Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Pelatihan Penggunaan Aplikasi Canva bagi Guru dan Siswa di MA Darul Fath Bontolangkasa Asriati; Lely Novia; Nur Aeni; Muhammad Asriadi; Muftihaturrahmah Burhamzah
Jurnal Gembira: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media pembelajaran adalah komponen yang memiliki peran penting dalam menunjang keberhasilan pembelajaran. Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan tim pengabdi, guru dan siswa MA Darul Fath Bontolangkasa belum terbiasa dengan penggunaan aplikasi berbasis desain seperti Canva. Kebutuhan akan skill desain saat ini sangat penting sebab skill ini bisa mereka aplikasikan dimanapun dan untuk kebutuhan apapun. Kemudahan untuk memperbaharui atau pun mengedit desain melalui aplikasi hanya dengan menggunakan smartphone dimana saja tentunya merupakan hal yang sangat menjanjikan dan memberi kemudahan agar menjadi lebih efektif. PkM ini dilaksanakan dalam 4 tahap mulai dari tahap penyusunan materi, penyuluhan, pelatihan dan demonstrasi. Mitra baik guru dan siswa memperoleh pengetahuan mengenai penggunaan aplikasi Canva serta menunjukkan partisipasi aktif dalam pelaksanaan kegiatan ini.
Pelatihan Pemanfaatan Materi Bahasa Jerman di Youtube bagi Guru Bahasa Jerman SMA di Kabupaten Enrekang Alamsyah Alam; Muftihaturrahmah Burhamzah; Syarifah Fatimah; Wahyu Kurniati Asri; Misnah Mannahali; Laelah Azizah
Jurnal Gembira: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi informasi yang berkembang dengan kecepatan tinggi telah mengubah paradigma masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi. Mencari dan mendapatkan informasi tidak lagi terbatas melalui surat kabar, buku, televisi dan radio, tetapi kini dapat diperoleh melalui jaringan internet. Salah satu bidang yang mendapatkan dampak cukup berarti dari perkembangan teknologi informasi ini adalah bidang pendidikan. Hadirnya internet sebagai sumber informasi memungkinkan seseorang untuk mencari serta menyebarkan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk penemuan penelitian ke seluruh dunia dengan mudah, cepat, dan murah, sehingga pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat lebih cepat dan merata. Dengan demikian, segala informasi yang ada di internet dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Jaringan internet yang makin meluas dan sudah tidak asing lagi bagi kehidupan manusia modern melahirkan pembelajaran berbasis internet (elearning), yaitu proses pembelajaran yang menggunakan jaringan internet sebagai media pembelajarannya. Sifat e-learning fleksibel karena dapat dilakukan di manapun dan kapanpun. Dengan demikian, e-learning cukup efektif sebagai salah satu metode pembelajaran. Selain dapat dilakukan dua arah, e-learning juga dapat dilakukan satu arah dengan metode pembelajaran berbasis web (web based learning). Proses belajar mengajar yang kreatif dan inovatif akhir-akhir ini berkembang dengan sangat pesat. Hal ini diakibatkan oleh pengajar yang mulai menemukan hal baru dalam proses belajar mengajar agar kegiatan tersebut lebih efektif dalam pembelajaran. YouTube merupakan layanan video berbagi yang disediakan oleh Google bagi para penggunanya untuk memuat, menonton dan berbagi klip video secara gratis. YouTube merupakan wujud dari pergeseran teknologi internet (world wide web) dari “read only web” ke “read write web”. Untuk memperkaya materi, selain dari buku-buku, video-video dari Youtube dipergunakan sebagai sumber pembelajaran dan juga sebagai sumber data. Ada banyak video yang ditampilkan selama pelajaran berlangsung yang disesuaikan dengan topik yang dibahas setiap minggunya
IMPLEMENTASI OFFICE 365 PADA GURU SMAN 5 ENREKANG DALAM MEWUJUDKAN PEMBELAJARAN JARAK JAUH SELAMA MASA PANDEMI COVID-19 Alamsyah; Muftihaturrahmah Burhamzah; Syarifah Fatimah; Wahyu Kurniati Asri; Misnah Mannahali; Laelah Azizah
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 1 No. 1 (2023): MEI 2023
