Claim Missing Document
Check
Articles

Urgensi Pembelajaran Mitigasi Bencana Alam melalui Kearifan Lokal pada Guru PAUD Eraku, Sunarti Suly; Ntelu, Asna; Hinta, Ellyana; Baruadi, Moh. Karmin
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 7 No. 6 (2023)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v7i6.5556

Abstract

Anak pada masa usia dini memiliki potensi luar biasa, serta rentan terhadap bahaya bencana alam. tentunya harus ada upaya konkret dalam menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada anak-anak. Tujuan penelitian ini yakni mengetahui urgensi pembelajaran mitigasi bencana alam pada anak usia dini melalui pengenalan lingkungan budaya kearifan lokal. Penelitian ini merupakan langkah awal untuk nantinya sebagai dasar tindaklanjut oleh guru-guru PAUD dan Pemerintah Provinsi Gorontalo. Upaya tersebut tidak lepas dari rutinitas anak dan lingkungan sekitar, yaitu pendidikan dan kearifan lokal. Metode penelitian ini menggunakan tinjauan literatur yang matang dalam pentingnya pendidikan mitigasi bencana alam.  Adapun hasil penelitian yakni pendidikan mitigasi bencana alam melalui kearifan lokal dapat menjadi bekal dalam antisipasi anak untuk menghadapi bencana alam yang tidak dapat diprediksi oleh siapapun jua. Sehingga sebagai tindak lanjut guru-guru PAUD sebaiknya menghubungkan tema pembelajaran dengan kearifan local untuk mengembangkan pembelajaran mitigasi bencana alam khususnya di Provinsi Gorontalo. 
PELATIHAN PENGGUNAAN CANVA UNTUK MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KREATIFITAS GURU DI MTSS NURUL BAHRI GORONTALO Agustin, Puspita Dian; Hinta, Ellyana; Kadir, Herson
Journal of Community Services on Multidisciplinary Sciences Vol. 2 No. 1 (2024): Journal of Community Services on Multidisciplinary Sciences
Publisher : Ahsan Mafaza Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian ini secara umum bertujuan untuk memperkenalkan dan melatih guru-guru di MTsS Nurul Bahri Gorontalo dalam membuat media pembelajaran interaktif dengan aplikasi Canva. Tujuan kegiatan pengabdian ini meliputi menjelaskan apa itu media pembelajaran interaktif, serta apa saja fungsi serta fitur Canva. Tujuan pelatihan ini adalah upaya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman guru-guru tentang cara membuat MPI untuk mendukung proses pembelajaran, meningkatkan keterampilan guru dalam membuat media pembelajaran berbasis Canva, memotivasi guru-guru untuk selalu berinovasi dalam menyajikan materi pembelajaran. Ada beberapa metode yang digunakan dalam kegiatan PKM yaitu: metode pelatihan, pendampingan, penugasan dan evaluasi. Berdasarkan analisis angket respon yang disebarkan kepada peserta pelatihan yang terdiri dari guru- guru di MTsS Nurul Bahri Gorontalo, diperoleh hasil sebagai berikut: Kegiatan ini telah memberikan kontribusi positif kepada mitra pengabdian, dibuktikan dengan hasil analisis angket yaitu sebanyak 72% guru merasa puas akan pelatihan PKM ini. serta adanya peningkatan kemampuan guru dalam pemanfaatan Canva sebagai sarana membuat media ajar.
ANALISIS STRUKTUR VERBA DALAM BAHASA SUWAWA Mokodompit, Ainun; Hinta, Ellyana; Zakaria, Ulfa
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.37902

