Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PENTINGYA PERAN TOKOH AGAMA DALAM MENCEGAH STUNTING PADA ANAK di KECAMATAN KUPANG BARAT KABUPATEN KUPANG Marni; Intje Picauly
Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Kepulauan Lahan Kering Vol. 4 No. 1 (2023): Volume 4 Nomor 1 Edisi April 2023
Publisher : Pergizi Pangan DPD NTT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51556/jpkmkelaker.v4i1.233

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah pedesaan dan terpencil di Kabupaten Kupang. Provinsi Nusa Tenggara Timur, angka prevalensi stunting mencapai 40,6% pada tahun 2018. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanganan stunting di wilayah tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Tokoh agama diharapkan dapat berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mencegah stunting pada anak. Kegiatan pelatihan dilaksanakan selama 1 hari dengan materi utama tentang masalah stunting pada anak. Pelatihan dihadiri oleh 15 tokoh agama dari berbagai agama yang ada di Kecamatan Kupang Barat. Pelatihan dilaksanakan secara tatap muka dengan memperhatikan protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Pelatihan berhasil memberikan pemahaman yang cukup mendalam mengenai stunting pada anak kepada para peserta. Selain itu, para peserta juga memahami perbedaan antara anak stunting dan kerdil, penyebab stunting, dampak stunting pada anak, serta cara-cara mencegah stunting pada anak. Dalam pelatihan ini juga dihadirkan praktisi kesehatan sebagai narasumber yang memberikan wawasan mengenai stunting dan cara mencegahnya. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pelatihan ini berhasil memberikan dampak positif pada para peserta, terlihat dari peningkatan pemahaman mereka tentang stunting pada anak. Kegiatan pelatihan tokoh agama tentang stunting pada anak di Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur, berhasil memberikan pemahaman yang cukup mendalam kepada para peserta mengenai stunting pada anak, perbedaannya dengan anak kerdil, penyebab, dampak, dan cara-cara mencegahnya. Pelatihan ini juga berhasil meningkatkan pemahaman dan kesadaran para tokoh agama dalam memainkan peran mereka dalam mencegah stunting pada anak di masyarakat.
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Pemberian Kolostrum oleh Ibu pada Bayi Baru Lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Amanuban Timur Kabupaten Timor Tengah Selatan : Analysis of Factors Influencing Colostrum Administration by Mothers to Newborns in the Working Area of the East Amanuban Public Health Center South Central Timor District Marni
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 4: APRIL 2023 - Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i4.3320

Abstract

Latar belakang: Kolostrum adalah susu kental berwarna kekuningan yang diproduksi pada akhir kehamilan. Kolostrum mengandung antibodi yang melindungi bayi baru lahir dari penyakit. Setiap tahun, 60% dari 10,9 juta kematian balita secara global disebabkan oleh malnutrisi. Dari jumlah tersebut, lebih dari dua pertiga kematian disebabkan oleh praktik pemberian makan yang tidak optimal pada tahun pertama kehidupan, termasuk membuang kolostrum. Tujuan: Untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi pemberian kolostrum oleh ibu pada bayi baru lahir di wilayah Puskesmas Amanuban Timur Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2023. Metode: Penelitian ini merupakan survei analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah 88 ibu yang memiliki bayi berusia 0-6 bulan yang terdaftar di Puskesmas Amanuban Timur. Analisis statistik masing-masing variabel menggunakan chi square dan regresi logistik berganda dengan selang kepercayaan 5%. Hasil: Penelitian menunjukkan ada pengaruh umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, jumlah anak, pengetahuan, budaya, dukungan suami, dan dukungan tenaga kesehatan terhadap pemberian kolostrum pada bayi baru lahir di wilayah kerja Puskesmas Amanuban Timur, dengan nilai masing-masing p = 0,000, dan faktor yang paling berhubungan secara simultan dengan pemberian kolostrum pada bayi baru lahir di wilayah kerja Puskesmas Amanuban Timur adalah dukungan suami, dengan nilai Exp (B) atau OR (Odds Ratio) terbesar = 12.333. Kesimpulan: Ada pengaruh usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, jumlah anak, pengetahuan, budaya, dukungan suami, dan dukungan tenaga kesehatan terhadap pemberian kolostrum pada bayi baru lahir di wilayah kerja Puskesmas Amanuban Timur.
PENCEGAHAN STUNTING MELALUI BUDAYA SEHAT: SUKSES IMPLEMENTASI CTPS DI KELURAHAN NAIBONAT Marni Marni; Anderias Umbu Roga; Christina Rony Nayoan; Intje Picauly
Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Kepulauan Lahan Kering Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4 Nomor 2 Edisi Oktober 2023
Publisher : Pergizi Pangan DPD NTT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51556/jpkmkelaker.v4i2.242

