Claim Missing Document
Check
Articles

Patterns and Trends of Crocodile Trade from Tanah Papua, Indonesia Dewi Untari; Hardjanto Hardjanto; Bramasto Nugroho; Rinekso Soekmadi
Forest and Society Vol. 4 No. 1 (2020): APRIL
Publisher : Forestry Faculty, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.175 KB) | DOI: 10.24259/fs.v4i1.9058

Abstract

Crocodylus porosus and C. novaeguineae are two protected and tradable crocodile species in Indonesia. Therefore, precautionary principles are needed in their utilization to ensure sustainability. Although the commodity from these species is traded domestically and internationally, the broader picture of its use in Indonesia is less known. The objectives of the study were to: (1) analyze the domestic trade of crocodiles, and (2) analyze the international trade of crocodiles. The analysis was conducted using data of direct utilization sourced from the wild in the form of skin and hatchlings, data on domestic transport permits, CITES export permits, and the CITES trade database. The study suggested that the harvest of crocodile hatchlings and skin do not represent the actual condition since the skin recorded were only those sent outside of the province. Determining zero harvest quotas of C. porosus did not stop species harvest for domestic trade. The dominant source of C. porosus skin export was captive breeding, while C. novaeguineaewas sourced from the wild. Ranch-sourced skin of both species for export were very low.
UTILIZATION AND CONSERVATION OF Nepenthes ampullaria Jack IN THE TRADITION OF KENDURI SKO COMMUNITY OF KERINCI, JAMBI Hernawati Hernawati; Ervizal A. M. Zuhud; Lilik Budi Prasetyo; Rinekso Soekmadi
Media Konservasi Vol 27 No 2 (2022): Media Konservasi Vol 27 No 2 Agustus 2022
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/medkon.27.2.51-58

Abstract

It is common for ethnic Malay in Indonesia and Malaysia to use Nepenthes ampullaria as food containers. However, the use of Nepenthes as part of a cultural tradition has been found only in Kerinci Regency, Jambi. This study explores the local wisdom in utilizing and maintaining the presence of N. ampullaria in Kerinci. Data collection through open-ended and deep interviews through participatory observation methods. Data analysis and presentation are delivered descriptively. Lemang is a compulsory item to be served in traditional ceremonies of kenduri sko. There are two types of lemang in Kerinci, lemang bamboo and lemang kancung beruk. The latter is found only during the kenduri sko tradition in Kecamatan Gunung Raya and Bukit Kerman. Therefore, the existence of lemang kancung beruk in these two sub-districts has become obligatory and has no other comparable substitute. In Gunung Raya and Bukit Kerman, the Kenduri sko is held four times a year. The need for N. ampullaria for kenduri sko in these two sub-districts is enormous. For the event, each household needs at least 500 to 2000 pitchers of N. ampullaria. The people of Kerinci harvest N. ampullaria directly from the wild to fulfill the need. The population of N. ampullaria that still survives in its natural habitat is evidence of the success of the local community in maintaining the existence of N. ampullaria in Kerinci. Method and schedule arrangements can allow the population of N. ampullaria to recover. Key words: Nepenthes, Kenduri sko, Lemang kancung beruk
ETHNOBOTANY OF KEMANG (Mangifera kemanga Blume.) AS IDENTITY FLORA OF BOGOR REGENCY Beti Septiana Darsono; Agus Hikmat; Rinekso Soekmadi
Media Konservasi Vol 27 No 2 (2022): Media Konservasi Vol 27 No 2 Agustus 2022
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/medkon.27.2.34-41

