Claim Missing Document
Check
Articles

Respon Eksplan Batang Kentang (Solanum tuberosum L.) terhadap Perlakuan Konsentrasi Thidiazuron (TDZ) pada Media MS secara In Vitro Jefri Saputro; Nintya Setiari; Yulita Nurchayati; Munifatul Izzati
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 5, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.5.2.2020.147-156

Abstract

Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan komoditas yang berpotensi dalam diversifikasi pangan, namun perbanyakan bibit dengan umbi tidak efektif untuk persediaan bibit nasional. Solusi dari permasalahan tersebut adalah perbanyakan dengan kultur jaringan melalui teknik organogenesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis jenis eksplan dan konsentrasi TDZ yang tepat untuk meningkatkan respon viabilitas dan organogenesis eksplan. Metode yang digunakan adalah induksi organogenesis. Eksplan batang dipotong melintang dan diinisiasi dalam media MS dengan konsentrasi TDZ berbeda. Desain penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x4. Faktor pertama adalah jenis eksplan (batang tanpa tunas atau B0 dan batang bertunas atau B1), dan faktor kedua adalah konsentrasi TDZ (0ppm atau T0, 4,5ppm atau T4,5, 6ppm atau T6 dan 7,5ppm atau T7,5). Parameter yang diamati adalah persentase eksplan steril, persentase eksplan hidup, jumlah tunas, jumlah daun dan jumlah akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis eksplan batang bertunas cenderung meningkatkan viabilitas dan persentase eksplan hidup daripada jenis eksplan batang tanpa tunas, sedangkan peningkatan konsentrasi TDZ cenderung menurunkan viabilitas dan persentase eksplan hidup. Jenis eksplan dan konsentrasi TDZ mempengaruhi secara nyata jumlah tunas, daun dan akar. Peningkatan konsentrasi TDZ sampai 4,5ppm merupakan konsentrasi optimal dalam  meningkatkan jumlah tunas dan daun. Kata kunci : Solanum tuberosum, TDZ, jenis eksplan, , viabilitas,  organogenesis
Mikropropagasi Tunas Alfalfa (Medicago sativa L.) pada Kombinasi Benzil amino purin (BAP) dan Thidiazuron (TDZ) Diah Nurmaningrum; Yulita Nurchayati; Nintya Setiari
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.2.2017.211-217

Abstract

Teknologi kultur jaringan menjadi alternatif teknologi yang mampu menyediakan bibit secara massal, seragam dan relatif cepat. Multiplikasi tunas dari kultur pucuk merupakan tahap untuk mendukung pembentukan planlet dengan penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) sitokinin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh ZPT  Benzil Aminopurin (BAP) dan  thidiazuron (TDZ)  terhadap pembentukan tunas alfalfa pada media kultur serta mengetahui konsentrasi kedua ZPT dalam membentuk tunas secara optimal. Kultur pucuk diperoleh dari kecambah aseptik berumur 10 hari, dan ditumbuhkan di dalam medium Murashige&Skoog (MS). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 kombinasi dari 2 faktor berupa 2 macam sitokinin. Faktor pertama adalah BAP dengan konsentrasi 0; 0,3; 0,6: 0,9 mg/L dan faktor kedua adalah TDZ dengan konsentrasi  0; 0,9; 0,6; 0,3 mg/L. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA, dan  dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu inisiasi tercepat (2,33 hari) terdapat pada perlakuan kombinasi BAP 0,3 mg/L dan TDZ 0,9 mg/L, sedangkan jumlah tunas terbanyak (8,00) diperoleh pada perlakuan kombinasi BAP 0,9 mg/L dan TDZ 0,3  mg/L. Tunas terpanjang terdapat pada media tanpa ZPT (kontrol). Kesimpulannya kombinasi BAP dan TDZ di dalam media MS efektif mempercepat waktu inisiasi dan meningkatkan pertumbuhan tunas alfalfa. Kata kunci : alfalfa (Medicago sativa); induksi pertunasan; BAP; TDZ
Pertumbuhan dan Produksi Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) Varietas Servo pada Frekuensi Penyiraman yang Berbeda Sulistyowati Sulistyowati; Yulita Nurchayati; Nintya Setiari
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 6, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.6.1.2021.26-34

