Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan Personal Hygiene dan Sanitasi dengan Infeksi Soil Transmitted Helminths pada Anak Usia Sekolah Dasar disekitar TPA sarah paramita saskyarasmi; Octavia Permata Sari; Siti Munfiah
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia Vol 1 No 1 (2021): JPTI - Januari 2021
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpti.8

Abstract

Infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) termasuk dalam “neglected tropical infectious disease”. Prevalensi infeksi STH tertinggi didapatkan pada anak usia sekolah dasar. Terdapat berbagai faktor yang dihubungkan dengan tingginya kejadian infeksi STH pada anak usia sekolah dasar seperti, personal hygiene dan sanitasi yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan personal hygiene dan sanitasi dengan infeksi STH pada anak usia sekolah dasar di sekitar TPA. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dengan cara mengkaji 25 artikel yang telah terpilih sesuai kriteria yang ditentukan. Pencarian artikel dilakukan pada mesin pencari elektronik Google Scholar dan Directory of Open Access Journal menggunakan kata kunci, yaitu : Soil Transmitted Helminths, personal hygiene, sanitasi, anak usia sekolah dasar dan lingkungan TPA. Prevalensi infeksi STH pada anak usia sekolah dasar di sekitar TPA ditemukan 17,3%-24,8%. Sedangkan prevalensi infeksi STH pada anak usia sekolah dasar yang tidak tinggal di sekitar TPA ditemukan 6,8%-48,32%. 8 dari 11 penelitian menemukan adanya hubungan bermakna antara personal hygiene dengan infeksi STH pada anak usia sekolah dasar. 2 dari 4 penelitian menemukan adanya hubungan bermakna antara sanitasi dengan infeksi STH pada anak usia sekolah dasar. Daerah TPA berdampak pada kesehatan dan dapat menyebabkan berbagai penyakit salah satunya kecacingan. Beberapa literatur menunjukkan adanya hubungan bermakna antara personal hygiene dan sanitasi dengan infeksi STH pada anak usia sekolah dasar.
Hubungan antara Kecacingan dengan Status Gizi pada Siswa Sekolah Dasar Yusrina Nika Amalia; Octavia Permata Sari; Siti Munfiah
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia Vol 1 No 2 (2021): JPTI - Februari 2021
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpti.12

Abstract

Kecacingan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit berupa cacing yang salah satu penularannya melalui tanah. Kecacingan lebih sering terjadi pada anak usia sekolah dasar. Kecacingan dapat menjadi salah satu penyebab defisiensi zat gizi pada anak. Asupan gizi yang tidak memadai secara kronik dapat menjadi penyebab stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecacingan dengan status gizi pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dengan cara mengkaji 20 artikel yang telah terpilih sesuai kriteria yang ditentukan. Pencarian artikel dilakukan pada mesin pencari elektronik Google Scholar, Portal Garuda dan Directory of Open Access Journal menggunakan kata kunci, yaitu: kecacingan, infeksi cacing, status gizi, siswa sekolah dasar. Prevalensi kecacingan pada siswa sekolah dasar ditemukan bervariasi didapatkan prevalensi kecacingan antara 2,6%-79,7%. Pada pemeriksaan status gizi didapatkan lebih banyak respondennya dikategorikan normal atau baik. Terdapat hubungan bermakna antara kecacingan dengan status gizi siswa sekolah dasar pada beberapa jurnal.Terdapat hubungan bermakna antara kecacingan dengan status gizi siswa SD menurut IMT/U pada 4 penelitian, BB/U pada 1 penelitian, dan TB/U pada 2 penelitian.
Sosialisasi Peningkatan Pengetahuan dan Praktik Pencegahan dan Penanggulangan Covid-19 Di Kelurahan Rejasari, Purwokerto Barat Yudhi Wibowo; Nendyah Roestijawati; Joko Mulyanto; Dyah Krisnansari; Siti Munfiah; M Fikri Marhadhani; Machfira Bulantrisna
The Journal of Innovation in Community Empowerment Vol 4 No 1 (2022): Journal of Innovation in Community Empowerment (JICE)
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/jice.v4i1.663

Abstract

ABSTRAK Per tanggal 21 November 2020, di Kabupaten Banyumas, tercatat 1.341 kasus dan 43 kasus kematian. Di Kec. Purwokerto Barat tercatat 64 kasus dan di Rejasari tercatat 13 kasus dengan kematian 2 orang. Kelurahan Rejasari berada di Kecamatan Purwokerto Barat, terdiri dari 9 RW dan RW 3 merupakan kantong masyarakat tidak mampu yaitu 263 KK dari 391 KK termasuk keluarga pra-sejahtera. Upaya memutus rantai penularan covid-19 melalui 3M. Pengetahuan dan sikap masyarakat sangat mempengaruhi kepatuhan terhadap upaya pencegahan dan pengendalian covid-19. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahun dan praktik pencegahan dan penangulangan covid-19. Metode dengan penyuluhan, simulasi dan praktik menggunakan masker dan cuci tangan menggunakan hand sanitizer yang benar sesuai ketentuan. Hasil uji Firedman dan Post Hoc Wilcoxon didapatkan peningkatan pengetahuan sebelum penyuluhan dibandingkan setelah penyuluhan, evaluasi 1 dan 2 serta berbeda signifikan secara statistik (p=0,005, p=0,032 dan p=0,043). Untuk sikap tidak berbeda signifikan secara statistik sebelum penyuluhan dengan setelah penyuluhan, evaluasi 1 dan 2 (p=0,393) dengan uji Friedman. Implikasinya bahwa penyuluhan meningkatkan pengetahuan peserta tentang covid-19. Simpulan bahwa masyarakat perlu diberi penyuluhan dan role model disiplin protokol kesehatan.
PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU MAHASISWA KEDOKTERAN DAN KESEHATAN TERHADAP SKRINING GENETIK DAN PREMARITAL DI KABUPATEN BANYUMAS Nouval Keandre; Lantip Rujito; Siti Munfiah
Medical and Health Journal Vol 1 No 1 (2021): August
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.043 KB) | DOI: 10.20884/1.mhj.2021.1.1.4670

Abstract

Genetic screening is a complex procedural genetical test to understand the potential genetical risk that someone might have been possessed. Screening procedure which is conducted before a couple got married is called premarital screening. Screening behavior is influenced by many factors, including predisposition, enabling, and reinforcing factors. As a healthcare provider, medical and health students must support the personal medicine concept by increasing their knowledge, attitude, and behavior. The aim of this research is to understand the relationship between knowledge level with attitude, knowledge level with behavior, and attitude with behavior among medical and health students in genetic and premarital screening. A cross-sectional study was conducted among 379 medical and health students at their first, second, and third-year (2020, 2019, and 2018) study in Banyumas Regency, selected with proportional random sampling technique. Datas were collected using Knowledge, Attitude, and Behavior in Genetic and Premarital Screening among Medical and Health Students in Banyumas Regency Questionnaire. The hypothesis was analyzed using Fisher correlation. The p-value of the Fisher correlation analysis between knowledge and attitude (p = 0,060), knowledge and behavior (p = 1,000), and attitude and behavior (p = 1,000). Participants knowledge level are at good category (75,46%) and have positive attitude (99,47%). Most of the participants’ behavior had never done genetic or premarital screening (99,47%). There was no relationship between knowledge level and attitude, knowledge level and behavior, and also attitude and behavior (p<0,05). Keywords: Attitude, Behavior, Genetic Screening, Medical and Health Students Knowledge Level, Premarital Screening
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PENYINTAS COVID-19 DI DESA KARANGNANAS KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAH Sandya Apsariane Akmilia; Rahmawati Wulansari; Siti Munfiah
Medical and Health Journal Vol 2 No 2 (2023): February
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.613 KB) | DOI: 10.20884/1.mhj.2023.2.2.8226

Abstract

Latar Belakang: Pandemi COVID-19 berpengaruh pada kesehatan psikologis masyarakat termasuk kecemasan. Kecemasan dapat menimbulkan dampak fisik termasuk penurunan tingkat imunitas tubuh. Hal ini akan menimbulkan adanya reinfeksi COVID-19 pada penyintas Tujuan: Untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan penyintas COVID-19 di Desa Karangnanas Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Metode Penelitian: Rancangan penelitian deskriptif kategorik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel penelitian adalah 63 pasien post-COVID-19 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan consecutive sampling. Data diperoleh dari hasil pengukuran menggunakan kuesioner data pribadi responden dan Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) untuk tingkat kecemasan. Analisis univariat digunakan untuk menjelaskan karakteristik gambaran deskriptif responden dari setiap variabel yang diukur dalam penelitian ini. Hasil: Sebanyak 31 responden (49,2%) berusia < 40 tahun dan 32 responden (50,8%) berusia ≥ 40 tahun. Sebanyak 20 responden (31,7%) berjenis kelamin laki – laki dan 43 responden (68,3%) berjenis kelamin perempuan. Pendidikan terakhir tidak tamat SD 0 responden (0%), SD/Sederajat 19 responden (30,2%), SMP/Sederajat 14 responden (22,2%), SMA/Sederajat 22 responden (34,9%), dan Akademi/Perguruan tinggi 8 responden (12,7%). Jenis pekerjaan tidak bekerja 2 responden (3,2%), Ibu rumah tangga 25 responden (39,7%), petani dan buruh 14 responden (22,2%), wirausaha 13 responden (20,6%), dan PNS 9 responden (14,3%). Pernah rawat inap 18 responden (28,6%) dan tidak pernah rawat inap 45 responden (71,4%). Terinfeksi COVID-19 1 kali sebanyak 54 responden (85,7%) dan > 1 kali sebanyak 9 responden (14,3%). Sudah vaksin COVID-19 sebanyak 62 responden (98,4%) dan belum vaksin COVID-19 sebanyak 1 responden (1,6%). Kesimpulan: Mayoritas responden mengalami kecemasan sebanyak 36 responden (57,1%) yang terdiri dari kecemasan ringan sebanyak 17 responden (27%), kecemasan sedang sebanyak 10 responden (15,8%), kecemasan berat sebanyak 8 responden (12,7%), dan kecemasan berat sekali sebanyak 1 responden (1,6%). Mayoritas berusia ≥ 40 tahun, 32 responden (50,8%) mengalami kecemasan sebanyak 18 responden (56,2%). Mayoritas perempuan, 43 responden (68,3%) mengalami kecemasan sebanyak 24 responden (55,8%). Mayoritas pendidikan terakhir SMA/Sederajat, 22 responden (34,9%) mengalami kecemasan 13 responden (59,1%). Mayoritas jenis pekerjaan ibu rumah tangga, 25 responden (39,7%) mengalami kecemasan 15 responden (60%). Mayoritas tidak pernah rawat inap, 45 responden (71,4%) mengalami kecemasan 27 responden (60%). Mayoritas responden pernah terinfesi COVID-19 1 kali, 54 responden (85,7%) mengalami kecemasan sebanyak 31 responden (57,4%).
DISTRIBUSI SPASIAL KUALITAS AIR TANAH DAN DESKRIPSI PENYAKIT YANG BERKAITAN DENGAN AIR DI DESA BRINGKENG, KECAMATAN KAWUNGANTEN, KABUPATEN CILACAP Siti Munfiah; Hajid Rahmadianto Mardihusodo; Tirta Wardana; Yudhi Wibowo; Joko Mulyanto
Medical and Health Journal Vol 2 No 2 (2023): February
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.431 KB) | DOI: 10.20884/1.mhj.2023.2.2.8361

Abstract

Access to clean water is fundamental for the population health, but for many rural and remote areas in Indonesia include Cilacap Regency those accesses are still limited. Furthermore, studies that assess the water quality in remote and rural areas in Indonesia are still lacking. Most of the people in Cilacap regency use dug wells and ponds as sources of clean water. Preliminary observations indicate that well and pond water smells fishy, reddish-yellow, or brownish. This condition indicates high iron levels. The test results showed that the iron content exceeded the standard in the pond in Sumbereja Hamlet, RT 03 RW 02, which was 9.8 mg/l (standard quality of 1 mg/l). This study aims to determine the spatial distribution of the water quality and the health-related problems in the rural areas of Cilacap Regency, Central Java, Indonesia. This was a descriptive observational study with a cross-sectional approach. We purposely sampled 40 wells and ponds located in Bringkeng Village, Cilacap Regency, Indonesia and assess the water quality by measuring the level. The results showed the lowest and the highest level of TDS (125.90-5090 mg/l), color (40 -2047 TCU), iron (0.16-6.45 mg/l), manganese (<0.1- 3.61 mg/l). Health problems experienced by respondents and or their families during the last three months, namely 3 people with diarrhea, 7 people with diabetes, 12 people with gout arthritis, 10 people with hypertension, 1 person with nervous system disorders, and 7 people with dry skin disorders/scaly. All dug wells and ponds did not meet the quality standards based on TDS, color, iron, and manganese levels. Water from dug wells and ponds needs special treatment to obtain water that is suitable for hygiene and sanitation purposes.
HELMINTHIASIS DAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI CIBEREM, SUMBANG, KABUPATEN BANYUMAS Octavia Permata Sari; Lieza Diwianasari Susiawan; Nafiisah Nafiisah; Siti Munfiah
Mandala Of Health Vol 13 No 2 (2021): Mandala Of Health
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mandala.2021.13.2.8804

Abstract

Salah satu infeksi tropis yang sering diabaikan adalah kecacingan. Infeksi yang dijumpai di daerah tropis ini dapat berdampak pada status gizi anak yang jika diabaikan berpotensi mempengaruhi prestasi akademik anak tersebut. Sebagai salah satu desa di bagian utara Kabupaten Banyumas, masyarakat desa Ciberem bermatapencaharian utama sebagai pemasok bahan baku media tanam. Aktivitas mencampur tanah dengan pupuk kandang jika tidak dibarengi dengan kebersihan diri yang baik seperti pada anak, akan berpotensi menyebabkan infeksi cacing khususnya spesies yang siklus hidupnya melalui media tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi kecacingan di desa Ciberem, Sumbang, Kabupaten Banyumas dan mengetahui hubungan antara kecacingan dengan status gizi anak usia sekolah dasar di Ciberem. Keberadaan telur Soil Transmitted Helminths (STH) diamati melalui pemeriksaan kualitatif, sedangkan status gizi anak dihitung melalui pemeriksaan antropometri. Hubungan antara kecacingan dan status gizi diuji dengan Fisher Exact Test. Prevalensi kejadian kecacingan pada anak usia sekolah dasar di desa Ciberem, Sumbang, Kabupaten Banyumas adalah 14,1% dengan variasi spesies yakni Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan Hymenolepis sp. Pada penelitian ini tidak ditemukan hubungan antara kecacingan dengan status gizi pada anak usia sekolah dasar di Ciberem, Sumbang, Kabupaten Banyumas.
The Levels of Cholinesterase Enzyme and Hemoglobin in Linggasari Village’s Farmers Siti Munfiah; Yudhi Wibowo; Octavia Permata Sari; Diah Krisnansari; Muhammad Zaenuri Syamsu Hidayat
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 18, No 4 (2023)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v18i4.40451

Abstract

Farmers in Linggasari Village often mix pesticides, did not use pesticides that follow the dose, did not use PPE completely, eat, drink or smoke did not clean themselves after spraying. Some types of pesticides can reduce cholinesterase enzyme and hemoglobin levels. The study aimed to analyze the factors that correlated with cholinesterase enzyme and hemoglobin levels of spraying farmers. This was a cross-sectional study conducted from March to April 2022. The population of this study was all farmers who use pesticides, as many as 30 farmers qualify the inclusion criteria, namely male spraying farmers aged over 18 years, the maximum last contact time with pesticides was two months before the study was conducted. The independent variables were age, BMI, working period, frequency of spraying, duration of spraying, and PPE usage score. The dependent variables included cholinesterase and hemoglobin levels. Bivariate analysis was assessed with Pearson Correlation Test or Spearman Correlation Test, while multivariate analysis used linear regression. The results showed that age (p=0,032, r=0,391) and BMI (p=0,036, r= 0,385) correlated with cholinesterase enzyme, and age (p=0,000, r=0,615) correlated with farmers' hemoglobin levels. The results of multivariate analysis that the most influential factor on cholinesterase enzyme and hemoglobin levels was age.
Kualitas Fisik dan Kimia Air Sumur Gali dan Sumur Bor di Wilayah Kerja Puskesmas Guntur II Kabupaten Demak Siti Munfiah; Nurjazuli Nurjazuli; Onny Setiani
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 12, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.12.2.154 - 159

Abstract

Background: Preliminary study results of dug well in Sidokumpul obtained that color levels is 56 TCU, totalhardness is 998 mg/l, manganese is 5.26 mg/l, sulphate is 980 mg/l and organic matter is 14.85 mg/l. The resultsof bore well water in Blerong showed sulphate levels is 414.63 mg/l. All of these parameters have exceeded thequality standard of water.Method: This was an observational research with cross sectional design. Sampling was done by purposivesampling. The number of samples were 40 wells consist of 20 dug wells and 20 bore wells. Bivariate analysis usedSPSS and multivariate analysis used SEM VPLS.Result: The results of this research showed the distance of pollutant sources with the wells, the amount of pollutantsources, the physical condition of wells, and types of wells were significantly related to the levels of color, totalhardness, manganese, pH and organic matter of well water (t statistic value is 14.292). Well water quality of52,6% can be explained by environmental factorsConclusion: A total of 20 dug wells (100%) with the water quality that does not qualify as clean and drinkingwater. A total of 12 bore wells (60%) with the water quality that does not qualify as clean water. A total of 19 borewells (95%) with the water quality that does not qualify as drinking water.Key words: Water quality, dug wells, bore wells
Sosialisasi Peningkatan Pengetahuan dan Praktik Pencegahan dan Penanggulangan Covid-19 Di Kelurahan Rejasari, Purwokerto Barat Wibowo, Yudhi; Nendyah Roestijawati; Joko Mulyanto; Dyah Krisnansari; Siti Munfiah; M Fikri Marhadhani; Machfira Bulantrisna
The Journal of Innovation in Community Empowerment Vol 4 No 1 (2022): Journal of Innovation in Community Empowerment (JICE)
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/jice.v4i1.663

Abstract

ABSTRAK Per tanggal 21 November 2020, di Kabupaten Banyumas, tercatat 1.341 kasus dan 43 kasus kematian. Di Kec. Purwokerto Barat tercatat 64 kasus dan di Rejasari tercatat 13 kasus dengan kematian 2 orang. Kelurahan Rejasari berada di Kecamatan Purwokerto Barat, terdiri dari 9 RW dan RW 3 merupakan kantong masyarakat tidak mampu yaitu 263 KK dari 391 KK termasuk keluarga pra-sejahtera. Upaya memutus rantai penularan covid-19 melalui 3M. Pengetahuan dan sikap masyarakat sangat mempengaruhi kepatuhan terhadap upaya pencegahan dan pengendalian covid-19. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahun dan praktik pencegahan dan penangulangan covid-19. Metode dengan penyuluhan, simulasi dan praktik menggunakan masker dan cuci tangan menggunakan hand sanitizer yang benar sesuai ketentuan. Hasil uji Firedman dan Post Hoc Wilcoxon didapatkan peningkatan pengetahuan sebelum penyuluhan dibandingkan setelah penyuluhan, evaluasi 1 dan 2 serta berbeda signifikan secara statistik (p=0,005, p=0,032 dan p=0,043). Untuk sikap tidak berbeda signifikan secara statistik sebelum penyuluhan dengan setelah penyuluhan, evaluasi 1 dan 2 (p=0,393) dengan uji Friedman. Implikasinya bahwa penyuluhan meningkatkan pengetahuan peserta tentang covid-19. Simpulan bahwa masyarakat perlu diberi penyuluhan dan role model disiplin protokol kesehatan.