Claim Missing Document
Check
Articles

Upaya Percepatan Penurunan Stunting Melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pangan Lokal : Systematic Review: Efforts to Accelerate Stunting Reduction Through Providing Additional Food (PMT) Local Food: Systematic Review Nurmala Meilasari; Wiku Adisasmito
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 3 (2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i3.4924

Abstract

Latar belakang: Stunting merupakan permasalahan global yang serius. Prevalensi stunting yang tinggi menjadi ancaman terhadap kesejahteraan dan ketahanan nasional jangka panjang. Anak stunting akan mengalami ganguan kecerdasaan, rentan terkena penyakit bahkan dapat mengancam kematian. Berdasarkan data SSGI tahun 2022 prevalensi stunting Indonesia 21.6% sedangkan target prevalensi stunting pada tahun 2024 yaitu 14% dan target WHO yaitu kurang dari 20%. Salah satu upaya percepatan penurunan stunting yaitu melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pangan lokal kepada balita stunting untuk meningkatkan status gizi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana pengaruh Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pangan lokal terhadap penurunan stunting Metode: Penelitian ini merupakan systematic review dengan menggunakan metode PRISMA. Pemilihan artikel sesuai kriteri inklusi dan eksklusi serta pencariannya melalui database Google scholar dengan kata kunci “PMT pangan lokal cegah stunting”. Artikel yang dilakukan review dari tahun 2020-2023 dan didaptkan 12 artikel yang dilakukan review. Hasil: Hasil dari penelitian ini menjelaskan pemberian makanan tambahan (PMT) pangan lokal berpengaruh terhadap kenaikan Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB) balita stunting jika pemberiannya minimal 30 hari. Udang rebon merupakan protein hewani yang mudah didapatkan dan harganya relatif murah, kenaikan tinggi badan dengan pemberian makanan tambahan berupa udang rebon terjadi signifikan Kesimpulan: Pemberian makanan tambahan (PMT) pangan lokal berupa olahan udang rebon dapat menjadi salah satu strategi untuk percepatan penurunan stunting.
EVALUASI IMPLEMENTASI ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) RADIOLOGI THORAKS BERDASARKAN WAKTU TUNGGU PELAYANAN DAN COST PER CASE DI RUMAH SAKIT AWAL BROS GROUP Fitria Najib; Wiku B. Adisasmito
Journal of Hospital Administration and Management (JHAM) Vol 7 No 1 (2026): Journal of Hospital Administration and Management (JHAM)
Publisher : LPPM Universitas Awal Bros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54973/jham.v7i1.939

Abstract

Artificial Intelligence (AI) has been increasingly adopted in radiology services to improve diagnostic and operational efficiency. However, its implementation requires substantial investment, highlighting the need for evaluation from both effectiveness and economic perspectives. This study aimed to evaluate the effectiveness of AI implementation in chest radiology services across Awal Bros Group Hospitals by assessing service turnaround time (TAT) and cost per case. A quantitative analytical study with a retrospective pre–post observational design was conducted using secondary data collected from eight hospitals within the Awal Bros Group network. Service performance before and after AI implementation was compared using turnaround time indicators, including waiting time and report interpretation time. An economic evaluation was also performed to assess operational efficiency and cost-effectiveness. The results demonstrated statistically significant improvements in service performance following AI implementation (p < 0.001). The median waiting time decreased from 12.08 to 9.65 minutes, while the mean report interpretation time decreased from 25.95 to 20.93 minutes. The economic evaluation further indicated improved operational efficiency and favorable cost-effectiveness, reflected by a lower cost per case after AI implementation.In conclusion, the implementation of AI in chest radiology services significantly improved operational efficiency by reducing turnaround time and optimizing service costs. These findings support the value of AI as a strategic digital health technology that enhances radiology workflow and contributes to the sustainability of hospital digital transformation.
Persistent sanitation and health behavior gaps in South Tangerang's Healthy Market Program: English Akbar Yazil Siregar; Wiku Bakti Bawono Adisasmito
Asian Multidisciplinary Research Journal of Economy and Learning Vol. 3 No. 7 (2026): Governance, Culture, and Healthy Communities
Publisher : Argael Publisher, an imprint of CV. ARGA FARMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70471/0tgd6722

Abstract

(Background) Traditional food markets are essential food-distribution spaces, yet inadequate sanitation, poor waste handling, and weak clean and healthy living behavior can intensify environmental health and food-safety risks. (Objective) This study analyzed the implementation of selected Healthy Market indicators in Pasar Ciputat and Pasar Modern BSD, South Tangerang, by comparing documented 2014 conditions with 2026 field observations. (Methods) A partial replication design was applied using structured observation from 21-27 April 2026. Twelve binary indicators were derived from the 2008 Healthy Market guideline and Minister of Health Regulation Number 17 of 2020, covering waste management, drainage, handwashing facilities, toilets, and smoking-related PHBS. Descriptive scoring was calculated as the proportion of fulfilled indicators. (Results) Pasar Ciputat improved from two of twelve indicators in 2014 (16.7%) to three indicators in 2026 (25.0%), mainly because covered waste bins were identified in 2026. Pasar Modern BSD maintained seven documented fulfilled indicators in both periods (58.3%), reflecting stronger infrastructure but no measurable behavioral progress. Across both markets, trader-level waste separation, absence of standing water, soap availability, and compliance with smoke-free behavior remained unmet. (Conclusions) The Healthy Market Program in South Tangerang shows a persistent facility-behavior gap. Infrastructure provision must be coupled with routine supervision, trader education, smoke-free enforcement, and cross-sector environmental health governance.
MODEL KAPABILITAS DINAMIS RUMAH SAKIT BERBASIS KEUNTUNGAN DALAM MENGHADAPI LINGKUNGAN VUCA Theodorus Adrianto Widaya; Wiku Bakti Bawono Adisasmito
Menara Medika Vol 9, No 1 (2026): VOL 9 No 1 SEPTEMBER 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mm.v9i1.8022

