Claim Missing Document
Check
Articles

The Role of Pharmacy Personnel in Ensuring Appropriate Diarrhea Self-Medication in an Agro-Coastal Community in Jember, Indonesia Wardhani, Firdha Aprillia; Nur Sepdianto, Bagas; Rachmawati, Ema; Pontanar, Mae Quenie; Afifah Machlaurin
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/farmasains.v11i1.44285

Abstract

Background: Self-medication for diarrhea is a common self-care practice because diarrhea is often perceived as a mild, self-limiting condition. However, its high prevalence in Indonesia, particularly in Jember Regency, raises concerns about inappropriate medicine selection and use, including the unsupervised use of prescription-only drugs such as loperamide and antibiotics. Pharmacists and pharmacy personnel play a key role in promoting safe and rational self-medication. Method: This cross-sectional study was conducted in 15 pharmacies in Agro-Coastal Jember from August 2025 to January 2026. Using purposive sampling, 200 eligible respondents were recruited. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using univariate analysis and Chi-square analysis with the contingency coefficient test to assess the significance and strength of the relationship between variables. Result: Most respondents were female (67%), aged 26–35 years (46.5%), had a senior high school education (71%), and had a monthly income of < IDR 2,500,000 (86%). Loperamide was the most frequently used medication (46.36%), and more than half of the medications used were prescription-only (53.18%). The appropriateness of diarrhea self-medication remained low for both medicine selection (46.8% appropriate) and medicine use (28.2% appropriate). A significant association was found between the role of pharmacists/pharmaceutical staff and the appropriateness of diarrhea self-medication (p < 0.05), although the strength of the relationship was weak (r = 0.233 and r = 0.184). Conclusion: In conclusion, diarrhea self-medication in the Agro-Coastal Jember community was still dominated by inappropriate medication practices. Strengthening pharmacy-based counseling in community pharmacy and service quality is essential to improve the safety and rational use of medicines in diarrhea self-medication.
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAGUSIBU (DAPATKAN, GUNAKAN, SIMPAN, BUANG) OBAT DI DESA JEMBER KIDUL Diana Holidah; Adelia Firandi; Yunita Dyah Kusumaningrum; Ema Rachmawati
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Volume 6 No. 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i2.44095

Abstract

Kesehatan merupakan kondisi fisik dan mental yang bebas dari penyakit dan dapat meningkatkan kesejahteraaan masyarakat. Obat adalah bahan yang digunakan untuk mencegah, menyembuhkan, dan meningkatkan kesehatan, namun, obat juga dapat bersifat toksik bila tidak digunakan secara rasional. Diketahui bahwa lebih dari 60% masyarakat Indonesia melakukan pengobatan sendiri atau swamedikasi, dan diantaranya, ada yang menyimpan obat keras tanpa resep termasuk antibiotik, menyimpan obat kadaluarsa, dan membuang obat dengan cara yang salah. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat terkait cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan benar. Apoteker memiliki peran dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui berbagai pelayanan kefarmasian, salah satunya melalui DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang) Obat. Ibu adalah pilar kesehatan yang berperan penting dalam mengatur berbagai hal dalam keluarga, termasuk penyediaan dan pengelolaan obat-obatan dirumah, Oleh karena itu, dilakukan penyuluhan terkait DAGUSIBU secara lisan dan tertulis melalui power point dan leaflet pada ibu-ibu kader PKK di Desa Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. Evaluasi kegiatan didapatkan terdapat peningkatan pengetahuan peserta sebanyak 27.5% melalui hasil pre-test dan post-test. Oleh karena itu, tema ini layak diadakan secara rutin dan diperluas cakupannya ke wilayah lain untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran individu sehingga dapat mencegah penyalahgunaan obat dan permasalahan kesehatan lainnya
Knowledge and Attitudes of Indigenous Papuan Communities Toward HIV/AIDS in Nabire District Ema Rachmawati; Yunita Dyah Kusumaningrum; Afifah Machlaurin; Adelia Firandi; Putri Elsa Damayanti
Jurnal FARMASIMED (JFM) Vol 8 No 2 (2026): Jurnal Farmasimed (JFM)
Publisher : Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/2cfpmp04

