Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Ethnography

Nilai Tradisi Bolek Laman Tuo Silek Pangian di Nagari Sungai Dareh Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Kecamatan Pulau Punjung Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat Ihsanul Malindo; Suharti Suharti; Mutia Kahanna
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 1, No 1 (2021): January - June 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v1i1.2224

Abstract

Penelitian ini mengkaji mengenai nilai tradisi Bolek Laman tuo Silek Pangian di Nagari Sungai Dareh Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya  Provinsi Sumatera Barat. Tujuannya adalah untuk memahami prosesi Bolek Laman tuo Silek Pangian dan nilai-nilai budaya yang terdapat didalamnya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pada tradisi Bolek Laman tuo Silek Pangian terdapat lima proses. Pertama guru-guru silek pangian di Nagari Sungai Dareh mengadakan rancangan acara tradisi tersebut. Selanjutnya mengundang guru-guru silek pangian diluar Nagari Sungai Dareh memberitahu hasil musyawarah. Selanjutnya meminta izin kepada Datuak Nan Sapuluah untuk memulai acara tersebut, selanjutnya acara bukak laman oleh Pandekau Sidiq dan Pandekau Bungsu pertanda acara sudah dimulai. Selanjutnya acara makan bersama guru-guru silek pangian ,tokoh adat, tamu undangan, dan masyarakat. Selanjutnya acara tutuik laman oleh Datuak Mangku, dan bersalaman dengan Datuak Mangku berharap mendapat barokat. Nilai material pada tradisi Baolek Laman tuo Silek Pangian terdapat silek merupakan salah satu warisan nenek moyang masyarakat Minagkabau. Bela diri asli Minangkabau ini berfungsi sebagai pertahanan diri dan pertahanan wilayah. Selanjutnya nilai vital Tradisi Bolek Laman tuo Silek Pangian di Nagari Sungai Dareh sebuah tradisi yang masih dilakukan sampai saat sekarang untuk pelestarian kebudayaan. Selanjutnya nilai kerohanian ada empat macam nilai kebenaran, nilai keindahan, nilai moral dan nilai religius
Mitos Calempong Unggan Masyarakat Nagari Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung Shindi Amanta Wulandari; Febri Yulika; Mutia Kahanna
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 1, No 2 (2021): July - December 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v1i2.2507

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah  untuk mendeskripsikan awal munculnya mitos calempong unggan, bentuk mitos calempong unggan serta pandangan masyarakat Nagari Unggan terhadap mitos calempong unggan di Nagari Unggan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori strukturalisme Levi-Strauss. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode etnografi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan langkah-langkah antara lain mengumpulkan data, mereduksi data, display data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal munculnya mitos calempong unggan pada saat padi sudah berisi berawal dari cerita ada orang tua sekitar 550 tahun yang silam mendengar ada anak kecil yang sedang menangis di daerah Sidilam. Selanjutnya, dengan kejadian tersebut membuat masyarakat berinisiatif untuk mencari orang yang hilang di hutan, karena orang bunian sangat suka dengan bunyi calempong unggan.  Mitos calempong unggan terdiri dari dua bentuk, yang pertama calempong unggan dilarang dibunyikan pada saat padi mulai berisi sampai selesai panen dan calempong unggan digunakan sebagai alat bantu untuk menemukan orang yang hilang di hutan atau diculik oleh orang bunian. Ada beberapa perbedaan pandangan masyarakat Nagari Unggan terhadap mitos calempong unggan yaitu  ada masyarakat yang percaya dan ada yang tidak percaya akan mitos tersebut. Akan tetapi, masyarakat yang tidak percaya mitos tersebut tidak bisa melanggar, karena ada sanksi yang diberikan oleh kaum adat bagi orang yang membunyikan calempong unggan pada saat padi berisi.
Makna Tradisi Mamanggia Bako pada Ritual Kematian di Nagari III Koto Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat Annisa Ulfitri; Suharti Suharti; Mutia Kahanna
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 1, No 1 (2021): January - June 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v1i1.2221