Abstract

Latar Belakang: Rumah sakit for-profit di Indonesia menghadapi tekanan lingkungan VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity) yang semakin meningkat akibat volatilitas tarif BPJS/JKN, ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku farmasi, serta dampak krisis global terhadap biaya operasional dan keberlanjutan organisasi. Kondisi tersebut menuntut rumah sakit memiliki model perencanaan strategis yang lebih adaptif dan responsif terhadap perubahan lingkungan. Tujuan: mengembangkan dan memvalidasi Wira-Daya Matrix sebagai model operasional perencanaan strategis rumah sakit for-profit di Indonesia dengan mengidentifikasi prioritas kapabilitas Top Management Team (TMT) dan Company Resources (CR). Metode:  menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain eksploratori-sekuensial. Tahap awal dilakukan menggunakan metode Strategic Assumptions Surfacing and Testing (SAST) melalui Focus Group Discussion (FGD) untuk mengidentifikasi dan menyaring variabel strategis. Selanjutnya, metode Analytic Network Process (ANP) digunakan melalui wawancara mendalam terhadap delapan eksekutif rumah sakit untuk menentukan bobot prioritas masing-masing variabel. Hasil: menunjukkan bahwa adaptabilitas merupakan kapabilitas TMT paling dominan dengan bobot 0,301, diikuti kepemimpinan (0,255), komunikasi (0,211), pengalaman dan pengetahuan (0,162), serta keberagaman tim manajemen (0,071). Pada dimensi sumber daya perusahaan, kapabilitas keuangan menjadi faktor paling dominan dengan bobot 0,432. Kesimpulan: penelitian ini menghasilkan Wira-Daya Matrix yang membagi strategi rumah sakit ke dalam empat kuadran, yaitu survival, turnaround, hold-out, dan growth. Diskusi: Model ini mendorong perubahan pendekatan strategis dari plan-action menuju diagnose-choose dalam menghadapi lingkungan VUCA.
Implementation of the primary health care system in various countries: a systematic review Rocky Setya Budi; Wiku Bakti Bawono Adisasmito
Berita Kedokteran Masyarakat Vol 39 No 04 (2023)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.v39i04.7168

Abstract

Purpose: Primary health care (PHC) focuses on the community as individuals, families, and communities, which prioritizes health promotion and disease prevention over treatment, rehabilitation, and palliative care. PHC implementation often sacrificed the prevention approach because it was hampered by health medicalization. Methods: This Systematic Review follows the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. The author searched five databases: EMBASE, ProQuest, ScienceDirect, Scopus, and PubMed, to discover the primary health care system implementation in various countries. Result: Searches on the EMBASE database included 193 articles, ProQuest 347 articles, PubMed 589 articles, ScienceDirect 294 articles, and Scopus 293 articles. Reports were assessed for eligibility, the remaining 39 full-text articles were reviewed, and the authors chose ten relevant and suitable articles for further review. Conclusions: The medicalization of health, a shortage of skilled health workers, poor services, a weak referral system, treatment that does not meet the needs of the community, a lack of public-private partnerships in the provision of health services, and a lack of stakeholder involvement in policy-making continues to impede PHC implementation. In the future, stakeholders should cover the gap between public health and primary care through integration.
Optimalisasi Telemedicine Untuk Menegakkan Diagnosis Sebagai Inovasi Pelayanan Rumah Sakit selama Pandemi COVID-19: Tinjauan Sistematis Lengkong, Selly Gloria; Adisasmito, Wiku Bakti Bawono
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 7, No 2 (2022): May
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.67586

Abstract

Latar Belakang: Telemedicine menurut WHO adalah pemberian pelayanan kesehatan yang dipengaruhi oleh jarak sebagai faktor utama, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media pertukaran informasi yang valid untuk diagnosis, tatalaksana dan pencegahan penyakit, dan sebagai pengetahuan berkelanjutan pelayanan kesehatan. Pandemi COVID-19 menuntut rumah sakit untuk beradaptasi dengan perubahan sehingga rumah sakit mampu bersaing untuk meningkatkan kualitas hidup pasien walaupun pemeriksaan dilakukan dari jarak jauh.Tujuan: Mengetahui perkembangan penggunaan telemedicine di rumah sakit, baik dengan aplikasi maupun alat-alat atau perangkat yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis pasien dari jarak jauh, untuk menjadi inovasi pelayanan rumah sakit selama pandemi COVID-19.Metode: Pencarian literatur dilakukan dengan menggunakan metode PRISMA dari 2 basis data. Artikel yang digunakan terbatas pada tahun 2017-2021.Hasil: Konsultasi, baik melalui telepon audio maupun video melalui telemedicine, masih merupakan bagian besar dari penegakkan diagnosis. Perkembangan teknologi memungkinkan rumah sakit untuk memberikan pelayanan jarak jauh dengan ditemukannya alat-alat untuk melakukan pemeriksaan fisik, skrining kegawatdaruratan pasien, dan aplikasi untuk menegakkan diagnosis pada pasien.Kesimpulan: Telemedicine dapat dioptimalisasi sebagai alat untuk menegakkan diagnosis seiring dengan perkembangan teknologi. Rumah sakit harus mengembangkan inovasi pelayanannya untuk memberikan pelayanan yang terbaik demi meningkatkan kualitas hidup pasien walaupun pelayanan tersebut dilakukan dari jarak jauh selama pandemi COVID-19.