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai langkah awal, kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan jalan menerapkan aplikasi-aplikasi yang disediakan oleh Microsoft® Office 365, Office 365 merupakan Software as a Service (SaaS) yang memungkinkan penggunanya untuk mengakses email, dokumen, kontak, kalender, dan berkolaborasi di mana saja dengan menggunakan berbagai perangkat seperti: PC, laptop, tablet, atau smartphone (Ferdiana, Eka, & Fauzan, 2013). Untuk instansi pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi produk ini tidak dipungut biaya (Microsoft, 2017). Produk ini dipilih karena banyak sekolah dan perguruan tinggi yang belum memanfaatkannya dengan baik. Saat ini, setidaknya terdapat 23 aplikasi (contohnya Delve, Flow, Planner, Flow, Tugas, Video, Yammer) yang disediakan secara gratis. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi media digital ke dalam aktivitas belajar-mengajar sehari-hari sehingga tercipta paperless classroom yang menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, ekonomis, serta sumber belajar yang multikonten (suara, gambar, video, dan tautan laman). Khalayak sasaran pengabdian adalah pendidik yang berasal dari dosen, guru, dan beberapa calon guru di wilayah Kabupaten Enrekang. Kegiatan pengabdian dilaksanakan dengan berbagai metode mulai dari survei, focus group discussion, demonstrasi, unjuk kerja, pendampingan, hingga kursus daring (online) dengan memanfaatkan Microsoft® Office 365 dengan bekerja sama dengan Microsoft Indonesia. Materi pelatihan yang diberikan meliputi pembuatan portofolio digital menggunakan ClassNotebook, menciptakan kuis dan survei daring menggunakan Form, memproduksi presentasi dan laporan interaktif menggunakan Sway, dan menyimpan dan membagikan bahan materi menggunakan layanan penyimpanan awan, OneDrive.
WORKSHOP FACETIME PADA SISWA SMA DI MAJENE DALAM MEWUJUDKAN PEMBELAJARAN M-LEARNING Syarifah Fatimah; Muftihaturrahmah Burhamzah; Alamsyah; Wahyu Kurniati Asri; Misnah Mannahali; Laelah Azizah
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 1 No. 1 (2023): MEI 2023
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FaceTime adalah produk telepon video eksklusif yang dikembangkan oleh Apple Inc. FaceTime tersedia di perangkat seluler iOS yang didukung yang menjalankan iOS 4dan yang lebih baru dan komputer Mac yang menjalankan Mac OS X 10.6.6 dan yang lebih baru. FaceTime mendukung perangkat iOS apa pun dengan kamera menghadap ke depan dan komputer Mac apa pun yang dilengkapi dengan Kamera FaceTime. FaceTime Audio, versi audio saja, tersedia di semua perangkat iOS yang mendukung iOS 7 atau yang lebih baru, dan semua Mac dengan kamera menghadap ke depan yang menjalankan Mac OS X 10.9.2 dan yang lebih baru. FaceTime disertakan secara gratis di iOS dan di macOS dari Mac OS X Lion (10.7) dan seterusnya. Sejak rilis iOS 15 dan macOS Monterey, sistem non-Apple dapat digunakan untuk berpartisipasi dalam panggilan FaceTime menggunakan klien web. FaceTime bekerja dengan membuat koneksi antara dua perangkat yang didukung. Sebagian besar perangkat Apple (seperti iPhone, iPad, dan Mac) yang diperkenalkan setelah 2011 mendukung FaceTime. FaceTime saat ini tidak kompatibel dengan perangkat non-Apple atau layanan panggilan video lainnya. Model Mac yang diperkenalkan pada tahun 2011 memiliki video definisi tinggi FaceTime, yang digunakan perangkat secara otomatis saat kedua ujungnya memiliki kamera FaceTime HD. Pada 7 Juni 2021, selama WWDC Keynote Apple, diumumkan bahwa FaceTime akan tersedia untuk pengguna Android dan Windows melalui web. Fitur baru bernama SharePlay diumumkan untuk FaceTime di iOS 15, iPadOS 15 , dan macOS Monterey di acara yang sama. Ini akan memungkinkan pengguna di iPhone, iPad, dan Mac berbagi musik, video, atau layar mereka dengan orang-orang dalam panggilan. Apple menyatakan bahwa fitur tersebut menggunakan API yang dapat diaktifkan pada layanan media apa pun dan SharePlay dijadwalkan untuk mendukung Apple Music, aplikasi Apple TV (termasuk Apple TV+), Disney+, Hulu, HBO Max., Paramount+, TikTok , Twitch dan beberapa sumber media lainnya saat peluncuran. M-Learning (m-learning) atau Mobile Learning berhubungan dengan pembelajaran menggunakan perangkat mobile seperti PDAs, mobile phone, laptop dan peralatan teknologi informasi lain untuk pembelajaran. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, platform e-learning berubah dari komputer desktop ke laptop dan perangkat mobile lainnya. Perkembangan kemampuan pemprosesan informasi pada perangkat mobile meningkat, dengan adanya berbagai aplikasi seperti game, komunikasi bisnis, komunikasi nirkabel dalam kehidupan masyarakat. Hal ini membuka peluang untuk pembelajaran yang dilakukan menggunakan perangkat mobile yang disebut M-Learning.  
Pelatihan Bahasa Inggris Promosi bagi Siswa Madrasah Tsanawiyah di Makassar Chuzaimah Chuzaimah; Dian Fera Pratiwi; Muftihaturrahmah Burhamzah; Geminastiti Sakkir; Abdullah Abdullah
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34697/jai.v5i4.2527

