Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

HUBUNGAN PELAKSANAAN GOOD PHARMACY PRACTICE (GPP) DENGAN KEPUASAN KERJA APOTEKER DI APOTEK Putu Eka Arimbawa; Dewa Ayu Putu Satrya Dewi; I Putu Tangkas Suwantara
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 3 No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v3i2.905

Abstract

Good pharmacy practice (GPP) merupakan standar untuk memastikan Apoteker dalam memberikan setiap pelayanan kefarmasian sehingga dapat menciptakan suatu kepuasan kerja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan pelaksanaan good pharmacy practice (GPP) Dengan kepuasan kerja apoteker di apotek Kota Denpasar Penelitian ini dilakukan dengan desain survey cross sectional. Penelitian menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Teknik sampling yang digunakan adalah quota sampling. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 69 apoteker yang memiliki ijin praktek penanggung jawab di Kota Denpasar. Analisis data menggunakan uji statistika multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara aspek kesejahteraan pasien (p=0.23) dan aspek kerjasama dengan dokter (p=0,07) terhadap kepuasan kerja. Untuk hubungan aspek manajemen (p=0.01) dan aspek kontribusi peran apoteker (p=0,001) memberikan hubungan yang signifikan dengan kepuasan kerja. Secara keselurahan pelaksanaan good pharmacy practice (GPP) dengan kepuasan kerja terdapat hubungan yang signifikan (p=0,04) dan memberikan pengaruh sebesar 1,65 kali (OR =1,65) terhadap kepuasan kerja apoteker di apotek.
Perbedaan Pemanfaatan Internet dengan Pemahaman Penggunaan Antibiotik di Kota Denpasar Putu Eka Arimbawa; Dewa Ayu Putu Satrya Dewi; I Dewa Putu Juwana
Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi Vol. 8 No. 1 (2022): Januari 2022
Publisher : Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FKIP Universitas PGRI Mahadewa Indonesia bekerjasama dengan Asosiasi Prodi Olahraga Perguruan Tinggi PGRI (APOPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.919 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.5814121

Abstract

Penggunaan internet yang semakin tinggi dan kebenaran informasi menyebabkan pengetahuan yang berbeda dimasyarakat tentang antibiotik. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai penggunaan internet. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pemanfaatan internet dengan pengetahuan penggunaan antibiotik. Penelitian ini menggunakan rancangan survei cross-sectional. Jumlah sampel yang digunakan sebesar 318. Data dikumpulkan dari Bulan Juni-Agustus 2021 di Kota Denpasar menggunakan kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat mencari menggunakan web/situs pencarian (100%) dan grup media sosial khusus antibiotik (86,5%), serta terdapat perbedaan pengetahuan (p<0,05). Perbedaan pengetahuan kandungan, penggunaan, fungsi, dan khasiat disebabkan kebenaran informasi yang hanya menampilkan sebatas informasi informal. Penggunaan web pemerintah tentang kesehatan, organisasi profesi, dan organisasi kesehatan internasional masih perlu dibuat lebih menarik. Selain itu, penggunaan aplikasi chatting masyarakat dengan dokter-apoteker perlu ditingkatkan untuk menjamin keamanan pengobatan.
PERSEPSI APOTEKER DAN PASIEN TERHADAP PENERAPAN SISTEM PEMBAYARAN JKN PADA APOTEK Satibi Satibi; Dewa Ayu Putu Satrya Dewi; Atika Dalili Akhmad; Novita Kaswindiarti; Dyah Ayu Puspandari
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.349

