Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

OPTIMALISASI PEMBUATAN KIT IRMA CA-125 Ariyanto, Agus; Darwati, Siti; Mondrida, Gina; Yunita, Fitri; Widayati, Puji; Setiyowati, Sri; Sulaiman, Sulaiman; Yulianti, Veronika; Triningsih, Triningsih
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 6, No 2 (2003): Jurnal PRR 2003
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3043.023 KB)

Abstract

ABSTRAK OPTIMALISASI PEMBUATAN KIT IRMA CA-125. Telah dilakukan penelitian optimalisasi pembuatan kit  IRMA  CA-125 yang meliputi pembuatan perunut monoklonal anti CA-125 bertanda 125I dan  pembuatan  "coated tube". Pada pembuatan perunut digunakan 2 macam oksidator yang divariasikan jumlahnya, yaitu kloramin-T dan N- bromosuksinimid.  Optimalisasi pembuatan "coated tube" dilakukan dengan memvariasikan volume larutan "coating", pengaruh pencucian, pengaruh penambahan BSA, pengaruh   bufer  pelarut dan uji pemasangan monoklo-nal anti CA-l25. Hasil percobaan menunjukkan bahwa oksidator  kloramin-T dapat digunakan untuk pembuatan perunut mononoklonl  anti CA-l25 dengan rendemen cukup tinggi yaitu 96.5% dan kemumian radiokimia 93,2%. Jumlah oksidator yang optimal adalah 10 µg. Pembuatan "coated tube  untuk  monoklonal anti CA-l25 dengan menggunakan volume larutan "coating" yang bervariasi antara 300 µI sampai dengan 600 uL tidak menunjukkan perbedaan nyata pada nilai %NSB dan %BT. Proses pencuci "coated tube" menggunakan BSA 0, I % memberikan pengaruh nyata pada %BT. walaupun tidak berpengaruh terhadap nilai %NSB. Penggunaan bufer bikarbonat untuk pembuatan "coated tube" memberikan hasil yang lebih baik dari pada bufer fosfat. Untuk pemasangan monoklonal anti CA-125 diketahui bahwa pasangan monoklonal anti CA-125. monoklonal anti CA-125  M37203M sebagai  perunut dan monoklonal anti CA-125  M86924M sebagai "coating solution" memberikan hasil yang optimal. Kata kunci : Kit IRMA, Monoklonal anti CAll25, Pemnut ABSTRACTOTIMALIZATION FOR PREPf\RATION OF CA-125 IRMA-KIT. Optimalization on thepreparation of CA-125 IRMA-kit has been studied involving preparation of 125I  labeled monoclonalanti CA-125 as a tracer and preparation of coated tubes. Chloramine-T and N-bromosuccinimide were used as oxidators by varying them in their quantity. Optimalization on preparation of coated tube was carried out by variation in volume of  coating solution, effect of washing, addition of BSA 0.1%, buffer and pairing test for the monoclonal anti CA-125. The use of chloramine-T as oxidator for 125I labeling of monoclonal anti CA-15 was found to giv labeling-yield of about 96.5% and radiochemical purity of 93.2%. Optiimum amount of the oxidizing agent was found to be 10µg. There were not any significant difference in utilization of coating solution volume ranging at 300 to 600µL. for preparing monoclonal anti CA-125 coated tube. The non specific binding (NSB) and the %B/T values were found to be unaffected  by washing step, while a blocking of coated tube using of BSA 0.1% decreased the %B/T value. Utilization of bicarbonate buffer for the preparation  of coated tube was found to be more satisfactory than that of phosphate buffer. It was shown that the monoclonal anti CA-125 M37203 used for tracer being paired with monoclonal anti CA-125 M866924M used for coating solution gave an optimal result based on the values of %NSB  and %B/T. Key word : IRMA-Kit, Monoclonal anti CA-125, Tracer.   
STABILITAS DAN UJI PRAKLINIS 99m Tc-EC UNTUK RADIOFARMAKA PENATAH FUNGSI GINJAL Astuti, Laksmi Andri; Lestiyowati, Sri Aguswarini; Karyadi, Karyadi; Setiyowati, Sri; Yunilda, Yunilda; Widjaksana, Widyastuti
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 16, No 1 (2013): JURNAL PRR 2013
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1237.604 KB)

