Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISA KARAKTERISTIK ARUS PEDESTRIAN DI KOTA MANADO SEGMEN DEPAN IT CENTRE – DEPAN BANK MEGA KAWASAN MEGAMAS Mosey, Joy Andre Dio; Sendow, Theo K.; Timboeleng, James A.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 2 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berjalan kaki merupakan tindakan yang sederhana akan tetapi memiliki peran penting dalam system transportasi setiap kota karena hamper setiap aktivitas pergerakan diawalidan diakhiri dengan berjalan kaki. Pada dasarnya kinerja lalu lintas pejalan kaki diekspresikan dengan cara yang mirip dengan ekspresi kinerja lalu lintas kendaraan yaitu dengan arus, kecepatan, dan kepadatan yang saling berhubungan. Pada penelitian ini mengambil lokasi di kawasan Jln. Pierre Tendean Segmen ITC – Depan Bank Mega Kawasan Megamas. Kawasan ini merupakan tempat yang ramai di kunjungi pejalan kaki. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik pejalan kaki, bagaimana hubungan antara kecepatan (speed), arus (flow), kepadatan (density), dan walkability di kawasan tersebut. Selain itu untuk mengetahui besarnya kapasitas dan Level Of Service (LOS) apakah masih bisa menampung jumlah pejalan kaki yang ada. Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan metode survai dan metode analisis. Metode survai yakni dengan menggunakan teknik manual dalam pengamatan dan pengambilan data di lapangan. Dari hasil survai di lapangan di dapatkan data jumlah pejalan kaki dan waktu tempuh pejalan kaki. Sedangkan metode analisis yakni dengan menggunakan metode regresi linier sesuai dengan cara yang digunakan oleh Greenshields. Dari hasil penelitian, didapat arus (flow)= 19 ped/menit/meter, kecepatan sebesar 66.58 m/menit, dan kepadatan sebesar 0.56928 pejalan kaki/m2.Menurut John. J. Fruin, standar perencanaan fasilitas pejalan kaki di daerah perkotaan (urban) pada tingkat pelayanan B. Agar tingkat pelayanan dapat ditingkatkan maka diperlukan system pengelolaan dalam mengantisipasi arus pejalan kaki yang cenderung meningkat terutama pada jam-jam sibuk dari hari-hari menjelang Hari Raya. Kata kunci: Berjalan kaki, Greenshields, Pedestrian, tingkat pelayanan
ANALISIS KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL UNTUK SIMPANG JALAN W.R. SUPRATMAN DAN JALAN B.W. LAPIAN DI KOTA MANADO Bawangun, Vrisilya; Sendow, Theo K.; Elisabeth, Lintong
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 6 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persimpangan merupakan tempat kendaraan dari berbagai arah bertemu dan merubah arah. Volume lalu lintas kota Manado mengalami peningkatan setiap tahunnya sebagai akibat bertambahnya jumlah kendaraan. Untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada simpang tersebut, maka dinilai perlu mengadakan Analisis Kinerja Simpang Tiga Tak Bersinyal Jalan W.R.Supratman dan Jalan B.W.Lapian di Kota Manado dilihat dari kapasitas, derajat kejenuhan, tundaan dan peluang antrian dengan menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI 1997). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis simpang tiga tak bersinyal berdasarkan MKJI 1997 dan menganalisi persimpangan untuk meningkatkan kinerja simpang menggunakan data eksisting dan data forecasting. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan survey di lapangan menggunakan kamera video untuk mendapatkan data primer, yang selanjudnya dilakukan ekstrak data menggunakan layar monitor dan mengumpulkan data sekunder dari beberapa instansi. Kemudian diolah dengan menggunakan acuan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI 1997) dan program Microsoft Excel 2007 untuk mengolah data lalu lintas. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa simpang Jalan W.R.Supratman dan Jalan B.W.Lapian memiliki nilai Derajat Kejenuhan (DS) = 1,036 pada jam sibuk Senin sore berdasarkan perhitungan pada MKJI 1997. Hal ini mengindikasikan bahwa saat ini kondisi simpang itu buruk. Hasil analisis menunjukan apabila Simpang Tiga Tak Bersinyal Jalan B.W.Lapian dan Jalan W.R.Supratman diterapkan pelarangan belok kanan untuk jalan minor, pelebaran jalan utama dan pelebaran jalan minor, maka nilai Derajat Kejenuhan = 0,666. Kata kunci: jalan, simpang tiga, MKJI, kapasitas, derajat kejenuhan
ANALISA KINERJA LALU LINTAS AKIBAT BESARNYA HAMBATAN SAMPING TERHADAP KECEPATAN DENGAN MENGGUNAKAN REGRESI LINIER BERGANDA (STUDI KASUS RUAS JALAN DALAM KOTA PADA SEGMEN JALAN LUMIMUUT) Rauf, Herman; Sendow, Theo K.; Rumayar, Audie L. E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 10 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transportasi memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat seiring dengan perkembangan zaman, terutama di Kota Manado. Dengan meningkatnya volume kendaraan akan mempengaruhi tingkat kinerja lalu lintas yang akhirnya mengakibatkan kemacetan. Beberapa faktor pendukung terjadinya  kemacetan tersebut, yaitu adanya aktivitas samping jalan seperti kendaraan yang sering keluar masuk, kendaraan yang berhenti dan parkir, penyeberang jalan, dan kendaraan tak bermotor. Maka dari itu perlu dilakukannya penelitian tentang kinerja lalu lintas akibat besarnya hambatan samping terhadap kecepatan pada suatu ruas jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab utama terjadinya kemacetan karena aktivitas samping jalan dengan menggunakan panduan dari Manual Kapasitas Jalan Indonesia tahun 1997. Pengambilan data di lapangan dilakukan selama 4 hari yang dimulai dari pukul 06.00 – 20.00 WITA dengan interval waktu 15 menit. Lokasi yang diteliti, yaitu ruas jalan lumimuut dengan dibagi menjadi 3 segmen dengan panjang masing–masing segmen adalah 100 meter, serta lebar ruas jalan tersebut adalah 7 meter. Ruas jalan Lumimuut merupakan jalan dengan dua lajur dua arah tanpa median (2/2 UD). Data yang didapat kemudian di analisa dengan menggunakan metode regresi linier berganda. Hasil yang diperoleh dari analisa data, kapasitas 2020,92 smp/jam dengan volume puncak rata–rata tiap segmen berkisar 1154,3 – 1205,8 smp/jam, kecepatan rata – rata sebesar 10,477 km/jam – 25,181 km/jam dan tingkat pelayanan jalan E, serta kecepatan arus bebas sebesar 31,5 km/jam diliat berdasarkan parameternya. Dari hasil analisa data dengan menggunakan metode regresi linier berganda besarnya hambatan samping yang terjadi adalah sebesar 62,25% untuk segmen 1 dengan persamaan Y = 36.0289 - 0.07499X1 – 0.077461X2 + 0.0670X3 + 0.1112X4,  31,123% untuk segmen 2 dengan persamaan Y = 30.93145 + 0.013359X1 – 0.07202X2 – 0.01112X3 – 0.11031X4 dan untuk segmen 3 sebesar  23,67% dengan persamaan Y = 40.981 – 0.0484X1 – 0.05482X2 – 0.00476X3 + 0.0165X4 . factor utama yang mempengaruhi kecepatan adalah kendaraan parkir dan berhenti dengan nilai rata – rata sebesar 17,661% sampai dengan 23,78%. Oleh karena itu perlu adanya rambu – rambu serta pos penjagaan polisi untuk mengatur serta menjaga aturan – aturan rambu – rambu yang ada. Kata kunci : Kinerja Lalu Lintas, Hambatan Samping, Parkir dan Berhenti, Kemacetan