Abstract

Kegiatan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini merupakan program kegiatan mandiri berupa pelatihan bahasa Inggris Promosi bagi MTsN 1 Makassar pada bulan November tahun 2025. Pelatihan difokuskan pada promosi makanan khas Makassar, seperti Pisang Ijo dan makanan lokal lainnya. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam berbicara Bahasa Inggris serta memperluas kosakata yang berkaitan dengan bahasa promosi. Pelatihan menggunakan metode interaktif, meliputi workshop, simulasi, dan role play, dengan durasi total 5 (lima) jam. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam kepercayaan diri, kemampuan berbicara, pelafalan, penguasaan kosakata, serta antusiasme siswa. Produk yang dihasilkan berupa teks promosi dan poster yang menunjukkan kemampuan siswa menerapkan keterampilan yang dipelajari dalam konteks nyata. Pelatihan ini memiliki manfaat jangka panjang, termasuk kemampuan guru untuk melanjutkan kegiatan serupa dan potensi sekolah menjadikannya program rutin. Kegiatan ini juga mendukung pengembangan keterampilan Bahasa Inggris praktis sekaligus mempromosikan budaya lokal melalui makanan khas Makassar.
Heuristic Evaluation of German Language Mobile Learning Applications Among Indonesian University Students Syarifah Fatimah; Muftihaturrahmah Burhamzah; Alamsyah; Sabrina Saiidi
Journal of Vocational, Informatics and Computer Education Vol 3, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Academic Bright Collaboration

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66053/voice.v3i2.843

Abstract

Purpose – Despite the growing availability of German language mobile learning applications, no empirical usability evaluation targeting Indonesian university students enrolled in German Language Education study programmes has been reported. This study evaluates the usability of three mobile applications used in German language learning two commercial apps and one campus-developed app using Nielsen's (1994) heuristic evaluation framework. Methods – A heuristic evaluation was conducted by 25 student evaluators trained in Nielsen’s ten usability heuristics. Each evaluator independently rated usability problems on a 0–4 severity scale across three apps: Duolingo (App A), Babbel (App B), and a campus-developed mobile LMS (App C). Evaluators also completed the System Usability Scale (SUS). Data were analysed using descriptive statistics and the Friedman test with Wilcoxon signed-rank post-hoc comparisons (α = .05), appropriate for the repeated-measures design in which the same 25 evaluators assessed all three applications.  Findings – The campus app (App C) yielded the highest overall mean severity score (2.09) with 90 usability problems identified, predominantly in the Minor to approaching-Major severity range (mean scores 1.5–2.8 on Nielsen’s 0–4 scale). The most severe violations involved Help and Documentation (H10: M = 2.8) and Flexibility and Efficiency of Use (H7: M = 2.6). SUS scores were: App A = 82.4 (Good), App B = 74.8 (Good), App C = 51.6 (OK). Within-evaluator differences across the three applications were statistically significant for both severity (Friedman χ²(2) = 38.42, p < .001, W = .77) and SUS (Friedman χ²(2) = 34.88, p < .001, W = .70), with large effect sizes. Research implications – Findings are limited by the use of trained student evaluators rather than expert usability professionals, a single-institution sample, and the absence of summative user testing with actual German language learning tasks. The simulated evaluation context may not capture all real-world interaction patterns. Originality – This study is the first to apply Nielsen's heuristic evaluation framework to German language mobile learning applications in the Indonesian higher education context. It provides an empirically grounded usability problem list and design recommendations specifically relevant to campus-developed German language learning apps, contributing to both HCI research and German language education technology practice.
Implementation of a German-Language Voice User Interface as a Pronunciation Practice Medium for Students of German Language Education in Makassar Alamsyah; Syarifah Fatimah; Muftihaturrahmah Burhamzah; Sabrina Saiidi
Journal of Vocational, Informatics and Computer Education Vol 3, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Academic Bright Collaboration