Abstract

Pelayanan kesehatan pada era JKN diselenggarakan oleh semua Fasilitas Kesehatan (faskes) yang bekerja  sama dengan BPJS Kesehatan. Pelayanan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan perjanjian kerjasama antara BPJS dan faskes, bagi faskes yang tidak mempunyai sarana kefarmasian dapat menjalin kerja sama dengan apotek dalam hal pelayanan kefarmasian. Metode pembayaran untuk jasa pelayanan kesehatan pada era JKN menggunakan sistem kapitasi dan pembayaran langsung oleh BPJS kepada faskes. Namun masalah yang sering timbul dan menjadi pertanyaan dalam program JKN adalah mutu pelayanan, masyarakat masih ragu dengan mutu pelayanan yang diberikan oleh faskes. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana sistem kapitasi JKN dilihat dari sudut pandang Apoteker untuk mengetahui persepsi apoteker dan pasien terkait dengan sistem kapitasi JKN di Apotek PRB, Apotek Jejaring, dan Apotek Klinik Pratama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan tentang persepsi apoteker terhadap  profit, klaim biaya, perjanjian  kerjasama, dan pelayanan, sedangkan pada   pasien  tentang kualitas, jumlah, dan ketersediaan obat dan pembayaran obat. Data statistik dianalisis menggunakan analisis dengan Kruskal Wallis test dan uji post hoc Mann Whitney dengan melihat nilai signifikansi (p). Hasil penelitian di Apotek PRB, Apotek Jejaring dan Apotek Klinik Pratama, yaitu terdapat perbedaan persepsi apoteker pada indikator profit (p = 0,003) dan indikator pelayanan (p = 0,001), namun tidak terdapat perbedaan persepsi apoteker pada indikator klaim biaya (p = 0,0546) dan  indikator perjanjian kerjasama (p = 0,606). Selanjutnya, untuk persepsi pasien rawat jalan yaitu  terdapat perbedaan persepsi pasien pada indikator kualitas dan ketersediaan obat (p = 0,000), tetapi tidak terdapat perbedaan persepsi pasien rawat jalan pada indikator jumlah (p= 0,667) dan indikator pembayaran (p = 0,057). Berdasarkan biaya obat, yaitu terdapat perbedaan biaya obat (p = 0,000) pada apotek PRB, Apotek Jejaring, dan Apotek Klinik Pratama.
ANALISIS BIAYA OBAT PADA ERA JKN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DI FASILITAS PENUNJANG KESEHATAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Dewa Ayu Putu Satrya Dewi; Satibi Satibi; Diah Ayu Puspandari
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 5, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.231

Abstract

Pada era JKN apotek dapat berperan sebagai apotek program rujuk balik (PRB) atau apotek jejaring dan apotek klinik pratama (KP). Biaya obat apotek PRB diklaim langsung ke BPJS, sedangkan biaya obat apotek lainnya diklaim ke fasilitas kesehatan (faskes) primer berdasarkan perjanjian kerjasama. Perbedaan pola kerjasama apotek di era JKN berdampak pada biaya obat pasien, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rata-rata biaya obat, persentase biaya obat terhadap kapitasi, dan perbedaan biaya obat di apotek era JKN. Penelitian ini adalah penelitian observasi yang bersifat analitik cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada 6 apotek PRB, 6 apotek jejaring, dan 7 apotek KP di DIY pada bulan Oktober 2015. Subjek penelitian adalah resep pasien JKN bulan Maret 2015 dengan 8.430 lembar resep. Data dianalisis secara statistik deskriptif dan uji komparatif (uji Kruskal-Wallis). Hasil penelitian menunjukkan, rata-rata biaya obat pasien satu kali terapi di apotek jejaring; apotek KP; dan apotek PRB bernilai Rp12.589±Rp8.874,49; Rp14.173 ±Rp6.424,09; Rp143.807 ± Rp162.251,30. Rata-rata persentase biaya obat terhadap biaya kapitasi faskes primer bernilai 13,58% untuk apotek jejaring dan bernilai 15,91% untuk apotek KP. Terdapat perbedaan biaya obat yang signifikan di ketiga jenis apotek tersebut (p=0,000) yang dipengaruhi oleh lama waktu pemberian obat, jumlah lembar resep, margin keuntungan, dan jasa kefarmasian. Biaya obat di era JKN tergantung pada pola kerjasama apotek dengan faskes dan BPJS. Rata-rata persentase biaya obat terhadap kapitasi faskes di apotek jejaring lebih rendah dibandingkan dengan apotek klinik pratama.Kata kunci: analisis biaya obat, jaminan kesehatan nasional (JKN), apotek
EVALUASI STRUKTUR PELAYANAN PRAKTEK PERACIKAN OBAT DI PUSKESMAS WILAYAH KABUPATEN BADUNG, BALI Dewa Ayu Putu Satrya Dewi; Chairun Wiedyaningsih
Majalah Farmaseutik Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.58 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v8i2.24070

