Claim Missing Document
Check
Articles

Link-based And Subpath-based Hybrid Restoration Scheme In Optical Networks Satria Utama; Istikmal Istikmal; Erna Sri Sugesti
eProceedings of Engineering Vol 2, No 2 (2015): Agustus, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract—In optical network survivability, link-based and subpath-based restorations have been discussed in many papers as survivability methods for optical wavelength division multiplexing (WDM) network. One of the problem in both restoration methods occurs when network resources are unavailable. In such condition, the traffic is dropped and the source node is requested to retransmit the packages. This paper proposes LinkSPath, a hybrid scheme to increase the performance of network survivability by integrating both link- based and subpath-based restoration schemes. The scheme provides a redundancy for each other when one is not succeed due to unavailable resources. It also provides lightpath options and choose one with the shortest recovery time. The alternative lightpath with shortest recovery time is stated as the primary backup, while the other one as the secondary backup. The hybrid scheme is distributed and recovery times of both link- based and subpath-based are first calculated. Alternative lightpaths are determined using Dijkstra algorithm. The NSFNET modelwas utilized. The simulation showed that the LinkSPath scheme has average restoration time which complies with ANSI standard and would not jeopardize communication. It also showed that LinkSPath has improved the individual performance of forming methods, Link-Based and Subpath- Based, in the number of restorations with recovery time smaller than retransmission. Keywords—Optical networks; Survivability; Hybrid restoration; Link-based; Subpath-based; WDM networks
Analisis Throughput Layanan Streaming Pada Wireless Lan 802.11n Non-qos Mochamad Adhi Pratama; Erna Sri Sugesti; Ratna Mayasari
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Standar yang digunakan untuk sistem komunikasi Wireless LAN adalah IEEE 802.11. Pada tahun 2009 dirilis standar IEEE 802.11n, standar yang diharapkan mampu memberikan nilai throughput lebih dari 100 Mbps. Permasalahan yang sering terjadi pada suatu jaringan WLAN adalah permasalahan kekuatan sinyal, kualitas sinyal serta jaminan user untuk mendapatkan layanan, sehingga jaminan Quality of Service merupakan hal yang harus diperhatikan dalam perancangan sebuah jaringan WLAN. Pada tugas akhir ini diimplementasikan jaringan WLAN menggunakan standar IEEE 802.11n berbasis eksperimen implementatif dengan menggunakan metode non QoS untuk memberikan karakteristik dari jaringan WLAN standar IEEE 802.11n menggunakan access point Cisco WAP321. Analisis yang dilakukan fokus terhadap nilai hasil pengukuran throughput pada sisi user yang melakukan layanan streaming video.. Parameter uji yang dilakukan meliputi perubahan nilai Beacon Interval, Fragmentation Threshold, RTS Threshold, dan Transmitt Power. Dengan eksperimen yang telah dilakukan, diperoleh rata rata throughput tertinggi pada saat AP dikonfigurasi beacon interval 20 ms, RTS threshold 1024 Bytes, dan fragmentation threshold 728 Bytes. Throughput terendah didapat pada saat penggunaan mode non-QoS sedangkan cakupan terjauh yang dapat dijangkau oleh AP yaitu pada saat nilai transmit power 100%. Bagi user, rata-rata throughput tertinggi didapat pada kondisi user yang terdapat pada main lobe antena AP dengan keadaan LoS.Kata kunci : WLAN, Throughput, RTS Threshold, Fragmentation threshold, Transmitt Power, Beacon Interval.
Delay Reduction On Gpon By Modifying Bi-partition Dynamic Bandwidth Allocation Method Kurnia Triningsih; Erna Sri Sugesti; Sofia Naning H
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The majority of the optical fiber access network is currently dominated by Gigabit Passive Optical Network (GPON) technology, which is able to provide various services on the network. Dynamic Bandwidth Allocation (DBA) is used for control the upstream bandwidth on GPON. This DBA method alocates an unused timeslot for another Optical Network Termination (ONT) with a particular priority and set the maximum permitted frame length to be transmitted in order to get equal opportunities in data delivery. We proposed Multi partition DBA that divides time cycle into four groups. Simulation was conducted to compare the performance of Multi Partition DBA with two different schemes. This method improved the total delay performance since the number of partitions resolved the idle period and made DBA computation time more effectively. 
