Nendyah Roestijawati
Department Of Public Health And Community Medicine, Faculty Of Medicine, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto 53112, Indonesia

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Prevalence and Risk Factors Associated with Pterygium in Farmers: Cross-Sectional Study in Indonesia Muhamad Rifqy Setyanto; Nendyah Roestijawati; Wahyudin Wahyudin; Zainuddin Zainuddin; Muhammad Iqbal Firdaus
Comprehensive Health Care Vol 7 No 2 (2023): Comprehensive Health Care
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Stikes Panrita Husada Bulukumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37362/jch.v7i2.1030

Abstract

Background: Pterygium is a multifactorial fibrovascular growth of the bulbi conjunctiva. Farmers are a profession that is prone to pterygium because they do a lot of outdoor activities and are exposed to the risk factors that cause pterygium. Objective: To determine the prevalence and risk factors for pterygium in farmer groups in Petir Village, Kalibagor District, Banyumas Regency.Methods: This research is an analytic observational study using a cross-sectional study approach. The sample of this research was 69 farmers in Petir Village, Kalibagor District, Banyumas who were selected by consecutive sampling method. Data collection by interview using a questionnaire, and pterygium examination using a pen light. Data analysis using prevalence ratio. Results: The results of this study indicate that the prevalence of pterygium in farmer groups in Petir Village, Kalibagor Banyumas District is 15.9%. The results of the prevalence ratio analysis showed the prevalence ratio values of heredity (RP = 1,200 and CI = 1,077 - 1,337), age (RP = 1,196 and CI = 1,076 - 1,330), sex (RP= 0.865 and CI = 0.722 - 1.037), length of working period (RP = 1,212 CI = 1,081- 1,357), duration of work (RP = 0.884 and CI = 0.665 - 1.175), use of personal protective equipment (RP = 1.016 and CI = 0.814 - 1.268).Conclusion: Heredity, age, and length of working period are risk factors for pterygium in farmer groups in Petir Village, Kalibagor District, Banyumas. Gender, duration of work, and use of personal protective equipment were not risk factors for pterygium in farmer groups in Petir Village, Kalibagor District, Banyumas. Keywords: pterygium, farmer, length of work periode
Investigating the level of Hba1c and insulin level in β-thalassemia patients Mujiburrahman, Husnan; Santosa, Qodri; Setyono, Joko; Roestijawati, Nendyah; Rujito, Lantip
MEDISAINS Vol 21, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/medisains.v21i3.18362

Abstract

Background: β-thalassemia is an inherited blood disorder characterized by reduced or no synthesis of β globin chain, resulting in chronic anemia, so blood transfusion is required as curative therapy. Repeated blood transfusions lead to iron overload that can lead to multiple organ damage, including pancreatic organs.Objective: This study aimed to describe HbA1c and insulin levels of β-thalassemia patients. The study also tested whether there was a significant difference in insulin and HbA1c levels among patients with different β-thalassemia categories. Method: This research was an analytic observational study. The samples were taken by total sampling and involved 30 patients, and the examination was carried out using the patient's blood plasma.Result: The study found that samples had low HbA1c levels. There was no significant mean difference (p>0.05) between insulin and HbA1c in the mild, moderate, and severe clinical degree groups. There was no significant difference in average (p>0.05) insulin and HbA1c in the thalassemia sufferers with allele β+ and β0 types.Conclusion: There was a decrease in insulin and HbA1c in patients with β-thalassemia, which may be caused by damage pancreatic organ damage.
PERBEDAAN KARAKTERISTIK PEKERJA DAN BIOMARKER PAPARAN LINGKUNGAN KERJA PADA PEKERJA BENGKEL LAS DAN KANTOR Nendyah Roestijawati; MM Rudi Prihatno; M. Zaenuri Syamsu Hidayat; Yudhi Wibowo; Diah Krisnansari
Biomedika Vol 15, No 2 (2023): Biomedika Agustus 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v15i2.3313

