Claim Missing Document
Check
Articles

PERENCANAAN TERMINAL ANGKUTAN DARAT DI KECAMATAN RATAHAN Untu, Viena Mia Gratia; Sendow, Theo K.; Manoppo, Mecky R.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 6, No 1 (2018): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Ratahan adalah salah satu kecamatan dari 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Minahasa Tenggara. Kecamatan Ratahan merupakan salah satu kecamatan yang ramai di kunjungi masyarakat, karena merupakan pusat perbelanjaan dan pertokoan. Sejalan dengan aktivitas itu, maka kebutuhan akan transportasi darat meningkat. Sedangkan pada kenyataannya Kecamatan Ratahan tidak memiliki Terminal, sehingga kendaraan yang ada parkir di sembarang di pusat pertokoan di Kecamatan Ratahan. Jadi dalam hal ini dianggap perlu untuk merencanakan terminal di Kecamatan Ratahan yang dapat mengatur arus lalu lintas.Perencanaan terminal di Kecamatan Ratahan di dasarkan pada data-data yang diambil yaitu data sekunder yang terdiri dari jumlah penduduk, tingkat pertumbuhan penduduk dan jumlah kendaraan angkutan umum yang beroperasi. Berikutnya data primer yang berdasarkan trayek kendaraan angkutan umum, tingkat kedatangan, dan waktu yang digunakan dalam system, data ini didapat dengan metode survey di lapangan  yaitu di pusat pertokoan di Kecamatan Ratahan selama 3 (tiga) hari.Berdasarkan hasil perhitungan dari data-data yang diperoleh dan sesuai dengan Perda RTRW Kabupaten Minahasa Tenggara  maka terminal yang direncanakan di Kecamatan Ratahan adalah Terminal tipe B dengan luas 8000 m2 (80 m x 100 m) dan terdiri dari 2 (dua) jalur dengan perincian 1 (satu) jalur untuk areal kedatangan dan 1 (satu) jalur untuk areal pemberangkatan. Terminal menggunakan 2 (dua) pintu yaitu 1 (satu) pintu masuk dan 1 (satu) pintu keluar. Dan untuk areal parkir kendaraan yaitu areal kedatangan menggunakan sistem parkir 180o dan areal pemberangkatan menggunakan sistem parkir 90o  dengan kapasitas parkir keseluruhan adalah 46 kendaraan, terminal ini dapat dimanfaat sampai tahun rencana yaitu tahun 2024 dengan cara peramalan (Forecasting) yaitu didapat tingkat kedatangan angkutan sebesar 55 kendaraan/hari.Kata Kunci:    Angkutan Darat, Perencanaan Terminal, Terminal Kecamatan Ratahan, Terminal Tipe B.
EVALUASI KINERJA SIMPANG BERSINYAL MENGGUNAKAN PROGRAM AASIDRA (STUDI KASUS : PERSIMPANGAN JALAN 14 FEBRUARI TELING – JALAN DIPONEGORO – JALAN LUMIMUUT – JALAN TOAR, KOTA MANADO) 2011 Djumati, Julia Astuti; Paransa, M. J.; Sendow, Theo K.; Jansen, Freddy
JURNAL SIPIL STATIK Vol 1, No 5 (2013): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pada penelitian ini digunakan program aaSIDRA yang memberikan kemudahan untuk menganalisa persimpangan, sehingga dapat menghemat waktu analisa. Lokasi penelitian adalah simpang empat lengan Jalan 14 Februari Teling-Jalan Diponegoro-Jalan Lumimuut-Jalan Toar, di kota Manado. Lokasi ini dipilih karena berdasarkan survey awal lalu lintas yang melewati simpang tersebut cukup tinggi, maka dilakukanlah penelitian untuk mendapatkan nilai derajat kejenuhan, waktu siklus, tundaan dan