Claim Missing Document
Check
Articles

Risiko Konsumsi Western Fast Food dan Kebiasaan Tidak Makan Pagi Terhadap Obesitas Remaja Studi di SMAN 1 Cirebon Lilis Banowati; Nugraheni Nugraheni; Niken Puruhita
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 2 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.107 KB)

Abstract

ABSTRACTRisks of western fast food consumption and skipping breakfast to adolescents’obesity: Study at SMAN 1 CirebonBackground: Obesity prevalence in adolescents remains high. Western fast food consumption and skipping breakfast were identified as sub-culture among adolescents.The objective of this study was aimed to determine the risk of western fast food consumption in term of frequency of consumption, energy intake and energy contribution to adolescents’ obesity. It was also aimed to determine therisk of skipping breakfast for adolescents’ obesity.Method: It was an observational study using a case-control approach. Stratified random sampling was used to select participants from population. Seventy six secondary students from SMA Negeri 1 Cirebon were involved, divided into two groups; 38 students as case (BMI>95 persentile) and the rest 38 as controls (BMI 5-85 persentile). Chi-square and multiple logistic regression were employed in data analysis.Results: This study found obese students consumed western fast food more than their counterparts (263 kkal versus 140 kkal) (p=0.001). They were less frequent breakfast having (4.5 times per week) than those who were not obese (5,8 times per week) (p=0.019). Energy intake gained from western fast food consumption ≥244 kkal per day was found as the risk factor for obesity among adolescents (p=0,004) whilst frequency of consumption >9.2 times per month, energy contribution to total calorie intake >7.3% and skipping breakfast were failed to predict adolescents’ obesity (p>0.05). The result of multiple logistic regression test showed that the variable which is the most influential to the incident of obesity is energy intake gained from western fast food consumption (OR=6.26).Conclusion: Western fast food consumption ≥244 kkal per day is a risk factor for obesity.Keywords: Western fast food consumption, skipping breakfast, obesity, adolescentABSTRAKLatar belakang: Prevalensi obesitas remaja cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh konsumsi western fast food dan kebiasaan tidak makan pagi yang sudah merupakan kecenderungan di kalangan remaja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besar risiko frekuensi konsumsi western fast food, asupan energi konsumsi western fast food, kontribusi energi western fast food dan kebiasaantidak makan pagi terhadap kejadian obesitas remaja SMAN 1 Cirebon.Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan kasus kontrol. Pengambilan sampel dengan teknik stratified random sampling. Besar sampel 76 orang, terdiri dari 38 orang kasus (IMT >95 persentil) dan 38 orang kontrol (IMT persentil ke-5 -85). Penelitian menggunakan analisis bivariat dengan uji chi square dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda.Hasil: Pada remaja obesitas asupan energi konsumsi western fast food (263 kkal) lebih tinggi daripada yang tidak obes (140 kkal) (p=0,001). Sedangkan frekuensi makan pagi lebih rendah (4,5 kali/minggu) daripada yang tidak obes (5,8 kali/minggu) (p=0,019). Hasil analisis menunjukkan asupan energi konsumsi western fast food ≥244 kkal per hari merupakan faktor risiko terjadinyaobesitas (p=0,004). Sedangkan frekuensi konsumsi western fast food >9,2 kali per bulan, kontribusi energi western fast food terhadap total kalori >7,3% dan kebiasaan tidak makan pagi bukan faktor risiko obesitas (p>0,05). Hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap obesitas remaja adalah asupan energi konsumsi western fast food(OR=6,26).Simpulan: Konsumsi western fast food ≥244 kkal per hari berisiko untuk terjadinya obesitas.
Risk Factors of Stunting among 1-2 Years Old Children in Semarang City Aryu Candra; Niken Puruhita; JC Susanto
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 3 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.173 KB)

