Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Hubungan Kelembapan Udara dan Intensitas Pencahayaan Dengan Sick Building Syndrome di Departemen K3 PT X Jakarta Nurrohmah; Afrian Eskartya Harjono; Reni Wijayanti; Maria Paskanita Widjanarti
Journal of Applied Agriculture, Health, and Technology Vol. 4 No. 2 (2025): December
Publisher : Sekolah Vokasi, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jaht.v4i2.3209

Abstract

Sick Building Syndrome (SBS) merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang sangat berkaitan dengan kondisi kualitas udara dan lingkungan fisik di dalam sebuah bangunan. Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2022 diperkirakan sekitar 3,2 juta orang akan meninggal sebelum waktunya akibat penyakit yang disebabkan oleh polusi udara di dalam ruangan Penelitian ini memfokuskan kajian pada dua faktor fisik utama yang diduga menjadi pemicu gejala tersebut, yakni tingkat kelembapan udara serta intensitas pencahayaan di area kerja. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel jenuh atau total sampling, di mana seluruh populasi sebanyak 81 responden dilibatkan dalam studi. Untuk menjamin validitas data, proses pengukuran dilakukan secara objektif menggunakan instrumen hygrometer untuk memantau kelembapan dan lux meter untuk mengukur kuat penerangan. Selain itu, kuesioner khusus SBS digunakan untuk mengidentifikasi persepsi keluhan kesehatan dari para pekerja. Hasil analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank mengungkapkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara kelembapan udara terhadap kemunculan SBS (p=0,000). Temuan serupa juga diperoleh pada variabel intensitas pencahayaan yang menunjukkan nilai signifikansi p=0,000. Melalui uji regresi linier berganda, diketahui bahwa secara simultan kelembapan dan pencahayaan memberikan kontribusi sebesar 54,7% terhadap risiko terjadinya SBS. Dari kedua variabel tersebut, kelembapan udara ditemukan sebagai faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap kesehatan pekerja, dengan nilai t sebesar 6,251 dan nilai p<0,05. Hal ini menunjukkan perlunya manajemen lingkungan kerja yang lebih ketat guna menekan prevalensi keluhan kesehatan di perkantoran.
Sosialisasi Peran Jumantik dalam Peningkatan Kesadaran Masyarakat terhadap Kebersihan Lingkungan di Posyandu Mardi Sentosa Sumbersari Metro Selatan Noormawanti Noormawanti; Iswati Iswati; Muhammad Nur; Annisa Nur Firdausyi; Ismatul Izza Al Iftitah; Reni Wijayanti; Eka Susiani; Endang Rostatik
Nusantara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2026): Agustus: NUSANTARA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/nusantara.v6i3.10135

Abstract

Environmental health is one of the important factors in improving public health status, one of which is through the prevention of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) caused by the Aedes aegypti mosquito. This Community Service (PKM) activity aims to increase public knowledge and awareness of the role of Mosquito Larvae Monitoring Officers (Jumantik) in preventing DHF in the environment of Posyandu Mardi Sentosa, Sumbersari, South Metro. The activity was carried out through a participatory approach including an initial survey, planning, socialization, mentoring, and evaluation, involving Posyandu cadres, mothers with toddlers, and surrounding residents. The material delivered covered the role of Jumantik, the 3M Plus movement, and Clean and Healthy Living Behavior (PHBS). The results showed an improvement in participants' understanding of the importance of regular larvae inspection and the implementation of the 3M Plus movement, shown through participants' active involvement in discussions and their ability to re-explain the material presented. The outputs of this activity include a report, documentation, a publication article, and a Jumantik educational leaflet. This activity is expected to be an initial step towards a sustainable culture of clean and healthy living in the Posyandu Mardi Sentosa environment.