Abstract

Penelitian ini membahas tentang makna tradisi mamanggia bako pada ritual kematian di Nagari III Koto Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana prosesi tradisi mamanggia bako dan juga untuk memahami makna yang terdapat dalam tradisi mamanggia bako. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori interpretatif simbolik dalam pemikiran Clifford Greetz dan teori ritus dalam pemikiran Victor Turner. Makna dari tradisi mamanggia bako ini adalah menjaga tali silaturahmi dalam kekerabatan antara bako dengan anak panca sekaligus untuk memperjelas garis keturunan. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan datanya adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun temuan dalam penelitian ini adalah ketika seseorang meninggal maka yang wajib diberitahu atau dipanggil adalah keluarga dari pihak ayah atau yang disebut dengan bako. Dalam tradisi mamanggia bako ini ada tiga tahapan ritual yaitu memberitahukan kepada bako atas meninggalnya anak panca mereka. Yang kedua merundingkan tempat pemakaman, pada tahap ini bako wajib menawarkan tanah mereka untuk tempat pemakaman dan kadarek. Kadarek dilakukan pada pagi hari bersamaan dengan manjujuang pariyuak dari rumah bako ketempat keluarga almarhum. Pariyuak tersebut diisi dengan beras, telur, pisang, batiah, dan kue telur
Fenomena Pekerja Perempuan Pemecah Batu Kapur di Bukit Tui Kota Padangpanjang Sumatera Barat Rezeki, Novita Purnama; Suharti, Suharti; Kahanna, Mutia
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 2, No 1 (2023): Vol 2, No 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v2i1.3320

Abstract

Penelitian ini membahas Fenomena Pekerja Perempuan Pemecah Batu Kapur Bukit Tui di Kota Padangpanjang, Sumatera Barat. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan bentuk pekerjaan buruh perempuan pemecah batu kapur, menganalisis faktor-faktor yang melatarbelakangi keterlibatan mereka dalam pekerjaan tersebut, serta mengidentifikasi bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang dialami baik di lingkungan kerja maupun sosial. Kajian ini menggunakan teori fenomenologi Alfred Schutz dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerjaan buruh perempuan pemecah batu kapur meliputi empat jenis aktivitas utama, yaitu mengeluarkan batu dari tungku pembakaran, melakukan penyiraman dan penyortiran, memecahkan batu kapur, serta melakukan pengemasan. Faktor-faktor yang mendorong perempuan bekerja di sektor ini meliputi faktor ekonomi, budaya, sosial, dan kondisi lingkungan alam. Selama bekerja, mereka menghadapi empat bentuk ketidakadilan gender, yaitu stereotipe, beban ganda, subordinasi, dan kekerasan, yang memperlihatkan masih kuatnya konstruksi sosial patriarkal terhadap peran perempuan di wilayah kerja informal.
Makna Simbolik Tradisi Batarewai dalam Perkawainan Masyarakat Koto Gadang AR, Hamimi Julita; Kahanna, Mutia; Fajri, Emzia
Ethnography : Journal of Cultural Anthropology Vol 4, No 2 (2025): Etnography Juli - Desember 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ethnography.v4i2.6271

Abstract

Penelitian ini mengkaji makna simbolik tradisi Batarewai dalam prosesi perkawinan masyarakat Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Penelitian bertujuan untuk memahami sejarah, tahapan prosesi, serta nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi Batarewai perkawinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, merujuk pada teori interpretatif simbolik Clifford Geertz. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan niniak mamak, pelaku adat, dan pengrajin, serta dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Batarewai perkawinan terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan penutup. Setiap tahapan memuat simbol-simbol budaya yang merepresentasikan nilai tanggung jawab, silaturahmi kekerabatan, pendidikan adat, serta peran mamak dalam sistem kekerabatan Minangkabau. Tradisi ini berfungsi sebagai mekanisme pewarisan nilai adat dan penguatan identitas budaya lokal. Penelitian ini menegaskan bahwa Batarewai perkawinan tidak hanya berfungsi sebagai ritual seremonial, tetapi juga sebagai media edukasi sosial dan simbolik dalam menjaga keberlanjutan adat Minangkabau di tengah perubahan sosial.