panjang antrian yang di anggap paling baik, kemudian dengan menggunakan MKJI 1997 untuk di bandingkan hasilnya dengan aaSIDRA. Untuk mengevaluasi simpang bersinyal dibutuhkan data lapangan berupa : kondisi geometrik meliputi lebar pendekat, waktu sinyal, dan volume lalu lintas, serta kondisi lingkungan berupa kelas ukuran kota, tipe lingkungan jalan, dan kelas hambatan samping. Komposisi kendaraan yang digunakan pada aaSIDRA adalah Light Vehicle (LV) dan Heavy Vehicle (HV), dan pada MKJI 1997 adalah LV, HV, dan Motor Cycle (MC). Perhitungan MKJI 1997 dilakukan kembali tanpa menggunakan MC untuk membandingkan aaSIDRA dan MKJI 1997 pada komposisi kendaraan dan kondisi yang sama. Data volume lalu lintas yang mewakili 85%, digunakan dalam evaluasi simpang. Pada aaSIDRA didapat nilai DS cenderung mendekati 0,8 pada setiap variasi waktu siklus, sedangkan semakin besar variasi waktu siklus maka semakin besar nilai panjang antrian dan tundaan, dan pada MKJI 1997 semakin besar variasi waktu siklus maka semakin besar pula nilai DS, panjang natrian dan tundaan. Pada variasi waktu siklus detik ke 200, DS aaSIDRA dan MKJI 1997 hampir sama yaitu mendekati 0,8.Kata kunci : simpang bersinyal empat lengan, derajat kejenuhan, waktu siklus, tundaan, antrian.
PERBANDINGAN KRITERIA MARSHALL PADA CAMPURAN ASPAL PANAS (HRS-WC) YANG MENGGUNAKAN ASBUTON MODIFIKASI (RETONA BLEND 55) DENGAN ASPAL PENETRASI 60/70 Bolung, Ayuni Laurentia; Sendow, Theo K.; Waani, Joice E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 11 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Campuran Beton Aspal yang biasanya digunakan sebagai bagian dari Lapis Perkerasan lentur Jalan Raya, terbuat dari Agregat sebagai Bahan Pengisi dengan Aspal (Bitumen) sebagai bahan pengikat. Dalam Spesifikasi Teknik Bina Marga Kementrian PUPR RI, Bahan Pengikat yang biasanya menggunakan Aspal Minyak dapat diganti dengan Aspal hasil olahan Aspal Buton karena di Indonesia dalam hal ini di Pulau Buton di Provinsi Sulawesi Tenggara terdapat bahan galian berupa Aspal Batu Buton disingkat ASBUTON yang saat ini telah diolah secara fabrikasi dan salah satu hasil olahan Asbuton tersebut dikenal dengan nama RETONA BLEND. Selanjutnya, juga dalam Spesifikasi Teknik Bina Marga, ada dua jenis campuran utama yang berbeda tujuan penggunaannya; yakni jenis yang satunya adalah Lapis Tipis Aspal Beton (Asphalt Concrete) yang disingkat LASTON atau AC yang dibuat dengan agregat yang susunan ukuran butirnya menerus yang mengutamakan kekuatan dalam menerima beban akibat lalu lintas dan yang kedua adalah jenis Lapis Tipis Aspal Beton disingkat LATASTON atau dikenal dengan Hot Rolled Sheet (HRS) yang mengutamakan Durabilitas sehingga dibuat dengan agregat yang susunan ukuran butirnya senjang. Berikut ini terhadap jenis campuran HRS khususnya untuk Lapis Aus atau Wearing Course yang bergradasi senjang akan diteliti pengaruhnya jika akan menggunakan Bahan Pengikat hasil Olahan Asbuton jenis Retona Blend. Untuk meneliti pengaruhnya yang terutama ditinjau dari segi durabilitas yang diperoleh dari sifat-sifat campuran berdasarkan