Abstract

Tomat merupakan tanaman familia Solanaceae yang memiliki nilai ekonomis. Penyediaan air yang cukup selama budidaya mempengaruhi pertumbuhan dan produksi buah tomat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh frekuensi penyiraman terhadap pertumbuhan dan produksi buah tomat. Penelitian dilakukan di rumah percobaan dan Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Tumbuhan Departemen Biologi FSM UNDIP. Desain penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan yaitu frekuensi penyiraman setiap hari, frekuensi penyiraman dua hari sekali, dan frekuensi penyiraman tiga hari sekali. Percobaan dilakukan dengan lima ulangan. Data dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi penyiraman berpengaruh terhadap tinggi tanaman, bobot segar tanaman, waktu muncul bunga, jumlah buah, berat buah dan kandungan karotenoid buah tomat. Semakin sering frekuensi penyiraman dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi buah tetapi semakin berkurang frekuensi penyiraman maka berdampak pada kandungan karotenoid buahnya.
RESPONSE OF SEED GERMINATION AND GROWTH OF Nepenthes gymnamphora Nees IN VITRO TO THE CONCENTRATION OF MS MINERAL SALT, PEPTONE AND THIDIAZURON Fella Suffah Meinaswati; Nintya Setiari; Yulita Nurchayati; Sri Widodo Agung Suedy
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 9 No. 1 (2022): June 2022
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.874 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v9i1.5049

Abstract

Nepenthes gymnamphora Nees is a Java's rare endemic species. Ex-situ conservation of this endangered species can be done through in vitro culture technique. The aims of this study were to determine (1) the mineral salt concentration of MS basal media and addition of peptone (P) on N. gymnamphora seed germination and seedling emergence and (2) the effects of TDZ in ½MS medium on seedling growth. Seeds were surface sterilized and cultured on four media formulations (½MS, MS, ½MS+P, MS+P) for 8 weeks. In the second experiment, ten-week-old seedlings, 0,25 cm in length were cultured on ½MS supplemented with 0, 0,5, 1,0, or 1,5 mg/L TDZ. Seedling growth was recorded at 8 weeks of culture. Results of this experiment showed that ½MS was the best medium for N. gymnamphora seed germination as indicated by the highest percentage of germination, the tallest seedling, and the fastest seedling emergence. Moreover, the best growth of N. gymnamphora was found on ½MS without TDZ. Nepenthes gymnamphora Nees. merupakan spesies endemik Pulau Jawa yang tergolong langka, sehingga perlu upaya konservasi. Konservasi ex situ spesies ini dapat dilakukan dengan teknik kultur jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi garam mineral media MS dan pepton yang dapat mendukung perkecambahan biji dan menentukan konsentrasi TDZ untuk pertumbuhan kecambah N. gymnamphora in vitro.  Pada percobaan I, biji N. gymnamphora disterilisasi dan ditabur di 4 kombinasi media, yaitu MS, ½MS, dengan dan tanpa penambahan 2g/L pepton. Pada percobaan II, kecambah berukuran ± 0,25 cm dengan penambahan beberapa konsentrasi TDZ (0; 0,5; 1; 1,5 ppm) pada media ½MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media ½MS menghasilkan persentase perkecambahan biji tertinggi (56%) dengan tinggi kecambah kecambah terbaik. Media ½MS tanpa TDZ menghasilkan pertumbuhan kecambah terbaik yang ditunjukkan oleh waktu tercepat munculnya daun, Media ½MS merupakan konsentrasi garam mineral terbaik untuk perkecambahan biji N. gymnamphora, tanpa TDZ.
In-vitro Callus Development and The Bioactive Compounds of Tomato (Lycopersicon esculentum Mill.) Yulita Nurchayati; Erma Prihastanti; Rini Budihastuti
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.21565

