Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Evangelism in the Modern Era: Viewed from the Perspective of Kiyai Sadrach Adhis Mareta; Timotius Sukarna
Philosophy Global: International Journal of Christian and Catholic Philosophy Vol. 1 No. 3 (2024): September || Philosophy Global: International Journal of Christian and Catholic
Publisher : International Forum of Researchers and Lecturers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70062/philosophyglobal.v1i3.40

Abstract

Evangelism in the modern era faces unique challenges and opportunities, especially in the context of a pluralistic society and digital technology. This article looks at evangelism from the perspective of Kiyai Sadrach, a Javanese Christian figure known for his contextualised and inclusive approach. Through this analysis, it will look at how Kiyai Sadrach's principles can be applied in the modern context to promote relevant and effective evangelism.
Kajian Teologis terhadap 1 Korintus 3:5–15 dan Relevansinya terhadap Model Pembelajaran PAIKEM dalam PAK di SMK Negeri 1 Hiliserangkai Mendrofa, Yenny Mawarni; Sukarna, Timotius
Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi Vol. 3 No. 2 (2026): Juli: Jurnal Silih Asuh: Teologi dan Misi
Publisher : LPPM - STT Kadesi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54765/silihasuh.v3i2.139

Abstract

Artikel ini menyajikan kajian teologis terhadap 1 Korintus 3:5–15 serta menganalisis relevansinya terhadap implementasi model pembelajaran PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK) di SMK Negeri 1 Hiliserangkai. Tantangan dalam pembelajaran PAK kerap muncul akibat adanya dikotomi yang dipersepsikan antara pengajaran yang bersifat dogmatis dan tuntutan pedagogis yang dinamis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi kepustakaan dengan pendekatan eksegesis historis-gramatikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 Korintus 3:5–15 memberikan landasan teologis yang kokoh bagi penerapan model pembelajaran PAIKEM. Rasul Paulus menegaskan metafora diakonos sebagai hamba Allah yang bekerja secara kolaboratif, dengan Kristus sebagai satu-satunya themelios (dasar) yang menuntut integritas dalam pelayanan pendidikan. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa prinsip "menanam dan menyiram" merupakan antitesis terhadap pola pembelajaran yang pasif sekaligus menjadi katalis bagi keterlibatan aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan PAIKEM dalam konteks sekolah menengah kejuruan bukan sekadar inovasi metodologis, melainkan merupakan perwujudan pelayanan yang berpusat pada Kristus (Christocentric ministry) dan berorientasi pada pertumbuhan yang dianugerahkan Allah. Integrasi teologis ini memberikan dasar biblis yang kuat bagi pendidik untuk mengadopsi model-model pembelajaran inovatif tanpa mengorbankan hakikat spiritualitas Kristen. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan wacana Pendidikan Agama Kristen agar tetap relevan secara pedagogis dalam konteks pendidikan vokasional sekaligus setia kepada otoritas Alkitab.
Teologi Biblika Mazmur 150: Strategi Interkultural Pelayanan Pujian bagi Pertumbuhan Jemaat Tomas Purnomo; Timotius Sukarna; Sri Rezeki
Coram Mundo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 8 No. 2 (2026): Agustus : Coram Mundo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Ngabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/corammundo.v8i2.699

Abstract

This study aims to develop a strategy for developing praise and worship services through a deeper biblical theology of Psalm 150, as a fundamental solution for congregational growth at YHS Eka Sinta Church in Kapuas Regency. The main premise of this study is based on the crucial disconnect between contemporary church music practices, which tend to be performative, and the essence of the doxology authoritatively contained in the text Scripture. By integrating descriptive qualitative methods and an exegetical biblical theology approach, this study explores the imperative meaning and poetic structure of Psalm 150 and then engages them in intercultural dialogue with the sociocultural context of local churches in Kalimantan. The results reveal that the biblical theology Psalm 150 emphasizes the totality of instrumental use and the universality of the subject of praise as an absolute reflection of God's sovereignty and might. Field findings indicate that the effectiveness of music services is often hampered by technical limitations and theological shallowness of liturgical ministers. This study concludes that healthy congregational growth, both in terms of spiritual quality and quantity, is rooted in the extent to which the church able to actualize biblical theological values ​​in expressions of praise that are relevant and resonate with the cultural background and local identity of its congregation. The resulting strategy offers a holistic ministry model, in which church music returns to its essential function as an instrument of faith transformation and a means of growing the Kingdom of God, adaptively yet faithful to the biblical text.
Implementasi Pelayanan Misi Berdasarkan Lukas 10:1-12, 17-20 Bagi Para Pendoa Yonathan Bambang Sri Haryanto; Paulus Sentot Purwoko; Timotius Sukarna
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i2.329