Abstract

Kemang (Mangifera kemanga Blume.) is a local fruit and has become the identity flora of Bogor Regency based on Decree of the Regent's Number 522/185/Kpts/1996. Currently, the existence of kemang is rare, and it is worried about becoming extinct. This study aimed to identify the ethnobotany of kemang in the community of Bogor Regency and to develop a conservation strategy for kemang as the identity flora of Bogor Regency. The research was carried out from April-July 2021 in Kemang District, Sukaraja District, and Leuwiliang District. Based on criteria, the research was conducted through deeply personal interviews with the local community. The characteristic of the respondent was individual who has kemang and gardeners whose gardens contain kemang. The data obtained were analyzed descriptively. Based on interviews with 30 respondents, kemang was identified by looking at leaf color, leaf shape, stem, flower, and fruit compared to mango (Mangifera indica). Kemang mainly was found growing in gardens (74%). Kemang propagation was done by seed. The most used parts were fruit (43%) and shoots (39%). Both parts were consumed directly in a fresh form. Besides having a role as a food ingredient, kemang has potential as an antioxidant, anticancer, and anti-degenerative. The reason people still maintain kemang because the existence of kemang is getting rare, and the selling price of kemang fruit is relatively high compared to other types of mango. In addition, kemang can also prevent soil erosion. The conservation strategies of kemang are optimizing the socialization and publication of kemang benefit, developing kemang cultivation, and developing kemang as a local fruit commodity. Key words: conservation strategy, ethnobotany, kemang, local fruit, rare
Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan dalam Perspektif Perkembangan Wilayah dan Pengelolaan Taman Nasional Kepulauan Togean Irvan Dali; Muhammad Ardiansyah; Rinekso Soekmadi
TATALOKA Vol 25, No 2 (2023): Volume 25 No. 2 May 2023
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.25.2.105-120

Abstract

Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) ditunjuk pada tahun 2004 dengan fungsi utama sebagai area perlindungan sistem penyangga kehidupan, mempertahankan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa endemik, pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya sekaligus mendukung perekonomian wilayah. Pesatnya pertumbuhan penduduk, tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya alam dan meningkatnya aktivitas perekonomian memberikan tekanan terhadap kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis perubahan penutupan/penggunaan lahan, 2) menganalisis hirarki perkembangan wilayah, 3) menganalisis tingkat tekanan penduduk, 4) menganalisis kesesuaian penutupan/penggunaan lahan dengan zonasi TNKT, dan 5) menyusun arahan pengendalian perubahan penutupan/penggunaan lahan. Penelitian dilakukan dengan teknik interpretasi citra, analisis skalogram, analisis indeks tekanan penduduk, dan tumpang susun peta. Hasil interpretasi menunjukkan 9 (sembilan) jenis penutupan/penggunaan lahan. Dalam periode tahun 2003-2017, penyusutan luas terbesar dialami hutan primer yaitu sebesar 6.157 ha (62,61%), sementara perkebunan mengalami peningkatan luas yang signifikan yaitu 5.497 ha (30,74%). Dalam perspektif perkembangan wilayah, luas perubahan penutupan/penggunaan lahan terbesar terjadi pada wilayah hirarki III. Hasil analisis tingkat tekanan penduduk menunjukkan 15 desa di daerah penyangga TNKT dengan tekanan penduduk tinggi. Terdapat ketidaksesuaian penutupan/penggunaan lahan eksisting dengan zonasi TNKT. Arahan pengendalian perubahan penutupan/penggunaan lahan antara lain melalui: 1) model desa konservasi, 2) revisi zonasi, dan 3) pemulihan ekosistem.
Analisis Keberlanjutan Pemanfaatan Pekarangan Sebagai Kawasan Agrowisata di Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur Atang Trisnanto; Rinekso Soekmadi; Hadi Susilo Arifin; Bambang Pramudya
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 21, No 3 (2023): July 2023
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.21.3.534-544

Abstract

Pemanfaatan kebun sebagai kawasan agrowisata di Kabupaten Banyuwangi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara langsung dengan memaksimalkan potensi pekarangan yang dimiliki masyarakat di bidang pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status keberlanjutan pemanfaatan pekarangan sebagai kawasan agrowisata di Kabupaten Banyuwangi ditinjau dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan dan budaya. Metode analisis yang digunakan adalah Multi Dimensional Scaling (MDS) melalui teknik ordinance Rap-HGAgrotourism (Rapid Appraisal for Home Garden Agrotourism). Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan pekarangan sebagai kawasan agrowisata di Kabupaten Banyuwangi berada pada kategori Baik Berkelanjutan (84,55) pada dimensi ekologi, Cukup Berkelanjutan (67,14) pada dimensi Ekonomi, Cukup Berkelanjutan (59,84) pada dimensi sosial, Kurang Berkelanjutan (49,74) pada dimensi kelembagaan, dan Cukup Berkelanjutan (61,25) pada dimensi budaya. Kajian ini menjelaskan secara holistik beberapa aspek/atribut (ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan dan budaya) yang menjadi faktor pengungkit yang dapat dijadikan dasar dalam penyusunan kebijakan pemanfaatan lahan pekarangan sebagai kawasan agrowisata secara berkelanjutan. Atribut pengungkit yang pengaruhnya sangat sensitif terhadap keberlanjutan pemanfaatan pekarangan sebagai kawasan agrowisata di Kabupaten Banyuwangi adalah: (1) keberadaan dan kualitas objek daya tarik wisata pada pekarangan, (2) jumlah penduduk yang memanfaatkan pekarangan sebagai kawasan agrowisata, (3) keterlibatan lembaga masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan sebagai kawasan agrowisata, (4) tersedianya peraturan terkait pemanfaatan pekarangan sebagai kawasan agrowisata, 5) adanya pelanggaran nilai kepercayaan dalam pemanfaatan pekarangan, (6) konflik antar masyarakat dengan latar belakang perbedaan budaya, dan (7) penerapan modal sosial dalam pemanfaatan lahan pekarangan.
PREFERENSI DAN MOTIVASI MASYARAKAT LOKAL DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU, PROVINSI SULAWESI TENGAH (Preference and Motivation of Local Community in Utilization of Forest Resource in Lore Lindu National Park) Sudirman Daeng Massiri; Bramasto Nugroho; Hariadi Kartodihardjo; Rinekso Soekmadi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 23, No 2 (2016): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18793

