Rizka Humardewayanti Asdie
Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat Dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada/ RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta

Published : 30 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

A fatal acute appendicitis with sepsis and pneumonia was caused by melioidosis: a case report Abu Tholib Aman; Yuli Mawarti; Agus Barmawi; Faisal Heryono; Rizka Humardewayanti Asdie
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2922.603 KB) | DOI: 10.19106/JMedSci0052022020010

Abstract

We report anunderdiagnosed fatal case of melioidosis that involved dygestion system which complicated with pneumonia, and sepsis. The case was initially diagnosed as acute appendicitis, and subsequently the patient underwent an exploratory laparatomy and appendectomy. He was discharged afer 3 days of hospitalization. Thirty days afterward, he was admitted to another private hospital to experience another exploratory laparatomy with indication of pancreatitis, intra-abdominal organs adhesions, and postoperative enterocutaneous fistula (ECF), and hospitalized there for 25 days. He eventually suffered from sepsis, pneumonia, unclosed ECF, anemia, hypoalbuminemia, and electrolyte imbalance. He then referred to a tertiary teaching hospital and hospitalized there for a total 134 days until he passed away. His clinical condition was declining, despite a long course of broad spectrum antibiotics. Treatment delay, prolong hospitalization, and complications were the inevitable, although Burkholderia pseudomallei was finally identified 2 weeks prior to his death. This case highlight that melioidosis canassociate with acute appendicitis, and that the delay on its diagnosis and treatment may trigger complications and death.
SISTEM PENDUKUNG PENGAMBILAN KEPUTUSAN KLINIS DALAM PEMBERIAN TERAPI ANTIBIOTIK YANG RASIONAL Suharyanto Suharyanto; Rizka Humardewayanti Asdie
Simetris: Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer Vol 6, No 1 (2015): JURNAL SIMETRIS VOLUME 6 NO 1 TAHUN 2015
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.526 KB) | DOI: 10.24176/simet.v6i1.249

Abstract

Pemilihan terapi antibiotik yang rasional pada penyakit infeksi akan memperbaiki simptom klinis secara lebih cepat, efisien dibandingkan dengan terapi yang tidak tepat atau tidak sesuai. Klinisi harus meningkatkan keahlian dalam penggunaan antibiotik yang rasional pada penyakit infeksi yang ringan atau berat dan pada penyakit yang disebabkan oleh virus. Terapi antibiotik yang rasional mencegah terjadinya resistensi antibiotik. Sistem pendukung pengambilan keputusan klinis (SPKK) akan meningkatkan penggunaan antibiotik yang rasional. Penelitian ini mengembangkan prototipe SPKK untuk mendukung pengambilan keputusan penggunaan antibiotik yang rasional. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan action research. Pengembangan sistem dengan prototiping menggunakan rule based dengan format IF (gejala) THEN (terapi). Pengujian system dilakukan dengan membandingkan output dari klinisi dan dari sistem. Hasil evaluasi system terdapat 50 data kuesioner yang diberikan pada klinisi dengan hasil yang sesuai dengan guideline adalah output dari klinisi 35 (70%) dan output system 49 (98%), X2=0,087, p=0,768. Pada hasil atas menunjukkan bahwa sistem memiliki performan yang baik.
PENGGUNAAN ANTIBIOTIK TERHADAP LUARAN KLINIK PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH AKIBAT KATETERISASI Denia Yuni Wulandari; Djoko Wahyono; Rizka Humardewayanti Asdie
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 2
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.259