Abstract

ABSTRACTBackground: Prevalence of stunting in children under five years in Central Java is high, more than 33%. Semarang City has high prevalence of malnutrition therefore there is a need to identify risk factors of stunting in Semarang city.Method: This was a case control study, completed with qualitative study about risk factors of stunting. Samples were 58 cases and 58 controls. Data were analyzed by univariate analysis, bivariate analysis with chi square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression. Qualitative study was done by using indepth interview, and presented in narration.Results: The multivariate analysis result showed that risk factors of stunting in children 1-2 years old were short stature father (<162 cm) (p=0.016; OR=2.7; CI=1.2-6), children had history of low birth weight (p=0.028; OR=11.2; CI=1.3-96.3), and children had history of underweight (p=0.006; OR=3.3; CI=1.4-7). Risk factors which were not proven to influence the incidence of stunting were maternal height, history of exclusively breastfed, complementary feeding history; sex, history of infection, and immunization history.Conclusions: Risk factors that influence the incidence of stunting in children 1-2 years olds are having father’s height <162 cm, and positive history of low birth weight, and of underweight.Keywords: Stunting, malnutrition, children, growth, risk factorsABSTRAKFaktor risiko dari stunting pada anak usia 1-2 tahun di kota SemarangLatar belakang: Stunting adalah perawakan pendek yang timbul akibat malnutrisi yang lama. Prevalensi stunting pada balita di Jawa Tengah tinggi, yaitu lebih dari 33%. Kota Semarang merupakan ibukota Jawa Tengah yang memiliki prevalensi malnutrisi cukup tinggi sehingga diperlukan studi untuk mengetahui faktor risiko stunting di Kota Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus kontrol, dilengkapi kajian kualitatif mengenai stunting pada status ekonomi kurang dan status ekonomi cukup. Jumlah sampel 58 kasus dan 58 kontrol. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan chi square test, multivariat dengan metode regresi logistik ganda. Kajian kualitatif denganmetode indepth interview dan disajikan dalam bentuk narasi.Hasil: Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian stunting pada anak 1-2 tahun di kota Semarang adalah tinggi badan ayah <162 cm (p=0,016; OR=2,7; CI:1,2-6), anak yang mempunyai riwayat BBLR (p=0,028; OR=11,2; CI=1,3-96,3), dan anak mempunyai riwayat underweight (p=0,006; OR=3,3; CI=1,4-7). Faktor risiko yang tidak terbukti mempengaruhi kejadian stunting adalah jenis kelamin, tinggi badan ibu, riwayat ASI eksklusif, riwayat infeksi, riwayat imunisasi, dan riwayat makanan pendamping ASI.Simpulan: Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak 1-2 tahun adalah yang mempunyai ayah dengan tinggi badan <162 cm dan mempunyai riwayat BBLR, serta berat badan kurang.
Tinggi Badan yang Diukur dan Berdasarkan Tinggi Lutut Menggunakan Rumus Chumlea pada Lansia Etisa Adi Murbawani; Niken Puruhita; Yudomurti Yudomurti
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2012:MMI VOLUME 46 ISSUE 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.234 KB)

Abstract

Measured height and calculated height based on knee height using chumlea formula in elderlyBackground: Height is an important anthropometric measurement. Height calculation equation for elderly with dorsal deformity using knee height was developed by Chumlea. However, the equation is not appropriate for elderly in Asian population. The aim of this study was to compare measured height with calculated height based on knee height using Chumlea formula for elderly in Indonesia.Method: A cross sectional study was conducted in 86 elderly in geriatric outpatient clinic in Kariadi hospital, nursing home, and eldery integrated health service (posyandu lansia) in Semarang which were randomly selected in July-September 2009. The inclusion criteria were elderly without deformities and able to stand up straightly. Data collected were demography characteristics, height and knee height. Height was measured using microtoise, knee height was measured using knee calliper. Both microtoise and knee calliper had 0.1 cm accuracy. Data were analysed using Wilcoxon signed rank test.Result: Most samples were female, aged 59-88 years. The average age was 71±8.7 years. The average measured height in female and male subjects were 146.8±5.6 cm and 160.8±6.2 cm respectively. The average calculated height in female and male subjects were 154.3±7.03 cm and and 159.1±6.78 cm respectively. There was no different (p=0.077) in measured height and calculated height using Chumlea formula.Conclusion: There was no different in measured height and calculated height using Chumlea formula.Keywords: Elderly, height, knee height, nutritional assesmentABSTRAKLatar belakang: Tinggi badan merupakan salah satu indikator pengukuran antropometri yang penting. Persamaan perhitungan tinggi badan pada lansia (lanjut usia) dengan deformitas punggung telah dikembangkan oleh Chumlea. Persamaan yang ada saat ini tidak tepat untuk populasi Asia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kesesuaian antara tinggi badan yang diukur dengan microtoise dengan perhitungan berdasarkan tinggi lutut menggunakan rumus Chumlea untuk lansia di Indonesia.Metode: Desain penelitian ini adalah belah lintang. Subyek penelitian adalah 86 (delapan puluh enam) lansia yang menjadi pasien rawat jalan Poliklinik Geriatri di RSUP Dr. Kariadi Semarang, lansia yang menjadi penghuni panti wredha dan lansia yang menjadi anggota posyandu lansia di Semarang pada bulan Juli-September 2009. Kriteria inklusi pasien adalah tidak ada deformitas pada struktur tubuh dan mampu berdiri tegak. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik demografi, tinggi badan dan tinggilutut. Tinggi badan diukur menggunakan microtoise, sedangkan tinggi lutut diukur menggunakan knee calliper dengan akurasi 0,1 cm. Analisis data menggunakan uji beda Wilcoxon signed rank test.Hasil: Sebagian besar subyek berjenis kelamin perempuan, dengan usia 59-88 tahun. Rerata umur subyek sebesar 71±8,7 tahun. Rerata tinggi badan perempuan dan laki-laki adalah 146,8±5,6 cm, dan 160,8±6,2 cm. Rerata tinggi badan perempuan dan laki-laki dengan rumus Chumlea, adalah 154,3±7,03 cm dan 159,1±6,78 cm, dengan perbedaan yang tidak bermakna (p=0,077).Simpulan: Tidak ada perbedaan pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise dan rumus Chumlea.
Pemberian Teh Rosela (Hibiscus sabdariffa Linn), Simvastatin dan Profil Lipid serta Serum ApoB pada Tikus Hiperkolesterolemi Enny Probosari; Hertanto WS; Niken Puruhita
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 1 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.145 KB)

