Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH BERAT BAHAN BAKU DAN WAKTU PIROLISIS PADA PRODUK SAMPING DARI PROSES PIROLISIS PADA LIMBAH PADAT HASIL PENYULINGAN MINYAK NILAM UNTUK PEMBUATAN BRIKET BIOARANG Gusti Indah Sari; Zainuddin Ginting; Rizka Nurlaila; Meriatna Meriatna; Agam Muarif; Faisal Faisal
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 3, No 1 (2023): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - April 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v3i1.9332

Abstract

Briket bioarang adalah bahan bakar padat sebagai sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak yang berasal dari limbah pertanian yang melalui proses karbonasi kemudian dicetak dengan tekanan tertentu baik dengan atau tanpa bahan pengikat (binder) maupun bahan tambahan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan bioarang yang berasal dari limbah padat penyulingan minyak nilam dengan temperatur dan waktu pirolisis yang optimum sehingga diperoleh bioarang dengan nilai kalor yang tinggi. Penelitian pemanfaatan produk samping dari proses pirolisis pada limbah padat hasil penyulingan minyak nilam untuk pembuatan briket bioarang memiliki variabel berat bahan baku 600 gr, 1200 gr dan 1800 gr dengan variabel waktu 60, 90 dan 120 menit. Limbah padat yang terlebih dahulu telah dipotong menjadi ukuran yang kecil dan dikeringkan dibawah sinar matahari terlebih dahulu kemudian dimasukkan kedalam alat pirolisis untuk dikarbonisasi sesuai dengan variabel yang telah ditentukan, hasil dari pirolisis kemudian dimasukkan kedalam desikator untuk didinginkan selama 30 menit lalu dilakukan uji kadar air, uji kadar abu, uji kadar zat terbang, uji kadar karbon terikat, uji nilai kalor, uji SEM, dan juga uji laju pembakaran. Adapun hasil penelitian kadar air terbaik diperoleh pada berat bahan baku 600gr dan waktu 150 menit sebesar 5,72%, kadar abu terbaik diperoleh pada berat bahan baku 1800gr dengan wasktu pirolisis 60 menit adalah 4,28%, zat terbang terbaik diperoleh pada berat bahan baku 600gr dengan waktu pirolisis 150 menit adalah 9,11%, laju pembakaran tertinggi sebesar 0,1486 gr/menit, nilai kalor yang didapat pada berat baku 1200gr dengan waktu pirolisis 120 menit sebesar 5.291 cal/gr, berdasarkan uji SEM yang dilakukan dapat dilihat bahwa terdapat pembesaran pori-pori pada arang setelah aktivasi dibandingkan dengan pori-pori sebelum aktivasi. Kalor yang diperoleh menunjukkan bahwa briket bioarang limbah padat nilam dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif yang dapat diperbaharui.Kata kunci : Bioarang, karakteristik, limbah padat nilam dan pirolisis
Pengaruh Suhu dan Waktu Ekstraksi dalam Proses Pembuatan Pektin dari Kulit Buah Sukun dengan Pelarut Asam Sitrat Rizka Nurlaila; Agam Muarif; Meriatna Meriatna; Masrullita Masrullita; Ishak Ishak
Journal of Science and Applicative Technology Vol 7 No 2 (2023): Journal of Science and Applicative Technology December Chapter
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Sumatera, Lampung Selatan, Lampung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/jsat.v7i2.1105

Abstract

The breadfruit rinds has never been used, even though breadfruit rinds is known contain pectin which has a high economic value. Pectin is a biopolymer compound that functions as a water binder or liquid thickener obtained through the extraction process of fruits waste. The purpose of this research is to utilize the waste of breadfruit rinds into pectin to increase the economic value. This research used reflux extraction method with 7% citric acid as solvent, extraction time used was 170, 175,180, 185, and 190 minutes at 85, 90, and 95°C. The highest research results were obtained at a temperature of 95°C with a long extraction time of 195 minutes, namely yield of 40,762%, water content of 1,92%, methoxyl content of 8.06%, galacturonic content of 81%.
Pemanfaatan jerami padi (Oryza sativa L.) sebagai bahan baku dalam pembuatan CMC (Carboximetil Cellulose) Masrullita; Meriatna; Zulmiardi; Ferri Safriwardy; Auliani; Rizka Nurlaila
Jurnal Rekayasa Proses Vol 15 No 2 (2021): Volume 15, Number 2, 2021
Publisher : Jurnal Rekayasa Proses