Abstract

 AbstractBioactive compounds in tomatoes can be produced through the development of callus culture. This study aimed to investigate callus development and observe bioactive compounds and antioxidant activities in explants and callus. The cotyledon and hypocotyl from the sprouts were induced to form callus on Murashige and Skoog (MS) medium supplemented with NAA 2.5 mg/L combined with kinetin 0.5 mg/L and 2,4 D 1 mg/L. All parts of seedling and callus were analyzed for their bioactive compounds and antioxidant activity using Spectrophotometer UV-Vis, whereas the other bioactive compounds were identified by Gas Chromatography-Mass Spectrophotometry. This research applied a Completely Randomized Design with sample sources of tomato sprout and callus from cotyledon and hypocotyl, with 3 replicates. The result showed that friable callus was able to be developed from both explants through the addition of NAA-Kin to MS medium. The three compounds were observed in callus and all explants. These calluses produced high antioxidant compounds from their pigments and ascorbic acid. The metabolites will be analyzed according to the perspective of their role. Major groups of compounds from GC-MS are dominated by hydrocarbons. Callus culture has a potential as the source of bioactive compounds.AbstrakSenyawa bioaktif pada tomat dapat diproduksi melalui kultur kalus, Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan kalus dan mengobservasi jenis senyawa bioaktif serta aktivitas antioksidan pada eksplan dan kalus. Kotiledon dan hipokotil  dari kecambah diinduksi membentuk kalus di dalam medium MS dengan penambahan NAA 2,5 mg/L dan kinetin 0,5 mg/L, maupun 2,4 D 1 mg/L tunggal.  Semua bagian kecambah dan kalus dianalisis kandungan senyawa bioaktif dan aktivitas antioksidannya dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Sementara itu, senyawa bioaktif lainnya diidentifikasi dengan menggunakan Kromatografi Gas-Spektrofotometer Massa. Penelitian ini dilaksanakan dengan Rancangan Acak Lengkap dengan faktor sumber eksplan : kecambah, kalus yang berasal dari kotiledon maupun dari  hipokotil disertai 3 ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalus remah dapat berkembang dari semua bagian kecambah pada medium MS dengan penambahan NAA dan kinetin. Terdapat tiga senyawa yang diobservasi baik pada kalus maupun sumber eksplannya. Kalus tersebut menghasilkan senyawa antioksidan yang tinggi, berdasarkan dari kandungan pigmen dan dari asam askorbat. Metabolit-metabolit tersebut akan dianalisis lebih lanjut terhadap peranannya. Kelompok senyawa yang terbanyak dari hasil GC-MS didominasi oleh hidrokarbon. Kultur kalus memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif tanaman.
In-vitro Callus Development and The Bioactive Compounds of Tomato (Lycopersicon esculentum Mill.) Yulita Nurchayati; Erma Prihastanti; Rini Budihastuti
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 1 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i1.21565

Abstract

 AbstractBioactive compounds in tomatoes can be produced through the development of callus culture. This study aimed to investigate callus development and observe bioactive compounds and antioxidant activities in explants and callus. The cotyledon and hypocotyl from the sprouts were induced to form callus on Murashige and Skoog (MS) medium supplemented with NAA 2.5 mg/L combined with kinetin 0.5 mg/L and 2,4 D 1 mg/L. All parts of seedling and callus were analyzed for their bioactive compounds and antioxidant activity using Spectrophotometer UV-Vis, whereas the other bioactive compounds were identified by Gas Chromatography-Mass Spectrophotometry. This research applied a Completely Randomized Design with sample sources of tomato sprout and callus from cotyledon and hypocotyl, with 3 replicates. The result showed that friable callus was able to be developed from both explants through the addition of NAA-Kin to MS medium. The three compounds were observed in callus and all explants. These calluses produced high antioxidant compounds from their pigments and ascorbic acid. The metabolites will be analyzed according to the perspective of their role. Major groups of compounds from GC-MS are dominated by hydrocarbons. Callus culture has a potential as the source of bioactive compounds.AbstrakSenyawa bioaktif pada tomat dapat diproduksi melalui kultur kalus, Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan kalus dan mengobservasi jenis senyawa bioaktif serta aktivitas antioksidan pada eksplan dan kalus. Kotiledon dan hipokotil  dari kecambah diinduksi membentuk kalus di dalam medium MS dengan penambahan NAA 2,5 mg/L dan kinetin 0,5 mg/L, maupun 2,4 D 1 mg/L tunggal.  Semua bagian kecambah dan kalus dianalisis kandungan senyawa bioaktif dan aktivitas antioksidannya dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Sementara itu, senyawa bioaktif lainnya diidentifikasi dengan menggunakan Kromatografi Gas-Spektrofotometer Massa. Penelitian ini dilaksanakan dengan Rancangan Acak Lengkap dengan faktor sumber eksplan : kecambah, kalus yang berasal dari kotiledon maupun dari  hipokotil disertai 3 ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalus remah dapat berkembang dari semua bagian kecambah pada medium MS dengan penambahan NAA dan kinetin. Terdapat tiga senyawa yang diobservasi baik pada kalus maupun sumber eksplannya. Kalus tersebut menghasilkan senyawa antioksidan yang tinggi, berdasarkan dari kandungan pigmen dan dari asam askorbat. Metabolit-metabolit tersebut akan dianalisis lebih lanjut terhadap peranannya. Kelompok senyawa yang terbanyak dari hasil GC-MS didominasi oleh hidrokarbon. Kultur kalus memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif tanaman.
Vitamin C and total soluble solid content of crystal guava at different storage duration and ripeness Khafid, Abdul; Nurchayati, Yulita; Hastuti, Endah Dwi; Setiari, Nintya
Kultivasi Vol 22, No 2 (2023): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v22i2.44124