Abstract

ABSTRACTConsumption of roselle tea and simvastatin, lipid profile and apoB serum in hypercholesterolemic ratsBackground: Roselle is commonly used as herbal beverages in Indonesian that is known have a hypocholesterolemic effect. The study was conducted to determine the efficacy of roselle tea compared to simvastatin on lipid profile and apo B of hypercholesterolemic rats.Methods: This study was an animal experimental with randomized pre test post test control design. Sixteen hypercholesterolemic male wistar rats of 15 week-aged were devided into 3 groups: control groups (K) received normal feeding and water adlibitum, group P1 received normal feeding, water adlibitum and roselle tea 4.5 ml twice a day, group P2 received normal feeding, water adlibitum and simvastatin 0.4 mg daily. Blood samples were collected at baseline and 30 days after administration of roselle tea or simvastatin for the measurement of serum lipids and apoB using ELISA.Results: Administration of roselle tea 1.37gram twice a day decreased trigliserid concentrations from 81.7mg/dl±43.13 to 26.5mg/dl±13.92 (p=0.038), but increased total cholesterol concentrations from 62.1mg/dl±4.25 to 91.9mg/dl±11.74 (p=0.001). Administration of 0.4mg simvastatin didn’t decreased triglicerid concentrations (50.9mg/dl±55.95 to 67.9mg/dl±3.07, p=0.207), total cholesterol concentrations (67.9mg/dl±3.07 to 74.2mg/dl±10.65, p=0.146), LDL cholesterol concentrations (156.8mg/dl±291.9 to 34.0mg/dl±30.06, p=0.686) nor increased HDL cholesterol concentration (58.1mg/dl±12.73 to 60.5mg/dl±8.61, p=0.674).Conclusion: Intake of 1.37 gram rosella tea twice a day decreases trigliserid more effective than simvastatin. Administration of roselle tea and simvastatin are not effective to reduce LDL cholesterol concentrations and apoB concentrations, nor increased HDL cholesterol concentrations.Keywords: Lipid profile, apoB, roselle, simvastatinABSTRAKLatar belakang: Teh rosela merupakan salah satu bahan minuman yang diketahui mempunyai efek menurunkan kadar kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pemberian teh rosela dibandingkan simvastatin terhadap profil lipid dan apolipoprotein B pada tikus hiperkolesterolemi.Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan desain pre-post-test dengan kelompok kontrol. Enam belas tikus putih jantan galur wistar hiperkolesterolemi, usia 15 minggu, dibagi menjadi kelompok kontrol (K) hanya diberi pakan standar dan minum adlibitum, kelompok perlakuan 1 (P1) diberi pakan standar minum adlibitum, seduhan rosela 2x4,5ml per haridan kelompok perlakuan 2 (P2) diberi pakan standar minum adlibitum dan simvastatin 0,4mg per hari, selama 30 hari. Pada awal dan akhir perlakuan diambil serum darah untuk mengetahui kadar trigliserid, kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, sedangkan kadar apo B diukur pada akhir penelitian menggunakan metode ELISA.Hasil: Pemberian teh rosela (kelompok P1) menurunkan kadar trigliserid dari 81,7mg/dl±43,13 menjadi 26,5mg/dl±13,92 (p=0,038) setelah perlakuan, namun kadar kolesterol totalnya meningkat dari 62,1mg/dl±4,25 menjadi 91,9mg/dl±11,74 (p=0,001) setelah perlakuan. Pemberian 0,4mg simvastatin tidak menurunkan kadar trigliserid (50,9mg/dl±55,95 menjadi 67,9mg/dl±3,07, p=0,207), tidak menurunkan kadar kolesterol total (67,9mg/dl±3,07 menjadi 74,2mg/dl±10,65, p=0,146), tidak menurunkan kadar kolesterol LDL (156,8mg/dl±291,9 menjadi 34,0mg/dl±30,06, p=0,686) dan tidak meningkatkan kadar kolesterol HDL (58,1mg/dl±12,73 menjadi 60,5mg/dl±8,61, p=0,674).Simpulan: Pemberian teh rosela dengan berat rata-rata 1,37 gram yang dikonsumsi dua kali per hari lebih efektif dalam menurunkan kadar trigliserid serum tikus hiperkolesterolemi dibandingkan pemberian 0,4mg simvastatin. Pemberian teh rosela dosis lazim dan pemberian simvastatin dosis 0,4mg sama tidak efektifnya dalam menurunkan kadar kolesterol LDL, kadar apolipoprotein B dan meningkatkan kadar kolesterol HDL.
PROGRAM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN GIZI UNTUK ANAK USIA SEKOLAH DI KELURAHAN JOMBLANG SEMARANG Martha Ardiaria; Aryu Candra; Enny Probosari; Etisa Adi Murbawani; Niken Puruhita
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 9, No 1 (2021): JNH (JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnh.9.1.2021.24-30