PENGARUH VISKOSITAS ASPAL DAN DAMPAKNYA TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL Senduk, Novita Lucia; Kaseke, Oscar H.; Sendow, Theo K.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 1 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Campuran beraspal panas (hotmix) adalah campuran dari agregat dan aspal yang dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas. Tujuan dari pemanasan aspal adalah untuk menurunkan kekentalan (viskositas) sehingga mudah untuk dicampurkan dengan material lain (workabilitas tinggi). Viskositas aspal berhubungan dengan temperatur pemanasan; pada temperatur rendah viskositas tinggi sedangkan pada temperatur tinggi viskositas rendah. Viskositas merupakan salah satu faktor penting dalam pelaksanaan campuran, dan mempengaruhi karakteristik Marshall. Pengaruh viskositas terhadap karakteristik Marshall inilah yang akan menjadi topik penelitian. Penelitian ini menggunakan material dari dua lokasi yaitu Lolan dan Tateli dan menggunakan aspal pertamina penetrasi 60/70. Penelitian dimulai dengan pemeriksaan fisik terhadap material dan aspal yang akan digunakan berdasarkan Spesifikasi Bina Marga 2010 revisi 2012, termasuk dengan pemeriksaan viskositas aspal dengan alat Saybolt Furol. Berdasarkan gradasi agregat yang didapat, dibuat komposisi agregat terbaik dan kadar aspal terbaik untuk campuran ideal. Selanjutnya dibuat masing-masing 3 benda uji berdasarkan campuran ideal dengan variasi viskositas aspal dan diuji Marshall untuk mendapatkan kadar aspal terbaik. Berdasarkan kadar aspal terbaik, dibuat benda uji dengan variasi viskositas aspal yang kemudian diuji, diperiksa dan didapatkan hasil uji Marshall dari masing-masing benda uji. Dengan variasi pemanasan aspal yaitu antara 1200C-2000C yang menghasilkan nilai viskositas aspal antara 41,40cSt-170,00cSt diperoleh hasil uji Marshall; dimana nilai stabilitas, flow, dan VFB cenderung meningkat seiring berkurangnya viskositas aspal sedangkan nilai MQ, VIM, dan VMA cenderung turun seiring berkurangnya viskositas. Pada viskositas 170cSt (temperatur 1500C) merupakan titik dimana semua karakteristik Marshall mencapai titik maksimum dan menghasilkan benda uji yang bermutu baik. Dapat disimpulkan bahwa batasan viskositas pencampuran yang baik berada pada rentang 41,40cSt-170,00cSt (temperatur 1200C-2000C) dengan suhu pemadatan 50C dibawah suhu pencampuran. Disarankan untuk sesegera mungkin mencampur dan memadatkan benda uji jika temperatur yang menghasilkan viskositas yang baik telah tercapai.   Kata kunci: viskositas, temperatur, workabilitas, karakteristik Marshall
KAJIAN KINERJA CAMPURAN LAPIS PONDASI JENIS LAPIS TIPIS ASPAL BETON-LAPIS PONDASI (HRS-BASE) BERGRADASI SENJANG DENGAN JENIS LAPIS ASPAL BETON-LAPIS PONDASI (AC-BASE) BERGRADASI HALUS Huwae, Meggie; Kaseke, Oscar H.; Sendow, Theo K.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 3 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lapis Pondasi Aspal (Asphalt Base) adalah bagian dari lapis perkerasan aspal, yang berada di bawah lapis aus (Wearing Course) dan Lapis Antara (Binder Course). Lapis perkerasan tersebut tidak berhubungan langsung dengan beban roda kendaraan, namun berperan untuk menahan beban yang disalurkan dari lapis-lapis diatasnya dan meneruskan ke lapis dibawahnya. Dalam spesifikasi Bina Marga dikenal 2 (dua) jenis campuran Asphalt Base yakni HRS-Base yang bergradasi senjang dan AC-Base yang bergradasi menerus. Kinerja dari kedua jenis campuran inilah yang akan diteliti perbedaannya. Pengujian dilakukan di Laboratorium Teknik Perkerasan Universitas Sam Ratulangi Manado dengan menggunakan material yang bersumber dari daerah Bolaang Mongondow (Lolan) yang sudah banyak digunakan dan aspal penetrasi 60/70. Pengujian menggunakan kriteria Marshall berdasarkan spesifikasi Bina Marga oleh Kementrian Pekerjaan Umum tahun 2010 revisi 2012. Hasil pengujian menunjukkan campuran HRS-Base dan AC-Base berbeda secara signifikan dilihat dari kriteria Marshall, nilai stabilitas AC-Base lebih tinggi 34.61 % dari HRS-Base, sebaliknya pada flow HRS-Base lebih tinggi 2.17% dari AC-Base, nilai Marshall Quotient mengikuti perbandingan nilai stabilitas dan flow. VIM dan VMA pada HRS-Base lebih tinggi dari AC-Base sedangkan pada VFB, AC-Base lebih tinggi dari HRS-Base. Kadar aspal terbaik dimana semua kriteria Marshall terpenuhi, pada kedua campuran ini berbeda. Nilai kadar aspal terbaik dari AC-Base lebih rendah yaitu 6.5% dibandingkan HRS-Base 7.5%. Stabilitas dari AC-Base lebih sensitif akibat perubahan kadar aspal dibandingkan dengan HRS-Base. Contohnya dengan fluktuasi kadar aspal ±1%, penurunan nilai stabilitas pada AC-Base 13.37% sedangkan pada HRS-Base 7.92% . Dalam pemilihan perkerasan pondasi aspal jalan raya jika membutuhkan stabilitas tinggi maka sebaiknya menggunakan campuran AC-Base, namun apabila terjadi kemungkinan fluktuasi perubahan kadar aspal dianjurkan menggunakan HRS-Base. Kata kunci : Kinerja campuran, HRS-Base, AC-Base, Asphalt Base, Kriteria Marshall
ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS AKIBAT ADANYA KAWASAN LION HOTEL MANADO TERHADAP KINERJA RUAS JALAN PIERE TENDEAN Tambajong, Brenda E.; Sendow, Theo K.; Jansen, Freddy
JURNAL SIPIL STATIK Vol 6, No 9 (2018): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lion Hotel Manado terletak dikawasan pusat kota Manado yang memiliki luas ± 26.782 m2. Sesuai dengan amanat dalam Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Analisis Dampak Lalu Lintas sehingga diwajibkan bagi pengembang kawasan Lion Hotel and Plaza Manado yaitu PT. Lion International Hotel untuk melakukan Analisis Dampak Lalu Lintas di Lion Hotel Manado, juga sesuai dengan Pedoman Teknis Analisis Dampak Lalulintas Pembangunan Pusat Kegiatan pada Ruas Jalan Nasional di Wilayah Perkotaan (2009) yang menyatakan bahwa pusat kegiatan seperti hotel dan pertokoan dengan luas minimal 500 m2 wajib melakukan andalalin. Analisis dampak lalu lintas (Andalalin) adalah kajian yang menilai dampak yang ditimbulkan akibat pengembangan tata guna lahan terhadap sistem pergerakan lalu lintas pada suatu ruas jalan terhadap jaringan transportasi sekitarnya.Penelitian analisis dampak lalu lintas ini dilakukan di kawasan Lion Hotel Manado, Provinsi Sulawesi Utara. Daerah survey meliputi Jl. Piere Tendean, Jl. Ahmad Yani 24, Jl. Bethesda-Wolter Monginsidi, Jl. Wolter Monginsidi depan Transmart Bahu, simpang tidak bersinyal Jl. Piere Tendean. Analisis dilakukan terhadap kinerja ruas jalan dan kinerja persimpangan, analisis penanganan dampak lalulintas, dan analisis penataan eksternal Lion Hotel Manado. Analisis kinerja ruas jalan dan persimpangan mengikuti Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia 2014 (PKJI 2014) dengan nilai VCR (Volume Capacity Ratio) atau DS (Degree of saturation) sebagai parameter kinerja.Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kinerja persimpangan yang ada dikawasan Lion Hotel Manado berada pada keadaan yang baik dengan DS untuk simpang pertama dan simpang kedua berturut-turut adalah 0,26 dan 0,6. Kapasitas (C) untuk simpang pertama adalah 23.906 dan untuk simpang kedua adalah 7.559. Karena arus lalulintas disimpang yang tidak melebihi kapasitas yang dihitung maka kondisi dari simpang yang ada disekitar kawasan Lion Hotel Manado berada dalam kondisi baik dan tidak ada gangguan akibat adanya kawasan Lion Hotel Manado. Kata Kunci: andalalin, volume capacity ratio, kecepatan, kapasitas, kinerja, persimpangan
TINJAUAN GEOMETRIK JALAN PADA RUAS JALAN AIRMADIDI-TONDANO MENGGUNAKAN ALAT BANTU GPS Pribadi, Dwijayanto; Paransa, M. J.; Sendow, Theo K.; Undap, L. J.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 1, No 7 (2013): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pekerjaan pengukuran merupakan salah satu bagian penting dari tahapan perencanaan geometrik jalan dimana pekerjaan ini membutuhkan waktu yang relatif lama akibatnya perencanaan geometrik memerlukan waktu yang lama pula dikarenakan harus menunggu terselesaikannya terlebih dahulu tahap pengukuran. Garmin GPSmap 60CSx merupakan alat yang mampu memberikan informasi data koordinat dan elevasi dalam waktu yang singkat (memiliki akurasi ± 2 meter untuk sistem koordinat ) hanya dengan cara melakukan tracking (perjalanan) pada ruas jalan yang ada. Sehingga, penggunaan GPS mampu mendeteksi dengan cepat lokasi-lokasi pada ruas jalan yang tidak memenuhi persyaratan sehubungan dengan kecepatan rencana yang akan ditetapkan khususnya pada jalan antar kota dimana lokasi ini nantinya dapat dijadikan sebagai proyek peningkatan jalan.Studi yang dilakukan pada penelitian ini bersifat riset yang dilakukan sepanjang ruas jalan Airmadidi-Tondano, dengan cara melakukan tracking menggunakan Garmin GPSmap 60CSx untuk mendapatkan data koordinat dan elevasi ruas jalan. Data hasil tracking ini kemudian diolah menggunakan program MapSource dan selanjutnya diimpor keprogram Autocad Land Desktop 2007. Lokasi penelitian dipilih segmen jalan yang banyak memiliki lengkung. Pekerjaan ini hanya memerlukan waktu relatif singkat (1 hari) untuk bisa mendapatkan data koordinat ruas jalan sepanjang 19,040 km (Airmadidi-Tondano).Lokasi penelitian dipilih pada sta 28+759.822 meter sampai dengan sta 31+523.600 meter (dari kota Manado) yang terdiri dari 46 lengkung, 38 lengkung diantaranya tidak memenuhi standar kecepatan rencana Vr = 40 km/jam dengan besar radius lengkung (Rc) minimum sebesar 50 meter. Untuk menetapkan besaran dari radius lengkung tersebut dibutuhkan waktu selama 1 jam dengan menggunakan bantuan program Autocad Land Desktop 2007, sehingga dengan cepat bisa mengetahui bahwa lokasi penelitian ini perlu untuk diupayakan perubahan alinyemen jalan sesuai standar kriteria perencanaan.Kata Kunci : GPS, Kecepatan Rencana (Vr), Radius Lengkung (Rc)
ANALISA KINERJA RUAS JALAN MANADO BYPASS TAHAP I DI KOTA MANADO Samponu, Ignatius Tri Prasetyo; Sendow, Theo K.; Manoppo, Mecky R. E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 6 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruas jalan Manado Bypass tahap I adalah salah satu bagian dari satu kesatuan jalan lingkar yang mengitari kota Manado dan berfungsi sebagai jalan alternatif dalam kota, juga berperan untuk mengalihkan arus lalu lintas yang melintasi kota Manado, agar tidak mengganggu kapasitas dan kinerja jalan yang ada di dalam kota Manado sendiri. Seiring dengan pertumbuhan kota Manado, terjadi juga peningkatan arus lalu lintas yang dipicu antara lain oleh pertumbuhan penduduk dan tata guna lahan. Pertumbuhan arus lalu lintas ini tidak diimbangi dengan penambahan kapasitas jalan sehingga mengakibatkan menurunnya kinerja ruas jalan ini. Selain itu banyaknya jumlah akses pada ruas jalan ini juga mempengaruhi kinerja dari ruas jalan ini. Penurunan kinerja ruas jalan Manado Bypass tahap I ini dapat dilihat dari kondisi jalan yang ada, dimana sudah terjadi kemacetan, kecepatan kendaraan yang menurun hingga kurang dari kecepatan rencana serta waktu tempuh yang meningkat. Studi yang dilakukan dalam penelitian ini bersifat riset yang dilakukan di ruas jalan Manado Bypass tahap I selama tiga hari survey. Survey dilakukan pada dua ruas jalan pada pukul 06.00 – 21.00 dan bertujuan untuk mengetahui kinerja ruas jalan tersebut. Teknik analisa data dilakukan dengan menggunakan MKJI 1997 untuk menghitung kapasitas dan derajat kejenuhan. Berdasarkan hasil survey, diperoleh hasil penelitian yaitu volume (Q) puncak berkisar antara 1383 smp/jam sampai 2036 smp/jam dengan volume puncak tertinggi pada ruas jalan antara Simpang empat menuju Perkamil dan Lembaga Pemasyarakatan sampai simpang tiga menuju Maumbi. Kecepatan rata-rata berkisar pada 35,357 km/jam – 41,715 km/jam. Volume Capacity Ratio (VCR) berada pada rentang 0,555 – 0,658 dengan VCR terendah terjadi pada ruas jalan antara simpang tiga menuju Narwastu sampai simpang tiga menuju Kembes. Tingkat pelayanan (LOS) pada kedua ruas jalan identik, namun berdasarkan VCR, tingkat pelayanan terburuk terjadi pada ruas jalan antara simpang empat menuju Perkamil dan Lembaga Pemasyarakatan sampai simpang tiga menuju Maumbi dengan tingkat pelayanan C, nilai VCR 0,658, kecepatan rata-rata 35,357 km/jam dan terjadi pada hari Kamis, 29 Januari 2015. Kata Kunci: Kinerja, Ruas Jalan, Kecepatan, LOS
ANALISIS PERBANDINGAN DESAIN OVERLAY PERKERASAN LENTUR DENGAN METODE BINA MARGA 2017 MENGGUNAKAN DATA LENDUTAN BB DAN AASHTO 1993 MENGGUNAKAN DATA LENDUTAN FWD (STUDY KASUS: RUAS JALAN AIRMADIDI - KAIRAGI) Manguande, Jeisya; Manoppo, Mecky R. E.; Sendow, Theo K.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 8, No 1 (2020): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Overlay adalah lapis perkerasan tambahan yang di pasang di atas konstruksi perkerasan jalan yang ada dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan struktur agar dapat melayani lalu lintas yang di rencanakan selama umur rencana. Pada Ruas Jalan Airmadidi – Kairagi Kondisi fungsional dapat dilihat secara visual terjadinya kerusakan seperti cacat permukaan dan retak  sedangkan untuk kondisi struktural dilakukan pemeriksan non destruktif menggunakan alat Benkelman Beam (BB) dan Falling Weight Deflectometer (FWD).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta membandingkan tebal lapis tambah (overlay) metode Manual Desain Perkerasan Jalan 2017 dengan AASHTO 1993. Dalam Penelitian ini data yang diambil  yaitu data primer dan data sekunder. Data Primer yaitu data Volume Lalu Lintas dan Data Sekunder yaitu Data  Lendutan Benkelman Beam (BB) dan lendutan Falling Weight Deflectometer (FWD).Hasil perhitungan volume lalu lintas didapat nilai CESA (Cumulative Equivalent Single Axle) menurut Bina Marga 2017 adalah CESA4 sebesar 7.172.054,42 dan CESA5 sebesar 11.115.907,07 menurut metode AASHTO 1993 adalah W18 = 11.253.968,57. Perbedaan hasil dari kedua metode ini disebabakan karena pada Manual Desain Perkerasan jalan 2017 penetapan nilai VDF (Vehicle Damage Factor) menggunakan Tabel 2.5 sedangkan pada metode AASHTO 1993 Nilai VDF (Vehicle Damage Factor) disetiap kendaraan menggunakan interpolasi dengan tabel faktor ekivalnesi beban gandar dengan mencari nilai SN berdasarkan tebal perkerasan, koefisien lapisan dan koefisien drainase. Hasil perhitungan tebal lapis tambah (overlay) menurut metode Bina Marga 2017 dengan nilai CESA4  adalah 4 cm dan CESA5 adalah 15 cm, sedangkan untuk metode AASHTO 1993  adalah 7 cm.Pada penelitian ini juga dibuat simulasi perhitungan beban lalu lintas terhadap tebal lapis tambah perkerasan yang dianalisis dengan model regresi linier, regresi eksponensial, regresi logaritma. Dari hasil analisa, regresi logaritma menghasilkan nilai r² paling besar dan menjadi kunci untuk pemilihan model terbaik. Kata Kunci: Manual Desain Perkerasan Jalan 2017, AASHTO 1993, Overlay, VDF, Bekelman Beam, Falling Weight Deflectometer, CESA, Tebal lapis tambah perkerasan.
ANALISIS PERHITUNGAN LUAS TULANGAN GELAGAR JEMBATAN PENAMPANG PERSEGI DAN PENAMPANG T MENURUT METODE BMS 1992 Manangi, Sri Rachmila; Sendow, Theo K.; Rumayar, Audie L. E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 7 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu jembatan direncanakan untuk mampu memikul beban baik beban hidup maupun beban mati. Gelagar adalah bagian struktur atas jembatan yang berfungsi mendukung semua beban yang bekerja pada lantai jembatan. Dua tipe penampang gelagar yaitu gelagar penampang persegi dan gelagar penampang T dianalisis untuk mengetahui besarnya perbedaan luas tulangan perlu dari kedua penampang ini, menggunakan metode Bridge Management System 1992 (BMS 1992), dengan bentang jembatan 8.00 m sampai 25.00 dan tinggi gelagar 0.60 m sampai 1.80 m terhadap perencanaan tulangan lentur gelagar yang menggunakan mutu beton (fc’) 30 MPa, mutu baja (fy) 300 MPa.Hasil analisis menunjukkan perhitungan luas tulangan dengan analisa penampang T akan sedtkit lebih ekonomis (paling kecil 85%), dibandingkan dengan perhitungan analisa penampang persegi, pada tinggi gelagar yang relatif rendah. Namun, pada tinggi gelagar yang semakin tinggi, hasil perhitungan luas tulangan kedua metode ini, akan mendekati sama (mendekati 100%). Sehingga perhitungan luas tulangan dengan analisa penampang persegi akan lebih dianjurkan dari pada analisa penampang T untuk tulangan tunggal.  Kata Kunci : Gelagar Persegi, Gelagar T, BMS 1992, Luas Tulangan
Co-Authors Alelo, Ivana Junia Appi Yamsos Solossa Armin Lumban Toruan Audie L. E. Rumajar Audie L. E. Rumayar Benjamin, Hendry Samuel Bolung, Ayuni Laurentia Bongso, Shofian E. H. Cindy Irene Kawulur Clinton Yan Uguy, Clinton Yan David W. Rambitan Dhewanty Rahayu Puteri, Dhewanty Rahayu Diah Anggraeni Damiyanti Masalle, Diah Anggraeni Damiyanti Dimas F. Robot Dwijayanto Pribadi Elisabeth Lintong Febrina Ishak Syahabudin, Febrina Ishak Fergianti Suawah, Fergianti Ferry Yakob, Ferry Freddy Jansen Freyti Silvia Mawu, Freyti Silvia Giroth, Mega Indah Hasibuan, Lamrumenta Marianti Herman Rauf, Herman Hermi R. A. Gultom Ignatius Tri Prasetyo Samponu, Ignatius Tri Prasetyo James A. Timboeleng Jefferson Longdong Joice E. Waani Jori George Kherel Kastanya Joy Andre Dio Mosey Julia Astuti Djumati Jurike Ireyne Toar Kairupan, Liani Anggreini Katihokang, Meila Femina Kiding Allo, Agatha Desiwanty Kindangen, Natalia V. L. J. Undap Lalamentik, Lucia G. J. Lendy Arthur Kolinug Lexie F. Kereh Liando, Stanley Lintong Elisabeth Lucia G. J. Lalamentik Lucia G. J. Lalamentik M. J. Paransa Manangi, Sri Rachmila Manguande, Jeisya Manoppo, Cheryl N. Manoppo, Mecky R. Mantiri, Cynthia Claudia Masinambow, Christmas E. L. Mecky R. E. Manoppo Meggie Huwae, Meggie Natal Pangondian Siagian Junior, Natal Pangondian Nathanael Pieter Siriwa Novita Lucia Senduk Olivia Rosalyn Marpaung Oscar H. Kaseke Paat, Geraldo Niki Imanuel Palenewen, Steve Ch. Pandeiroth, Jerivo Pangerapan, Monica Linny Pasiak, Imanuel S. Praycilia Inri Badar Priskila Gedoa Tamila Romauli, Theresia Dwiriani Royke Limpong, Royke Rumondor, Eko Randy Rusdianto Horman Lalenoh, Rusdianto Horman Safitra, Putri Angelia Samuel A. R. Warouw Sembung, Nadya Tesalonika Semuel Y. R. Rompis, Semuel Y. R. Sinaga, Lerinsah Steve Ch. N. Palenewen Sweetly Manopo Tambajong, Brenda E. Taufan Guntur Stallone Merentek, Taufan Guntur Stallone Tawalujan, Kevin Filindo Timpal, Greyti S. J. Toding, Risman Bismar Tombeg, Charlie Valentino Untu, Viena Mia Gratia Untung, Evangelina Viandany Zulfian Muslim Vrisilya Bawangun, Vrisilya Winardi M. F. Sumardi Wowor, Flandieh S. E. Yauri, Ricky