Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Kecernaan dan Produksi Gas In Vitro Silase Pelepah Kelapa Sawit dengan Penambahan Inokulan Bakteri Purwanta Purwanta; Bangkit Lutfiaji Syaefullah; Okti Widayati; Hotmauli Febriana Pardosi
JURNAL TRITON Vol 16 No 2 (2025): JURNAL TRITON (Issue in Progress)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/jt.v16i2.1311

Abstract

Pelepah kelapa sawit berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ruminansia karena tersedia melimpah, akan tetapi perlu pengolahan untuk meningkatan kualitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh rasio penggunaan jenis bakteri dan komposisi hijauan silase pelepah kelapa sawit dengan menggunakan teknik produksi gas secara in vitro. Rancangan percobaan penelitian menggunakan pola faktorial 3x3, dengan menggunakan 3 jenis bakteri asam laktat (EM4, Bacillus sp., dan Lactobacillus sp.) dan 3 formulasi hijauan yang berbeda (28,35% pelepah sawit + 50% Mucuna bracteata; 39,17% pelepah sawit + 39,17% Mucuna bracteata; dan 50% pelepah sawit + 28,35% Mucuna bracteata). Adapun bahan pakan lain penyusun silase adalah 20% dedak, 1% molases, 0,3 % premix, 0,3% garam serta 0,05 % bakteri asam laktat. Silase dievaluasi menggunakan in vitro gas tes yang diinkubasi selama 48 jam. Produksi gas dari hasil pengamatan mulai dari jam ke 0, 2, 4, 6, 12, 24, 36, dan 48 jam yang akan digunakan untuk dianalisis menggunakan program fit curve. Berdasarkan hasil penelitian, tidak terdapat interaksi yang nyata antara perbedaan penggunaan jenis bakteri asam laktat dengan proporsi hijauan silase terhadap produksi gas dan kecernaan bahan kering dan bahan organik secara in vitro. Perlakuan jenis bakteri memberikan pengaruh nyata pada fraksi b, fraksi a+b, nilai pH, dan NH3 cairan rumen, sedangkan perlakuan proporsi pelepah sawit dan Mucuna bracteate memberikan pengaruh pada fraksi a, fraksi b, dan fraksi a+b. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa interaksi penggunaan bakteri Lactobacillus sp. dan penggunaan 28,35% pelepah sawit + 50% Mucuna bracteate menghasilkan produksi gas dan kecernaan yang paling tinggi.
Kelayakan Usaha Ternak Kelinci dengan Pemberian Pelet Limbah Pertanian Lutfiaji Syaefullah, Bangkit; Purwanta; Okti Widayati; Poppy Latifah
Journal of Sustainable Agriculture Extension Vol 2 No 1 (2024): Journal of Sustainable Agriculture Extension
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/josae.v2i1.800

Abstract

Latar belakang: Potensi usaha kelinci saat ini cukup besar sebagai ternak hias maupun ternak konsumsi. Akan tetapi, kurangnya pengetahuan peternak dalam pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber pakan kelinci pengganti hijauan. Usaha yang dijalankan perlu memperhitungkan kelayakan usahanya, sehingga dalam penelitian ini akan melihat kelayakan usaha ternak kelinci yang diberikan pelet dari limbah pertanian. Metode: Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental sebanyak 24 (dua puluh empat) ekor. Penelitian dilaksanakan selama 2 (dua) bulan pemeliharaan kelinci dengan 4 (empat) perlakuan dan 3 (tiga) ulangan, selanjutnya hasil pemeliharaan dianalisis ekonominya. Hasil: Hasil penelitian analisis analisis kelayakan usaha pada setiap perlakuan menunjukan nilai yang tidak berbeda pada biaya, penerimaan, pendapatan, break even point, R/C, rentabilitas, IOFC dan Harga Pokok Produksi. Kesimpulan: Pemberian pelet dari limbah pertanian sebagai pakan ternak yang berbeda komposisi pada kelinci tidak berbeda akan tetapi dinyatakan layak.
Respon Petani Sayur di Pettuadae terhadap Penyuluhan Pemanfaatan Feses Sapi menjadi Pupuk Kompos Okti Widayati; Wian Sarira; Bangkit Lutfiaji Syaefullah
Journal of Sustainable Agriculture Extension Vol 2 No 2 (2024): Journal of Sustainable Agriculture Extension
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/josae.v2i2.1039

