Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : pharmacoscript

PENGEMBANGAN KLOROFIL DARI DAUN SINGKONG SEBAGAI PEWARNA MAKANAN ALAMI Winasih Rachmawati
Pharmacoscript Vol. 3 No. 1 (2020): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v3i1.252

Abstract

Klorofil merupakan pigmen berwarna hijau yang banyak terdapat pada daun. Banyak sekali tanaman yang mengandung klorofil diantaranya daun pandan, daun suji, daun singkong, daun cincau dan daun kale. Kandungan klorofil yang banyak dari beberapa tanaman di Indonesia tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pewarna makanan alami. Ketidakstabilan warna dari bahan alam yang pengaruhi pH, oksidasi serta pemanasan dapat menjadi kendala dalam pembuatan pewarna alami klorofil karena dengan kondisi tersebut dapat merubah warna hijau menjadi lebih cokelat atau intensitas warna menjadi berkurang. Sehingga tidak banyak juga produsen yang membuat pewarna alami. Penggunaan pewarna sintesis lebih banyak digunakan di masyarakat karena lebih menguntungkan karena dengan pemakaian sedikit dapat memberikan warnanya lebih menarik. Penggunaan pewarna sintetik yang tidak sesuai takaran dapat menyebabkan efek yang merugikan bagi tubuh. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk pewarna makanan alami berwarna hijau yang memiliki kualitas terbaik. Penelitian ini diawali dengan pengumpulan sampel daun pandan, daun suji, daun singkong, daun cincau dan daun kale. Sampel diekstraksi dengan aseton 85% kemudian ditentukan kadar total klorofil dengan spektrofotometer sinar tampak. Sampel yang mengandung kadar klorofil yang paling tinggi dilakukan optimasi kestabilan warna dengan penambahan larutan Zn2+. Sediaan pewarna alami dibuat dengan membuat variasi konsentrasi maltodekstrin 3% dan 5%. Karakteristik sediaan dilakukan dengan pengujian kadar air, kadar total klorofil dan spektrum IR. Tahap terakhir adalah aplikasi produk serbuk yang dihasilkan untuk pewarna makanan agar-agar. Dari kelima sampel daun diketahui bahwa daun singkong mempunyai kandungan total klorofil yang paling tinggi sebesar 27,162 µg/ml. Konsentrasi ZnCl2 yang dapat menjaga stabilitas warna klorofil sebesar 0,3%. Penambahan maltodekstrin 3% menghasilkan kadar air 1,65%, total klorofil dalam sediaan 22,11 µg/ml dan menghasilkan warna dalam sediaan agar-agar yang homogen.  
IDENTIFIKASI DAN ANALISIS SIDIK JARI DAUN KATUK DARI LIMA DAERAH DI JAWA BARAT MENGGUNAKAN SPEKTROSKOPI FTIR DAN KEMOMETRIK Rachmawati Winasih; Dinata Deden Indra; Sari Nurmala
Pharmacoscript Vol. 6 No. 1 (2023): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v6i1.1164

Abstract

Katuk merupakan salah satu tanaman yang daunnya digunakan sebagai obat herbal di Indonesia. Proses budidaya tanaman obat di berbagai daerah dapat mempengaruhi kualitas kandungan di dalamnya. Pengendalian mutu tanaman obat dapat dilakukan dengan cara menentukan sidik jari tumbuhan menggunakan pendekatan kemometrik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik daun katuk dari lima daerah di wilayah Jawa Barat menggunakan metode spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR) yang dikombinasikan dengan Principal Component Analysis (PCA). Tahapan penelitian meliputi pengumpulan sampel dari lima daerah yaitu Bandung, Sumedang, Bogor, Sukabumi dan Tasikmalaya, kemudian sampel diekstraksi menggunakan etanol 96%. Ekstrak tersebut dianalisis menggunakan FTIR pada rentang bilangan gelombang 4000-650 cm-1. Spektrum FTIR sampel diberi perlakuan pendahuluan seperti smoothing, derivate dan baseline terlebih dahulu sebelum dianalisis dengan PCA. Hasil penelitian menunjukkan spektrum FTIR yang relatif sama dari lima jenis sampel. Sampel dari kelompok 1 (Sumedang, Bogor) dan kelompok 2 (Sukabumi dan Bandung) menunjukkan hubungan yang erat pada skor plot PCA, sedangkan Tasikmalaya dikelompokkan ke dalam kelompok lain. Analisis diskriminan dapat mengklasifikasikan daun katuk menurut jenis varietasnya. Metode yang dikembangkan ini cocok untuk identifikasi dan autentikasi daun katuk.
ANALISIS KCN MENGGUNAKAN METODE TITRASI ARGENTOMETRI LIEBIG-DENIGES PADA AIR RENDAMAN SINGKONG YANG DIRENDAM AIR KELAPA Emma, Emawati; Jigan Az, Zahra; Winasih, Rachmawati
Pharmacoscript 2025: Special Issue Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v1iSpecial.2429