Abstract

ABSTRACT Occupational diseases are caused by the interaction of workers, workload, and work environment factors. This study aims to determine the correlation of worker factors with biomarkers of occupational exposure MT1a, GSTp1, and PSA. The research design used was comparative cross-sectional. The research subjects were 30 welding workers and 30 administrative office employees who were taken by purposive sampling. The variables studied were worker factors such as age and BMI, levels of the enzyme GSTp1, MT1a and PSA. Measurement of GSTp1, MT1a, and PSA in blood was performed using the sandwich ELISA method. Data analysis was performed using the Mann-Whitney test. The results of the study found that there were significant differences in age, BMI, and PSA levels in the two groups. There is no differences in GSTp1 and MT1a level between groups. We concluded that the PSA levels of the group of office workers were higher than those of the group of welding workshop workers, perhaps because the average age was older. ABSTRAK Penyakit akibat kerja disebabkan oleh adanya interaksi faktor pekerja, pekerjaan dan lingkungan kerja. Penelitian bertujuan mengetahui perbedaan karakteristik dan biomarker paparan lingkungan kerja seperti: MT1a, GSTp1 dan PSA antara pekerja bengkel las dan pekerja kantor administrasi. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Subyek penelitian adalah 30 orang pekerja bengkel las dan 30 orang pekerja kantor administrasi yang diambil secara purposive sampling. Variabel yang diteliti adalah factor pekerja berupa usia dan IMT, kadar enzim GSTp1, MT1a dan PSA. Pengukuran GSTp1, MT1a dan PSA dalam darah dilakukan menggunakan metode ELISA sandwich. Analisis data dilakukan dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan usia, IMT dan kadar PSA pada kedua kelompok, dan tidak ada perbedaan signifikan kadar GSTp1 dan MT1a antara kelompok. Kesimpulannya bahwa kadar PSA kelompok pekerja kantor lebih tinggi dibandingkan kelompok pekerja bengkel las, dimungkinkan karena rerata usia yang lebih tua.
Association between Air Pollutants and Levels of Macrophage Inflammatory Protein-2 in Purwokerto Informal Workers Rosy, Freshyama Daniar; Roestijawati, Nendyah; Mulyanto, Joko
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.1-8