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.69569

Abstract

Rice straw is a waste from rice plants that contains 37.71% cellulose, 21.99% hemicellulose, and 16.62% lignin. High cellulose content in rice straw can be used as raw material for the manufacture of Carboxymethyl Cellulose (CMC). CMC is a cellulose derivative widely used in food, pharmaceutical, detergent, textile and cosmetic products industries as a thickener, stabilizer of emulsions, or suspensions and bonding. This study aims to process rice straw waste into CMC with variations in sodium monochloroacetate of 5,6,7,8 and 9 grams. The method used in this research is by synthesis using 15% NaOH solvent, with a reaction time of 3.5 hours and 5 grams of rice straw. The results showed that the best CMC was obtained at a concentration of 9 grams of sodium monochloroacete with a yield characterization of 94%, pH 6, water content of 13.39%, degree of substitution (Ds) of 0.80, and viscosity of 1.265 cP.
TRAINING ON MAKING TYPICAL ACEH CAKE FOR MOTHERS OF PKK VILLAGE TUMPOK TEUNGOH LHOKSEUMAWE CITY Teuku Alfiady; Arinanda; Rizka Nurlaila; Ainol Mardhiah; Erna Isfayani; Rini Julistia
International Review of Practical Innovation, Technology and Green Energy (IRPITAGE) Vol. 5 No. 2 (2025): July-October 2025
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/irpitage.v5i2.3885

Abstract

Training on making typical Acehnese cakes was held as a form of contribution in improving the competence of individuals and community groups, especially PKK mothers, Teumpok Teungoh village, Banda Sakti sub-district, Lhokseumawe City. The purpose of this service activity is not only to provide additional knowledge specifically for mothers who have free time, provide opportunities to be independent with home businesses but do not have skills, but also to build relationships with local residents. With this service, it is hoped that the participants can run a traditional cake business independently or in groups so that they can contribute to meeting family needs. This series of assistance also includes business management administration assistance,; repair of business premises, and training in making typical Acehnese cakes with various traditional cakes.
Edible Coating Berbasis Pektin Pisang Cavendish (Musa Acuminata Cavendish) dan Plasticizer Sorbitol untuk Memperpanjang Masa Simpan Stroberi (Fragaria x Ananassa) Alvira Rosa; wusnah; Rizka Nurlaila; Iqbal Kamar; Suryati; Zulmiardi
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 06 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-December 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i06.23487

Abstract

Stroberi merupakan buah yang sangat rentan terhadap kerusakan akibat kandungan air tinggi dan struktur kulit yang tipis, penggunaan edible coating untuk mempertahankan kesegaran buah stroberi merupakan salah satu metode yang yang dibuat dengan bahan pelapis yang dapat dimakan. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis perbandingan pektin pisang:sorbitol terhadap karakteristik stroberi selama masa penyimpanan. Edible coating diformulasikan dengan pektin 4% dan sorbitol 3%, kemudian diaplikasikan dengan perbandingan yang ditetapkan.Parameter yang dianalisis meliputi susut bobot, vitamin C, seta uji organoleptic terhadap warna, bentuk dan kontaminasi jamur menggunakan metode Kruskall-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa edible coating secara signifikan meningkatkan stabilitas fisik dan kimiawi stroberi. Perbandingan pektin:sorbitol (90:10) % menghasilkan hasil terbaik dengan susut bobot 0,75% dan vitamin C 0,08 % pada hari ke-12 penyimpanan dibandingkan dengan kontrol yaitu 0,92 % dan 0,04%. Efektivitas coating didukung oleh kemampuan pektin membentuk struktur pelindung dan sorbitol dalam meningkatkan fleksibilitas, namun kadar sorbitol yang berlebih dapat menyebabkan porositas lapisan yang menurunkan efektivitas perlindungan.
Pengaruh Variasi Pati Sukun (Artocarpus Altilis) dan Gliserol terhadap Karakteristik Edible Film Fibarzi, Wiza Ulfa; Rizka Nurlaila; Andira, Riza; Hasfita, Fikri; Sulhatun; Afred, Merymistika Yufrani
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 6 No. 02 (2026): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-April 2026
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v6i02.26798