Abstract

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan beraneka ragam, Keanekaragaman tersebut membuka banyak peluang alternatif terhadap pengganti produk kimia yang dapat menimbulkan dampak negatif baik bagi kesehatan maupun lingkungan. Salah satu pemanfaatan tanaman ialah sebagai pengendali hama tikus alami (rodentisida). Singkong diketahui memiliki kandungan senyawa berbahaya yakni sianida (HCN) jika dilakukan pengupasan dan disimpan dalam jangka waktu yang lama. Sementara itu, air kelapa merupakan sumber kalium elektrolit yang baik, dan menyediakan 600 miligram dalam satu cangkir. Jika dilakukan perendaman singkong menggunakan air kelapa maka Ion kalium (K+) akan bereaksi dengan sianida (CN-) dalam singkong dan membentuk senyawa Kalium Sianida (KCN) yang memiliki efek racun. Pemanfaatan racun KCN tersebut telah banyak digunakan untuk mengendalikan hama pengerat oleh masyarakat, akan tetapi penelitian mengenai kandungan dan kadar senyawa KCN pada air rendaman tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar KCN pada air rendaman singkong dengan air kelapa sebagai racun untuk hewan pengerat. Metode yang digunakan untuk analisis KCN adalah argentometri Liebig-Deniges dimana digunakan larutan AgNO3 sebagai pentiter dengan indikator ammonia dalam KI. Sebelum penetapan kadar, dilakukan validasi metode presisi dan akurasi. Hasil analisis KCN dalam sampel air rendaman dengan perbandingan 1 kg singkong : 2 liter air kelapa memiliki kadar KCN sebesar 2,229 mg/20 mL. Dengan kadar tersebut, pemberian sebanyak 20,6 mL sediaan pada tikus berbobot 200 g setara dengan dosis 11,5 mg/kg BB, yang merupakan nilai LD50 KCN pada tikus dewasa.
PENGEMBANGAN METODE KLT VIDEO DENSITOMETRI UNTUK ANALISIS MIKONAZOL NITRAT DAN HIDROKORTISON ASETAT DALAM SEDIAAN KRIM Winasih, Rachmawati; Salsabila, Putri; Fauzan Zein, Muttaqin
Pharmacoscript 2025: Special Issue Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v1iSpecial.2441

Abstract

Infeksi jamur pada kulit dapat diatasi dengan sediaan krim yang mengandung mikonazol nitrat (MN) dan hidrokortison asetat (HA). Penetapan kadar kedua zat tersebut dapat dilakukan secara simultan menggunakan beberapa metode seperti KCKT, spektrofotometri UV dan FTIR, akan tetapi penggunaan metode KLT video densitometri belum pernah dilaporkan di literatur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan KLT video densitometri untuk analisis MN dan HA yang efektif dalam formulasi krim. Tahapan penelitian dimulai dari pembuatan larutan baku, optimasi sistem KLT, validasi metode analisis dan penetapan kadar MN dan HA pada sediaan krim. Sistem KLT terbaik untuk pemisahan yaitu menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak campuran n-heksan:kloroform:metanol (6:3:1). Bercak pada plat KLT divisualisasikan di bawah lampu UV254, kemudian direkam menggunakan kamera digital, dan dianalisis secara kuantitatif menggunakan software ImageJ untuk menghitung luas area. Hasil penelitian menunjukkan nilai faktor selektivitas (α) sebesar 1,52. Nilai koefisien korelasi (r) untuk keduanya diatas 0,99. Nilai batas deteksi dan batas kuantitasi berturut-turut adalah 30,63 dan 102,10 bpj untuk MN, serta 12,12 dan 40,39 bpj untuk HA. Perolehan kembali sebesar 100,84±1,25% untuk MN dan 100,27±0,89% untuk HA, sedangkan nilai presisi (%SBR) untuk MN dan HA sebesar 0,647% dan 0,547%. Kadar MN dan NA dalam sediaan krim berturut-turut adalah 100,41±0,27% dan 101,15±0,18%. Metode KLT video densitometri dapat digunakan sebagai metode analisis alternatif yang sederhana, cepat dan andal dalam penetapan kadar zat aktif MN dan HA dalam sediaan krim kombinasi.