Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

HUBUNGAN PENANGANAN CEDERA OLAHRAGA DAN KONDISI SAAT KEMBALI BEROLAHRAGA PASCA CEDERA PADA REMAJA Lalu, Suprawesta; Ratu NL Esser, Balkis
Jurnal Ilmiah Mandalika Education (MADU) Vol. 2 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Lembaga PKBM Tunas Harapan Varoso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/madu.v2i1.104

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi hubungan antara layanan cedera olahraga dengan kondisi remaja saat kembali berolahraga. Sebanyak 259 remaja dengan riwayat cedera olahraga dianalisis berdasarkan karakteristik seperti usia, jenis kelamin, status atlet, kebiasaan pemanasan, dan jenis olahraga yang mereka lakukan. Dari hasil penelitian, rerata usia responden adalah 20,6±1,5 tahun dengan mayoritas responden adalah laki-laki (89,2%). Cedera ringan ditemukan pada 67,2% responden, dan sebagian besar penanganan cedera dilakukan melalui metode tradisional atau pengobatan alternatif (52,1%). Terdapat hubungan signifikan antara layanan penanganan cedera dengan indeks massa tubuh, status atlet, dan jenis olahraga. Remaja dengan indeks massa tubuh lebih tinggi dan yang berstatus atlet cenderung menerima layanan medis profesional. Jenis olahraga seperti badminton, sepak bola, dan bela diri lebih sering mendapatkan layanan medis, sementara olahraga seperti voli dan futsal lebih banyak ditangani dengan pengobatan tradisional dan alternatif. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara usia dan tingkat keparahan cedera dengan jenis layanan penanganan cedera. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor-faktor lain seperti ketersediaan layanan dan preferensi pribadi mungkin lebih mempengaruhi pemilihan jenis layanan.
PELATIHAN TEKNIK RENANG KEPADA ANAK-ANAK DESA MEKARSARI LOMBOK BARAT Sukartidana, I Nyoman; Lalu Suprawesta; Muhammad Riyan Hidayatullah
Ite Ngabdi Vol. 1 No. 1 (2025): ITE NGABDI
Publisher : ite ngabdi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wq73cq75

Abstract

Pelatihan teknik renang merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dasar berenang serta kesadaran akan keselamatan di air, khususnya pada anak-anak yang tinggal di wilayah pedesaan. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh rendahnya akses pendidikan olahraga air di Desa Mekarsari, yang berpotensi menghambat pengembangan kemampuan motorik anak serta meningkatkan risiko kecelakaan air. Metode pelaksanaan pelatihan mencakup pendekatan edukatif-partisipatif yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan usia anak. Berdasarkan hasil evaluasi, terjadi peningkatan signifikan pada penguasaan teknik dasar renang meliputi pernapasan, meluncur, dan gaya dada, dengan peningkatan rata-rata sebesar 68% dari penilaian awal. Temuan ilmiah menunjukkan bahwa pelatihan teknik renang secara terstruktur dapat meningkatkan koordinasi motorik kasar, rasa percaya diri, dan kesadaran keselamatan air pada anak-anak. Pelatihan ini juga menjadi wadah pengembangan kapasitas masyarakat melalui keterlibatan aktif para orang tua dan perangkat desa. Dengan demikian, program pelatihan ini dapat direkomendasikan untuk diimplementasikan secara berkelanjutan di wilayah pedesaan lainnya sebagai bagian dari pendidikan preventif dan penguatan budaya hidup sehat
HUBUNGAN RIWAYAT JATUH TERHADAP FUNGSI EKSTREMITAS BAWAH PADA LANJUT USIA Susilawati, Indri; Mulyajaya, Muhammad Satria; Suprawesta, Lalu; Putri, Ni Ketut Dewita
Journal Sport Science, Health and Tourism of Mandalika (Jontak) e-ISSN 2722-3116 Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jontak.vi.6100

Abstract

Falls are a common public health problem in older adults and are associated with declines in physical function, disability, and reduced quality of life. This study aimed to examine the association between a history of falls in the past six months and lower extremity functional performance among community-dwelling older adults. A cross-sectional observational study was conducted in 50 community-dwelling older adults. Fall history was obtained through interviews, while lower extremity function was assessed using the Five Times Sit-to-Stand Test (FTSTS). Data were analyzed using the Mann–Whitney U test and binary logistic regression. The results showed that 10 of 50 participants (20%) had a history of falls, and this group had a significantly longer FTSTS time (19.26 seconds) than those without a history of falls (14.05 seconds), with a significant association between FTSTS time and fall history (p = 0.018). Each 1-second increase in FTSTS time was associated with an approximately 20% higher odds of falling (odds ratio [OR] = 1.20; 95% confidence interval [CI] = 1.02–1.40; p = 0.024). These findings indicate that poorer lower extremity function is an important factor associated with falls among community-dwelling older adults, and that the FTSTS may serve as a simple screening tool to identify older adults at higher risk of falls in primary care and community settings.
SOSIALISASI DAN PENDAMPINGAN KADER DALAM IDENTIFIKASI FRAILTY PADA LANSIA RUMAH SENJA LOMBOK TIMUR Suprawesta, Lalu; Susilawati, Indri; Putri, Ni Ketut Dewita
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i3.36443