Abstract

Latar belakang: Mata pencaharian masyarakat Pettuadae sebagian besar adalah petani sayur. Mereka sangat tergantung dengan penggunaan pupuk kimia untuk produksi tanaman. Di sisi lain, para petani juga memlihara ternak sapi yang dapat menghasilkan kotoran dan limbah peternakan yang memiliki potensi sebagai pupuk organik. Petani belum memanfaatkan potensi tersebut disebabkan oleh kurangnya informasi dan pelatihan cara pembuatan pupuk dari limbah peternakan khususnya feses sapi. Metode: Pelaksanaan penyuluhan diikuti oleh 30 responden. Penyuluhan dilakukan dengan menggunakan metode ceramah, diskusi dan demonstrasi cara. Metode ini bertujuan untuk merangsang responden penyuluhan agar bisa aktif bertanya selama kegiatan berlangsung, dengan menggunakan alat bantu media yaitu folder dan tayangan dari power point. Hasil evaluasi penyuluhan dianalisis menggunakan aplikasi MS Excel dan SPSS versi 15.0. Hasil: Respon petani terhadap penyuluhan pada penelitian ini dilihat dari peningkatan pengetahuan. Pengukuran peningkatan pengetahuan dengan membandingkan nilai tes awal dan tes akhir, evaluasi penyuluhan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat sebesar 29,3. Berdasarkan uji t berpasangan (paired t test) penyuluhan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat, maka dari itu efektivitas penyuluhan pada aspek pengetahuan sebesar 81,48%. Kesimpulan: Penyuluhan pemanfaatan feses sapi menjadi pupuk kompos di Kelurahan Pettuadae memiliki efektivitas penyuluhan pada kategori efektif dengan ditunjukkan adanya peningkatan pengetahuan berdasarkan hasil pre-test dan post-test. Penyuluhan mendapatkan respon positif dari petani yang ditunjukkan dengan adanya adopsi pengolahan feses sapi menjadi pupuk kompos dan aplikasinya di tanaman pertanian.
Nilai Ekonomis Pakan Kelinci dari Limbah Pertanian Berbasis Hay Multinutrient Waffle Lutfiaji Syaefullah, Bangkit; Muhammad Fachry Hidayat; Susan Carolina Labatar; Okti Widayati; Gallusia Marhaeny Nur Isty
Journal of Sustainable Agriculture Extension Vol 2 No 2 (2024): Journal of Sustainable Agriculture Extension
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/josae.v2i2.1066