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus that attacks white blood cells and gradually weakens the immune system. Without appropriate treatment, HIV infection can progress to Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), a late stage marked by severe immune impairment. Papua is one of the provinces with the highest HIV/AIDS prevalence in Indonesia which indicating the importance of understanding community knowledge and attitudes as key elements in prevention and control efforts. This study aimed to describe the level of knowledge and attitudes toward HIV/AIDS among Indigenous Papuan communities in Nabire District. This study employed a descriptive cross-sectional design. Data were collected using a questionnaire that had been tested for validity and reliability, consisting of 23 knowledge items and 11 attitude items. A total of 300 respondents who met the inclusion criteria were included in the analysis. The findings showed that respondents’ knowledge was categorized as high (28%), moderate (32%), and low (39.67%). With regard to attitudes toward HIV/AIDS, 13% of respondents demonstrated good attitudes, 42.67% had moderate attitudes, and 43.67% showed poor attitudes. It can be concluded that the average level of knowledge among indigenous Papuan communities remains low, accompanied by less favorable attitudes toward HIV/AIDS. These findings indicate the need to strengthen more intensive, targeted, and socio-culturally appropriate educational programs to improve knowledge and promote more positive attitudes toward HIV/AIDS particularly in Nabire District.
PROFIL DRUG UTILIZATION (DU) 90% DAN KESESUAIAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI RS X KABUPATEN WONOGIRI Yunita Dyah Kusumaningrum; Ema Rachmawati; Adelia Firandi; Ika Norcahyanti
SOCIAL CLINICAL PHARMACY INDONESIA JOURNAL Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/scpij.v10i2.8821

Abstract

Demam Tifoid merupakan infeksi bakteri Salmonella thypi yang memerlukan terapi dengan antibiotik. Penggunaan antibiotik perlu dilakukan dengan bijak supaya efektif untuk penyembuhan infeksi dan mencegah terjadinya resistensi. World Health Organization (WHO) merekomendasikan penggunaan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD) untuk menilai kuantitas penggunaan antibiotik dan dapat dikombinasikan dengan metode Drug utilization (DU) 90% untuk menilai segmen obat dengan penggunaan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan antibiotik dengan metode DU 90% pada pasien demam tifoid pada tahun 2020-2022 di RS X Wonogiri dan menganalisis kesesuaian pemilihan antibiotik berdasarkan panduan klinik rumah sakit. Penelitian ini merupakan penelitian observasional menggunakan metode cross sectional dengan pengambilan data secara retrospektif. Data penggunaan antibiotik dianalisis dengan menghitung nilai DDD/100 patient-days dan dilanjutkan menghitung segmen DU 90%. Untuk analisis kesesuaian pemilihan antibiotik dihitung dalam persentase kesesuaian terhadap panduan praktik klinik RS X Wonogiri. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan antibiotik untuk demam tifoid paling tinggi yaitu tiamfenikol dan seftriakson. Antibiotik dengan nilai DDD/100 patient-days tertinggi tahun 2020-2022 adalah tiamfenikol, berturut-turut sebesar 50,80; 56,63; dan 50,95 DDD/100 patient-days. Antibiotik yang masuk ke dalam segmen DU 90% pada tahun 2020-2022 yaitu tiamfenikol, sefriakson, kloramfenikol, sefoperazon, sefotaksim, levofloksasin, dan seftazidim. Kesesuaian penggunaan antibiotik berdasarkan panduan praktik klinik rumah sakit yaitu 76,39% pada tahun 2020, 58,73% pada tahun 2021, dan 71,28% pada tahun 2022
EVALUATION OF DRUG UTILIZATION IN HYPERTENSIVE PATIENTS WITH CHRONIC KIDNEY DISEASE AT IBNU SINA HOSPITAL Firandi, Adelia; Norcahyanti, Ika; Irawanto, Dedi; Rachmawati, Ema; Kusumaningrum, Yunita Dyah
Jurnal Farmasi Kryonaut Vol 4 No 1 (2025): JFK
Publisher : LPPM STIKES BULELENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59969/jfk.v4i1.170