Abstract

ABSTRAKBanyak pihak masih meragukan nilai masyarakat terkait hutan alasan bahwa masyarakat lokal itu adalah perusak hutan, tidak dapat membatasi konsumsinya terhadap sumberdaya hutan dan dipandang sebagai masalah dalam konservasi sumberdaya hutan. Akibatnya, kebijakan pengelolaan hutan yang melibatkan masyarakat masih menjadi bahan perdebatan, utamanya dalam pengelolaan kawasan konservasi. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran tentang preferensi dan motivasi masyarakat lokal terhadap pemanfaatan sumberdaya hutan di kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini menerapkan metode survei, yang dilaksanakan pada dua tipe komunitas masyarakat lokal di sekitar TNLL yakni masyarakat desa homogen dan masyarakat desa heterogen. Data preferensi pemanfaatan hutan diperoleh melalui metode skor dengan menggunakan distribusi kartu yang dilakukan oleh masyarakat lokal, sedangkan data motivasi diperoleh melalui wawancara kepada masyarakat menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai preferensi kegunaan hutan yang tertinggi bagi masyarakat lokal adalah kegunaan hutan untuk perlindungan dan pengaturan air. Nilai tertinggi preferensi kegunaan hutan di zona rimba kompatibel dengan tujuan pengelolaan TNLL, sedangkan di zona pemanfaatan dan zona rehabilitasi masih ditemukan nilai preferensi yang tertinggi yang tidak kompatibel dengan tujuan pengelolaan TNLL. Masyarakat lokal yang bermukim di sekitar TNLL tidak hanya memiliki motivasi atas dasar kebutuhan material yang tinggi terhadap sumberdaya di TNLL tetapi juga memiliki motivasi sosial yang tinggi dan bahkan memiliki motivasi moral yang sangat tinggi. Dengan demikian, masyarakat lokal itu perlu dilibatkan dalam pengelolaan taman nasional melalui pengaturan institusi yang tepat. ABSTRACTMany people still doubt the value of local community related to forest, because they think that the local communities are destroyers of the forest, cannot limit their consumption to forest resources and become a problem of forest resource conservation. Consequently, forest management policy involving the local community is still a subject of debate, especially in the management of protected areas. This research aims to provide an overview of the preferences and motivations of local communities to use forest resources in Lore Lindu National Park (LLNP), Central Sulawesi province. This research applied a survey method and was conducted on two types of local communities around the village community LLNP - homogeneous and heterogeneous village communities. Data on forest utilization preferences were obtained through the scoring method using the distribution of cards conducted by local communities, while data on motivation were obtained through interviews to local communities using a questionnaire. This study showed that the highest preference for local community forest use was the uses of forest for protection and regulation of water. The highest value of preference for local community forest use in wilderness zone was compatible with the objectives of LLNP, while in utilization zone and rehabilitation zone, it was still found the highest value of preference for local community forest use which was not compatible with the objectives of LLNP. The Local communities were not only motivated based on high material needs of resources in LLNP but they also have a high social motivation and even they have a very high moral motivation. Therefore, the local communities should be involved in the management of national parks through the appropriate institutional arrangements.
MEKANISME HUBUNGAN STAKEHOLDERS DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA TANGKAHAN Muhammad Irfan Lubis; EKS Harini Muntasib; Rinekso Soekmadi
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 10 No 2 (2023): Agustus
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v10i2.44309