Abstract

Infeksi saluran kemih akibat kateterisasi didefinisikan sebagai infeksi pada pasien yang pernah atau masih menggunakan kateter indwelling (menetap). Penggunaan antibiotik secara tidak rasional dapat menimbulkan pengobatan kurang efektif, resiko efek samping, meningkatnya resistensi antibiotik dan tingginya biaya pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotik dan pengaruhnya terhadap luaran klinik pasien infeksi saluran kemih akibat kateterisasi.Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan desain cohort retrospektif dengan pengambilan data secara retrospektif berdasarkan data catatan medis pasien infeksi saluran kemih akibat kateterisasi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2013-November 2015. Pasien yang memenuhi kriteria inklusi dievaluasi rasionalitas penggunaan antibiotiknya dengan metode Gyssens serta outcome klinik setelah terapi antibiotik empiris diberikan selama tiga hari. Data dianalisis dengan uji statistik Chi-square (variabel kategorik).Jumlah pasien pada penelitian ini sebanyak 63 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan antobiotik empiris yang diberikan pada pasien CAUTI setelah dievaluasi dengan metode Gyssens, dari 63 pasien diketahui 49 (77,77 %) pasien penggunaannya rasional (kategori 0) dan 14 pasien (22,22 %) tidak rasional. Penggunaan antibiotik rasional pada pasien infeksi saluran kemih akibat kateterisasi memberikan luaran klinik lebih baik dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan antibiotik tidak rasional.Kata kunci: Infeksi saluran kemih akibat kateterisasi, antibiotik, rasionalitas, luaran klinik, metode Gyssens
Pattern of Antibiotic in Community-Acquired Pneumonia (CAP) Comparison in Type A and B Hospital Ika Puspita Sari; Titik Nuryastuti; Rizka Humardewayanti Asdie; Anton Pratama; Endang Estriningsih
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 7, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.33261

Abstract

Pneumonia is a threat to all States. CAP treatment in hospitals typically uses empirical antibiotic therapy with IDSA/ATS guidelines. This research aimed to compare empirical antibiotic therapy of CAP patients in types A and B hospital and to analyze the variations that occur and compare the outcome of the therapy. The research was conducted retrospectively by collecting data from the medical records of patients diagnosed with CAP. The inclusion criteria in this research were male and female adult patients aged ≥18 years who had complete medical record data. Patients who underwent inpatient care in the in-patient wards (non ICU) of type A and B hospital received empirical antibiotic therapy. Data from type A hospital (RS A) were taken within the period of January 2014-December 2016, while data from type B hospital (RS B) were taken in January 2013-December 2016. The number of patients with CAP in hospital A is 72, whereas in hospital B, it is 34. Patients with malignancy and immunocompromise were excluded from this research. In this research, germs found in hospital A were mapped, while no gynecologic examination/culture was performed in hospital B. The outcome of the treatment was an improvement in response 5-7 days after empirical antibiotics was given, as reported by a physician and/or by an improvement in the x-ray thorax results. Patient demographic data and antibiotic therapy pattern were analyzed descriptively. Outcome of patient therapy was analyzed using Chi square statistics with 95% confidence level.The results showed that empirical antibiotic therapy in CAP patients in type A hospital were largely based on IDSA/ATS guidelines, whereas in it is the opposite for type B hospital. Outcomes of patient therapy in A and B hospitals showed patient improvement of about 76%. In type A hospital, the cause of CAP is largely negativeGram bacteria which are still sensitive to cephalosporin/carbapenem (cefpirom, ceftasidim, cefepim, and imipenem) and aminogicosida (amikacin, netilmisin, and tobramisin).
Insidensi dan Faktor Risiko Infeksi Luka Operasi pada Bedah Obstetri dan Ginekologi di Rumah Sakit Farahdina Chairani; Ika Puspitasari; Rizka Humardewayanti Asdie
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 9, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2197.285 KB) | DOI: 10.22146/jmpf.48024