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66053/voice.v3i2.847

Abstract

Purpose – Pronunciation acquisition remains a major challenge for Indonesian learners of German because several German phonemes are absent from the Indonesian phonological system. This study investigated the effectiveness of a German-language Voice User Interface (VUI) as a pronunciation practice medium for undergraduate students in the German Language Education programme at Universitas Negeri Makassar, Indonesia, focusing on five challenging German phonemes: /r/, /ü/, /ö/, /ch/, and /ä:/. Methods – A one-group pretest-posttest quasi-experimental design was employed with 36 undergraduate students. The VUI-based pronunciation intervention was conducted over eight weeks. Data were collected using the Pronunciation Accuracy Rating Scale (PARS), Speech Intelligibility Scores (SIS) assessed by two native-speaker judges (ICC = 0.89), a Pronunciation Confidence Questionnaire (PCQ), and a Technology Acceptance Questionnaire (TAQ). Data were analysed using the Wilcoxon Signed-Rank test (α = .05). Findings – Pronunciation performance improved significantly following the intervention. The overall mean PARS score increased from 50.5 to 72.0, with an N-Gain of 43.4% (Z = −5.241, p < .001, r = 0.87). SIS scores improved from 51.8 to 72.3 (p < .001, r = 0.84). All five PCQ dimensions showed descriptive gains, and the overall PCQ score improved significantly (p < .001, r = 0.86), with the overall confidence mean increasing from 2.64 to 4.05. Technology acceptance was high (TAQ mean = 4.23), and peer recommendation intention received the highest rating (M = 4.44). Among the target phonemes, /r/ and /ä:/ showed the highest N-Gains (45.0% and 44.9%), while /ö/ remained the most challenging (41.1%). The /ch/ phoneme had the lowest pre-test score and the largest absolute gain. Research Implications and Originality – Findings should be interpreted in light of the study’s single-group design, limited sample, short intervention period, and absence of delayed post-testing. This study is the first to evaluate a German-language VUI for pronunciation practice in a South Sulawesi higher education context and contributes an adapted PARS instrument together with evidence-based recommendations for German pronunciation pedagogy.
Pemberdayaan Remaja melalui Pelatihan Public Speaking Bahasa Inggris untuk Mendukung Pariwisata Lokal Muftihaturrahmah Burhamzah; Syarifah Fatimah; Rahmita Burhamzah; Rahmat Burhamzah; Alamsyah Alamsyah
Abdimas Langkanae Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v6i1.731