Abstract

Peningkatan limbah plastik yang sulit terdegradasi menjadi permasalahan serius bagi lingkungan, khususnya dalam sektor pengemasan pangan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif kemasan ramah lingkungan yang bersifat biodegradable, seperti edible film berbasis pati. Meskipun pemanfaatan pati dan plasticizer telah banyak diteliti, kajian mengenai pengaruh kombinasi pati sukun (Artocarpus altilis) dengan plasticizer campuran serta keterkaitannya terhadap sifat mekanik dan biodegradabilitas masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi konsentrasi pati sukun (3, 4, 5, dan 6 gr) dan gliserol (2, 3, 4 dan 5 ml) dengan penambahan sorbitol terhadap karakteristik edible film. Karakterisasi meliputi kadar air, swelling, kuat tarik, elongasi, biodegradabilitas, serta analisis gugus fungsi menggunakan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air pati sebesar 11,92% telah memenuhi standar. Nilai kuat tarik berkisar antara 0,80–1,11 MPa, sedangkan elongasi 7,44–9,58%. Peningkatan konsentrasi gliserol menurunkan kuat tarik namun meningkatkan fleksibilitas film. Nilai swelling terendah sebesar 11,26% diperoleh pada formulasi 3 gram pati dan 2 mL gliserol. Seluruh sampel menunjukkan biodegradabilitas yang sangat baik dengan degradasi 100% dalam waktu kurang dari satu minggu. Analisis FTIR menunjukkan tidak terbentuknya gugus fungsi baru, sehingga interaksi yang terjadi bersifat fisik. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi pati sukun dan plasticizer campuran berpotensi menghasilkan edible film dengan biodegradabilitas tinggi, meskipun diperlukan pengembangan lebih lanjut untuk meningkatkan sifat mekaniknya agar memenuhi standar yang berlaku.
Inovasi Edible Coating Berbasis Pektin Pisang dan Sorbitol dalam Memperpanjang Umur Simpan Anggur Hijau (Vitis Vinifera L.) Rizka Nurlaila; Wiza Ulfa Fibarzi; Gita Padusy Mantoffani; Iqbal Kamar; Yohana Dian Putri; Zulmiardi zulmiardi
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 6 No. 02 (2026): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-April 2026
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v6i02.27507

Abstract

Anggur bersifat mudah rusak dan memiliki umur simpan yang terbatas jika disimpan dalam kondisi segar. Suhu optimal untuk penyimpanan anggur adalah antara -1°C hingga 4°C dengan umur simpan selama 4–6 minggu. Sedangkan jika buah disimpan pada suhu ruang umur simpan hanya mencapai 3-6 hari. Edible coating adalah sebuah metode pelapisan buah menggunakan bahan pelapis yang dapat dikonsumsi dan diaplikasikan secara langsung pada permukaan produk yang berupa lapisan tipis. Metode coating dapat dilakukan dengan metode pencelupan (dipping method). Pada penelitian ini akan mengkaji pengaruh perbandingan konsentrasi pektin pisang (2%,4% dan 6%) dan sorbitol (2% dan 3%) terhadap umur simpan pada buah anggur hijau (vitis vinifera linn). Dari penelitian tersebut diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa tingkat konsentrasi memiliki pengaruh signifikan terhadap umur simpan yang diukur dengan tingkat susut bobot, kadar vitamin C dan total padatan terlarut (TPT). Dimana semakin tinggi konsentrasi pelapisan pektin maka susut bobot, vitamin C dan total padatan terlarut (TPT) semakin rendah terhadap lama penyimpanan. Nilai susut bobot paling rendah dimiliki oleh konsentrasi 6% : 2% dengan umur simpan 9 hari yaitu 15,355%, nilai vitamin C paling rendah dimiliki oleh konsentrasi 4% : 3% dengan umur simpan 9 hari yaitu 0,008%, dan nilai total padatan terlarut (TPT) paling rendah dimiliki oleh konsentrasi 6% : 2% dengan umur simpan 9 hari yaitu 6,8°brix.
PENGARUH PENAMBAHAN ENZIM ZINGIBAIN DARI RIMPANG JAHE TERHADAP KUALITAS VCO (VIRGIN COCONUT OIL) Rosnita; Agam Muarif; Rizka Nurlaila; Rozanna Dewi; muhammad; Safira Fitri
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 6 No. 03 (2026): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-Juni 2026
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v6i03.23632