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia menimbulkan tantangan serius dalam bidang kesehatan masyarakat, salah satunya adalah kondisi frailty atau kerapuhan. Rumah Senja di Lombok Timur, yang menaungi lebih dari 100 lansia, belum memiliki sistem skrining rutin, dan kader pendamping belum mampu mngidentifikasi frailty secara mandiri. Program pengabdian masyarakat berbasis penelitian ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader dalam mengidentifikasi frailty menggunakan instrumen fungsional sederhana. Metode pengabdian yang dilakukan adalah community-based research (CBR) dengan tahapan persiapan, pelaksanaan pendampingan, lalu monitoring dan evaluasi. Kegiatan dilakukan selama empat minggu, yang diikuti oleh 10 orang kader dan dihadiri oleh 49 lansia. Hasil pemeriksaan dengan pendampingan menunjukkan bahwa 28 lansia (57,1%) berada pada kategori frail, 16 lansia (32,7%) dalam kategori pre-frail, dan hanya 5 lansia (10,2%) tergolong robust. Pemahaman kader tentang frailty meningkat dari rata-rata 85 menjadi 87 poin, serta persepsi terhadap pencegahan melalui olahraga, nutrisi, dan dukungan sosial naik dari 85,7% menjadi 90,9%. Sebanyak 81,8% kader merekomendasikan skrining bulanan, sedangkan 18,2% menyarankan minimal dua kali setahun. Temuan ini menunjukkan prevalensi frailty di Rumah Senja cukup tinggi. Pelatihan kader dengan instrumen sederhana terbukti efektif meningkatkan kapasitas deteksi dini. Model skrining frailty berbasis komunitas ini memiliki potensi besar untuk dijadikan contoh di wilayah lain sebagai bagian dari strategi nasional mendukung penuaan sehat di Indonesia.Kata kunci: Frailty; Identifikasi; Instrumen Fungsional; Kader Kesehatan; Lanjut Usia. ABSTRACTThe increasing number of elderly people in Indonesia poses serious challenges in public health, one of which is the condition of frailty. Rumah Senja in East Lombok had more than 100 elderly individuals, currently lacks a regular screening system, and its field cadres are unable to independently identify frailty. This research-based community service project aims to enhance the capacity of cadres in identifying frailty using simple functional assessment tools. The method applied is community-based research (CBR) through stages of preparation, implementation of fascilitation, and monitoring and evaluation. The activities were conducted over four weeks, involving 10 cadres and 49 elderly participants. Screening results with guidance showed that 28 elderly (57.1%) were classified as frail, 16 (32.7%) as pre-frail, and only 5 (10.2%) as robust. Cadres’ understanding of frailty improved from an average of 85 to 87 points, and their perception of prevention through exercise, nutrition, and social support increased from 85.7% to 90.9%. A total of 81.8% of cadres recommended monthly screenings, while 18.2% suggested at least twice a year. These findings indicate a high prevalence of frailty at Rumah Senja. This community-based frailty screening model has significant potential to be replicated in other regions as part of a national strategy to support healthy aging in Indonesia. Keywords: Frailty; Identification; Functional Instrument; Health’s Cadres; Elderly.
PENERAPAN SPORT MASSAGE SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI RECOVERY ATLET BELA DIRI NTB PADA PON KUDUS JAWA TENGAH Sukartidana, I Nyoman; Lalu Suprawesta; Mohammad Syahroni
Ite Ngabdi Vol. 1 No. 2 (2025): ITE NGABDI
Publisher : ite ngabdi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/0bq4j027

Abstract

Prestasi olahraga yang optimal dalam kompetisi multi-event seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) sangat bergantung pada efektivitas proses pemulihan (recovery) atlet. Atlet bela diri, khususnya, menghadapi tuntutan fisik dan mental yang tinggi, meningkatkan risiko kelelahan ekstrem dan cedera. P enelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan recovery atlet bela diri Nusa Tenggara Barat (NTB) pada PON Kudus Jawa Tengah melalui penerapan sport massage. Program ini dilaksanakan pada 80 atlet bela diri NTB selama periode PON (9-26 Oktober 2025), dengan total 285 sesi sport massage yang diberikan sebagai post-event atau inter-event massage. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi oleh 73 atlet, observasi langsung, dan wawancara dengan atlet serta pelatih. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan respons positif yang signifikan: 91,8% atlet melaporkan penurunan kelelahan otot, 88,9% merasakan pengurangan nyeri otot (DOMS), 97,3% mengalami peningkatan relaksasi, dan 87,7% merasa lebih siap secara fisik untuk kompetisi berikutnya. Tingkat kepuasan terhadap layanan sport massage mencapai 95,9%. Analisis kualitatif memperkuat temuan ini, menyoroti pemulihan fisik yang cepat, dampak psikologis positif, peningkatan kualitas tidur, serta dukungan terhadap performa dan pencegahan cedera. Disimpulkan bahwa penerapan sport massage terbukti efektif dalam mengoptimalkan recovery atlet bela diri NTB, memberikan manfaat fisik dan psikologis yang signifikan, serta sangat diterima oleh atlet.