Abstract

Puskesmas sebagai tempat pelayanan primer perlu menyediakan segala keperluan yang dibutuhkan pasien, meliputi ketersediaan sarana dan prasarana penyediaan obat. Peracikan obat merupakan bagian yang penting dari pelayanan kefarmasian yang harus menjamin keamanan dan kualitas sediaan racikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran struktur pelayanan praktek peracikan yang dilakukan di puskesmas. Penelitian ini merupakan gabungan penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan dengan cara observasi menggunakan checklist untuk mengetahui gambaran pelayanan peracikan obat di puskesmas. Penelitian kuantitatif dilakukan untuk mendukung penelitian kualitatif tentang pengetahuan tenaga peracik. Penelitian dilakukan pada puskesmas utama yang terletak di Kabupaten Badung, Bali. Data yang diperoleh meliputi sarana dan prasarana peracikan di puskesmas seperti kriteria personel, fasilitas, kebersihan, peralatan, dan dokumentasi. Pengetahuan tenaga peracik dilihat dari pengetahuan tentang timbangan, bahan tambahan, dan sinonim obat. Data kualitatif yang dihasilkan dianalisis secara content analysis, sedangkan data kuantitatif dianalisis dengan sistem skoring. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat apoteker di puskesmas tersebut. Pengetahuan tenaga peracik umunya masih rendah. Meja peracikan pada umumnya tidak dipisah dari aktivitas lainnya sehingga bersifat multifungsi.Alat timbangan di seluruh puskesmas tidak tersedia, karena sediaan racikan dibuat dari sediaan jadi.Perlengkapan personel seperti masker dan sarung tangan tidak digunakan oleh tenaga peracik. Dokumentasi khusus untuk peracikan obat tidak dimiliki oleh seluruh puskesmas. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kualitas sarana prasarana peracikan di puskesmas masih rendah termasuk pengetahuan tenaga peracik.
Halodoc Selama Pandemi Covid-19 di Apotek Satrya Pharmacy Dewa Ayu Putu Satrya Dewi; Putu Eka Arimbawa; Ni Putu Wintariani
Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton Vol 9 No 2 (2023): Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton
Publisher : Lembaga Jurnal dan Publikasi Universitas Muhammadiyah Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/pencerah.v9i2.2998

Abstract

Apotek merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang berisiko menjadi tempat penularan infeksi Corona Virus Disease (Covid-19). Langkah yang dapat dilakukan untuk pencegahan terhadap penyebaran COVID-19 adalah Telemedicine. Aplikasi Telemedicine online milik swasta yang ada di Indonesia salah satunya adalah Halodoc. Selama bulan Mei-Agustus 2021 terjadi peningkatan lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia, begitu juga di Bali. Penelitian bertujuan untuk melihat gambaran penggunaan resep online Halodoc di apotek komunitas selama Covid-19. Analisis deskriptif menggunakan data retrospektif resep online Halodoc bulan Mei – Agustus 2021 di Satrya Pharmacy. Pasien berjenis kelamin perempuan lebih banyak menggunakan aplikasi Halodoc dibandingkan dengan laki-laki yaitu 85 orang (54,49%). Usia 25-34 tahun paling banyak menggunakan aplikasi Halodoc untuk membeli obat yaitu 72 orang (46,15%) dengan keluhan bukan penyakit kronik 151 orang (96,79%). Pelayanan resep online Halodoc di Satrya Pharmacy dilakukan oleh Apoteker dan Asisten. Pengantaran obat dilakukan oleh jasa pengantaran Gojek, Apoteker atau Asisten Apoteker akan menyiapkan obat yang sudah disertai aturan pakai obat. Aplikasi Medisend by Halodoc digunakan untuk mendokumentasikan serah terima dan penambahan informasi tentang obat. Kategori Obat yang diterima pada resep online di Satrya Pharmacy yaitu Antibiotik 41,66%, Vitamin D3 (8,33%), Obat Batuk (7,69%), Multivitamin (7,05%), dan Vitamin C (4,48%), Antivirus (3,2%), dan Nasal Spray (1,92%). Pelayanan resep online Halodoc di Satrya Pharmacy selama Pandemi Covid-19 mengikuti standar pelayanan kefarmasian sesuai PMK No 73 Tahun 2016.
Sosialisasi Apoteker Remaja (Apore) Siswa SMAN 7 Denpasar Mengenal Dagusibu Dan Toga Dewa Ayu Putu Satrya Dewi; I Gusti Ayu Rai Widowati; Ni Putu Aryati Suryaningsih; IGA Ari Septiari; Ida Ayu Manik Partha Sutema
DEDIKASI PKM Vol. 4 No. 3 (2023): DEDIKASI PKM UNPAM
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/dedikasipkm.v4i3.33282