Abstract

Persistent and uncontrolled hypertension can cause damage to other organs, including the kidneys. In Indonesia, hypertension is the third leading cause of kidney disease, contributing 25.8% of all kidney disease. Hypertensive patients with chronic kidney failure generally receive different antihypertensive medications from one patient to another due to the individual use of medications and the varying effects of the drugs among individuals. Rational drug use is one of the important factors in providing healthcare services for patients according to the standards. The evaluation of drug utilization serves to make sure proper, safe, and effective use of medications. This study aims to determine the patient demographics, regimen of the medicines, and the incidence of Drug Related Problem (DRP) in hypertensive patients with chronic kidney disease at RSUD Ibnu Sina from January to June 2021. This study is an observational research using a descriptive method. Data was collected from a retrospective analysis of patient medical records, and 18 patients who met the inclusion criteria were identified. The most commonly used is single antihypertensive medications (38.9%) from the diuretic group (furosemide) and the ARB group (candesartan and losartan). In the profile of additional medications, vitamins and minerals (88.9%), gastric ulcer prophylactics (66.7%), and antiemetics (61.1%) were found. DRP (P1.2) (50%) was caused by several factors, namely (C3.3) (25%), (C3.2) (15%), (C3.1) (5%), and (C4.1) (5%).
Co-Authors Afifah Machlaurin Afifah, Hanin Agnes Jovanka Agustina, Nur Azizah Akbar, M Raehan Alhafidz, Bagas Millen Amelya Prastica Rahayu Aliong Anditya Arifianto Anis Rohmawati Antonius Nugraha Widhi Pratama Antonius Nugraha Widhi Pratama Aprianti Putri Sujana Aryani, Dhita Evi Astutik, Amelia Windi Bedy Purnama Dawami, Hasbi Dhea Nanda Aliefia Dhita Evi Aryani Diana Holidah Elfitri, Beladina Evi Umayah Ulfa Fauzan Firdaus Febryanti Sthevanie Firandi, Adelia Firdauz, Salma Salsabila Fitriansyah, Ahmad Habib Fransiska Maria C. Fransiska Maria Christianty Gamma Kosala Hazrina, Inasa Husnun, Khoiriyah Haifa Ika Barokah Suryaningsih Ika Norcahyanti Ika Norcahyanti Ika Puspita Dewi, Ika Puspita Inasa Hazrina Indah Yulia Ningsih Irawanto, Dedi Khoirotun Nazilah Kurniawan, Eka Cahya Kusumaningrum , Yunita Dyah Lailatul Maghfiroh Lidya Ningsih Machlaurin, Afifah Machlaurin, Afifah Mahmud Dwi Sulistiyo Masito, Dewi Khurmi Muhammad Arzaki Nili Sufianti Ninda Titis Ainorrochma Nur Sepdianto, Bagas Pontanar, Mae Quenie Prasti Eko Yunanto Pratama , Antonius Nugraha Widhi Pratiwi, Permata Sari Prihwanto Budi Subagijo Pudjoadmojo, Bambang Putri Eka Maryani Putri Elsa Damayanti Putu Harry Gunawan Putu Setia Pratama Ramadhani, Nuril Izzati Farihatur Rikman Aherliwan Rudawan Rimba Whidiana Ciptasari Risnandar, Risnandar S Siswanto Safarin, Arva Adwitya Sagala , Tunggal Panaluan Gabriel Sinta Rachmawati Sinta Rachmawati Supriadi, Muhammad Fadhlan Syahid, Ibadurrahman Tahyudin, Ganjar Gingin Tjokorda Agung Budi Wirayuda Wardhani, Firdha Aprillia Wicaksono, Ayssa Wirasakananda, Dewa Made Aditya Yeni Rahmawati Negara Zaenudin, Mohamad Nor