Abstract

One of the activities in the Naibonat Village that needs special attention is the prevention of stunting through the application of a healthy culture and the practice of washing hands with soap (CTPS). The history of PkM activities highlights the high incidence of stunting in this kelurahan, reaching 15.8% of the total number of children under five assessed. PkM stunting prevention activities will be carried out in July 2023 with an emphasis on increasing public awareness of stunting, CTPS procedures, use of local media, and the active participation of regional leaders. The results of this Community Service show that effective health education has increased public awareness of stunting from 69.7% to 92.3%. After this program, there was a sharp increase in the use of soap, from 30% to more than 80%. The dissemination of health messages has also benefited from the increased use of local media, particularly leaflets featuring dialects of the local culture. In addition, the community is also increasingly encouraged by community leaders who actively promote good hand washing habits. To ensure the continuity and sustainability of the program in preventing stunting and improving public health in Kelurahan Naibonat, recommendations include increased health education, ongoing collaboration with community leaders, ongoing monitoring and evaluation, and active community involvement.
Pemberdayaan Peternak Ayam untuk Pencegahan Penyakit Ayam dan Penyebaran Avian Influenza Melalui Pengabdian Kepada Masyarakat di Desa Oematnunu dan Oenaek Ribka Limbu; Marni
Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan Vol 2 No 1 (2023): Juni
Publisher : Politeknik Kesehatan Kartini Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36049/genitri.v2i1.106

Abstract

Usaha peternakan ayam pedaging menjadi mata pencaharian utama di Desa Oematnunu dan Oenaek. Meskipun memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, peternakan ayam juga memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar jika pengelolaannya tidak memenuhi standar sanitasi. Penyakit zoonosis yang dapat ditularkan oleh hewan menjadi risiko jika sanitasi lingkungan tidak terjaga. Selain itu, peternakan ayam juga menjadi sumber pencemaran lingkungan, termasuk tanah, air, udara, serta mempengaruhi tingkat kejadian penyakit yang berhubungan dengan perilaku dan lingkungan. Tujuan kegiatan ini mencegah penyebaran penyakit zoonosis melalui pengelolaan yang baik, pemeliharaan, penyimpanan, dan pengolahan limbah ternak ayam. Selain efisiensi produksi, kegiatan ini juga bertujuan untuk memastikan peternakan ayam berwawasan lingkungan. Metode yang digunakan survei, diskusi dengan aparat desa dan masyarakat, serta pemberdayaan melalui pelatihan pencegahan penularan penyakit zoonosis dengan menerapkan PHBS. Peternak ayam juga dilatih dalam penggunaan alat pelindung diri, modifikasi kandang sesuai standar kesehatan, pengelolaan limbah ternak, dan manajemen keuangan. Luaran dari kegiatan ini adalah peningkatan derajat kesehatan masyarakat, terutama peternak ayam mitra, dengan menerapkan perilaku pencegahan penularan penyakit zoonosis. Masyarakat juga akan mendapatkan pengetahuan untuk mencegah penularan penyakit melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam menggunakan alat pelindung diri dan modifikasi kandang ayam yang sehat. Selain itu, produksi peternakan ayam juga akan meningkat baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kontrol sosial masyarakat terhadap sanitasi kandang akan menjadi penting, dan pemerintah setempat diharapkan berkolaborasi dalam pembentukan lahan khusus peternakan ayam di luar pemukiman warga.
Menggalang Perubahan dengan CTPS: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pencegahan Stunting di Kelurahan Naibonat Marni; Maria Magdalena Dwi Wahyuni; Sintha Lisa Purimahua
Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan Vol 2 No 2 (2023): Desember
Publisher : Politeknik Kesehatan Kartini Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36049/genitri.v2i2.126

Abstract

Stimulasi cuci tangan pakai sabun (CTPS) sangat penting sebagai langkah preventif dalam strategi komprehensif memerangi stunting pada anak. Stunting membuat Kelurahan Naibonat mengalami kesulitan yang signifikan. Tujuan dari proyek sukarela ini adalah untuk menyebarkan pengetahuan tentang betapa pentingnya CTPS dalam mengurangi stunting pada anak. Kami dapat menginformasikan masyarakat dan mendorong perubahan kebiasaan positif dengan menggunakan pendekatan interaktif dan bekerja sama dengan kader posyandu dan tenaga kesehatan. Peningkatan keahlian CTPS kader Posyandu berdampak baik, mendorong penerapan metode ini dalam kehidupan sehari-hari. Bersamaan dengan pemberdayaan masyarakat, latihan ini meningkatkan pengetahuan umum tentang fungsi kritis CTPS dalam mengurangi stunting. Kunci keberhasilan pemangku kepentingan lokal. Dukungan pemangku kepentingan lokal menjadi kunci untuk kelanjutan perubahan ini, menciptakan dampak positif yang berkelanjutan di Kelurahan Naibonat.
HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN FISIK DAN PERILAKU KELUARGA TERHADAP KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) Azza, Awatiful; Nurdin, Nurdin; Zamli, Zamli; Marni, Marni; Mudhofar, Muhamad Nor
Ensiklopedia of Journal Vol 6, No 3 (2024): Vol. 6 No. 3 Edisi 2 April 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v6i3.2307