Abstract

Surgical Site Infection (SSI) is a type of Healthcare-associated infections (HAIs) which caused postoperative morbidity. SSI is widely reported in developing countries with a combined incidence of 11.8 episodes per 100 surgical procedures. This study aimed to identify risk factors for SSI in patients undergoing obstetric and gynecological surgeries at Dr. Sardjito General Hospital Yogyakarta. Data collection was conducted retrospectively using patient’s medical records during the period of January 1, 2017 to December 31, 2018. A total of 102 patients underwent obstetric and gynecological surgeries in the study period. The incidence of SSI in the cross sectional study was 9.80%. Obstetric surgeries had a lower SSI incidence compared to gynecological surgeries (1.96% versus 7.84% respectively). The risk factors for SSI identified in the bivariate analysis were comorbidity (P= 0.03), concomitant surgery (OR 8.25), intraoperative blood loss (OR 0.51), perioperative blood transfusion (OR 18.6), and duration of prophylactic antibiotics (OR 1.22). The results of multivariate analysis showed a significant relationship between intraoperative blood loss and SSI (OR 0.038, CI 95% 0.002-0.761; P= 0.032). Incidence and risk factors from our retrospective study on obstetric and gynecological surgeries can be reported simultaneously. Some of the risk factors identified in this study can be helpful for SSI risk stratification in hospital.
Outpatient Parenteral Antimicrobial Treatment sebagai Upaya Menurunkan Biaya Pasien Ulkus Diabetik yang Terinfeksi Hemi Sinorita; Rizka Humardewayanti Asdie; Tri Hartati; Pebriati Sumarningsih; Titik Rahayu; Ika Puspitasari
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 11, No 1
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.60256

Abstract

Ulkus diabetik  terinfeksi memerlukan terapi antibiotik yang tepat untuk menghindari risiko amputasi. Tujuan utama program Outpatient Parenteral Antimicrobial Treatment (OPAT) adalah memungkinkan pasien memperoleh terapi antibiotik parenteral dengan aman dan efektif tanpa menjalani rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan biaya pemberian antibiotika parenteral dan kualitas hidup pasien antara pasien ulkus diabetik terinfeksi yang memperoleh pelayanan rawat inap dan OPAT. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian ini adalah quasi experimental pada pasien ulkus diabetika yang terinfeksi di di RSUP dr. Sardjito Agustus 2019 sampai April 2020 dengan kriteria inklusi pasien umur ≥ 18 tahun; kondisi klinis stabil; sudah didapatkan hasil kultur swab dasar luka, dengan kriteria eksklusi pasien imunocompromised (pasien kanker dan pasien transplantasi organ yang mendapatkan terapi imunosuppresan serta pasien HIV). Pasien mendapat perawatan luka dua kali dalam seminggu di poliklinik endokrin untuk dinilai outcome klinisnya dan pada akhir pengobatan mengisi kuisioner kualitas hidup SF36. Selanjutnya dihitung biayanya dan dianalisa perbedaan kualitas hidup serta biaya antara OPAT dibanding rawat inap. Selama penelitian terdapat 15 pasien kelompok OPAT dan 15 pasien kelompok rawat inap. Dari sisi perbaikan klinis terdapat perbedaan yang bermakna antara skor PEDIS kelompok OPAT terhadap kelompok Rawat Inap  (p = 0,007). Pembiayaan pelayanan OPAT menghemat  biaya medik langsung sebanyak 75,77% dari pembiayaan pelayanan rawat inap dengan total pelayanan OPAT sebesar Rp 2.556.117,- dan pelayanan rawat inap sebesar Rp 10.549.487,-. Terdapat  perbedaan yang bermakna pada beberapa domain kualitas hidup  yaitu domain fungsi peran emosional (p=0,045); domain fungsi sosial (p<0,01) dan score MCS (Mental Component Summary (p=0,005). OPAT meningkatkan 3 domain fungsi ini.
Pengaruh Faktor Resiko Terhadap Kejadian ILO pada Pasien Bedah Obstetri dan Ginekologi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Pebriati Sumarningsih; Nanang Munif Yasin; Rizka Humardewayanti Asdie
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.244 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.47986