Abstract

Dalam arus perkembangan dan usaha mempertahankan eksistensi gereja, ada bagian penting gereja yang sering diabaikan oleh umat Kristen yaitu pelayanan misi. Di tengah perubahan zaman ini, muncul kebutuhan yang mendesak untuk kembali kepada pola pelayanan misi yang bersumber dari Firman Tuhan secara murni dan kontekstual. Salah satu pola pelayanan misi yang kuat, namun seringkali kurang diperhatikan, adalah apa yang ditunjukkan oleh Yesus dalam Lukas 10:1-12, 17-20. Dalam bagian ini, Yesus mengutus tujuh puluh murid secara berdua-dua untuk melayani di wilayah yang akan Ia datangi. Tugas ini tidak hanya bersifat penginjilan konvensional, tetapi juga bersifat spiritual, profetik, dan penuh kuasa doa. Tujuan penelitian ini adalah: Pertama, untuk mengetahui besarnya implementasi pelayanan misi berdasarkan Lukas 10:1-12, 17-20 bagi para pendoa di Jaringan Doa Regional 07 Jawa Tengah; Kedua, untuk mengetahui dimensi yang dominan menentukan implementasi pelayanan misi berdasarkan Lukas 10:1-12, 17-20 bagi para pendoa bagi para pendoa di Jaringan Doa Regional 07 Jawa Tengah; Ketiga, untuk mengetahui latar belakang yang dominan menentukan implementasi pelayanan misi berdasarkan Lukas 10:1-12, 17-20 bagi para pendoa di Jaringan Doa Regional 07 Jawa Tengah. Dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif, dalam pra-penelitian peneliti mengadakan wawancara, maka ada jenis data kualitatif, sumber data yang digunakan adalah data primer, berupa persepsi para responden atas berbagai pernyataan dalam wawancara mengenai variabel terkait. Jadi dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu wawancara dan angket. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, implementasi pelayanan misi berdasarkan Lukas 10:1-12, 17-20 bagi para pendoa di Jaringan Doa Regional 07 Jawa Tengah adalah sedang. Kedua, dimensi yang paling dominan menentukan implementasi pelayanan misi berdasarkan Lukas 10:1-12, 17-20 bagi para pendoa di Jaringan Doa Regional 07 Jawa Tengah adalah melaksanakan pelayanan misi. Ketiga, kategori latar belakang yang dominan menentukan implementasi pelayanan misi berdasarkan Lukas 10:1-12, 17-20 bagi para pendoa di Jaringan Doa Regional 07 Jawa Tengah adalah latar belakang jabatan
Amanat Agung Berdasarkan Matius 28:19-20 dan Implementasinya Terhadap Pemuridan diJemaat GKNS Se-Jawa Barat Susanto; Timotius Sukarna; Ester Yunita Dewi
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 1 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v5i1.275

Abstract

Amanat Agung (Mat. 28:19–20) merupakan mandat fundamental bagi gereja untuk memberitakan Injil sekaligus membentuk murid Kristus. Namun, dalam konteks gereja Indonesia, khususnya Gereja Kristen Nafiri Sion (GKNS), pemuridan menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman teologis jemaat GKNS se-Jawa Barat terhadap Amanat Agung serta implementasi praktisnya dalam kehidupan bergereja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen pada lima jemaat GKNS di Jawa Barat. Validitas data dijamin dengan triangulasi metode, sumber, dan waktu, serta member checking.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman jemaat GKNS terhadap Amanat Agung masih dominan pada aspek penginjilan, sementara dimensi pemuridan yang berfokus pada pendampingan, pembinaan rohani, dan transformasi kehidupan belum digarap secara mendalam. Implementasi pemuridan di GKNS masih bersifat fragmentaris, dengan variasi praktik antarjemaat, seperti kelompok kecil, katekisasi, dan pelayanan pemuda. Hambatan utama mencakup keterbatasan kaderisasi pemimpin rohani, kesibukan jemaat, budaya ibadah Minggu yang dominan, serta keterbatasan sumber daya digital. Meski demikian, penelitian ini menemukan potensi strategis berupa komitmen pimpinan jemaat, antusiasme generasi muda, dan peluang pemanfaatan teknologi digital pascapandemi.Dengan demikian, GKNS memerlukan pengembangan blueprint pemuridan yang jelas, program kaderisasi pemimpin, serta indikator pertumbuhan rohani yang terukur. Upaya ini penting agar pemuridan dapat dijalankan secara relasional, transformatif, dan kontekstual, sehingga Amanat Agung dapat diwujudkan secara utuh dalam kehidupan jemaat GKNS.
Christ-Informed Servant Leadership in Religious Higher Education: A Theological-Conceptual Study of John 13:1–15 Maria Titik Windarti; Timotius Sukarna; Dwi Gatot Suprasetya
EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan Vol. 24 No. 2 (2026): EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan
Publisher : Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines how Jesus’ leadership in John 13:1–15 can inform academic leadership in religious higher education, particularly governance, faculty development, student formation, and organizational culture. It addresses a gap between biblical-theological discussions of John 13 and the institutional practice of religious higher education. The study employs a qualitative theological-conceptual design combining close exegetical reading with an integrative review of contemporary literature on servant leadership, higher education leadership, organizational culture, faculty development, student engagement, and religious higher education. The analysis identifies three interrelated principles: incarnational presence, relational participation, and hierarchical inversion, together with embodied and reproducible service as the narrative movement that connects them. These principles are translated into four institutional domains: participatory governance, faculty leadership and development, student formation, and a culture of service and empowerment. The study contributes a Christ-informed framework in which authority is retained but reoriented toward the growth, participation, and flourishing of others.