Abstract

Latar BelakangStatus gizi adalah kondisi kesehatan tubuh yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan asupan zat gizi. Status gizi sangat berpengaruh terhadap status kesehatan. Status gizi anak di wilayah Kelurahan Jomblang berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2014, sebesar 30,9% tergolong kurang. Kejadian malnutrisi yang tinggi di kelurahan Jomblang salah satunya disebabkan oleh  kurangnya pengetahuan tentang makanan yang sehat dan bergizi dan kurangnya kemampuan untuk membuat makanan yang sehat dan bergizi.MetodeKegiatan pengabdian masyarakat ini akan dilakukan di wilayah RW 11 Kelurahan Jomblang , Kecamatan Candisari, Kota Semarang pada awal hingga pertengahan tahun 2020. Sasaran kegiatan ini adalah kelompok TPQ yang beranggotakan anak usia sekolah di wilayah RW 11.  Metode yang digunakan adalah ceramah, pelatihan dan praktek menggunakan modul serta video yang berisi materi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.HasilKegiatan dilakukan dalam 2 tahap yaitu tahap 1: sosialisasi, penyuluhan  pre test tentang pengetahuan gizi, pembagian kuesioner ffq, dan pembagian modul; tahap 2: pelatihan keterampilan menmbuat makanan sehat menggunakan video.SimpulanProgram pendidikan dan pelatihan gizi pada anak sekolah mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang makanan bergizi.Kata kunci:  pendidikan, pelatihan, gizi, anak sekolah
PELATIHAN PENGUKURAN ANTROPOMETRI DAN SOSIALISASI PESAN GIZI SEIMBANG UNTUK KADER POS PELAYANAN TERPADU/POSYANDU Aryu Candra; Enny Probosari; Niken Puruhita; Martha Ardiaria
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 9, No 1 (2021): JNH (JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnh.9.1.2021.31-38