Abstract

Ekowisata Tangkahan adalah salah satu Ekowisata yang terkenal di Taman nasional Gunung Leuser. Banyak pihak yang ikut berperan dalam pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme hubungan para pihak yang ikut mengelola di Ekowisata Tangkahan. Metode yang digunakan adalah pemetaan stakeholders, analisis stakehoders, dan sintesis dengan merumuskan mekanisme hubungannya. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat sebagian stakeholders, seperti Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kabupaten Langkat, dan Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) yang menjadi pemain kunci dengan pengaruh dan kepentingan tertinggi.
POTENSI WISATA ALAM DI KOTA PAGAR ALAM, PROVINSI SUMATERA SELATAN BERDASARKAN PENAWARAN, PERMINTAAN DAN DAYA DUKUNG yogie zulni pratama; Rinekso Soekmadi; Afra DN Makalew
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 11, No 1 (2021): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v11i1.41546

Abstract

Pagar Alam City belongs to the administrative region of South Sumatera Province and has a variety of natural tourism to be developed. This research focuses on determining natural tourism potentials based on supply, demand and carry capacity in Pagar Alam City. The assessment used the analysis of potential objects and natural attractions using the guidelines for regional analysis of operations-objects and natural attractions (ADO- ODTWA) from Directorate General of Forest Protection and Nature Conservation (2003) and carrying capacity’s analysis using the formula Douglass (1982). The results showed that Pagar Alam city has 7 natural tourism potential dan 29 natural tourism enough potential with the highest potency value index of the Dempo Mountain Tea Plantation Area 87.89% and the lowest 33.51% is Blange Water Fall. The number of tourists according to carrying capacity for each tourism activities are recreational activities 1.041.336 people/year and camping activities 555.685 people/year.Keywords: demand, carrying capacity, natural tourism, supply, tourist.AbstrakKota Pagar Alam termasuk dalam wilayah Provinsi Sumatera Selatan dan memiliki berbagai wisata alam untuk dikembangkan. Fokus penelitian adalah kajian potensi wisata alam di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan berdasarkan penawaran, permintaan dan daya dukung di Kota Pagar Alam. Penilaian yang digunakan adalah analisis potensi objek dan daya tarik wisata alam menggunakan pedoman analisis daerah operasi-objek dan daya tarik wisata alam (ADO-ODTWA) Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (2003) dan analisis daya dukung menggunakan formula Douglass (1982). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Pagar Alam memiliki 7 wisata alam yang berpotensi dan 29 wisata alam cukup berpotensi untuk dikembangkan dengan indeks nilai potensi tertinggi yaitu Kawasan Perkebunan Teh Gunung Dempo dengan persentase 87.89% dan terendah 33.51% yaitu Cughup Blange. Jumlah wisatawan sesuai dengan daya dukung untuk masing-masing kegiatan wisata yaitu kegiatan rekreasi adalah 1.041.336 orang/tahun dan kegiatan wisata 555.685 orang/tahun.Kata kunci: daya dukung, penawaran, permintaan, wisawatan, wisata alam
Status Keberlanjutan Taman Wisata Alam Lembah Harau di Kabupaten Lima Puluh Kota Putri Yolanda; Rinekso Soekmadi; Nandang Prihadi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 5 (2024): September 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.5.1316-1325

Abstract

Taman Wisata Alam (TWA) Lembah Harau merupakan salah satu destinasi wisata alam di Kabupaten Lima Puluh Kota dengan luas 27,5 Ha. Berdasarkan data statisik tahun 2022 terjadi peningkatan wisatawan TWA Lembah Harau di Kabupaten Lima Puluh Kota, tercatat kenaikan wisatawan mencapai 14% dengan jumlah kunjungan tahun 2022 sebesar 270.790 pengunjung. Peningkatan kunjungan TWA Lembah Harau dapat menimbulkan dampak positif bagi peningkatan pendapatan baik masyarakat maupun pemerintah, namun apabila telah melampaui daya dukung kawasan dapat menyebabkan terjadinya dampak negatif terhadap aspek ekologi kawasan sekitar. Penelitian ini dilakukan dari bulan November hingga Desember 2022, Adapun tujuan penelitian ini adalah menganalisis status keberlanjutan TWALH. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei yaitu observasi lapangan dan studi literatur, kemudian di analisis menggunakan MDS (Multi Dimensional Scaling). Hasil analisis keberlanjutan menggunakan analisis MDS secara multidimensi mengindikasikan bahwa TWA Lembah Harau masuk kategori cukup berlanjutan. Dalam analisis leverage dari empat dimensi, dimensi ekologi dari atribut daya dukung tampaknya merupakan atribut yang paling sensitif. Karakteristik daya dukung dapat diartikan memiliki dampak yang sangat besar terhadap dimensi ekologi. Sementara itu, analisis Monte Carlo merupakan rangkaian pengujian berkelanjutan untuk menguji dampak dari berbagai kesalahan (ketidakpastian) baik terkait penilaian maupun dalam proses penentuan status keberlanjutan TWA Lembah Harau.
Institutional Sustainability of a Community Conservation Agreement in Lore Lindu National Park Massiri, Sudirman Daeng; Nugroho, Bramasto; Kartodihardjo, Hariadi; Soekmadi, Rinekso
Forest and Society Vol. 3 No. 1 (2019): APRIL
Publisher : Forestry Faculty, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.869 KB) | DOI: 10.24259/fs.v3i1.5204