kriteria Marshall, dan agar dapat diukur besar pengaruhnya, maka akan dibandingkan dengan campuran yang dibuat dengan parameter-parameter campuran komposisi yang sama tapi menggunakan bahan pengikat Aspal Penetrasi 60/70 Ex PERTAMINA.Penelitian ini diaplikasikan pada jenis HRS-WC yang menggunakan material agregat dari lokasi sumber Desa Lolan 2 di Kabupaten Bolaang Mongondow dengan alasan karena agregat dari lokasi sumber ini telah banyak digunakan sebagai bahan campuran untuk berbagai jenis perkerasan jalan dan nilai abrasi ≤30% sesuai dengan yang disyaratkan Spesifikasi Teknik Bina Marga Tahun 2010 Revisi 3 Campuran Beraspal Panas yang menggunakan Bahan Pengikat Aspal hasil olahan Asbuton karena aspal yang digunakan adalah aspal modifikasi Asbuton dengan merek Retona Blend untuk campuran satunya dan aspal penetrasi 60/70 ex PERTAMINA untuk campuran keduanya sebagai pembanding. Proses penelitian dimulai dengan pemeriksaan terhadap material agregat dan aspal kemudian dibuat rancangan komposisi berdasarkan persyaratan gradasi LATASTON, dihitung kadar aspal perkiraan dari campuran. Campuran yang dibuat terlebih dahulu adalah menggunakan Bahan Pengikat Retona Blend, dibuat benda uji untuk pengujian Marshall dan hasil uji dianalisis sehingga diperoleh kadar aspal terbaik dengan nilai-nilai kriteria Marshall. Selanjutnya dibuat campuran menggunakan Aspal Penetrasi 60/70 dengan proses yang sama.Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika campuran HRS-WC menggunakan bahan pengikat Retona Blend maka kadar aspal terbaik sebesar 7,9% dengan besaran kriteria Marshall yang diperoleh dari pengujian secara non destruktif diperoleh nilai VIM sebesar 5,71%, VMA sebesar 18,16%, VFB sebesar 68,56%, density 2,33gr/cm3 kemudian kriteria Marshall dengan pengujian secara destruktif adalah stabilitas besarnya 1620 Kg dengan nilai Flow besarnya 3,55 mm sehingga besaran Marshall Quotient menjadi 458,8 Kg/mm. Jika campuran HRS-WC dengan parameter komposisi campuran sama dengan pertama, tapi menggunakan Bahan Pengikat Aspal Panas Penetrasi 60/70 ex PERTAMINA diperoleh kadar aspal terbaik 7,85% dari non destructive test didapat VIM sebesar 5,88%, VMA sebesar 18,45%, VFB 68,15%, density sebesar 2,33gr/cm3 dan dari destructive test (uji tekan) semua nilai kriteria Marshall yang didapat memenuhi syarat Spesifikasi Teknik Bina Marga.Berdasarkan besaran kriteria Marshall yang diperoleh, terlihat bahwa penggunaan Aspal Buton modifikasi jenis Retona Blend akan meningkatkan nilai stabilitas dan menurunkan nilai Flow dibandingan dengan yang menggunakan Aspal Penetrasi 60/70. Marshall Quotient (MQ) yang dihitung dari Stabilitas / Flow; merupakan besaran yang menunjukkan kekakuan atau durabilitas campuran dimana, semakin besar nilai MQ semakin kaku lapis perkerasan, sebaliknya semakin kecil nilai MQ menunjukkan semakin durable lapis perkerasan aspal dalam menerima beban. Dengan demikian jika lapis perkerasan aspal mengutamakan durabilitas dibandingkan kekakuan, maka jenis campuran HRS yang menggunakan bahan pengikat Aspal Minyak Penetrasi 60/70 adalah pilihan yang benar. 
