen content. Data were analyzed using ANOVA followed by DMRT Test at 95% confidence level. The results showed that the onion irradiated by plasma for 15 minutes could increase growth and total nitrogen content, while in onions, the highest yield was precisely in the control treatment (0 minute radiation). In onions, plasma administration can inhibit growth and total nitrogen content 0,31%, but can increase the number of roots.
PENGARUH CARA PEMUPUKAN PUPUK CAIR NANOSILIKA MELALUI MEDIUM DAN PENYEMPROTAN PADA PERTUMBUHAN SUBKULTUR BIBIT ANGGREK Ningrum, Dyah Ayu Kusuma; Prihastanti, Erma; Hastuti, Endah Dwi; Subagyo, Agus
Buletin Anatomi dan Fisiologi (Bulletin of Anatomy and Physiology) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.5.1.2020.%p

Abstract

Salah satu cara menambah pasokan bibit anggrek dengan cara subkultur. Tahapan subkultur tanaman anggrek sering mengalami hiperhidrisitas. Hiperhidrisitas diatasi dengan penambahan unsur silika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh perbedaan cara  pemberian pupuk melalui penyemprotan dengan penambahan pupuk pada medium serta menganalisa hasil yang paling efektif berpengaruh terhadap pertumbuhan sub kultur anggrek. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal dengan perlakuan pemberian pupuk nanosilika dalam medium dan melalui penyemprotan dan masing- masing perlakuan diulang tiga kali. Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: M0K0 = pupuk cair nanosilika 0% dalam medium, M0K1 = pupuk cair nanosilika 75% dalam medium, M1K0 = pupuk cair nanosilika 0% melalui penyemprotan dan M1K1 = pupuk cair nanosilika 75% melalui penyemprotan. Data yang diperoleh dianalisa dengan ANOVA taraf signifikasi 95%. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk nanosilika melalui penyemprotan dan pada medium Vacint and Went (VW) berpengaruh meningkatkan pertumbuhan subkultur anggrek Dendrobium sp. Pemberian pupuk cair nanosilika dengan konsentrasi 75% melalui medium subkultur Vacint and Went paling efektif meningkatkan pertumbuhan plantlet subkultur anggrek Dendrobium sp. Kata kunci : Dendrobium sp., subkultur, pemupukan, penyemprotan, nanosilika
The Effect of Balimo (Zanthoxylum nitidum) Immersion Water On The Hematological Profile of White Rats (Rattus norvegicus) That Given Liquor (Ciu) Wijaya, Panca Buana; Saraswati, Tyas Rini; Tana, Silvana; Sunarno, Sunarno; Prihastanti, Erma
Biology, Medicine, & Natural Product Chemistry Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/biomedich.2021.101.47-57

Abstract

Consumption of liquor such as Ciu in excessive doses can cause a decrease in hematological status. Balimo stem is an alternative treatment to improve hematological status due to excessive alcohol consumption because it contains alkaloids, flavonoids, and other secondary metabolic compounds, that have functions as antioxidant effects. This study aims to examine and analyze the effect of Balimo immersion water on the hematological status of mice with the observed variables, namely the erythrocytes count, hemoglobin levels, hematocrit value, and total count of leukocytes in rats that had been given Ciu. The study used 20 Rattus norvegicus male rats which were divided into 4 groups. The data were analyzed using one-way ANOVA. The results showed no significant differences (p <0.05) on the Balimo immersion water treatment, but if it was seen from the difference in the mean data of each variable, it could still be seen the difference from each treatment. In this study, it can be concluded that Balimo immersion water was able to improve the hematological status of rats that had been given Ciu liquor with a 0,2 mL dose.
Pertumbuhan Kalus Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) Varietas Permata F1 dari Jenis Eksplan dan Konsentrasi Sukrosa yang Berbeda secara In Vitro Ulva, Maria; Nurchayati, Yulita; Prihastanti, Erma; Setiari, Nintya
Life Science Vol 8 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v8i2.37103