Abstract

Crystal guava (Psidium guajava var. 'Crystal') fruit is in great demand because of its delicious taste and high nutritional content. Storage aims to prevent postharvest damage to the fruit. However, storage that is too long causes morphological damage and decreased nutrients. This study aims to determine the effect of storage duration, fruit ripeness stage and the interaction between both factors on vitamin C and total soluble solids (TSS) content of crystal guava, and determine which treatment can produce the highest vitamin C and TSS. Fruits harvested simultaneously with three levels of ripeness based on the skin color: unripe fruit is dark green, ripe is light green, very ripe is yellowish green. Samples selected based on the same weight range. Storage was carried out for 0, 5, and 10 days at ± 10oC. The study used a completely randomized design (CRD) with a 3x3 factorial pattern with two factors: storage duration and fruit ripeness level. Parameters observed were vitamin C, TSS, weight loss, diameter shrinkage, skin color and hardness. Data were analyzed using ANOVA and DMRT. Both treatments showed an interaction on vitamin C content. The best treatment was unripe fruit stored for ten days with 14.955 ppm of vitamin C. Both treatments did not show any interaction on TSS content. The best treatment was five days storage with TSS of 8.25 °Brix and very ripe fruit of 8.21 °Brix. Based on vitamin C, TSS content, and physical condition variables, the best guava fruit is unripe fruit stored for 10 days.Keywords: color, postharvest, physical, quality, softening
Rendemen Minyak Atsiri Rimpang Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum) dengan Metode Pengeringan yang Dikombinasi dengan Kain Penutup Wiraputra, Muhammad Dwijunianto; Nurchayati, Yulita; Hastuti, Endah Dwi; Setiari, Nintya
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 9, Nomor 1, Tahun 2024
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.9.1.2024.66-74