Abstract

Kader Posyandu memiliki peran penting dalam menjaga status kesehatan masyarakat karena memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat. Oleh karena itu keterampilan dan pengetahuan kader penting untuk dapat melakukan tugasnya dengan baik. Pemeriksan antropometri yang rutin dilakukan kader posyandu masih belum sesuai karena kader jarang mendapatkan informasi dan pelatihan.       Program Prinsip Gizi Seimbang dan Pesan Gizi Seimbang yang disingkat PGS merupakan program pemerintah untuk menjaga status gizi masyarakat Indonesia agar tetap seimbang. Program ini menggantikan Program Empat Sehat Lima Sempurna karena Empat Sehat Lima Sempurna dianggap kurang sesuai karena hanya kurang lengkap informasinya.       Program PGS sebenarnya sudah ada sejak 1992, namun hingga sekarang masih banyak masyarakat yang belum mengenal program ini. Hal ini disebabkan sosialisasi PGS yang kurang. Oleh karena itu pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk membantu mensosialisikan PGS supaya lebih dikenal dan diterapkan sehingga status gizi masyarakat Indonesia menjadi lebih baik.       Kegiatan pengabdian ini dilakukan di wilayah kelurahan Jomblang kota Semarang pada tahun 2019. Wilayah ini memiliki kepadatan penduduk tinggi. Di wilayah ini terdapat kelompok PKK di setiap RT dan RW yang aktif melakukan berbagai kegiatan. Kelompok PKK beranggotakan ibu-ibu yang dapat menjadi menjadi media untuk memperkenalkan dan mempraktekkan PGS di keluarga.
SOSIALISASI PRINSIP DAN PESAN GIZI SEIMBANG SEBAGAI PENGGANTI PROGRAM EMPAT SEHAT LIMA SEMPURNA Martha Ardiaria; Hertanto Wahyu Subagio; Niken Puruhita
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 8, No 1 (2020): JNH (JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.328 KB) | DOI: 10.14710/jnh.8.1.2020.51-56

Abstract

       Program Prinsip Gizi Seimbang dan Pesan Gizi Seimbang yang disingkat PGS merupakan program pemerintah untuk menjaga status gizi masyarakat Indonesia agar tetap seimbang. Program ini menggantikan Program Empat Sehat Lima Sempurna karena Empat Sehat Lima Sempurna dianggap kurang sesuai karena hanya kurang lengkap informasinya.       Program PGS sebenarnya sudah ada sejak 1992, namun hingga sekarang masih banyak masyarakat yang belum mengenal program ini. Hal ini disebabkan sosialisasi PGS yang kurang. Oleh karena itu pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk membantu mensosialisikan PGS supaya lebih dikenal dan diterapkan sehingga status gizi masyarakat Indonesia menjadi lebih baik.       Kegiatan pengabdian ini dilakukan di wilayah kelurahan Jomblang kota Semarang pada tahun 2019. Wilayah ini memiliki kepadatan penduduk tinggi. Di wilayah ini terdapat kelompok PKK di setiap RT dan RW yang aktif melakukan berbagai kegiatan. Kelompok PKK beranggotakan ibu-ibu yang dapat menjadi menjadi media untuk memperkenalkan dan mempraktekkan PGS di keluarga.       Hasil kegiatan ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat tentang gizi dan Pesan Gizi Seimbang di wilayah Kelurahan Jomblang. Dengan adanya peningkatan pengetahuan diharapkan kesadaran dan perilaku masyarakat tentang kesehatan juga mengalami peningkatan.
KORELASI DEFISIT ENERGI DAN PROTEIN DENGAN LAMA RAWAT PASIEN SAKIT KRITIS DI INTENSIVE CARE UNIT (ICU) Jennifer Setiawan; Niken Puruhita; Minidian Fasitasari; Hertanto Wahyu Subagio; Etisa Adi Murbawani
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 8, No 2 (2020): JNH (JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.808 KB) | DOI: 10.14710/jnh.8.2.2020.100-108