Abstract

Apoteker adalah profesi kesehatan yang kompeten terkait pengelolaan obat-obatan. Apoteker telah melakukan perubahan pelayanan dengan filosofi Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical Care) yang berorientasi kepada pasien, agar peranan apoteker lebih dirasakan kehadirannya. Siswa SMA merupakan kelompok remaja yang dapat menjadi agent of change untuk menjadi Apoteker Remaja (APORE). Pada pengabdian kali ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian siswa SMAN 7 Denpasar tentang penggunaan obat yang tepat dan pemanfaatan TOGA. Sehingga siswa-siswi SMAN 7 Denpasar  dapat menjaga kesehatan mereka secara mandiri maupun membantu orang lain. Metode pengabdian APORE kali ini menggunakan Cara Belajar Insan Aktif (CBIA) dengan tiga tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan APORE diikuti oleh Siswa Siswi SMAN 7 Denpasar yang berjumlah 59 orang. Rata-rata nilai pretest adalah 58%, sedangkan rata-rata nilai posttest meningkat 2 kali lipatnya yaitu menjadi 91%. Hal ini menunjukkan peningkatan yang bermakna setelah peserta mendapatkan materi tentang obat dan TOGA. Namun Indikator TOGA menjadi topik yang mempunyai hasil pretest yang paling rendah yaitu 30%. Hasil ini sesuai dengan informasi yang diperoleh saat wawancara dengan Guru BK, yakni siswa-siswi SMAN 7 Denpasar tidak pernah memanfaatkan TOGA untuk pengobatan. Hal ini yang menjadi konsentrasi dari Program Studi Farmasi Klinis UNBI untuk bisa berbagi lebih banyak informasi terkait TOGA dan obat tradisional kepada remaja.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN OBAT TRADISIONAL DI DESA PANCASARI Gandisha Sandili; Ni Putu Aryati Suryaningsih; Dewa Ayu Putu Satrya Dewi
JOURNAL SCIENTIFIC OF MANDALIKA (JSM) e-ISSN 2745-5955 | p-ISSN 2809-0543 Vol. 4 No. 10 (2023): Oktober
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/10.36312/vol4iss10pp238-251

Abstract

Traditional medicine is now no longer a taboo subject for the community, currently many people's lifestyles lead back to nature by using herbal medicines, one of which is increasing the use of these herbal medicines so that it is necessary to analyze the factors that influence the behavior of the Pancasari Village community in the use of traditional medicine.To determine the influence of factors that underlie people's behavior regarding the use of traditional medicines in Pancasari Village.This research is a type of observational research that is descriptive quantitative, with the research design used is Cross Sectional and the sampling technique used in this research is the Side Purposive Technique. The number of samples is 96 respondents, data management uses SPSS by analyzing Univariate Test data and Logistic Regression Analysis.Logistic Regression Analysis of sociodemographic factors on people's behavior in using traditional medicines in Pancasari Village, there are several factors that influence people's behavior in using traditional medicines in Pancasari Village with a significant value, namely the age factor p-value = 0.045 (p <0.05 ), income factor p-value = 0.034 (p<0.05), and occupational factors that obtain a significant p-value = 0.042 (p<0.05). Plants that are often used by the community in the use of traditional medicine are ginger/red ginger to treat throat problems by 15 people (15.6%), turmeric for treating menstrual pain by 10 people (10.4%), and lime for increased endurance and overcome acne problems as many as 10 people (10.4%).There is an influence of age, income and occupation on people's behavior in the use of traditional medicines in Pancasari Village, Buleleng Regency.
Pengolahan bunga telang (Clitoria Ternatea) dan bunga rosela (Hibiscus Sabdariffa L.) sebagai minuman herbal pendamping pasien hipertensi di Posyandu Lansia Puskesmas Payangan Dewa Ayu Putu Satrya Dewi; Putu Yudhistira Budhi Setiawan; Ni Putu Aryati Suryaningsih
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.22868