Abstract

Kualitas jahe merah ditentukan oleh kandungan minyak atsiri yang mudah menguap. Kombinasi cabinet solar dryer (CSD) sebagai alat pengering yang dikombinasikan dengan kain penutup dapat mempengaruhi rendemen minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kombinasi metode pengeringan dengan penambahan kain penutup terhadap rendemen minyak atsiri jahe merah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 3 dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah pengeringan dengan cabinet solar dryer dan metode terbuka tanpa alat. Faktor kedua adalah tanpa kain, 1 lapis kain dan 2 lapis kain penutup. Parameter yang diamati adalah volume minyak atsiri, rendemen minyak atsiri, kadar air, susut bobot, suhu pengeringan, kelembaban udara, dan morfologi jahe. Metode yang digunakan adalah pengeringan rimpang jahe, yang telah diiris dengan ketebalan 5 mm. Rendemen minyak atsiri dianalisis dengan metode destilasi uap dan air. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara metode pengeringan dan kain penutup terhadap rendemen minyak atsiri. Rendemen tertinggi (0,98%) diperoleh dengan metode pengeringan matahari langsung dengan 1 lapis kain penutup. Kadar air terendah dan susut bobot tertinggi terdapat pada perlakuan matahari langsung tanpa kain penutup sebesar 13,04% dan 79,93%. Perlakuan optimal dalam meningkatkan volume dan rendemen minyak atsiri diperoleh pada metode pengeringan matahari terbuka dengan 1 lapis kain penutup. Metode pengeringan dengan alat CSD tanpa kain penutup menghasilkan minyak atsiri yang tinggi sebesar 0,6%. The quality of red ginger is determined by its volatile essential oil content.  A cabinet solar dryer (CSD) combined with a cloth cover can affect the yield of ginger essential oil. This study aims the effect of the drying method combined with cover cloth on the yield of red ginger essential oil. This study used a completely randomized design (CRD) factorial pattern 2 x 3 with 3 repetitions. The parameters observed were essential oil volume and yield, water content, weight loss, drying temperature, drying humidity, and ginger morphology. The method used was dried rhizome chopped with a thickness of 5 mm. The essential oils were analyzed by steam and water distillation. The results showed that there was an interaction between the two treatments for essential oil yields. The highest essential oil yield (0.98%) was obtained from direct sunlight with 1 layer of cloth. The lowest water content and highest weight loss were found in direct sun without covering cloth at 13.04% and 79.93%. Optimal treatment in increasing oil volume and essential oil yield was obtained by drying in the open sun with 1 layer of cloth cover. Drying with a CSD without a cover cloth produces a high essential oil.  
Kandungan Vitamin C dan Morfometri Buah Jambu Kristal (Psidium guajava L. cv. ‘Kristal’) pada Pengemasan yang Berbeda Putra, Agita Christyaji; Nurchayati, Yulita; Hastuti, Endah Dwi; Setiari, Nintya
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 8, Nomor 2, Tahun 2023
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.8.2.2023.146-153