Abstract

Bahasa adalah alat komunikasi yang hidup dan terus berubah seiring berjalannya waktu. Demikian halnya dengan verba dan penggunaannya yang kerap mengalami perubahan dan evolusi terutama ketika masyarakat membutuhkan kata-kata baru untuk menggambarkan konsep atau fenomena baru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan permasalahan tentang: bagaimana bentuk struktur verba dalam bahasa Suwawa. Tujuan penelitian yakni: menganalisis struktur verba dalam bahasa Suwawa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: teknik observasi, teknik simak libat cakap, teknik catat. Analisis data dimulai dengan membaca dan mencatat kata-kata verba dalam bahasa Suwawa dan mengklasifikasikan data sesuai dengan fokus penelitian, data dianalisis dan dideskripsikan sesuai teori yang digunakan, memastikan keakuratan penulisan dan penyusunan data, penarik kesimpulan. Berdasrkan hasil penelitian dapat  disimpulkan bahwa terdapat 138 bentuk verba ditemukan dalam bahasa Suwawa yaitu: 28 verba dasar (bebas), 33 verba turunan, 10 verba intransitif, verba transitif dibagi dalam dua verba (tiga verba monotransitif dan tiga verba bitransitif), 10 verba aktif, sembilan verba pasif, lima verba anti-aktif, lima verba anti-pasif, 22 verba resiprokal, 10 verba non-resiprokal, yang sering digunakan oleh masyarakat di Kecamatan Pinogu dalam berinteraksi sehari-hari. Terdapat enam bentuk struktur verba yang ditemukan dalam bahasa Suwawa yaitu: (1) Bentuk dasar (2) Prefiks + bentuk dasar (3) Bentuk dasar+ reduplikasi utuh (4) Bentuk dasar + reduplikasi silih suara  (5) Prefiks + prefiks + bentuk dasar (6) Prefiks + reduplikasi + bentuk dasar.
UJARAN KEBENCIAN DALAM TAYANGAN INDONESIA'S NEXT TOP MODEL Datuamas, Muh Ihza Afandi; Ellyana Hinta; Herman Didipu
Indonesian Journal of Linguistics Vol. 1 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Linguistics
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/ijl.v1i2.20

Abstract

Ujaran kebencian adalah suatu perkataan yang diujarkan dengan konteks tidak baik bersifat menyakiti perasaan orang lain atau biasa disebut dengan kejahatan berbahasa. Televisi yang seharusnya dapat dimanfaatkan menjadi media belajar anak-anak dalam hal ini menayangkan tayangan-tayangan yang mengandung ujaran kebencian seperti yang menjadi objek dalam penelitian ini yakni Indonesia’s Next Top Model. Tujuan dari penelitian ini didasarkan atas dua rumusan yakni dapat mengetahui jenis-jenis ujaran kebencian dalam tayangan Indonesia’s Next Top Model, dan mengetahui makna kontekstual ujaran kebencian dalam tayangan Indonesia’s Next Top Model. Sehingga untuk mencapai tujuan tersebut, metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan jenis penelitian kualitatif dan berdasaran teori Solihatin yakni kejahatan berbahasa dikaji menggunakan pragmatik dan tindak tutur. Sehingga dapat mendeskripsikan jenis-jenis ujaran kebencian dalam tayangan Indonesia’s Next Top Model dan menganalisa makna kontekstual. Maka dalam penelitian ini ditemukan hasil penelitian dengan lima jenis ujaran kebencian dalam tayangan Indonesia’s Next Top Model yakni penghinaan dalam bentuk merendahkan, penistaan dalam bentuk candaan tidak pantas, menyinggung perasaan orang lain, dan menjelekkan nama baik, ujaran kebencian jenis provokasi dalam bentuk hasut dan memperkeruh keadaan, ujaran kebencian jenis menghasut dalam bentuk menjelekkan/ menjatuhkan orang lain, dan ujaran kebencian jenis perbuatan tidak menyenagkan dalam bentuk makian yang dapat diklasifikasikan setelah menganalisis makna kontekstualnya. Makna kontekstual ujaran kebencian sangat berbeda dengan makna asli katanya, dan dari tujuh jenis ujaran kebencian, tayangan Indonesia’s Next Top Model mengandung lima jenis yang masing dapa diklasifikasikan lagi dalam beberapa bentuk.  
Transendensi Feminin Tokoh Mata Hari dalam Novel Namaku Mata Hari Karya Remy Sylado: Penelitian Nurgian Utina, Siti; Hinta, Ellyana; Achmad Bagtayan, Zilfa
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.3310