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan public speaking bahasa Inggris remaja dalam mendukung pengembangan pariwisata lokal. Permasalahan utama yang dihadapi masyarakat mitra adalah rendahnya kemampuan komunikasi bahasa Inggris, kurangnya rasa percaya diri dalam berbicara di depan umum, serta minimnya pelatihan keterampilan komunikasi berbasis praktik bagi remaja di kawasan wisata lokal. Padahal, kemampuan public speaking bahasa Inggris menjadi salah satu kompetensi penting dalam pelayanan dan promosi wisata, khususnya dalam menghadapi wisatawan mancanegara. Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui beberapa metode, yaitu workshop, focus group discussion (FGD), demonstrasi, praktik langsung, dan pendampingan. Materi pelatihan meliputi dasar-dasar public speaking, teknik komunikasi efektif, vocabulary pariwisata, simulasi pelayanan wisata, serta praktik menjadi pemandu wisata (tour guide) menggunakan bahasa Inggris sederhana. Peserta kegiatan terdiri atas kelompok remaja dan pemuda setempat yang memiliki minat dalam pengembangan pariwisata daerah. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mengalami peningkatan kemampuan berbicara bahasa Inggris, khususnya dalam memperkenalkan destinasi wisata lokal dan melakukan simulasi komunikasi dengan wisatawan asing. Selain itu, terjadi peningkatan rasa percaya diri peserta dalam berbicara di depan umum serta meningkatnya kesadaran mereka terhadap pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pengembangan pariwisata lokal. Antusiasme peserta selama kegiatan juga menunjukkan bahwa metode pelatihan berbasis praktik dan pendampingan efektif dalam meningkatkan keterampilan komunikasi peserta. Program ini memberikan dampak positif bagi masyarakat karena membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam sektor pariwisata lokal. Dengan adanya pelatihan ini, remaja diharapkan mampu menjadi agen promosi wisata yang dapat memperkenalkan budaya dan potensi wisata daerah kepada masyarakat yang lebih luas. Oleh karena itu, program pelatihan public speaking bahasa Inggris perlu dikembangkan secara berkelanjutan melalui kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat guna mendukung pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
Pelatihan Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Mendukung Administrasi dan Pembelajaran Guru Sekolah Menengah Syarifah Fatimah; Muftihaturrahmah Burhamzah; Rahmita Burhamzah; Rahmat Burhamzah; Alamsyah Alamsyah
Abdimas Langkanae Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v6i1.732

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) memberikan peluang besar dalam mendukung efektivitas administrasi dan pembelajaran di sekolah. Namun, pemanfaatan teknologi AI oleh guru sekolah menengah masih belum optimal akibat rendahnya literasi digital dan minimnya pelatihan praktis terkait implementasi AI dalam pendidikan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru sekolah menengah dalam memanfaatkan Artificial Intelligence guna mendukung administrasi pembelajaran dan pengembangan media ajar yang lebih inovatif. Kegiatan dilaksanakan pada sekolah menengah atas negeri di Sulawesi Selatan dengan melibatkan guru sebagai peserta utama. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi workshop, focus group discussion, demonstrasi, praktik langsung, dan pendampingan penggunaan platform AI seperti ChatGPT dan Canva AI. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta dalam menggunakan AI untuk menyusun perangkat ajar, membuat media pembelajaran digital, serta mengembangkan evaluasi pembelajaran secara lebih efektif dan efisien. Selain itu, peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama pelatihan dan memberikan respons positif terhadap implementasi teknologi AI dalam pendidikan. Program ini juga memberikan dampak positif terhadap peningkatan kreativitas guru dan efisiensi administrasi pembelajaran. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini berhasil mendukung peningkatan literasi digital guru serta mendorong transformasi pembelajaran berbasis teknologi di lingkungan sekolah menengah.
THE ANALYSIS OF LANGUAGE STYLE USED IN “USHI AND DUSHI” TALK SHOW WITH ADELE Siti Aisyah Nurinsani Auliyah Burhan; Muftihaturrahmah Burhamzah; Rizki Fauzi
Journal of English Literature and Linguistic Studies Vol 4, No 2 (2026): Journal of English Literature and Linguistic Studies (JELLS)
Publisher : Faculty of Languages and Literature, Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jells.v4i2.85352

Abstract

Language style plays a crucial role in shaping communication dynamics in media, particularly in talk shows where formal and informal exchanges often coexist. However, limited studies have explored how language styles manifest in humorous interview formats, revealing a gap between theoretical classifications and real-life applications. This study aims to examine the language styles employed in the “Ushi and Dushi” talk show episode featuring Adele. Using a qualitative descriptive method, the research involved downloading and transcribing the episode from YouTube to analyze the verbal interactions between the host (Ushi) and the guest (Adele). The dialogues were categorized based on Joos’ (1967) five language style classifications: frozen, formal, consultative, casual, and intimate. The analysis identified 17 instances of language style use, consisting of 1 formal, 8 casual, 2 consultative, 2 frozen, and 4 intimate styles. The findings reveal that casual style is predominantly used by the host, contributing to the comedic and informal tone of the show, whereas the interviewee primarily employs formal style, possibly due to the structured setting resembling a news broadcast. This contrast illustrates the interplay between setting, role, and communicative intent in shaping linguistic choices. The study concludes that even in entertainment-focused formats, language style serves strategic functions and is influenced by both context and participant roles, offering valuable insight into pragmatic language use in media discourse.