Abstract

Latar Belakang : Asupan yang inadekuat dan hiperkatabolisme merupakan faktor risiko malnutrisi pasien ICU yang berkaitan dengan outcome yang buruk. Terdapat kontroversi mengenai risiko dan manfaat pemberian energi dan protein pada pasien sakit kritis.Tujuan : Menganalisis korelasi antara defisit energi dan protein dengan lama rawat pasien bedah di ICU.Metode penelitian : Penelitian korelasional dengan subjek penelitian adalah pasien bedah di ICU dengan usia ≥ 18 tahun dan mendapatkan terapi gizi enteral maupun parenteral oleh dokter spesialis Gizi Klinis. Pasien readmisi atau meninggal saat perawatan dieksklusikan dari penelitian ini. Defisit energi dihitung sebagai jumlah selisih antara energi yang dipreskripsikan dan energi yang diberikan. Defisit protein dihitung dengan cara yang sama.Hasil : Lima puluh subjek memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Rerata defisit energi 1350 ± 862,8 kkal dan defisit protein 96 ± 57,0 gram. Terdapat korelasi positif bermakna antara defisit energi (r = 0,586; p <0,001) dan defisit protein (r = 0,639; p <0,001) dengan lama rawat di ICU.Simpulan : Defisit energi dan protein berkorelasi dengan lama rawat pasien bedah di ICU. Defisit protein berkorelasi lebih kuat daripada defisit energi dengan lama rawat di ICU. Kata kunci : defisit energi, defisit protein, lama rawat, sakit kritis, pasien bedah
KEBUN GIZI UNTUK MEMBANTU MEMENUHI KEBUTUHAN ZAT GIZI MASYARAKAT Aryu Candra; Martha Ardiaria; Enny Probosari; Etisa Adi Murbawani; Niken Puruhita; Muhammad Sulchan; Hertanto Wahyu Subagio
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 9, No 2 (2021): JNH(JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnh.9.2.2021.25-30

Abstract

Pandemi Covid 19 yang terjadi sejak tahun 2020 dan hingga kini belum selesai menimbulkan berbagai permasalahan di masyarakat. Salah satunya adalah permasalahan di bidang ekonomi. Penurunan daya beli terhadap bahan makanan dapat menyebabkan kualitas asupan zat gizi menurun. Salah satu cara untuk mengatasi adalah dengan membuat kebun gizi yang berisi tanaman sumber zat gizi di pekarangan rumah atau lahan kosong yang ada di sekitar perumahan. Kebun gizi dibuat di enam lokasi yaitu tiga lokasi di pekarangan rumah warga, dan tiga lokasi di pinggir jalan di wilayah kelurahan Jomblang. Luas masing-masing kebun berkisar antara 6-12 m2. Tanaman yang berhasil tumbuh dengan baik adalah bayam, terong, sawi, buncis, bawang dan kangkung, pepaya, tomat, cabai, jambu air, dan jambu biji (belum berbuah). Selain itu ada tanaman umbi umbian dan rempah yang juga tumbuh dengan baik yaitu ketela pohon, ubi jalar, jahe, kunyit, kencur, sereh, temulawak, dan lengkuas. Setelah 1  bulan hasil dari kebun gizi sebagian sudah dapat dipanen dan dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kebun gizi bermanfaat untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi warga kelurahan Jomblang.
PONDOK GIZI SEBAGAI SARANA KONSELING GIZI MASYARAKAT Aryu Candra; Martha Ardiaria; Enny Probosari; Niken Puruhita; Etisa Adi Murbawani
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 9, No 2 (2021): JNH(JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnh.9.2.2021.13-18

Abstract

Pengetahuan masyarakat Indonesia tentang gizi berdasarkan hasil penelitian tenyata masih banyak dalam kategori kurang. Sumber informasi yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat adalah yang secara langsung disampaikan oleh narasumber, bukan informasi melalui media elektronik atau sosial. Hal ini dikarenakan informasi melalui media massa sering tidak benar bahkan menyesatkan. Pondok Gizi yang merupakan sarana untuk memberi informasi, solusi, dan intervensi gizi  pada anggota masyarakat yang membutuhkan. Pondok Gizi sebagai Sarana Konseling Gizi Masyarakat didirikan di wilayah Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, kota Semarang pada tahun 2021. Pondok Gizi adalah  sebuah tempat yang dilengkapi fasilitas pelayanan gizi yaitu peralatan antropometri, alat kedokteran seperti tensimeter, stetoskop, alat pengukur komposisi tubuh seperti Body Fat Analyzer, Bioimpedance Anlysis, dll. Kegiatan yang dilakukan di Pondok Gizi meliputi pemeriksaan status, gizi , konseling gizi, serta intervensi gizi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa warga sudah menjalankan pola hidup sehat sesuai anjuran dari narasumber. Kegiatan ini terbukti efektif membantu mengatasi permasalahan gizi dan kesehatan masyarakat di wilayah kelurahan Jomblang.