Abstract

VCO (Virgin Coconut Oil) adalah hasil olahan minyak kelapa yang diproses dari ekstraksi daging buah kelapa segar tanpa melibatkan reaksi kimia atau pemanasan ekstrem. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji efek dari penambahan Enzim Zingibain yang berasal dari Rimpang jahe terhadap kualitas VCO, dengan fokus pada analisis parameter mutu seperti kadar asam lemak, asam lemak bebas (ALB) dan kadar air. Proses fermentasi dilaksankan dengan variasi jumlah enzim yang digunakan (0, 8 ml, 12 ml, dan 16 ml) dan waktu fermentasi (24, 36, 48 dan 60 jam). Berdasarkan hasil penelitian, dikethaui bahwa pada VCO tanpa enzim dan fermentasi selama 24 jam, asam lemak utama yang teridentifikasi adalah Decanoic acid methyl ester, Lauric acid, Myristic acid, dan Hexadecanoic acid. Sementara itu, VCO dengan enzim 8 ml dan fermentasi 48 jam mengandung senyawa tambahan seperti Octanoic acid ethyl ester, Zingiberene, Dodecanoic acid methyl ester, dan beberapa ester asam lemak lainnya. Untuk analisa bilangan asam lemak bebas menunjukan nilai rata-rata 0,1% hingga 0,2%, baik pada VCO tanpa enzim maupun dengan penambahan enzim zingibain. Pada hasil analisa kadar air pada VCO yang diolah secara enzimatis menunjukan hasil yang sangat rendah dengan kadar air sebesar 0,002% dan kadar air tertinggi sebesar 0,01%. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa seluruh sampel VCO memenuhi standar minyak kelapa sesuai SNI 7382-2008 asam lemak bebas tidak melewati 0,2% dan kadar air tidak lebih dari 0,2%.
PENGARUH VCO DAN EKSTRAK KUNYIT TERHADAP KUALITAS SABUN ORGANIK PADAT Ferhin Firda Meutia; Faisal; Wusnah; Nasrul ZA; Rizka Nurlaila; Ahmad Fikri
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 6 No. 03 (2026): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-Juni 2026
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v6i03.25512

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pengembangan sabun organik yang tidak hanya berfungsi sebagai pembersih, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan kulit melalui kandungan bahan alami. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh variasi konsentrasi Virgin Coconut Oil (VCO) dan ekstrak kunyit terhadap kualitas sabun padat, serta mengevaluasi sifat fisik dan kimianya. Metode yang digunakan adalah pembuatan sabun dengan proses cold process menggunakan VCO, minyak zaitun, shea butter, madu, dan lemon sebagai bahan tambahan. Uji yang dilakukan meliputi organoleptik, pH, kadar air, tinggi dan stabilitas busa, serta kadar asam lemak bebas (ALB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi VCO memperbaiki tinggi dan stabilitas busa serta menurunkan kadar air, sementara penambahan ekstrak kunyit berlebih dapat meningkatkan kadar ALB karena mengganggu efisiensi saponifikasi. Nilai pH sabun berada pada kisaran 7–8, sesuai standar SNI untuk keamanan kulit. Formulasi optimal diperoleh pada penggunaan VCO 30–35 mL dengan ekstrak kunyit 1–3 mL, yang menghasilkan sabun dengan karakteristik fisik dan kimia paling stabil. Keterbaruan penelitian ini terletak pada formulasi sabun berbasis VCO dan kunyit dengan penambahan kombinasi bahan alami lain berupa minyak zaitun, shea butter, ekstrak lemon, dan madu, sehingga menghasilkan produk yang lebih kaya manfaat, lembut di kulit, serta ramah lingkungan.
Activation of Coconut Shell through Alkalization Process as a Biochar for Soil Amendment Gebrina Rizki; Zulnazri Zulnazri; Rozanna Dewi; Rizka Nurlaila; Iqbal Kamar; S. Syafi’ie
Journal of Renewable Energy, Electrical, and Computer Engineering Vol. 6 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Institute for Research and Community Service (LPPM), Universitas Malikussaleh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jreece.v6i1.23533