Abstract

Infeksi nosokomial merupakan penyebab utama  tingginya angka kematian dan kesakitan di dunia. Menurut WHO,  infeksi luka operasi merupakan  jenis infeksi nosokomial kedua  terbanyak setelah infeksi saluran kemih. Infeksi Luka Operasi merupakan komplikasi pasca bedah obstetri dan ginekologi, 8-10%  dari pasien  bedah obstetri dan ginekologi beresiko mengalami infeksi luka operasi.Rancangan penelitian ini adalah cohort dan melibatkan pasien bedah obstetri dan ginekologi yang menerima antibiotik profilaksis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Data diambil melalui prospektif observasional, yaitu dengan melakukan observasi selama periode Maret-April 2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor resiko kejadian infeksi luka operasi. Faktor resiko dalam penelitian ini yaitu usia, jenis kelamin, IMT, status merokok, status imunitas, skor ASA, jumlah perdarahan, lama dirawat sebelum operasi dan durasi operasi. Luaran klinik berupa kejadian ILO diamati secara periodik hingga hari ke-30 setelah operasi. Hubungan faktor risiko terhadap kejadian ILO dianalisis dengan uji statistika pearson chi square.Pada penelitian ini kejadian infeksi luka operasi terjadi pada 14 subjek penelitian dari total 72 subjek penelitian (19 %). Hasil analisis univariat diperoleh bahwa faktor yang mempunyai hubungan bermakna terhadap kejadian ILO adalah BMI dimana dari 14 kejadian ILO 50% dialami oleh pasien dengan BMI ≥ 30 dengan p-value 0,016. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok usia 18-59 tahun dengan kelompok usia 60 tahun keatas terhadap kejadian infeksi luka operasi. Demikian juga waktu pemberian antibiotik, skor ASA, riwayat merokok, kadar albumin pre operasi, lama perawatan pre operasi, lama operasi, kelas operasi dan volume perdarahan tidak ada perbedaan bermakna dengan kejadian infeksi luka operasi (p value> 0,05).
Faktor Risiko Infeksi Luka Operasi (ILO) dan Rasionalitas Antibiotik Profilaksis Bedah di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Rosylianti Rosylianti; Ika Puspitasari; Rizka Humardewayanti Asdie
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.53094

Abstract

Healthcare assoicated infections (HAIs) merupakan merupakan infeksi yang didapatkan pasien ketika menerima pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan. Salah satu jenis HAIs yang dapat dicegah adalah infeksi luka operasi (ILO), yakni melalui pemberian antibiotik profilaksis bedah (APB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar kejadian ILO selama periode penelitian, besar ABP rasional, pengaruh pemberian APB rasional terhadap ILO, dan faktor risiko yang meningkatkan risiko ILO. Penelitian dilaksanakan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dengan rancangan cohort prospektif pada subjek dengan kriteria inklusi usia ≥18 tahun, menjalani bedah obstetri-ginekologi, digestif dan tumor dengan kelas operasi bersih/bersih-terkontaminasi, dan menerima ABP. Subjek dieksklusi jika didiagnosis infeksi sebelum operasi dan menjalani pemasangan implan. Pengamatan luka operasi dilakukan hingga 30 hari pascabedah. Sejumlah 95 pasien bersedia menjadi subjek penelitian. Terdapat 96 pemberian ABP selama periode penelitian. ILO dialami oleh 17,9% (IK 95% 10,2-25,6%) subjek. Ditemukan 13 pemberian antibiotik tidak tepat indikasi. Dari 83 pemberian ABP dengan indikasi, hanya ditemukan 1,2% pemberian ABP rasional menurut algoritma Gyssens (kategori 0). Jenis ketidakrasionalan paling tinggi yaitu kategori IIa (tidak tepat dosis) 95,1%. Penelitian ini tidak dapat menentukan pengaruh pemberian antibiotik profilaksis terhadap penurunan kejadian ILO. IMT >27 kg/m2 secara bermakna meningkatkan risiko ILO dengan OR 5,91 (IK 95% 1,20-18,37; p<0,05).Kata kunci: antibiotik profilaksis, analisis Gyssens, ILO
Kepuasan Pasien Ulkus Diabetik Yang Menjalani Outpatient Parenteral Antimicrobial Treatment di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Elma Viorentina Sembiring; Ika Puspitasari; Rizka Humardewayanti Asdie; Hemi Sinorita
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.60276