Abstract

Jambu kristal (Psidium guajava L. cv. ‘Kristal’) memiliki daging buah berwarna putih, tekstur renyah, tidak memiliki banyak biji serta memiliki banyak kandungan gizi, salah satunya vitamin C. Buah jambu yang sudah dipanen umumnya dikemas sebelum didistribusikan dengan tujuan untuk meminimalisir kerusakan maupun degradasi kandungan vitamin C selama penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pengemas yang berbeda terhadap kandungan vitamin C dan morfometri buah jambu kristal. Buah dipanen pada umur 100 HSA (Hari Setelah Antesis), berdasarkan rentang ukuran dan bobot yang sama. Buah yang telah dikemas kemudian disimpan dalam lemari pendingin pada suhu ±10oC selama 3 hari. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal dengan empat perlakuan, yaitu tanpa pengemas, plastik wrapping, besek, dan styrofoam. Tiap perlakuan dengan tiga ulangan. Analisis kandungan vitamin C dilakukan dengan metode spektrofotometri. Pengamatan morfometri dengan mengukur tingkat kekerasan buah, tingkat memar buah, dan warna kulit buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan vitamin C tertinggi terdapat pada jenis pengemas menggunakan styrofoam sebesar 12.297 ppm dan terendah pada perlakuan plastik wrapping sebesar 8.960 ppm. Perbedaan jenis pengemas berupa plastik wrapping, besek, dan styrofoam mempengaruhi kandungan vitamin C dan morfometri buah jambu kristal. Morfometri buah seperti susut diameter, susut bobot, tingkat kekerasan, dan tingkat memar buah yang paling baik diperoleh dari jenis pengemas styrofoam.  Crystal guava (Psidium guajava L. cv. 'Kristal') has white flesh, crunchy texture, low seed content and contains high vitamin C. Harvested guava are generally packaged before distribution to minimize degradation of vitamin C content during storage. This study aims to determine the effect of different types of packages on vitamin C content and morphometry of crystal guava fruit. Fruits are harvested at 100 days after anthesis based on the same size range and weight. The packed fruit was stored in the refrigerator at ±10oC for 3 days. The study was conducted using a single factor Completely Randomized Design (CRD) with four treatments, including without packaging, plastic wrap, besek (bamboo bucket), and styrofoam. Each treatment was repeated 3 times. Analysis of vitamin C content was carried out by spectrophotometric method. The results showed that the highest vitamin C content was found in the styrofoam treatment at 12,297 ppm and the lowest in the plastic wrap treatment at 8,960 ppm. Different types of packaging in the form of plastic wrap, besek, and styrofoam affect the vitamin C content and morphometry of crystal guava fruit. The best fruit morphometry such as diameter loss, weight loss, hardness level, and bruising level was obtained from styrofoam.
RESPONSE OF SEED GERMINATION AND GROWTH OF Nepenthes gymnamphora Nees IN VITRO TO THE CONCENTRATION OF MS MINERAL SALT, PEPTONE AND THIDIAZURON Yulita Nurchayati
Jurnal Bioteknologi dan Biosains Indonesia Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nepenthes gymnamphora Nees is a Java's rare endemic species. Ex-situ conservation of this endangered species can be done through in vitro culture technique. The aims of this study were to determine (1) the mineral salt concentration of MS basal media and addition of peptone (P) on N. gymnamphora seed germination and seedling emergence and (2) the effects of TDZ in ½MS medium on seedling growth. Seeds were surface sterilized and cultured on four media formulations (½MS, MS, ½MS+P, MS+P) for 8 weeks. In the second experiment, ten-week-old seedlings, 0,25 cm in length were cultured on ½MS supplemented with 0, 0,5, 1,0, or 1,5 mg/L TDZ. Seedling growth was recorded at 8 weeks of culture. Results of this experiment showed that ½MS was the best medium for N. gymnamphora seed germination as indicated by the highest percentage of germination, the tallest seedling, and the fastest seedling emergence. Moreover, the best growth of N. gymnamphora was found on ½MS without TDZ.
Co-Authors Abdul Khafid Abdul Khafid, Abdul Agustin Noviati Aini, Nabilah Anggi Krisdianto Ari Indrianto Ari Indrianto Diah Nurmaningrum Ditasya Putri, Novika Einstivina Nuryandani Endah Dwi Hastuti Endang Saptiningsih Endang Saptiningsih Erma Prihastanti Erma Prihastanti Fakhri Fadhlurrohman Pratama Fathiyah Afiah R Fathiyah Afiah R, Fathiyah Fella Suffah Meinaswati Fella Suffah Meinaswati Fetryani Soni Manurung Fitrian Agna Mahayaning, Fitrian Agna Fiva Andriyani Hana, Puji Nur Hartati, Puji I’anatushshoimah, I’anatushshoimah Ika Susanti Hendriyani Indriani, Reni Istiqomah, Azura Muzdalifah Jefri Saputro Karend, Azzah Hanun Abas L. Hartanto Nugroho Laurentius H Nugroho Luaeliyah, Masrukhatul Madha Kurniawan Misrofah, Sofatu Misrofah, Sofatun Mochammad Syaifuddin Muhammad Syaiful Anam Munifatul Izzati NIDA, KHOIRIN Nintya Setiari Nintya Setiari Nita Kumalasari Dewi Noveira, Ameviana Fitri Nur Cahyani, Evi Prameswari, Ratna Apriliani Puji Nur Hana Putra, Agita Christyaji Putri Anugrah Maulidya Rashid, Fatimah Azzahra Ahmad Reni Indriani Rina Budi Astuti Rini Budi Hastuti Rini Budihastuti Rini Budihastuti Rizqi Fadlia Julianti Sadiah, Fitriatus Santosa Santosa Santosa Santosa Santosa, Faradita Azzahra Setiana, Devi Vira Sri Darmanti Sri Haryanti Sri Haryanti Sri Widodo Agung Suedy Sulistyowati Sulistyowati Surya Kurnia Hayati Titis Yuliana Ulva, Maria Utama, Rafii Satria Utami, Ika Nur Wahyu Hadayani Wiraputra, Muhammad Dwijunianto Zahrotunnisa, Alfi Zakiyah, Aisyah