PERENCANAAN LAMPU PENGATUR LALU LINTAS PADA PERSIMPANGAN JALAN SULTAN HASANUDIN DAN JALAN ARI LASUT MENGGUNAKAN METODE MKJI Syahabudin, Febrina Ishak; Sendow, Theo K.; Rumayar, Audie L. E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 10 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persimpangan merupakan sumber konflik lalu lintas salah satunya kemacetan. Persimpangan tiga lengan di jalan Hasanudin dan jalan Ari Lasut merupakan salah satu lokasi yang sering terjadi kemacetan akibat perpotongan arus lalu lintas yang tidak teratur dan terdapat berbagai fasilitas umum di sekitarnya yang menyebabkan geometrik jalan tidak dapat lagi menampung kendaraan yang lewat karena banyak kendaraan parkir di pinggir jalan serta permasalahan lampu pengatur lalulintas yang sudah tidak berfungsi lagi sehingga di lokasi persimpangan sering terjadi antrian dan tundaan pada tiap lengan persimpangan. Tujuan penelitian ini antara lain untuk mengetahui besarnya volume arus lalu lintas untuk setiap arah dari semua pendekat  serta situasi dan kondisi lalu lintas tanpa sinyal pada persimpangan sebelum dilakukan perencanaan pengaturan fase sinyal yang sesuai kondisi geometri arus lalu lintas dan lingkungan persimpangan. Penelitian dimulai dengan pengukuran awal data geometrik lengan persimpangan kemudian mengambil data volume lalu lintas dengan melakukan survey selama 6 hari pada tanggal 3-8 november 2014 dari jam 06.00 – 21.00. Hasil penelitian menunjukkan pada kondisi eksisting didapat data arus lalu lintas (Q) = 3285 smp/jam, nilai DS 1,23, tundaan lalu lintas simpang 46,19, dengan tipe simpang 322. Setelah dilakukan perencanaan lampu dengan 3 fase sinyal dimana untuk Fase 1 dimulai dari arah Jembatan – Tuminting , Jembatan – Wonasa, Fase 2 Tuminting – Jembatan  , Tuminting – Wonasa dan Jembatan – Tuminting . Fase 3 Wonasa – Jembatan dan Wonasa – Tuminting didapat nilai DS 0,844 dengan waktu siklus 77 detik , waktu hijau Fase 1 20 detik, Fase 2 25 detik, Fase 3 21 detik serta tundaan simpang rata – rata 57,38 det/smp. Dari hasil analisa nilai DS telah melebihi angka 0,80 artinya tidak terlalu efektif dan sering terjadi kemacetan sehingga didapat tundaan yang besar pada simpang dan untuk mengatasinya dilakukan pelebaran jalan pada pendekat Tuminting dari 9 m diubah menjadi 11 m. Untuk pengaturan fase sinyal sama seperti sebelumnya hanya di tambah untuk arah Tuminting wonasa waktu hijau terjadi pada fase 2 dan 3 dengan waktu siklus 63 waktu hijau fase 1 13 detik, fase 2 21 detik, fase 3 18 detik. Untuk nilai DS menjadi 0,80  dengan tundaan simpang rata – rata 22,77 det/smp telah lebih kecil dari 30 detik/smp. Kata Kunci :Derajat Kejenuhan, Waktu Siklus ,Tundaan Simpang, Peluang Antrian
ANALISA PENGARUH BEBAN BERLEBIH TERHADAP UMUR RENCANA JALAN (STUDI KASUS: RUAS JALAN MANADO - BITUNG) Safitra, Putri Angelia; Sendow, Theo K.; Pandey, Sisca V.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 3 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kualitas prasarana transportasi dalam suatu wilayah ditentukan oleh tingkat pelayanan jalan yang dilewati oleh setiap kendaraan, baik itu kendaraan dengan muatan normal maupun kendaraan dengan muatan berlebih (overloading) dari kelas jalan yang sudah ditetapkan. Ruas jalan Manado – Bitung merupakan salah satu akses ke daerah kawasan industri, dimana ruas jalan ini banyak dilalui oleh kendaraan berat dengan muatan normal maupun muatan berlebih yang melanggar batas ketentuan untuk jumlah berat yang diijinkan. Hal ini menyebabkan terjadinya kerusakan pada badan jalan sebelum umur teknis perencanan terpenuhi dalam waktu yang relatif singkat atau terjadinya kerusakan dini pada badan jalan. Dampak lain yang disebabkan oleh kendaraan bermuatan berlebih (overloading) adalah berkurangnya tingkat keselamatan berkendara, kemacetan, dan kerusakan suku cadang kendaraan yang lebih cepat.  