Abstract

Outpatient parenteral antimicrobial treatment (OPAT) merupakan pemberian terapi antimikroba parenteral tanpa rawat inap. Tujuan utama program OPAT adalah memungkinkan pasien memperoleh terapi antibiotik parenteral dengan aman dan efektif tanpa menjalani rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan biaya pemberian antibiotika parenteral dan kepuasan pasien antara pasien ulkus diabetik terinfeksi yang memperoleh pelayanan rawat inap dan rawat jalan (OPAT). Penelitian ini adalah penelitian kuasi ekperimental dengan pendekatan prospektif pada pasien ulkus diabetik di RSUP Dr. Sardjito. Pengambilan sampel dilakukan secara non probability sampling kuota yang dilakukan pada bulan September 2019 – September 2020. Kuesioner kepuasan pasien yang digunakan dalam penelitian ini ialah Patient Satisfaction Quetionare-18 (PSQ-18) versi bahasa Indonesia yang telah melalui uji validitas dan reabilitas. Uji Mann Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan kepuasan pasien antara kedua kelompok. Subjek penelitian dalam penelitian ini sebanyak 15 pasien pada kelompok OPAT dan 15 pasien pada kelompok kontrol (rawat inap). Pada penelitian ini didapatkan nilai rata-rata kepuasan pasien terhadap pelayanan OPAT dan control adalah 4,66  ± 0,09 dan 4,69 ± 0,08. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara tingkat kepuasan pasien yang mendapatkan pelayanan OPAT dengan pelayanan rawat inap (p = 0,817).
Outpatient Parenteral Antimicrobial Treatment Pada Pasien Ulkus Diabetik di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta: Kajian Clinical Outcome Dan Kualitas Hidup Pasien Rizki Rahmawati; Ika Puspitasari; Rizka Humardewayanti Asdie; Hemi Sinorita
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.60616

Abstract

Outpatient parenteral antimicrobial treatment (OPAT) adalah metode untuk memberikan antibiotik intravena di komunitas atau rawat jalan sebagai alternatif untuk perawatan rawat inap. Tujuan utama program OPAT adalah memungkinkan pasien memperoleh terapi antibiotik parenteral dengan aman dan efektif tanpa menjalani rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh clinical outcome terhadap kualitas hidup pada pasien ulkus diabetik terinfeksi yang mendapatkan pelayanan OPAT dan rawat inap. Penelitian ini adalah penelitian kuasi ekperimental dengan pendekatan prospektif pada pasien ulkus diabetik di RSUP Dr. Sardjito. Pengambilan sampel dilakukan secara non probability sampling kuota yang dilakukan pada bulan September 2019 – September 2020. Clinical outcome dinilai dari skor PEDIS yang kemudian di kategorikan membaik atau tidak membaik. Kuisoner SF-36 digunakan dalam penilaian kualitas hidup pasien. Uji t tidak berpasangan dan Mann Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan clinical outcome serta Uji Fisher exact test dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara clinical outcome terhadap kualitas hidup pasien. Subjek penelitian dalam penelitian ini sebanyak 30 pasien yang terdiri dari kelompok OPAT dan kelompok rawat inap. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu sebanyak 93% pasien OPAT membaik, dan 100% pasien Rawat Inap membaik. Tidak terdapat pengaruh yang significant antara clinical outcome dengan kualitas hidup pada pasien ulkus kaki diabetik di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.