Abstract

Dengue fever (DHF) is a public health problem because the number of cases and spread tends to increase, and often causes Extraordinary Events (KLB). The disease is transmitted by the Aedes aegypti mosquito with four main clinical manifestations characterized by circulatory failure. The purpose of this study was to determine the relationship between Physical Environmental Factors and Family Behavior towards the Incidence of Dengue Fever in the Sebanga Health Center Working Area. The research method used a cross sectional research design. The population in this study were people who lived in the Sebanga Health Center working area with a sample of 62 people. The data collection technique used total sampling. The research instrument used a research questionnaire. Data analysis was carried out univariate and bivariate. The results showed that there was a relationship between environmental factors (p value: 0.000) and family behavior (p value: 0.000) with the incidence of DHF. It is recommended for health workers to be able to provide education to the community about health behavior in order to increase mosquito eradication movements by cleaning the surrounding environment, always routinely once a week cleaning water reservoirs, recommending to install, wire gauze ventilation, suggesting that a room area > 8 m² is used for 2 or more people, and planting ornamental plants to maintain room humidity to the community.Keywords: DHF, environment, family
PELAKSANAAN PROGRAM PROMOSI KESEHATAN DALAM PENCEGAHAN STUNTING DI PUSKESMAS Nur, Astuti; Lestaluhu, Santi Aprilian; Mauludiyah, Zaida; Hayati, Zahratul; Marni, Marni
Ensiklopedia of Journal Vol 6, No 3 (2024): Vol. 6 No. 3 Edisi 2 April 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v6i3.2306

Abstract

Stunting is a chronic malnutrition problem caused by insufficient nutrient intake over a long period of time due to inadequate feeding. Kampar Regency is one of the highest ranked for stunting rates in Riau Province at (31.99%). The purpose of this study was to analyze the implementation of health promotion programs in the prevention of stunting at Puskesmas Kampar Kiri Hilir. The research used an analytical qualitative method conducted at the Kampar Kiri Hilir Health Center to 3 informants including the promkes holder, the nutrition holder and the Head of the Health Center. The results showed that in general the implementation of the promkes program at the Kampar Kiri Hilir Health Center has been running, but there are obstacles such as limited budget resources in supporting the implementation of the promkes program at the Kampar Kiri Hilir Health Center. It is recommended to the Puskesmas Kampar Kiri Hilir to be used as material for evaluating the Health promotion program at Puskesmas Kampar Kiri Hilir in accordance with budget capacity.Keywords: Nutrition, Resources, Stunting
Gambaran Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Pada Pengunjung Tempat Wisata Bukit Cinta Lembata Tahun 2023 Rahayu, Elisabeth Tri; Ribka Limbu; Marni; Deviarbi S. Tira
Jurnal Kesehatan Vol 13 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Yatsi Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37048/kesehatan.v13i2.479

Abstract

Tempat-tempat umum (TTU) adalah tempat, fasilitas, atau sarana yang sering digunakan untuk kegiatan atau acara komunitas oleh instansi pemerintah, swasta atau individu. Tempat wisata merupakan salah satu tempat umum yang memungkinkan untuk menjadi tempat pencemaran lingkungan, penyebaran penyakit, maupun gangguan kesehatan lainnya. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku hidup bersih dan sehat pada pengunjung Tempat Wisata Bukit Cinta Lembata. Jenis penelitan yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Sampel penelitian ini berjumlah 100 responden, dengan teknik pengambilan sampel yakni accidental sampel. Responden dalam penelitian ini adalah pengunjung Tempat Wisata Bukit Cinta Lembata. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil penelitian ini menemukan bahwa perilaku mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun kategori kurang baik sebesar 100 responden (100%). Perilaku menggunakan jamban sehat kategori kurang baik 60 responden (60%). Perilaku membuang sampah pada tempatnya kategori kurang baik 62 responden (62%), dan perilaku merokok kategori kurang baik 52 responden (52%). Berdasarkan hasil penelitian ini, perilaku hidup bersih dan sehat pada pengunjung Tempat Wisata Bukit Cinta Lembata berada dalam kategori kurang baik. Diharapkan kepada pengelola Tempat Wisata Bukit Cinta Lembata agar dapat menyediakan sarana penunjang dan memperhatikan kebersihan sarana yang telah tersedia agar memudahkan dan mendukung praktik PHBS oleh pengunjung di tempat wisata Bukit Cinta Lembata.
Determinan Perilaku Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diare Pada Balita ratu djia, betru; Marni; Eryc Z. Haba Bunga; Agus Setyobudi
Jurnal Kesehatan Vol 13 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Yatsi Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37048/kesehatan.v13i2.480