Abstract

Abstrak Hipertensi masih menjadi penyebab utama penyakit kardiovaskular di seluruh dunia. Menurut data Biro statistik presentasi lansia di Indonesia sebesar 9,6% dari total penduduk atau sekitar 25,64 juta orang. Hasil proyeksi data tersebut mengindikasikan perlunya perhatian khusus terhadap lansia mengingat hipertensi sangat berbahaya bagi lansia dan termasuk kelompok berisiko. Pengabdian Masyarakat di Puskesmas Payangan dengan melibatkan 14 orang Lansia yaitu penyuluhan, diskusi, dan praktek langsung pembuatan Minuman Bunga Telang dan Bunga Rosela sebagai minuman herbal pendamping pasien Hipertensi. Lansia kurang paham terhadap dosis dan cara pemakaian minuman herbal. Beberapa lansia justru mengkonsumsi minuman herbal secara berlebihan dengan tujuan agar Hipertensi segera membaik. Namun, setelah pemberian penyuluhan lansia memahami bahwa penggunaan minuman herbal secara berlebih juga dapat menimbulkan efek samping yang tidak diharapkan. Lansia dapat menggunakan dosis dan cara pakai minuman herbal bunga Telang dan bunga Rosela 2 kali sehari 200 ml setiap 12 jam. Wawasan pasien lansia tentang penggunaan minuman herbal meningkat setelah pemberian penyuluhan ditandai dengan mampu mengulang kembali informasi yang sudah diberikan. Kata kunci: minuman herbal; bunga telang; bunga rosela; lansia AbstractHypertension remains the main cause of cardiovascular disease worldwide. According to data from the Biro Statistik, the percentage of elderly people in Indonesia is 9.6% of the total population, or around 25.64 million people. The results of these data projections indicate the need for special attention for the elderly, considering that hypertension is very dangerous for the elderly and those who are at-risk groups. Community service at the Puskesmas Payangan involved 14 elderly people, namely counselling, discussion, and direct practice in making Telang and Rosella Flower Drinks as herbal drinks to accompany hypertension patients. There are still many elderly people who do not understand the dosage or how to use herbal drinks. Some elderly people consume herbal drinks excessively to improve hypertension quickly. However, after providing counselling, eldery understood that excessive use of herbal drinks could also cause side effects. Elderly people can use the dosage and how to use the herbal drink from Telang and Rosella flowers twice a day, 200 ml every 12 hours. Elderly patients' insight into the use of herbal drinks increased after providing counselling, marked by being able to repeat the information that had been given. Keywords: herbal drinks; telang; rosella flowers; elderly  
PENGARUH EDUKASI TERHADAP TINGKAT KEPATUHAN PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS I DENPASAR TIMUR Vidianti, Ni Komang Vera; Suryaningsih, Ni Putu Aryati; Satrya Dewi, Dewa Ayu Putu
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 12 (2023): Volume 10 Nomor 12
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i12.12998

Abstract

Abstrak : Pengaruh Edukasi Terhadap Tingkat Kepatuhan Pasien Hipertensi Di Puskesmas I Denpasar Timur. Hipertensi merupakan penyakit kronis adanya peningkatan tekanan pembuluh darah arteri. Pasien hipertensi diharuskan mengkonsumsi obat secara teratur. Edukasi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kepatuhan pasien minum obat. Salah satu contoh edukasi yaitu Booklet. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh edukasi terhadap tingkat kepatuhan pasien hipertensi di Puskesmas I Denpasar Timur. Rancangan penelitian ini merupakan pre-experimental design tipe one group pretest-postest dan teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan metode purposive sampling dimana jumlah sampel sebanyak 30 orang diberikan edukasi. Pengukuran tingkat kepatuhan dilihat dari Pill count. Data yang dianalisis dengan software komputer dengan uji wilcoxon test untuk mengetahui pengaruh edukasi terhadap tingkat kepatuhan pasien hipertensi. Hasil uji wilcoxon test menunjukkan hasil terdapat perbedaan signifikan kepatuhan minum obat pasien hipertensi sebelum dan sesudah diberikan intervensi 0.025<0.05. Dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi melalui Booklet dapat meningkatkan kepatuhan minum obat pasien hipertensi di Puskesmas I Denpasar Timur