Abstract

Judul : Hubungan Pencemaran Udara dengan Kadar Protein Inflamasi Makrofag-2 pada Pekerja Informal PurwokertoLatar belakang: Tingkat polusi udara di Indonesia telah meningkat secara signifikan dalam dekade terakhir, yang sejalan dengan peningkatan insidensi gangguan pada sistem pernapasan, termasuk Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Deteksi dini gangguan sistem pernapasan akibat polusi udara menggunakan penanda biologis berpotensi mencegah keparahan penyakit meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pajanan polutan udara dengan kadar Macrophage Inflammatory Protein-2 (MIP-2) pada pekerja sektor informal di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.Metode: Studi belah lintang dilakukan pada 35 pekerja parkir luar ruang dan 35 pekerja informal dalam ruang di Purwokerto pada Maret 2021. Kadar particulate matter (PM) diukur menggunakan particle counter sebagai parameter tingkat polusi udara. Kadar. MIP-2 diukur dari sampel darah partisipan dengan menggunakan metode ELISA. Data dianalisis menggunakan Uji Mann-Whitney, Korelasi Spearman, dan analisis multivariat dengan Generalized Linear Model untuk mengevaluasi hubungan antara paparan polutan udara dan kadar MIP-2.Hasil: Kadar polutan udara di luar ruangan lebih tinggi dibandingkan di dalam ruangan (p=0,00), dan kadar MIP-2 lebih tinggi pada pekerja di luar ruangan dibandingkan pekerja di dalam ruangan (p=0,00). Kadar debu tidak berkorelasi dengan kadar MIP-2, baik pada pekerja di dalam ruangan (r=0,03; p=0,85), pekerja di luar ruangan (r=-0,31; p=0,07), maupun secara keseluruhan (r=0,20; p=0,09). Lama kerja total dan per hari juga tidak memiliki korelasi dengan kadar MIP-2 pada pekerja. Analisis multivariat menunjukkan tidak adanya hubungan antara durasi paparan dan kadar MIP-2 setelah dikendalikan oleh variabel usia dan kadar polusi udara.Simpulan: Terdapat perbedaan signifikan antara kadar debu dan kadar MIP-2 di lokasi luar ruangan dibandingkan dengan dalam ruangan. Pajanan polutan udara, baik dari segi tingkat maupun durasi, secara konsisten tidak berkorelasi dengan kadar MIP-2 pada pekerja. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami interaksi antara paparan polutan udara, kadar MIP-2, dan kondisi klinis gangguan pernapasan yang disebabkan oleh polusi udara. ABSTRACTBackground: Air pollution level has significantly increased in Indonesia followed by the increase in respirational disorders such as Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) in the last decade. Early detection of air pollution-related respiratory disorders using biological markers potentially reduces the severity of these diseases, but further studies are still required. This research seeks to evaluate the relationship between exposure to air pollutants and Macrophage Inflammatory Protein-2 (MIP-2) levels among informal workers in Purwokerto, Banyumas District, Central Java Province. Method:  A cross-sectional study was carried out in March 2021 involving 35 informal outdoor workers and 35 indoor workers in Purwokerto. Particulate matter (PM) concentration was assessed using a particle counter, serving as an indicator of air pollution level. MIP-2 serum level was measured from participants' blood samples using the ELISA method. The Mann-Whitney test, Spearman correlation test, and multivariate analysis using the Generalized Linear Model were employed to assess the relationship between air pollutant exposure and MIP-2 serum levels.Result: The levels of air pollution (p=0.00) and MIP-2 serum (p=0.00) were significantly elevated in outdoor environments compared to indoor environment.  Exposure to air pollutants did not show a significant correlation with MIP-2 serum levels in outdoor workers (r=-0.31; p=0.07), indoor workers (r=0.03; p=0.85), or overall (r=0.20; p=0.09). The overall and daily working duration did not show a correlation with the MIP-2 serum levels in the workers. Multivariate analysis indicated that there was no association between the duration of exposure and MIP-2 levels when adjusted for age and air pollution level.Conclusions:  There were notable differences in air pollutant levels and MIP-2 serum levels between indoor and outdoor environments. Air pollutant exposure, both in duration and level, consistently did not correlate with the MIP-2 serum level of workers. Further studies are required to understand the interactions among air pollutant exposure, MIP-2 serum level, and clinical conditions of air pollution-related respiratory disorders.
Pemberdayaan Kader Tani Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Akibat Kerja Dan Kecelakaan Kerja Di Desa Tambaksari Kidul Sumbang Roestijawati, Nendyah; Hidayat, Zaenuri Syamsu; Burkon, Lily Kusumasita; Rahmawati, Indah; Dwi Laksana, Agung Saprasetya
Linggamas: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 2 (2025): Linggamas: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.linggamas.2025.2.2.13696