Abstract

culture. Callus growth is influenced by the type of explant and the composition of the planting medium, one of which is sucrose concentration. The purpose of this study was to obtain the best type of explants for callus culture and find out the optimum sucrose concentration for callus growth. The method used is callus induction in Murashige and Skoog (MS) media, with the treatment of sucrose concentration and explant types. Explants were grown in MS media with the addition of 1 ppm naphthalene acetic acid (NAA) and 1 ppm benzyl amino purine (BAP). This study uses explants in the form of hypocotyl and cotyledons from tomato sprouts in vitro. The design of this study used a completely randomized design (CRD) in 2x4 factorial pattern. The first factor is the type of explants in the form of hypocotyl and cotyledons. The second factor is sucrose concentration which is 10, 20, 30 and 40g/L. The parameters observed were initiation time, wet weight, dry weight and callus morphology. The results showed that the treatment of explant type did not affect the growth of tomato callus, but different concentrations of sucrose in the media significantly affected. Sucrose at 30-40 g/L is a concentration that can stimulate the growth of tomato callus, both in hypocotyl explants and tomato cotyledo. Keywords: in vitro culture, hypocotyl, cotyledons, sucrose, callus, kultur in vitro, hipokotil, kotiledon, sukrosa, kalus. udidaya tanaman tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) dapat dilakukan dengan cara kultur in vitro melalui kultur kalus. Pertumbuhan kalus dipengaruhi oleh jenis eksplan dan komposisi media tanam, salah satunya konsentrasi sukrosa. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh jenis eksplan yang paling baik untuk kultur kalus dan mengetahui konsentrasi sukrosa yang optimum untuk pertumbuhan kalus. Metode yang digunakan adalah induksi kalus dalam media Murashige and Skoog (MS), dengan perlakuan konsentrasi sukrosa dan jenis eksplan. Eksplan ditumbuhkan dalam media MS dengan penambahan Naphthalene Acetic Acid (NAA) 1 ppm dan Benzyl Amino Purin (BAP) 1 ppm. Penelitian ini menggunakan eksplan berupa hipokotil dan kotiledon dari kecambah tomat secara in vitro. Desain penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x4. Faktor pertama adalah jenis eksplan berupa hipokotil dan kotiledon. Faktor kedua adalah konsentrasi sukrosa yaitu 10, 20, 30 dan 40g/L. Parameter yang diamati yaitu waktu inisiasi, berat basah, berat kering, dan morfologi kalus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis eksplan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan kalus tomat, namun konsentrasi sukrosa yang berbeda pada media berpengaruh secara signifikan. Sukrosa sebesar 30 - 40g/L merupakan konsentrasi yang dapat memacu pertumbuhan kalus tomat, baik pada eksplan hipokotil maupun kotiledon kecambah tomat. Kata kunci: in vitro culture, hypocotyl, cotyledons, sucrose, callus, kultur in vitro, hipokotil, kotiledon, sukrosa, kalus
Effects of Light for Callus Induction of Mangrove Plant (Rhizophora Apiculata Bi) by In Vitro I’anatushshoimah, I’anatushshoimah; Nurchayati, Yulita; Prihastanti, Erma; Hastuti, Rini Budi
Life Science Vol 9 No 2 (2020): November 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lifesci.v9i2.47157

Abstract

Initiation of Rhizophora apiculata BI propagation in vitro can be done by callus culture. Induction of mangrove callus has the problem of browning emergence. The phenomenon of browning can be overcome by limiting the treatment of light. The purpose of this research were to study the effect of light duration on callus growth, to understand the duration of light treatment that can spur the optimal callus growth, and to understand the effect of the light treatment on the browning event. The explants used were leaf grown in Murashige and Skoog (MS) medium with addition of NAA 1 ppm, BAP 0.3 ppm and activated charcoal 12 g / l. The treatments included 24 hour dark treatment, 24 hours light, dark 16 hours light 8 hours, light 8 hours dark 16 hours with 4 repetitions each. The results showed that the light treatment could induce callus formation while 24 hour dark treatment could reduce browning. All explant grown in conditions exposed to light and dark spewn exudate. The best callus growth (0.1939 g) was obtained in the T16G8 treatment (light 16 hours, dark 8 hours) with the time of the emergence of callus 6 DAP. Research about tissue culture with mangrove plants is rarely conducted because of high browning possibility. Thus, the novelty of this research lies upon the process of browning prevention using light duration treatment so browning could be prevented and mangrove culture could produce callus. Inisiasi perbanyakan Rhizophora apiculata BI secara in vitro dapat dilakukan dengan kultur kalus. Induksi kalus mangrove memiliki masalah munculnya kecoklatan. Fenomena pencoklatan bisa diatasi dengan membatasi perawatan cahaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh lama pencahayaan terhadap pertumbuhan kalus, mengetahui lama perlakuan cahaya yang dapat memacu pertumbuhan kalus yang optimal, dan mengetahui pengaruh perlakuan cahaya terhadap kejadian pencoklatan. Eksplan yang digunakan adalah daun yang ditanam pada media Murashige dan Skoog (MS) dengan penambahan NAA 1 ppm, BAP 0,3 ppm dan arang aktif 12 g / l. Perlakuan tersebut meliputi perlakuan gelap 24 jam, terang 24 jam, terang gelap 16 jam 8 jam, terang 8 jam gelap 16 jam dengan masing-masing 4 pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan cahaya dapat menginduksi pembentukan kalus sedangkan perlakuan gelap 24 jam dapat mengurangi pencoklatan. Semua eksplan tumbuh dalam kondisi terpapar eksudat yang dimuntahkan terang dan gelap. Pertumbuhan kalus terbaik (0,1939 g) diperoleh pada perlakuan T16G8 (terang 16 jam, gelap 8 jam) dengan waktu munculnya kalus 6 HST. Penelitian tentang kultur jaringan dengan tanaman mangrove jarang dilakukan karena kemungkinan kecoklatannya tinggi. Dengan demikian, kebaruan dari penelitian ini terletak pada proses pencegahan pencoklatan menggunakan perlakuan durasi yang ringan sehingga pencoklatan dapat dicegah dan kultur mangrove dapat menghasilkan kalus.
RADIASI PLASMA PIJAR KORONA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN NITROGEN TOTAL BAWANG MERAH DAN BAWANG BOMBAY Ariyanti Ariyanti; Erma Prihastanti; Much Azam
BIOLINK (Jurnal Biologi Lingkungan Industri Kesehatan) Vol 6, No 2 (2020): Februari
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/biolink.v6i2.2693