Abstract

ABSTRAKSTABILITAS DAN UJI PRAKLINIS99mTc-EC  UNTUK RADIOFARMAKA  PENATAH  FUNGSIGINJAL.Radiofarmaka telah menunjukkan manfaat yang nyata dan spesifik dalam pelayanan kesehatanterutama untuk diagnosis  antara lain untuk diagnosis fungsi ginjal. Saat ini telah dilakukan  preparasi99mTcEC untuk penatah fungsi ginjal melalui beberapa tahapan, yaitu: karakterisasi EC (Ethylene-dicysteine)dengan FT-IR dan pengujian titik leleh, formulasi kit  EC,   penandaan kit basah EC dengan99mTc dilakukandengan menambahkan99mTc perteknetat dari generator99Mo/99mTc. Hasil penandaan dianalisis denganmenggunakan  kromatografi kertas,  sedangkan uji stabilitas kit basah EC dilakukan untuk menentukanwaktu kadaluwarsanya, uji biodistribusi menggunakan hewan percobaan mencit dan pencitraan dengankamera Gamma dengan tikus Wistar. Hasil analisis dengan FT-IR menunjukkan bahwa EC yang akandigunakan sudah  memenuhi persyaratan untuk digunakan formulasi, Uji stabilitas untuk sediaan yang belumdilabel menunjukkan sediaan masih stabil sampai 5 bulan. Pengujian kestabilan99mTc-EC pada suhu kamarmenunjukkan kemurnian radiokimia masih stabil sampai 4 jam setelah penandaan, hasil uji biodistribusidengan hewan percobaan mencit menunjukkan cacahan tertinggi pada kandung kemih sedangkan pencitraandengan Kamera Gamma menunjukkan hasil pencitraan yang cukup jelas di area ginjalKata kunci : radiofarmaka,99mTc, EC (Ethylene-dicysteine ), diagnosis,fungsi ginjal.ABSTRACTSTABILITY AND PRECLINICAL TESTS OF99mTc-EC  RADIOPHARMACEUTICALS  FORRENAL FUNCTION  IMAGING.Radiopharmaceuticals have shown a real and spesific usefulness inmedical services, especially for diagnosis  of several  diseases such as renal function imaging. Preparation of99mTc-EC  and its analysis have been carried out. The preparation consisted of several steps, characterizationof EC with FT-IR, formulation of EC kit, labeling of EC with99mTc followed by radiochemical purity testingusing paper chromatography. Stability test of EC kit is to know The expired date has been carried out.Biodistribution test on normal mice was carried out while imaging in wistar rat using gamma camera TheFT-IR and melting point analysis results showed that EC can be  used for formulation of EC kit. Theradiochemical purity of99mTc-EC is analysed with paper chromatography with the result is  higher than 95%.  The stability test showed that  EC kit was stable until 5 months and the  labeled EC at room temperaturewas stable after  4  hour incubation post labeling, biodistribution test on mice showed higher uptake inbladder,while imaging with gamma camera showed quite clearly in the kidney area.Key words: radiopharmaceutical,99mTc, EC(Ethylene-dicysteine ), diagnosis, renal function
PENGARUH WAKTU DAN SUHU INKUBASI PADA OPTIMASI ASSAY KIT RIA MIKROALBUMINARIA Susilo, Veronika Yulianti; Mondrida, Gina; Setiyowati, Sri; Sutari, .; Lestari, Wening
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 8 (2005): JURNAL PRR 2005
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.817 KB)

Abstract

Penentuan kadar albumin dalam jumlah mikro dalam urin pasien sangat penting dilakukan untuk deteksi dini mikroalbumin sebelum menjadinephropathy(gagal ginjal). Penentuan kadar mikroalbumin tersebut menggunakan teknik radioimmunoassay(RIA) dengan kit RIA Mikroalbuminuria. Kit RIA yang baru harus memberikan kinerja assayyang baik, maka setelah diproduksi komponen kit RIA Mikroalbuminuria yang memenuhi syarat perlu dilakukan rancangan assayyang tepat agar diperoleh kondisi assayyang optimum. Telah dilakukan optimasi rancangan assaykit RIA Mikroalbuminuria untuk memperoleh waktu dan suhu inkubasi yang terbaik, yaitu variasi waktu inkubasi 1 jam, 3 jam, 5 jam dan 18 jam dan suhu inkubasi 4°C, 25°C dan 37°C. Protokolassayyang optimum dicapai dengan inkubasi selama 3 jam pada 37°C, yang menghasilkan % ikatan maksimum sebesar 52% dan ikatan non spesifik (NSB) cukup rendah 0,15%. Kit RIA Mikroalbuminuria ini stabil memenuhi syarat %B/T dan %NSB dan dapat dipertahankan selama 8 minggu. Kata kunci: Optimasi, Radioimmunoassay, Mikroalbuminuria Determination of albumin content at micro quantity in a patient urine is very important for an early detection of microalbuminuria before a nephropathy (kidney failure) state to occure. Determination of albumin content in a patient urine is by radioimmunoassay technique using microalbuminuria RIA kit. In a production of a new. icroalbuminuria RIA Kit, a good assay performance should be quaranteed, therefore after RIA reagent that fulfil the required quality were obtained, an optimum assay condition should be esigned. Optimization for assay design of microalbuminuria RIA kit have been carried out in order to obtained the best incubation time and temperature. Incubation time and temperature investigated were 1 hour, 3 hour, 5 hour and 18 hour and 4°C, 25°C dan 37°C respectively. The optimum assay protocol was achieved by 3 hour incubation at 37°C, resulting a high maximum binding of 52% and very low non spesific binding (NSB) of 0,15% respectively. The microalbuminuria RIA kit was stable and comply the required %B/T and %NSB up to 8 weeks. Keywords: Optimize, Radioimmunoassay, Microalbuminuria.
FORMULASI KIT MIBI SEBAGAI PREPARAT PENATAH JANTUNG Widyastuti, widyastuti; A., Hanafiah; Yunilda, Yunilda; A., Laksmi; Setiyowati, Sri; Yulianti, Veronika
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 2, No 1/2 (1999): JURNAL PRR 1999
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4411.657 KB)

Abstract

FORMULASI KIT MIBI SEDAGAI PREPARAT PENATAH JANTUNG. Sediaan 2-methoxy-isobutyl-isonitrile (MIBI) telah diketahui sebagai preparat penatah perfusi miokardial (otot jantung) yang telah ditandai dengan 99mTc. Sediaan ini menghasilkan gambaran yang sama baiknya dengan sediaan Talium-201Tl, dan dapat menggantikan sediaan 201Tl karena mempunyai beberapa keunggulan. Kit MIBI ini dibuat dari senyawa MIBI yang disintesis di P2RR-BATAN yang telah melalui karakterisasi dan serangkaian uji kualitas. Formula kit MIBI yang digunakan mengacu pada formula yang digunakan oleh produk impor (CardioliterR, kit MIBI buatan Dupont), dan pengujian kualitas dilakukan dengan membandingkan beberapa parameter terhadap produk impor tersebut. Parameter yang digunakan dalam uji kualitas ini meliputi kemurnian radiokimia, biodistribusi (perbandingan % radioaktivitas di jantung dan hati), dan gambaran organ menggunakan gamma kamera pada manusia. Hasil percobaan menunjukkan kemurnian radiokimia rata-rata 95%, biodistribusi di jantung dan hati memberikan rasio 0,7, 1,5 dan 2,53 berturut-turut pada waktu pencacahan 10, 30 dan 60 menit setelah penyuntikan. Hasil pengujian pada manusia menunjukkan gambaran yang sangat jelas dan kurang lebih sama dengan yang dihasilkan oleh produk impor. Dari percobaan ini telah diketahui pula kondisi pengeringan kit yang baik, yang menghasilkan kit dengan kekeringan yang cukup baik dan waktu daluwarsa lebih dari 6 bulan. FORMULATION OF MIBI KIT AS A HEART IMAGING AGENT. 99mTc labelled 2-methoxy-isobutyl-isonitrile (MIBI) has been known as an imaging agent for myocardial perfusion. This radiopharmaceutical preparation gives the same satisfactory result as Thalium-201Tl, and presumably could replace 201Tl because of some advantages. MIBI kit was formulated from MIBI ligand produced by RPC­ BATAN which has been characterized and tested for quality. The formula used in this research referred to the formula of imported product (Cardiolite, MIBI kit produced by Dupont), and the quality control testing was performed by comparing some parameters to the imported product. The parameters used for QC testing were radiochemical purity, biodistribution in mice and heart imaging in human volunteer using gamma camera. The result of the experiment showed that the radiochemical purity was 95 % in average, biodistribution in heart to liver gave the ratio of 0.67, 1.5 and 2.53 respectively at 10, 30 and 60 minutes after injection. The result of clinical testing in some volunteers gave contrast images as good as given by Cardiolite. The optimum condition of freeze drying has been found, and the kit can be used for more than 6 month.
UJI BIODISTRIBUSI DAN UJI PREKLINIS MIKROSFER GELAS-P-32 UNTUK PENGOBATAN KANKER Astuti, Laksmi Andri; Caniago, Djoharly; Pardede, Ratlan; Widjaksana, Widyastuti; Purwoko, Purwoko; Bagiawati, Sri; Setiyowati, Sri; Abidin, Abidin; Aguswarini, Sri
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 6, No 2 (2003): Jurnal PRR 2003
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2363.751 KB)

Abstract

ABSTRAKUJI BIODISTRIBUSI DAN UJI PREKLINIS MIKROSFER GELAS-P-32 UNTUK PENGOBATAN KANKER.Radiofarmaka telah  menunjukkan  manfaat lebih unggul dan spesiflk biladibandingkan dengan teknik pelayanan kesehatan lain, terutama untuk keperIuan diagnosis dan terapi beberapa penyakit  mematikan seperti kanker. Mikrosfer gelas-P-32 ( P-32 GMS ) adalah  salah  satu sediaan  baru  radiofarmaka untuk terapi  dengan cara  radiasi  interna beberapa penyakit  kanker ganas  seperti  penyakit  kanker  hati. Mikrosfer  gelas-P-32 ini  disiapkan  dengan  cara  mengira diasikan mikrosfer gelas-P31dengan neutron di reaktor nuklir, kemudian sediaan disuntikkan ke daerah yang terkena kanker Untukmemudahkan  penyuntikan  pada  sediaan  ini  perlu ditambahkan larutan pensuspensi, yaitu campuran dari PVP 16 %, dekstrose 50% dan salin. Mengingat ukuran mikrosfer ini spesiflk yaitu 40-60 J.Ull  maka pemilihan jamm suntik perIu dilakukan agar P-32 GMS yang diinjeksikan maksirnal bisa masuk ke daerah sasaran, dan mikrosfer tidak mengalami kerusakan karena gesekan dengan permukaan dalam  jarum. Ujibiodistribusi perIu dilakukan untuk melihat apakah P-32 GMS yang telah diinjeksikan terak1.lmulasike daerah penyuntikan  atau  terdistribusi  ke organ - organ lain yang  tidak dikehendaki, Hewan percobaan yang dipakai  adalah  mencit dengan penyuntikan dilakukan  pada otot  paha  kanan. Hasil biodistribusi pada I, 3dan  24 jam  setelah  injeksi  menunjukkan 100% aktivitas P-32 GMS terakumulasi di daerah penyuntikan.Hasil biodistribusi pada 5 jam setelah penyuntikan menunjukkan adanya penimbunan  aktivitas di organ lambung selain penimbunan aktivitas di daerah penyuntikan, namun hal ini diduga karena terjadi kontaminasi akibat kesalahan kerja .Kata Kunci : Radiofarmaka, , Mikrosfer gelas, P-32,  iradiasi, uji biodistribusi , kanker. ABSTRACTBIODISTRIBUTION AND PRECLINICAL TEST OF P-32 GLASS MICROSPHERESFOR CANCER THERAPY. The superiority of  radiophannaceutical compare to the  other  techniques off medical services, especially for diagnosis and  therapy  of  several deadly diseases such as cancer, shows that this technique is more specific and accurate. P-32-Glass microsphere (P-32 GMS) is one of theradiophannaceuticals developed reccntly for therapy using  interrnal  radiation  method  for several malignant cancers, such as hepatic canccr. 111cP-32 GMS was prcpared by irradiating P-31 GMS with neutron at a nuclear reactor, then the preparation was injected to the cancerous infected  area. To make easy  injection, it needs suspension agent that was including PVP, dextrose and saline with a composition of 16% PVP - 50%dextrose - saline as 2 : 3 : 3 (v/v/v). As microsphere size should be maintained at 40-60 11m, the injectionneedle was selected properly in order to remain the particle size of P-32 GMS unchanged  when  the frictionoccurs between microspheres and the inside surfaces of the needle. The injection  needle  used  was needle produced  by BD with a typical size of 20 GI Tw. Biodistribution  studies were carried out after I, 3, 5 and24 hour of injection. Experimental results  for 1, 3 and 24 hour post -injection studies showed  that 100%activity of  P-32 GMS was accumulated  at  the  injected  area. For 5 hour post-injection study, accumulation of  P-32 GMS activity was also found at stomach besides the injected area, but it was presured as working error. Keywords: Radiophannaceutical , glass microspheres ,P-32,  biodistribution, , cancer.    
Sistem Informasi Pengelolaan Bridge Alistan Pasca Panen Pada Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang Yunita, Ayu Mira; Setiyowati, Sri; Pratama, Aghy Gilar; Hakim, Zaenal; Rizky, Robby
JURNAL TEKNIK INFORMATIKA UNIS Vol. 9 No. 1 (2021): Jutis (Jurnal Teknik Informatika)
Publisher : Universitas Islam Syekh Yusuf

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33592/jutis.v9i1.1290

Abstract

Dinas Pertanian di Kabupaten Pandeglang adalah suatu dinas yang bergerak di dalam bidang pertanian, peternakan, perkebunan serta mendata semua hasil pertanian, peternakan, perkebunan di dalam lingkup Kabupaten Pandeglang. dan dinas pertanian juga memiliki beberapa ALISTAN (alat mesin tani) yang dapat dipinjamkan kepada kelompok tani untuk digunakan oleh para petani untuk bercocok tanam untuk meningkatkan produksi pertanian dinas pertanian. Kabupaten Pandeglang memiliki beberapa masalah pada proses peminjaman alat tersebut dikarenakan peminjaman masih dalam kategori manual dengan cara mendatangi kantor dinas yang sangat banyak memakan waktu dan jarak yang cukup jauh dari tempat tinggal kelompok tani selain itu sering terjadi masalah saat pengambilan alistan yang tidak tepat waktu oleh kelompok tani serta terjadi penumpukan proposal permohonan peminjaman alat. Tujuan penelitian ini adalah membantu pihak dinas pertanian Kabupaten Pandeglang dalam pengelolaan bridge alsintan. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode waterfall, hasil dari penelitian ini berupa aplikasi yang dapat membantu pihak dinas pertanian dalam pengelolaan bridge alistan. Kata kunci: Sistem, Informasi, Alistan, Pengelolaan, Bridge alistan.
PENENTUAN PENERIMA BANTUAN BERAS RASKIN PADA DESA SINDANGHAYU MENGGUNAKAN METODE VIKOR Sugiarto, Agung; Rizky, Robby; Wibowo, Andrianto Heri; Susilawati, Susilawati; Pratama, Aghy Gilar; Wardah, Neli Nailul; Hakim, Zaenal; Setiyowati, Sri; Yunita, Ayu Mira; Susanti, Ervi Nuraflian
International Journal Mathla’ul Anwar of Halal Issues Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Mathla’ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30653/ijma.202332.93

Abstract

In this research, we discuss the VIKOR method system to facilitate the identification process of RASKIN rice aid recipients in Sindanghayu Village. The VIKOR method is used to select potential aid recipients considering several important criteria. This study first identified the criteria for determining RASKIN rice assistance recipients, including the number of family members, per capita income, health status and food needs. In addition, data on these criteria were collected from each household in Sindanghayu Village. The families of potential funding recipients are then analyzed and compared using the VIKOR method based on defined criteria. In this phase, the criteria are weighted using the AHP (Analytical Hierarchy Process) technique to determine the level of importance of each criterion. Families are then evaluated using the VIKOR method based on the level of importance and the relationship between the criteria. The results of the VIKOR analysis can give the highest priority to potential aid recipients who meet higher weighting criteria. In this way, the identification of the RASKIN rice aid beneficiaries in Sindanghayu Village can be carried out more objectively, effectively, and efficiently.
Optimasi Sintesa Nanokoloid Human Serum Albumin sebagai Agen Limfoskintigrafi Menggunakan Central Composite Design-Response Surface Methodology Lestari, Wening; Setiyowati, Sri; Triningsih, Triningsih; Asyikin, Khoirunnisa Fauziah; Suharmadi, Suharmadi; Mujamilah, Mujamilah; Sulungbudi, Grace Tjungirai; Juliyanto, Sumandi
Jurnal Kefarmasian Indonesia VOLUME 12, NOMOR 1, FEBRUARI 2022
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jki.v11i1.5071

Abstract

The prevalence of cancer in Indonesia is increasing and various cancer treatments still have shortcomings, cancer recurrence still occurs. Lymphoscintigraphy is a method for detecting disorders of the lymphatic system, which are closely related to cancer cells. Human serum albumin nanocolloid as a lymphoscintigraphic agent consists of particles measuring
Analisis dan Implementasi Sistem Pendukung Keputusan Untuk Menentukan Rumah Tidak Layak Huni dengan Metode SAW (Simple Additive Weighting) nelinailul, Neli; Setiyowati, Sri; Wibowoand, Andrianto Heri
Journal of Information System and Technology (JOINT) Vol. 5 No. 3 (2024): Journal of Information System and Technology (JOINT)
Publisher : Program Sarjana Sistem Informasi, Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/joint.v5i3.9903

Abstract

Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) merupakan rumah yang tidak memenuhi persyaratan dari segi keselamatan bangunan, kecukupan minimum luas bangunan dan kesehatan penghuni. Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) merupakan suatu program dari pemerintah khususnya dari kantor desa/kelurahan untuk memberi bantuan dana pembangunan rumah bagi rakyat miskin. Namun pada realisasinya masih sering dijumpai dana bantuan dari pemerintah masih kurang bahkan tidak tepat sasaran kepada penduduk tidak mampu yang memenuhi kriteria-kriteria sebagai syarat penerima bantuan dana Rumah yang tidak layak huni. Ini adalah salah satu bentuk perhatian dari pemerintah kepada rakyat miskin. Pihak Kantor desa/kelurahan akan mengajukan proposal pembangunan rumah tidak layak huni yang berisikan data-data jumlah data penduduk yang berjumlah 5799 Jiwa (1847 Kepala Keluarga) dan 93 kepala keluarga yang harus mendapatkan bantuan beserta jumlah dana bantuan yang kemudian akan dilaporkan ke pemerintahan pusat. Selanjutnya dicermati tentang kriteria-kriteria khusus bagi keluarga/masyarakat yang menempati rumah tidak layak huni (RTLH), Adapun Kriteria rumah tidak layak huni (Kerusakan Rumah, Kondisi Atap, Kondisi Dinding, Penghasilan perulan, Kondisi Lantai dan Bukti Kepemilikan). Sebelum bantuan dana pembangunan diberikan, pendataan mengenai kondisi rumah dan warga harus dilakukan terlebih dahulu oleh para perangkat desa/lurah yang khusus menangani bagian ini atau petugas survei. Penilaian Rumah Tidak Layak Huni tersebut masih berdasarkan perhitungan secara manual. Pertama-tama pengumpulan data terlebih dahulu menurut Kartu Keluarga miskin, kemudian dihitung secara manual dengan melihat kategori miskin absolut atau miskin produktif, setelah data terkumpul petugas kembali ke lokasi untuk melihat secara langsung keadaan kondisi rumah rumah tidak layak huni. Sehingga sering terjadi kesalahan dalam mengolah data karena banyaknya data yang terkumpul. Berdasarkan permasalahan yang dihadapi, pegawai yg ada di kelurahan Cikeusik Kecamatan Cikeusik Kabupaten Pandeglang, membutuhkan suatu program atau aplikasi khusus SPK (Sistem Pendukung Keputusan) menggunakan metode SAW (Simple Additive Weighting) agar dapat membantu untuk mendapatkan informasi yang cepat dan akurat dalam mengambil keputusan
Exploring the promising therapeutic benefits of iodine and radioiodine in breast cancer cell lines Elliyanti, Aisyah; Hafizhah, Nurul; Salsabila, Dhianisa; Susilo, Veronica Y.; Setiyowati, Sri; Tofrizal, Alimuddin; Kurniawati, Yulia; Irrahmah, Miftah
Narra J Vol. 4 No. 3 (2024): December 2024
Publisher : Narra Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52225/narra.v4i3.1078

Abstract

Iodine has an anti-proliferative effect on cancer cells; however, its effects have not been explored adequately. The aim of this study was to evaluate the therapeutic potential of iodine and radioiodine by assessing their effects on the viability of various breast cancer cell lines: MCF7, SKBR3, and MDA-MB231. The viability of cells was measured in treated cells exposed to six doses of iodine (5, 10, 20, 40, 60, 80 µM) and two doses of radioiodine (3.7×104 and 3.7×105 Bq). A 3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium bromide (MTT) assay and modified clonogenic assays were used to assess cell viability. Exposure to 80 µM of iodine significantly reduced the viability of all cell types. The cells were then exposed to a 50% inhibitory concentration (IC50) dose. When the cells were exposed to the IC50 dose of iodine, the MCF7 cell viability was reduced by 42.6±0.14% (IC50 dose 12.88 µM), 40.2±0.08% for SKBR3 (IC50 dose 11.03 µM) and 47.0±0.02% for MDA-MB231 (IC50 dose 14.09 µM). All cells were also exposed to 3.7×104 Bq and 3.7×105 Bq radioiodine. Both doses significantly reduced the cell viability of MCF7 and SKBR3 cells compared to the unexposed control cells (all had p<0.05), while MDA-MB231 cell viability only reduced significantly after 3.7×105 Bq of radioiodine exposure compared to the unexposed control cells (p<0.05). This study highlighted that iodine had a toxic effect on breast cancer cells, and radioiodine enhanced the toxicity to breast cancer cells. The types of cancer cells and doses of iodine and radioiodine influenced the effect. These findings suggest that iodine and radioiodine hold promise as therapeutic agents for breast cancer, similar to their established use in thyroid disease treatment. However, further in vivo studies are important to provide more evidence.