Claim Missing Document
Check
Articles

Pembuatan Sabun Transparan Berbasis Minyak Kelapa Dan Minyak Jarak Dengan Penambahan Ekstrak Lidah Buaya (Aloe Vera) Sebagai Bahan Antioksidan Alami Zikri Amarullah Surbakti; Syamsul Bahri; Rozanna Dewi; Riska Nurlaila; Rizka Mulyawan
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 4 (2022): Chemical Engineering Journal Storage - Oktober 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i4.7493

Abstract

Sabun padat transparan merupakan salah satu inovasi sabun yang menjadikan sabun lebih menarik. Sabun trannsparan mempunyai busa yang lebih halus dibandingkan dengan sabun opaque sabun yang tidak transparan (Qisty, 2009). Faktor yang dapat mempengaruhi transparansi sabun adalah kandungan alkohol, gula, dan gliserin dalam sabun. Tujuan Penambahan Lidah buaya (Aloe Vera) Lidah buaya pada sabun padat transparan adalah memiliki kandungan saponin yang mempunyai kemampuan untuk membersihkan dan bersifat antiseptik. Karboksipeptidase yang terdapat pada daging daun lidah buaya bersifat antiinflamasi, hemiselulose dan mannan berfungsi untuk pertumbuhan dan perbaikan kulit. Polisakarida dan flavonoid juga bersifat sebagai antioksidan. Pada Penelitian ini, pembuatan sabun padat transparan dengan variabel yang telah ditetapkan formulanya yaitu sebanyak 0, 10, 20, 30 gram ekstrak lidah buaya dengan memvariasikan konsentrasi NaOH 26 %, 28 % dan 30 % serta menambahkan bahan baku minyak kelapa 40 gram, minyak jarak 30 gram, larutan gliserin 30 ml, larutan etanol 30 ml, larutan gula 70 % sebanyak 60 ml dan menambahkan asam stearat pada suhu reaksi 80°C . Penelitian ini bertujuan juga untuk membuat sabun padat transparan sesuai dengan ketentuan SNI 06-4085, 1994 yang meliputi penentuan uji kadar air, uji pH (Derajat Keasaman), uji stabilitas busa, dan penentuan uji organoleptik.
Pengaruh Konsentrasi Minyak Atsiri Tanaman Serai Wangi Dan Waktu Pencampuran Terhadap Kualitas Balsem Nadia Prisca Putri; Suryati Suryati; Meriatna Meriatna; Ishak Ishak; Rizka Nurlaila
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 4 (2022): Chemical Engineering Journal Storage - Oktober 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i4.8049

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penambahan konsentrasi minyak atsiri tanaman serai wangi yang tepat untuk pembuatan sediaan balsem, untuk mengkaji proses pembuatan formulasi sediaan balsem dan untuk mengkaji lama pencampuran formulasi sediaan balsem minyak atsiri terhadap uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar dan uji daya lekat. Penelitian ini dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi minyak atsiri tanaman serai wangi yaitu : 5%, 10%, 15%, 20% dan 25% dan waktu pencampuran yang digunakan yaitu 2, 4, 6, 8, dan 10 menit. Hasil yang diperoleh menujukan bahwa uji organoleptik pada balsem tidak berubah dalam satu minggu, berwarna putih dan memiliki bau khas minyak atsiri. Hasil uji homogenitas balem secara menyeluruh tidak terdapat gumpalan kasar dan dapat di katakan homogen, pada uji pH balsem memiliki pH yang berbeda tetapi memiliki rata-rata yaitu 6. Pada uji daya sebar balsem memiliki rata-rata daya sebar sebesar 5-6 cm. Sedangkan uji daya lekat dapat dikatakan bahwa semakin besar konsentrasi minyak atsiri maka semakin kental (Sesuai bentuk balsem) karena semakin melekat pada kulit. Berdasarkan hasil pengamatan pada masing-masing balsem dapat disimpulkan bahwa balsem dengan konsentrasi 15% adalah balsem yang paling sesuai dengan SNI balsem
Pembuatan Asam Oksalat dari Sabut Pinang dengan Metode Oksidasi Farid Yoanda; Lukman Hakim; Rizka Mulyawan; Rozanna Dewi; Rizka Nurlaila
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Nopember 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v11i2.9463