Analisis Hidden Station Pada Jaringan Wireless Fidelity (wi-fi) Di Telkom University Winana Aperta Libar; Erna Sri Sugesti; Doan Perdana
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Standar IEEE yang berkembang saat ini adalah 802.11n memiliki mekanisme akses RTS/CTS yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz dan 5 GHz. Mekanisme RTS/CTS berfungsi untuk menghindari akibat tabrakan atau collision pada station dalam satu cakupan access point yang disebabkan oleh Hidden Station. Di Universitas Telkom 802.11n telah diterapkan, namun belum terdeteksinya user yang menggunakan frekuensi 5 GHz. Dibutuhkan penelitian implementasi pengaruh hidden station pada frekuensi 5 GHz di Universitas Telkom menggunakan simulasi. Pada tugas akhir ini menggunakan perangkat lunak yaitu Network Simulator 3.25 (NS3.25). untuk mendeteksi pengaruh hidden station digunakan tiga parameter yang terdiri dari throughput, delay, dan packet delivery ratio (PDR).. Simulasi yang dirancang menggunakan tiga skenario berdasarkan tiga metode yang telah di tentukan yaitu Metode A, Metode B dan Metode C perbedaan dari masing-masing metode tersebut adalah posisi lokasi station dan hidden station dan komposisi jumlah station dalam rentang 10 hingga 30 station, setiap komposisi dilakukan penambahan jumlah station dengan interval kelipatan lima. Hal ini dilakukan untuk membandingkan ketiga metode tersebut dalam penggunaan mekanisme akses RTS/CTS. Berdasarkan tiga metode yaitu Metode A, Metode B dan Metode C. Pada ketiga metode ini dapat disimpulkan throughput, PDR yang dihasilkan berbanding lurus dengan peningkatan jumlah station dan hidden station, dan terjadi peningkatan delay yang disebabkan oleh collision. Namun berdasarkan perancangan simulasi penggunaan RTS/CTS dapat digunakan ketika jumlah station lebih dari 20 station pada Metode A dan Metode B sedangkan Metode C tidak dapat digunakan. karena terdapat data frame RTS/CTS yang menyebabkan proses akses transmisi menjadi lambat sehingga berkurangnya nilai throughput dan PDR akibat packet loss.Kata kunci : Hidden node, RTS/CTS, throughput, delay, PDR
Perancangan Dan Simulasi Filter Parallel Cascade Microring Resonator Sebagai Optical Interleaver Ariq Naufal; Erna Sri Sugesti; Dadin Mahmudin
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan transfer data yang semakin tinggi menuntut perkembangan sistem telekomunikasi dengan jaringan yang mempunyai kecepatan transfer data yang tinggi dan dapat menampung banyak traffic. Sistem komunikasi serat optik yang mempunyai dua kemampuan tersebut dapat menjadi solusi untuk itu. Untuk mendukung perkembangan jumlah traffic pada sistem komunikasi serat optik, dibuat suatu sistem yang dapat menggabungkan beberapa sinyal informasi yaitu wavelength division multiplexing (WDM). Salah satu komponen pendukung pada WDM adalah optical interleaver, yang memiliki fungsi sebagai multiplexer demultiplexer. Jurnal ini membahas mengenai simulasi dan analisis microring resonator yang digunakan untuk aplikasi optical interleaver pada frekuensi kerja coarse wavelength division multiplexing (CWDM). Simulasi diawali dengan menentukan dimensi objek simulasi yang terdiri dari ukuran jari-jari, gap, material waveguide, tebal dan lebar waveguide simulasi dilakukan dengan menggunakan software CST microwave studio 2014. Selanjutnya dilakukan análisis terhadap hasil optimasi, analisis meliputi parameter kinerja yang terdiri dari free spectral range (FSR), bandwidth (FWHM), finesse dan Q factor. Hasil simulasi yang sesuai mampu menghasilkan nilai FSR yang sesuai dengan karakteristik optical interleaver pada jaringan CWDM, bandwidth yang sempit, nilai finesse dan Q factor yang tinggi serta bekerja pada daerah frekuensi kerja. Kata kunci: Optical interleaver, Microring resonator, CWDM
Perencanaan Terrestrial Trunked Radio (tetra) Digital Pada Kereta Bandara Soekarno Hatta – Halim Perdana Kusuma Anastasia Clara; Rina Pudji Astuti; Erna Sri Sugesti
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem komunikasi Kereta Api saat ini menggunakan satu kanal analog frekuensi 167-171 MHz, kondisi trafik wilayah Jakarta membutuhkan lebih dari satu kanal. Kebutuhan ini dapat disolusikan oleh Terresterial Trunked Radio (TETRA) yang memiliki empat kanal dengan frekuensi kerja 410-430 MHz, satu transmitter TETRA menyediakan empat buah kanal dengan satu kanal dipakai untuk kontrol. Perencanaan TETRA dilakukan pada Stasiun Soeta-Halim dengan jarak 43,9 km. Perencanaan ini menggunakan metode planning coverage, dengan mencari nilai parameter link power budget untuk menentukan MAPL dan didapat nilai radius untuk menentukan jumlah site. Metode planning capacity, menentukan demand TETRA dan jumlah kanal dengan bantuan tabel erlang B. Dari metode tersebut dilakukan pengujian dengan simulasi dan validasi perhitungan. Hasil perencanaan membutuhkan 2 buah site, hasil simulasi level sinyal rata-rata adalah -54,45 dBm, dengan validasi perhitungan RSL sebesar -103 dBm dimana nilai level sinyal pada simulasi lebih baik dibandingkan dengan perhitungan. Hasil simulasi C/I sebesar ≥18 dB dimana mendekati hasil perhitungan 75,71%. Mean number of server pada overlapping zone sebesar 1,12, BER sebesar 3x10-5 dan pada backhaul link yang direncanakan memenuhi batas clearance dan tidak mengalami pelemahan sinyal terima. Kata kunci : TETRA, ETSI, planning based on capacity, planning based on coverage, backhaul.
Analisis Packet Loss Pada Wlan 802.11n Qos Mode Basic Service Set Berbasis Adith Priyo Pratama; Erna Sri Sugesti; Ratna Mayasari
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

WLAN merupakan sebuah perangkat pengiriman data pada jaringan komputer tanpa menggunakan media transmisi kabel (wireless) dimana mobilitas dan fleksibilitas dari perangkat ini sangat baik. WLAN telah distandarisasi oleh IEEE 802.11 dan sudah terdapat beberapa perubahan. Eksperimen ini QoS dari perangkat WLAN 802.11n dengan parameter packet loss yang ingin diketahui menggunakan aplikasi Wireshark. Eksperimen ini ingin membuktikan kinerja perangkat access point Cisco WAP321 Wireless-N. Pengerjaan dilakukan pada daerah tertutup (indoor). Metode yang dilakukan berupa jumlah user yang disebar dengan jarak antara access point kepada user yang berbeda serta pengaturan konfigurasi pada access point tersebut. Parameter uji yang akan dikonfigurasi meliputi transmit power, beacon interval, fragmentation threshold, RTS threshold, AIFS, contention window, dan TXOP limit. Hasil eksperimen ini menunjukan jangkauan AP terbaik berada pada konfigurasi transmit power 100%. Untuk nilai packet loss, konfigurasi beacon interval 100 ms, fragmentation threshold 728 bytes, dan RTS threshold 1024 bytes memeperoleh nilai packet loss yang lebih baik. Sementara pengaruh QoS terhadap performansi, parameter AIFS skema AIFS3, contention window skema CW1, dan TXOP limit skema TL3, memberikan nilai rata-rata terbaik untuk packet loss, throughput, dan RTT delay.Kata Kunci : WLAN, IEEE 802.11n, QoS, Packet Loss, Cisco WAP321 Wireless-N Access Point.
Delay Protokol Anti-collision Pada Jaringan Rfid Di Gedung Tokong Nanas Universitas Telkom Siti Ghoniah Juniati; Erna Sri Sugesti; Sussi Sussi
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kejadian tabrakan (collision) dalam proses pembacaan data pada RFID dihasilkan dari pembacaan tumpukan RFID tag dalam waktu bersamaan, sehingga proses pembacaan data RFID mengakibatkan pembuangan bandwidth dan meningkatkan waktu tunda identifikasi (delay). Hal ini sangat mengganggu dalam proses pembacaan data. Fasilitas layanan RFID digunakan oleh Gedung Tokong Nanas Universitas Telkom. Gedung ini memiliki jumlah lantai dan kelas terbanyak dibandingkan gedung-gedung lainnya, sehingga memiliki kepadatan trafik yang lebih besar. Permasalahan saat ini adalah durasi waktu tunggu identifikasi dan collision saat melakukan tapping ketika trafik pada Gedung Tokong Nanas dalam kondisi padat. RFID reader dalam mengatasi collision harus menggunakan protokol anti-collision sehingga dapat mengatur pembacaan dan penulisan data pada RFID tag. Untuk menurunkan waktu tunda identifikasi dan mengurangi kemungkinan terjadinya collision, diperlukan analisis parameter delay pada jaringan RFID dengan menggunakan algoritma power of two. Berdasarkan analisis power of two 𝟐 𝟖 = 𝟐𝟓𝟔 sebagai titik acuan dari puncak collision yang terjadi pada KU3.02 sampai KU3.09 yang didapatkan hasil pengolahan data sebanyak 126 collision. Kemudian dengan uji perbaikan kinerja sistem dengan melakukan perbandingan delay pada skema Slotted ALOHA didapatkan sebesar 48 ms dan pada algoritma power of two delay yang didapatkan sebesar 0,1 ms. Dari hasil perbandingan delay tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi perbaikan delay sebesar 99,79% pada jaringan RFID di Gedung Tokong Nanas. Kata Kunci : Delay, Anti-Collision, power of two, tapping, RFID. Abstract Collision event during data reading process on RFID is caused by stacking RFID tag data reading at the same time, this situation creates wasting bandwidth and increases delay. This collision situation has negative distraction on data reading processes. RFID services is being implemented at Tokong Nanas building by Telkom University. This building has the most numbers of floors and classes compare to others buildings in Telkom University which creates the situation where the data traffic jam is even worse. Current problem in Tokong Nanas building is the long waiting time during identification data and collision event when tapping during data traffic jam. In order to avoid collision event, RFID reader has to use anti-collision protocol so that arrange the reading and writing data on RFID tag. Parameter delay analysis on RFID network using power of two method which refers to the power of two algorithm is necessary to reduce the waiting time during identification data and to avoid the possibility of collision event. Based on the analysis power of two as its starting point on the collision peak from KU3.02 to KU3.09, resulting 126 collision data processing. Based on test improvement on the system task using delay comparing on the Slotted ALOHA, resulting 48 ms while using power of two algorithm resulting delay is 0,1 ms. The conclusion from above schemes is that there is 99,70% improvement in term of delay on the RFID network in this building. Keywords : Delay, Anti-Collision, power of two, tapping, RFID.
Perancangan Jaringan Komunikasi Lte Penumpang Kereta Cepat 160 Km/jam Jakarta-surabaya Jalur Cepu-surabaya Tomy Irawan; Erna Sri Sugesti; Rina Pudji Astuti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kecepatan kereta menimbulkan fluktuasi level daya terima penumpang kereta dalam sistem komunikasi. Salah satu penyebab utama adalah terdapat area cakupan yang buruk. Efek dari hal tersebut menimbulkan kualitas jaringan komunikasi menurun. Tugas akhir ini merancang jaringan LTE untuk penumpang pada kecepatan 160 km/jam dari stasiun Cepu ke stasiun Pasar Turi Surabaya dengan frekuensi 900 MHz. Perancangan jaringan LTE dengan overlapping coverage merupakan solusi dari masalah jaringan pada kereta cepat. Penggunaan Remote Radio Unit (RRU) dengan ketinggian penempatan sel berfokus untuk mendukung jaringan rel kereta. Site Existing sekitar rel kereta digunakan untuk penempatan RRU. Rancangan yang dibuat memperhatikan kecepatan user, delay trafik, serta overlapping coverage untuk handover (HO). Hasil simulasi LTE-Sim dan perhitungan diperoleh delay pada kecepatan 160 km/jam sebesar 0,01850966 detik. Overlapping coverage setiap RRU sebesar 1,7 km untuk HO dengan dua sel mencakup rata-rata 8,5 km panjang rel kereta. Dibutuhkan tujuh RRU diletakkan di site existing dan 12 RRU tambahan untuk rel kereta sejauh 141 km. Simulasi dari perancangan diperoleh RSRP yakni -63,92 dBm dengan 97,1 % area berhasil tercakup dan nilai rata-rata SINR sebesar 10,77 dB. Kata Kunci : LTE, RRU, delay, handover, macro cell, overlapping coverage Abstract Train speed mobility affect to fluctuations in the train passenger receiving power level signal in the communication system. One of the main causes is there is a poor coverage area. The effect of this causes made bad network quality for communication. This final project designed an LTE network for passengers at a speed of 160 km/h from Cepu station to Pasar Turi Surabaya station with a frequency of 900 MHz. The design of the LTE network with overlapping coverage is a solution to network problems on fast trains. The use of the Remote Radio Unit (RRU) with cell placement height focuses on supporting the railroad network. Existing sites around the railroad tracks are used for RRU’s cell placements. The design considered about user speed, traffic delay, and overlapping coverage for handovers (HO). The simulation results of LTE-Sim and calculations obtained delay at a speed of 160 km/h at 0,01850966 seconds. Each RRU's overlapping coverage of 1,7 km for HO with two cells covers an average of 8,5 km of railroad length. It took seven RRUs to be placed on the existing site and 12 RRUs to add 141 km of railroads. The simulation of the design obtained RSRP value is -63,92 dBm with 97,1% of the area successfully covered and the SINR average value of 10,77 dB. Keywords: LTE, RRU, delay, handover, macro cell, overlapping coverage
Simulasi Qos Layanan Komunikasi Penumpang Menggunakan Wlan 802.11n Pada Kereta Cepat Jakarta-surabaya Lisnawati S. Bangun; Erna Sri Sugesti; Doan Perdana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kereta Cepat merupakan sarana transportasi yang memiliki dampak positif dibandingkan Pesawat Terbang. Hal ini disebabkan efesiensi waktu diperjalanan dapat digunakan secara produktif, khususnya bagi yang membutuhkan layanan internet. Kereta Cepat Jakarta-Surabaya mengimplementasikan penggunaan Wi-Fi standar IEEE 802.11n karena fleksibilitasnya dalam mengakses layanan internet. Pengukuran ini menggunakan simulasi Network Simulator 3.26 (NS 3.26). Penelitian ini mengevaluasi komposisi trafik yang memiliki QoS terbaik pada Wi-Fi 802.11n. Parameter yang digunakan adalah delay, jitter, throughput, dan packet loss. Simulasi dirancang menggunakan lima skenario yang terdiri dari metode A, metode B, metode C, metode D dan metode E. Perbedaan dalam setiap skenario terletak pada data rate dan packet size yang digunakan. Berdasarkan lima metode tersebut, dapat disimpulkan delay dan throughput pada setiap layanan berbanding terbalik. Hal ini disebabkan delay yang besar menyebabkan throughput yang kecil. Berdasarkan metode A, metode B, metode C, layanan terbaik yang dapat digunakan adalah layanan VoIP dengan nilai sebesar 2,617 ms dan throughput sebesar 0,0075 Mbps. Hal ini disebabkan layanan VoIP memiliki tingkat priority layanan tertinggi dibandingkan layanan lainnya. Pada mix layanan metode D, layanan terbaik yang dapat digunakan adalah layanan VoIP vs Data (web browsing) dengan delay sebesar 2,644 ms dan throughput sebesar 0,0098 Mbps. Mix layanan tersebut memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan layanan lainnya. Pada metode E, delay yang dihasilkan saat menggunakan kanal sebesar 6,933 ms dan throughput sebesar 0,0412 Mbps. Hal ini disebabkan terdapat pantulan sinyal yang dihasilkan dari AP ke user yang menyebabkan delay yang besar. Kata kunci : WLAN, Access Point, Delay, Jitter, Throughput, Packet Loss Abstract Highspeed train is a means of transportation that has a positive impact compared to airplane. This is due to the efficiency of travel time that can be used productively, especially for workers who need internet service. Jakarta-Surabaya highspeed train implements the use of the IEEE 802.11n Wi-Fi standard because of its flexibility in accessing internet services. This measurement uses a Network Simulator 3.26 simulation (NS 3.26). This study evaluates the composition of traffic that has the best QoS on Wi-Fi 802.11n. The parameters used are delay, jitter, throughput, and packet loss. The simulation is designed using five scenarios consisting of method A, method B, method C, method D and method E. The difference in each scenario lies in the size of the data rate and packet size used. Based on the five methods produced, it can be concluded that the delay and throughput for each service are inversely proportional. This is because a large delay causes a small throughput. Based on method A, method B, method C, the best service that can be used is VoIP service with a value of 2,617 ms and throughput of 0,0075 Mbps. This is because VoIP services have the highest priority service level compared to other services. In the D mix service method, the best service that can be used is VoIP vs Data (web browsing) services with a delay of 2,644 ms and throughput of 0,0098 Mbps. Mix of services has a better performance than other services. In method E, the delay generated when using a channel is 6,933 ms and throughput is 0,0412 Mbps. This is because there is a reflection of the signal generated from the AP to the user which causes a large delay. Keywords: WLAN, Access Point, Delay, Jitter, Throughput, Packet Loss