Abstract

The arrangement of self-governance institutions is the main obstacle to achieving sustainability for ecosystems and local livelihoods. The aim of this study was to describe the institutional sustainability of Community Conservation Agreement (CCA) in Lore Lindu National Park (LLNP), located in Central Sulawesi Province, Indonesia. This study applied a descriptive method by identifying and analyzing the relationship between characteristics of the community and nearby resources, as well as the regulations and rules (formal and local rules arranged in CCA), behavior and performance of institutional CCA, and the interests and power of stakeholders. The research demonstrates that high institutional sustainability of CCA is not only determined by the relations among the community, but that it is also motivated by the common interests to preserve water in the LLNP area as a means for avoiding disaster. However, principles of collective-choice arrangements, minimal recognition of rights to organize, and nested enterprises in CCA were not running well. Strategies to improve the institutional sustainability of CCA include unifying landscape zones that describe property rights of local communities within a conservation area that is recognized by all stakeholders and should be supported by formal legal rules.
Co-Authors Adhi, Rizky Pratama Adi, Try Prasetyo Aditya, Mahendra Dimas Afiyanti, Sisca Widiya Afra DN Makalew Agus Hikmat Agus Priyono Kartono Albert Farma Andi Chairil Ichsan Anjana, Muhamad Redito Gea Aprilia, Hapriza Atang Trisnanto Atang Trisnanto, Atang Bambang Pramudya Bambang Pramudya Noorachmat, Bambang Pramudya Bambang Sulistyantara Beti Septiana Darsono Bramasto Nugroho Cut Maila Hanum DAMAYANTI BUCHORI Daud Silalahi Dewi Untari Dodik Ridho Nurrochmat Edward Sembiring Endang Koestati Sri Harini Muntasib Erni Yuniarti Ervizal A. M. Zuhud Ervizal AM Zuhud Ervizal AMZU Eva Rachmawati Gista M. Rukminda Hadi S Alikodra Hadi Susilo Arifin Handini Widiyanti Hardjanto Hardjanto Harini, EKS Harnov Harnov Hartrisari Hardjomidjojo Hasibuan, Ratna Sari Hasim - Heri Santoso Hernawati Hernawati Herry Purnomo Herwasono Soedjito Hikmah, Ziyadatul Imam Ardiansyah Irvan Dali Jadda Muthiah K Karsudi Karsudi . Karsudi K Kartodihadjo, Hariadi Kartodihardjo, Hariadi LILIK BUDIPRASETYO Lukita Awang Nistyantara Mardiana Wachyuni Marissa Grace Haque Masy'ud, Burhanuddin Muaz Haris Muhammad Ardiansyah Muhammad Irfan Lubis Muji Listyo Widodo Nandang Prihadi Nandang Prihadi Novriyanti Nur Budi Mulyono Nurul Qomar Nyoto Santoso Putri Yolanda Restian Alif Junianti Rika S. Santoso Sambas Basuni Soeryo Adiwibowo Sudirman Daeng Massiri Syarif Indra S.P Tilman, Efrem Tresika Deryanti Tri Rahayuningsih Triprajawan, Tangguh Tutut Sunarminto vera tisnawati Wahyu, Khairunnisa Wizdjanul Winahyu Adyananda Putri Yarman . Yasri Syarifatul Aini yogie zulni pratama YOLANDA, PUTRI Yulianto Yumarni .