Abstract

Desa Tambaksari Kidul Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas merupakan desa dengan sebagian besar penduduknya adalah adalah petani, kelompok pekerja yang rentan terhadap penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja akibat pekerjaan dan paparan lingkungan kerja. Petani adalah kelompok pekerja informal yang belum memiliki jaminan kesehatan kerja. Untuk itu diperlukan peningkatan pemahaman mengenai kesehatan dan keselamatan kerja (K3) petani, agar perilaku salah dalam bekerja dapat dicegah secara mandiri. Pendekatan dilakukan pada kader tani sebagai agen perubahan pada kelompok tani. Kader tani berperan sebagai role model dan sekaligus sebagai penyuluh melalui kegiatan pelatihan. Metode pelaksanaan meliputi penyusunan modul dan media penyuluhan melalui focus group discussion, pelatihan dan pendampingan. Pelatihan dilakukan pada 30 orang petani perwakilan secara proporsional berdasarkan jumlah anggota dari 4 kelompok tani. Materi pelatihan meliputi kesehatan kerja, kecelakaan kerja dan pertolongan pertama, dan public speaking. Metode pelatihan dengan paran, diskusi dan role play. Pemateri adalah tenaga ahli K3 dari FK Unsoed, tenaga penyuluh pertanian dari Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas dan pakar komunikasi public. Evaluasi kegiatan dilakukan untuk menilai proses dan output kegiatan. Hasil evaluasi output didapatkan pengetahuan meningkat dari rata-rata 58 menjadi 63. Evaluasi proses didapatkan 57% peserta menilai materi sangat baik, waktu 43% sangat sesuai, penyampaian 57% sangat menarik. Pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kader untuk melakukan penyuluhan pada anggota kelompok tani.
Carpal Tunnel Syndrome Risk: Impact of Work Duration on Farmers Roestijawati, Nendyah; Fakih, Mohammad; Yuliani, Massita Dwi; Firinda, Rizma Haidif; Dafaulhaq, Ahmad Fawwaz
Medical and Health Journal Vol 5 No 1 (2025): August
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mhj.2025.5.1.14829

Abstract

Farmers, as an informal work group, are at high risk of occupational diseases, including Carpal Tunnel Syndrome (CTS). This study analyzes the relationship between work duration and suspected CTS incidence among farmers in Linggasari Village, Kembaran District, Banyumas Regency.An observational study was conducted on 72 farmers using interview methods, physical examinations, and CTS provocation tests. Data were analyzed bivariately using Chi-Square statistical testing. Of 72 respondents, 26 (36.11%) were suspected of having CTS, with 16 (61.54%) having work duration exceeding 52,320 hours. Among 46 respondents not suspected of CTS, 13 (28.26%) had work duration less than 52,230 hours. Statistical analysis revealed a p-value of 0.006 (p < 0.05), indicating a significant relationship between work duration and suspected CTS incidence. A statistically significant correlation exists between work duration and suspected CTS among farmers.
Sosialisasi Peningkatan Ketahanan Kesehatan di Era Transisi Pandemi Ke Endemi Covid-19 Melalui Revitalisasi Posbindu “Mugi Waras” Kelurahan Rejasari Kecamatan Purwokerto Barat Wibowo, Yudhi; Roestijawati, Nendyah; Mulyanto, Joko; Krisnansari, Diah; Munfiah, Siti; Saraswati, Metta
Linggamas: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 2 (2024): Linggamas: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.linggamas.2024.1.2.10283

Abstract

Meskipun status telah menjadi endemik, namun covid-19 masih ada dan akan tetap menjadi risiko tinggi bagi masyarakat yang memiliki komorbid. Kelompok paling rentan adalah kelompok usia lanjut dan penderita penyakit komorbid seperti hipertensi, kanker, diabetes dan penyakit paru kronik yang merupakan penyakit tidak menular (PTM). Pandemi covid-19 telah menyebabkan 159.379 kematian dan 83% yang meninggal berusia >45 tahun dan komorbid per tanggal 21 November 2022. Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM merupakan bentuk peran serta masyarakat dalam upaya pengendalian faktor risiko secara mandiri dan berkesinambungan. Metode palaksanaan dengan penyuluhan dan dilakukan pre dan pos tes. Rerata usia peserta pengabdian adalah 42 tahun, 72,7% berjenis kelamin perempuan dan 63,6% merupakan kader. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,038 artinya terdapat perbedaan signifikan secara statistik antara rerata skor pengetahuan sebelum dan setelah penyuluhan dan menunjukkan nilai p = 0,004 artinya terdapat perbedaan signifikan secara statistik antara rerata skor sikap sebelum dan setelah penyuluhan. Penyuluhan terbukti meningkatkan pengetahuan tentang program posbindu dan sikap positif untuk melakukan upaya pencegahan dengan deteksi dini.