Abstract

Asam oksalat merupakan senyawa kimia yang mempunyai rumus H2C2O4 dengan nama sistematis asam etanadioat. Asam oksalat berfungsi sebagai pengawet alami dan mendukung sel yang memproduksi energi dalam tubuh. Selain itu, dalam industri asam oksalat digunakan untuk menghilangkan karat dan pereaksi pada pembuatan warna. Pohon pinang banyak didapatkan di Asia Tenggara khususnya di Indonesia. Nama Latin dari Pinang adalah Areca catechu L atau sinonimnya disebut dengan A.hortensis lour, familia : Arecaceae, tingginya mencapai 12-25 meter. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses pembuatan asam oksalat dari sabut pinang yang menggunakan metode oksidasi menggunakan asam nitrat. Penelitian ini dilakukan dengan memvariasikan suhu hidrolisis yaitu 80°C, 90°C dan 100°C dengan waktu 60 menit, 70 menit dan 90 menit. Dari penelitian ini didapat waktu optimal hidrolisis yaitu 70 menit dengan suhu 100°C dengan kadar asam oksalat 8,2 %.
Pengembangan Potensi Belimbing Wuluh Menjadi Dodol Untuk Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Cot Girek Kandang Lhokseumawe Meriatna; Lukman Hakim; Masrullita; Suryati; Rizka Nurlaila
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Abdi Putra Vol 2 No 3 (2022): September 2022
Publisher : Universitas Nusa Putra & Persatuan Insinyur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52005/abdiputra.v2i3.113

Abstract

Peningkatan kapasitas dan kualitas hidup bagi wanita dalam mengembangkan kemampuan dan potensi yang dimilikinya secara mandiri dengan memiliki keterampilan dan keahlian dalam mengatasi masalah yang dihadapinya melalui penyuluhan, pelatihan dan bahkan praktek langsung untuk membantu menumbuhkan serta meningkatkan intensi berwirausaha pada masyarakat. Belimbing wuluh memiliki rasa asam dan aroma yang khas sehingga sering digunakan dalam masakan dan juga berfungsi sebagai antioksidan karena adanya vitamin A, C dan E. Pemanfaatan dan pengembangan buah belimbing wuluh belum dilakukan secara optimal karena nilai jual yang masih rendah dan tidak diimbangi dengan potensi yang dimiliki buah belimbing wuluh. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu dalam membuat dodol dari belimbing wuluh. Kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan tentang pembuatan dodol dari belimbing wuluh dan melakukan penyebaran kuisioner awal dan akhir sosialisasi, dimana terjadi peningkatan pengetahuan mitra tentang pembuatan dodol.
The Effects of Fermentation Extent and Acid Concentration on Bioethanol from HVS Paper Waste Rizka Mulyawan; Rizka Nurlaila; Tsa Tsa Anindya Rakhim Ahmadi; Muhammad Muhammad; Novi Sylvia; Agam Muarif
Equilibrium Journal of Chemical Engineering Vol 7, No 1 (2023): Volume 7, No 1 July 2023
Publisher : Program studi Teknik Kimia UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/equilibrium.v7i1.72732

Abstract

Abstract. Bioethanol is an alternative energy sourced from environmentally friendly raw materials from wastes that contain a lot of lignocellulosic such as HVS paper. Paper contains about 85% cellulose, 8% hemicellulose, 5% lignin and the rest is in the form of ash compounds. Bioethanol is ethanol produced from the fermentation of glucose (sugar) followed by a distillation process. This study aims to analyze the effect of a combination of fermentation time and concentration of sulfuric acid on bioethanol. The highest yield of beathanol was obtained at a hydrolysis concentration of 6.5% with a 7-day fermentation time of 3.45%. Bioethanol density that was close to standard was 3.5% acid concentration with 3 and 5 days fermentation. Moreover, at 3.5% acid concentration showed the closest bioethanol viscosity to the standard value with all conditions synthesized acidic bioethanol with pH ranged from 6 to 6.5Keywords:Bioethanol, Fermentation, HVS paper, Sulfuric acid
Variasi Waktu dan Konsentrasi KOH Dalam Produksi Asam Oksalat (C2H2O4) dari Limbah Kertas Hvs Dengan Metode Peleburan Alkali Tasya Maidayanti; Lukman Hakim; Rizka Nurlaila; Meriatna Meriatna; Rozanna Dewi; Wiza Ulfa Fibarzi
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 3, No 1 (2023): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - April 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v3i1.8018