Dalam penelitian ini dihitung angka ekivalen untuk setiap jenis kendaraan dan Equivalent Standart Axle Load (ESAL) pada keadaan beban normal dan beban berlebih. Untuk menghitung penurunan umur rencana jalan yang diakibatkan oleh beban berlebih (overloading) menggunakan nilai Vehicle Demage Factor (VDF) metode AASHTO 1993. Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini ada 2, yaitu pengumpulan data sekunder dan pengumpulan data primer. Data - data yang diperoleh yaitu, data geometrik jalan, data LHR tahun 2013 – 2017, data berat kendaraan yang diperoleh dari jembatan timbang, data survey LHR tahun 2018, dan data International Roughness Index (IRI) tahun 2016 - 2017. Data IRI yang didapat digunakan untuk mengetahui besaran kekasaran permukaan jalan, kondisi jalan yang akan diteliti, dan penanganan yang harus dilakukan pada bagian jalan yang rusak. Dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa persentase muatan berlebih dapat menurunkan umur rencana. Angka ekivalen atau VDF untuk muatan normal selama umur rencana 10 tahun yaitu sebesar 19.683.267,13 ESAL sedangkan angka ekivalen atau VDF untuk muatan berlebih selama umur rencana 10 tahun yaitu sebesar  31.391.507,77 ESAL. Sehingga diperoleh persentase peningkatan nilai VDF kumulatif akibat muatan berlebih sebesar 59,483%. Nilai Traffic Design diperkirakan akan berakhir pada tahun ke 7 atau terjadi pengurangan umur sekitar 2,8 tahun dari umur rencana 10 tahun.  Kata kunci: Beban Berlebih, AASHTO 1993, IRI, Umur Rencana
ANALISA TINGKAT PELAYANAN TROTOAR DITINJAU DARI LAJU ARUS PADA RUAS JALAN SAM RATULANGI MANADO UNTUK SEGMEN RUAS JALAN RS SILOAM – MONUMEN ZERO POINT KOTA MANADO Manopo, Sweetly; Timboeleng, James A.; Sendow, Theo K.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 2 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalur pejalan kaki merupakan bagian dari jalan yang berfungsi sebagai ruang sirkulasi bagi pejalan kaki yang terpisah bagi sirkulasi kendaraan, pemisahan tersebut diperlukan bagi keselamatan pejalan kaki. Kota Manado dengan tingkat dinamika mobilitas penduduk yang cukup tinggi, seringkali menunjukkan gejala konflik antara pejalan kaki dan arus lalu lintas kendaraan, apalagi ditambah dengan fasilitas bagi pejalan kaki (trotoar) yang tidak memadai yang secara tidak langsung juga menyebabkan pejalan kaki harus rela berjalan pada jalur yang tidak semestinya dan tidak dapat menjamin keamanan serta keselamatan diri pejalan kaki tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisa tingkat pelayanan trotoar (Pedestrian Level of Service) disepanjang ruas jalan Sam Ratulangi untuk segmen ruas jalan RS Siloam – Monumen Zero Point. Hasil penelitian dan analisa di lokasi pengamatan selama empat hari, maka diperoleh volume pejalan kaki paling besar terjadi di ruas jalan Sam Ratulangi khususnya di segmen ruas jalan depan Golden Swalayan  682 ped/15mnt. Tingkat pelayanan trotoar (LOS) yang di dapat ditinjau dari laju arus adalah LOS C tanpa adanya pedagang kaki lima dan LOS D dengan adanya pedagang kaki lima. Kata Kunci: Trotoar, Pedestrian,Tingkat Pelayanan Trotoar, Level of Service, LOS