Abstract

Latar belakang: Limbah pertanian memiliki potensi yang baik untuk dijadikan pakan ternak kelinci. Karena beberapa limbah pertanian masih memiliki kandungan nutrisi yang cukup bagus, sehingga bagus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak kelinci. Metode: Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, dan menggunakan 4 parameter penelitian, yaitu, BEP Produksi, BEP harga, R/C, dan Rentabilitas rasio. Hasil: Hasil dari BEP produksi P1, P2, P3, berturut-turut 5,64, 5,66, 5,67. BEP produksi yang paling menguntungkan terdapat pada P1 dengan berat 5,64 kg. Hasil dari BEP harga P1, P2, P3, berturut turut Rp. 4.702, Rp. 4.713, Rp. 4.726. BEP harga yang paling menguntungkan terdapat pada P1 dengan harga Rp. 4.702. Hasil dari R/C rasio P1, P2, P3, berturut-turut 3,77, 3,74, 3,71. Nilai R/C rasio paling layak diusahakan terdapat pada P1 yaitu 3,77. Hasil Rentabilitas P1, P2, P3 berturut-turut 2,77, 2,74, 2,71. Nilai Rentabilitas paling layak diusahakan terdapat pada P1 yaitu 2,77. Dari 3 percobaan analisis ekonomi hay multinutrient waffle, menunjukan semua percobaan menguntungkan dan layak diusahakan, namun dari 3 komposisi percobaan, ada percobaan yang paling ekonomis yaitu terdapat di P1 karena BEP produksi menunjukan produksi paling rendah yaitu 5,64 kg, kemudian untuk BEP harga mempunyai nominal harga lebih rendah dari percobaan lainnya yaitu Rp.4.702/kg, sehingga lebih cepat untuk mencapai titik impas, kemudian mempunyai nilai R/C rasio 3,77 maka usaha tersebut layak di usahakan, dan Rentabilitas memiliki nilai 2,77 sehingga layak untuk diusahakan. Kesimpulan: Penggunaan limbah pertanian kacang tanah bisa dimanfaatkan secara maksimal sebagai bahan baku pembuatan pakan hay.
Utilization of Agricultural Waste as a Total Mixed Ratio Pellet Material for Rex Rabbit Feed Syaefullah, Bangkit Lutfiaji; Widayati, Okti; Purwanta, Purwanta; Abdillah, Labib
Jurnal Agripet Vol 24, No 2 (2024): Volume 24, No. 2, October 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i2.37082

Abstract

This study aimed to evaluate the quality of Total Mixed Ration (TMR) pellets derived from agricultural waste and assess their potential as feed for Rex rabbits. The research employed an experimental approach, utilizing agricultural and plantation waste to produce TMR pellets. The study was conducted in two stages: pellet production and rabbit feeding trials. Three formulations of TMR pellets were developed with varying concentrations of oil palm empty fruit bunches (EFB): P1 (5% EFB), P2 (10% EFB), and P3 (15% EFB). The optimal formulation was subsequently used for the feeding trials. Rabbit feed treatments included T0 (60% commercial pellet + 40% forage), T1 (40% commercial pellet + 20% TMR pellet + 40% forage), T2 (30% commercial pellet + 30% TMR pellet + 40% forage), and T3 (60% TMR pellet + 40% forage). Results from the pellet analysis indicated no significant differences in organoleptic properties among the formulations. The durability test yielded the highest value of 98.77%, while the proximate analysis of the P1 formulation showed a dry matter content of 85.67%, ash content of 10.35%, organic matter of 89.65%, crude protein of 18.65%, crude fat of 18.72%, and crude fiber of 19.18%. In the rabbit feeding trials, there were no significant differences in rabbit performance when compared to those fed with commercial pellets. Based on these findings, it can be concluded that agricultural waste can be effectively utilized as a raw material for rabbit feed pellets, offering comparable quality to commercial alternatives. This research highlights the potential of agricultural waste in reducing environmental pollution while providing an economically viable alternative for animal feed.
Kecernaan dan Produksi Gas In Vitro Silase Pelepah Kelapa Sawit dengan Penambahan Inokulan Bakteri Purwanta Purwanta; Bangkit Lutfiaji Syaefullah; Okti Widayati; Hotmauli Febriana Pardosi
JURNAL TRITON Vol 16 No 2 (2025): JURNAL TRITON
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/jt.v16i2.1311

Abstract

Pelepah kelapa sawit berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ruminansia karena tersedia melimpah, akan tetapi perlu pengolahan untuk meningkatan kualitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh rasio penggunaan jenis bakteri dan komposisi hijauan silase pelepah kelapa sawit dengan menggunakan teknik produksi gas secara in vitro. Rancangan percobaan penelitian menggunakan pola faktorial 3x3, dengan menggunakan 3 jenis bakteri asam laktat (EM4, Bacillus sp., dan Lactobacillus sp.) dan 3 formulasi hijauan yang berbeda (28,35% pelepah sawit + 50% Mucuna bracteata; 39,17% pelepah sawit + 39,17% Mucuna bracteata; dan 50% pelepah sawit + 28,35% Mucuna bracteata). Adapun bahan pakan lain penyusun silase adalah 20% dedak, 1% molases, 0,3 % premix, 0,3% garam serta 0,05 % bakteri asam laktat. Silase dievaluasi menggunakan in vitro gas tes yang diinkubasi selama 48 jam. Produksi gas dari hasil pengamatan mulai dari jam ke 0, 2, 4, 6, 12, 24, 36, dan 48 jam yang akan digunakan untuk dianalisis menggunakan program fit curve. Berdasarkan hasil penelitian, tidak terdapat interaksi yang nyata antara perbedaan penggunaan jenis bakteri asam laktat dengan proporsi hijauan silase terhadap produksi gas dan kecernaan bahan kering dan bahan organik secara in vitro. Perlakuan jenis bakteri memberikan pengaruh nyata pada fraksi b, fraksi a+b, nilai pH, dan NH3 cairan rumen, sedangkan perlakuan proporsi pelepah sawit dan Mucuna bracteate memberikan pengaruh pada fraksi a, fraksi b, dan fraksi a+b. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa interaksi penggunaan bakteri Lactobacillus sp. dan penggunaan 28,35% pelepah sawit + 50% Mucuna bracteate menghasilkan produksi gas dan kecernaan yang paling tinggi.
Local Feed Exploration in Tanah Laut: Analisis Kualitas Fisikokimia dan Uji Fluoroglucinol pada Dedak Padi Berbasis Citra Digital Rifqi Hidayatulloh; Alief Rahmania Safitri; Baluh Medyabrata Atmaja; Bangkit Lutfiaji Syaefullah; Ahmad Zain; Muhammad Irvan Ali
JURNAL TRITON Vol 17 No 1 (2026): JURNAL TRITON (Issue in Progress)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47687/jt.v17i1.1684

Abstract

Dedak padi merupakan salah satu hasil samping penggilingan beras yang berpotensi besar sebagai bahan pakan ternak, namun kualitasnya sangat dipengaruhi oleh proses pengolahan dan kandungan sekam. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik fisikokimia dedak padi yang diperoleh dari beberapa pabrik penggilingan di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, pada periode Jani–Juli 2025. Parameter yang diamati meliputi kadar air, kadar abu, persentase sekam, serta uji floroglusinol dengan bantuan analisis citra digital. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik purposive sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan wilayah di Kabupaten Tanah Laut. Sampel dedak padi diperoleh dari 11 kecamatan yang memiliki aktivitas penggilingan padi, dengan setiap kecamatan diambil empat titik penggilingan dari desa berbeda. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menghitung nilai rata-rata, standar deviasi dari parameter kualitas dedak padi di tiap wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air dedak padi berkisar antara 9,36–12,18%, kadar abu 4,79–12,33%, persentase sekam 2,15–27,08%, serta intensitas warna merah dari hasil analisis warna berbasis citra digital pada uji floroglusinol sebesar 10,71–39,27%. Sebagian besar dedak padi tergolong mutu I, sedangkan dedak dari Kecamatan Panyipatan termasuk mutu II. Temuan ini menegaskan bahwa semakin tinggi persentase warna merah yang terdeteksi melalui analisis citra digital, semakin besar pula kandungan sekam dalam dedak padi. Hasil penelitian ini menyoroti pentingnya penerapan teknologi analisis sederhana dan akurat untuk mengklasifikasikan mutu dedak padi di tingkat lokal. Direkomendasikan untuk dilakukan penelitian lanjut mengenai analisis proksimat nutrisi untuk memperkuat basis data kualitas dedak padi sebagai bahan pakan.