Abstract

Asam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus H2C2O4 dengan nama sistematis asam etanadioat. Selulosa adalah senyawa organik dengan rumus (C6H10O5)n. Selulosa apabila direaksikan dengan alkali kuat akan menghasilkan asam oksalat, asam asetat dan asam formiat dan reaksi ini disebut hidrolisis atau peleburan berkatalis basa. Limbah kertas hvs terkandung senyawa selulosa, senyawa selulosa ini dapat diolah menjadi produk lain seperti asam oksalat. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan asam oksalat dari limbah kertas hvs dengan metode peleburan alkali, mengetahui waktu hidrolisis dan konsentrasi KOH terbaik dalam produksi asam oksalat dari limbah kertas hvs. Metode yang digunakan untuk memperoleh asam oksalat adalah metode hidrolisis peleburan alkali, dengan variasi KOH 15%, 30% dan 40% dan waktu hidrolisis 45, 75 dan 95 menit. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu yield kadar asam oksalat tertinggi terdapat pada konsentrasi KOH 15% dengan waktu  hidrolisis 75 menit yaitu sebesar 7,79 %. Karakteristik asam oksalat yang diperoleh yaitu mempunyai nilai pH 1,5 dan mempunyai serapan Fourier Transform Infra Red (FTIR) yaitu serapan gugus hidroksil (O-H) pada bilangan gelombang 3402,43cm-1, gugus C=O yaitu pada bilangan gelombang 1683,86 cm-1 dan gugus C-O yaitu pada bilangan gelombang 1120,64 cm-1.
PRODUKSI GLUKOSA CAIR MENGGUNAKAN METODE HIDROLISIS ASAM KLORIDA DARI BAHAN DASAR SINGKONG (MANIHOT ESCULENTA) Wiza Ulfa Fibarzi; Rizka Nurlaila; Fitriyani Sirait; Sulhatun Sulhatun; Ishak Ibrahim
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i1.11624

Abstract

Singkong (Manihot esculenta) merupakan sumber bahan makanan ketiga di Indonesia sestelah padi dan jagung. Singkong merupakan salah satu umbi-umbian yang memiliki sumber karbohidrat lokal Indonesia. Singkong sebagai sumber pati selama ini diketahui masyarakat hanya sebagai sumber karbohidrat, sampai munculnya inovasi proses yang dapat memproses singkong menjadi berbagai produk lain salah satunya glukosa cair. Glukosa cair merupakan cairan jernih dan kental yang mengandung D-glukosa, maltose, dan polimer D-glukosa yang diperoleh dari hidrolisis pati. Penelitian ini sudah pernah dilakukan dengan menggunakan variasi suhu hidrolisis dibawah 100oC, oleh karena itu pada penelitian ini menggunakan variasi suhu diatas 100oC untuk mendapatkan kadar glukosa yang terbaik. Pati singkong dapat dibuat menjadi glukosa cair dengan metode hidrolisis asam menggunakan asam klorida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar glukosa tertinggi pada suhu 125oC dan waktu hidrolisis 100 menit yaitu sesbesar 29,3%. Kadar air yang terendah diperoleh pada suhu 125oC dan waktu hidrolisis 100 menit yaitu sebesar 3,62%. Yield yang tertinggi diperoleh pada suhu 105oC dan waktu hidrolisis 80 menit yaitu sebesar 64,20%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu dan waktu hidrolisis maka produk glukosa cair yang dihasilkan akan semakin bagus.
Pembuatan Briket Dari Kulit Jagung Menggunakan Perekat Getah Nangka Dan Pulut Iqbal Kamar; Nasrul ZA; Meriatna Meriatna; Syamsul Bahri; Rizka Nurlaila; Alifnur Alifnur
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i1.11633