PERENCANAAN PENGEMBANGAN PELABUHAN LAUT SERUI DI KOTA SERUI PAPUA Kastanya, Jori George Kherel; Kereh, Lexie F.; Manoppo, Mecky R. E.; Sendow, Theo K.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 1, No 4 (2013): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kondisi Pelabuhan Serui sebagai salah satu bentuk jasa transportasi laut yang sangat berarti bagi perkembangan dan peningkatan sumber daya alam dan taraf hidup penduduk di daerah Serui, tidak cukup lagi dalam menampung barang dan penumpang yang semakin meningkat sehingga kapal yang lain harus menunggu untuk bertambat, membuat keadaan dermaga menjadi tidak teratur dan tidak nyaman. Dengan demikian pelabuhan Serui sudah harus mengalami penataan dan perluasan. Langkah-langkah penelitian untuk perencanaan perluasan pelabuhan Serui adalah pengambilan data 10 tahun terakhir (2002-2011) pada pelabuhan Serui, kemudian data tersebut dikompilasi dan dianalisa.Perencanaan pengembangan fasilitas pelabuhan Serui di lakukan berdasarkan hasil dari ramalan arus naik-turun penumpang, bongkar-muat barang, kunjungan kapal dan arus bongkar-muat peti kemas dengan menggunakan metode regresi linier dan metode regresi non linier. Hasil perhitungan adalah sebagai berikut: Dermaga tahun 2012 mempunyai tambatan dengan panjang 140 meter sedangkan untuk tahun 2016 panjang tambatan ditambah menjadi 245 meter dan pada tahun 2021 panjang tambatan ditambah menjadi 350 meter. Terminal penumpang tahun 2012 perlu penambahan 327 m2 sehingga totalnya menjadi 627 m2, untuk tahun 2016 perlu penambahan 342 m2 sehingga total menjadi 642 m2 dan tahun 2021 perlu penambahan 364 m2 sehingga total menjadi 664 m2. Lapangan penumpukan tahun 2012 perlu penambahan 240 m2 sehingga total menjadi 840 m2 sedangkan untuk tahun 2016 perlu penambahan 1900 m2 sehingga total menjadi 2500 m2 dan tahun 2021 perlu penambahan 9200 m2 sehingga total menjadi 9800 m2. Gudang pada tahun 2012 perlu penambahan 1800 m2 sehingga total menjadi 2400 m2. Sedangkan untuk tahun 2016 perlu penambahan sebesar 3400 m2 sehingga total menjadi 4000 m2 dan tahun 2021 perlu penambahan sebesar 6600m2 sehingga total menjadi 7200 m2. Kata kunci :pelabuhan, pengembangan, fasilitas
PERENCANAAN PENGEMBANGAN PELABUHAN LAUT SORONG DI KOTA SORONG Solossa, Appi Yamsos; Paransa, M. J.; Elisabeth, Lintong; Sendow, Theo K.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 1, No 10 (2013): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelabuhan Sorong merupakan salah satu jasa transportasi laut yang sangat berarti bagi perkembangan dan peningkatan ekonomi dan taraf hidup penduduk di Propinsi Papua. Dengan adanya otonomi khusus bagi Propinsi Papua mengakibatkan banyak daerah pemekaran yang akan dilayani oleh aktifitas pelabuhan Sorong. Pelabuhan Sorong sekarang ini tidak mampu lagi untuk menampung barang dan penumpang yang semakin meningkat sehingga kapal yang lain harus menunggu untuk bertambat, membuat keadaan dermaga menjadi tidak teratur dan tidak nyaman. Dengan demikian pelabuhan Sorong sudah harus mengalami penataan dan perluasan.Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan dan mengevaluasi data sekunder yaitu data operasi pelabuhan selama 6 tahun terakhir (tahun 2006 sampai dengan tahun 2011). Perencanaan pengembangan fasilitas pelabuhan Sorong dilakukan berdasarkan ramalan arus naik turun penumpang, arus kunjungan kapal dan arus bongkar muat barang dan peti kemas dengan menggunakan metode regresi linier.Dari hasil perhitungan pengembangan untuk tahun 2026, Dermaga I perlu diperpanjang menjadi 372,7 m dari panjang dermaga yang ada 122,71 m untuk bisa menampung 3 tambatan kapal peti kemas. Untuk Dermaga II, III, dan IV perlu diperpanjang menjadi 310,29 m dari panjang dermaga yang ada 217,29 m untuk bisa menampung 2 tambatan kapal penumpang. Lapangan penumpukan perlu penambahan luas sebesar 47604 m2 dari luas yang ada 20030 m2. Sedangkan untuk fasilitas Gudang perlu penambahan luas sebesar 13437 m2 dari luas yang ada 2210 m2.Kata kunci : Pelabuhan Sorong, rencana pengembangan, dermaga, fasilitas bongkar muat.