Abstract

This study examines Remy Sylado's novel Namaku Mata Hari, which portrays Mata Hari's struggles as a woman facing a marriage that does not meet her expectations. Initially, Mata Hari perceives marriage as a path to happiness and self-actualization. However, she instead experiences domestic violence and infidelity, which deprive her of freedom and her rights as a woman. These conditions drive her to resist patriarchal norms through a transformative process toward becoming an independent woman. This research focused on two main aspects: the concept of feminine transcendence and the representation of women, as exemplified by Namaku Mata Hari. The analysis employed Simone de Beauvoir's existentialist feminist theory as presented in The Second Sex, which explored women's transcendence of oppression through freedom and consciousness in defining their identities. The study employed a descriptive qualitative method, utilizing reading, observation, and note-taking techniques. The findings revealed that Mata Hari succeeded in liberating herself from oppression by assuming the role of an entertainer who introduced Indonesian culture to the world, thereby achieving both economic and intellectual independence.
Style in Non-Fiction Books: The Subtle Art of Not Giving a F*ck by Mark Manson Daud, Rolan K.; Hinta, Ellyana; Didipu, Herman
TRANSFORMATIONAL LANGUAGE, LITERATURE, AND TECHNOLOGY OVERVIEW IN LEARNING Vol. 5 No. 1 (2025): NOVEMBER
Publisher : Transpublika Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55047/transtool.v5i1.2017

Abstract

The Subtle Art of Not Giving a F*ck by Mark Manson is a popular non-fiction work that conveys life messages in an honest, assertive, and sarcastic manner. This study aims to describe the style of language in the book from three aspects: word choice, tone, and sentence structure. The study uses a qualitative descriptive method with qualitative analysis. Data was collected through a literature review of the book, then analysed through the stages of data condensation, data presentation, and conclusion drawing. The theoretical framework refers to Gorys Keraf's concept of language style, which includes classification based on word choice (formal, informal, conversational), tone (simple, noble, middle), and sentence structure (climax, anticlimax, repetition, parallelism, antithesis). The results of the study shed light that the sentence structure aspect is the most dominant with 35 data points, followed by word choice (33 data points) and tone (30 data points). The word choice tends to be straightforward and reflective, the tone is casual yet serious, while the sentence structure is used strategically to reinforce the message and emotion. These findings indicate that style is the author's main tool in conveying ideas effectively and communicatively. The distinctive style, which is direct, straightforward, and full of honesty, makes it easier for readers to understand and resonate with the reflective messages in this book. This study is expected to serve as a reference in the study of language style in popular non-fiction texts.
Analysis of Language Style in the Song Lyrics in Nadin Amizah's Album For the World, Love and Dirt: Stilistica Study Pakaya, Puput Novel; Masie, Sitti Rachmi; Hinta, Ellyana
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v5i1.1024

Abstract

Songs are a form of literary work that combine melody and rhythm. This study examines the figurative language and the meaning of figurative expressions found in Nadin Amizah’s album “Untuk Dunia, Cinta, dan Kotornya” (For the World, Love, and Its Filth). The purpose of this research is to: (1) describe the types of figurative language and the meanings contained in the figurative expressions used in the lyrics of Nadin Amizah’s songs in the album “Untuk Dunia, Cinta, dan Kotornya.” The method used is descriptive with a qualitative research type. The research data includes lyrics from the song album “For the World, Love, and Dirty” by Nadin Amizah. The data source of this research is the song lyrics. Data collection techniques include reading, understanding, and grouping data from the results of observation guidelines, namely figurative language style in Nadin Amizah’s song lyrics in the album “For the World, Love, and Dirty”. Data was analyzed by first selecting narratives, identifying, classifying, analyzing, and presenting the results in descriptive form. The research began with reading the data, classifying, analyzing, describing, and concluding with a summary of the results. The results of this study show that the lyrics in the album “Untuk Dunia, Cinta, dan Kotornya” contain seven types of figurative language: metaphor, simile, personification, allusion, antonomasia, sarcasm, and innuendo. Across these seven types, a total of twenty-eight lyrical excerpts were identified. The analysis of the meanings of figurative language also produced similar findings, with seven types of figurative expressions and twenty-eight lyrical excerpts containing figurative meaning.
Village Toponymy in the Lyrics of North Bolaang Mongondow Regional Songs Bulangita Lipu Huta Humokor, Hikma Nurcahyani; Baruadi, Moh. Karmin; Hinta, Ellyana
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v5i1.1029