Abstract

Based on data from the Central Statistics Agency, most land in Indonesia has experienced degradation. Total area of critical land in Indonesia reaches 9,681,356 hectares, much of which is utilized for plantation activities. One of the regions significantly affected by this condition is Aceh Province, where extensive plantation areas are dominated by ultisol soils. The soil in this area is characterized by acidic conditions, low organic carbon content (approximately 0.5–2%), and moderate to very low total nitrogen levels (<0.50%), indicating inherently low soil fertility. These conditions ultimately result in reduced crop productivity, highlighting the urgent need for sustainable soil amendment strategies that can simultaneously improve soil chemical properties, enhance soil structure, and restore long-term soil fertility.  To address this issue, the utilization of biochar derived from biomass waste, such as coconut shells, is considered a promising solution. Biochar has been widely reported as an effective soil amendment capable of mitigating soil degradation, improving soil fertility, and supporting sustainable agricultural systems. However, the effectiveness of biochar is strongly influenced by its physicochemical properties, which are determined by both carbonization conditions and activation methods. In this study, the use of NaOH as an alkaline activator is expected to not only increase biochar surface area and reactive sites but also contribute to soil pH adjustment, which is particularly beneficial for acidic ultisol soils. This study aims to directly evaluate the effect of NaOH-activated biochar on plant growth and analyze the characteristics of the resulting biochar based on SNI 7763:2024. The biochar was produced through a carbonization process with varying residence times of 30, 45, 60, and 75 minutes at a temperature of 300 °C, followed by chemical activation using NaOH solutions with concentrations of 1, 1.5, 2, and 2.5 N for 3 hours to obtain optimal biochar characteristics. The results demonstrated that NaOH-activated biochar had a highly significant effect on plant height. The application of activated biochar improved soil structure by enhancing texture and porosity, reduced soil acidity, and promoted root development, which collectively increased nutrient availability and uptake by plants. The best moisture content and pH were achieved at 75 minutes of carbonization with 2.5 N NaOH, reaching 8.88% and 9.5, respectively. The highest C-Organic content was obtained at 30 minutes of carbonization and 2.5 N NaOH concentration, which was 55.80%. The relatively high C/N ratio indicates that the biochar is highly potential as a soil amendment to enhance soil fertility and crop productivity. Overall, NaOH-activated biochar had a highly significant effect on plant height by improving soil structure and creating more favorable conditions for plant growth.
Co-Authors Afred, Merymistika Yufrani Agam Muarif Ahmad Fikri Ainol Mardhiah Alifnur Alifnur Alvira Rosa Andira, Riza Andrie Kurniawan Indra Anggi Dwi Safitri Anisyah Padang Ari Salahudin Arinanda Arinanda Auliani Auliani Auliani Cut Mauliza Utary Cut Sisin Mehita Emil Izmilia Erna Isfayani Eva Nurmaidah Nurmaidah Faisal Faisal Faisal Farid Yoanda Ferhin Firda Meutia Ferri Safriwardy Fibarzi, Wiza Ulfa Fitriyani Sirait Fuadi Gebrina Rizki Gita Padusy Mantoffani Gusti Indah Sari Ida Riski Indah Aprilla Iqbal Kamar Iqbal Kamar Iqbal Kamar Iqbal Kamar Ishak Ishak Ishak Ishak Jalaluddin Jalaluddin Lina Sari Silalahi Lukman Hakim Mahaziva Putri Maghfirah Tambunan Masrullita Masrullita Masrullita Masrullita Meriatna Meriatna Mhd Azrin Mira Aulia Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad Rifaldi Nadia Prisca Putri Nadiratun Nabiwa Nasrul ZA Nasrul ZA Novi Sylvia Novi Yanti Savira Nur Azila Octaviani Pasaribu Purwoko, Agus Rahmat Rizky Raudhatul Ulfa Rika Santi S. Tumangger Rini Julistia Rini Julistia Rizka Mulyawan Rizka Mulyawan Rizki Ramadhan Roja Andesta Rosnita Rozanna Dewi S. Syafi’ie Safira Fitri Safwan Azlani Samsul Bahri Sri Rahayu Retnowulan Sri Santika Sry Wahyuni Damanik Suci Luthphia Masri Sulhatun Sulhatun Sulhatun Suryati Suryati Suryati Suryati Suryati Syamsul Bahri Tasya Maidayanti Teuku Alfiady Teuku Alfiady Vebry Ade Vrans Vivi Febry Katanti Wan Rafly Wiza Ulfa Fibarzi Wiza Ulfa Fibarzi Wiza Ulfa Fibarzi Wiza Ulfa Fibarzi Wiza Ulfa Fibarzi Wusnah Yohana Dian Putri Yopi Aji Akbar Yuda Hermawan Zainuddin Ginting Zikri Amarullah Surbakti Zulmiardi, Zulmiardi Zulnazri, Z