KINERJA RUAS JALAN MANADO - BITUNG Puteri, Dhewanty Rahayu; Sendow, Theo K.; Paransa, M. J.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 4, No 5 (2016): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Bitung adalah salah satu kota di Provinsi Sulawesi Utara yang terletak pada posisi geografis antara 1o 23’ 23” – 1o 35’ 39” LU dan 125o 1’ 43” – 125o 18’ 13” BT, dengan memiliki luas wilayah daratan 304 km2. Pembangunan di kota Bitung berkembang dengan cepat. Bertambahnya penduduk dan banyaknya kesibukan kegiatan industri yang terjadi pada kota Bitung membuat arus lalulintas pada ruas jalan menuju kota Bitung meningkat sehingga sering mengalami kemacetan. Salah satu ruas jalan yang sering mengalami kemacetan adalah pada ruas jalan Manado–Bitung segmen Airmadidi-Kairagi. Berdasarkan pengamatan visual kinerja jalan menurun, maka perlu dilakukan analisa kinerja pada jalan tersebut dengan ukuran-ukuran kinerja yaitu: Kecepatan rata-rata waktu perjalanan, Derajat Kejenuhan (DS), dan waktu tempuh. Penelitian ini mengenai “Kinerja Ruas Jalan Manado–Bitung dengan Menggunakan Metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas ruas jalan Manado-Bitung apakah masih memadai atau tidak. Dari hasil pengolahan data volume lalulintas yang diambil di lapangan pada Bulan Juni minggu ke 3 tahun 2015 pada Ruas Jalan Manado–Bitung Segmen Jalan Airmadidi–Kairagi,2/2-UD lebar 7 meter didapatkan LHR tahun 2015 adalah sebesar 17383 smp/hari (24533 kendaraan/hari) dengan proporsi LV = 42.5% , MHV = 6.4%, LT = 1.8%, LB = 0.6% dan MC = 48.7%. Pembagian arah adalah sebesar 47.9% dari arah Manado Bitung dan 52.1% dari arah Bitung Manado. Analisa perencanaan, juga berdasarkan QDH pada jam puncak pada rata-rata hari kerja yaitu = 1912 smp/jam, nilai DS yaitu berturut-turut sebesar 0.89 dan 0.85 (tahun 2020). Yang berarti, Kinerja Segmen Jalan sampai 5 (lima) tahun kedepan (sampai Tahun 2020) masih bisa melayani lalulintas dengan baik karena nilai DS masih < 1.00 Kata Kunci : Kinerja Ruas Jalan, Manado, Bitung, MKJI
ANALISA KINERJA JARINGAN JALAN DALAM KAMPUS UNIVERSITAS SAM RATULANGI Kolinug, Lendy Arthur; Sendow, Theo K.; Jansen, Freddy; Manoppo, Mecky R. E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 1, No 2 (2013): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) adalah salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia yang berlokasi di Kota Manado, provinsi Sulawesi Utara, dan merupakan salah satu universitas favorit untuk menempuh pendidikan tinggi di Indonesia Timur. Seiring dengan meningkatnya jumlah mahasiswa dan tingginya intensitas kegiatan pendidikan tersebut maka mengakibatkan timbulnya bangkitan dan tarikan perjalanan ke kampus UNSRAT yang akan berpengaruh pada kinerja jalan. Ruas jalan akan mengalami kemacetan, antrian atau tundaan serta kemungkinan terjadi kecelakaan lalu lintas yang dapat mengganggu kelancaran dan kenyamanan berkendara. Kinerja jalan adalah kemampuan dari suatu ruas jalan dalam melayani arus lalu lintas yang terjadi pada ruas jalan tersebut. Kinerja jalan ditentukan oleh kapasitas, derajat kejenuhan (“Degree of Saturation”, DS), kecepatan rata-rata, waktu perjalanan. Berdasarkan