Abstract

Shallots and onions are one of the leading vegetable commodities consumed by the public. The supply of these two onion varieties in Indonesia is not available at all times because is done seasonally. Therefore it is necessary to increase the cultivation, one of which is through the addition of nitrogen through plasma technology. This study to determine the effect of giving plasma nitrogen through plasma technology to the growth of bima onion brebes and grano onions. The study used a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 6 treatments with 5 replications. Plasma radiation is carried out on onion seeds and onions with a radiation interval of 15 and 30 minutes. The growth parameters observed were shoot growth time, growth percentage, root length, number of roots, plant height, number of shoots, and nitrogen content. Data were analyzed using ANOVA followed by DMRT Test at 95% confidence level. The results showed that the onion irradiated by plasma for 15 minutes could increase growth and total nitrogen content, while in onions, the highest yield was precisely in the control treatment (0 minute radiation). In onions, plasma administration can inhibit growth and total nitrogen content 0,31%, but can increase the number of roots.
Co-Authors Afrazak Johansyah Agus Subagio Agus Subagyo Ahmad Fuad Masduqi Anitasari, Emi Arif Surahman Ariyanti Ariyanti Ariyanti Ariyanti Ayu Rahmawati Sulistyaningtyas C. J. Soegihardjo Chatarina Umbul Wahyuni Chory Praseptiana Christoph Leuschner Della Widya Puspita Della Widya Puspita Desy Wulan Triningsih Devi Ermawati Dhitya Arlan Bayu Martha Didie Soepandi Didy Sopandie Diwyacitta Prasasti Emi Anitasari Endah D. Hastuti Endah Dwi Astuti Endah Dwi Hastuti Endang Kusdiyantini Endang Saptiningsih Esti Meita Kridati Fajar Arianto Faradis Ulyah Fatkhu Zaimah Febiasasti Trias Nugraheni Fifit Yuniati Harmigita Putri Fitriani Hastuti, Endah Helmiyesi Helmiyesi I’anatushshoimah, I’anatushshoimah IBNUL QAYIM Ika Dyah Kumalasari Ika Puspitasari I Ilma Khaerasani Imam Firmansyah Imam Firmansyah Indriani, Reni Jinus Jinus Jumari Jumari, Jumari Junita Junita Kasiyati Kasiati Ken Qudsy Royana, Ken Qudsy Kuwati Kuwati Lily Nur Inda Sary Lutfiyatul Wahdah Mega Rizqi Utami Monika Heti Nuryana Much Azam Much Azam Mudlikatun Khasanah Muhammad Agus Muljanto Muhammad Luthfi Munifatul Izzati Munirotun Roiyana Ngadiwiyana M.Si. S.Si. Ningrum, Dyah Ayu Kusuma Nintya Setiari Niti, Mahatma Narendra Noor Laila Safitri Nurrahmah Azizah, Nurrahmah Oktivani D.P. Hayati Puji Hastuti Putri Zulaida Ningtyas Rafif Zuhair Muhammad Regina Cahya Cendekianesti Retno Robiatul Al Adawiyah Rini Budi Hastuti Rini Budi Hastuti Rini Budihastuti Robi’atul Asifah Sarjana Parman Sepsamli, Letus Silvana Tana Soekisman T SOEKISMAN TJITROSEMITO Sofian, Arif Ardianto Sri Darmanti Sri Haryanti Sri Haryanti Sri Widodo Agung Suedy Sugiyatno Sugiyatno Sulastri Diana Silaban Surahman, Arif surur, Mukhammad akmal Susiani Purbaningsih, Susiani Tyas Rini Saraswati Ulva, Maria Wijaya, Panca Buana Winangsih Winangsih Yulita Nurchayati Zaenul Muhlisin Zaenul Muhlisin Zelly Fujianto, Zelly Zelly Fujiyanto, Zelly