Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Studi Deskriptif Kontribusi Pemulung dalam Pengurangan Sampah di TPA Alak Kota Kupang Meylani Anthonesthe Claudya Massi; Agus Setyobudi; Mustakim Sahdan; Marylin Susanti Junias
SEHATMAS: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2025): Juli 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sehatmas.v4i3.5391

Abstract

The Alak Final Disposal Site (TPA) is the only landfill in Kupang City. It has been operating since 1998 and covers an area of 9.14 hectares. The Alak landfill has operated for over 20 years and uses the controlled landfill method in its waste disposal operations. Scavengers are part of the waste management ecosystem at the landfill and play a role in waste reduction by sorting and collecting recyclable materials, thereby helping to reduce the overall waste burden at the site. This study aims to examine the contribution of scavengers in reducing waste at the Alak landfill in Kupang City. The research method used is a quantitative descriptive analysis. The sample consisted of all active scavengers at the Alak landfill from 35 households. The sampling technique used was total sampling, where the entire population that met the criteria was included in the study. The research was conducted for 8 days. Results showed that the most frequently collected waste at the Alak landfill was plastic waste with 2023.85 Kg from the total waste collected. Cans follow as the second most common type of waste with a total of 658.05 kg, cardboard waste amounts to 381 kg, scrap metal to 334.03 kg, and used tires to 187.5 Kg. Scavengers contribute to reducing waste at the Alak landfill around 1.92 % of the total waste entering the landfill each day.
Gambaran Fasilitas Sanitasi Pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat Moi, Magdalena Gemagalgani; Mustakim Sahdan; Agus Setyobudi; Sintha Lisa Purimahua
Jurnal Kesehatan Vol 14 No 1 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Yatsi Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37048/kesehatan.v14i1.592

Abstract

Stunting merupakan gambaran keadan gagal tumbuh kembang pada balita yang terjadi dalam jangka waktu lama, yang dapat terlihat dari kondisi balita lebih pendek dibanding tinggi badan pada umumnya (yang seusia). Permasalahan Stunting merupakan permasalahan multidimensional, yang terdiri dari penyebab langsung, penyebab tidak langsung dan penyebab yang mendasari. Sanitasi merupakan salah satu faktor tidak langsung yang mempengaruhi kejadian Stunting, akses terhadap sanitasi layak yang tidak terpenuhi membuat tubuh mudah terserang penyakit infeksi seperti diare dan cacingan. Berdasarkan data, dari 27,67% balita Stunting 11% nya mengalami diare yang dipengaruhi oleh penyebab tidak langsung yakni sebesar 22,39% kepala keluarga belum mengakses sanitasi layak (Riskesdas, 2018) Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yang di kaji secara kuantitatif, Penelitian ini dilakukan untuk memaparkan kondisi gambaran fasilitas sanitasi pada balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat yang dilakukan pada bulan juni 2025. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 50 balita Stunting yang semuanya dijadikan sampel menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semuanya (100%) responden telah memiliki fasilitas air bersih yang memenuhi syarat. Terdapat 90% responden memiliki fasilitas jamban tidak memenuhi syarat. Terdapat 100% atau semua responden tidak memiliki fasilitas cuci tangan pakai sabun yang memenuhi syarat. Terdapat 100% fasilitas penyimpanan air minum tidak memenuhi syarat dan 54% penyimpanan makanan tidak memenuhi syarat. Terdapat 100% fasilitas penampungan sampah rumah tangga tidak memenuhi syarat. Terdapat 100% fasilitas saluran pembuangan air limbah rumah tangga tidak memenuhi syarat. Diharapkan optimalisasi dukungan pemerintah dan dinas terkait dalam berbagai bentuk peraturan guna mendukung ketersediaan fasilitas sanitasi di setiap rumah tangga.
Studi Paparan Asap Dan Keluhan Sistem Pernapasan Pada Pemasak Garam Yang Menggunakan Bahan Bakar Kayu Di Desa Oebelo Tnunay, Erwin Benyamin; Agus Setyobudi; Cathrin Wea Djogo Geghi; Marylin Susanti Junias
Jurnal Kesehatan Vol 14 No 1 (2025): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Yatsi Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37048/kesehatan.v14i1.590