Abstract

Puskesmas Seba merupakan salah satu puskesmas yang terletak di kecamatan Sabu Barat Kabupaten Sabu Raijua. Penyakit diare merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita di dunia setiap tahunnya terdapat 525.000 kasus balita meninggal dunia akibat diare. Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko balita mengalami diare antara lain: Pengetahuan ibu, pendidikan, pekerjaan, motivasi, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan determinan perilaku yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Seba Kecamatan Sabu Barat Kabupaten Sabu Raijua. Jenis Penelitian ini adalah observasional dengan desain Cross Sectional. Sampel dalam penelitian sebesar 56 kasus. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu simple random sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis Univariat dan Bivariat. Data dianalisis dengan menggunakan uji square dengan tingkat kemaknaan ɑ=0,05. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Pengetahuan (p=0,004), Pekerjaan, (p=0,033), Pendidikan (p=0,047), Motivasi (p=0,011), Lingkungan (p=0,022). Puskesmas dapat melakukan penyuluhan tentang pentingnya pencegahan diare dengan cara turun langsung ke Posyandu serta memperbanyak media informasi.
Cultural Factors Influencing the Incidence of Chronic Energy Deficiency (CED) in Pregnant Women in the Langke Majok Health Center Work Area Riberu, Martina Dwi Putri; Marni Marni; Helga JN Ndun
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 11: NOVEMBER 2024 - Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i11.6130

Abstract

ntroduction: Nutrition of pregnant women is one of the focuses of attention in improving community nutrition because it has a significant impact on the condition of the fetus. Mothers with risk KEK can have a negative impact on him itself such as anemia, bleeding, the mother's weight is not increase in a way normal and caught disease infection. KEK on Mother pregnant can cause miscarriage, baby born dead, dead in content and disabled carry-on. Case KEK Which happen in Manggarai Regency is caused by many factors, one of which is is the eating culture of pregnant women influenced by culture area local. The research results show that pregnant women's eating practices are carried out because of beliefs and habits in the family. Biological parents encourage mothers to abstain from eating because of the habits and beliefs in the family. Food taboo habits in the family are divided into two, namely food taboos that are carried out because of the habits of the biological family and habits that follow the husband's family after marriage. The husband's parents were also found to be a driving force for the mother to abstain from eating. Community health centers need to provide education regarding dietary restrictions not only to pregnant women but also to families and the community so that the nutritional needs of pregnant women are met. Objective: Study This aiming for describe factor culture that influences the occurrence of KEK in pregnant women in the work area of Langke Majok Health Center, including the eating practices of pregnant women, the role of parents and the eating culture of pregnant women. Method: This type of research is qualitative with an ethnographic research design. The informants consist of informants The key is eight pregnant women with KEK and eight supporting informants, with the instrument used being an interview guideline conducted by means of in-depth interviews, observation and documentation. The data analysis technique used is based on the approach taken by Miles and Huberman by means of data reduction, data presentation and drawing conclusions. Results: Research results shows that mothers' eating practices pregnant done because of beliefs and customs which exists in the family which requires the mother to follow the habit. This is supported by the role of biological parents who require the mother to do food taboos because of the habits and beliefs in the family. In addition to following the habits of biological parents. Food taboos carried out by pregnant women because of the role husband's parents as giver information, because after Marry a wife must follow customs and beliefs who is in the family husband. Culture abstinence Eat Which There is in area local directly not require Mother pregnant for do food taboos, but the belief in the tradition of food taboos that exist in the biological family that is carried out by the mother during her life. In addition, in the tradition of Manggarai culture, when married, the wife follows the customs of the husband's family as a form of respect for her husband, marked by the wife living with her husband's parents. Conclusion: Eating practices are carried out because of beliefs and customs in the family. The role of parents in eating taboos as a provider of information on eating taboos to pregnant women, the culture of fasting at night in the local area does not require pregnant women to carry out eating taboos except to follow the beliefs and traditions that exist in the family.