analisa yang dilakukan di empat ruas jalan dalam kampus Universitas Sam Ratulangi yaitu di jalan kampus selatan atau didepan Fakultas peternakan, di jalan kampus barat atau di depan RM devy, di jalan kampus selatan atau di samping Fakultas perikanan dan di jalan kampus barat atau di depan toko gayus, penelitian ini dilakukan selama tiga hari survey mulai dari pukul 06.00 – 21.00 WITA, maka diperoleh untuk derajat kejenuhan di ruas-ruas jalan dalam kampus Universitas Sam Ratulangi berkisar antara 0,136 sampai 0,355 masih berada dibawah ketentuan yang ditetapkan yaitu 0,75. Volume puncak yang terjadi berkisar antara 357 sampai 770,6 smp/jam. Kecepatan kendaraan pada volume puncak berada pada rentang 11,005 sampai 31,25 Km/jam. Sedangkan untuk tingkat pelayanan (“Level of service”, LOS) untuk ruas-ruas jalan dalam kampus Universitas Sam Ratulangi yaitu A dan B. Secara keseluruhan kinerja jaringan jalan dalam kampus Universitas Sam Ratulangi masih dalam kondisi baik. Kata Kunci : Kinerja Jalan, Kecepatan, LOS
Co-Authors Alelo, Ivana Junia Appi Yamsos Solossa Armin Lumban Toruan Audie L. E. Rumajar Audie L. E. Rumayar Benjamin, Hendry Samuel Bolung, Ayuni Laurentia Bongso, Shofian E. H. Cindy Irene Kawulur Clinton Yan Uguy, Clinton Yan David W. Rambitan Dhewanty Rahayu Puteri, Dhewanty Rahayu Diah Anggraeni Damiyanti Masalle, Diah Anggraeni Damiyanti Dimas F. Robot Dwijayanto Pribadi Elisabeth Lintong Febrina Ishak Syahabudin, Febrina Ishak Fergianti Suawah, Fergianti Ferry Yakob, Ferry Freddy Jansen Freyti Silvia Mawu, Freyti Silvia Giroth, Mega Indah Hasibuan, Lamrumenta Marianti Herman Rauf, Herman Hermi R. A. Gultom Ignatius Tri Prasetyo Samponu, Ignatius Tri Prasetyo James A. Timboeleng Jefferson Longdong Joice E. Waani Jori George Kherel Kastanya Joy Andre Dio Mosey Julia Astuti Djumati Jurike Ireyne Toar Kairupan, Liani Anggreini Katihokang, Meila Femina Kiding Allo, Agatha Desiwanty Kindangen, Natalia V. L. J. Undap Lalamentik, Lucia G. J. Lendy Arthur Kolinug Lexie F. Kereh Liando, Stanley Lintong Elisabeth Lucia G. J. Lalamentik Lucia G. J. Lalamentik M. J. Paransa Manangi, Sri Rachmila Manguande, Jeisya Manoppo, Cheryl N. Manoppo, Mecky R. Mantiri, Cynthia Claudia Masinambow, Christmas E. L. Mecky R. E. Manoppo Meggie Huwae, Meggie Natal Pangondian Siagian Junior, Natal Pangondian Nathanael Pieter Siriwa Novita Lucia Senduk Olivia Rosalyn Marpaung Oscar H. Kaseke Paat, Geraldo Niki Imanuel Palenewen, Steve Ch. Pandeiroth, Jerivo Pangerapan, Monica Linny Pasiak, Imanuel S. Praycilia Inri Badar Priskila Gedoa Tamila Romauli, Theresia Dwiriani Royke Limpong, Royke Rumondor, Eko Randy Rusdianto Horman Lalenoh, Rusdianto Horman Safitra, Putri Angelia Samuel A. R. Warouw Sembung, Nadya Tesalonika Semuel Y. R. Rompis, Semuel Y. R. Sinaga, Lerinsah Steve Ch. N. Palenewen Sweetly Manopo Tambajong, Brenda E. Taufan Guntur Stallone Merentek, Taufan Guntur Stallone Tawalujan, Kevin Filindo Timpal, Greyti S. J. Toding, Risman Bismar Tombeg, Charlie Valentino Untu, Viena Mia Gratia Untung, Evangelina Viandany Zulfian Muslim Vrisilya Bawangun, Vrisilya Winardi M. F. Sumardi Wowor, Flandieh S. E. Yauri, Ricky