Abstract

Tempat kerja merupakan tempat orang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri atau keluarga sehari-hari yang sebagian waktu dihabiskan untuk bekerja. Setiap tempat kerja punya potensi bahaya bagi pekerja sehingga menyebabkan timbulnya penyakit akibat kerja. Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang diakibatkan oleh pekerja dan atau lingkungan kerja, salah satunya gangguan fungsi paru atau gangguan pernapasan akibat asap dan debu di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui paparan asap dan keluhan sistem pernapasan pada pemasak garam yang menggunakan bahan bakar kayu di Desa Oebelo Kecamatan Kupang tengah. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Sampel penelitian ini berjumlah 34 responden, dengan teknik pengambilan sampel yakni Accidental Sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang paling muda 29 tahun dan paling tua 75 tahun, paling banyak 45-50 tahun. Responden yang paling banyak adalah laki-laki yakni berjumlah 22 orang dengan persentase sebesar 64,7 %. Responden yang paling baru 4 tahun dan paling lama 40 tahun, paling banyak 11-20 tahun. Jumlah responden paling banyak adalah yang merokok yakni berjumlah 20 orang dengan persentase 58,8 %. Kadar konsentrasi asap tertinggi terdapat pada siang dengan konsentrasi 0,42 mg/m3. Responden dengan durasi paparan paling cepat adalah durasi 15 menit, sedangkan durasi paparan paling lama adalh durasi 30 menit, dengan rata-rata durasi paparan paling banyak adalah 20 menit. Responden yang paling banyak adalah yang mengalami gangguan pernapasan dengan persentase 61,8 %. Diharapkan agar pemasak garam memakai masker saat melakukan pekerjaan pemasakan garam dan kurangi ataupun hilangkan kebiasaan merokok terutama saat bekerja
Health Promotion Perspectives on Self-Efficacy and Psychosocial Determinants of Sustainable Sanitation Behavior in Rural Indonesia Marylin S. Junias; Apris A. Adu; Sarci Magdalena Toy; Eryc Haba Bunga; Claudya S.V Sudarmadji; Agus Setyobudi; Mas'Amah Mas'Amah; Irwan Budiyono
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 9 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v9i1.8721

Abstract

Introduction: Open defecation remains a major public health challenge in rural and dryland regions, where infrastructural constraints and psychosocial barriers intersect. This study analyzed the associations between self-efficacy, community perceptions, and basic sanitation infrastructure and sanitation behavior in East Baumata Village, Kupang Regency. Method: An analytic, community-based cross-sectional survey was conducted with n = 128 randomly sampled household heads, using theory-informed structured questionnaires and observational checklists to capture psychosocial and infrastructural determinants. Data were analyzed using descriptive statistics, ?² tests, and multivariable logistic regression reporting adjusted odds ratios (aOR) and p-values. Result: Most respondents demonstrated favorable knowledge and attitudes; self-efficacy was strongly associated with consistent latrine use (aOR ? 16.2, p < 0.001). Community perceptions and latrine distance were significant in bivariate analyses (p = 0.0153 and p = 0.001, respectively) but were not significant after adjustment (p > 0.05), suggesting their associations may be accounted for by self-efficacy (no formal mediation was tested). Water availability was not associated with the outcome (p = 0.985) when minimum access was present. These findings align with behavioral models emphasizing perceived control, self-regulation, and normative influences in health promotion. Conclusion:Policy and program design should prioritize self-efficacy–building interventions (e.g., peer modeling, guided practice) and norm-focused community engagement, alongside proximity-sensitive infrastructure investments, to enhance sustainability. This research contributes to refining the implementation of Indonesia’s Community-Based Total Sanitation program and offers insights for global strategies aimed at achieving SDG 6.2.