Abstract

Penelitian ini membahas toponimi dalam lirik lagu daerah Bulangita Lipu Huta, serta aspek-aspek toponimi dalam lirik lagu daerah Bulangita Lipu Huta. Toponimi desa dalam lirik lagu daerah Bulangita Lipu Huta, serta aspek-aspek toponimi dalam lagu daerah Bulangita Lipu Huta. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan toponimi desa dalam lirik lagu daerah Bulangita Lipu Huta, dan (2) Mendeskripsikan aspek-aspek toponimi dalam lirik lagu daerah Bulangita Lipu Huta. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Bolaang Mongondow, pada tanggal 27 Mei hingga 19 Juni 2025. Penelitian ini menggunakan teori antropolinguistik dan teori toponimi menurut Sudaryat yang membagi ke dalam tiga aspek yakni aspek perwujudan, kemasyarakatan dan kebudayaan. Data penelitian ini meliputi lirik lagu daerah Bulangita Lipu Huta. Sumber data penelitian ini diperoleh dari lirik lagu, serta didukung oleh hasil wawancara dan dokumen sejarah desa. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi terhadap lirik lagu Bulangita Lipu Huta, wawancara dengan informan, serta data yang diambil dari dokumen sejarah desa. Teknik analisis data penelitian ini yakni, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan (1) Toponimi desa dalam lirik lagu Bulangita Lipu Huta mencerminkan keberadaan 17 desa yang masing-masing memiliki makna historis dan kultural yang kuat. Nama-nama desa tersebut tidak hanya menjadi penanda geografis, tetapi juga merekam sejarah lokal, latar belakang sosial dan historis masyarakat, mengandung nilai-nilia spiritual dan mitos serta kepercayaan masyarakat setempat. (2) Aspek toponimi yang ditemukan terdiri dari aspek perwujudan yakni 12 desa, aspek kemasyarakatan lima desa, dan aspek kebudayaan satu desa.
The Meaning of Moyosingog's Oral Poetry at the Oya' Traditional Ceremony of the Bolaang Mongondow Tribe Labuang, Dewi Safitri; Hinta, Ellyana; Bagtayan, Zilfa Ahmad
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v5i1.1106

Abstract

Moyosingog' oral poetry is a form of oral literature that thrives in the Bolaang Mongondow community, particularly during the oya' traditional ceremony. This oral poetry contains words, phrases, and sentences that represent the cultural values, customs, and social systems of the Bolaang Mongondow community, expressed through meaningful symbols. This research focuses on two issues, namely verbal symbols and nonverbal symbols contained in the Moyosingog' oral poetry in the oya' traditional ceremony of the Bolaang Mongondow Tribe. The purpose of this research is to describe the verbal symbols and nonverbal symbols in the Moyosingog' oral poetry. This research uses a descriptive method with a qualitative approach that aims to reveal the concretization of the meaning of the Moyosingog' oral poetry in the context of the oya' traditional ceremony. The research was conducted in Motabang Village, Bolaang Mongondow Regency, with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation of the speakers of the Moyosingog' oral poetry and traditional figures involved in the implementation of the ceremony. The results of the study indicate that there are two speakers of the Moyosingog' oral poetry, namely representatives from the female and male parties, and three types of important customs were found mentioned in the oral poetry, namely Guman, Guat, and Gama. The symbols found consist of 18 verbal symbols and 5 nonverbal symbols, each of which has a denotative and connotative meaning. The conclusion of this study shows that the Moyosingog' oral poetry in the oya' traditional ceremony is a tradition of discussing marriage customs and giving oya' customs to the mother of the prospective bride which contains cultural values, social norms, and local wisdom of the Bolaang Mongondow Tribe.
Makna Simbol Budaya dalam Tradisi Permainan Masyarakat Gorontalo di Desa Sukamaju, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo: Penelitian Wirnawati Harun; Ellyana Hinta; La Ode Gusman Nasiru
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.3976

Abstract

This study aims to identify the forms of cultural symbols, symbolic meanings, and mythic narratives found in the traditional games of the Gorontalo community in Sukamaju Village, Boalemo Regency. The research focuses on understanding these games as a system of signs that reflects local worldviews, social values, and cultural identity. A descriptive qualitative method with a case study design was used, with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation of surviving games such as mongawuta, mokainje, mopondi, and mokalari. The analysis employs Roland Barthes’s semiotic theory, which categorizes meaning into denotation, connotation, and myth. The findings show that cultural symbols appear in natural materials used in the games, rules, movement patterns, and social interactions among players. Each game element represents life values, including balance, precision, patience, and cooperation, while also containing mythic narratives that help strengthen cultural id