Abstract

Briket merupakan energi alternatif pengganti bahan bakar yang dihasilkan dari bahan-bahan organik atau biomasa yang kurang termanfaatkan. Diantara limbah biomasa yang memiliki potensi besar seperti ampas tebu, serbuk kayu, kulit jagung, cangkang sawit sekam padi. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit jagung yang biasanya banyak terbuang di pasar diolah menjadi bara yang bernilai ekonomis dengan parameter pengujian meliputi kadar air, kadar abu, nilai kalor, dan uji drop test. Pembuatan briket ini berbahan baku dari kulit jagung yang dimulai dengan proses pengarangan kemudian dihaluskan dan disaring dengan ukuran ayakan 50 mesh, kemudian dicampur dengan perekat dan dicetak lalu oven selama 2 jam. Adapun perekat yang digunakan adalah tepung pulut dan getah nangka dengan variasi perekat masing 3%, 5%, 7%, dan 9%. Hasil penelitian menunjukan bahwa briket sudah memenuhi standar mutu SNI 1/6235/2000 briket arang. Hasil terbaik diperoleh pada variasi 5% perekat pulut dan getah nangka dengan kadar air masing-masing 4,686% dan 5,874%, kadar abu masing-masing sebesar 9,904% dan 7,623%, lalu nilai kalor 6335,42 kal/gr, dan 5383,82 kal/ serta dengan nilai drop test masing-masing 3,86%, dan 3,74%. Dengan melihat hasil penelitian ini bahwa kulit jagung dari limbah penjualan jagung di pasar dapat dimanfaatkan menjadi salah satu bahan baku alternatif dalam pembuatan briket.
PEMBUATAN BRIKET BIOARANG DARI LIMBAH PADAT HASIL PENYULINGAN MINYAK NILAM TERHADAP BERAT BAHAN BAKU DAN TEMPERATUR PIROLISIS DENGAN METODE PIROLISIS Sri Santika; Zainuddin Ginting; Sulhatun sulhatun; Rizka Nurlaila; Masrullita Masrullita
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 3, No 5 (2023): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Oktober 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v3i5.9909

Abstract

Limbah dari hasil penyulingan minyak nilam jumlahnya berkisar 98-98,5%  dari bahan baku. Limbah padat hasil penyulingan  minyak nilam memiliki potensi untuk dijadikan sebagai bahan baku untuk memperoleh bahan bakar alternatif melalui proses pirolisis dan proses pengempaan seperti briket. Briket merupakan material mudah terbakar yang terbentuk dari proses pengempaan atau pemampatan material menjadi bentuk padatan dan digunakan sebagai bahan bakar, dimana briket yang dihasilkan harus memiliki sifat kuat dan saling merekat satu sama lain sehingga briket tidak mudah hancur. Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, yang belum pernah dilakukan yaitu pembuatan briket bioarang dengan menggunakan  limbah padat hasil penyulingan minyak nilam terhadap berat bahan baku dan temperatur pirolisis menggunakan metode pirolisis. Pada penelitian ini, diamati pengaruh berat bahan baku dan suhu pirolisis pada pembuatan briket bioarang dari limbah padat hasil penyulingan minyak nilam. Proses pirolisis dilakukan pada berat bahan baku 600 gr, 1200 gr dan 1800 gr serta pada  suhu pirolisis  300 ºC, 350 ºC dan 400 ºC dengan waktu pirolisis 90 menit. Analisa yang dilakukan adalah analisis proksimat dan nilai kalor. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan kadar air briket bioarang yang terbaik terletak pada berat bahan baku 1800 dan suhu 400oC yaitu  5,0%, kadar abu briket bioarang yaitu  3,5%, kadar zat terbang yaitu  8,3% dan kadar karbon terikat yaitu  83,19%, dan nilai kalor sebesar 5.291 kal/g. 
PEMBUATAN BIOETANOL DARI LIMBAH KULIT KOPI SECARA FERMENTASI MENGGUNAKAN RAGI ROTI Mhd Azrin; Syamsul Bahri; Rizka Nurlaila; Meriatna Meriatna; Agam Muarif; Wiza Ulfa Fibarzi
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 3, No 2 (2023): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Mei 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v3i2.7868

Abstract

Bioetanol pada dasarnya adalah etanol atau senyawa alkohol yang diperoleh melalui proses fermentasi biomassa dengan bantuan mikroorganisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memanfaatkan limbah kulit kopi yang terbuang di masyarakat khususnya aceh tengah. Metode penelitian menggunakan cara fermentasi dan distilasi dengan variasi waktu fermentasi 2, 4 dan 6 hari. Hasil dari penelitian ini didapatkan kadar bioetanol tertinggi 5,533%, densitas bioetanol tertinggi 0,8324 gr/ml, dan viskositas tertinggi adalah 1,09 cP. Besar dan kecilnya suatu kadar dipengaruhi oleh lamanya waktu fermentasi dan kadar ragi yang diberikan. Nilai densitas dan viskositas dari bioetanol yang didapatkan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia.