Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Transformasi Unsur Fisik Pembentuk Sumbu di dalam Alun-Alun Terhadap Kompleks Pemerintah di Jawa Malonda, Ayesha Aramita; Kusliansjah, Yohanes Karyadi
RUAS (Review of Urbanism and Architectural Studies) Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : RUAS (Review of Urbanism and Architectural Studies)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2921.345 KB) | DOI: 10.21776/ub.ruas.2018.016.01.4

Abstract

In the past, Alun-alun is united with the Keraton complex and present in an axis. The physical elements which forms an axis in Alun-alun are the two banyan trees that form the orientation towards the government complex (Keraton). As the development progresses, Alun-alun is revitalized to adjust current cultural conditions and to improve the quality of the Alun-alun's hall as the city's identity. This research aimed to determine the representation of physical elements which formed an axis in Alun-alun towards the government complex. Habraken's theory on the physical order was considered adequate to dissect the physical elements which formed Alun-alun and lead to the conclusion of this research. Matters that needs to be identified to reach the interpretation stage were identifying levels in nominal classes, namely major arteries, roads, building elements, partitioning, furniture, bodies and utensils. The results indicated that the axis of Alun-alun towards the current government complex was indicated by the physical form of locating the furniture in one axis, forming the pathways, the hardening of soil at the main entrance area and the addition of gates inside Alun-alun. The conclusion of this research was that in the past, the axis of Alun-alun towards the government complex was formed by the belief and symbolic meanings of its cultural life. Currently the axis was formed from the physical element of complementary facilities or infrastructure of economic and social activities as a representation of the axis in Alun-alun towards the government complex.
NILAI ARSITEKTUR DALAM PENGGOLONGAN PELESTARIAN BANGUNAN KOLONIAL STUDI KASUS : GEDUNG KARESIDENAN BOGOR Citra Eka Putri; Yohanes Karyadi Kusliansjah; Harastoeti Dibyo Hartono
Riset Arsitektur (RISA) Vol 6 No 02 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v6i02.5724.111-127

Abstract

Abstract - The Bogor Karesidenan Building is one of the colonial architectural heritage buildings located around the Bogor Palace and Botanical Gardens. Registered as one of the cultural heritage buildings of the 24 buildings that have been determined by the Mayor of Bogor based on PERMENBUDPAR NO. PM.26/PW.007/MKP/2007. This building is located in a government and service trade area, causing many modern buildings to be built around the Bogor Karesidenan Building in line with the development of Bogor City. Changes that exist in cultural heritage buildings as a form of adaptation to these developments cannot be avoided, especially in existing colonial heritage buildings. There has not been a classification in the Bogor City Regional Regulation, so efforts to maintain the authenticity of cultural heritage buildings will be difficult where class classification is very important in the context of building conservation. One of the efforts that can be done to prevent these changes is to determine the classification of preservation in the Bogor Karesidenan Building. This study aims to identify and analyze the shape of the architectural visual and spatial character by looking at the shape of the elements in the building to determine the classification of building preservation. This research is a form of qualitative research using descriptive data analysis methods, comparative methods to compare the forms of existing building elements and classification methods to determine the classification of building preservation. From the results of a descriptive analysis of the spatial elements and visual elements of the building, the Bogor Karesidenan Building is included in the Class A building, because the assessment of the authenticity of the building is more dominant than the assessment of changing elements. This research is only limited to architectural values ​​that become architectural data, as for determining this building to be classified as a cultural heritage building, a similar academic study is needed from other aspects related to structural, mechanical and electrical data and environmental planning. Keywords: preservation, classification, cultural heritage, Bogor Karesidenan Building
TRANSFORMASI ARSITEKTUR KOTA PADA ELEMEN KANAL KOTA BANJARMASIN - KALIMANTAN SELATAN Karyadi Kusliansjah
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2011)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.243 KB)

Abstract

Kota Banjarmasin merupakan ibu kota Propinsi Kalimantan Selatan yang menjadi salah satu dari 10 kota gementte yang dikembangkan pemerintahan kolonial Belanda. Kota Banjarmasin terkenal sebagai kota air, dengan sebutan “kota seribu sungai”. Kota tumbuh pada tepi sungai Barito dan dibelah menjadi dua bagian oleh sungai Martapura yang. Sejumlah anak sungai bermuara kepada kedua sungai ini. Kelandaian sebagian permukaan kontur tanah menyebabkan bentuk aliran sungai berliku-liku dari hulu hingga ke hilirnya. Hal ini secara fisik-spasial mempengaruhi pembentukan lingkungan binaan baik arsitektur maupun perkembangan arsitektur kotanya. Kondisi fisik kota berada 0,16 m di bawah permuka air laut, mengakibatkan pasang laut masuk membanjiri kawasan kota, khususnya menjadi rutin pada kawasan tepian sungai. Upaya mengatasi permasalahan ini sudah tercatat sejak lama pada peta kota tahun 1700-1945. Era pemerintahan kolonial Belanda tahun 1890, Kota Banjarmasin dikembangkan sebagai kota Kanal, yaitu elemen parit kota yang dibangun untuk memperlancar dan mempercepat pengaliran air sungai (disebut Anjir dalam bahasa Banjar). Sejumlah kanal dibangun dan diantaranya ada 10 kanal ditempatkan dikawasan pusat kota, yang merupakan sodetan pada lekukan sungai atau meluruskan aliran sungai. Dari penelitian sebelumnya ditemukan 5 tipe ragam kanal yang di kembangkan pada pusat Kota Banjarmasin.Sejarah kota mencatat perkembangan pesat pola fisik maupun pola sosial Kota Banjarmasin. Sejumlah faktor telah mempengaruhinya, baik internal, seperti kebijakan politik, ekonomi, sosial-budaya maupun faktor pengaruh eksternal pada hulu dan hilir sungainya. Secara fisik-spasial kota telah mengalami transformasi arsitektur kota sepanjang sejarahnya hingga kini. Transformasi arsitektur kota masa sekarang cenderung merubah wajah kota air jauh menjadi serupa tatanan kota darat, terutama pada lingkungan tepian sungai dan kanal Kota Banjarmasin. Sungai maupun kanal kota cenderung menjadi backyard bangunan ditepiannya yang tumbuh rapat, menyempit dan mengganggu fungsi daya dukung pengaliran airnya. Akibat logis kawasan kota menjadi langganan banjir genangan bila pasang naik.Penelitian ini merupakan upaya akademik merekam pengaruh transformasi arsitektur kota tersebut, yang bertujuan untuk:1.Mengkaji tentang faktor penyebab transformasi arsitektur kota pada elemen kanal Kota Banjarmasin yang dikembangkan era pemerintahan kolonial Belanda dan kondisinya sekarang.2.Mempelajari dan mengali informasi tentang sistem elemen kanal Kota Banjarmasin yang dikembangkan oleh pemerintah kolonial Belanda.3.Mengkaji permasalahan yang ditimbulkan dari transformasi arsitektur Kota Banjarmasin sekarang.4.Mengusulkan pertimbangan solusi bagi masukan perkembangan kebijakan tata ruang arsitektur Kota Banjarmasin.Cakupan hasil penelitian ini berguna untuk memperluas wawasan arsitektur kota tepian air [urban waterfront], dan bermanfaat sebagai informasi untuk pengembangan perencanaan/perancangan arsitektur.maupun arsitektur kota sungai.Studi figur-ground terhadap transformasi kota dan arsitektur kota kanal menjadi dasar pendekatan teoritikal penelitian ini. Metode penelitian berbasis pada kualitatif- interpretatif sejarah kota. Untuk membaca transformasi arsitektur kota, lokasi penelitian dilakukan pada elemen kanal-kanal kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang direncanakan selesai selama 5-6 bulan,Keywords: Transformasi Arsitektur kota, Elemen kanal kota, kota Banjarmasin - Kalimantan Selatan
STRUKTUR PESISIR (WATERFRONT) KOTA CIREBON - JAWA BARAT Studi Kasus:Telaah Morfologi kawasan Pesisir Kelurahan Panjunan, Lemahwungkuk, Kasepuhan, Kasunean - Kota Cirebon. Karyadi Kusliansjah; Adam Ramadhan
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7568.712 KB)

Abstract

Tujuannya penelitian ini berupaya mengkonseptualisasikan struktur kota lama danpengembangan struktur baru pesisir kota Cirebon di masa sekarang. Penelitian ini, mengkaji strukturkota(jalan,sungai,kanal,pantai) sebagai bagian morfologi pembentuk kota Cirebon danmenstrukturisasikan pola pengembangan kawasan pesisir kota ini sebagai waterfront city.Peran kota Cirebon sekarang sebagai ibukota kabupaten Ciebon di Jawa Barat. Kota inidilintasi oleh jalur Pantura dan berbatasan dengan Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengkadan Kabupaten Kuningan dan Propinsi Jawa Tengah. Letak kota secara geografis pada koordinat108° 33´ BT dan 6° 42´ LS. sebagai dataran rendah dengan luas wilayah pantai ±3.810 Ha.Sedimentasi telah menambah luas wilayah administrasi kota, diperkirakan hingga menjadi ± 75 ha.Sejarah mencatat kota ini telah dikenal dari 622 tahun lalu sebagai kota bandar terbukasampai kekawasan Asia Tenggara dengan pelabuhan Muara Jati di pesisir pantai laut Jawa danmenjadi pusat kerajaan dan penyebaran Islam terutama di wilayah Jawa Barat (1479).Morfologi kota Cirebon tidak terlepas dari perkembangan peran ketiga Kesultanan di kotaini, yaitu: Kesultanan Kasepuhan, Kesultanan Kanoman, dan Kesultan Kaceribonan. Pengaruhperdagangan antar bangsa hingga kolonial Belanda (1596) turut menentukannya, maupun intervensikekuasaan yang merubah status pemerintahan kota Cirebon dari disahkannya menjadi GemeenteCheribon (1926), dirubah menjadi Kota Praja (1957), kemudian ditetapkan sebagai Kotamadya(1965) hingga sekarang menjadi Kota Cirebon.Pertumbuhan terencana struktur kota lama signifikan terjadi di era penjajah Belanda, yangmengintervensi struktur awal berbasis lintasan-lintas lokal tradisional. Pembangunan jaringan jalanDe Groote Postweg (1808-1811) dan jalur kereta api menghubungkan beberapa kota di pulau Jawajuga melintas kota Cirebon. Kebijakan ini memicu peran kota menjadi kota transit dan berpengaruhpula bagi pertumbuhan industri dan perdagangannya. Peran pelabuhan Cirebon masa sekarangsangat penting mendukung kota-kota di Jawa Barat, disamping adanya jalan Pantura yangmelintasinya, menjadikan peran Cirebon berkembang sebagai kota dagang, kota transit dan kotawisata kesejarahan. Dinamika perkembangan ini menuntut tersedianya ruang penunjang bagikebutuhan kota yang terpadu dengan struktur kota lama.Permasalahan fisik spasial kota di era kebijakan otonomi daerah masa sekarang adalahkendala luas kota Cirebon, yang dibatasi oleh wilayah kabupaten tetangganya maupun pesisir lautJawa. Akibatnya peluang perkembangan tata ruang kota perlu dikonsepkan secara vertikal dan atauhorisontal kearah laut, yaitu mengembangkan potensi dan strukturisasi dataran rendah pesisir yangterbentuk oleh sedimentasi.Diperlukan beberapa penelitian yang memberi dasar kelayakan pelaksanaan konsepsi diatas,diantaranya adalah penelitian struktur (urban path)pesisir kota ini, pada sample kawasan KelurahanPanjunan, Lemahwungkuk, Kasepuhan, Kasunean - Kota Cirebon. Penelitian morfologi kota inidilaksanakan pada bulan Agustus–Desember 2012 dan menjadi bagian dalam roadmap penelitianurban architecture waterfront di Indonesia. Metoda penelitian ini berbasis kualitatif- interpretatif.Hasil penelitian ini bermanfaat bagi tatar akademik untuk memperluas wawasan lokalitas arsitekturkota tepian air [urban waterfront], menggali informasi dan kontribusi bagi tataran praktek untukpengembangan pembangunan kota Cirebon menuju New Waterfront City di masa depan.Keywords: Elemen Urban Path, Struktur dan Arsitektur Kota, Pesisir Kota, Cirebon
ADAPTASI KOLAM PAKAR TAHURA IR. H. DJUANDA SEBAGAI ARENA RUANG PUBLIK KOTA BANDUNG Karyadi Kusliansjah; Giosia Pele Widjaja; Yosua Wiranata; Muhammad Riyan
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3909.353 KB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji kebutuhan dan potensi Tahura Ir.H.Djuanda maupun kota Bandung agar terjadi adaptasi dan peningkatan kualitas tata ruang lingkungan yang ekologis secara sinergis; antar kedua kepentingan tersebut dalam batas-batas yang memungkinkan sesuai peraturan konservasi hutan lindung. sebagai wadah penelitian untuk pengembangan kepentingan ilmu pengetahuan dan pendidikan lingkungan hidup (eco learning), hingga wisata alam bagi masyarakat luas.Potensi Tahura Ir.H.Djuanda sebagai kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi dengan luas 529 hektar terletak di Utara kota Bandung, secara spesifik mempunyai koleksi tanaman hutan campuran dengan berbagai macam keanekaragaman hayati, serta menyimpan sejarah peradaban manusia sejak jaman Sunda Purba. Tahura ini memiliki peranan penting dalam mendukung kualitas ruang terbuka hijau(RTH) dan sumberdaya air (30% dari kapasitas kebutuhan) bagi pelayanan Kota Bandung.Kebutuhan Tahura adalah peningkatan kualitas layan dan pengelolaan potensinya sebagai sumberdaya alami bagi wilayah kota Bandung, wilayah Kabupaten Bandung maupun Kabupaten Bandung Barat. Balai Tahura Ir.H.Djuandapun selaku pengelola telah mencanangkan pencitraan baru di semua sektor pada tahun 2014-2018; dengan mengikutsertakan peran masyarakat dan pihak akademisi secara kemitraan, untuk melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di kawasan buffer zone maupun outter zone Tahura.Sedangkan kebutuhan yang menjadi salah satu kendala dihadapi kota Bandung adalah kekurangan arena ruang publik alami, yang dapat menyediakan wadah kegiatan refreshing bagi warga kota maupun pendatang; sekaligus bermanfaat untuk membangun wawasan tentang lingkungan alam.Tahura Ir. H. Djuanda dapat dijadikan pilihan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan tetap berpegang pada prinsip peraturan yang ada. Salah satu objek potensial yang berada di dalam kompleks Tahura Ir. H. Djuanda adalah Kolam Pakar; yang luasnya hampir 1 hektar dan sekarang berfungsi sebagai kolam pengendapan lumpur untuk air sungai Cikapundung yang menunjang PLTA Bengkok. Kondisi kualitas ruang kolam pakar sekarang jauh dari kualitas yang diharapkan dalam pencitraan baru Tahura Ir. H. Djuanda. Melalui kegiatan ini, Kolam Pakar yang kualitasnya tercemar akan diteliti kondisi dan kelayakannya untuk dijadikan suatu arena ruang publik bagi warga Kota Bandung, melalui pendekatan sejarah kawasan dan SWOT Lingkungan.Keywords: Adaptasi, Kolam Pakar Tahura Ir. H. Djuanda, Arena Ruang Publik, Kota Bandung
JALAN DAN SUNGAI, KANAL SEBAGAI ELEMEN PEMBENTUK STRUKTUR KOTA SUNGAI BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN Karyadi Kusliansjah
Research Report - Engineering Science Vol. 1 (2012)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24947.707 KB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji jalan dan sungai, kanal sebagai elemen utama pembentuk struktur kota sungai Banjarmasin - Kalimantan Selatan. Secara geografis kota Banjarmasin terbentuk dari sedikitnya 25 buah“pulau” kecil yang dipisahkan oleh banyak sekali sungai sehingga “kota seribu sungai” menjadi sebutan bagi kota yang telah berusia 486 tahun ini. Kota ini tumbuh dan berkembang di tepi sungai besar Barito dan terbelah menjadi dua bagian oleh sungai Martapura serta sejumlah anak sungai lainnya yang bermuara pada kedua sungai ini. Kondisi fisik kota berada 0,16 m di bawah muka air laut, dan rutin tergenang akibat pengaruhi pasang surut (pasut), oleh gaya hidrodinamik sungai Barito. Konteks alam ini secara fisik-spasial mempengaruhi pembentukan lingkungan binaan baik arsitektur maupun perkembangan arsitektur kota sungai ini. Bentuk struktur kota Banjarmasin, tidak terlepas dari kehadiran sungai dan jalan sebagai elemen utama pembentuknya. Namun kini kota Banjarmasin telah menunjukkan gejala perubahan orientasi dalam perkembangan struktur kotanya dari karakter “kota sungai” menjadi “kota darat” seperti pada umumnya kotakotadi Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk (1).Menemukenali unsur, bentuk dan pola dasar (generic) struktur kota Banjarmasin yang ditentukan oleh jalan dan sungai sebagai unsur utama pembentuknya, (2).Faktor-faktor apa yang mempengaruhi terjadinya perubahan orientasi perkembangan struktur kota serta (3).Bagaimana pengaruh jalan dan sungai sebagai elemen pembentuk struktur kota terhadap arsitektur kota Banjarmasinpada umumnya. Penelitian tentang struktur kota Banjarmasin ini dilakukan melalui pendekatan urban morfologi dengan metoda kualitatif-interpretatif. Kajian struktur kota Banjarmasin ini dilakukan melalui tinjauan historis, morfologis dan tipologis. Temuan dari penelitian ini adalah: (1).Pola dasar (generic) struktur kota, dapat diidentifikasikan dengan mengenali ”konstitusi” dari ”elemen dasarpembentuknya” (basic type). (2).Sekurangnya ada 4 faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan orientasi struktur kota, (3).Jalan dan sungai menentukan perbedaan dan kompleksitas struktur kota, dan ruang bagi arsitektur kota, Temuan dari hasil penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi dunia akademik yaitu memberikan kontribusi untuk memperluas wawasan arsitektur kota sungai (urban riverside) maupun dunia praktek yaitu sebagai informasi dan tool untuk penyusunan konsepsi pengembangan perencanaan / perancangan arsitektur maupun arsitektur kota sungai yang mengkondisikan citra sinergis antara urban path space dan urban place. Keyword: Jalan dan sungai, Struktur kota, Banjarmasin.
KONSEP PERANCANGAN INFRA STRUKTUR KOLAM PAKAR TAHURA IR. H. DJUANDA SEBAGAI ARENA RUANG PUBLIK KOTA BANDUNG (ECO LEARNING WATER PARK) Karyadi Kusliansjah; Giosia Pele Widjaja; Amirani Ritva; Kage Priatna
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2593.723 KB)

Abstract

Penelitian ini merupakan kelanjutan keikutsertaan peran Universitas Katolik Parahyangan sebagai pihak akademisi dalam melakukan pengabdian kepada masyarakat secara kemitraan bersama Balai Tahura Ir.H.Djuanda dan Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup. Pengabdian ini berguna mendukungpencitraan baru Tahura di semua sektor layanan dan kualitas tata ruang sarana Tahura baik bagi kepentingan Tahura Ir. H. Djuanda pada tahun 2014-2018,dan merupakan bagian dari rencana jangka panjang tahun 2014-2044 menuju World Heritage Tropic Forest Park, berbasis eco learning. Kajianini mengambil objek Kolam Pakar yang merupakan kolam endapan lumpur yang berada di kawasan pintu masuk utama Tahura Ir.H.Djuanda, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas tata ruang lingkungan Tahura dengan buffer zone maupun outter zone-nya secara sinergis. Melalui metodaSWOT dan pendekatan teoritikal keseimbangan dan eko arsitektur, pencitraan baru digagas memperhatikan batas-batas yang memungkinkan secara peraturan konservasi hutan lindung,penyelenggaraan pendidikan lingkungan alam (eco learning), maupun sebagai arena ruang publik yang ikonik bagi kepentingan masyarakat luas khususnya bagi kota Bandung dan sekitarnya. Hasil penelitian ini berhasil merumuskan konsep dan kriteria perancangan infra struktur Kolam Pakar Tahura Ir. H. Djuanda sebagai arena ruang publik kota Bandung (Eco Learning Water Park); beserta rekomendasi yang berguna untuk pihak terkait melakukan pembangunan, pengelola kolam danlingkungannya.Kata Kunci: Pencitraan Baru, Kolam Pakar, Water park kota, Tahura Ir. H. Djuanda Bandung.
POLA INTERKASI SOSIAL DALAM PEMANFAATAN FASILITAS BERSAMA DI RUSUNAWA CIMAHI PADA ERA MEDIA SOSIAL Yohanes Karyadi Kusliansjah; Enrico Nirwan Histanto
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 2 No 2 (2017): Jurnal Idealog Volume 2 nomor 2
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v2i2.1222

Abstract

Rumah susun sederhana sewa (rusunawa) adalah salah satu alternatif solusi terhadap kebutuhan rumahyang layak huni bagi masyarakat khususnya di negara berkembang. Disamping masalah keterbatasan lahan,masalah biaya sewanya tetap menjadi masalah bagi beberapa golongan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).Terjadinya perubahan sifat perumahan dari pola konvensional yang bersifat horizontal ke arah vertikal tentuberdampak pada pola interaksi sosial penghuni di dalamnya dari sistem rumah yang bersifat individual(kepemilikan pribadi) menjadi lebih sosial karena kepemilikan fasilitas bersama (komunal).Dalam memenuhi kebutuhan sosial, pengaksesan media sosial (seperti : facebook, instagram, tweeter, dll) menjadisalah satu jenis kebutuhan baru di jaman sekarang. Kemajuan teknologi komunikasi saat ini semakin mudah danmurah melalui media sosial merupakan fenomena yang melanda semua kalangan, termasuk dari golonganmasyarakat berpenghasilan rendah. Saat ini, tidak membutuhkan perangkat yang sangat canggih untuk mengaksesinternet ditambah harga kuota internet yang semakin murah.Kesamaan konfigurasi penataan tapak dalam hal ini kesamaan tipologi penyusunan massa bangunan, jumlahpenghuni dan sasaran penghuni yaitu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) kedua rusunawa Kota Cimahi,yaitu Cibeureum dan Leuwigajah menarik untuk diteliti manakah yang lebih efektif pemanfaatan fasilitas bersamaserta faktor-faktor penentu apa sajakah yang berperan terhadap pola sosialnya.
INOVASI DESAIN DALAM MEWUJUDKAN KELAYAKAN LINGKUNGAN PERUMAHAN DAN PASAR PADAT TEPI SUNGAI KOTA, KASUS: LINGKUNGAN PASAR ASTANA ANYAR, PUSAT KOTA BANDUNG Yohanes Karyadi Kusliansjah; Eva Priyanti
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 2 No 2 (2017): Jurnal Idealog Volume 2 nomor 2
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v2i2.1219

Abstract

The emergence of spilled markets and dense residential neighborhoods on the river banks in AstanaAnyar, is one of the impacts that caused by land crisis phenomenon occurred in the city center of Bandung. AstanaAnyar market and dense housing conditions fueled the emergence of a slum environment. Standing between tworivers and low land contours causes Astana Anyar market and the surrounding housing environment have a hugethreat of flooding due to river floods during heavy rains and exacerbate existing environmental conditions.Standing in the city center of Bandung, Astana Anyar market and the surrounding housing location areahave an opportunity of building structures toward vertical buildings and development feasibility on high-valueland locations that meet market prices in the city center.Degradation of environmental conditions that occur, causing housing conditions to be unfit and unhealthyfor the community. In addition, Astana Anyar market also experienced a decline in its quality as one of theimportant economic drivers. In this condition, Astana Anyar market and the surrounding housing environmentneed an innovative solution to structuring the dense residential and market environment.By conducting direct observation and interviews to the local community and market users, this researchattemps to examine deeper about the problems and potential that exist, so that could be used as a referenceformulation of design innovation solutions that could be done as an effort to structuring the dense housing andmarket to be sustainable environment.
PRINSIP TOD MULTILEVEL SEBAGAI LANDASAN RENEWAL TERMINAL BUS LEUWIPANJANG Andreas Tirta; Yohannes Karyadi Kusliansjah
Riset Arsitektur (RISA) Vol 6 No 03 (2022): RISET ARSITEKTUR "RISA"
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering Parahyangan Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v6i03.5938.240-257

Abstract

Abstract - Currently, the city of Bandung needs to fix its infrastructure and public transportation infrastructure in an effort to prepare for the presence of the high-speed rail which has a main station in Tegal Luar, the Gedebage area. With the presence of the high-speed rail in the city of Bandung, it will certainly affect the acceleration of the distribution of passengers and goods within the city. The intensity of this movement needs to be supported by transportation network infrastructure that can be well integrated, one of which is the implementation of the Multi-level Transit Oriented Development (TOD) system at Leuwipanjang Bus Station, Bandung. Leuwipanjang Bus Station still implements a single-level transportation service system, which means it is not efficient and effective enough to support the acceleration of planned public transportation services, especially multi-level-based public transportation as planned in the Bandung Urban Mobilty Project. This study aims to evaluate the design of Leuwipanjang Bus Station so that it becomes one of the TODs that is proper for being an extension of the public transportation infrastructure of the Tegal Luar public transportation which is a stop for the Bandung-Jakarta high-speed rail through an exploratory-analytic-comparative method that supports the Multi-Level concept. It was concluded that the condition of Leuwipanjang Bus Station requires adjustment to the presence of the Bandung-Jakarta high-speed rail which has an entrance at Tegal Luar Station, Gedebage. Keywords: infrastructure, public transportation infrastructure, multi-level TOD, Leuwipanjang Bus Station